Thursday, November 5, 2015

Dimanakah Makam Prabu Siliwangi ?

Prasasti Batutulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan BatutulisKecamatan Bogor SelatanKota Bogor. Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Prasasti Batutulis dianggap terletak di situs ibu kota Pajajaran dan masih “on site”, yakni masih terletak di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs ini. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi).
Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘makam’ sama dengan ‘kubur’. Maka kalimat tanya pada judul diatas yang berbunyi “dimanakah makam Prabu Siliwangi” bermakna “dimanakah gerangan jenazah Prabu Siliwangi dimakamkan setelah beliau wafat”. Dan Prabu Siliwangi yang dimaksud adalah Sri Baduga Maharaja alias Raden Pamanah Rasa Alias Pangeran Jayadewata yang memerintah di kerajaan Pajajaran antara tahun 1482 hingga tahun 1521.
Pertanyaan yang sama maupun uraian tentang itu, berseliweran di dunia maya maupun dunia nyata. Tempat tempat yang di klaim sebagai makam asli sang prabu juga tidak sedikit. Meski hingga kini memang dengan legowo harus di akui bahwa belum ada satu kata sepakat dari para sejarawan maupun dari para tokoh masyarakat tentang “yang manakah makam sang prabu yang sebenarnya”. Upaya penelusuran sejarah termasuk menelusur keberadaan makam sebenarnya dari sang prabu juga pernah dilakukan oleh tim 11 yang dibentuk dimasa pemerintahan Gubernur Jawa Barat Mashudi.
Makam Prabu Siliwangi Tidak Pernah Ada
Sebagian masyarakat (kata sebagian disini tidak mewakili besaran jumlah) meyakini bahwa “makam Prabu Siliwangi” memang tidak akan pernah ditemukan karena beliau memang belum wafat alias masih hidup di dimensi dunia yang berbeda. Ada banyak versi alur cerita tentang hal tersebut, namun intinya adalah ketika sampai pada kondisi yang sudah sangat terdesak, beliau beserta pengikut setianya masuk ke alam ghaib dan meneruskan kehidupan mereka disana, termasuk mendirikan kerajaan ghaib di Gunung Salak, gunung yang bernama asli Gunung Sapto Argo.
Masuk ke alam ghaib yang dimaksud adalah masuk secara keseluruhan, ruh dan jasadnya. Sehingga dengan demikian mustahil untuk dapat menemukan Makam beliau di ‘dunia ini’. Ada begitu banyak tulisan yang sudah di unggah di dunia maya terkait hal tersebut, anda dapat menelusur-nya dengan kata kunci “prabu siliwangi moksa”, “aji sikir”, dan sebagainya. Peristiwa tersebut pula yang diyakini sebagai awal dari “keangkeran gunung salak”.
Hanya Orang Terpilih Yang Tahu
Ada juga sekelompok masyarakat yang meyakini bahwa sang prabu wafat secara wajar dan dimakamkan di satu tempat yang hanya diketahui oleh orang orang terdekat dan terpercaya saja. Cukup masuk akal bila di hubungkan dengan cerita tutur yang menyebutkan bahwa beliau “menyingkir” dari kraton karena ‘terdesak’. Keterdesakan ini pun memiliki banyak alur cerita yang berbeda beda. Dari catatan sejarah yang sudah dimaklumi bersama, posisi pajajaran memang terdesak oleh eksistensi Cirebon dan Demak menyusul berdirinya Jayakarta menggantikan Sunda Kelapa bersamaan dengan lepas nya pengaruh Kerajaan atas Banten.
Seperti disebutkan di awal tadi bahwa saat ini ada banyak situs yang diyakini sebagai makam sang prabu. Beberapa diantaranya yang sudah lazim dikenal adalah di Leuweung Sancang (Leuweung = Hutan) wilayah Pameungpeuk kabupaten Garut, lalu di daerah Kawali kabupaten Ciamis, kemudian juga ada di Gunung Tampomas kabupaten Sumedang.
Belakangan juga muncul pengakuan dari H Netty Medina S yang menyatakan telah memindahkan makam Prabu Siliwangi pada tanggal 27 Oktober 1987 ke atas sebuah bukit di Kampung Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, Ciwidey. Kabupaten Bandung. Makam tersebut dipindahkan dari ‘lokasi aslinya” di Lereng Gunung Pangrango, Kampung Sela Gombong, Desa Cikancana, Kec. Pacet, Cianjur, yang ditemukan tahun 1975. Pemindahan dilakukan Sebab lokasinya yang jauh dan sulit ditempuh.
Sub Judul ini yang berbunyi ‘Hanya orang terpilih yang tahu’ sudah tidak berlaku lagi bagi anda yang sudah membaca bagian ini, karena anda toh sudah tahu. hanya saja masih ada lagi yang menyatakan bahwa semua tempat yang sudah dikenal masyarakat saat ini sebagai ‘makam asli’ Prabu Siliwangi adalah ‘bukan asli’ nya, hanya merupakan petilasan atau tempat yang pernah disinggahi sang prabu semasa hidup-nya. Sedangkan makam yang benar benar asli hanya diketahui oleh segelintir orang saja yang tidak akan menunjukkannya ke siapapun ‘kecuali’ kepada orang orang yang sangat dipercaya.
Memang Banyak Makam
Prasasti Tembaga Kebantenan menyebutkan tentang wafatnya Prabu Siliwangi dan dimakamkan di Rancamaya. Prasasti tersebut menyebut Prabu Siliwangi sebagai Susuhunan di Pakuan Pajajaran dan disebut secara anumerta sebagai Sang Lumahing Rancamaya. Lalu dimanakah tempat yang dimaksud Rancamaya tersebut ?. Pakuan yang menjadi ibukota Pajajaran berada di Bogor, dan di Bogor memang ada satu kelurahan yang bernama Rancamaya yang sejak tahun 1995 secara administratif masuk ke dalam wilayah kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Sebelumnya berstatus sebagai Desa di di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Berbagai sumber menyebutkan bahwa di daerah tersebut memang pernah ada satu tempat yang dikeramatkan terkait dengan Prabu Siliwangi namun kemudian keseluruhan tempat itu kini telah berubah menjadi padang golf.

Masih di kota Bogor, terdapat prasasti Batu Tulis yang sangat terkenal itu. Prasasti ini dibangun oleh Prabu Surawisesa, putra dari Prabu Siliwangi, dua belas tahun setelah kematian Ayahanda-nya, untuk menghormati sang Ayah sekaligus mengenang dan mengabadikan kebesaran Prabu Siliwangi. Angka dua belas tersebut dianggap berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pada saat itu.

Di tahun ke dua belas setelah kematian, jenazah akan disempurnakan dengan diper-abu-kan. Begitulah yang terjadi di dua belas tahun setelah wafatnya sang Prabu. Abu jenazahnya disimpan dengan sangat hormat ke dalam dua belas guci (angka ini juga kemungkinan akan berbeda beda) dan di makamkan kembali dengan penuh kehoramatan di dua belas wilayah kerajaan yang berbeda beda. Dengan demikian akan sangat wajar bila hari ini ada banyak tempat yang di-klaim sebagai ‘makam asli’ sang prabu.

Secara teoritis dan nalar sederhana merujuk kepada tradisi Nusantara, makam seorang raja besar dan dimakamkan di masa kerajaan dipimpin oleh anak kandungnya sendiri, (pastinya ataupun semestinya) juga memiliki “tanda kebesaran” yang sesuai dengan masa itu dan tanda kebesaran tidak selalu berwujud ‘bangunan makam’ seperti yang biasa kita kenal saat ini.

Benarkah Beliau Moksa ?

Secara umum ‘tutur tinular’ yang disampaikan secara ‘saur sepuh’ bahwa Prabu Siliwangi moksa atau secara harfiah adalah pindah dari alam dunia ini masuk ke alam ghaib bersama seluruh pengikut setianya, kemudian membentuk kerajaan baru di alam ghaib. Bila diterjemahkan secara harfiah pula maka hal itu bertentangan dengan penjelasan dalam prasasti tembaga kebantenan yang menyebut bahwa beliau telah wafat dan dimakamkan di Rancamaya.

Untuk menjawab pertanyaan ‘benarkah beliau moksa atau pindah jasmani dan rohaninya ke alam ghaib ?’ jawaban paling logis untuk menjawab itu adalah "masuk saja ke alam ghaib yang dimaksud” dan temukan jawabannya disana.  Namun bilamana Moksa atau pindah ke alam ghaib yang dimaksud adalah ruh nya saja tidak bersama jasad/ raganya, itu berarti terjadi perpisahan antara ruh dengan jasad, dan itulah yang disebut kematian.

Hukum Tuhan menyebutkan bahwa ‘"Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. 3 : 185).  Bahwa kematian itu adalah suatu yang pasti, bahwa keabadian (di dunia ini) itu adalah mustahil bagi mahluk. Yang belum diketahui adalah kapankah waktunya. Umur mahluk adalah mutlak hak Tuhan, tidak ada satupun mahluk yang tahu pasti. Kitab suci memang membeberkan bahwa ada mahluk yang diberi tangguh hingga hari kiamat, maknanya ia diberikan umur yang sangat panjang dan baru akan mati ketika kiamat tiba. Ingat, bukan abadi. Yang abadi hanya Allah Subhanahuwata’ala.

Lalu apakah mati itu ?. Mati adalah terpisahnya ruh dengan jasad. Selagi keduanya belum terpisah berarti masih hidup, belum mati. Kitabullah menjelaskan bahwa Allah menghidupkan kita dua kali dan mematikan kita dua kali  (QS. Al Baqoroh : 28 & QS. Al Mu’min : 11). Ruh tidak pernah mati, yang mati hanya jasad. Jasad kita yang akan mengalami dua kali kehidupan dan dua kali kematian. Kosa kata bahasa Indonesia sudah mendeskripsikan kata ‘mati’ dengan baik, dengan menyebutnya “meninggal dunia”, bahwa orang yang mati pada hakekatnya hanyalah meninggalkan dunia ini memasuki kehidupan berikutnya. Wallohua’lam.

Apakah Prabu Siliwangi Masih Hidup?

Secara hakikat, iya, beliau masih hidup. Perhatikan lagi penjelasan di dua alenia di atas. "Apakah kamu berfikir orang yang mati itu benar benar mati ?". Sekali kali tidak. Fakta lainnya adalah bahwa Saya masih mengulas salah satu bagian kisah hidup-nya, anda masih membaca kisah yang saya tuliskan tentang hidup-nya, itu hanya bukti paling sederhana bahwa beliau “masih hidup”.

Penutup

Anda yang masih membaca tulisan ini hingga ke titik l ini, mungkin masih bertanya dalam hati ‘Lalu Sebenarnya makam Prabu Siliwangi ada dimana ?’. Anda penasaran ? atau sekedar ingin tahu ?. Atau jangan jangan anda sudah benar benar tahu jawaban dari pertanyaan itu. Silakan simpan jawabannya untuk anda sendiri, karena orang lain juga tidak akan pernah (benar benar) percaya. Sebagaimana tidak percaya-nya anda pada tulisan saya. Sebaiknya memang begitu, karena bila anda percaya dengan tulisan saya nanti bisa bisa anda disebut syirik, karena percaya kepada selain Tuhan.

------------------------------

Baca Juga