Friday, April 12, 2013

Dan Tentang Sepasang Sendal Jepit


Sendal Jepit atau Sendal Jepang ? tak masalah apapun namanya. sudah pernah nyoba beli sendal jepit sebelah ?. atau pakai sendal jepit sebelah ?.
Sendal jepit, kain gantung, bakul berisi cucian dan tepian kali, properti yang pas banget dengan tokoh Jamilah gadis ayu anak Pak Lurah. He he he.

Tapi Iwan Fals, dalam salah satu lagu nya menyebut sendal jepit mewakili rakyat kecil mungil yang senantiasa terjepit. Tak terperhatikan, terpinggirkan, gurem, kampungan, diremehkan dan tak dianggap sama sekali.

Di beberapa mall, di pintu depannya di pasang rambu rambu dengan gambar sandal jepit di silang warna merah, artinya dilarang masuk mall dengan sandal jepit. Sempat terpikir sebegitu menghinanya pengelola mall tersebut sampai sampai membedakan strata sosial pengunjungnya dari sendal yang mereka pakai. Padahal larangan itu bukan untuk menghina lho, tapi untuk keselamatan pengunjung karena sendal jepit tidak aman untuk dipakai di eskalator.

Sendal jepit memang jenis alas kaki yang paling banyak dipakai di negeri ini. Sendal dari bahan busa padat eva sponge itu berkelana ke seantero negeri di bawah injakan kaki pemakainya. Jenis sendal ini mulai naik kelas ketika para bule hidung mancung berkulit putih yang suka bejubel di berbagai pantai sampai kampung wisata ternyata menyukai jenis sendal kampungan ini. Biasalah kalau sudah berurusan dengan bule selalu saja dianggap keren.

Tapi sendal jepit tetaplah sendal jepit. Yang dipakai para bule itu cuman secuil dari jenis sendal jepit yang sudah dimodif sedemikian rupa hingga bentuknya lebih menarik, warnanya lebih cerah, bergambar lebih indah dan mutunya jauh lebih baik dari sendal jepit kampungan yang biasa beserak di emperan masjid dan surau di tepian kampung.

Sekali namanya sendal jepit, tak kan penah dianggap pantas dipakai masuk ke istana negara. Bahkan ke gedung DPR sekalipun yang konon disebut rumah rakyat. Sendal jepit tetap saja dipakai dipinggiran kampung, kakus atau jamban, paling top dipakai untuk jum’atan dan taraweh, biar kalau ilang gak rugi rugi amat.

Padahal jenis sendal ini adalah sendal yang diproduksi masal paling banyak saban tahun. Bisnis sendal jepit itu gak ada matinya loh. Bagi para pedagangnya, sendal jepit itu tak lebih dari skedar objek dagangan atau obyekan, sammaaa persis seperti rakyat gurem yang biasa memakainya. Hanya dibutuhkan saat akan ada transaksi politik, berbau naik pangkat, beraroma proyek besar atau beraroma kucuran dana, setelah itu habis cerita. Sendal jepit kembali ke nasib nya, nasib untuk di injak telapak kaki dan direndahkan.

Padahal lebih dari itu, sendal jepit itu juga menyimpan makna kekuatan ikatan kesetiaan, kesetaraan, sinergi, kolaborasi dan kerelaan dalam bentuk yang sederhana.

Siapapun anda pastinya tak kan pernah menggunakan sendal jepit hanya sebelah saja dan sebelahnya nyeker atau pakai sepatu mahal. Anda juga akan ditertawakan atau setidaknya dipandang aneh bila memakai sendal jepit yang lain sebelah, apalagi kalau sampai memakai sendal kanan untuk kaki kiri dan sebaliknya.

Anda juga tak kan mau lagi menggunakan sendal jepit putus, meski yang putus hanya sebelah, padahal yang sebelahnya lagi masih utuh, tapi yang masih utuhpun ikutan teronggok tak terpakai lagi, ikutan status dengan yang sudah putus sebagai bekas sendal, seakan dia berkata “I can’t life without you honey” (aq gak bs hdp tanpa mu, syng)..ah.. sendal jepit pun ternyata bisa so sweet like that yak.

Atau mau mencoba pergi ke warung dan bilang “maaf bu, saya mau beli sendal jepit tapi yang sebelah kiri aja dan sudah ada bekas lekukan telapak kakinya ?”. Silahkan nikmati ekspresi aneh si ibu penjual sendal.

mungkin biar sendal jepit bisa benar benar nge-TOP kudu pesan film Laskar Sendal Jepit ke Riri Reza, atau bikin Partai Gurem beneran bernama Partai Sendal Jepit untuk orang orang yang senantiasa terjepit dan terhimpit . . . . ho ho ho

Oh ya, sendal jepit itu juga enak banget buat mewakili kemampuan pas pasan apalagi minim, dari siapapun dari profesi apapun dan dari lembaga atau instansi manapun dan dari kalangan manapun.

Apalagi yang berkempauan minim atawa pas pasan itu adalah yang kebanyakan pamer nya, sok sempurna, sok perfect, sok english, sok barat, sok sok – an lah pokoknya mah. Padahal kemampuanya cuman sebatas kemampuan sempurna untuk memakai sendal jepit kanan untuk kaki kanan dan sendal jepit kiri untuk kaki yang kiri.

Passss banget untuk dibilangin begini ni . . . . . . . “maaf ya, gak usah sok deh, kemampuan anda dan saya kan baru sebatas kemampuan manajerial sendal jepit”

Duh sendal jepit.

----------------

Note :
Aslinya artikel satu ini ku posting di “Almarhum” bujanglanang.multiply.com yang sudah ditutup oleh pengelola situsnya, masih beruntung tulisan yang sama juga ku posting di kompasiana hingga masih bisa di re-post disini.