Friday, November 20, 2015

Ayat Nyamuk Betina

nyamuk betina yang menggigit 
Sapi Betina atau Al-Baqoroh adalah salah satu dari 114 surat yang ada di dalam Al-Qur’an, tapi bagaimana dengan Nyamuk Betina ?. Tentu saja tidak ada surat Al-Qur’an dengan nama itu. Namun demikian dalam salah satu ayat di dalam surah Sapi Betina itu, Allah berfirman,

[2:26] Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik

Perumpamaan apakah gerangan dari seekor nyamuk ? binatang yang bagi kebanyakan orang adalah pengganggu menyebalkan di siang hari apalagi di malam hari. Tapi bagi sebagian orang lagi nyamuk justru mendatangkan berkah. Tak terbilang jumlahnya pabrik yang memproduksi anti nyamuk, racun nyamuk, raket nyamuk, kelambu anti nyamuk, lotion anti nyamuk, obat nyamuk bakar (hadeuh, nyamuk pun di obati) hingga para peneliti yang mengabiskan waktu bertahun tahun untuk meneliti nyamuk.

Di ayat itu dengan tegas Allah menyatakan tentang perumpaan. Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan sindiran keras terhadap manusia yang merupakan mahluk “yang lebih atas” dari nyamuk, yang seringkali berlaku sombong, angkuh dan sebagainya terhadap penemuan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimiliki. Namun faktanya teknologi paling canggih manusia bahkan tidak mampu menciptakan seekorpun mahluk bernyawa walaupun hanya sekelas nyamuk ataupun yang lebih rendah dari itu.

Nyamuk diciptakan Tuhan begitu sempurna lengkap dengan semua indera pendukungnya. Anda dapat membayangkan ukuran nyamuk bukan ? ukurannya sebegitu kecil, artinya bahwa indera pendengarannya, indera penglihatannya dan indera lainnya pun pastinya sangat kecil ukurannya. Namun nyatanya teknologi manusia hingga detik ini bahkan belum mampu untuk menciptakan super mikrofon yang berukuran sangat kecil dan sangat sensitif seperti yang dimiliki nyamuk.

Nyamuk Mirip Manusia ?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendengaran nyamuk mirip dengan manusia. Nyamuk mendengar melalui antena mereka yang terdiri dari 15000 sel sensorik, sama dengan yang dimiliki telinga manusia. Juga seperti manusia, nyamuk memiliki kemampuan pendengaran yang aktif, dimana mereka dapat membuat getaran sendiri untuk mengatur suara yang datang dan meningkatkan sensitivitas pendengaran mereka.

Hal tersebut terungkap dari penelitian panjang yang dilakukan tim peneliti dibawah pimpinan Professor Daniel Robert dari Universitas Bristol, Inggris. Dari penelitian mempelajari indera pendengaran nyamuk, diharapkan (dikemudian hari) dapat dibuat mikrofon yang lebih baik yang mampu menangkap suara yang sangat pelan (nanoscale sound) sekalipun[i]. Bila anda mungkin begitu terganggu dengan keberadaan nyamuk, mungkin profesor Robert itu malah gembira ria bila ada banyak nyamuk, makin banyak nyamuk, makin banyak bahan penelitian dan percobaan.

Nyamuk Betina

Di era modern ini baru diketahui bahwa nyamuk yang suka menggigit anda itu adalah nyamuk betina. Mungkin pernah dengar atau membaca tentang hal itu ?. Nyamuk jantan tidak mengigit manusia untuk menghisap darah, mereka menghisap nektar dan sari bunga.

Dalam surat Sapi Betina ayat 26 yang disebut di awal tulisan tadi, dalam bahasa aslinya nyamuk disebut dengan "ba'udhatan" yang merupakan kata benda bentuk yang bersifat feminin, sehingga mengindikasikan bahwa nyamuk rumah yang sering dijumpai manusia di lingkungannya, terutama yang diketahui sebagai "nyamuk" pada saat ayat ini diturunkan 15 abad yang lalu, adalah nyamuk betina.

Pelajaran dari Nyamuk

Bila hasil penelitian teknologi terkini ternyata sudah dijelaksan dalam AL-Qur’an sejak hampir 15 abad yang lalu. Bukan mustahil Al-Qur’an juga sudah menjelaskan tentang sesuatu untuk 15 abad akan yang datang, se-abad mendatang, sewindu mendatang, setahun mendatang, sebulan mendatang, seminggu mendatang bahkan dengan detil telah menjabarkan apa yang akan terjadi besok. kita saja yang tidak faham.

Sunday, November 15, 2015

Kita Yang Ditelanjangi


Apakah kau berfikir kau akan masuk surga 
karena segudang amal sodaqohmu
dan kau akan masuk neraka karena kurangnya 
bila semua telah pasti lalu apa rencana pastimu hari ini
kapan rencanamu akan mati
di bumi mana kau akan di makamkan, dan
harusnya kau mampu menambah deretan angka di rekeningku
atau direkeningmu sendiri sesuka hatimu


kalaupun mahkota dunia bertengger di kepala
pedang emas sang wenang tergenggam di tangan kiri
sekali kali tak kan mampu membuat mahluk bersemena
bukankah kau pun tahu tak selembar daunpun yang jatuh
tanpa sepengetahuan dan seizin-Nya
lalu ke bagian bumi yang mana lagi hendak bersembunyi

atau kau fikir Dia lah yang bersembunyi
atau kau fikir Dia yang menjauh
atau sebaliknya kau fikir kau yang menjauh
dan mendekat
apalah artinya jarak bagi Nya
apakah kau akan lari dari urat lehermu sendiri
sekali kali tidak. kadang kita yang telalu lama bersembunyi
dibalik dinding bening benderang kesombongan 
padahal nyatanya kita telah ditelanjangi.

Gunung Padang Megalithic Site, 20 September 2015

------------------------------------------

Baca Juga



Thursday, November 5, 2015

Dimanakah Makam Prabu Siliwangi ?

Prasasti Batutulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan BatutulisKecamatan Bogor SelatanKota Bogor. Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Prasasti Batutulis dianggap terletak di situs ibu kota Pajajaran dan masih “on site”, yakni masih terletak di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs ini. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi).
Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘makam’ sama dengan ‘kubur’. Maka kalimat tanya pada judul diatas yang berbunyi “dimanakah makam Prabu Siliwangi” bermakna “dimanakah gerangan jenazah Prabu Siliwangi dimakamkan setelah beliau wafat”. Dan Prabu Siliwangi yang dimaksud adalah Sri Baduga Maharaja alias Raden Pamanah Rasa Alias Pangeran Jayadewata yang memerintah di kerajaan Pajajaran antara tahun 1482 hingga tahun 1521.
Pertanyaan yang sama maupun uraian tentang itu, berseliweran di dunia maya maupun dunia nyata. Tempat tempat yang di klaim sebagai makam asli sang prabu juga tidak sedikit. Meski hingga kini memang dengan legowo harus di akui bahwa belum ada satu kata sepakat dari para sejarawan maupun dari para tokoh masyarakat tentang “yang manakah makam sang prabu yang sebenarnya”. Upaya penelusuran sejarah termasuk menelusur keberadaan makam sebenarnya dari sang prabu juga pernah dilakukan oleh tim 11 yang dibentuk dimasa pemerintahan Gubernur Jawa Barat Mashudi.
Makam Prabu Siliwangi Tidak Pernah Ada
Sebagian masyarakat (kata sebagian disini tidak mewakili besaran jumlah) meyakini bahwa “makam Prabu Siliwangi” memang tidak akan pernah ditemukan karena beliau memang belum wafat alias masih hidup di dimensi dunia yang berbeda. Ada banyak versi alur cerita tentang hal tersebut, namun intinya adalah ketika sampai pada kondisi yang sudah sangat terdesak, beliau beserta pengikut setianya masuk ke alam ghaib dan meneruskan kehidupan mereka disana, termasuk mendirikan kerajaan ghaib di Gunung Salak, gunung yang bernama asli Gunung Sapto Argo.
Masuk ke alam ghaib yang dimaksud adalah masuk secara keseluruhan, ruh dan jasadnya. Sehingga dengan demikian mustahil untuk dapat menemukan Makam beliau di ‘dunia ini’. Ada begitu banyak tulisan yang sudah di unggah di dunia maya terkait hal tersebut, anda dapat menelusur-nya dengan kata kunci “prabu siliwangi moksa”, “aji sikir”, dan sebagainya. Peristiwa tersebut pula yang diyakini sebagai awal dari “keangkeran gunung salak”.
Hanya Orang Terpilih Yang Tahu
Ada juga sekelompok masyarakat yang meyakini bahwa sang prabu wafat secara wajar dan dimakamkan di satu tempat yang hanya diketahui oleh orang orang terdekat dan terpercaya saja. Cukup masuk akal bila di hubungkan dengan cerita tutur yang menyebutkan bahwa beliau “menyingkir” dari kraton karena ‘terdesak’. Keterdesakan ini pun memiliki banyak alur cerita yang berbeda beda. Dari catatan sejarah yang sudah dimaklumi bersama, posisi pajajaran memang terdesak oleh eksistensi Cirebon dan Demak menyusul berdirinya Jayakarta menggantikan Sunda Kelapa bersamaan dengan lepas nya pengaruh Kerajaan atas Banten.
Seperti disebutkan di awal tadi bahwa saat ini ada banyak situs yang diyakini sebagai makam sang prabu. Beberapa diantaranya yang sudah lazim dikenal adalah di Leuweung Sancang (Leuweung = Hutan) wilayah Pameungpeuk kabupaten Garut, lalu di daerah Kawali kabupaten Ciamis, kemudian juga ada di Gunung Tampomas kabupaten Sumedang.
Belakangan juga muncul pengakuan dari H Netty Medina S yang menyatakan telah memindahkan makam Prabu Siliwangi pada tanggal 27 Oktober 1987 ke atas sebuah bukit di Kampung Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, Ciwidey. Kabupaten Bandung. Makam tersebut dipindahkan dari ‘lokasi aslinya” di Lereng Gunung Pangrango, Kampung Sela Gombong, Desa Cikancana, Kec. Pacet, Cianjur, yang ditemukan tahun 1975. Pemindahan dilakukan Sebab lokasinya yang jauh dan sulit ditempuh.
Sub Judul ini yang berbunyi ‘Hanya orang terpilih yang tahu’ sudah tidak berlaku lagi bagi anda yang sudah membaca bagian ini, karena anda toh sudah tahu. hanya saja masih ada lagi yang menyatakan bahwa semua tempat yang sudah dikenal masyarakat saat ini sebagai ‘makam asli’ Prabu Siliwangi adalah ‘bukan asli’ nya, hanya merupakan petilasan atau tempat yang pernah disinggahi sang prabu semasa hidup-nya. Sedangkan makam yang benar benar asli hanya diketahui oleh segelintir orang saja yang tidak akan menunjukkannya ke siapapun ‘kecuali’ kepada orang orang yang sangat dipercaya.
Memang Banyak Makam
Prasasti Tembaga Kebantenan menyebutkan tentang wafatnya Prabu Siliwangi dan dimakamkan di Rancamaya. Prasasti tersebut menyebut Prabu Siliwangi sebagai Susuhunan di Pakuan Pajajaran dan disebut secara anumerta sebagai Sang Lumahing Rancamaya. Lalu dimanakah tempat yang dimaksud Rancamaya tersebut ?. Pakuan yang menjadi ibukota Pajajaran berada di Bogor, dan di Bogor memang ada satu kelurahan yang bernama Rancamaya yang sejak tahun 1995 secara administratif masuk ke dalam wilayah kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Sebelumnya berstatus sebagai Desa di di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Berbagai sumber menyebutkan bahwa di daerah tersebut memang pernah ada satu tempat yang dikeramatkan terkait dengan Prabu Siliwangi namun kemudian keseluruhan tempat itu kini telah berubah menjadi padang golf.

Masih di kota Bogor, terdapat prasasti Batu Tulis yang sangat terkenal itu. Prasasti ini dibangun oleh Prabu Surawisesa, putra dari Prabu Siliwangi, dua belas tahun setelah kematian Ayahanda-nya, untuk menghormati sang Ayah sekaligus mengenang dan mengabadikan kebesaran Prabu Siliwangi. Angka dua belas tersebut dianggap berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pada saat itu.

Di tahun ke dua belas setelah kematian, jenazah akan disempurnakan dengan diper-abu-kan. Begitulah yang terjadi di dua belas tahun setelah wafatnya sang Prabu. Abu jenazahnya disimpan dengan sangat hormat ke dalam dua belas guci (angka ini juga kemungkinan akan berbeda beda) dan di makamkan kembali dengan penuh kehoramatan di dua belas wilayah kerajaan yang berbeda beda. Dengan demikian akan sangat wajar bila hari ini ada banyak tempat yang di-klaim sebagai ‘makam asli’ sang prabu.

Secara teoritis dan nalar sederhana merujuk kepada tradisi Nusantara, makam seorang raja besar dan dimakamkan di masa kerajaan dipimpin oleh anak kandungnya sendiri, (pastinya ataupun semestinya) juga memiliki “tanda kebesaran” yang sesuai dengan masa itu dan tanda kebesaran tidak selalu berwujud ‘bangunan makam’ seperti yang biasa kita kenal saat ini.

Benarkah Beliau Moksa ?

Secara umum ‘tutur tinular’ yang disampaikan secara ‘saur sepuh’ bahwa Prabu Siliwangi moksa atau secara harfiah adalah pindah dari alam dunia ini masuk ke alam ghaib bersama seluruh pengikut setianya, kemudian membentuk kerajaan baru di alam ghaib. Bila diterjemahkan secara harfiah pula maka hal itu bertentangan dengan penjelasan dalam prasasti tembaga kebantenan yang menyebut bahwa beliau telah wafat dan dimakamkan di Rancamaya.

Untuk menjawab pertanyaan ‘benarkah beliau moksa atau pindah jasmani dan rohaninya ke alam ghaib ?’ jawaban paling logis untuk menjawab itu adalah "masuk saja ke alam ghaib yang dimaksud” dan temukan jawabannya disana.  Namun bilamana Moksa atau pindah ke alam ghaib yang dimaksud adalah ruh nya saja tidak bersama jasad/ raganya, itu berarti terjadi perpisahan antara ruh dengan jasad, dan itulah yang disebut kematian.

Hukum Tuhan menyebutkan bahwa ‘"Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. 3 : 185).  Bahwa kematian itu adalah suatu yang pasti, bahwa keabadian (di dunia ini) itu adalah mustahil bagi mahluk. Yang belum diketahui adalah kapankah waktunya. Umur mahluk adalah mutlak hak Tuhan, tidak ada satupun mahluk yang tahu pasti. Kitab suci memang membeberkan bahwa ada mahluk yang diberi tangguh hingga hari kiamat, maknanya ia diberikan umur yang sangat panjang dan baru akan mati ketika kiamat tiba. Ingat, bukan abadi. Yang abadi hanya Allah Subhanahuwata’ala.

Lalu apakah mati itu ?. Mati adalah terpisahnya ruh dengan jasad. Selagi keduanya belum terpisah berarti masih hidup, belum mati. Kitabullah menjelaskan bahwa Allah menghidupkan kita dua kali dan mematikan kita dua kali  (QS. Al Baqoroh : 28 & QS. Al Mu’min : 11). Ruh tidak pernah mati, yang mati hanya jasad. Jasad kita yang akan mengalami dua kali kehidupan dan dua kali kematian. Kosa kata bahasa Indonesia sudah mendeskripsikan kata ‘mati’ dengan baik, dengan menyebutnya “meninggal dunia”, bahwa orang yang mati pada hakekatnya hanyalah meninggalkan dunia ini memasuki kehidupan berikutnya. Wallohua’lam.

Apakah Prabu Siliwangi Masih Hidup?

Secara hakikat, iya, beliau masih hidup. Perhatikan lagi penjelasan di dua alenia di atas. "Apakah kamu berfikir orang yang mati itu benar benar mati ?". Sekali kali tidak. Fakta lainnya adalah bahwa Saya masih mengulas salah satu bagian kisah hidup-nya, anda masih membaca kisah yang saya tuliskan tentang hidup-nya, itu hanya bukti paling sederhana bahwa beliau “masih hidup”.

Penutup

Anda yang masih membaca tulisan ini hingga ke titik l ini, mungkin masih bertanya dalam hati ‘Lalu Sebenarnya makam Prabu Siliwangi ada dimana ?’. Anda penasaran ? atau sekedar ingin tahu ?. Atau jangan jangan anda sudah benar benar tahu jawaban dari pertanyaan itu. Silakan simpan jawabannya untuk anda sendiri, karena orang lain juga tidak akan pernah (benar benar) percaya. Sebagaimana tidak percaya-nya anda pada tulisan saya. Sebaiknya memang begitu, karena bila anda percaya dengan tulisan saya nanti bisa bisa anda disebut syirik, karena percaya kepada selain Tuhan.

------------------------------

Baca Juga



Tuesday, November 3, 2015

Siapakah Prabu Siliwangi ?

Apakah Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja ataukah Gelar bagi seluruh Raja Pajajaran ?

Lukisan Prabu Siliwangi di Kraton Kasepuhan Cirebon, Karya lukis dari pria bernama Tatang asal Garut yang melukisnya di tahun 2008 dan menyumbangkan untuk Keraton Kasepuhan. Tatang mengaku melukis Prabu Siliwangi setelah didatangi langsung oleh Prabu Siliwangi dalam mimipinya dan kemudian setelah itu langsung melukisnya. Perhatikan tulisan nama di bagian bawah lukisan “Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi”, menegaskan bahwa Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja.

Sejarah tak pernah berpihak pada yang kalah. Sejarah yang anda baca tergantung pada siapa yang menulisnya. Penggalan dua kalimat itu seringkali kita baca dan kita dengar. Terkadang terasa ada benarnya. Bagaimanapun tak ada kebenaran yang hakiki ditangan manusia ahir zaman seperti kita. Prabu siliwangi, nama yang begitu harum seperti namanya, terutama di tatar pasundan sejarahnya ditulis dan dikenang dengan berbagai versi dan maksud masing masing. Perjalanan hidup beliau begitu melegenda dan meninggalkan begitu banyak hikmah dan pelajaran berharga sekaligus meninggalkan begitu banyak tanya.

Nama besarnya dikenang dalam berbagai kesempatan. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengabadikan namanya sebagai nama Komando Daerah Militer di wilayah propinsi Jawa Barat dan Banten dengan nama Kodam III Siliwangi, TNI Angkatan Laut juga pernah mengabadikan namanya sebagai nama kapal perang perusak kelas Skoryy buatan Uni Soviet dan dibeli dari Polandia tahun 1964 dengan nama RI Siliwangi. Nama beliau juga dipakai oleh berbagai organisasi pemuda dan kemasyarakatan, lembaga pendidikan, bangunan pendidikan hingga nama jalan protokol.

Siapakah Prabu Siliwangi

Ada dua pendapat tentang siapakah sebenarnya yang disebut Prabu Siliwangi ?.namun dapat ditarik satu garis merah bahwa kedua pendapat tersebut sepakat bahwa Siliwangi dari sudut pandang Bahasa Sunda, terdiri dari dua kata yaitu; SILI yang secara umum berarti penerus, dan WANGI secara umum bermakna harum mewangi. Namun WANGI yang dimaksud disini ditujukan kepada harumnya nama Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur bersama seluruh pasukannya, membela kedaulatan Kerajaan Pajajaran dalam perang Bubat melawan pasukan Majapahit.

Dalam perang Bubat, pasukan Pajajaran kalah jumlah dengan pasukan Majapahit, dan Prabu Maharaja Lingga Buana memutuskan melakukan perang habis habisan atau perang puputan melawan pasukan Majapahit demi membela negaranya. Perang Bubat dicatat dalam sejarah Nasional sebagai salah satu perang besar yang pernah terjadi di tanah Jawa dan merupakan salah satu penyebab dari melemahnya kerajaan Majapahit. Karena keberanian dan kebesaran Jiwa nya dalam membela negara itulah Nama beliau begitu mewangi di Pajajaran hingga digelari sebagai Prabu Wangi. Dan dari sana pulalah Nama Siliwangi bermula.

Lukisan kapal perang RI Siliwangi 201 (foto dari Wikipedia), kapal perang perusak yang pernah memperkuat armada TNI Angkatan Laut, dibeli dari Polandia tahun 1964. Saat ini sudah tidak beroperasi.

I. Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja

Pendapat pertama yang paling populer mengatakan bahwa Prabu Siliwangi adalah Nama Sebutan atau nama panggilan kehormatan kepada Pangeran Jayadewata alias Raden Pamanah Rasa yang ketika dinobatkan sebagai Maharaja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Disebut Maharaja karena memang beliau bertahta tidak hanya untuk satu kerajaan tapi menjadi raja bagi dua kerajaan sekaligus. Kerajaan Pajajaran atau ada juga yang menyebutnya sebagai Kerajaan Sunda yang dipimpinnya merupakan gabungan kerajaan Pakuan yang berpusat di Bogor dan Kerajaan Galuh.

Beliau disebut sebagai Siliwangi atau Penerus Prabu Wangi karena telah mengembalikan kebesaran Kerajaan Sunda seperti pada masa kakek buyutnya, Prabu Wangi. Disamping itu beliau juga telah kembali menyatukan kerajaan yang terpecah (Galuh dan Sunda/Pakuan), dua kerajaan yang disandingkan dengan kesetaraan dan kesejaraan hingga menjadi Pajajaran dan pada masa kekuasaan beliau Kerajaan mencapai kegemilangan yang luar biasa.

Sri Baduga Maharaja adalah anak laki laki dari Raja Sunda/Galuh yang bernama Prabu Dewa Niskala anak dari Prabu Niskala Wastu Kencana atau Prabu Raja Wastu, anak dari Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di perang Bubat. Pada saat Prabu Maharaja Lingga Buana gugur di Perang Bubat (1357), saat itu Pangeran Niskala Wastu Kencana masih kanak kanak, bila di hitung dari tahun gugurnya Prabu Lingga Buana di Bubat tahun 1357 sampai dengan tahun 1371 pada saat beliau dinobatkan sebagai Raja pada usia 23 tahun, itu berarti pada saat ayahnya gugur beliau baru berumur sekitar 9 tahun.

Itu sebabnya kemudian tahta kerajaan sementara waktu dipegang oleh Pangeran Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora atau Prabu Kuda Lalean atau Dalam BABAD PANJALU (Kerajaan Panjalu Ciamis) disebut PRABU BOROSNGORA. Selain itu ia pun dijuluki BATARA GURU di Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung), beliau adalah adik dari Prabu Maharaja Lingga Buana, memegang kendali kerajaan sampai Pangeran Niskala Wastu Kencana mencapai usia dewasa.

Pangeran Niskala Wastu Kencana dinobatkan sebagai raja pada tahun 1371 bergelar Prabu Raja Wastu dan berkuasa hingga tahun 1475. Beliau memiliki dua permaisuri, permaisuri pertama bernama Lara Sarkati berasal dari Lampung, darinya lahir seorang putra bernama Sang Haliwungan. Permaisuri kedua adalah adik sepupunya sendiri, anak dari pamannya Prabu Bunisora, yang bernama Mayangsari, darinya lahir seorang putra bernama Ningrat Kencana. Di penghujung masa kekuasaannya beliau membagi dua kerajaannya untuk menghindari perebutan tahta kerajaan oleh dua putra-nya. Sang Haliwungan dinobatkan sebagai Raja Sunda/Pakuan bergelar Prabu Susuktunggal. Ningrat Kencana dinobatkan sebagai Raja Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Gedung Detasemen Markas KODAM III Siliwangi – Bandung. 
Ditahun 1482 kerajaan Galuh dan Pakuan kembali bersatu di bawah pemerintahan Pangeran Jaya Dewata yang setelah dinobatkan sebagai Maharaja bergelar Sri Baduga Maharaja. Hal ini dimungkinkan setelah Pangeran Jayadewata putra dari Prabu Dewa Niskala menikah dengan Ketring Manik Mayang Sunda, putri dari Prabu Susuktunggal. Di tahun itu Terjadi perpindahan pusat kekuasaan ke Pakuan (Bogor) dengan iring iringan yang teramat panjang dan meriah. di Pakuan Jawadewata dinobatkan diatas Palangka Sriman Sriwacana yakni tempat duduk terbuat dari batu mengkilap yang digunakan dalam prosesi penobatan raja raja Sunda.

Dibawah Pemerintahan Sri Baduga Maharaja ini nama Pajarajaran sebagai nama resmi Kerajaan. sebagai penghormatan dengan mensejajarkan dua kerajaan yang diwarisi dari Ayahandanya sendiri dan dari paman sekaligus mertuanya. Kegemilangan Pajajaran di bawah pemerintahan Jaya Dewata dan bersatunya kembali dua kerajaan itu mengingatkan rakyat kepada kebesaran nama Prabu Maharaja Lingga Buana atau prabu Wangi yang gugur di perang Bubat, dan menjulukinya sebagai Siliwangi, dan nama julukan itu hanya dinisbatkan kepada dirinya.

II. Siliwangi Ada Banyak

Pendapat kedua menyatakan bahwa, yang disebut Prabu Siliwangi itu bukan hanya Pangeran Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja saja tapi juga sebutan bagi seluruh raja Pajajaran yang semuanya adalah Penerus atau Sili dari Prabu Wangi atau Prabu Maharaja Lingga Buana. Pendapat kedua ini sepertinya lebih kepada menekankan kepada makna atau arti dari Siliwangi. Bukan kepada sebuah gelar yang diperuntukkan khusus secara unik kepada seseorang. Pendapat kedua ini memang tidak populer meski memang secara Bahasa dapat diterima oleh semua pihak.

Pajajaran Paska Sri Baduga Maharaja

Berdirinya Cirebon Sebagai Kesultanan

Di penghujung kekuasan Sri Baduga Maharaja, beliau dihadapkan kepada suatu dilema yang cukup pelik, antara cinta seorang kakek kepada cucunya dengan upaya mempertahankan keutuhan kerajaan. Pangeran Cakrabuana yang berkuasa di Cirebon sebagai raja bawahan Pajajaran menyerahkan kepemimpinan Cirebon kepada menantu sekaligus keponakannya, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, menjadi awal berdirinya Kesultanan Cirebon yang melepaskan diri dari Kekuasaan Pajajaran.

Pangeran Jayadewata atau Sri Baduga Mahara memilki tiga Istri. Istri pertamanya adalah Ambet Kasih (putri dari Ki Gde Sindang Kasih), Lalu Subang Larang (putri dari Ki Gde Ing Tapang, penguasa Singapura (Cirebon saat ini) dan Kentring Manik Mayang Sunda (Putri Pamannya, Prabu Susuktunggal). Dari Subang Larang lahir Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang, Putri Lara Santang dan Kian Santang.

Logo KDAM II Siliwangi
Pangeran Cakrabuana kemudian ditunjuk oleh Sri Baduga sebagai penguasa Cirebon sebagai raja bawahan Pajajaran.  Dikemudian hari Pangeran Cakrabuana menikahkan putri tunggalnya yang bernama Pakungwati dengan Keponakannya (putra kedua dari Lara Santang) yang bernama Syarif Hidayatullah, sekaligus menyerahkan tahta Cirebon kepada menantunya. Tahun 1479 Setahun setelah berdirinya Kesultanan Demak, Cirebon pun memproklamirkan diri sebagai kesultanan melepaskan diri dari pengaruh Pajajaran. Syarif Hidayat dinobatkan sebagai Sultan-nya dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Lepasnya Banten dan Sunda Kelapa dari Pajajaran

Pajajaran sempat mengirimkan pasukan untuk menyerbu Cirebon namun gagal. Bisa jadi itu adalah sebuah serbuan setengah hati dari seorang kakek kepada cucunya. atau memang karena kondisi Pajajaran sendiri yang memang tidak memungkinkan untuk menaklukkan Cirebon. Di era yang sama Pangeran Surawisesa (putra Sri Baduga dari Kentring Manik Mayang Sunda) mulai bekerja sama dengan Portugis untuk memperkuat militer Pajajaran terutama untuk mempertahankan Sunda Kelapa, hal itu yang malah memicu serbuan besar besaran dari pasukan Gabungan Demak, Cirebon dan Banten ke Sunda Kelapa dengan tujuan utama mengusir Portugis dan menguasai Sunda Kelapa kembali, dan peristiwa itu kemudian setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Perdamaian dengan Cirebon

Sepeninggal Sri Baduga Maharaja, Pangeran Surawisesa menjadi raja Pajajaran, selama kekuasannya terlah terjadi 15 kali pertempuran termasuk pertempuran melawan Cirebon. Peperangan demi peperangan semakin memperkokoh kekuatan Cirebon hingga ke sisi timur Sungai Citarum, di pantai utara Cirebon juga sudah menguasai Banten dan di pimpin oleh Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayat, dan Sunda Kelapa yang berganti nama menjadi Jayakarta dibawah pimpinan Fatahillah. kondisi yang sedemikian itu ahirnya membuat kedua belah pihak menandatangani perjanjian damai. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayatullah. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran Pasarean (Putera Mahkota Cirebon), Fatahillah (penguasa Jayakarta) dan Hasanudin (Penguasa Banten).

Penyesalan Prabu Surawisesa di Batu Tulis

Di tahun 1533, dua belas tahun setelah wafatnya Sri Baduga Maharaja, Prabu Surawisesa membuat Sasakala (tanda / prasasti peringatan) untuk mengenang kebesaran ayahandanya, barangkali juga sebagai bentuk penyesalan dan rasa bersalah kepada ayahandanya karena tidak mampu mempertahankan keutuhan dan kebesaran Pajajaran yang diwariskan ayahandanya. Prasasti yang kini dikenal sebagai batu tulis.  Tatanan prasasati sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, Batutulis itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri Lingga Batu.

Prabu Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi padatala ukiran jejak kaki. Pemasangan batutulis itu juga bertepatan dengan upacara srada yaitu "penyempurnaan sukma" yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Dari makna prasasti batu tulis tersebut, jelas sekali bahwa Prabu Surawisesa mengakui dirinya tidaklah sebanding dengan ayahandanya. bahkan menolak menorehkan namanya di prasasti yang dia buat sendiri. Pajajaran tidak pernah kembali ke kejayaan Sri Baduga Maharaja, bahkan Nilakendra, raja Pajajaran ke lima harus melarikan diri dari Kraton di Pakuan menghindari serbuan dari Kesultanan Banten dan Raja Ke enamnya memerintah dari pengasingan sampai ahirnya Pajajaran dinyatakan berahir dengan diboyongnya Palangka Sriman Wacana ke Banten setelah Pakuan tidak berdaya menahan serbuan terahir Banten ke kraton Pajajaran di Pakuan.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, saya pribadi berkesimpulan bahwa Prabu Siliwangi adalah gelar yang diberikan oleh rakyat Pajajaran kepada Sri Baduga Maharaja sebagai bentuk penghormatan atas kebesaran kekuasaan beliau. Keagungan pribadi-nya membuat beliau juga digelari sebagai Pangeran Pamanah Rasa karena kehalusan dan keluhuran budi pekertinya dan kemampuannya dalam memerintah telah menjadikan Pajajaran sebagai kerajaan besar pada masa nya dan dikenang hingga kini.

Cikarang, 2 Nopember 2015

------------------------------

Baca Juga


Sunday, November 1, 2015

Salakanagara Benarkah Pernah Ada ?

Peta wilayah Kerajaan Salakanagara didasarkan kepada berbagai informasi terntang bentangan wilayah kerajaan tersebut. Disesbutkan bahwa wilayah kerajaan meliputi wilayah, Banten, DKI dan Jawa Barat saat ini. Pusat kerajaan bernama Rajatapura berada di teluk Lada, Pendeglang, Banten. Wilayah Kerajaan terdiri dari beberapa Mandala (kerajaan bawahan) yaitu : Mandala Tanjung Kidul di wilayah Cianjur dan Sukabumi saat ini, Mandala Ujungkulon, di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Lebak dan Pandeglang, dan Mandala Agny Nusa (Negara Api) di gugus kepulauan Krakatau.

Pengantar

Salakanagara Adalah nama kerajaan yang ditengarai merupakan kerajaan tertua yang pernah ada di wilayah NKRI. Meski keberadaan kerajaan ini telah dicatat dalam Naskah Pangerah Wangsakerta yang ditulis di abad ke 17 (antara tahun 1677 hingga tahun 1698) namun sejarah Salakanagara belum pernah muncul dalam buku sejarah resmi versi pemerintah untuk konsumsi pembelajaran di sekolah maupun institusi pendidikan lainnya.

Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta alias Panembahan Agung Gusti, secara pribadi atau oleh kelompok yang disebut "Panitia Wangsakerta". Pangeran Wangsakerta adalah putra dari Pangeran Girilaya, Sultan Cirebon terahir sebelum kesultanan terpecah menjadi dua, Kasepuhan dan Kanoman. Pangeran Girilaya meminta Pangeran Wangsakerta untuk menulis sejarah kerajaan kerajaan Nusantara.

Tertua di Nusantara

Salakanagara disebut sebagai kerajaan tertua di Nusantara, jauh lebih tua dari Kerajaan Kutai di Kalimantan yang secara resmi masih di akui sebagai kerajaan pertama dan tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai Martadipura diperkirakan berdiri di abad ke 4 masehi tepatnya sekitar tahun 350 masehi di Muara Kaman, hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Nama Kutai sendiri diberikan oleh para ahli dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini.

Merujuk kepada catatan Pangeran Wangsakerta, Kerajaan Salakanagara sudah berdiri di abad ke 2 Masehi dan cikal bakal kerajaan tersebut diperkirakan sudah ada sejak abad pertama Masehi, dan diyakini bahwa Salakanagara adalah kerajaan Argyre yang disinggahi dan disebut oleh Ptolemeus sebagai sebuah kota yang sangat mengagumkan, dalam catatan perjalanan-nya tahun 150 masehi. Argyre bermakna kota perak, makna yang sama persis dengan Salakanagara, dan Salakanagara pada masa jaya nya memang terkenal sebagai penghasil perak.

Cikal Bakal Salakanagara

di Awal abad masehi belum ada bentuk kerajaan di wilayah Nusantara, masyarakat berkelompok dibawah satu pimpinan seorang yang ditokohkan. Teluk Lada, Pandeglang, Propinsi Banten kala itu merupakan pelabuhan alam yang banyak dikunjungi pendatang dari pulau pulau lain untuk berdagang tidak hanya para pelaut dan pedagang Nusantara tapi juga dari mancanegara termasuk dari semenanjung Malaya dan India.

Teluk Lada dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan Lada yang ditanam dipedalaman Teluk Lada serta yang didatangkan dari Lampung. Teluk lada juga menghasilkan hasil pertambangan seperti besi, tembaga, emas dan perak yang dikelola secara tradisional dan hasilnya untuk keperluan pembuatan peralatan pertanian, senjata tajam dan perhiasan. komuditas ini yang kemudian mengangkat nama Teluk Lada sebagai penghasil Perak dan kemungkinan dari sini pula awal nama Salakanagara diperoleh.

Teluk Lada saat itu dipimpin Datu Tirem atau Aki Tirem, seorang pendatang dari Sumatra, menikah dengan wanita pribumi Teluk Lada, kemudian memimpin kelompok masayarakat disana. Datu Tirem memiliki seorang anak perempuan bernama Larasati atau Pohaci Larasati, yang dikemudian hari menikah dengan seorang bangsawan India.

Berdirinya Kerajaan Salakanagara

Di jazirah India pada masa itu sudah berdiri kerajaan Calankayana atau Salangkayana yang sedang berusaha memperluas pengaruhnya hingga keluar jazirah India. Sekitar tahun 128 Masehi utusan dari Calankayana tiba di Teluk Lada dipimpin oleh Dewawarman membawa misi dari rajanya untuk memperluas wilayah bawahan kerajaan Calankayana. Kedatangan rombongan ini di Teluk Lada justru mendatangkan manfaat bagi masyarakat disana, salah satunya Dewawarman dan pasukan yang dibawanya mampu mengusir bajak laut yang mengganas di selat sunda dan menjadi ancaman bagi masyarakat Teluk Lada. disamping itu Pangewan Dewawarman juga mampu memperbaiki pertanian, pertambangan dan perdagangan Teluk Lada.

Kedatangan Dewawarman ke Teluk Lada ini juga menandai masuknya agama Hindu ke Nusantara. Dewawarman datang dari India juga membawa para pendeta Hindu untuk menyebarkan ajaran Hindu. Dewawarman kemudian dinikahkan oleh Aki Tirem dengan putrinya, Larasati, sekaligus menyerahkan kedudukannya untuk memimpin masyarakat Teluk Lada disekitar tahun 52 Saka (130/131 masehi).  

Di tahun tersebut Dewawarman mendirikan Kerajaan Salakanagara sebagai kerajaan bawahan dari kerajaan Calankayana, menjadikan dirinya sebagai raja pertama bergelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Aji Raksagapurasagara dan istrinya sebagai permaisuri dengan gelar Dewi Dwani Rahayu. Dan mengganti nama Teluk Lada menjadi Rajatapura sekaligus menjadikannya sebagai Purasaba (ibukota) kerajaan. sebagai kerajaan bawahan Calankanaya, Salakanagara memberikan upeti tahunan kepada Kerajaan Calankanaya dan sebagai imbalannya, kerajaan Calankanaya mengirimkan kain sutra, permadani, senjata dan kapal laut.

Keberhasilan Dewawarman dan permaisurnya dalam membesarkan Salakanagara dan membawa rakyat Salakanagara pada kemakmuran dan kesejahteraan, membuat pasangan penguasa tersebut sangat dihormati rakyatnya, Dewawarman dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu sedangkan Larasari, permaisurinya dianggap sebagai jelmaan Dewi Sri.

Wilayah Kekuasaan

Pada masa pemerintahan Dewawarman, Wilayah Salakanagara membentang dari pantai Selat Sunda, pantai selatan Jawa di Kabupaten Lebak sampai Cianjur sekarang, pantai utara Jawadwipa hingga ke tepi barat sungai Citarum, sekaligus dengan pedalamanya. Perluasan itu dimungkinkan, karena kuatnya balatentara Salakanagara yang berintikan pasukan asli dari Calankayana dan penduduk pribumi.

Teritorial Salakanagara terdiri dari wilayah inti kerajaan dan beberapa Mandala (kerajaan bawahan). Beberapa diantaranya yang sudah diketahui adalah; Mandala Ujung Kulon yang meliputi wilayah kabupaten Pandeglang dan kabupaten Lebak sekarang, dibawah pimpinan Raja Bahadura Harigana Jaya Sakti adik pangeran Dewawarman. Purasaba kerajaan Ujung Kulon kemungkinan berelokasi di sekitar teluk penanjung yang memanfaatkan teluk itu untuk prasarana transportasi, komunikasi dan perdagangan sebagai pelabuhan alam karena kurang dan sulitnya jalan darat.

Kemudian Mandala Tanjung Kidul, meliputi wilayah pesisir dari pedalaman Sukabumi sampai dengan Cianjur sekarang, dipimpin raja Sweta Liman Sakti yang juga adik Dewawarman. Purasaba negara Tanjung Kidul adalah Agrabintapura yang terletak di sekitar gunung Bengbreng daerah antara sungai Citarik dan pantai Cidaun. Dan ketiga yang sudah diketahui adalah Kerajaan Agnynusa (Negeri Api)yang berada di Pulau Krakatau.

Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Salakanagara

Berikut ini nama nama raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Salakanagara, meski belum ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tarikh pemerintahan mereka masing masing.
  • Prabu Dharmalokapala Dewawarman (Dewawarman I)
  • Prabu Digwijayakasa Dewawarman (Dewawarman II)
  • Prabu Singasagara Bimayasawirya Dewawarman (Dewawarman III)
  • Prabu Darmasatyanagara Dewawarman (Dewawarman IV)
  • Prabu Darmasatyajaya Dewawarman (Dewawarman V)
  • Prabu Ganayanadewa linggabumi Dewawarman (Dewawarman VI)
  • Prabu Digwijaya Satyaganapati Dewawarman (Dewawarman III)
  • Spatikarnawa Warmadewi
  • Prabu Darmawirya Dewawarman (Dewawarman VIII)


Kedatangan Ptolemeus

Tahun 150, seorang pengembara dari Mesir, Ptolemeus atau Claudius Ptolemaeus Pelusiniensis atau Ptolemy (87-150 masehi) diyakini tiba di Salakanagara bersama dengan rombonganya pedagang dari India menetap di purasaba Rajatapura. Ptolemeus sangat mengagumi Salakanagara yang disebutya Argyre (kota perak) dalam bukunya Geographike Hypergesis.

Suatu laporan dari China pada tahun 132 menyebutkan Pien, raja Ye-tiau, meminjamkan stempel mas dan pita ungu kepada Tiao-Pien. Kata Ye-tiau ditafsirkan oleh G. Ferrand, seorang sejarawan Perancis, sebagai Javadwipa dan Tiao-pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) merujuk kepada Dewawarman.

Ahir Salakanagara

Salakanagara berlangsung dari tahun 130 sampai tahun 358, di bawah pemerintahan Dewawarman I sampai VIII. Adapun raja terakhir, yaitu Dewawarman VIII tidak mempunyai anak laki-laki, hanya memiliki anak perempuan saja, sehingga tidak memiliki putra mahkota sebagai penerus tahta.

Pada masa pemerintahan Dewawarman VIII, datanglah seorang maharesi muda dari Calankayana, yang memberitahukan pada Dewawarman VIII bahwa Calankayana telah ditaklukan oleh kerajaan Magada di bawah pemerintahan Maharaja Samudragupta. Pada masa itu, politik ekspansi maharaja samudragupta berhasil menaklukan hampir seluruh kerajaan di India.

Maharesi Jayasingawarman itu tinggal di purasaba Rajatapura dan menikah dengan putri Dewawarman VIII. kemudian diangkat sebagai penerus tahta Salakanagara. Jayasingawarman dikemudian hari memindahkan ibukota kerajaannya ke daerah yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Tarumajaya, Muaragembong, Sukawangi dan Cabangbungin di kabupaten Bekasi sekarang, Menjadi awal berdirinya Kerajaan Tarumanegara.

Bukti-bukti Sejarah Peninggalan Salakanagara

a.) Menhir Cihunjuran;
berupa Menhir sebanyak tiga buah terletak di sebuah mata air, yang pertama terletak di wilayah Desa Cikoneng. Menhir kedua terletak di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari. Menhir ketiga terletak di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Tidak jauh dari kampung Cilentung, Kecamatan Saketi. Batu tersebut menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis dan Batu Tulis di Bogor. Tradisi setempat menghubungkan batu ini sebagai tempat Maulana Hasanuddin menyabung ayam dengan Pucuk Umum.

b.) Dolmen;
Terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berbentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm, disebut Batu Ranjang. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus dengan permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh empat buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm. Di tanah sekitarnya dan di bagian bawah batu ada ruang kosong. Di bawahnya terdapat fondasi dan batu kali yang menjaga agar tiang penyangga tidak terbenam ke dalam tanah. Dolmen ditemukan tanpa unsur megalitik lain, kecuali dua buah batu berlubang yang terletak di sebelah timurnya.

c.) Batu Magnit;
Perletak di puncak Gunung Pulosari, pada lokasi puncak Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Yaitu sebuah batu yang cukup unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas, meskipun ditempatkan di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut.

d.) Batu Dakon;
Terletak di Kecamatan Mandalawangi, tepatnya di situs Cihunjuran. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya dan berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan

e.) Air Terjun / Curug Putri
terletak di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, air terjun ini dahulunya merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas. Di lokasi tersebut, terdapat aneka macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.

f.) Pemandian Prabu Angling Dharma;
Terletak di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, pemandian ini dulunya digunakan oleh Prabu Angling Dharma yang atau Aki Tirem Luhur Mulia atau Wali Jangkung. meski memang tidak jelas apakah nama Angling Darma yang dimaskud adalah Prabu Angling Darma seperti yang selama ini dikenal dalam kisah kisah tanah Jawa ?.

Penutup

Sejarah kadangkala teramat sulit untuk dibuktikan, tatkala bukti yang dimaksud adalah segala macam hal yang dapat diterima secara ilmiah kekinian. saya sebut ilmiah kekinian karena kata ilmiah pun terpengaruh oleh waktu dan gravitasi. Semakin banyak yang mengakuinya sebagai ilmiah maka ilmiahlah ia. Semakin maju peradapan yang tadinya tidak ilmiahpun dapat dianggap ilmiah seiring dengan proses pembuktian yang semakin kompreshensif.

Salakanagara apakah memang pernah ada di Nusantara seperti yang telah di uraikan di atas ? dan sebegitu banyak uraian di dunia maya ?. Pada waktunya nanti juga akan terungkap, pada waktunya nanti juga akan masuk ke kurikulum sejarah di institusi Institusi pendidikan. Ketika manusia mulai tertarik untuk menemukan jati dirinya, menemukan jati diri bangsanya.

Sumber : Dari berbagai sumber dengan editing redaksional seperlunya.

------------------------------------------

Baca Juga