Sunday, November 12, 2017

Madain Saleh Reruntuhan Bangsa Terkutuk

salah satu makam dari gunung batu yang di pahat dan di ukir di Madain Saleh

Madain Saleh merupakan daerah di Arab Saudi, lokasinya berada di provinsi Madinah dekat dengan Al-‘Ula di wilayah Hijaz. wilayah ini dikenal sebagai situs arkeologi dan kini menjadi salah satu objek wisata paling menarik di Arab Saudi.

Mada'in Salih terletak 20 km di sebelah utara Al-`Ula, 400 km barat laut Madinah, dan 500 km ke arah tenggara dari Petra, Yordania. Mada'in Salih berada di wilayah kaki dataran tinggi basalt yang merupakan bagian dari Pegunungan Hijaz.

Tempat ini juga disebut dengan nama Al-Hijr yang berarti “tempat berbatu” merujuk kepada tofografi wilayahnya yang berbatu. Sedangkan Madain Saleh sebagai nama tempat ini berarti “Kota Saleh” dan Saleh yang dimaksud adalah Nabi Saleh a.s.  UNESCO pada tahun 2008 menyatakan Mada'in Salih sebagai sebuah Situs Warisan Dunia, yang pertama di Arab Saudi.


Temuan arkeologi ditempat ini menemukan bukti akurat tentang kejayaan bangsa Tsamut di sekitar 800 tahun sebelum Masehi. Kitab Suci Al-Qur’an mengabarkan tentang kaum Tsamut, ummat nabi Saleh a.s dalam Al-qur’an surah Al-A’raf ayat 74 hingga 79 dijelaskan tentang pembangkangan kaum Tsamut terhadap risalah yang disampaikan Nabi Saleh a.s dan berujung kepada kebinasaan kaum Tsamut.

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”.

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”.

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”.

Kaum Tsamud merupakan bangsa yang berperadaban tinggi, berbagai karya seni pahat, ukiran dan pertukangan adalah contoh kemahiran mereka. karena kepandaiannya itu hasil ukiran kaum tsamut dijadikan barang dagangan dengan komunitas lainnya. produk utama kaum tsamut diantaranya adalah barang pecah belah yang unik dan memiliki kualitas dan nilai seni yang tinggi, kemenyan hingga rempah rempah.

Rumah pada gunung gunung batu yang dipahat dan di ukir, begitu tinggi, besar dan megah

Dari hasil perdagangan tersebut memberikan kekayaan sehingga memungkinkan kaum Tsamut ini membangun rumah rumah megah dan istana mereka, hingga memahat gunung gunung batu untuk tempat tinggal dan makam.

Kaum Tsamut adalah penyembah berhala, dan nabi Saleh a.s di utus untuk mengajak kaum ini beriman kepada Allah SWT. Namun kaum Tsamud tidak mempedulikan seruan Salih dan malah meminta Salih untuk mengeluarkan unta betina dari balik gunung sebagai tanda kenabiannya.

Seekor unta betina pun keluar dari balik gunung sesuai permintaan kaum Tsamut. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari Kaum Tsamud yang kemudian beriman. Sebagian yang lain kemudian membunuh unta tersebut dan dengan congkak menantang Nabi Saleh a.s untuk membuktikan ancaman yang disampaikannya bagi orang orang yang durhaka kepada Allah. Kaum Tsamud kemudian ditimpa azab gempa bumi dasyat dan sambaran petir hingga melenyapkan bangsa Tsamut dari muka bumi.

Wilayah Mada'in Salih kemudian berganti kaum, di sekitar abad pertama masehi wilayah ini dihuni oleh bangsa Nabatean dan menjadikan wilayah Mada’in Saleh sebagai ibukota kedua setelah Petra (di Jordania). itu sebabnya hingga kini peninggalan peninggalan di Madain Saleh ini memiliki banyak kemiripan dengan peninggalan di Petra.****

Saturday, November 11, 2017

Hening di Kawah Tengkurep

Kawah Tengkurep adalah komplek makam para raja kesultanan Palembang. Makam Kawah Tekurep dibangun pada tahun 1728. Makam Kawah Tekurep memiliki luas mencapai 1 hektar, yang terdiri dari 6 bangunan makam yang diperuntukkan bagi sultan dan orang-orang tedekatnya. Sedangkan makam yang berukuran kecil yang ada di bagian depan bangunan utama makam kawah tekureb merupakan makam yang diperuntukan bagi anak-anak keturunan, abdi dalem, dan para panglima.

Gerbang menuju komplek makam para raja di dalam tembok
Let's go inside
Makam para kerabat sultan
para penjaga
Pintu bangunan makam
Sultan Muhammad Bahauddin
Sultan Rahmad Najamudin I
Silsilah 
Gerbang Senja
tampak tua
dibawah panji pusaka
hening
dan terima kasih
. . .
. .
.
lihat photo posting sebelumnya Suara keheningan Kawah Tengkurep
. . .
. .
.

Thursday, October 19, 2017

Suara Keheningan Kawah Tengkurep Palembang

Gerbang Kawah Tengkurep

Sore hari di komplek pemakaman raja raja Palembang, Komplek Makam Kawah Tengkurep namanya, lokasinya persis bersebelahan dengan Pelabuhan Boom Baru di tepian sungai Musi Kota Palembang.

Makam Kawah Tekurep dibangun pada tahun 1728 dengan menggunakan tiga unsur, yaitu kapur pasir, putih telur, dan batu. Makam ini dibangun dengan bersamaan dengan pembangunan masjid Agung Palembang. Di makam yang berlokasi di kecamatan Ilir Timur II, Palembang ini terdapat makam Sultan Mahmud Badaruddin beserta empat isterinya, yaitu Ratu Sepuh dari Demak, Ratu Gading dari Malaysia, ratu Mas Ayu dari Cina, dan Nyai Mas Naimah dari Palembang. Selain itu, pada bagian yang lain juga terdapat Imam Sayid Al Idrus yang merupakan guru besar bagi Sultan Mahmud Badaruddin.

Secara umum, makam Kawah Tekurep memiliki luas mencapai 1 hektar, yang terdiri dari 6 bangunan makam yang diperuntukkan bagi sultan dan orang-orang tedekatnya. Sedangkan makam yang berukuran kecil yang ada di bagian depan bangunan utama makam kawah tekureb merupakan makam yang diperuntukan bagi anak-anak keturunan, abdi dalem, dan para panglima.

Berziarah atau berkunjung ke tempat ini memang tak kan kau temukan ramainya suasana seperti berkunjung ke pusat perbelanjaan, namun disini kau kan temukan ramainya sepi, bergema dalam keheningan. Disini kau kan temukan artinya Sepi.

Bahwa Rasûlullâh melihat seorang laki-laki berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal kulit maka Rasûlullâh bersabda:“Lemparkanlah ke dua sandalmu.”maka laki-laki tersebut melihat, ternyata yang mengatakan itu adalah Rasûlullâh, diapun segera melepas dan melemparkan sandalnya. [Hadits diriwayatkan Abu Daud dan an-Nasa’i dan dishahihkan oleh al-Hakim].
Assalaamu-'alaikum yaa ahlil qubuuri, yaghfirulloohu lanaa, wa lakum antum salafu-naa, wa nahnu bil atsari.
Keselamatan untuk kalian wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kalian, sedangkan kalian telah mendahului kami, dan kami akan mengikuti kalian.
Senja yang hening . . . 
Rumah terahir 
Lingkaran kehidupan, dan kematian adalah kelahiran di alam berikutnya.
Penghormatan dari yang masih hidup
Bila kau masih bertanya tentang sebuah kepastian, inila kepastian bagi semua yang hidup.

continou to the next post . . . Insya Allah
.
.


Sunday, July 30, 2017

Mezquita De Ismael San Salvador, El Salvador

Ismail Mosque / Mezquita De Ismail / Masjid Ismail di San Salvador, El Salvador (kiriman dari Imam Ibrahim Muhammed Arafat).
.
Mezquita Dar Ismael  atau Masjid Dar Ismail adalah masjid kecil di Kota San Salvador, Republik Elsalvador, sebuah negara yang sangat jauh di Amerika Tengah. di Masjid kecil ini komunitas kecil muslim disana melaksanakan sholat berjamaah dan melaksanakan aktivitas ke-Islaman lainnya dibawah pimpinan imam Ibrahim Muhammed Arafat
.
Masjid ini tadinya adalah Toni Florinda's mansion, sebuah bangunan tempat tinggal milik keluarga Toni Florinda's yang wafat 15 tahun lalu yang kemudian dijadikan Masjid sekaligus pusat aktivitas ke-Islaman mereka.

Mezquita Dar Ismael San Salvador
Address: 17 calle oriente casa N° 217, Colonia Santa Eugenia
Barrio San Miguelito, San Salvador, El Salvador, Centroamérica. 

.

imam Ibrahim Muhammed Arafat bekisah betapa sulitnya untuk sekedar mendapatkan kitab Suci Al-Qur’an di negaranya dan berharap bila ada muslim dimanapun yang hendak membantu ataupun organisasi yang memiliki jaringan da’wah di seluruh dunia ataupun cabang organisasi Islam di negara mereka untuk turut membantu mereka yang terkucil jauh disana. Bahkan bila ada Indonesia yang mampu berbahasa Spanyol dan menyempatkan diri menelepon beliau untuk berdiskusi dan bersilaturrahim pun sudah sangat berarti bagi beliau.

Monday, July 10, 2017

Surat dari Imam Masjid Dar Ismail San Salvador

Masjid Dar Ismail San Salvador, tak mirip masjid atau mushola ya. (foto dari akun fb masjid dar ismail)

Assalamualaikum

Pagi ini kami menerima surat elektronik dari Ibrahim Muhammed Arafat, selaku imam Masjid Dar Ismail di Kota San Salvador di Republik Elsalvador, jauhh di benua Amerika. beliau menyampaikan aktivitas muslim disana yang jumlahnya sangat kecil namun sudah memiliki tempat sholat permanen yang juga berukuran kecil, di lantai dua sebuah bangunan ruko. di tempat tersebut komunitas muslim disana menyelenggarakan sholat berjamaah, belajar mengaji dan sebagainya.

Beliau berkisah betapa sulitnya untuk sekedar mendapatkan mushaf (kitab) Al-Qur’an di negaranya dan berharap bila ada muslim dimanapun yang hendak membantu ataupun organisasi yang memiliki jaringan da’wah di seluruh dunia ataupun cabang organisasi Islam di negara mereka untuk turut membantu mereka yang terkucil jauh disana.

Bila ada muslim Indonesia yang mampu berbahasa Spanyol dan menyempatkan diri menelepon beliau untuk berdiskusi dan bersilaturrahim pun sudah sangat berarti bagi beliau.

Berikut petikan surel beliau

-----------------------------------

Mezquita Ismael
8:38 AM (13 minutes ago)

to bujanglanang

Assalamualeikum Imam

My name is Ibrahim E. Muhammed Arafat and am an Imam at a small Masjid in San Salvador, El Salvador. I’m hoping to connect with the wider Islamic world as we have a very small congregation here. Some help you could render us includes:

We currently have 3 Qur’ans, we would greatly appreciate getting more to supplement our classes. It is difficult to procure them in El Salvador.
Please include us if you have any list of outreach programs with other mosques. If you know any Imam’s traveling in the region – we would love to receive them here.

Any events where Imams are congregating – please let me know, I would love to attend and meet others.

I’m also reachable by telephone, my number is: +503 7877 6088
Address: 17 calle oriente casa N° 217, Colonia Santa Eugenia, Barrio San Miguelito, San Salvador, El Salvador, Centroamérica. 

My primary language is Spanish, if there is anyone in your congregation I can connect with in Spanish that would be most appreciated.

May Allah’s blessings me upon you and Eid Mubarak in advance,
Ibrahim Muhammed Arafat 

------------------

Aktivitas mereka juga di publikasi di akun facebook di link berikut ini

Sekedar tambahan informasi, Republik El-Salvador tempat saudara muslim kita ini berada merupakan salah satu negara di Amerika Selatan / Amerika Latin yang pemerintahnya secara terang terangan mendukung kemerdekaan Palestina dan sudah mengakui kemerdekaan Palestina.

Wassalamualaikum wr.wb


Saturday, July 8, 2017

Minggat Sana Ke Timbuktu

Komplek Masjid Sankore, universitas sankore, madrasah sankore di timbuktu yang dibangun tahun 1581 Masehi atau 989H. 

Timbuktu, tentu saja itu nama yang aneh di telinga rata rata orang Indonesia. Timbuktu bernama asli Timbuctoo atau Tumbutu kemudian di lidah orang perancis (mantan penjajahnya) menjadi Timbuktu nama yang populer hingga kini. Ternyata adalah sebuah kota sekaligus sebuah wilayah yang membentang luas di negara Republik Mali, itu di bagian barat benua afrika. jauh Euy. Dia bukan ibukota negara Republik Mali, karena Mali beribukota di Bamako jauh di barat daya Timbuktu

Wilayah yang pernah makmur dibawah pimpinan sepuluh kaisar Mansa, bergelar Mansa Musa. Kota ini terkenal dengan Universitas dan Madrasah Sankore yang begitu tua pusat penyebaran Islam di seluruh Afrika di abad 15 dan 16. ditambah tiga masjid besar, Djingareyber, Sankore dan Sidi Yahya, mengingatkan kembali kepada zaman keemasan Timbuktu di masa lalu. Meskipun terus dipulihkan, monumen ini sekarang dibawah ancaman dari penggurunan oleh iklimnya yang gersang. Universitas Sankore diakui sebagai salah satu universitas tertua di dunia.


Menjadi tempat tinggal bagi orang orang suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan orang Mandé, Timbuktu berada 15 km sebelah utara dari Sungai Niger. di persimpangan timur-barat dan utara-selatan Trans-Sahara rute perdagangan melintasi Sahara. geografisnya membuatnya menjadi titik pertemuan alami bagi populasi Afrika barat dan pengembara Berber dan Arab-bangsa dari utara. Sejarah panjang sebagai pos perdagangan yang menghubungkan Afrika Barat dengan Berber, Arab, dan pedagang Yahudi di seluruh Afrika utara, dan secara tidak langsung dengan para pedagang dari Eropa, telah memberikan status legendaris dalam sebuah metafora “dari sini hingga ke Timbuktu”. 

Sejarah Timbuktu tak terlepas dari sejarah kekaisaran mali sejak abad kedua belas masehi. Sampai kemudian kekuasaan silih berganti, termasuk kemudian timbuktu di aneksasi oleh Maroko, lalu di jajah oleh prancis (dengan nama Sudan Prancis) sampai kemudian merdeka sebagai Republik Mali saat ini. 

Masjid, Madrasah, Universitas Sankore

Menurut etimologi populer, nama Timbuktu disusun dari dua kata TIN dan BUKTU, TIN berarti “Tempat” dan “Buktu” adalah nama seorang wanita tua Mali yang dikenal kelurusan dan kejujuran hatinya tinggal di daerah itu. Orang orang Tuareg dan pengelana lainnya mempercayakan barang barang mereka untuk dititipkan ke wanita ini. Hingga, saat Tuareg ditanya dimana ia meninggalkan barangnya, lalu ia menjawab: Saya meninggalkannya di TinBuktu, maskudnya di titipkan ditempatnya seorang wanita yang bernama Buktu. Sebutan ini kemudian populer dan menjadi nama tempat tersebut hingga kini. 

Namun, orang Perancis yang bernama René Basset memberikan teori yang lebih masuk akal: pada bahasa Berber, "buqt" berarti ""sangat jauh", karena itu, "Tin-Buqt(u)" berarti tempat yang merupakan ujung dunia, saking jauhnya. Karena itu orang menggambarkan dirinya pergi ke ujung dunia dengan pergi ke Timbuktu.  Atau ketika lagi kuesel sama temen lalu diteriaki dengan kata kata “Minggat sana ke Timbuktu”........


Sunday, July 2, 2017

Mekarsari

ini anak ku mas brow, bukan cucu Pak Harto

Mekarsari itu kebon buah yang diresmikan oleh pak Harto penguasa Nusantara terlama sepanjang sejarah hingga hari ini. Ia juga taman rekreasi berupa kebun buah terbesar dan mungkin juga satu satunya di Indonesia. Konon pembangunannya digagas oleh Ibu negara, Ibu Tin Suharto.

Dullu itu waktu siaran langsung peresmiannya di satu satu nya stasiun tivi yg ada, salah satu cucu beliau yg seumuran putraku di foto itu ikutang tampil menyanyi bersama teman temannya dipanggung hiburan, lagu belon kelar, dia udah berlari menghampiri dan memeluk kakek presiden nya di tenda kehormatan. Hmmm indahnya jadi cucunya raja ya.***

from my instagram

Saturday, July 1, 2017

Masjid Syahdu Di Curug Cigentis

Masjid di Curug Cigentis (from my instagram)

Yang merindukan Masjid bernuansa syahdu, adem-nya pol tanpa AC, hening dan sunyi, dikaki gunung, tepi kali, masjid ini kayaknya cocok buat kamu deh. Masjid kecil sederhana di kawasan wisata Curug Cigentis, di kaki gunung Sanggabuwana, Karawang.

Cigentis salah satu tujuan wisata di kabupaten karawang dan memang cocok untuk bertdabur alam disini, menggelar pengajian di alam terbuaka ataupun ber I’tikaf di masjid mungilnya itu. Untuk logistik sih tak perlu khawatir karena pas disebelah masjid itu bahkan ada warung yang buka 24 jam selama masih ada pembelinya.

Artikel terkait bisa dibaca disini lokasi masjidnya ada di peta dibawah ini

Curug Cigentis
Desa Mekarbuana, Kec. Tegalwaru
Kab. Karawang, Jawa Barat




Sunday, June 25, 2017

Sunset di Gelebak Dalam

Sunset di Masjid Baiturrohim Gelebak Dalam (check it in my instagram)

Sunset yang keren ini bersua denganku diperjalanan melalui ruas jalan alternatif dari Kayu Agung ke Plaju, kota Palembang melintasi sebagian wilayah kabupaten Banyu Asin. ruas jalan alternatif yang cukup terawat baik dan belum terlalu ramai kendaraan dengan pemandangan yang masih asli pedesaan.

Masjid yang ada di foto itu Baiturrohim namanya, berada di Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, kabupaten Banyu Asin 30967, Sumatera Selatan, keren khan. ada banyak masjid sih disepanjang ruas jalan itu, hanya saja saat lewat disana sunsetnya pas dibalik masjid ini. Kamu bisa check lokasinya di peta di bagian bawah ini.

Masjid Baiturrohim Gelebak Dalam
Jalan Plaju - Rambutan, Desa Gelebak Dalam
Kec. Rambutan, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan 30967
koordinat : 3°04'27.3"S 104°52'29.5"E





Saturday, June 24, 2017

Masjid Jami' Nurul Ikhlash, Pilar Barat, Cikarang Utara

Masjid Jami' Al-Ikhlas Pilar Barat, Cikarang Utara (https://goo.gl/h6Srh6)

Masjid satu ini akan terlihat jelas  bagi warga cikarang yang sedang berada di atas jembatan layang pilar, posisinya di sebelah utara jembatan berjejer dengan Masjid At-Taufik Walhidayah yang berada di ruas jalan yang sama. Masjid Nurul Ikhlas ini diresmikan oleh Menteri Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah RI, H. Adi Sasono SH. Pada tanggal 13 September 1998M bertepatan dengan Jumadil Ula 1419H. sebagaimana dijelaskan pada prasasti yang ditempatkan di depan masjid.

Pada saat diresmikan masjid ini belum dilengkapi dengan menara, menaranya sendiri baru dibangun sekitar tahun 2015 yang lalu. menara dan atap masjid nya memang kurang senada sih meski kini baik masjid maupun menaranya semuanya di cat dengan warna putih.. Meski dibangun belakangan, menara masjdi ini cukup unik dengan gaya klasiknya. Bentuk menara yang memiliki kemiripan dengan menara Masjid At-Taqwa di depan pasar Tambun.***

baca full artikelnya di 



Sunday, June 18, 2017

Marhaba Di Masjid Jami’ Gelumbang

Masjid Jami' Babussalam Gelumbang

Marhaba adalah sebutan bagi prosesi potong rambut dan pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. Biasanya masyarakat Gelumbang akan melaksanakan prosesi Aqikah dan pemberian nama bagi putra putri mereka di Masjid Jami’ Babussalam di simpang empat tengah laman Gelumbang.

Prosesi di mulai dengan pembacaan Kitab Albarzanji, lalu dilanjutkan dengan prosesi pemotongan rambut bayi oleh para hadirin yang berdiri berjejer rapi sambil melantunkan puji pujian kepada Nabi kita yang mulia Muhammad S.A.W.

Salah satu syair dari puji pujian itu berbunyi “Marhaban ya Nuroaini….marhaaabaaa”…. itu sebabnya prosesi ini terkenal dengan sebutan acara Marhaba. Selama puji pujian itu dilantunkan bayi yang di Marhabai (di potong rambut dan di beri nama) akan di gendong oleh ayahnya atau pamannya atau kakeknya, atau oleh kerabatnya yang laki laki, berkeliling menghampiri para jamaah untuk di potong rambutnya.

Rambut bayi yang sudah di potong akan dimasukkan ke dalam kelapa muda yang sudah di potong bagian atas nya. Sementara jamaah yang sudah melakukan pemotongan rambut akan dihadiahi semprotan wangi wangian dari salah pengiring bayi, dan satu buah telok abang dari pengiring bayi yang lain nya.


Telok abang adalah sebatang lidi  atau bamboo yang diserut halus di hias dengan kertas warna warni, di ujungnya dipasangi bendera Merah putih, dibawah bendera digantungkan uang kertas (tergantung seberapa mampu dan ridho si empunya hajat) dibagian bawah nya lagi kadang kadang di gantungi nama  bayi bersangkutan dan dibagian paling bawah terdapat telor ayam rebus yang sudah diberi warna merah (Abang = Merah). Masing masing jemaah akan diberi satu telok abang sebagai oleh oleh.

Terahir kali ikutan acara marhaba di masjid ini sudah lammaaaa sekali, saat masjidnya masih belum semegah ini. Malam itu saya dapat berkah menggendong bayi ajaib yang sama ajaibnya denganku yang menggendongnya, kami berdua sama sama diberkahi dengan tanda di wajah yang diberikan langsung oleh Allah SWT.

Bayi itu diberi nama oleh ayahnya, Muhammad Marten, keren kan. hanya saja sejak menggendongnya malam itu, belum pernah ketemu dia lagi, dah keburu pindah ke lain pulau lalu ke pulau berikutnya. Halo Muhammad Marten, how are you and where are you now. Where ever you are, may Allah always blessing you, and success 4U.  

Baca Juga


Saturday, June 17, 2017

Situ Abidin Miniatur Danau Toba di Bojongmangu

Situ Abidin saat musim hujan, untuk menyeberang ke pulau kecil di tengah danau mau tidak mau anda harus menggunakan perahu atau rakit bambu atau berenang jika mampu. (https://goo.gl/XP8zG3)

Di Bojongmangu kabupaten Bekasi, ada sebuah danau kecil atau dalam Bahasa sunda biasa disebut dengan Situ dan ditengah tengahnya ada sebuah pulau kecil, seperti layaknya danau toba dengan pulau Samosir ditengahnya, hanya saja danau satu ini ukurannya mini, tidak segigantik ukuran Danau Toba, namun keindahan alaminya sih lumayan untuk menghibur mata dan hati.

Cocok Untuk yang Pengen Segera Sakti

Situ atau danau kecil ini cocok bagi siapa saja yang ingin segera sakti mampu menyeberangi danau tanpa bantuan perahu atau rakit, tanpa berenang dan tanpa basah, Caranya ?, datanglah kesana pada puncak musim kemarau. Anda otomatis menjadi orang sakti yg mampu menyeberangi danaunya dengan hanya Melenggang. ☺😄😃
.
Situ Abidin namanya, lokasinya berada di Bojongmangu, titik tertinggi di kabupaten Bekasi meski ketinggiannya hanya berkisar 400 meter dari permukaan laut. Dinamai dengan Situ Abidin sesuai dengan nama ulama penyebar Islam yang makamnya berada di pulau kecil ditengah tengah danau itu.


Masih Aseli

Situ Abidin ini berada di Kampung Bedeng, Desa Karang Mulya, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Bisa ditempuh dari Jalan Raya Cileungsi, dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer lewat Cibucil – Cibarusah. Atau bisa juga lewat Jalan Raya Cariu, dengan jarak tempuh sekitar 8 kilometer.

Sebagai sebuah danau alami, situ abini masih tampil alamiah belum ada sentuhan dari pemerintah kabupaten Bekasi untuk mempersoleknya sebagai sebuah objek wisata yang kebetulan lokasinya tidak seberapa jauh dari pusat pemerintahan kabupaten Bekasi di area Pentagon Deltamas.

Luas situ abidin sekitar 17 hektar, sebenarnya sangat leluasa untuk pengembangan wahana objek wisata air. Jika serius dikelola, bukan hal yang mustahil objek wisata alam ini bisa menjadi sumber PAD (pendapatan asli daerah) yang bisa diandalkan. Apalagi, insfrastrukturnya sudah lumayan bagus. Bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Jarak tempuh dari Pemkab Bekasi pun hanya sekitar 25 kilometer. Sekitar 30 menit perjalanan.

Makam Keramat

Di pulau ditengah situ abidin ini ada makam keramat, yaitu makan Mbah Uyut Bidin dan Mbah Uyut Lidam ada juga yang menyebutnya Kiai Abidin dan Kiai Sengkek Bean, yang pasti ditengah pulau kecil itu memang ada dua makam di lokasi terbuka tanpa nama dan satu makam di dalam bangunan tertutup. Makam keramat ini sering diziarahi orang.
Situ Abidin saat musim kemarau, tak perlu perahu atau rakit untuk menyeberang ke pulau ditengah tengah danau. (https://goo.gl/XP8zG3)

Berdasarkan kisah tutur disebutkan bahwa kedua tokoh ini semasa hidupnya merupakan ulama penyebar agama Islam di daerah Bojongmangu dan sering menunjukkan karomah layaknya wali, karena itu dikenal dengan Mbah Wali, informasi yang lain menyebutkan bahwa beliau semasa hidupnya adalah seorang mursyid juga dikenal dengan nama Kyai Syamsudin.

Angker

Konon tempat ini dikenal sangat angker karena merupakan tempatnya komunitas para siluman. Diantaranya, siluman Lembu, siluman Kuda, Siluman Ular dan Siluman Buaya Putih. lagi lagi konon ada yang ajaib dari danau Abidin, yaitu Pohon Kiray yang bisa bergerak sendiri dan berenang melawan arus dan ini sering disaksikan secara mata fisik oleh penduduk sekitar maupun para peziarah.

Benarkah demikian adanya, entahlah, namanya juga konon. yang pasti tempat ini memang masih sepi dan jauh dari keramaian. Kecuali bila anda memang berminat untuk uji nyali. Sejauh pantauwan kami saat hadir disana saat dinihari hingga ujung malam, suasana aman aman saja, memang ada sosok yang muncul sih, kucing meong meong dan dua warga setempat yang sedang ronda malam.***


Sunday, June 11, 2017

Pewaris Jayakarta Yang Tersingkir

Makam Pangeran Senapati di Cibarusah, Kabupaten Bekasi

Pangeran Senapati, atau dikenal luas di Cibarusah sebagai Uyut Sena ataupun Mbah Sena, sejatinya adalah pewaris tahta kesultanan Jayakarta, putra dari Pangeran Jayakarta. Seiring dengan jatuhnya Kesultanan Jayakarta kebawah hegemoni Belanda tahun 1619.

Pangeran Senapati bersama keluarga menyingkir melalui jalur laut ke arah timur, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke selatan. Di sebuah hutan jati beliau kemudin babat alas membangun hunian baru yang kini dikenal sebagai Cibarusah, di kabupaten Bekasi. Menilik sejarah ini, Tjibarusah sudah eksis setidaknya sejak abad ke 17.

Paska kekalahan Kesultanan Jayakarta dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus untuk membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman. Maka dimulailah perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati.

Di kawasan hutan jati itulah kemudian Pangeran Senopati berhenti bersama pasukan dan keluarga yang masih menyertainya. Beliau menganggap kawasan hutan lebat itu sebagai lokasi persembunyian yang aman dari kejaran pasukan Belanda. Termasuk untuk tinggal mengembangkan keluarga dan keturunan. Babat alas dimulai untuk membangun pemukiman baru yang dikemudian hari dikenal dengan nama Cibarusah. Kata Cibarusah sendiri konon berasal dari kalimat berbahasa sunda “Cai baru sah”.

Dikisahkan bahwa ketika masjid masjid telah didirikan, jemaah kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang memenuhi sarat sah untuk bersuci sebelum menunaikan sholat. Ketika pencarian sumber air berhasil menemukan sumber air bersih salah satu ulama yang menyertai Pangeran Senopati berujar dalam bahasa Sunda “nah ieu’ CAI’ BARU SAH” yang berarti “Nah ini airnya baru sah” maksudnya sah secara syar’i untuk keperluan bersuci. Kalimat “CAI’ BARU SAH” itulah yang kemudian menjadi CI BARU SAH. Sedangkan nama kampung ‘Babakan’ berasal dari kata ‘Bukbak’ dalam bahasa sunda yang berarti membersihkan.

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Pangeran Senopati tersebut berbahan utama kayu jati yang ketika itu melimpah disana. Tak jauh dari masjid dibangun sebuah kolam penampung air bersih berukuran kira kira 20x30m untuk menampung air bersih yang dialirkan dari sumbernya menggunakan pipa pipa bambu dan saluran yang dibangun secara bergotong royong. Riwayat tutur menyangkut sejarah masjid ini terputus sampai disitu. Hingga kini keturuan Pangeran Sena masih ada di KBC, keluarga beliau dapat dikenali dengan gelar ‘Raden’ yang disematkan kepada nama mereka masing masing. Pangeran Senapati wafat dan dimakamkan di Kampung Babakan Cibarusah (KBC) dan dikenal dengan sebutan Makam Embah Uyut Sena. https://goo.gl/wTekAs

Baca juga


Saturday, June 10, 2017

Cerita Kecil dari Masjid Jami' Babussalam Gelumbang

Masjid Jami' Babussalam Gelumbang hasil pembangunan terahir 2011-2012

Sampai pertengahan tahun 1978 masjid ini masih berupa masjid khas kesultanan Plembang dengan atap limas bersusun tida, empat sokoguru di tengah ruangan, flapon dari kayu, dinding bata lebar, jendela jendela kayu berukuran besar dengan teralis kayu bundar profil bubutan.
.
Tahun tahun itu masih seringkali ngintilin kakekku (alm) Idrus Bin Topa sholat jumat datang duluan duduk di shaf depan sampai ketiduran dan bangun bangun sudah di rumah, saking puleznya pulangnya digendong. . . Xixixi .
.
Kala itu, jemaah yg beruntung selama di dalam masjid seringkali dapat limpahan serbuk kayu dari struktur atap masjid yg makan kumbang, sekalian nyarang disana, lebih mantab lagi bila pas kumbangnya kebelet, hah, selamat nimba disumur samping masjid buat bersuci lagi .

Baca juga

Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E