Sunday, November 1, 2015

Salakanagara Benarkah Pernah Ada ?

Peta wilayah Kerajaan Salakanagara didasarkan kepada berbagai informasi terntang bentangan wilayah kerajaan tersebut. Disesbutkan bahwa wilayah kerajaan meliputi wilayah, Banten, DKI dan Jawa Barat saat ini. Pusat kerajaan bernama Rajatapura berada di teluk Lada, Pendeglang, Banten. Wilayah Kerajaan terdiri dari beberapa Mandala (kerajaan bawahan) yaitu : Mandala Tanjung Kidul di wilayah Cianjur dan Sukabumi saat ini, Mandala Ujungkulon, di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Lebak dan Pandeglang, dan Mandala Agny Nusa (Negara Api) di gugus kepulauan Krakatau.

Pengantar

Salakanagara Adalah nama kerajaan yang ditengarai merupakan kerajaan tertua yang pernah ada di wilayah NKRI. Meski keberadaan kerajaan ini telah dicatat dalam Naskah Pangerah Wangsakerta yang ditulis di abad ke 17 (antara tahun 1677 hingga tahun 1698) namun sejarah Salakanagara belum pernah muncul dalam buku sejarah resmi versi pemerintah untuk konsumsi pembelajaran di sekolah maupun institusi pendidikan lainnya.

Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta alias Panembahan Agung Gusti, secara pribadi atau oleh kelompok yang disebut "Panitia Wangsakerta". Pangeran Wangsakerta adalah putra dari Pangeran Girilaya, Sultan Cirebon terahir sebelum kesultanan terpecah menjadi dua, Kasepuhan dan Kanoman. Pangeran Girilaya meminta Pangeran Wangsakerta untuk menulis sejarah kerajaan kerajaan Nusantara.

Tertua di Nusantara

Salakanagara disebut sebagai kerajaan tertua di Nusantara, jauh lebih tua dari Kerajaan Kutai di Kalimantan yang secara resmi masih di akui sebagai kerajaan pertama dan tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai Martadipura diperkirakan berdiri di abad ke 4 masehi tepatnya sekitar tahun 350 masehi di Muara Kaman, hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Nama Kutai sendiri diberikan oleh para ahli dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini.

Merujuk kepada catatan Pangeran Wangsakerta, Kerajaan Salakanagara sudah berdiri di abad ke 2 Masehi dan cikal bakal kerajaan tersebut diperkirakan sudah ada sejak abad pertama Masehi, dan diyakini bahwa Salakanagara adalah kerajaan Argyre yang disinggahi dan disebut oleh Ptolemeus sebagai sebuah kota yang sangat mengagumkan, dalam catatan perjalanan-nya tahun 150 masehi. Argyre bermakna kota perak, makna yang sama persis dengan Salakanagara, dan Salakanagara pada masa jaya nya memang terkenal sebagai penghasil perak.

Cikal Bakal Salakanagara

di Awal abad masehi belum ada bentuk kerajaan di wilayah Nusantara, masyarakat berkelompok dibawah satu pimpinan seorang yang ditokohkan. Teluk Lada, Pandeglang, Propinsi Banten kala itu merupakan pelabuhan alam yang banyak dikunjungi pendatang dari pulau pulau lain untuk berdagang tidak hanya para pelaut dan pedagang Nusantara tapi juga dari mancanegara termasuk dari semenanjung Malaya dan India.

Teluk Lada dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan Lada yang ditanam dipedalaman Teluk Lada serta yang didatangkan dari Lampung. Teluk lada juga menghasilkan hasil pertambangan seperti besi, tembaga, emas dan perak yang dikelola secara tradisional dan hasilnya untuk keperluan pembuatan peralatan pertanian, senjata tajam dan perhiasan. komuditas ini yang kemudian mengangkat nama Teluk Lada sebagai penghasil Perak dan kemungkinan dari sini pula awal nama Salakanagara diperoleh.

Teluk Lada saat itu dipimpin Datu Tirem atau Aki Tirem, seorang pendatang dari Sumatra, menikah dengan wanita pribumi Teluk Lada, kemudian memimpin kelompok masayarakat disana. Datu Tirem memiliki seorang anak perempuan bernama Larasati atau Pohaci Larasati, yang dikemudian hari menikah dengan seorang bangsawan India.

Berdirinya Kerajaan Salakanagara

Di jazirah India pada masa itu sudah berdiri kerajaan Calankayana atau Salangkayana yang sedang berusaha memperluas pengaruhnya hingga keluar jazirah India. Sekitar tahun 128 Masehi utusan dari Calankayana tiba di Teluk Lada dipimpin oleh Dewawarman membawa misi dari rajanya untuk memperluas wilayah bawahan kerajaan Calankayana. Kedatangan rombongan ini di Teluk Lada justru mendatangkan manfaat bagi masyarakat disana, salah satunya Dewawarman dan pasukan yang dibawanya mampu mengusir bajak laut yang mengganas di selat sunda dan menjadi ancaman bagi masyarakat Teluk Lada. disamping itu Pangewan Dewawarman juga mampu memperbaiki pertanian, pertambangan dan perdagangan Teluk Lada.

Kedatangan Dewawarman ke Teluk Lada ini juga menandai masuknya agama Hindu ke Nusantara. Dewawarman datang dari India juga membawa para pendeta Hindu untuk menyebarkan ajaran Hindu. Dewawarman kemudian dinikahkan oleh Aki Tirem dengan putrinya, Larasati, sekaligus menyerahkan kedudukannya untuk memimpin masyarakat Teluk Lada disekitar tahun 52 Saka (130/131 masehi).  

Di tahun tersebut Dewawarman mendirikan Kerajaan Salakanagara sebagai kerajaan bawahan dari kerajaan Calankayana, menjadikan dirinya sebagai raja pertama bergelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Aji Raksagapurasagara dan istrinya sebagai permaisuri dengan gelar Dewi Dwani Rahayu. Dan mengganti nama Teluk Lada menjadi Rajatapura sekaligus menjadikannya sebagai Purasaba (ibukota) kerajaan. sebagai kerajaan bawahan Calankanaya, Salakanagara memberikan upeti tahunan kepada Kerajaan Calankanaya dan sebagai imbalannya, kerajaan Calankanaya mengirimkan kain sutra, permadani, senjata dan kapal laut.

Keberhasilan Dewawarman dan permaisurnya dalam membesarkan Salakanagara dan membawa rakyat Salakanagara pada kemakmuran dan kesejahteraan, membuat pasangan penguasa tersebut sangat dihormati rakyatnya, Dewawarman dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu sedangkan Larasari, permaisurinya dianggap sebagai jelmaan Dewi Sri.

Wilayah Kekuasaan

Pada masa pemerintahan Dewawarman, Wilayah Salakanagara membentang dari pantai Selat Sunda, pantai selatan Jawa di Kabupaten Lebak sampai Cianjur sekarang, pantai utara Jawadwipa hingga ke tepi barat sungai Citarum, sekaligus dengan pedalamanya. Perluasan itu dimungkinkan, karena kuatnya balatentara Salakanagara yang berintikan pasukan asli dari Calankayana dan penduduk pribumi.

Teritorial Salakanagara terdiri dari wilayah inti kerajaan dan beberapa Mandala (kerajaan bawahan). Beberapa diantaranya yang sudah diketahui adalah; Mandala Ujung Kulon yang meliputi wilayah kabupaten Pandeglang dan kabupaten Lebak sekarang, dibawah pimpinan Raja Bahadura Harigana Jaya Sakti adik pangeran Dewawarman. Purasaba kerajaan Ujung Kulon kemungkinan berelokasi di sekitar teluk penanjung yang memanfaatkan teluk itu untuk prasarana transportasi, komunikasi dan perdagangan sebagai pelabuhan alam karena kurang dan sulitnya jalan darat.

Kemudian Mandala Tanjung Kidul, meliputi wilayah pesisir dari pedalaman Sukabumi sampai dengan Cianjur sekarang, dipimpin raja Sweta Liman Sakti yang juga adik Dewawarman. Purasaba negara Tanjung Kidul adalah Agrabintapura yang terletak di sekitar gunung Bengbreng daerah antara sungai Citarik dan pantai Cidaun. Dan ketiga yang sudah diketahui adalah Kerajaan Agnynusa (Negeri Api)yang berada di Pulau Krakatau.

Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Salakanagara

Berikut ini nama nama raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Salakanagara, meski belum ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tarikh pemerintahan mereka masing masing.
  • Prabu Dharmalokapala Dewawarman (Dewawarman I)
  • Prabu Digwijayakasa Dewawarman (Dewawarman II)
  • Prabu Singasagara Bimayasawirya Dewawarman (Dewawarman III)
  • Prabu Darmasatyanagara Dewawarman (Dewawarman IV)
  • Prabu Darmasatyajaya Dewawarman (Dewawarman V)
  • Prabu Ganayanadewa linggabumi Dewawarman (Dewawarman VI)
  • Prabu Digwijaya Satyaganapati Dewawarman (Dewawarman III)
  • Spatikarnawa Warmadewi
  • Prabu Darmawirya Dewawarman (Dewawarman VIII)


Kedatangan Ptolemeus

Tahun 150, seorang pengembara dari Mesir, Ptolemeus atau Claudius Ptolemaeus Pelusiniensis atau Ptolemy (87-150 masehi) diyakini tiba di Salakanagara bersama dengan rombonganya pedagang dari India menetap di purasaba Rajatapura. Ptolemeus sangat mengagumi Salakanagara yang disebutya Argyre (kota perak) dalam bukunya Geographike Hypergesis.

Suatu laporan dari China pada tahun 132 menyebutkan Pien, raja Ye-tiau, meminjamkan stempel mas dan pita ungu kepada Tiao-Pien. Kata Ye-tiau ditafsirkan oleh G. Ferrand, seorang sejarawan Perancis, sebagai Javadwipa dan Tiao-pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) merujuk kepada Dewawarman.

Ahir Salakanagara

Salakanagara berlangsung dari tahun 130 sampai tahun 358, di bawah pemerintahan Dewawarman I sampai VIII. Adapun raja terakhir, yaitu Dewawarman VIII tidak mempunyai anak laki-laki, hanya memiliki anak perempuan saja, sehingga tidak memiliki putra mahkota sebagai penerus tahta.

Pada masa pemerintahan Dewawarman VIII, datanglah seorang maharesi muda dari Calankayana, yang memberitahukan pada Dewawarman VIII bahwa Calankayana telah ditaklukan oleh kerajaan Magada di bawah pemerintahan Maharaja Samudragupta. Pada masa itu, politik ekspansi maharaja samudragupta berhasil menaklukan hampir seluruh kerajaan di India.

Maharesi Jayasingawarman itu tinggal di purasaba Rajatapura dan menikah dengan putri Dewawarman VIII. kemudian diangkat sebagai penerus tahta Salakanagara. Jayasingawarman dikemudian hari memindahkan ibukota kerajaannya ke daerah yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Tarumajaya, Muaragembong, Sukawangi dan Cabangbungin di kabupaten Bekasi sekarang, Menjadi awal berdirinya Kerajaan Tarumanegara.

Bukti-bukti Sejarah Peninggalan Salakanagara

a.) Menhir Cihunjuran;
berupa Menhir sebanyak tiga buah terletak di sebuah mata air, yang pertama terletak di wilayah Desa Cikoneng. Menhir kedua terletak di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari. Menhir ketiga terletak di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Tidak jauh dari kampung Cilentung, Kecamatan Saketi. Batu tersebut menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis dan Batu Tulis di Bogor. Tradisi setempat menghubungkan batu ini sebagai tempat Maulana Hasanuddin menyabung ayam dengan Pucuk Umum.

b.) Dolmen;
Terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berbentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm, disebut Batu Ranjang. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus dengan permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh empat buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm. Di tanah sekitarnya dan di bagian bawah batu ada ruang kosong. Di bawahnya terdapat fondasi dan batu kali yang menjaga agar tiang penyangga tidak terbenam ke dalam tanah. Dolmen ditemukan tanpa unsur megalitik lain, kecuali dua buah batu berlubang yang terletak di sebelah timurnya.

c.) Batu Magnit;
Perletak di puncak Gunung Pulosari, pada lokasi puncak Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Yaitu sebuah batu yang cukup unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas, meskipun ditempatkan di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut.

d.) Batu Dakon;
Terletak di Kecamatan Mandalawangi, tepatnya di situs Cihunjuran. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya dan berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan

e.) Air Terjun / Curug Putri
terletak di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, air terjun ini dahulunya merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas. Di lokasi tersebut, terdapat aneka macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.

f.) Pemandian Prabu Angling Dharma;
Terletak di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, pemandian ini dulunya digunakan oleh Prabu Angling Dharma yang atau Aki Tirem Luhur Mulia atau Wali Jangkung. meski memang tidak jelas apakah nama Angling Darma yang dimaskud adalah Prabu Angling Darma seperti yang selama ini dikenal dalam kisah kisah tanah Jawa ?.

Penutup

Sejarah kadangkala teramat sulit untuk dibuktikan, tatkala bukti yang dimaksud adalah segala macam hal yang dapat diterima secara ilmiah kekinian. saya sebut ilmiah kekinian karena kata ilmiah pun terpengaruh oleh waktu dan gravitasi. Semakin banyak yang mengakuinya sebagai ilmiah maka ilmiahlah ia. Semakin maju peradapan yang tadinya tidak ilmiahpun dapat dianggap ilmiah seiring dengan proses pembuktian yang semakin kompreshensif.

Salakanagara apakah memang pernah ada di Nusantara seperti yang telah di uraikan di atas ? dan sebegitu banyak uraian di dunia maya ?. Pada waktunya nanti juga akan terungkap, pada waktunya nanti juga akan masuk ke kurikulum sejarah di institusi Institusi pendidikan. Ketika manusia mulai tertarik untuk menemukan jati dirinya, menemukan jati diri bangsanya.

Sumber : Dari berbagai sumber dengan editing redaksional seperlunya.

------------------------------------------

Baca Juga