Friday, May 17, 2013

Semerbak Bau Kemenyan Di Gunung Sanggabuana

Puncak Gunung Sangga Buana Karawang. Layaknya sebuah pemakaman di atas awan. Sederet kuburan kuburan tua, beberapa diantaranya kini sudah dibangun berupa bangunan semi permanen.

Makam – Mistis – Mitos

Gunung Sanggabuana (1291 mdpl) di Kabupaten Karawang memang sangat identik dengan mistis, terkait dengan terdapat sederetan makam makam tua yang dikeramatkan di puncak gunung tersebut. Berada di puncak gunun ini serasa berziarah di makam makam yang berada di atas hamparan awan. Sebagian besar dari pendaki ke gunung ini bukanlah pendaki biasa. Rata rata sengaja datang kesana bukan sekedar untuk menikmati keindahan alam tapi dengan berbagai niatan dan keperluan, terkait dengan ziarah makam yang ada disana.

Makam keramat tidak hanya ada di puncak gunung, tapi sekitar setengah perjalanan dari arah karawang kita akan berjumpa dengan satu komplek makam tua yang disebut sebut sebagai makam Langlangbuana. Malam hari ketika kami tiba di area tersebut aroma bau dupa sontak menusuk hidung. Suara orang orang yang sedang khusu’ berzikir terdengar santer dari dalam bilik makam.

Di sekitar makam Langlangbuana
Makam Langlangbuana berada di bawah rimbun beberapa pohon yang tinggi besar menjulang. Tak jauh dari sungai dengan pancuran yang terkenal dengan nama pancuran air mata ibu. Ada beberapa pondokan tempat singgah sementara disana. Kang iing putra dari si Emak Kuncen Makam dengan ramah menyambut siapapun yang lewat tempat tersebut seakan sudah kenal lama.

Beberapa pendaki atau peziarah sedang istirahat di pondokan dekat perapian disana juga dengan begitu ramah menyapa kami bertiga. Kondisiku memang kontradiktif. Kedinginan tapi baju basah kuyup oleh keringat, dan badan rasanya . . . . . Kuturuti saran dari beberapa kenalan disana, baju basahku kugantung di atas perapian aku sendiri ngeloyor ke pancuran dan jebar jebur mandi disana ditengah dinginnya malam, benar saja badan terasa lebih segar ditambah lagi dengan segelas kopi panas sambil ngaso . . . . .

Bakda subuh di puncak gunung Sanggabuana
Setengah dua belas malam lewat beberapa menit kami baru tiba di puncak gunung ini. sangat lambat untuk ukuran mereka yang sudah biasa mendaki, bahkan jauh lebih lambat dibandingkan dengan dua pendaki yang salah satunya sudah sangat sepuh (alias sudah aki aki ) yang menyalib kami saat separuh perjalanan.

Tak percuma perjuangan hanya bermodal semangat pantang menyerah ahirnya sampai juga. Si Kakek dengan hangat menyambutku ketika aku tiba di puncak, beliau sudah dengan santai menyantap kambing bakar bersama sekelompok pendaki lainnya di salah satu pondokan disana. Wuah.

Ada Apa di Puncak Sangga Buana ?

Matahari terbit di puncak Sanggabuana
Seperti disebut di awal tadi, mendaki ke gunung ini tak perlu bawa tenda. Di puncaknya ada dua warung yang buka 24 jam. Dua-duanya menyediakan pondokan luas berlantai kayu setinggi sekitar 75cm, berdinding bilik bambu dilapis terpal untuk mengurangi dampak cuaca dingin puncak gunung. Dan yang paling menarik adalah, nginap disini gratis Brow. Tapi jangan lupa tata krama dan sopan santun, yang namanya numpang ya kudu permisi sama yang punya.

Ada simbiosis mutualisme diantara para pendaki dan pemilik warung ini. para pendaki butuh shelter atau tempat menginap sementara yang cukup nyaman dan tentu saja butuh konsumsi sementara pemilik warung butuh pembeli bagi dagangannya. Klop kan !.

Jejeran bangunan di puncak Sanggabuana, diantara bangunan ini terdapat dua warung yang menyediakan shelter gratis bagi para pendaki maupun peziarah.
Selain dua bangunan warung besar ini ada sederet bangunan semi permanen disana. Tapi itu bukan warung atau bangunan tempat menginap melainkan bangunan makam. Dua shelter di dua warung yang ada disana penuh oleh para pendaki yang numpang tidur. Dan jangan heran diantara mereka juga ada anak anak yang ikut / di ajak orang tua mereka.

Siapa Saja Yang Bemakam di Puncak Sangga Buana

Sempat juga terpikir, dulu semasa hidupnya kira kira mereka yang bermakam dipuncak gunung ini ngapain kesana ya ?. temenku dengan entengnya nyelentuk “bisa jadi mereka memang menyepi kesini atau menhindari sesuatu, tinggal disana dan sudah terlalu tua untuk turun lagi, sampai kemudian wafat disana dan tak memungkinkan untuk dibawa turun dan dimakamkan disana deh”. Buruh sedikit belajar sejarah untuk memahami pertanyaan sederhana itu.

Makam Uyut Panjang, bangunan semi permanen warna hijau di latar belakang adalah makam Ki Balung Nunggal atau Ki Balung Tunggal. tak jauh dari tempat ini beberapa meter turun ke arah selatan ada bangunan masjid yang cukup lapang bagi para pendaki dan peziarah.
Yang paling menarik dari makam makam tua yang ada disana, ada satu makam dengan ukuran yang tidak lazim. Di batu nisannya bertuliskan nama “Uyut Panjang”. teman seperjalananku bilang bahwa nama aslinya adalah “Sri Baginda Maharaja” tapi karena makamnya yang berukuran panjang itu makanya disebut Uyut Panjang lalu siapa pula Sri Baginda Maharaja itu?.

Disebelah makam Uyut Panjang ada bangunan semi permanen di dalamnya ada satu makam, makam Eyang Balung Nunggal atau Balung Tunggal. Untuk yang satu ini memang agak membingunkan mengingat begitu banyak situs di internet yang menyebutkan bahwa makam Balung Tunggal ada di Sangkan Djaya, Sumedang, seperti disebutkan di saungdedimlyd.web.id dan sumedangonline.com.

warung pondok pendaki 
Ceriwis.com memberikan penjelasan lebih rinci dengan penjelasan :

Menurut data yang dikeluarkan oleh Yayasan Pangeran Sumedang, orang-orang sakti yang dimakamkan di Ciburial adalah makam Balung Nunggal, manusia tanpa pusar, Dalem Kula Nata Salam Kusuma, biasa disebut Mbah Sadim, Petilasan Tajimalela bahkan pengusaha besar era tahun 80-an, Haji Karya, keturunan ketujuh Mbah Dalem Sadim yang dimakamkan berdampingan.

Bangunan makam yang lainnya bertuliskan nama Kiai Bagaswara di pintu masuknya sementara di batu nisannya sendiri tanpa nama. Siapa Kiai Bagaswara ? sayapun tidak tahu, nama itu merupakan tokoh dalam komik Api Di Bukit Manoreh karya S. Mintarja, Orang itu kah?. Masih ada beberapa bangunan bangunan makam lainnya mulai dari yang berukuran cukup lapang sampai yang berukuran kecil dan tidak semua makam tersebut dilengkapi dengan nama.

turun ke Loji - Karawang
Salah satu yang paling menarik adalah salah satu bangunan makam di ujung timur komplek makam ini yang bertuliskan “Eyang Saritem, dibangun tgl 11 bln 6 2003”. Saya sebut menarik karena nama Saritem nya itu loh. Nama itu identik dengan nama ruas jalan kecil di pusat kota Bandung yang sempat menjadi pusat prostitusi. Ada hubungannya ?. masak iya.

Sejauh ini saya belum menemukan literatur yang menjelaskan secara rinci siapa saja yang bermakam di puncak Gunung Sanggabuana itu, siapakah mereka dan mengapa mereka bermakam disana ?. Hanya saja, dalam dunia kebathinan yang disebut Makam atau Makom tidak selalu bermakna Kuburan, bisa juga bermakna Petilasan atau tempat yang pernah disinggahi.

tanpa nama
Maka : Makam atau Maqom Uyut Panjang tidak serta merta bangunan kubur yang ada disana merupakan kuburan dari yang bersangkutan, bisa jadi merupakan petilasan atau dulunya semasa hidupnya pernah singgah disana atau tapa disana. Lalu generasi setelah dial ah yang kemudian membangun kuburan disana untuk mengenang beliau yang pernah singgah disana. Makanya kadangkala satu orang bisa memiliki begitu banyak makam alias maqom. Hanya saja, seiring perjalanan waktu informasi tentang hal tersebut menjadi samar kadangkala bahkan sirna sama sekali sehingga terjadi kesalahan penafsiran. Wallohua’lam.

Pohon Kemenyan, Mati merana karena wanginya

Sebenarnya semerbak bau kemenyan sudah tercium di malam hari sepanjang perjalanan mendaki puncak gunung ini. hanya saja tak sempat berpikir macam macam karena konsentrasi terkuras pada usaha mengalahkan beratnya medan untuk sampai ke puncak, apalagi untuk mencari tahu darimana sumber aroma kemenyan yang semerbak mewangi itu.

pohon kemenyan yang merana
Ke-esokan harinya dalam perjalanan pulang, pertanyaan sekilas dalam hati itu terjawab. Seorang pendaki yang sengaja naik ke gunung ini untuk berziarah turun bersama kami serombongan dengan para pria yang rata rata sudah berusia matang, diantaranya bahkan ada kakek kakek yang sengaja bergabung bersama kami supaya ada teman sesama ngesoter’s alias yang jalannya alon alon asal kelakon.

Ternyata semerbak aroma kemenyan yang kami cium tadi malam berasal dari pohon kemenyan yang memang bertebaran tumbuh liar di hutan gunung ini. Pohon kemenyan putih memiliki postur yang sangat besar dan tinggi, salah satu peziarah itu yang menunjukkan pohon pohon tersebut kepada kami. Aroma semerbak itu berasal dari getah pohon ini.

indah bukan.
Hanya saja sangat disayangkan, pohon pohon tua itu banyak yang mati merana karena di kuliti oleh orang orang tak bertanggung jawab untuk mengambil getahnya. Getah pohon ini yang kemudian membeku seperti batu dan dijual sebagai kemenyan. Jangan sampai terkecoh dengan fungsi kemenyan semata mata sebagai propertinya paranormal atau dukun.

Kemenyan memiliki banyak kegunaan termasuk didalamnya dijadikan bahan untuk minyak wangi, kosmetik dan lainnya. Di beberapa kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, getah kemenyan bahkan menjadi salah satu komuditas ekport andalan, disamping untuk memenuhi permintaan pasar local.

Proses penyadapan getah pohon kemenyan bila dilakukan dengan baik dan benar tidak akan sampai menyebabkan kematian pohonya, namun yang terjadi pada beberapa pohon kemenyan di hutan Gunung Sanggabuana ini, para penjarah itu menguliti pohon bagian bawah hingga menghabiskan seluruh cambium yang ada. Itu sebabnya beberaa pohon langka ini ahirnya mati merana justru karena aroma wanginya. Sesuatu yang memang sangat disayangkan.***

masig alami

catatan : Artikel ini dijadikan rujukan oleh wikipedia untuk artikel berjudul Gunung Sanggabuana (update 16-07-2014)