Monday, December 7, 2020

Mewarnai Masa Lalu, Bisa Kah?

 
TNI Hijrah dari Sumatera Selatan. Sebagaimana kesepakatan Renville, 8 Februari 1948 seluruh komponen TNI harus keluar dari wilayah Sumatera Selatan yang merupakan "wilayah kekuasan" Belanda. Pangkalan militer Belanda Karangendah di Gelumbang menjadi titik berkumpul anggota TNI untuk diberangkatkan ke Martapura lalu dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kereta api. (lihat fotonya di instagram)

“Kita tak mampu mengubah masa lalu,
Tapi bisa membuatnya lebih berwarna”
 
Punya foto keluarga dari masa lalu yang masih hitam putih ? kalaupun tidak punya, setidaknya kamu bisa lihat foto foto sejarah kemerdekaan hingga sejarah dunia dari berbagai literatur yang hampir semuanya berupa foto foto sejarah hitam putih.
 
Barangkali itu sebabnya ada ungkapan lama yang menyebut “hitam putihnya sejarah” karena memang foto foto dan rekamannya semuanya hitam putih, walaupun bukan itu juga yang dimaksud dari ungkapan itu.
.
Sejak pertama kali ditemukan, teknologi rekam gambar atau pembuatan foto memang berformat hitam putih hingga masa perang dunia kedua foto hitam putih masih dominan digunakan meski pada masa perang teknologi foto berwarna sudah ditemukan namun belum populer digunakan karena berbagai faktor teknis.
.
Masjid Agung At-Thohiriyah Empang kota Bogor kini dan di tahun 1880. kamu bisa lihat perbandingan hitam putih foto lama nya di Instagram dan baca artikel sejarahnya di sini

Belakangan bermunculan seniman digital yang mulai giat mewarnai foto foto masa lalu yang hitam putih menjadi foto bewarna hingga tampak lebih menarik, lebih segar dan lebih memberikan gambaran detil tentang “masa lalu”. Cukup menarik, karena kita disuguhkan dengan pemandangan masa lalu yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.
.
Mewarnai foto hitam putih memang butuh keahlian tersendiri dan harus didukung dengan ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa. Prosesnya hampir sama dengan aktivitas melukis hanya saja sudah ada gambarnya dan tinggal mewarnai dengan “warna yang tepat dan sesuai”.
.
Nah, pada bagian pemilihan “warna yang tepat dan sesuai” ini lagi lagi dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk sedikit ber-ekplorasi mengekploitasi berbagai referensi mengenai warna dari masing masing objek, dan itu memang butuh skill tambahan untuk menjejak “berita” nya dari berbagai sumber.
.
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta di tahun 1911, klik disini untuk lihat posting aslinya di instagram dan kamu bisa baca artikelnya disini.

Lalu bagaimana bila “gagal” menemukan referensi warna-nya? Ha ha ha project masih harus tetap jalan toh, kamu bisa gunakan intuisi mu, kamu dapat menemukan perbedaan tone dari setiap objek yang ada di dalam foto. Setiap warna memiliki tone nya sendiri sendiri pada saat sudah “di hitam putihkan” sekalipun, dan itu butuh kejelian untuk menangkap dan menduga warnanya yang tepat.
.
Lalu aplikasi apa yang dipakai ? bagaimana proses-nya?.
 
Saya sendiri tadinya hanya sekedar iseng coba coba memperbaiki foto foto lama koleksi keluarga besar sendiri dengan photoshop dan cukup menarik ketika menemukan foto foto lama yang masih hitam putih, lalu tergelitik untuk mulai mewarnainya dan hasilnya, lumayanlah membuat pewaris foto terkesima.
.
Dan ternyata sudah cukup banyak para penggiat dan penggemarnya di dunia maya yang membentuk berbagai grup di jejaring media sosial, dan itu jadi tambahan informasi pengetahuan dan teknik teknik mewarnai secara gratis.
.
Dan saat ini ternyata juga sudah tersedia berbagai aplikasi instan mewarnai foto hitam putih yang bisa kamu unduh di hape kamu baik secara gratis maupun berbayar, walaupun memang hasilnya tak sebagus bila kamu warnai sendiri secara manual.
 
Empat jemaah haji dari Palembang tahun 1880 berfoto bersama di kantor konsulat Hindia Belanda di Jedah (lihat fotonya di instagram)

Tips mewarnai foto sejarah
 
Bila kamu berminat untuk mewarnai foto foto yang berkaitan dengan sejarah secara umum, baik itu berkaitan dengan sejarah/peristiwa nasional, internasional ataupun sejarah para tokoh, sebaiknya sebelum mewarnai dan membagikannya ke media sosial, kamu pastikan dulu validitas foto tersebut ataupun peristiwa yang terkandung di dalamnya.
 
Selamat mencoba bagi yang berminat mencoba dan selamat menikmati bagi yang berminat untuk menikmati. Bila ada waktu dan kamu punya akun instagram, kamu bisa menikmati foto foto lawas yang sudah bewarna dengan mampir ke akun instagram @rajakelir sekalian dikasih like dan di-follow ya.
 
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @rajakelir | @hendrajailani
------------------------------------
 
Baca Juga
 
Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon
Once Upon a Time in Gelumbang
KERETA TERAHIR KE CIBARUSAH
Taman RPTRA; Tongkrongan Baru Warga Cikarang Timur
Gelumbang (Pernah) Punya Lapangan Terbang ?

Saturday, July 25, 2020

Satu Malam Di Puncak Gunung Sanggabuana, Dari Kisah Haru Biru Hingga Buto Ijo Jatuh dari Atap?

Saat senja perlahan jatuh dibalik pepohonan hutan gunung Sanggabuana.

Senja itu berlalu dengan sholat magrib berjamaah di bale bale lega warung Kang Aep, air wudhunya dari sebotol aqua, maklum hujan tak turun berapa hari ini kata Kang Aep jadi tak ada persediaan air, dilanjutkan dengan santap indomie rebus pedas, dan secangkir kopi panas yang sebentar saja sudah jadi kopi dingin karena suhu udara yang mulai bergerak semakin turun.

Secara umum Gunung Sanggabuana lebih dikenal sebagai gunung tempat ziarah dengan berbagai niatan, karena keberadaan makam makam tua di puncaknya. Berbagai kisah mistis, mitos dan legenda memang lekat dengan gunung ini termasuk hubungannya dengan hal hal ghaib.

Bakda sholat isya berjamaah, seorang pendaki mendadak jadi trending topic, malam itu hingga esok paginya. Dia yang dari sore tadi tadi tampak seperti orang bingung sendirian ternyata sedang melarikan diri dari masalah ke puncak gunung ini.

Warung Kang Aep lengkap dengan tiga bale bale besar berukuran besar untuk para pendaki menginap gratis. Jangan lupa belanjanya ke warung nya dong ya.

Kang Aep (pemilik warung) kemudian memanggilnya untuk mengadu ke Pak Ustadz dari Rengasdengklok yang kebetulan sudah sembilan hari ngadem disana. Dan kami menyimak sambil sesekali menimpali obrolan santuy penuh canda tapi serius ituh, pun yang lain nya.

Kisah dimulai dari urusan hutangnya ke teman sendiri yang tak mampu dibayar karena dia sendiri keburu dipecat dari tempat kerjanya dan berujung pada ancam mengamcam sampai ke ancaman pembunuhan.

Tak punya orang tua lagi dan tak punya saudara yang bisa diminta bantuan, ahirnya dia nekad sendirian naik ke puncak Gunung Sanggabuana, katanya untuk ngumpet sampai temannya lupa untuk nagih utang. Alasan yang gak masuk akal, timpal si pak Ustadz.

Sebelah kanan foto adalah warung Kang Aep, kamu bisa baca tulisan di dindingnya. Sedangkan disebelah kiri adalah jejeran bangunan bangunan makam di puncak gunung Sanggabuana.

Dia cukup beruntung malam itu; lagi dalam masalah, gak punya duit,nekad kabur ke puncak gunung, dan bertemu dengan orang yang siap membantu mengatasi masalahnya. Singkat cerita, Pak Ustadz siap membantunya membayar hutangnya dengan satu sarat; temen nya yang nagih utang ajak bertemu dengan beliau.

Tak hanya itu, pak Ustadz itu juga menawarkan pekerjaan untuknya bahkan juga ditawari jodoh bila memang sudah siap untuk nikah. Wah wah wah ternyata pelariannya ke gunung malam itu menuai berkah.

Malam itu terasa berbeda dengan suasana tujuh tahun lalu, tampak lebih gelap karena kurangnya penerangan. Listrik di warung kang Aep berasal dari unit genset yang ditempatkan disebelah mushola, dua warung lainnya sepertinya juga dari sumber yang sama. Penerangan yang minim memberi peluang untuk menikmati cahaya langit yang gemerlap dengan bertaburnya cahaya bintang.

MUSHOLLA. Bangunan pendopo beratap kerucut di sisi timur puncak Sanggabuana itu adalah bangunan Musholla.

Berkeliling sejenak digelap malam di kompleks makam di puncak Gunung Sanggabuana, tampaknya banyak perubahan pada bentuk bentuk bangunannya dan rindangnya pepohonan disana juga tampak berkurang. Di sisi sebelah timur, di area camping ground ada beberapa kelompok pendaki yang menggelar tenda disana.

Sementara aku dan anakku menutup malam itu dengan obrolan tauhid tentang hal ghaib termasuk dunia Jin sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadist di bangunan mushola berbentuk pendopo terbuka beratap joglo di ujung timur jejeran bangunan yang ada disana, ditengah gelapnya malam yang perlahan semakin dingin.

Dinihari, Buto Ijo Jatuh Dari Atap?

Rasanya baru terlelap saat aku mendadak terbangun karena kaget oleh suara teramat keras di keheningan malam itu dari arah pintu timur bangunan warung Kang Aep tempat kami menginap. Sontak aku bangun dari tidur dan melihat ke arah pintu yang terpalnya masih tertutup rapi dan tampak nya tidak ada apa apa.

Cuaca cerah di pagi hari di depan pintu timur warung Kang Aep. Ada satu pohon cemara berdiri sejajar dengan pintunya. Warung ini berupa pondokan besar lengkap dengan bale bale yang juga berukuran besar untuk para pendaki menginap. Ada dua pintu akses, di sisi timur dan sisi selatan. Kedua akses pintu itu di malam hari akan di tutup dengan kain terpal yang buat seperti tirai dengan tali pengikat untuk mengurangi terpaan dinginnya angin malam masuk ke dalam pondokan. Kamu bisa liat ada beberapa tong plastik penampung air hujan diletakkan dibawah cucuran atapnya. 

Ruang dalam pondokan memang sudah makin gelap, satu satunya lampu emergency yang menyala sudah redup kehabisan listrik. Aku masih duduk diam mengamati, saat sejurus kemudian terpal penutup pintu itu tersingkap dari luar, seorang pria berperawakan kecil berpakaian serba hitam masuk tergopoh gopoh lalu tersandung di tali terpal bagian bawah dan jatuh, namun buru buru bangun lagi dan dengan wajah dan ekspresi ketakutan dia mendatangi-ku.

Pak tolong pak ada Buto ijo pak!” katanya dengan suara lirih dan agak gemetar.
Saya nggak ngerti yang begitu kang, itu bangunin pak Ustadz aja” sahut ku.
Hanya saja memang hanya aku yang sudah bangun, duduk di bale serta memperhatikan situasi, yang lain tampak asik meringkuk di bawah selimut.

“Bapak aja pak, tolong pak, itu Buto Ijo nya nungguin di depan pintu”. Lanjut nya.
Alih alih langsung bangkit aku malah lanjut bertanya; “tadi bunyi kenceng banget bunyi apa an?”. Dan jawaban dia benar benar menarik . . . “itu pak, buto Ijo nya jatoh dari atap”. 

BUTO IJO ?. Sama sekali tak tampak menakutkan bukan?, itu hanya pohon cemara toh. Entah apa yang merasuki fikiran salah satu pendaki yang sama sama menginap di tempat ini dan dia tidur di bale sebelah kanan foto, sehingga begitu ketakutan dan mengira pohon itu adalah sosok Buto Ijo yang menakutkan.

Aku langsung bangkit dari duduk, menyelempangkan sarung yang kupakai untuk selimut, turun dari bale, pakai sandal, bergegas ke arah pintu, dia mengikuti di belakang. Kusibak terpal penutup pintu dengan tangan kiri dan melihat keluar, tak ada apa apa diluar sana, dibawah penerangan cahaya langit malam yang tampak hanya pohon cemara setinggi bahu orang dewasa yang ditanam di depan warung Kang Aep sejajar dengan pintu.

Mana ?” Tanya-ku. . . . dan masih dengan wajah ketakutan dia melongok keluar . . .
Itu Pak“ .. .katanya sambil menunjuk ke arah pohon cemara itu, tangannya tampak gemetar. .
“Itu kan pohon” sahut ku… sepertinya dia memang benar benar sedang ketakutan, tapi mulai berani.

Meski dengan langkah yang tampak lucu dia melangkah keluar ke arah pohon yang kumaksud lalu menyentuh dengan ujung jarinya, mungkin dia sedang memastikan itu beneran pohon. Sejurus kemudian dia malah lari ngumpet ke balik bangunan di depan warung sambil berucap “aku mau pipis”. Dan aku cuman terpelongo melihat kelakuan-nya.

Burung piaraan Kang Aep.

Aku pun ahirnya ikutan keluar, melihat dan memperhatikan ke atap bangunan tempat kami menginap, tampak jelas sekali tidak ada apa apa disana, tidak ada juga bekas bekas sesuatu berukuran besar jatuh dari atap sehingga menimbulkan suara teramat keras. Pun demikian di area samping dan sekitar bangunan, tidak ada apa apa. Lalu tadi bunyi sebegitu keras bunyi apa an dong?

Rupanya bukan cuman aku yang terbangun, saat aku masuk dan naik kembali ke bale bale, anak ku dan temen nya ternyata juga memperhatikan. “Ada apa an pah” Tanya anak ku. “nggak ada apa apa” sahut-ku. “Itu katanya ada Buto Ijo, Buto artinya besar, Ijo artinya pohon, jadi Buto ijo itu artinya pohon besar” sahut ku melanjutkan. Tak lama berselang, dia yang tadi ketakutan sudah masuk kembali ke pondokan dan melanjutkan tidur.

Saat itu jam di hape anakku menunjukkan pukul 00.27 dinihari. Selang beberapa menit setelah itu hujan pun turun meski sebentar, lumayan lah ada cukup air di dalam tong tong penampung air di bawah cucuran atap pondok, lebih dari cukup untuk berwudhu. Ah sudahlah mungkin semua itu memang sengaja membangunkan ku untuk sholat malam.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Sunday, July 19, 2020

Senja di Sanggabuana

Jejeran pegunungan Sanggabuana dari depan pondok pesantren Daarul Qur'an di Desa Cinta Asih kecamatan Pangkalan, Karawang.

Cukup lama tak kembali ke tempat ini, dan cukup lama menunggu waktu PSBB yang tak kunjung berahir, namun New Normal ahirnya datang juga dan pihak pengelola disana mengizinkan para pendaki untuk naik ke Gunung Sanggabuana dengan beberapa syarat tambahan dan protokol yang harus dipatuhi.

Cukup banyak yang berubah setelah tujuh tahun berlalu. Jalanan ke desa Mekarbuana kini sudah dicor cukup baik, bahkan beberapa bagian ruas jalan setapak di jalur pendakian sudah di lapis semen hingga melewati tanjakan pertama sampai ke tengah area pesawahan.

Jalan setapak di jalur pendakian yang sudah di cor dengan semen tipis hingga ke tengah pesawahan.

Tujuh tahun lalu, tidak ada pos penarikan retribusi untuk para pendaki ke puncak Sanggabuana, kini sudah ada pos petugas yang mendata dan menarik retribusi bagi para pendaki dengan tariff Rp. 10.000/orang tariff yang sama dengan biaya parkir motor/hari di penitipan motor di rumah warga setempat.

Kamu harus menandatangani surat pernyataan yang intinya menyetuji syarat dan ketentuan yang berlaku dan bahwa kawasan tersebut sebenarnya belum dibuka namun dizinkan masuk dengan tanggungjawan pribadi masing masing dan tidak akan menuntut pihak pengelola bila terjadi sesuatu.

Tebing timur Sanggabuanadari arah jalur pendakian sisi sebelah timur.
Ada beberapa warung baru yang berdiri di sisi jalur pendakian, dan pohon pohon menyan yang dulu merana karena dikuliti untuk diambil getahnya beberapa tampaknya sudah tumbang, beberapa lagi masih berjuang bertahan hidup memperbaiki kambiumnya yang rusak parah.

Ada juga Mushola Al-Ikhlas yang tampak masih gress beberapa meter setelah melewati pertigaan Kebon Jambe, disi kanan jalan, diantara gemericik air sungai kecil yang melintas di depannya. Bersebelahan dengan kebon pisang milik warga.


Menurut penuturan pemilik salah satu warung tempat kami mampir ngopi, sebenarnya pemerintah setempat bahkan sudah berencana untuk membuka jalan raya dari pertigaan di tengah desa melintasi pesawahan hingga ke objek wisata Kebon Jambe, namun rencana itu tertunda akibat dampak dari Covid-19.

Yang paling menarik perhatian adalah adanya beberapa warga setempat yang menggunakan sepeda motor naik cukup jauh hingga ke kawasan perkemahan di pancuran kejayaan, cukup menarik karena medan yang dilalui cukup sulit dan berbahaya, namun sepertinya mereka sudah cukup terbiasa dengan itu.

Matahari senja perlahan jatuh.

Pak Andi, yang mukim di sekitar Makam Emak Paraji Sakti bercerita bahwa para pengendara motor itu adalah warga setempat yang memiliki ladang atau kebon di lereng Gunung Sanggabuana. Di sepanjang jalan menuju puncak hingga sedikit melewati makam Emak Paraji Sakti memang ditemukan pesawahan dan kebun kopi milik warga.

Sedangkan pemilik warung di camping ground pancuran kejayaan berkisah bahwa sepeda sepeda motor yang digunakan warga itu sudah dimodifikasi pada bagian roda giginya hingga memiliki daya tarik yang kuat namun tidak memiliki kecepatan yang baik.

Dan dipastikan sepeda motor itu adalah sepeda motor dengan rantai, porseneling dan kopling bukan sepeda motor matic. Beliau melanjutkan kisahnya yang pernah bermasalah saat menggunakan motor matic melalui rute itu akibat belt nya putus tidak kuat untuk dipaksa terus naik ditanjakan.


Perjalanan mendaki kami kali ini teramat santai, berhenti disetiap tempat yang menarik untuk diamati, dinikmati, di foto, di rekam, termasuk juga berhenti hampir di setiap warung dan rumah penduduk yang kami lewati walau sekedar untuk bertegur sapa. Benar benar santuy pokona mah. Maklum, aslinya memang dah gg sanggup untuk ngebut. Kamu bisa nikmati suasana hutan sanggabuana direkaman yang sudah kami simpan di youtube.

Jelang matahari terbenam kami baru sampai di makam Jagaraksa, perhentian terahir sebelum tiba di puncak dua. Dan tiba di puncak bertepatan dengan waktu magrib. Di sepanjang perjalanan hingga sampai ke puncak tak kunjung jua mendapatkan titik yang pas untuk memotret merekahnya matahari terbenam. Tak apalah setidaknya ada peluang untuk menikmati matahari terbit besok pagi.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Tuesday, March 10, 2020

“Ditangkap” Askar Gara Gara Tahlilan di Baqi

Pemakaman Baqi' - Madinah.

Selesai makan malam, tour leader dan mutowif kami menyampaikan agenda untuk besok, yakni mengunjungi masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi yaitu Masjid Abu Bakar, Masjid Al-Ghamamah dan terahir ziarah ke Pemakaman Baqi’.

Aku tersenyum sendiri mendengar daftar destinasi yang sebelumnya tidak ada di dalam Itinerary list itu dan karenanya aku sudah berkunjung ke tiga tempat itu sendirian. Bahkan sore tadi aku baru kembali dari Baqi’. Tapi baiklah siapa tahu besok aku bisa masuk lebih dalam ke komplek pemakaman Baqi’ dan mendapat informasi lebih.

Malam itu, mutowif kami menjelaskan beberapa aturan saat ziarah ke pemakaman Baqi’. Diantaranya yang benar benar beliau “garis bawahi” adalah untuk tidak tahlilan, yasinan, tawasulan dan sejenisnya di pemakaman Baqi’.

Pagar pemakaman Baqi'
Bukan tanpa alasan beliau menyampaikan itu. Karena ternyata beliau sendiri pernah ditimpa masalah manakala membawa rombongan Jemaah ziarah ke Baqi’ dan atas permintaan jemaahnya dilakukan tahlilan disana. Tak berlangsung lama kemudian rombongan beliau dibubarkan askar dan disuruh keluar dari komplek pemakaman, sedangkan beliau sendiri dibawa ke kantor dan diberi teguran keras.

Kejadian yang sama terulang ketika rombongan Jemaah yang dibawanya kesana memaksa untuk yasinan dan bertawasul disana, dan lagi lagi rombongannya disuruh keluar dari Baqi’ dan beliau dibawa askar ke kantor, “diceramahi dan diberikan teguran keras untuk tidak mengulangi hal itu”.

Saat itu aku baru benar benar faham dengan apa yang dilakukan dua rombongan Jemaah yang ku jumpai di Baqi sore tadi, mereka melakukan tahlilan dengan sura pelan dalam rombongan sambil tetap berjalan beriringan. Dan rombongan lainnya yasinan dengan suara pelan dalam rombongan yang juga sambil berjalan pelan pelan, sementara sebagian jemaah berjalan sambil fokus ke kitab yasin di tangan-nya.

Pemakaman Baqi' - Madinah.
Oh iya mutowif kami saat itu, adalah seorang santri asal Madura yang sekolah di Arab Saudi dan kini tinggal di kota Jeddah sejak lebih dari 10 tahun lalu. Beliau cukup faham seluk beluk kota Mekah, Madinah dan Jeddah serta tentu saja mahir berbahasa Arab.

Ziarah dari luar pagar

Hotel tempat kami menginap di ruas jalan As-salam memang tak terlalu jauh dari Masjid Nabawi dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. sesuai rencana pagi itu kunjungan dimulai dari melihat dari dekat Masjid Abu Bakar, dilanjutkan ke Masjid Al-Ghamamah dan disana dijelaskan sejarah kedua masjid tersebut.

Dua masjid ini memang sudah dikunci tidak lagi digunakan untuk sholat berjamaah karena lokasinya yang kini sudah begitu dekat dengan Masjid Nabawi sehingga aktivitas sholat berjamaah dipusatkan ke Masjid Nabawi.

Pemakaman Baqi' - Madinah.
Dari pelataran masjid Al-Ghamamah kami harus menyeberangi pelataran selatan Masjid Nabawi menuju ke pintu gerbang Baqi, dari sana gerbang pemakaman Baqi’ langsung terlihat, tapi rombongan Jemaah yang dipimpin mutowif dan tour leader malah berbelok kea rah utara menyusuri ruas jalan King Abdul Aziz di sisi utara Pemakaman. Ternyata kami di ajak untuk melihat pemakaman Baqi lebih dekat tapi dari luar pagar.

Wanita Dilarang Masuk

Hal tersebut memang jalan tengah terbaik, karena wanita dilarang masuk ke areal pemakaman, sangat tidak logis toh untuk membagi dua rombongan kami, sehingga berziarah dari luar pagar adalah jalan tengah terbaik saat itu.

Hari itu saya mendapatkan jawaban mengapa saya tak menemukan satupun perempuan di area pemakaman ini sehari sebelumnya saat saya ziarah sendirian disana, ternyata karena memang ada aturan yang melarang perempuan masuk ke area pemakaman.

King Abdul Aziz road, Pemakaman Baqi' disebelah kanan foto.
Ruas jalan King Abdul Aziz yang membentang di sisi utara pemakaman Baqi’ memiliki jalur pedestrian yang cukup lebar lengkap dengan pohon yang mulai tumbuh dan bangku bangku panjang untuk istirahat. Maka jadilah hari itu rombongan kami menziarahi pemakaman Baqi’ di jalur pedestrian di luar pagar sambil melihat ke dalam.

Bahkan Kubur pun tak bernama

Tak mengapa setidaknya hari itu saya menyadari betapa “luar biasa’ nya mereka yang dimakamkan di Baqi’, mereka adalah tokoh tokoh awal Islam yang tak kan pernah tergantikan, dan tak kan pernah ada yang mampu menggantikan mereka ataupun yang setara dengan mereka dalam kontribusinya bagi perjuangan Rosulullah tercinta menegakkan syariat.

Di Baqi’ kita “di-tampar” dengan nasihat kematian. Disana kita melihat siapapun orangnya, apapun pangkat, kedudukan dan jabatannya semasa hidup, apakah dia terlampau miskin atau telampau kaya semua-nya sama saja manakala ajal menjemput. Tak peduli berapa panjang dan mulia gelarnya semasa hidup tapi ketika mati, bahkan kubur pun tak bernama.***

Posting sebelumnya; Senja di Pemakaman Baqi - Madinah 

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Thursday, March 5, 2020

Senja di Pemakaman Baqi - Madinah

Seorang laki laki sedang berziarah sendirian di salah satu makam di komplek pemakaman Baqi - Madinah, dengan latar belakang menara menara Masjid Nabawi yang menjulang diantara gedung gedung perhotelan disekitarnya.

------------------------------------------------------------
Bila mau jujur, pemakaman Baqi di Madinah ini sesungguhnya memang bersesuaian dengan hadist Rosulullah secara tekstual”
-------------------------------------------------------------

Baqi’ atau Jannatul Baqi’ adalah komplek pemakaman yang begitu terkenal di kota Madinah letaknya tak jauh dari Masjid Nabawi. Apalagi setelah masjid Nabawi diperluas, salah satu gerbang akses ke masjid ini tepat berhadapan dengan gerbang pemakaman Baqi’. Sebagian orang juga menyebutnya dengan Pemakaman syuhada Baqi’. Seluruh komplek pemakaman ini dipagar tembok keliling dengan hanya satu gerbang akses untuk pengunjung dan peziarah dari arah gerbang Baqi’ Masjid Nabawi.

Bulan Nopember 2019 saya berkesempatan berziarah ke pemakaman ini, sendirian, selepas sholat Asyar di Masjid Nabawi. Saya putuskan untuk berziarah kesana meski sendirian karena memang didalam Itinerary list yang dibagikan oleh pihak tour dan travel tidak saya temukan agenda untuk ziarah bersama kesana.

Permukaan tanah komplek pemakaman Baqi’ ini lebih tinggi dari jalan raya & pelataran masjid Nabawi, jalan akses yang menanjak menuju gerbangnya dibuat menyamping tidak lurus langsung menuju ke gerbang. Sore itu peziarah tidak telalu rame, namun saya tak bersua dengan Jemaah asal Indonesia yang dapat saya ajak berbarengan ziarah kesana.


Tiba di gerbang makam, tampak cukup banyak petugas keamanan kerajaan Arab Saudi dengan seragam loreng khas mereka berjaga jaga disana tanpa membawa senjata apapun, beberapa dari mereka membawa perangkat handy talky. Melewati gerbang, di sebelah kanan terpampang spanduk berukuran besar dalam beberapa bahasa terpampang disana.

Spanduk itu menjelaskan tentang tata cara ziarah kubur sesuai sunnah. Dan baru beberapa langkah dari sana untuk menuju ke dalam, saya terkaget kaget dengan teriakan salah satu petugas berseragam disana ke arah ku, refleks jari telunjuk ku menunjuk ke muka ku sendiri, tapi askar itu memberi isyarat dengan tangan nya bahwa bukan aku yang dimaksud tapi orang yang di belakangku.

Menengok ke belakang, dibelakangku ada seorang pria bersorban, berpakaian putih panjang hingga lutut, celana panjang juga warna putih, dan berjenggot panjang, mungkin dari Pakistan atau dari Afganistan, entahlah, aku juga tidak tahu apa masalahnya, dan juga tidak berusaha mencari tahu. 

Askar yang tadi berteriak bergegas mendatanginya seraya memberiku isyarat (lagi lagi dengan tangannya) mempersilahkan-ku masuk. Selanjutnya mereka terlibat pembicaraan dalam bahasa arab yg saja saya tidak faham apa yang mereka bicarakan.

Jannatul Baqi' berlatar belakang Masjid Nabawi. Begini rupa dan bentuk kuburan di Jannatul Baqi', hanya berupa gundukan tanah dan kerikil dengan sebongkah batu sebagai nisan. 

Siapa yang dimakamkan di Baqi’ ?

Sejujurnya saya tidak tahu pasti siapa saja yang dimakamkan di Baqi’ tanpa membaca berbagai sumber, atau lebih jelasnya saya tidak tahu, kuburan siapa yang saya jumpai di Baqi’. Karena semua kuburan yang ada di pemakaman Baqi’ sama sekali berbeda dengan kuburan yang ada di pemakaman di Indonesia pada umumnya yang paling minim dilengkapi dengan Nama di Nisan-nya.

Di pemakaman Baqi’ semua kuburannya hanya berupa gundukan tanah dan batu kerikil dengan ssebongkah batu berukuran lebih besar sebagai nisan di bagian kepala kuburan. Tidak ada juga petunjuk seumpama spanduk besar seperti di dekat gerbang yang menjelaskan siapa saja yang dimakamkan di masing masing blok disana apalagi denah komplek makam beserta nama nama yang dimakamkan disana.

Namun demikian, komplek pemakaman ini sangat terawat, begitu banyak petugas yang senantiasa menata kembali batu batu kerikil dimasing masing kuburan, seluruh arealnya bersih dan rapi, dilengkapi dengan jalan jalan akses berupa jalan setapak ber-paving blok.

Sama halnya dengan tempat tempat lain di Madinah, di pemakaman Baqi’ ini pun kita akan menjumpai begitu banyak burung burung merpati yang berkeliaran bebas di komplek pemakaman yang cukup luas tanpa ada satu pohon pun ini.

Kemanapun mata memandang di pekamanan Baqi, semuanya senada. semua kuburan disini sama bentuk dan rupanya. Dan kawanan burung dara bebas berkeliaran di tempat cukup luas ini.

Apakah pemakaman Baqi’ tampak angker?

Bagi saya pribadi tidak ada sama sekali kesan seram ataupun angker di komplek pemakaman ini. Lagipula suasananya memang teramat berbeda dengan komplek pemakaman tua di tanah air yang penuh dengan pepohonan rindang, aneka tanaman tropis dan tanaman khas kuburan, belum lagi dibumbui dengan kisah kisah mistisnya.

Arab Saudi ber-iklim gurun, tanaman dan pepohonan tak mudah tumbuh begitu saja disini, sehingga komplek pemakaman inipun tampak gersang tanpa tumbuhan apalagi pepohonan yang berukuran besar. Dan tidak ada bangunan dalam bentuk apapun di dalam komplek pemakaman ini selain gundukan tanah dan kerikil dengan sebongkah batu sebagai nisan.

Tahlilan Yasinan Bisik Bisik

Yang saya fahami, secara eksplisit tata cara ziarah yang dipampang di spanduk di dekat gerbang pemakaman ini tidak memperkenankan peziarah untuk tahlilan, yasinan, berdo’a dan sejenisnya ditempat ini.

Spanduk besar di dekat gerbang pemakaman Baqi' dan beberapa tentara Kerajaan Arab Saudi yang sedang bertugas jaga disana.

Namun pemandangan cukup unik saya temukan ketika ada seorang pria bersorban tampak duduk sendirian dengan kursi portable di sisi salah satu makam dan beliau sepertinya sedang mengaji disana. Di sisi yang lain juga ada seorang peziarah yang melakukan hal yang sama namun lokasinya cukup jauh ditengah tengah dan jauh juga dari jalan setapak.

Saya juga menjumpai rombongan peziarah yang berjalan pelan pelan yang ternyata mereka sedang tahlilan berjama’ah dengan suara pelan, nyaris berbisik sambil terus berjalan. Rombongan berikutnya saya temukan juga sedang dengan mode yang sama namun membaca surah Yasin, juga dengan suara yang sangat pelan nyaris berbisik. Saya yang datang kesana sendirian dan berjalan dengan kecepatan normal tentunya dengan segera melewati rombongan yang jalannya sangat pelan itu.

Ditutup menjelang matahari terbenam.

Hari itu sepertinya saya memang ke sore-an datang kesana, belum lagi tiba di belokan jalan setapak yang saya lewati ketika para petugas berseragam disana terdengar berteriak teriak dan bergegas menghampiri orang orang yang sedang berziarah disana.

Pemakaman Baqi' - Madinah.

Dan aku hanya diam memperhatikan. Tampaknya semua orang disuruh keluar dari sana, beberapa petugas yang menghampiri dengan langkah cepat ke orang orang yang tadi mengaji di sisi makam dan tampak nya sedikit ada perdebatan.

Salah satu askar berjalan ke arahku yang masih berdiri diam ditempatku dan ia memberi isyarat dengan menyilangkan dua tangannya sambil berujar “closed” begitu katanya, “Ouw” sahut ku, “yes close, came again tomorrow” lanjutnya. Lumayan lah yang penting aku ngerti maksudnya. Ya sudahlah, mau tak mau putar haluan kembali ke arah gerbang.

Di gerbang pemakaman tampak para askar itu sibuk mengusir orang orang yang berkerumun disana termasuk yang sibuk selfie dan weifie. Tapi aku cukup beruntung, tampaknya mereka tak keberatan aku berdiri sejenak disana untuk memotret Masjid Nabawi yang tampak anggun dibawah siraman cahaya matahari senja.

Masih ada cukup waktu untuk jalan kaki kembali ke hotel tempat kami menginap untuk mandi ganti baju dan kembali lagi ke Masjid Nabawi guna bersiap siap sholat magrib. Alhamdulillah sudah sempat berziarah ke pemakaman yang sudah kudengar kisahnya sejak berpuluh puluh tahun lalu, dan sempat mengabadikan tempat itu dalam beberapa bingkai foto sekedar untuk kenang kenangan. Nanti kita lanjutkan cerita-nya ya di posting berikutnya.***


-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga



Wednesday, March 4, 2020

Kabau ; Penghilang Bau Jengkol dan Petai

Add caption

Di kalangan penggemar lalapan terkenal guyonan begini ini “cara mudah menghilangkan bau jengkol itu adalah makan petai”. Dan “untuk menghilangkan bau petai itu gampang, silahkan makan Kabau”   . . . jadi bau Kabau dong, . . .gampang itu mah, hajar bau kabau nya dengan Tempoyak JJ

Kabau itu pohon yang sejenis dengan jengkol atau Jering dia menjadi lalapan makan bagi yang suka lalapan, sama halnya dengan jering dan petai, aromanya itu aduhai. Kabau itu rasanya memang sedikit mirip dengan jering alias jengkol tapi lebih wuah.

Buah kabau di pohon nya.
Bentuk buah Kabau sama sekali berbeda dengan Jengkol. Buah kabau seperti kacang polong dengan biji nya yang banyak. Bentuk bijinya unik mirip pil tablet. Warnanya hijau saat masih muda dan menghitam saat sudah tua. Selain disebut Kabau ada juga yang menyebutnya sebagai Jering Utan, atau Jeing Tupai.

Bai de we ngomong ngomong, Jering, petai dan Kabau itu ternyata bahasa Indonesia lho sebagaimana disebut di kamus besar. Tadinya kukira Jering, petai dan Kabau itu adalah bahasa Belida di Gelumbang.

Isi buah kabau.
Kabau itu nama ilmiahnya Archidendron bubalinum masuk marga tanaman Archidendron, nama lainnya di Indonesia juga dikenal dengan nama Jering hutan (jengkol hutan), Jerign Tupai (jengkol tupai).

Dan merujuk ke berbagai sumber, Kabau ternyata daerah sebaran tumbuhnya cukup luas meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa hingga ke semenanjung Malaya dan Filippina.

Setelah di potek, mirip pil tablet khan. . . . 
Pohon kabau itu mirip dengan pohon Jengkol, bisa tumbuh menjulang tinggi, kayu pohon-nya juga cukup baik kualitasnya dan seringkali digolongkan sebagai kayu pohon jengkol. Di Sumatera, tepatnya dikampung halaman kami di tanah Belida di Sumatera Selatan, tanaman ini biasa ditanam penduduk di kebun kebun mereka dari bijinya yang sudah tua.

Sehingga dapat dipastikan bila saat di hutan dan menemukan pohon ini, hampir dapat dipastikan ditempat tersebut dulunya adalah bekas kebun atau dulunya seseorang pernah berkebun atau ber-huma ditempat tersebut. Kenapa demikian, karena jaman dulu orang orang berladang, berkebun atau membuka huma secara berpindah pindah.

Perhatikan daun dan dahan nya, tidak jauh beda dengan jengkol khan.
Ladang yang sudah lama ditinggalkan lama  kelamaan akan kembali menjadi hutan dan pohon tanaman usia panjang akan bertahan disana termasuk pohon kabau, jering (jengkol) dan lain-nya.

Pohon kabau itu bisa tumbuh tinggi besar sebagaimana pohon jengkol. Di bawah pohonnya yang rindang itu bisa dijadikan tempat menggelal tikar, makan siang diantara angin sepoi sepoi lauknya pepes dan pindang ikan belida, sambal Tempoyak dan lalap nya buah kabaw. Wuahahaha rasanya top markotop deh. Kamu tahu apa itu Tempoyak ? nanti lain waktu Insya Allah tak ceritain deh.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Tuesday, March 3, 2020

Jambu Amerika dari Gelumbang

Jambu Amerika, sengaja saya letakkan penggaris di belakangnya untuk memudahkan anda mengira ngira seberapa besar ukurannya.

Jambu Amerika atau Jambu Amerikan, begitu orang di kampung kami di Sumatera Selatan menyebut nama buah satu ini. Saya tidak tahu nama nya dalam bahasa Indonesia apalagi nama ilmiah ataupun nama Latin-nya. Anggap sajalan namanya Jambu American Gelumbanicum J J


Ada yang berspekulasi bahwa jambu ini memang berasal dari benua Amerika yang dibawa masuk ke Sumatera via Bengkulu oleh Thomas Stanford Rafles semasa kekuasaan Inggris di Indonesia. Namun ini hanya spekulasi yang pernah kami dengar, tentang kebenarannya entahlah.

Penampang buah jambu amerika.
Jenis tanaman ini tumbuh liar di pinggiran hutan, tampaknya mudah sekali tumbuh dan cocok dengan iklim di sumatera. Semasa masih tinggal di kampung halaman dan masih sering keluar masuk hutan, rasanya kami tak menemukan tanaman ini di pedalaman hutan. Justru ia menjadi salah satu penanda saat kita di hutan dan sudah menemukan jenis jenis tanaman satu ini artinya kita sudah dekat dengan pemukiman penduduk. Sejauh ini saya belum pernah menemukan tanaman ini di pulau Jawa.

Pohonnya cukup tinggi bila sudah tumbuh dewasa, tapi agak rapuh alias tidak aman untuk dipanjat panjat, daunnya lebar seperti daun jati. Daun daun lebarnya ini seringkali digunakan masyarakat sebagai pembungkus tapai (tape). Bunga bunganya mekar lebar cukup indah sebelum rontok lalu berubah menjadi putik putik buah.

Dahan, daun dan buah Jambu Amerika.
Buahnya yang masih mentah bewarna hijau dan menguning saat sudah matang. Bentuk buahnya menyerupai sebuah mahkota. Bila dibelah kita akan menemukan ratusan atau bahkan lebih biji biji nya yang berukuran kecil seperti butiran pasir kecoklatan.

Buahnya aman untuk dimakan meskipun rasa dan aromanya agak aneh. Saya katakan aman untuk dimakan karena anak anak di kampung biasa saja memakan buah ini tanpa efek negatif apapun. Kamu pernah nemu tanaman ini di kampungmu? 


-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Tengok juga artikel lainnya ya