Friday, September 12, 2014

Suara Rakyat [bukan] Suara Tuhan


SUARA RAKYAT SUARA TUHAN, Kalimat ini marak digunakan lagi. Dan kebanyakan dipakai oleh para politisi penolak Rancangan Undang Undang Pemilihan Kepala Daerah yang mewacanakan pemilihan kepala daerah oleh DPRD, alias tidak lagi dengan metoda pemilihan langsung oleh rakyat seperti yang telah beberapa kali berjalan.

Saya tidak akan membahas tentang RUU Pilkada itu, hanya saja benar benar merasa terusik oleh kalimat itu. Sejujurnya saya tak telalu heran dengan laku lampah mereka yang bertarung di kancah politik bertajuk demokrasi. Namun lagi lagi, hanya saja, benar benar luar biasa hingga sampai ke batasan itu.

Saya juga rakyat lho, dan “demi dzat yang menguasai langit dan bumi serta se-isinya” saya katakan bahwa SAYA BUKAN TUHAN. Sehingga suara saya pun bukan suara Tuhan. Suara mahluk se-isi dunia ini pun bila digabung jadi satu tetap saja adalah suara mahluk dan tidak akan pernah berubah menjadi suara tuhan.

Tuhan tak pernah salah pilih. Dan tak akan tertipu oleh aktor penebar pesona dan pelaku pencitraan paling ulung se-dunia dan ahirat sekalipun. Lalu tuhan macam apa yang tertipu dengan pilihannya sendiri, tuhan macam apa pula yang suka berdemo karena suaranya telah di khianati.

Anggota DPR dan DPRD yang saat ini sedang menjabat itu pun dipilih oleh rakyat secara langsung. BILA (memang) suara rakyat adalah suara tuhan MAKA berarti mereka semua sudah dipilih oleh suara Tuhan. Bila memang sudah mutlak yakin bahwa suara rakyat adalah suara tuhan, lalu kenapa ribut ribut menyatakan ketidaksetujuan dengan tingkah polah mereka yang sudah dipilih oleh suara tuhan?.

Bukankah kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang menyatakannya benar. Karena bila kebenaran ditentukan oleh suara terbanyak maka kita tidak perlu sang juru salamat, yang menyelamatkan manusia dari zaman kegelapan. Bila suara mayoritas adalah kebenaran hingga dianggap sebagai suara tuhan, maka tuhan pun (pastinya) tidak akan pernah mengutus para utusannya ke muka bumi.

Akan tetapi bila memang sudah sangat yakin bahwa ‘suara rakyat adalah suara tuhan’ maka jangan salahkan bila terjadi keterjepitan suara minotitas atas suara mayoritas. Itu adalah buah dari sikap yang 'menuhankan rakyat’hingga suaranyapun dianggap sebagai suara tuhan.

BILA suara rakyat adalah memang suara tuhan, MAKA sama saja dengan mengakui bahwa rakyat adalah tuhan. Bila “nama tuhan”nya adalah “rakyat”, lalu kira kira apa nama agamanya ya?. Kenapa tidak sekalian saja ganti KTP untuk ganti status agama yang sekarang dengan agama baru dari ‘tuhan’ yang bernama ‘rakyat’. aji mumpung kolom agama di KTP belom kadung dihapus.