Sunday, June 18, 2017

Marhaba Di Masjid Jami’ Gelumbang

Masjid Jami' Babussalam Gelumbang

Marhaba adalah sebutan bagi prosesi potong rambut dan pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. Biasanya masyarakat Gelumbang akan melaksanakan prosesi Aqikah dan pemberian nama bagi putra putri mereka di Masjid Jami’ Babussalam di simpang empat tengah laman Gelumbang.

Prosesi di mulai dengan pembacaan Kitab Albarzanji, lalu dilanjutkan dengan prosesi pemotongan rambut bayi oleh para hadirin yang berdiri berjejer rapi sambil melantunkan puji pujian kepada Nabi kita yang mulia Muhammad S.A.W.

Salah satu syair dari puji pujian itu berbunyi “Marhaban ya Nuroaini….marhaaabaaa”…. itu sebabnya prosesi ini terkenal dengan sebutan acara Marhaba. Selama puji pujian itu dilantunkan bayi yang di Marhabai (di potong rambut dan di beri nama) akan di gendong oleh ayahnya atau pamannya atau kakeknya, atau oleh kerabatnya yang laki laki, berkeliling menghampiri para jamaah untuk di potong rambutnya.

Rambut bayi yang sudah di potong akan dimasukkan ke dalam kelapa muda yang sudah di potong bagian atas nya. Sementara jamaah yang sudah melakukan pemotongan rambut akan dihadiahi semprotan wangi wangian dari salah pengiring bayi, dan satu buah telok abang dari pengiring bayi yang lain nya.


Telok abang adalah sebatang lidi  atau bamboo yang diserut halus di hias dengan kertas warna warni, di ujungnya dipasangi bendera Merah putih, dibawah bendera digantungkan uang kertas (tergantung seberapa mampu dan ridho si empunya hajat) dibagian bawah nya lagi kadang kadang di gantungi nama  bayi bersangkutan dan dibagian paling bawah terdapat telor ayam rebus yang sudah diberi warna merah (Abang = Merah). Masing masing jemaah akan diberi satu telok abang sebagai oleh oleh.

Terahir kali ikutan acara marhaba di masjid ini sudah lammaaaa sekali, saat masjidnya masih belum semegah ini. Malam itu saya dapat berkah menggendong bayi ajaib yang sama ajaibnya denganku yang menggendongnya, kami berdua sama sama diberkahi dengan tanda di wajah yang diberikan langsung oleh Allah SWT.

Bayi itu diberi nama oleh ayahnya, Muhammad Marten, keren kan. hanya saja sejak menggendongnya malam itu, belum pernah ketemu dia lagi, dah keburu pindah ke lain pulau lalu ke pulau berikutnya. Halo Muhammad Marten, how are you and where are you now. Where ever you are, may Allah always blessing you, and success 4U.  

Baca Juga


Saturday, June 17, 2017

Situ Abidin Miniatur Danau Toba di Bojongmangu

Situ Abidin saat musim hujan, untuk menyeberang ke pulau kecil di tengah danau mau tidak mau anda harus menggunakan perahu atau rakit bambu atau berenang jika mampu. (https://goo.gl/XP8zG3)

Di Bojongmangu kabupaten Bekasi, ada sebuah danau kecil atau dalam Bahasa sunda biasa disebut dengan Situ dan ditengah tengahnya ada sebuah pulau kecil, seperti layaknya danau toba dengan pulau Samosir ditengahnya, hanya saja danau satu ini ukurannya mini, tidak segigantik ukuran Danau Toba, namun keindahan alaminya sih lumayan untuk menghibur mata dan hati.

Cocok Untuk yang Pengen Segera Sakti

Situ atau danau kecil ini cocok bagi siapa saja yang ingin segera sakti mampu menyeberangi danau tanpa bantuan perahu atau rakit, tanpa berenang dan tanpa basah, Caranya ?, datanglah kesana pada puncak musim kemarau. Anda otomatis menjadi orang sakti yg mampu menyeberangi danaunya dengan hanya Melenggang. ☺😄😃
.
Situ Abidin namanya, lokasinya berada di Bojongmangu, titik tertinggi di kabupaten Bekasi meski ketinggiannya hanya berkisar 400 meter dari permukaan laut. Dinamai dengan Situ Abidin sesuai dengan nama ulama penyebar Islam yang makamnya berada di pulau kecil ditengah tengah danau itu.


Masih Aseli

Situ Abidin ini berada di Kampung Bedeng, Desa Karang Mulya, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Bisa ditempuh dari Jalan Raya Cileungsi, dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer lewat Cibucil – Cibarusah. Atau bisa juga lewat Jalan Raya Cariu, dengan jarak tempuh sekitar 8 kilometer.

Sebagai sebuah danau alami, situ abini masih tampil alamiah belum ada sentuhan dari pemerintah kabupaten Bekasi untuk mempersoleknya sebagai sebuah objek wisata yang kebetulan lokasinya tidak seberapa jauh dari pusat pemerintahan kabupaten Bekasi di area Pentagon Deltamas.

Luas situ abidin sekitar 17 hektar, sebenarnya sangat leluasa untuk pengembangan wahana objek wisata air. Jika serius dikelola, bukan hal yang mustahil objek wisata alam ini bisa menjadi sumber PAD (pendapatan asli daerah) yang bisa diandalkan. Apalagi, insfrastrukturnya sudah lumayan bagus. Bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Jarak tempuh dari Pemkab Bekasi pun hanya sekitar 25 kilometer. Sekitar 30 menit perjalanan.

Makam Keramat

Di pulau ditengah situ abidin ini ada makam keramat, yaitu makan Mbah Uyut Bidin dan Mbah Uyut Lidam ada juga yang menyebutnya Kiai Abidin dan Kiai Sengkek Bean, yang pasti ditengah pulau kecil itu memang ada dua makam di lokasi terbuka tanpa nama dan satu makam di dalam bangunan tertutup. Makam keramat ini sering diziarahi orang.
Situ Abidin saat musim kemarau, tak perlu perahu atau rakit untuk menyeberang ke pulau ditengah tengah danau. (https://goo.gl/XP8zG3)

Berdasarkan kisah tutur disebutkan bahwa kedua tokoh ini semasa hidupnya merupakan ulama penyebar agama Islam di daerah Bojongmangu dan sering menunjukkan karomah layaknya wali, karena itu dikenal dengan Mbah Wali, informasi yang lain menyebutkan bahwa beliau semasa hidupnya adalah seorang mursyid juga dikenal dengan nama Kyai Syamsudin.

Angker

Konon tempat ini dikenal sangat angker karena merupakan tempatnya komunitas para siluman. Diantaranya, siluman Lembu, siluman Kuda, Siluman Ular dan Siluman Buaya Putih. lagi lagi konon ada yang ajaib dari danau Abidin, yaitu Pohon Kiray yang bisa bergerak sendiri dan berenang melawan arus dan ini sering disaksikan secara mata fisik oleh penduduk sekitar maupun para peziarah.

Benarkah demikian adanya, entahlah, namanya juga konon. yang pasti tempat ini memang masih sepi dan jauh dari keramaian. Kecuali bila anda memang berminat untuk uji nyali. Sejauh pantauwan kami saat hadir disana saat dinihari hingga ujung malam, suasana aman aman saja, memang ada sosok yang muncul sih, kucing meong meong dan dua warga setempat yang sedang ronda malam.***


Sunday, June 11, 2017

Pewaris Jayakarta Yang Tersingkir

Makam Pangeran Senapati di Cibarusah, Kabupaten Bekasi

Pangeran Senapati, atau dikenal luas di Cibarusah sebagai Uyut Sena ataupun Mbah Sena, sejatinya adalah pewaris tahta kesultanan Jayakarta, putra dari Pangeran Jayakarta. Seiring dengan jatuhnya Kesultanan Jayakarta kebawah hegemoni Belanda tahun 1619.

Pangeran Senapati bersama keluarga menyingkir melalui jalur laut ke arah timur, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke selatan. Di sebuah hutan jati beliau kemudin babat alas membangun hunian baru yang kini dikenal sebagai Cibarusah, di kabupaten Bekasi. Menilik sejarah ini, Tjibarusah sudah eksis setidaknya sejak abad ke 17.

Paska kekalahan Kesultanan Jayakarta dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus untuk membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman. Maka dimulailah perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati.

Di kawasan hutan jati itulah kemudian Pangeran Senopati berhenti bersama pasukan dan keluarga yang masih menyertainya. Beliau menganggap kawasan hutan lebat itu sebagai lokasi persembunyian yang aman dari kejaran pasukan Belanda. Termasuk untuk tinggal mengembangkan keluarga dan keturunan. Babat alas dimulai untuk membangun pemukiman baru yang dikemudian hari dikenal dengan nama Cibarusah. Kata Cibarusah sendiri konon berasal dari kalimat berbahasa sunda “Cai baru sah”.

Dikisahkan bahwa ketika masjid masjid telah didirikan, jemaah kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang memenuhi sarat sah untuk bersuci sebelum menunaikan sholat. Ketika pencarian sumber air berhasil menemukan sumber air bersih salah satu ulama yang menyertai Pangeran Senopati berujar dalam bahasa Sunda “nah ieu’ CAI’ BARU SAH” yang berarti “Nah ini airnya baru sah” maksudnya sah secara syar’i untuk keperluan bersuci. Kalimat “CAI’ BARU SAH” itulah yang kemudian menjadi CI BARU SAH. Sedangkan nama kampung ‘Babakan’ berasal dari kata ‘Bukbak’ dalam bahasa sunda yang berarti membersihkan.

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Pangeran Senopati tersebut berbahan utama kayu jati yang ketika itu melimpah disana. Tak jauh dari masjid dibangun sebuah kolam penampung air bersih berukuran kira kira 20x30m untuk menampung air bersih yang dialirkan dari sumbernya menggunakan pipa pipa bambu dan saluran yang dibangun secara bergotong royong. Riwayat tutur menyangkut sejarah masjid ini terputus sampai disitu. Hingga kini keturuan Pangeran Sena masih ada di KBC, keluarga beliau dapat dikenali dengan gelar ‘Raden’ yang disematkan kepada nama mereka masing masing. Pangeran Senapati wafat dan dimakamkan di Kampung Babakan Cibarusah (KBC) dan dikenal dengan sebutan Makam Embah Uyut Sena. https://goo.gl/wTekAs

Baca juga


Saturday, June 10, 2017

Cerita Kecil dari Masjid Jami' Babussalam Gelumbang

Masjid Jami' Babussalam Gelumbang hasil pembangunan terahir 2011-2012

Sampai pertengahan tahun 1978 masjid ini masih berupa masjid khas kesultanan Plembang dengan atap limas bersusun tida, empat sokoguru di tengah ruangan, flapon dari kayu, dinding bata lebar, jendela jendela kayu berukuran besar dengan teralis kayu bundar profil bubutan.
.
Tahun tahun itu masih seringkali ngintilin kakekku (alm) Idrus Bin Topa sholat jumat datang duluan duduk di shaf depan sampai ketiduran dan bangun bangun sudah di rumah, saking puleznya pulangnya digendong. . . Xixixi .
.
Kala itu, jemaah yg beruntung selama di dalam masjid seringkali dapat limpahan serbuk kayu dari struktur atap masjid yg makan kumbang, sekalian nyarang disana, lebih mantab lagi bila pas kumbangnya kebelet, hah, selamat nimba disumur samping masjid buat bersuci lagi .

Baca juga

Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E

Saturday, May 20, 2017

Situs Telagajaya VIII Karawang

STJ VIII atau Candi Sumur Kono di desa Telukbuyung, kecamatan Pakisjaya, kabupaten Karawang.

Situs Telagajaya VIII adalah salah satu situs arkeologi yang ada di komplek Pecandian Batujaya, Karawang. Tak banyak yang bisa ditemukan di situs peninggalan sejarah yang satu ini, sesuai dengan namanya, Situs Telagajaya VIII ini berupa sebuah telaga di tengah pematang sawah dengan airnya yang jernih.

Belum tahu pasti nama asli dari situs ini, para arkeolog yang memberinya nama situs Telagajaya VIII berdasarkan nomor urut situs yang ditemukan, dan sebelumnya juga situs ini secara administratif merupakan bagian dari desa Telagajaya sebelum kemudian dimekarkan dan kini masuk ke dalam wilayah desa Telukbuyung. Dan belum diketahui secara pasti juga dari peradaban mana candi ini berasal, meski disebut sebut bahwa candi ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara sama seperti situs Batujaya lainnya.

Situs Telagajaya VIII (TLJ VIII)
Kampung Gunteng Desa Telukbuyung
Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang.
Jawa Barat, Indonesia


Sementara masyarakat setempat menyebutnya Candi Sumur Kuno, merujuk kepada telaga yang ada disana. Ditemukan pada saat sedang penelitian di situs TLJ V pada tahun 1989. Evakuasi di lakukan Tim UNTAR dan Jurusan Arkeolog FSUI yang menanpakan sisa bagian bawah sebuah bangunan  candi berdenah segi empat, berukuran 6x4m pada kedalaman sekiar 10 cm dari permukaan tanah sawah.

Candi ini mempunyai sebuah tangga naik yang terletak di bagian depan yaitu di sisi timur laut. Tangga ini sudah sangat hancur dan pada bagian tengah terdapat sebuah sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 1,50x1,50m. Sumur ini di temukan dalam keadaan sudah di gali secara liar, dan sudah terisi tanah bercampuran pecahan bata.

Ini Candi Sumur Kuno yang dimaksud.

Bagian bawah merupakan sisa bagian fondasi yang masih setinggi  1,30m yang terdiri dari 20 lapis bata. Dengan profil rata tidak berpelipit, Di situs ini di tempukan pula pecahan-pecahan gerabah, berupa gerabah hias gores di sekitar struktur fondasi. Situs TLJ VIII kini sudah masuk ke dalam daftar cagar budaya dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang.


Di sebelah utara situs ini terdapat beberapa peninggalan dari masa lalu yang berserakan, beberapa sudah diberi identifikasi untuk dilakukan penelitian di kemudian hari, belum lagi yang masih tertimbun dan belum di gali. Situs Pecandian Batujaya ini ditengarai sangat luas melebihi luas komplek Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan jauh lebih tua dari candi terbesar tersebut.***

Airnya jernih dan dimusim kemarau pun tetap mengeluarkan air
STJ VIII (kanan) diantara pesawahan di desa Telukbuyung

Sunday, May 14, 2017

Bukit Siguntang, Tapak Kraton Kerajaan Sriwijaya

Di puncak Bukit Siguntang

Setelah bertarung sengit dengan berderet negara jiran yang mengklaim diri mereka sebagai pusat dari Kerajaan Sriwijaya, Bukit Siguntang di kota Palembang pada ahirnya bersaksi sebagai pusat kerajaan maritim terbesar yang sezaman dengan masa Rosulullah tersebut.

Di bukit ini para arkeolog menemukan sisa sisa tratak yang diyakini merupakan tratak "pusat pemerintahan" kerajaan Sriwijaya. Meski terlalu sulit bagi siapapun yang datang kesana untuk sekedar membayangkan seperti apa "pusat kota" dari kerajaan yang ditengarai tak lain adalah "kerajaan Samudera" yang disebut sebut dalam sejarah awal perkembangan Islam.

Arca Buddha bergaya Amarawati yang kini ditempatkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dekat Benteng Kuto Besak, Palembang, merupakan arca yang ditemukan dimasa penjajahan Belanda sekitar tahun 1920-an, lokasi penemuannya di lereng selatan Bukit Siguntang ini.


Arca berukuran cukup besar ini ditemukan dalam beberapa pecahan. Bagian yang pertama kali ditemukan adalah bagian kepalanya yang langsung dibawa ke Museum Nasional di Batavia. Beberapa bulan kemudian bagian tubuhnya ditemukan, kemudian bagian kepala dan tubuhnya disatukan. Akan tetapi hanya bagian kakinya yang kini masih belum ditemukan.

Arca setinggi 277 cm ini dibuat dari batu granit yang banyak ditemukan di pulau Bangka, maka disimpulkan bahwa arca ini adalah buatan setempat, bukan didatangkan dari India. Diperkirakan arca ini dibuat sekitar abad VII sampai VIII masehi.

Di daerah Bukit Seguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa, reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Selain itu di daerah Bukit Seguntang ditemukan pula fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Suasana asri di Bukit Siguntang

Prasasti yang terdiri dari 21 baris ini menceritakan tentang hebatnya sebuah peperangan yang mengakibatkan banyaknya darah tertumpah, disamping itu juga menyebutkan kutukan bagi mereka yang berbuat salah.

Bukit Siguntang bukan satu satunya, situs peninggalan kerajaan Sriwijaya di kota Palembang. Sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara dekat tepi sungai Musi terdapat situs Karanganyar, yang menunjukkan bekas pemukiman. Dua prasasti dari abad ke-7 ditemukan di dekatnya pada tahun 1920, berangka tahun 682 (Prasasti Kedukan Bukit) dan 684 (Prasasti Talang Tuwo). Pada tahun 1978, 1980, dan 1982 berbagai peninggalan keramik dari masa dinasti T'ang dan Sung awal diangkat dari area di lereng dan sekitar Bukit Seguntang.

Objek Wisata Rohani

Kawasan Objek Wisata “Situs Purbakala Bukit Siguntang” ini sudah sejak lama, jauh sebelum kawasan ini dijadikan situs sejarah oleh pemerintah, sudah menjadi salah satu tujuan ziarah dan dianggap keramat oleh warga kota Palembang dan sekitarnya. Di puncak bukit ini terdapat tujuh makam keramat yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh raja, bangsawan dan pahlawan Melayu-Sriwijaya. Terdapat tujuh makam tersebut adalah :

Daftar Makam yang ada di puncak Bukit Siguntang

  • Raja Sigentar Alam
  • Pangeran Raja Batu Api
  • Putri Kembang Dadar
  • Putri Rambut Selako
  • Panglima Tuan Junjungan
  • Panglima Bagus Kuning
  • Panglima Bagus Karang


Menurut kitab Sulalatus Salatin, Bukit Seguntang merupakan tempat datangnya Sang Sapurba, keturunan Iskandar Zulkarnain, yang dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya. Dan raja raja Malaka disebutkan sebagai keturunan dari Sang Sapurba ini.

Bukit Seguntang diibaratkan sebagai potongan Gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, dan dianggap suci karena merupakan cikal bakal orang-orang Melayu. namun yang paling menarik adalah disebutkan juga bahwa Raja Sigentar Alam yang bermakam di Bukit Siguntang ini tak lain adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great).***

Baca Juga