Monday, May 1, 2023

Sepenggal Kisah Lalu

📍❤

Supir taksi mengantar kami di lobi depan marina bay sand, bangunan pusat perbelanjaan yang tampaknya bahkan jauh lebih luas dari hanggar pesawat fixed wing-nya PT. Dirgantara Indonesia di Bandung, tempat dulu aku harus lari pagi mengelilinginya dari senin hingga Jum’at dengan jingle-jingle ala tentara.
 
Cukup menarik untuk sekedar menikmati suasana dalam supermall yang dilengkapi dengan aliran kanal dilantaidasarnya tempat perahu ala venesia wara wiri membawa penumpang lengkap dengan landscape indoor ala hutan tropis bersama gemericik air yang jatuh dari atap ke permukaan air.
 
Tak terlalu menarik untuk explore lebih jauh didalam-nya apalagi untuk belanja. Mataku lebih tertarik dengan pemandangan yang tampak dari balik dinding kaca di dipintu akses yang berlawanan dengan pintu tempat kami masuk tadi. Tampak hamparan air laut berlatar gedung gedung menjulang disana.
 
Aku memilih keluar Gedung menikmati suasana diluar lalu menepi ke platform yang dibangun ditepian pantai menghadap kelaut. Masih pagi matahari belum terlalu terik, menemani ayahku ngobrol ngalar ngidul tanpa topik. Obrolan santai antara anak laki laki dan ayahnya.
 
❤📍📷

Ayahku memang sudah tidak kuat untuk berjalan jauh, sehingga kursi roda harus selalu dibawa saat berpergian dengan nya. Obrolan kami berdua asik asik saja, membahas gedung apa saja yang tampak berjejer menjulang kelangit diseberang teluk tempat kami berdiri.
 
Beberapa diantaranya termasuk patung merlion yang kami kunjungi sehari sebelumnya tampak jelas dari sana. Sejatinya Kawasan itu adalah kawasan kota tuanya Singapura, meski pemandangannya kini sama sekali tak lagi tampak sebagai sebuah kawasan kota tua.
 
Selama diperjalanan dari tempat kami menginap di Tanjung pagar hingga ke tempat ini, supir taksi tadi bercerita bahwa kawasan marina (yang menjadi tujuan kami) itu dulunya adalah salah satu tempat sandarnya kapal kapal dari berbagai negara termasuk dari Indonesia, dulunya disana menjadi tempat berkumpulnya para pelaut Indonesia bla bla dan seterusnya.
 
Dan saat hanya berdua dengan ayahku disana, aku seolah mendengar lanjutan cerita supir taksi tadi dari ayahku. Tak kuduga ayahku bekisah tentang (mendiang) abang semata wayangnya yang sepanjang karirnya dihabiskan mengarungi samudera sebagai nakhoda kapal.
 
Dan pelabuhan Singapura begitu sering dibacanya dari setiap lembar surat abangnya yang dikirim dari kantor pos di marina, bisa jadi kantor pos yang dimaksud adalah kantor pos besar Singapura alias Fullerton Building yang kini berubah menjadi museum dan pelataran depan nya menjadi titik nol Singapura.
 
Marina Bay Sands

Dalam diam aku menangkap semburat rasa bangga diwajahnya atas pencapaian abangnya, ada aura bahagia saat menceritakan bahwa surat surat itu juga datang bersamaan dengan selembar wesel pos untuk ibu mereka yang tentu saja adalah nenek-ku.
 
Sejujurnya ku kehilangan kata walau hanya untuk sekedar berkomentar singkat, ayah bahkan masih ingat nama bank yang seringkali disebut oleh abangnya dulu, namun tak menemukan nama bank dimaksud di jejeran nama nama Gedung jangkung disana.
 
Kutunjukkan pada ayahku Gedung bank yang dimaksud yang memang tepat diseberang kami berdiri. Masih ada disana meski telah menjadi Gedung pencakar langit dan sudah berubah nama.
 
Dalam diam aku berucap syukur pada Allah Subhanahuwatala diberi kesempatan menemani ayah dan ibuku berkunjung ke suatu tempat yang bisa jadi sudah menjadi angan mereka sejak berpuluh puluh tahun yang lalu. Masih dalam diam dilubuk hati paling dalam ada sepercik harapan semoga suatu saat nanti Allah berkenan memberiku kesempatan menemani ayah dan ibuku berhaji.
 
Hand phone berdering, adikku yang menyusul kami memberi tahu dia sudah tiba di lobbi Gedung dan menanyakan posisi kami. Obrolan kami terhenti, kudorong kursi roda ayahku, bertiga dengan ibuku, kami masuk kembali ke dalam gedung.
 
Malam harinya kami rayakan hari jadi pernikahan ayah dan ibu kami yang ke 50 tahun dengan cara sederhana, dan bakda sholat subuh keesokan harinya aku berpamitan untuk pulang duluan ke Jakarta dengan dengan pesawat paling pagi berharap memungkinkan untuk langsung berangkat ketempat kerja. Subuh itu, untuk pertama kali setelah sekian puluh tahun kurasakan lagi pelukan hangat ibuku saat aku berpamitan.

No comments:

Post a Comment