Saturday, April 27, 2013

Obrolan Eceng Gondok

Eceng Gondok dan Ban Mobil ::: apa hubungannya ?
Memang tak mudah menemukan pertalian antara ban mobil dan eceng gondok, dua hal yang sama sekali berbeda. Tapi ketahuilah bahwa kedua hal ini perkembangan pesatnya di Indonesia sama sama berawal dari Kebun Raya Bogor.

Eceng Gondok dan Ban Mobil

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes dikenali masyarakat luas sebagai gulma air yang bandel luar biasa dengan kecepatan pertumbuhannya melampaui kemampuan manusia untuk memungut dan membuangnya dari badan air. Sedangkan ban mobil merupakan satu komuditas industri hasil olah pekerti manusia bagi kenyamanan hidup.

Eceng gondok memiliki banyak nama di berbagai daerah di Indonesia, Di Palembang disebut Kelipuk, di Lampung disebut Ringgak, di Dayak disebut Ilung-ilung, sedangkan di Manado dikenal dengan nama Tumpe. Habitat tumbuhan satu ini memang tersebar luas di berbagai belahan dunia tidak hanya di Indonesia.

Siapa yang menemukan Eceng Gondok ?

Menurut Wikipedia Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824, ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Sebuah kenyataan yang sulit diterima karena eceng gondok sudah masuk ke Indonesia pada masa Thomas Stanford Raffles (1811-1816) berkuasa di Indonesia sebagai Letnan Gubernur Jawa.

1811 pimpinan Inggris di India, Lord Muito memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Penang (Malaysia) untuk menguasai Pulau Jawa. Dengan mengerahkan 60 kapal, Inggris berhasil menduduki Batavia pada tanggal 26 Agustus 1811 dan pada tanggal 18 September 1811 Belanda menyerah melalui Kapitulasi Tuntang.

Kekuasaan Raffles di tanah Jawa memang tak lebih lama dari masa kekuasaan Presiden kita saat ini namun meninggalkan jejak yang begitu panjang. Dia yang menuliskan buku sejarah berjudul “History of Java.”, memulai pembangunan kebun Raya Bogor atas ide istrinya.

Raffles juga menghapus perbudakan, menemukan dan memugar beberapa bangunan candi,  hingga menjarah kekayaan intelektual warisan leluhur tanah Jawa untuk dijadikan koleksi museum Calcutta di India termasuk didalamnya adalah prasasti prasasti Airlangga yang sering disebut sebagai Batu Calcutta. Dan peninggalan Raffles lainnya “yang masih berkuasa di Indonesia hingga saat ini” adalah Eceng gondok.

Eceng gondok merupakan tanamah asli lembah Amazon di Brazil, namun kemudian menyebar ke seantero dunia. Tanaman ini konon masuk ke Indonesia melalui India. Itu terjadi ketika nyonya Olivia Marianne, istri dari Raffles tertarik dengan keindahan bunga eceng gondok yang sedang mekar. Lalu dibawalah tanaman tersebut ke Indonesia untuk memperindah kolam di Istana Bogor.

Dalam waktu singkat sudah memenuhi permukaan kolam, beberapa dari tanaman ini dibuang atau terbuang ke sungai pada saat pembersihan kolam di Istana Bogor atas perintah Nyonya Olivia dan sejak saat itu eceng gondok melanglangbuana ke seluruh Indonesia menjadi gulma dimana mana.

Lalu apa gunanya ?

Mutlak bahwa tak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya. Dari hasil beberapa penelitian diketahui bahwa eceng gondok berperan dalam menangkap polutan logam berat. Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur.

Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida.

Lalu apa pula hubungan eceng gondok dengan ban mobil

Tidak ada hubungan langsung antara Eceng gondok dengan ban mobil, hanya saja pada saat foto diatas dibuat ternyata ada ban mobil di latar depannya. Tapi tentu saja anda pasti tahu bahwa ban mobil itu dibuat dari bahan karet. Karet diperoleh dari getah pohon karet. Dan pohon karet sendiri bukanlah tanaman asli Indonesia, tapi lagi lagi berasal dari lembah Amazon di Brazil.

Seiring dengan kekurangan pasokan getah karet dari Brazil, biji dari pohon tersebut disebar ke beberapa negara termasuk Indonesia. Tahun 1876 dua biji karet dari Brazil ditanam di kebun Raya Bogor yang kemudian menjadi plasma nutfah karet di Indonesia. Dan pabrik ban di Indonesia pertama kali juga dibangun di Bogor pada tahun 1935.

Ban mobil dan eceng gondok memang sama sekali tidak ada hubungan saudara meskipun tempat lahir keduanya di Indonesia sama sama di Kebun Raya Bogor. dua duanya sama sama terkenal dengan track record-nya masing masing dan satu pelajaran yang menarik dari dua hal ini adalah “mereka tidak pernah saling berebut jatah coy, apalagi sampai saling sikut saling sikat demi berebut lahan mata pencaharian” heheheh. ***

Cikarang, 28 April 2013.

Friday, April 12, 2013

Dan Tentang Sepasang Sendal Jepit


Sendal Jepit atau Sendal Jepang ? tak masalah apapun namanya. sudah pernah nyoba beli sendal jepit sebelah ?. atau pakai sendal jepit sebelah ?.
Sendal jepit, kain gantung, bakul berisi cucian dan tepian kali, properti yang pas banget dengan tokoh Jamilah gadis ayu anak Pak Lurah. He he he.

Tapi Iwan Fals, dalam salah satu lagu nya menyebut sendal jepit mewakili rakyat kecil mungil yang senantiasa terjepit. Tak terperhatikan, terpinggirkan, gurem, kampungan, diremehkan dan tak dianggap sama sekali.

Di beberapa mall, di pintu depannya di pasang rambu rambu dengan gambar sandal jepit di silang warna merah, artinya dilarang masuk mall dengan sandal jepit. Sempat terpikir sebegitu menghinanya pengelola mall tersebut sampai sampai membedakan strata sosial pengunjungnya dari sendal yang mereka pakai. Padahal larangan itu bukan untuk menghina lho, tapi untuk keselamatan pengunjung karena sendal jepit tidak aman untuk dipakai di eskalator.

Sendal jepit memang jenis alas kaki yang paling banyak dipakai di negeri ini. Sendal dari bahan busa padat eva sponge itu berkelana ke seantero negeri di bawah injakan kaki pemakainya. Jenis sendal ini mulai naik kelas ketika para bule hidung mancung berkulit putih yang suka bejubel di berbagai pantai sampai kampung wisata ternyata menyukai jenis sendal kampungan ini. Biasalah kalau sudah berurusan dengan bule selalu saja dianggap keren.

Tapi sendal jepit tetaplah sendal jepit. Yang dipakai para bule itu cuman secuil dari jenis sendal jepit yang sudah dimodif sedemikian rupa hingga bentuknya lebih menarik, warnanya lebih cerah, bergambar lebih indah dan mutunya jauh lebih baik dari sendal jepit kampungan yang biasa beserak di emperan masjid dan surau di tepian kampung.

Sekali namanya sendal jepit, tak kan penah dianggap pantas dipakai masuk ke istana negara. Bahkan ke gedung DPR sekalipun yang konon disebut rumah rakyat. Sendal jepit tetap saja dipakai dipinggiran kampung, kakus atau jamban, paling top dipakai untuk jum’atan dan taraweh, biar kalau ilang gak rugi rugi amat.

Padahal jenis sendal ini adalah sendal yang diproduksi masal paling banyak saban tahun. Bisnis sendal jepit itu gak ada matinya loh. Bagi para pedagangnya, sendal jepit itu tak lebih dari skedar objek dagangan atau obyekan, sammaaa persis seperti rakyat gurem yang biasa memakainya. Hanya dibutuhkan saat akan ada transaksi politik, berbau naik pangkat, beraroma proyek besar atau beraroma kucuran dana, setelah itu habis cerita. Sendal jepit kembali ke nasib nya, nasib untuk di injak telapak kaki dan direndahkan.

Padahal lebih dari itu, sendal jepit itu juga menyimpan makna kekuatan ikatan kesetiaan, kesetaraan, sinergi, kolaborasi dan kerelaan dalam bentuk yang sederhana.

Siapapun anda pastinya tak kan pernah menggunakan sendal jepit hanya sebelah saja dan sebelahnya nyeker atau pakai sepatu mahal. Anda juga akan ditertawakan atau setidaknya dipandang aneh bila memakai sendal jepit yang lain sebelah, apalagi kalau sampai memakai sendal kanan untuk kaki kiri dan sebaliknya.

Anda juga tak kan mau lagi menggunakan sendal jepit putus, meski yang putus hanya sebelah, padahal yang sebelahnya lagi masih utuh, tapi yang masih utuhpun ikutan teronggok tak terpakai lagi, ikutan status dengan yang sudah putus sebagai bekas sendal, seakan dia berkata “I can’t life without you honey” (aq gak bs hdp tanpa mu, syng)..ah.. sendal jepit pun ternyata bisa so sweet like that yak.

Atau mau mencoba pergi ke warung dan bilang “maaf bu, saya mau beli sendal jepit tapi yang sebelah kiri aja dan sudah ada bekas lekukan telapak kakinya ?”. Silahkan nikmati ekspresi aneh si ibu penjual sendal.

mungkin biar sendal jepit bisa benar benar nge-TOP kudu pesan film Laskar Sendal Jepit ke Riri Reza, atau bikin Partai Gurem beneran bernama Partai Sendal Jepit untuk orang orang yang senantiasa terjepit dan terhimpit . . . . ho ho ho

Oh ya, sendal jepit itu juga enak banget buat mewakili kemampuan pas pasan apalagi minim, dari siapapun dari profesi apapun dan dari lembaga atau instansi manapun dan dari kalangan manapun.

Apalagi yang berkempauan minim atawa pas pasan itu adalah yang kebanyakan pamer nya, sok sempurna, sok perfect, sok english, sok barat, sok sok – an lah pokoknya mah. Padahal kemampuanya cuman sebatas kemampuan sempurna untuk memakai sendal jepit kanan untuk kaki kanan dan sendal jepit kiri untuk kaki yang kiri.

Passss banget untuk dibilangin begini ni . . . . . . . “maaf ya, gak usah sok deh, kemampuan anda dan saya kan baru sebatas kemampuan manajerial sendal jepit”

Duh sendal jepit.

----------------

Note :
Aslinya artikel satu ini ku posting di “Almarhum” bujanglanang.multiply.com yang sudah ditutup oleh pengelola situsnya, masih beruntung tulisan yang sama juga ku posting di kompasiana hingga masih bisa di re-post disini.

Blog Multiply-ku Telah Mati

Ada yang kangen dengan logo ini ?
Sejujurnya memang sangat kesal, ketika berkali kali mencoba untuk meng-akses kembali blog milik ku yang pernah dibuat di multiply.com tiba tiba tidak bisa masuk, tidak bisa di akses dan  juga sedikit terheran heran dengan perubahan logo-nya. Keherananku kemudian terjawab ketika mbah google menjawab bahwa layanan blog di multiply.com sudah ditutup alias sudah mati.

Aku telah sangat terlambat mengetahaui semua itu, ibarat orang yang pergi terlalu lama dan tidak bisa kembali lagi karena semuanya sudah sirna, hah. Serius, aku memang kaget. terlebih lagi karena sama sekali tidak mendapatkan informasi tentang akan ditutupnya layanan tersebut oleh multiply Indonesia. jangankan untuk menyelamatkan material yang sudah pernah di posting disana, untuk sekedar masuk pun sudah tak ada celah lagi. multiply sudah mantab untuk jadi supermarket di dunia maya.

Apa boleh buat, Nasi sudah jadi bubur tak mungkin jadi butiran nasi lagi, dan untuk nasi yang ini tidak bisa dikasih cincangan daging ayam agar bisa jadi bubur ayam, karena seluruh materi postingnya sudah lenyap yang tersisa hanya remah remahnya berserakan di jaringan dunia maya. 

ganti logo, ganti bisnis.
Tak guna juga menggerutu panjang pendek dan kesana kemari karena toh selama ini para Multiply-er hanya nebeng di situs itu. Tapi tenang sajalah, masih banyak situs situs lain yang menyediakan jasa blog gratisan-nya, termasuk Bloger. Mangkanya hari ini kuputuskan memulai lagi menulis dari awal, meskipun tak ada yang bisa memberi jaminan layanan gratisnya akan abadi melayani para bloger doyan gratisan seperti ku.

Buat anda semua exs multiply-er yang pernah mengenalku, maaf ya gak sempat pamitan sebelum situsnya menendang kita semua.  maaf bila ada sale sale kate. multiply adalah dunia maya pertama kali tempatku menulis blog, disana pertama kali kenal anda anda semua para Multiply-er ulung. Menyenangkan pernah mengenal anda semua. Sedapat dapatnya mari kita lanjutkan tali silaturrahim. dan jangan lupa mampir ke blog blog ku yang lain ya.***