Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E

Saturday, May 20, 2017

Situs Telagajaya VIII Karawang

STJ VIII atau Candi Sumur Kono di desa Telukbuyung, kecamatan Pakisjaya, kabupaten Karawang.

Situs Telagajaya VIII adalah salah satu situs arkeologi yang ada di komplek Pecandian Batujaya, Karawang. Tak banyak yang bisa ditemukan di situs peninggalan sejarah yang satu ini, sesuai dengan namanya, Situs Telagajaya VIII ini berupa sebuah telaga di tengah pematang sawah dengan airnya yang jernih.

Belum tahu pasti nama asli dari situs ini, para arkeolog yang memberinya nama situs Telagajaya VIII berdasarkan nomor urut situs yang ditemukan, dan sebelumnya juga situs ini secara administratif merupakan bagian dari desa Telagajaya sebelum kemudian dimekarkan dan kini masuk ke dalam wilayah desa Telukbuyung. Dan belum diketahui secara pasti juga dari peradaban mana candi ini berasal, meski disebut sebut bahwa candi ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara sama seperti situs Batujaya lainnya.

Situs Telagajaya VIII (TLJ VIII)
Kampung Gunteng Desa Telukbuyung
Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang.
Jawa Barat, Indonesia


Sementara masyarakat setempat menyebutnya Candi Sumur Kuno, merujuk kepada telaga yang ada disana. Ditemukan pada saat sedang penelitian di situs TLJ V pada tahun 1989. Evakuasi di lakukan Tim UNTAR dan Jurusan Arkeolog FSUI yang menanpakan sisa bagian bawah sebuah bangunan  candi berdenah segi empat, berukuran 6x4m pada kedalaman sekiar 10 cm dari permukaan tanah sawah.

Candi ini mempunyai sebuah tangga naik yang terletak di bagian depan yaitu di sisi timur laut. Tangga ini sudah sangat hancur dan pada bagian tengah terdapat sebuah sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 1,50x1,50m. Sumur ini di temukan dalam keadaan sudah di gali secara liar, dan sudah terisi tanah bercampuran pecahan bata.

Ini Candi Sumur Kuno yang dimaksud.

Bagian bawah merupakan sisa bagian fondasi yang masih setinggi  1,30m yang terdiri dari 20 lapis bata. Dengan profil rata tidak berpelipit, Di situs ini di tempukan pula pecahan-pecahan gerabah, berupa gerabah hias gores di sekitar struktur fondasi. Situs TLJ VIII kini sudah masuk ke dalam daftar cagar budaya dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang.


Di sebelah utara situs ini terdapat beberapa peninggalan dari masa lalu yang berserakan, beberapa sudah diberi identifikasi untuk dilakukan penelitian di kemudian hari, belum lagi yang masih tertimbun dan belum di gali. Situs Pecandian Batujaya ini ditengarai sangat luas melebihi luas komplek Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan jauh lebih tua dari candi terbesar tersebut.***

Airnya jernih dan dimusim kemarau pun tetap mengeluarkan air
STJ VIII (kanan) diantara pesawahan di desa Telukbuyung

Sunday, May 14, 2017

Bukit Siguntang, Tapak Kraton Kerajaan Sriwijaya

Di puncak Bukit Siguntang

Setelah bertarung sengit dengan berderet negara jiran yang mengklaim diri mereka sebagai pusat dari Kerajaan Sriwijaya, Bukit Siguntang di kota Palembang pada ahirnya bersaksi sebagai pusat kerajaan maritim terbesar yang sezaman dengan masa Rosulullah tersebut.

Di bukit ini para arkeolog menemukan sisa sisa tratak yang diyakini merupakan tratak "pusat pemerintahan" kerajaan Sriwijaya. Meski terlalu sulit bagi siapapun yang datang kesana untuk sekedar membayangkan seperti apa "pusat kota" dari kerajaan yang ditengarai tak lain adalah "kerajaan Samudera" yang disebut sebut dalam sejarah awal perkembangan Islam.

Arca Buddha bergaya Amarawati yang kini ditempatkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dekat Benteng Kuto Besak, Palembang, merupakan arca yang ditemukan dimasa penjajahan Belanda sekitar tahun 1920-an, lokasi penemuannya di lereng selatan Bukit Siguntang ini.


Arca berukuran cukup besar ini ditemukan dalam beberapa pecahan. Bagian yang pertama kali ditemukan adalah bagian kepalanya yang langsung dibawa ke Museum Nasional di Batavia. Beberapa bulan kemudian bagian tubuhnya ditemukan, kemudian bagian kepala dan tubuhnya disatukan. Akan tetapi hanya bagian kakinya yang kini masih belum ditemukan.

Arca setinggi 277 cm ini dibuat dari batu granit yang banyak ditemukan di pulau Bangka, maka disimpulkan bahwa arca ini adalah buatan setempat, bukan didatangkan dari India. Diperkirakan arca ini dibuat sekitar abad VII sampai VIII masehi.

Di daerah Bukit Seguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa, reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Selain itu di daerah Bukit Seguntang ditemukan pula fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Suasana asri di Bukit Siguntang

Prasasti yang terdiri dari 21 baris ini menceritakan tentang hebatnya sebuah peperangan yang mengakibatkan banyaknya darah tertumpah, disamping itu juga menyebutkan kutukan bagi mereka yang berbuat salah.

Bukit Siguntang bukan satu satunya, situs peninggalan kerajaan Sriwijaya di kota Palembang. Sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara dekat tepi sungai Musi terdapat situs Karanganyar, yang menunjukkan bekas pemukiman. Dua prasasti dari abad ke-7 ditemukan di dekatnya pada tahun 1920, berangka tahun 682 (Prasasti Kedukan Bukit) dan 684 (Prasasti Talang Tuwo). Pada tahun 1978, 1980, dan 1982 berbagai peninggalan keramik dari masa dinasti T'ang dan Sung awal diangkat dari area di lereng dan sekitar Bukit Seguntang.

Objek Wisata Rohani

Kawasan Objek Wisata “Situs Purbakala Bukit Siguntang” ini sudah sejak lama, jauh sebelum kawasan ini dijadikan situs sejarah oleh pemerintah, sudah menjadi salah satu tujuan ziarah dan dianggap keramat oleh warga kota Palembang dan sekitarnya. Di puncak bukit ini terdapat tujuh makam keramat yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh raja, bangsawan dan pahlawan Melayu-Sriwijaya. Terdapat tujuh makam tersebut adalah :

Daftar Makam yang ada di puncak Bukit Siguntang

  • Raja Sigentar Alam
  • Pangeran Raja Batu Api
  • Putri Kembang Dadar
  • Putri Rambut Selako
  • Panglima Tuan Junjungan
  • Panglima Bagus Kuning
  • Panglima Bagus Karang


Menurut kitab Sulalatus Salatin, Bukit Seguntang merupakan tempat datangnya Sang Sapurba, keturunan Iskandar Zulkarnain, yang dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya. Dan raja raja Malaka disebutkan sebagai keturunan dari Sang Sapurba ini.

Bukit Seguntang diibaratkan sebagai potongan Gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, dan dianggap suci karena merupakan cikal bakal orang-orang Melayu. namun yang paling menarik adalah disebutkan juga bahwa Raja Sigentar Alam yang bermakam di Bukit Siguntang ini tak lain adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great).***

Baca Juga



Saturday, May 13, 2017

Naga Istana

Arca Naga di Istana Bogor

Konon, dulunya Naga adalah hewan tercantik di surga, ia bebas hilir mudik keluar masuk ke surga. Sedangkan Iblis sudah terusir dari Surga 34:77-78) akibat pembangkangannya atas perintah Allah untuk sujud kepada Adam a.s. (QS:34).

Dalam satu kesempatan Iblis berhasil merayu Naga untuk memberinya tumpangan di dalam mulut naga agar bisa masuk ke dalam surga. Adam dan Hawa pun ahirnya tergoda rayuan iblis dan di usir dari Sorga (7:24), begitupun dengan Sang Naga.

Di dunia, Naga di citrakan beragam di berbagai peradaban. Di dunia Barat, Naga disimbolkan sebagai mahluk jahat, bertampang seram dan bersyap. Sementara di timur mayoritas di citrakan sebagai mahluk perkasa simbol kejayaan dan tak butuh sayap untuk terbang karena toh dia adalah mahluk langit. Mungkin karena itu, "Sang Naga" pun tampil di pekarangan #istanabogor meski ukurannya tak se gigantik #legendanaga.

Indikasi di dalam Al-Qur’an

Naga yang disebut sebut dalam legenda itu merupakan salah satu jenis Dabbah atau binatang melata. Indikasi tentang keberadaan mahluk ini baik di langit dan dibumi disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya adalah sebagai berikut.

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (QS An-Nahl (16) : 8)

Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. (QS Asy-Syuura (42): 29).

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. (QS An-Nahl (16): 49)***.

Namun demikian, bagi manusia, legenda akan tetap menjadi legenda sampai suatu hari ditemukan fakta sesuai dengan kaca mata ilmu pengetahuan kekinian benar benar terungkap. Belajar dari pengalaman “Hewan Okapi” menunjukkan bahwa apa yang disinyalir sebagai legenda ternyata benar benar ada, orang orang menyebutnya legenda semata mata karena belum pernah benar benar menyaksikan keberadaannya.

Hewan Okapi adalah salah satu hewan endemik hutan ituri di benua Afrika, tepatnya di timur laut Republik Demokratik Kongo. Di jaman awal penjelajahan orang oran Eropa ke benua Afrika, penduduk pribumi Kongo bercerita kepada para pelancong Eropa tentang keberadaan binatang yang wujudnya seperti perpaduan antara zebra dan jerapah. dan para pelancong menganggap bahwa itu hanya cerita rakyat belaka.

Namun apa yang begitu lama disebut legenda ternyata benar benar ada ketika pada tahun 1901, Sir Harry Johnston membawa sebuah kulit binatang yang membuktikan keberadaan makhluk tersebut, yang kini dikenal dengan nama Okapi Jonstoni, sesuai dengan nama tokoh yang dianggap penemunya itu.***



Saturday, May 6, 2017

Ummu Harram Srikandi Perang Laut Pertama

Masjid Halla Sultan Tekke di Larnaca, Cyprus, tempat Makam Ummu Harram berada.

Emansipasi wanita bukan hal baru dalam Islam, sejak awal sejarah Islam, wanita mendapatkan posisi terhormat, dan apa yang kini digaunggaungkan tentang emansipasi sudah diterapkan tanpa basa basi sejak awal sejarah Islam bergulir dan tanpa pernah menyebut nyebut tentang emansipasi wanita. Tak tanggung tanggung, wanita Islam bahkan ikut terjun langsung di medan perang.
.
Salah satunya adalah Ummu Harram r.a, salah satu Sohibah Rosulullah s.a.w, saudari dari Ummu Sulaim, istri dari ‘Ubaadah ibnu Saamit yang juga salah satu sahabat Rosulullah S.A.W. Ummu Harram bersama suaminya bergabung dalam perang laut menaklukkan pulau Cyprus.
.
Peristiwa itu terjadi di tahun 28 H/ 649 M, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra. Ketika itu Muawiyyah bin Abi Sufyan atas persetujuan khalifah menyiapkan kapal dan pasukan untuk menaklukkan Pulau Cyprus yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Byzantium.
.
Ubadah bin Syamit dan istrinya, Ummu Haram, yang usianya ketika itu sudah cukup tua ikut menyertai pasukan tersebut. Ini merupakan angkatan pertama pasukan Muslim yang melakukan perjalanan jihad melalui laut. Pasukan ini mendarat di kota Larnaca, di bagian selatan pulau Cyprus.
.
Ummu Harram menjemput syahid yang dicita citakannya di tengah kancah perang penaklukan Cyprus, dan dimakamkan di lokasi tersebut, yang dikemudian hari (sekitar tahun 1816) dibangun sebuah masjid dan kini dikenal dengan nama Masjid Halla Sulta Tekke.
.
Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (2002: 368-9), walaupun pasukan Muslim mendapatkan banyak pampasan dan tawanan perang, pertempuran berakhir dengan perjanjian damai oleh kedua belah pihak. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Cyprus akan membayar upeti tahunan sebanyak 7000 dinar kepada kaum Muslimin.
.
Heroisme Ummu Harram tersebut sesungguhnya sudah di-Isyaratkan oleh Rosulullah jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi sebagaimana dijelaskan dalam hadist Riwayat Ahmad No.25790 dan 26110.***


Sunday, April 30, 2017

Saung Ranggon, Tempat Persembunyian Anak Raja

Saung Ranggon, di desa Cikedokan, kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi

Saung Ranggon atau Rumah Tinggi adalah cagar budaya berupa bangunan tertua di kabupaten Bekasi. Rumah panggung dari kayu yang sudah berumur hampir 400 tahun di desa Cikedokan, Cikarang Barat. Di sekitar tahun 1619 rumah tinggi ini merupkan rumah persembunyian Pangeran Rangga (putra Pangeran Jayakarta) dari kejaran pasukan VOC Belanda, paska jatuhnya Kota Jayakarta (kini Jakarta) ke tangan pasukan VOC Belanda.
.
Raden Abas yang melindungi dan membantu beliau di wilayah Cikedokan termasuk membantu membangun rumah tinggi ini. dulunya tempat ini merupakan hutan belantara jauh dari jangkauan manusia, angker dan seram belum lagi masih banyak binatang buasnya. Kini hutan belantaranya sudah lenyap berubah menjadi belantara beton kawasan industry MM2100. (Instagram).



Tak disebutkan, kemana perginya Raden Rangga setelah bersembunyi disana, tak ada juga makam ataupun kuburan kuno disekitar lokasi. Pada saat bersembunyi disana Beliau juga membekali diri dengan persenjataan tempur termasuk keris dan tombak yang disimpan di bawah rumah tinggi ini. Di lokasi ini juga ada sumur tua.

Pemerintah kabupaten Bekasi telah menetapkan bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya,  sekaligus sebagai objek wisata. Sisebut sebut sebagai bangunan tertua di kabupaten Bekasi. Beberapa acara pernah di helat di sekitar rumah tua ini yang turut dihadiri oleh para petinggi kabupaten.***



Saturday, April 29, 2017

MAWAR

Mawar itu indah, tapi jangan pernah memanggil si Indah dengan panggilan Mawar, dijamin ngambek. 

Di dunia thoriqoh, mawar (merah) identik dengan Syech Abdul Qodir Jailani, Mawarnya para wali. Disebutkan beliau ditolak masuk ke Bagdad, seumpama Bagdad adalah gelas, dan para wali adalah airnya, maka gelas telah penuh dengan air tak ada lagi tempat untuk di isi air lagi. Lalu Syech Abdul Qodir Jailani, memasukkan setangkai mawar ke dalam gelas penuh air itu. Dan penolakanpun berahir.
.
Di dunia asmara, mawar menjadi pavorit bagi mereka yang sedang kasmaran, mungkin karena kekenyangan dengan nasihat gaya orang Eropa yang berbunyi "katakanlah dengan bunga", sehingga urusan menyatakan cinta, meminang dan sebagainya nyaris identik dengan mawar. Kenapa harus mawar ? sederhananya bila dengan bunga kamboja ataupun kantil, boro boro pinangan diterima, paling paling malah kena labrak. 
.
Bunga mawar juga menjadi salah satu media aroma therapi, wanginya yang khas membuat bunga ini menjadi salah satu pilihan pavorit. Dan menariknya bunga mawar terutama mawar putih, merupakan bunga pavoritnya Raja Salman, Raja Saudi Arabia yang baru baru ini berkunjung ke Indonesia. 
.
Aroma mawar yang mewangi itu kemudian dijadikan salah satu pewangi ruangan, pewangi pakaian, pewangi air untuk mandi, pewangi kamar tidur hingga kamar pengantin. Tradisi itu sudah mendarah daging sejak dari nenek moyang kita pada jaman dahulu. Hanya saja kita seringkali lupa esensinya, Lupa yang kadang kadang membuat terpeleset makna, sama lupanya tentang esensi aroma menyan. (instagram). 

*
*
*

Saturday, April 22, 2017

Lemah Abang & Ingat Mati

stasiun KA Lemah Abang, Cikarang Utara, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

Nama "Lemah Abang" tersebar di berbagai tempat di Indonesia, termasuk "Lemah Abang" di Cikarang Utara. Kabupaten Bekasi. Konon nama itu adalah nama dari Syech Lemah Abang. Ada yang ber-asumsi nama itu adalah nama lain dari Syech Siti Jenar yang artinya juga sama sama "Syech Tanah Merah" beliau hidup sezaman dengan para Walisongo.
.
Di Jepara Syech Lemah Abang identik dengan Sunan Jepara atau Raden Abdul Jalil. Di hukum mati di masa Kesultanan Demak karena dianggap sesat.
.
Begitu banyak pendapat beredar tentang sosok fenomenal ini. Tokoh yang dianggap sesat namun namanya di abadikan dibegitu banyak tempat. Lalu siapa dia sebenarnya ? Benarkah Syech Lemah Abang & Syech Siti Jenar adalah orang yang sama ?
.
Namun yang pasti, di kampung halamanku, tanah merah itu identik dengan kuburan yang masih baru. pepatah nya mengatakan "berbuat baiklah sebelum tanah merah naik ke permukaan". Nasihat sederhana mengingatkan tentang kematian yang pasti datang kepada semua yang bernyawa, tanpa kecuali.

*
*
*