Wednesday, September 3, 2014

Cukupkan, Berhentilah Mengingatku


Bila hingga detik ini kau gagal melupakan, tak berarti hal itu teramat berarti untukmu, tapi semata mata karena ‘berusaha untuk melupakan itu sama dengan berusaha untuk senantiasa mengingat’.

Maka sudahlah, berhentilah melupakan dan mengingat, abaikan saja seperti dulu kita mengabaikan desiran angin senjakala yang semilir.

Tak usah buang waktu untuk memungut lagi air mata yang pernah jatuh, hanya untuk mengingat lagi nestapa yang dulu membuatnya tumpah ke bumi.

Semesta yang kini ada bukan lagi yang dulu, desiran angin yang dulu berhembus tak kan pernah kembali lagi, seperti halnya hamparan selakasa yang dulu kita lihat sudah tak ada lagi, dedaunannya sudah habis berguguran tak bersisa.

Masih ada gengaman yang akan menggenggam tangan mu. Masih ada hati yang akan menilik setiap hati yang merasa terabaikan. Masih ada asa yang senantiasa menyemangati diantara harapan yang mulai pupus, masih ada kehangatan diantara kebekuan di ujung hari.

Tak usah pikirkan dimana letak matahari, biarkan dia dengan dirinya sendiri. Mengira ngira dimanakah dia hanya akan membuat tergesa ketika dia mulai beranjak naik, membuat resah ketika sinarnya mulai temaram, membuat terlena ketika dia mulai bersembunyi.

Melangkah sajalah meski harus terseok. Bergeraklah meski hanya mampu beringsut. Bukan untuk sesuatu, bukan untuk sesorang, tapi untuk melanjutkan peran yang belum usai . . . . . .

Cikarang, 4 September 2014