Sunday, July 26, 2015

Cinta Di Pusara Hati

Makam IRALIA BINTI DULASIK
Namanya Iralia Binti Dulasik, gadis cantik kembang desa di masa nya. menikah dengan Muhammad anak laki laki dari Ratna Kumala, komandan pasukan gerilya Tentera Indonesia di wilayah Gelumbang dan sekitarnya di masa perang kemerdekaan berkecamuk di wilayah Sumatera Bagian Selatan umumnya dan di daerah Gelumbang dan sekitarnya pada khususnya.

Perang dan penghianatan selalu saja meninggalkan duka. Tatkala perang berkecamuk Iralia dan Tihayu kakak perempuannya berjibaku mendukung suami mereka di medan perang dengan bergabung dalam organisasi Palang Merah Indonesia. Memasok makanan, obat obatan hingga mesiu.

Berbagai trik mempertaruhkan nyawa mereka lakukan untuk melewati blokade pasukan Belanda demi mengirimkan pasokan untuk suami tercinta, termasuk menyembunyikan mesiu dalam keranjang bakul buah buahan yang mereka bawa melintasi pos perbatasan Belanda.

Pernikahan mereka tak berumur panjang. seorang teman yang sakit hati karena gagal mempersunting Iralia menjadi istrinya berkhianat dan membocorkan lokasi keberadaan Muhammad, dan malam itu penyerbuan dadakan oleh pasukan elit belanda berhasil melumpuhkan pasukan Muhammad dan beliau berhasil ditangkap.

Sejak saat itu tidak pernah diketahui keberadaannya secara pasti. kabar yang beredar menyebutkan bahwa beliau ditawan dan dibawa Belanda ke Prabumulih lalu di eksekusi keesokan harinya, kabar lainnya menyebutkan bahwa beberapa anak buahnya menyusup ke markas Belanda di Prabumulih namun gagal menyelematkan beliau tapi berhasil membawa kabur jenazahnya.

Gelumbang, 21 Juli 2015
Duka mendalam melanda Iralia dan Keluarga. Janda perang ini hingga ahir hidupnya di usia yang belum terlalu tua tiada henti berusaha mencari tahu keberadaan suaminya, walau sekedar menemukan kubur suaminya bila memang telah wafat. Puluhan tahun berlalu menjelajah ke berbagai kota, dari kampung ke kampung hingga ke berbagai makam Pahlawan namun tak jua bertemu yang dicari, sampai beliau wafat dan dimakamkan disamping pusara ibundanya.

Hari ke lima bulan syawal 1436H aku kembali bersipuh di samping makam itu untuk kesekian kalinya. membayangkan seorang wanita berkebaya putih berkain songket kemerahan tersenyum haru menyambut suaminya dalam seragam perjuangan. Bersimpuh di samping Makam Tihayu yang pernah menimang ku, bersimpuh disamping makam Idrus Bin Topa yang pernah menggendongku hampir di setiap dinihari hingga waktu subuh, manakala aku masih dipanggil Hadiwijaya.

Tak ada yang dapat ku lakukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu, teriring do’a semoga Allah yang maha mempertemukan, mempertemukan kembali Iralia dan Suami-nya dalam kebahagiaan. Dan semoga dendam tak kan terwariskan. aamiin. 

------------------------------------------

Baca Juga