Saturday, April 29, 2017

MAWAR

Mawar itu indah, tapi jangan pernah memanggil si Indah dengan panggilan Mawar, dijamin ngambek. 

Di dunia thoriqoh, mawar (merah) identik dengan Syech Abdul Qodir Jailani, Mawarnya para wali. Disebutkan beliau ditolak masuk ke Bagdad, seumpama Bagdad adalah gelas, dan para wali adalah airnya, maka gelas telah penuh dengan air tak ada lagi tempat untuk di isi air lagi. Lalu Syech Abdul Qodir Jailani, memasukkan setangkai mawar ke dalam gelas penuh air itu. Dan penolakanpun berahir.
.
Di dunia asmara, mawar menjadi pavorit bagi mereka yang sedang kasmaran, mungkin karena kekenyangan dengan nasihat gaya orang Eropa yang berbunyi "katakanlah dengan bunga", sehingga urusan menyatakan cinta, meminang dan sebagainya nyaris identik dengan mawar. Kenapa harus mawar ? sederhananya bila dengan bunga kamboja ataupun kantil, boro boro pinangan diterima, paling paling malah kena labrak. 
.
Bunga mawar juga menjadi salah satu media aroma therapi, wanginya yang khas membuat bunga ini menjadi salah satu pilihan pavorit. Dan menariknya bunga mawar terutama mawar putih, merupakan bunga pavoritnya Raja Salman, Raja Saudi Arabia yang baru baru ini berkunjung ke Indonesia. 
.
Aroma mawar yang mewangi itu kemudian dijadikan salah satu pewangi ruangan, pewangi pakaian, pewangi air untuk mandi, pewangi kamar tidur hingga kamar pengantin. Tradisi itu sudah mendarah daging sejak dari nenek moyang kita pada jaman dahulu. Hanya saja kita seringkali lupa esensinya, Lupa yang kadang kadang membuat terpeleset makna, sama lupanya tentang esensi aroma menyan. (instagram). 

*
*
*

Saturday, April 22, 2017

Lemah Abang & Ingat Mati

stasiun KA Lemah Abang, Cikarang Utara, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

Nama "Lemah Abang" tersebar di berbagai tempat di Indonesia, termasuk "Lemah Abang" di Cikarang Utara. Kabupaten Bekasi. Konon nama itu adalah nama dari Syech Lemah Abang. Ada yang ber-asumsi nama itu adalah nama lain dari Syech Siti Jenar yang artinya juga sama sama "Syech Tanah Merah" beliau hidup sezaman dengan para Walisongo.
.
Di Jepara Syech Lemah Abang identik dengan Sunan Jepara atau Raden Abdul Jalil. Di hukum mati di masa Kesultanan Demak karena dianggap sesat.
.
Begitu banyak pendapat beredar tentang sosok fenomenal ini. Tokoh yang dianggap sesat namun namanya di abadikan dibegitu banyak tempat. Lalu siapa dia sebenarnya ? Benarkah Syech Lemah Abang & Syech Siti Jenar adalah orang yang sama ?
.
Namun yang pasti, di kampung halamanku, tanah merah itu identik dengan kuburan yang masih baru. pepatah nya mengatakan "berbuat baiklah sebelum tanah merah naik ke permukaan". Nasihat sederhana mengingatkan tentang kematian yang pasti datang kepada semua yang bernyawa, tanpa kecuali.

*
*
*


Saturday, December 17, 2016

Komplek Pemakaman Kyai Panembahan Singaperbangsa

Bangunan Makam Para Bupati Karawang

Komplek pemakaman Bupati Karawang Kyai Panembahan Singaperbangsa merupakan komplek pemakaman para mendiang Bupati Karawang yang berada di Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang. Pada awalnya di lokasi ini hanya ada satu makam yakni Makam Kyai Panembahan Singaperbangsa, Bupati pertama Kabupaten Karawang yang berkuasa pada tahun 1633-1677 dikenal dengan nama Dalem Adipati Singaperbangsa, dan bergelar Adipati Kertabumi IV.

Konon menurut cerita, makam Kyai Panembahan Singaperbangsa ditemukan berdasarkan pemberitahuan dari seorang Guru Besar Agama Islam di Purwakarta yang menyatakan kepada muridnya yang tinggal di Manggung. Makam tersebut kemudian dibangun dan pada tahun 1993 dilakukan pemindahan makam para bupati Karawang ke lokasi ini dan ditetapkan sebagai komplek Pemakaman Para Bupati Karawang


Awalnya direncanakan lima jenazah para bupati karawang yang menjabat setelah adipati Singaperbangsa yang akan dipindahkan ke lokasi ini, namun yang ahirnya hanya empat yang dipindahkan, sedangkan satu makam lainnya dipertahankan oleh pihak keluarga di lokasi aslinya.

Bangunan makam para Bupati Karawang ini terdiri dari tujuh bangunan makam yang dibangun mengelilingi sebuah balairung terbuka. Masing masing bangunan makam dihubungkan dengan koridor ke balairung yang berada ditengah tengah. Orientasi bangunan menghadap ke arah selatan yang merupakan akses keluar masuk ke area balairung dari halaman depan dan gerbang komplek makam. Denah dasar bangunannya simetris membentuk delapan penjuru angin, tanpa bangunan di sisi selatannya.

Denah bangunan makam di komplek pemakaman Singaperbangsa (tanpa skala)

Secara keseluruhan ada enam tokoh yang dimakamkan disini terdiri dari lima mantan Bupati Karawang dan satu makam sesepuh masyarakat Karawang, sedangkan satu bangunan makam lagi masih kosong. Ke enam makam tersebut secara berurutan dari sisi utara adalah sebagai berikut:
  1. Singaperbangsa atau Kyai Panembahan singaperbangsa atau Dalem Kalidaon atau Eyang Manggung, bergelar Adipati Kertabumi IV, beliau adalah putra  dari Wiraperbangsa  dari  Galuh.
  2. Bupati Karawang kedua, berkuasa tahun 1677-1721, Raden Anom Wirasuta, bergelar R.A. Patatayuda I. Beliau adalah putra dari Adipati  Singaperbangsa dilantik  menjadi  Bupati  Karawang di  Citaman  (kecamatan Pangkalan). Setelah  wafat, jenazah beliau dimakamkam  di  Bojongmanggu, dan juga dikenal dengan sebutan Panembahan Manggu. Pada  tanggal  28  November  1994 makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman ini.
  3. Bupati Karawang ketiga, berkuasa tahun  1721-1731, Raden Jayanegara, bergelar R.A Panatayuda II. Beliau adalah putra dari Raden Anom  Wirasuta, Setelah  wafat  beliau  dimakamkan  di  daerah Waru  Tengah.  Karena  itu  beliau  dikenal  juga  sebagai  Panembahan  Waru  Tengah, makam beliau kemudian dipindahkan ke komplek ini Pada  tanggal  28  November  1994.
  4. Bupati Karawang ke-empat, berkuasa tahun 1731-1752, R. Martanegara / R. Singanagara, bergelar R. A Panatayuda III. Beliau adalah putra Jayanegara, dikenal  juga  dengan  nama  Raden  Martanegara.  Setelah  wafat  dimakamkan  di  Waru  Hilir,  karena itu beliau dikenal dengan Panembahan Waru Hilir. Pada  tanggal  28  November  1994, makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman ini.
  5. Bupati Karawang ke-Lima, berkuasa tahun 1752-1786, R. Mohamad Soleh, bergelar R. A Panatayuda IV. Beliau adalah putra dari Raden  Singanagara, dikenal  pula  dengan  nama  Raden  Muhammad  Zaenal  Abidin  atau  Dalem  Balon.  Setelah  wafat  beliau  dimakamkan  di  Serambi  Mesjid  Agung  Karawang.  Karena  itu  Raden  Muhammad  Saleh dikenal juga dengan sebutan Dalem Serambi. Pada  tanggal  5  Januari  1994  makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman ini.
  6. Ibu Siti Ansiah (Keramat Manggung), Kampung Kali Daon Cigobang, Desa Ciparage. Beliau adalah seorang Nyi Ratu Pamade (adik dari ibu Singaperbangsa) yang merawat Singaperbangsa dari bayi hingga dewasa.


Pendopo di Komplek Pemakaman Singaperbangsa Karawang

Keseluruhan komplek pemakaman ini seluas 2 hektar dipayungi oleh pohon pohon tinggi besar termasuk pohoh pohon kelapa. Beberapa fasilitas pendukung sudah dibangun di komplek ini termasuk satu bangunan pendopo terbuka berukuran besar di sisi timur laut bangunan makam, bangunan pendopo ini terhubung dengan satu ruas jalan paving blok ke gerbang tengah yang hanya dibuka pada acara acara tertentu. 

Di depan pendopo ini merupakan area terbuka. Di samping pendopo di sebelah utara bangunan makam berdiri satu bangunan mushola, dan kamar mandi. Tak jauh dari lokasi ini juga sudah dibangun tempat peristirahatan bagi pejabat daerah setempat yang sedang berkunjung kesana. Keseluruhan areal komplek pemakaman ini dikelola sepenuhnya oleh pemerintah kabupaten Karawang dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bangunan makam dari sisi tenggara

Komplek ini akan sangat ramai peziarah setiap tanggal 10 bulan maulud penanggalan Hijriah bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang secara rutin juga dihadiri para pejabat tinggi pemerintah Karawang dan masyarakat umum yang menyesaki tempat tersebut. Komplek pemakaman ini juga akan ramai peziarah termasuk kunjungan Bupati Karawang dan rombongan pada setiap peringatan hati jadi kabupaten Karawang.

Sebagai objek cagar budaya milik pemerintah, komplek pemakaman ini dijaga oleh beberapa petugas resmi. Kunjungan ataupun ziarah di malam hari tidak diperkenankan, dan semua bangunan makam ini dikunci pada waktu waktu bukan masa kunjungan. Para pengunjung ataupun para peziarah tentu saja harus meminta izin dari petugas disana,***

Friday, September 16, 2016

Tanya Tanpa Tanda ?

QS 56 ; 27-29

Adakalanya atau bahkan seringkali "kecuali" terkonotasi sebagai "Oknum" meskipun untuk sebuah keniscayaan permanen. Dua hal yang sama sekali tak sama.

Seperti halnya "orang baik" yang hanya tersisa dan terselip satu dari sejuta, apakah akan disebut sebagai "oknum orang baik"

Seperti hal nya helai daun yang bila tiba masanya akan tua, menguning, lunglai, lepas dari tangkainya dan jatuh ke bumi. Namun demikian / akan tetapi nyatanya daun pisang menolak untuk jatuh, meski telah kering kerontang. akankah kau kan menyebutnya "oknum" daun. . .

Ah. . . mungkin "si takdir" tak memberikan pencerahan tentang dirinya ... . . atau ego yang bahkan terlalu dominan diantara nalar.... . .

. . . Bagaimanapun, tetaplah jadi orang baik, meskipun kau bingung dengan tulisan ini. . .


Friday, June 10, 2016

Legenda MUHAMMAD ALI dari SDN 1 Gelumbang

Amerika itu jaraknya ribuan kilometer dari gedung sekolah di kampung kami ini, tapi rasanya waktu itu si Muhammad Ali jagoan tinju itu adalah orang Mari, hanya karena namanya MUHAMMAD ALI.

Dulu waktu masih sekolah di SD dikampung halaman, beberapa kali kegiatan belajar mengajar dihentikan. Kepala sekolah membawa semua murid berjalan kaki dengan tertib menuju ke halaman kantor kecamatan. Untuk Upacara ? ternyata bukan. Tapi untuk nonton siaran langsung pertandingan tinju Muhammad Ali dari pesawat televisi satu satunya di ada di seluruh wilayah Marga Gelumbang yang kala itu masih dipimpin oleh seorang Pasirah.

Saya sendiri masih terlalu kecil waktu itu untuk mengingat siapa yang menjadi lawan tanding sang legenda kala itu, yang pasti saat itu bahkan sama sekali tak terpikir bahwa Muhammad Ali itu adalah orang Amerika. Namanya saja Muhammad Ali, dia pastinya orang Indonesia suku melayu yang jago tinju dan juara dunia, begitu pikiran bocah ku kala itu.

Tak sampai disitu lho Bro dan Sis. Ketika menjelang lulus SD, murid murid sekolah disuruh oleh pak dan bu Guru untuk belajar ber-tanda tangan, karena nanti setelah lulus akan dapat ijazah dan ijazahnya harus ditandatangani oleh masing masing murid yang lulus. Akupun ikutan sibuk belajar bikin tanda tangan.

Sekian belas tahun kemudian aku baru menyadari sesuatu. Tanda tanganku yang lebih mirip coret coretan tak jelas itu, ketika dicermati dengan baik ternyata dapat dibaca dengan jelas membentuk sebuah nama dan nama itu bukanlah namaku, tapi nama MUHAMMAD ALI.

Ah, Sang legenda itu hari ini telah pergi, akan tetapi sepertinya aku akan mengingatnya dan mengingat dua nama yang ada di dua patah kata itu setiap kali bertanda tangan resmi.


Selamat jalan Muhammad Ali. 

Thursday, April 21, 2016

Bukan Sajadah Sakti


Pagi itu halaman Masjid Jami’ Babussalam sudah penuh sesak. ruang kosong yang tersisa hanya di aspal perempatan ruas jalan lintas tengah sumatera yang membentang melintasi kampungku di depan masjid. Suara takbir membahana di hari kemenangan 1 syawal 1436H. Sambil takbiran mau tak mau aku juga sibuk menjaga jagoan kecil ku yang baru dua tahun dan beberapa keponakan kecil yang ‘ngintil’ denganku gg mau ikut dengan bapaknya.  sementara di emperan pertokoan yang tutup pagi itu banyak anak anak muda dan orang dewasa yang malah nongkrong disana meski sudah berbaju koko dan bawa sajadah.

ketika waktunya shola ied tiba, tidak ada reaksi dari mereka yang sejak tadi hanya nongkrong di emperan toko untuk bersiap siap untuk sholat. Keponakan keponakan kecilku malah kisruh rebutan sajadah, walahasil dua sajadah yang kubawa juga mereka pakai. apa boleh buat aku sholat di atas aspal tanpa sajadah sementara si kecil disebelah ku tetap saja sibuk dengan mobil mainannya. Entah di takbir yang keberapa, seseorang datang dan membentangkan sajadah di depanku dan di depan putra kecilku.

Ketika salam, shola ied usai. anak ku sudah tidak ada lagi disebelahku. sudah pindah bersama mainannya, cuek santai njelepok di tengah jalan beraspal main mobilan, ditemani (lebih tepatnya dijagain) oleh dua anak muda berbaju koko, sejurus kemudian anakku lari lari ke menghampiriku. Sementara beberapa anak muda yang lainnya (yg tadinya nongkrong di emperan toko) mulai sibuk mengatur lalu lintas di ruas jalan yang tadi ternyata di tutup sementara selama sholat ied berlangsung karena jamaah yang berjubel hingga memenuhi jalan raya termasuk aku, keponakan2 ku dan putra kecilku.

Khutbah Iedul Fitri usai, kini aku yang clingak clinguk untuk mengembalikan sajadah, siapa gerangan orangnya yang tadi membentangkannya di depanku saat sholat tadi ? masa iya sajadahnya tiba tiba nongol dan nge-gelar sendiri di depanku. Salah satu dari anak anak muda itu yang kemudian menghampiriku. “Punyo aku kak” begitu katanya. Wajah yang sama sekali tak kukenal, mungkin dia kenal aku ? Entahlah, yang pasti setelah itu setengah jam lebih aku sengaja berdiri di prapatan jalan (sambil menggendong anakku) di depan masjid diantara sebegitu banyak Jemaah yang lalu lalang. Hanya segelintir saja dari mereka yang kukenal dan mengenaliku.

Tampaknya kampungku yang dulunya sunyi sepi dan se isi kampung ku kenal satu persatu dan merekapun mengenalku kini sudah jadi milik orang lain . Hanya saja. Tak perlu kenal untuk membantu dan kadang kadangkala bantuan atau pertolongan itu memang datangnya di detik detik terahir. *** 


Tuesday, April 19, 2016

Siapakah Kian Santang (Bagian ahir)

Indahnya bentang alam Garut dipandang dari Karangpawitan, daerah yang diyakini sebagai makam nya Syech Rohmat Suci alias Kian Santang.

Apakah Kian Santang adalah Dongengan Pangeran Cakrabuana?

Teori atau pendapat lain bahkan menyebutkan bahwa sesungguhnya sosok Kian Santang itu tidak pernah ada. Kisah Kian Santang sendiri adalah sebuah kisah karangan yang dituturkan oleh Pangeran Cakrabuana dalam dakwahnya dengan metoda berdakwah melalui cerita atau mendongeng. Bahwa kisah Kian Santang yang dituturkan itu diambil dari salah satu buku yang tersimpan di perpustakaan kerajaan Pajajaran. Pangeran Cakrabuana memetik kisah itu menjadi bahan dakwahnya karena memiliki alur cerita yang mirip dengan perjalanan hidupnya sendiri.

Konon, buku tersebut mengisahkan tentang Pangeran Gagak Lumayung putra mahkota kerajaan Tarumanegara, anak dari Prabu Purnawarman, di sekitar tahun 450 masehi. Nama Ki An San Tang (Sang Penakluk Bangsa Tan) merupakan gelar kehormatan bagi Gagak Lumayung yang berhasil mengalahkan pasukan bangsa Tan yang kala itu menyerbu ke Taruma Negara. Dan menurut pendapat ini, sosok Kian Santang yang selama ini kisahnya dituturkan adalah sosok pangeran Gagak Lumayung tersebut. Pendapat ini agak sulit untuk diterima karena Pangeran Gagak Lumayung yang dimaksud justru hidup di masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Sehingga dengan sendirinya pendapat yang menyatakan bahwa Kian Santang Adalah cerita dongeng yang dituturkan oleh Pengeran Cakrabuana dari Kisah perjalanan Ki An San Tan alias Gagak Lumayung dari era Tarumanegara, gugur dengan sendirinya.

Kian Santang Bertarung dengan Ayahnya Sendiri?

“Adu kesaktian” dengan berbagai alur cerita antara Kian Santang melawan ayahnya sendiri (Prabu Siliwangi) sangat melekat dengan sosok Kian Santang, dan ahir dari ‘pertarungan’ itu adalah sebuah gua di Leuweung (Hutan) Sancang (di Pameungpeuk, Kabupaten Garut).  Ada banyak versi tentang ahir dari bagian ini, namun memiliki garis merah yang sama yakni; Prabu Siliwangi “Moksa” di Leuweung Sancang.

Bila saja kisah tersebut, benar adanya. Itu bermakna Prabu Siliwangi moksa dua kali. Karena kemudian ada kisah tutur yang menyebutkan bahwa moksanya Prabu Siliwangi karena ke-engganannya mengikuti ajakan Syarif Hidayatullah untuk (Kembali) ber-Islam. Antara usia Kian Santang dan Syarif Hidayat (antara paman dan keponakan) terpaut dua puluhan tahunan, atau dalam bahasa sederhananya pada saat Syarif Hidayat baru lahir di tanah arab, Kian Santang sudah sakti di tanah Jawa.

Bila Prabu Siliwangi sudah di “moksa’ kan oleh Kian Santang di Leweung Sancang dan sudah tidak lagi hidup di alam dunia ini dan juga sudah tidak lagi menjadi Raja Pajajaran, bukankah mustahil sosok yang sama kemudian berhadapan dengan Syarif Hidayatullah lalu “moksa” demi menghindari pertarungan dengan cucunya sendiri.

Dalam artikel sebelumnya tentang Prabu Siliwangi, telah dijabarkan bahwa Prabu Siliwangi wafat secara wajar dan kemudian tahta Pajajaran diteruskan oleh Putra Mahkota, Prabu Surawisesa. Beliau yang kemudian menulis sebuah prasasti di tahun ke 12 sejak kematian ayahandanya. Prasati yang dikemudian hari dikenal sebagai Prasasti Batu Tulis. Pembuatan prasasti tersebut dilakukan di masa damai setelah ditandatanganinya perjanjian tapal batas dengan Kesultanan Cirebon, saat itu Pajajaran juga sudah kehilangan wilayah Banten dan Sunda Kelapa yang dikuasai Kesultanan Cirebon.

Maknanya bahwa, Baik Kian Santang maupun keponakannya (Syarif Hidayatullah), tidak pernah bertarung atau adu kesaktian dengan Prabu Siliwangi dalam upaya meng-islam-kan ataupun dalam upaya mengajak Prabu Siliwangi untuk kembali ke jalan Islam, dan berujung kepada moksa nya Sang Prabu dari alam dunia.

Manakala cinta berahir duka

Menilik tiga pernikahan Prabu Siliwangi, kita akan mendapati kenyataan bahwa dua dari pernikahan beliau memiliki nuansa politik yang kental. Pernikahannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda memberikan beliau legalitas sebagai pewaris kerajaan Sunda dari Prabu Susuktunggal. Kemudian pernikahannya dengan Ambet Kasih yang tak lain adalah putri dari Ki Gde Sindangkasih penguasa Sindangkasih (Majalengka), daerah yang “tak jauh dari” atau malah merupakan “ibukota” kerajaan Galuh yang membuka ruang baginya untuk memuluskan kekuasaan dari ayahandanya, Prabu Dewa Niskala.

Sedangkan perjumpaan beliau dengan Subang Larang, merupakan perjumpaan tanpa sengaja di ‘pesantren’ Syech Quro, yang justru terjadi dalam tugas beliau untuk membumihanguskan pondok Quro, tapi malah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Subang Larang. Kekuatan apa yang mampu membuat pewaris tahta dua kerajaan sekaligus, mampu mengubah haluan hidupnya, selain kekuatan cinta.

Cinta nya kepada Subang Larang yang kemudian membawa beliau kepada Islam, demi memenuhi syarat yang diajukan oleh Subang Larang untuk menerima pinangan Prabu Siliwangi. Berislamnya Sang Prabu tidak diikuti dengan berislamnya Pajajaran secara keseluruhan kala itu, mengingat bahwa pernikahan terjadi pada saat Sang Prabu masih berstatus sebagai “putra mahkota”, dan kemungkinan akan menyulitkkan posisinya untuk menyatukan kembali dua kerajaan yang terpisah apabila terang terangan menyatakan keyakinannya yang sudah berbeda dengan khalayak ramai kala itu termasuk berbeda dengan anggota keluarga keraton Pajajaran lainnya.

Dari fakta sejarah tidak pernah ada serbuan dari pusat kerajaan Pajajaran ke daerah Cirebon meskipun saat itu Islam sudah berkembang pesat di masa Pangeran Cakrabuana berkuasa disana sebagai bawahan Pajajaran, bukahkah Prabu Siliwangi sendiri yang datang ke Cirebon dan mengesahkan Pangeran Cakrabuana, putra tertuanya dari Subang Larang sebagai penguasa Cirebon sebagai kerajaan bawahan Pajajaran. Sangat nyata bahwa beliau melakukan pembiaran bagi berkembangnya Islam di kerajaannya sendiri.

Suasana berubah drastis ketika Subang Larang wafat, Sang Prabu tenggelam dalam duka mendalam dan berkepanjangan, membuat beliau kehilangan sosok yang senantiasa mengingatkan beliau pada nilai nilai Islam, sedangkan dua anaknya (Cakrabuana dan Rara Santang) sudah tidak tinggal di Kraton Pajajaran. Hanya putra ke tiganya dari Subang Larang yakni Kian Santang yang masih tinggal di kraton Pajajaran. Maka wajar bila kemudian berkembang kisah tutur tentang pertarungan antara Kian Santang dengan ayahnya dalam upaya mengislamkan (kembali) sang Ayah. Yang paling mungkin terjadi adalah, Kian Santang memang berusaha ‘menasihati’ ayahandanya untuk tidak berlarut larut dalam kesedihan dan kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya. Namun tentu saja tanpa sebuah pertarungan adu kesaktian dua pendekar pilih tanding sebagaimana yang sering disampaikan secara tutur tinular.

Apakah Kian Santang Pergi Meninggalkan Tahta ?

Prasasti Banten mengindikasikan bahwa Prabu Siliwangi wafat dan dimakamkan di Rancamaya, bukan moksa di suatu tempat. Bila beliau moksa tentunya tidak akan ada prosesi pemakaman dan dua belas tahun kemudian makamnya di bongkar oleh Prabu Surawisesa untuk diperabukan bersamaan dengan pembuatan prasasti yang kini dikenal dengan prasasti Batu Tulis.

Kehilangan Ibunda sekaligus kehilangan ayahanda tercinta dan bukan pula sebagai pewaris utama tahta kerajaan tentunya cukup alasan bagi Kian Santang untuk hijrah kemanapun yang beliau inginkan. Sedangkan untuk berdakwah dilingkungan keraton yang masih kental dengan ajaran sebelumnya, termasuk juga masih dianut oleh Penerus Raja yang tak lain adalah Kakaknya sendiri meski berbeda ibu, hanya akan menimbulkan pertentangan dan pertikaian yang tidak semestinya terjadi.

Dapat difahami bila kemudian Kian Santang memilih untuk berdakwah di pedalaman Pajajaran, tidak pula di wilayah Cirebon yang sudah ditangani oleh kakaknya dan dikemudian hari dilanjutkan oleh Syarif Hidayatullah yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Dan sebagai putra raja wajar pula bila beliau melakukan perjalanan ditemani oleh pengawal dan orang orang kepercayaan dengan bekal yang cukup pula untuk memulai sebuah kehidupan baru. Seberapapun perbedaan pandangan hidup antara Kian Santang dengan Surawisesa namun bagaimanapun mereka adalah saudara seayah. Surawisesa selaku penerus tahta tidak mungkin membiarkan adiknya pergi begitu saja meninggalkan istana tanpa bekal apapun.

Dikemudian hari beliau dikenal dengan nama Sunan Rohmat dan diyakini wafat dan dikebumikan di tempat terahir beliau berdakwah, di suatu tempat di Garut yang kini dikenal dengan nama Makam Godog di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. tidak hanya beliau yang bermakam disana tapi juga beberapa pengikut atau pengiring atau pengawal beliau. Komplek pemakaman yang ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru tanah air.

Penutup

Kisah tutur yang berkembang di masyarakat mengalir secara turun temurun, meski sulit untuk dibuktikan validitasnya namun pastinya ada pelajaran pelajaran berharga yang dapat dipetik. Terlepas dari segala perbedaan pendapat tentang tokoh tokoh masa lalu, namun satu hal yang pasti bahwa mereka telah memperkenalkan ataupun menghadirkan Islam ke Nusantara. Kita yang hidup di masa kini selayaknya meneruskan apa yang telah mereka rintis, untuk melanjutkan ataupun menyempurnakan dakwah yang sudah mereka mulai, dengan kemampuan dan kapasitas masing masing. Mohon maaf bila dirasa ada yang kurang berkenan.****

------------------------------

Baca Juga