Saturday, June 15, 2013

Catatan Kecil Tentang Muammar Khadafi

Muammar Khadafi di masa Jaya-nya
Ketika demonstrasi (kemudian berujung kepada pemberontakan bersenjata) di Libya mencuat, secara iseng saya menuliskan artikel Masjid Muammar Qaddafy yang ada di perumahan Bukit Az-zikra dibawah pengelolaan majelis zikirnya Ustadz Arifin Ilhan. Luar biasanya sejak tulisan itu di posting di bujangmasjid.blogspot.com hanya selang beberapa hari langsung ngacir ke puncak artikel paling banyak dibaca dan bertengger disana selama berbulan bulan. Bahkan hingga kini masih saja “digjaya”.

Sosok Muammar Khadafi memang fenomenal. Naik ke tampuk pimpinan Negara Libya melalui kudeta berdarah terhadap Raja Idris, pada saat beliau masih berpangkat Kolonel di tahun 1969. Mengapus monarki, membentuk republik Islam dan dirinya pun berubah menjadi “raja tak bermahkota” bagi suku suku bangsa di Afrika dengan mendrikan dan menjadi ketua organisasi Uni Afrika. Selama hidupnya beliau dihujat oleh bangsanya sendiri (bangsa Arab) dan dunia barat sebagai dictator Afrika, hingga dikucilkan dalam pergaulan dunia Arab.

Libya memang tak berada di semenanjung Arabia tapi berada di Afrika utara bersama Maroko, Tunisia, Aljazair, Mesir, dan Sudan, namun dari sisi etnis Negara Negara tersebut merupakan bagian dari bangsa Arab, berbahasa Arab dan bertradisi arab.

Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang selalu bergaya nyentrik, sikapnya juga tak biasa, saking tak biasanya dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Prancis, Dia malah mengundang pesta makan malam para top model Eropa untuk hadir dalam pesta itu, di sela sela pesta beliau berceramah tentang Islam dan semua top model model cantik dan seksi yang hadir dihadiahi kitab suci Al-Qur’an sebagai Cinderamata. Beberapa dari tamu tamu cantik itu pada ahirnya memang mendapatkan hidayah setelah malam yang aneh itu.

Muammar Khaddafi juga pernah membuat “diktator Filipina” Ferdinand Marcos dan istri “kalang kabut” ketika Dia berencana berkunjung ke Negara di utara pulau Sulawesi itu. Imelda Marcos langsung berinisiatif membangun sebuah masjid agung di pusat kota Manila untuk menyambut kedatangan “Raja Afrika” itu. Kunjungan itu tak pernah terjadi, tapi berita baik bagi (minoritas) muslim Kota Manila karena Masjid Al-Dahab sebagai masjid terbesar di Manila ahirnya terwujud atas prakarsa dan pembangunannya dibawah pengawasan langsung ibu Negara.

Masjid Muammar Qaddafy di Sentul – Bogor, memang dibangun dengan dana dari Libya dan nama masjid itupun memang dinisbatkan kepada pemimpin Negara tersebut. Muammar Khaddafi ahirnya juga menemui takdirnya “Di Kudeta” oleh rakyatnya meski tak mudah menggulingkan sang dictator sampai ahirnya dia tewas setelah “dikeroyok” pasukan pemberontak di dukung serangan udara pasukan Amerika dan sekutu Eropa-nya.

Begitu banyak yang berduka ketika beliau wafat dan begitu banyak pula yang bergembira ria. Jemaah majelis zikir Az-Zikra dan begitu banyak jemaah masjid di berbagai Negara yang dibangunnya, jemaah LSM dan Organisasi dakwah yang sekian lama di “bekingi” oleh NYA juga turut berduka. Di ujung cerita, Masjid Muammar Qaddafy di Sentul – Bogor yang kutulis artikelnya itupun, ahirnya berganti nama menjadi Masjid Az-Zikra, tapi aku tetap saja enggan untuk mengganti judul Artikel-ku. Bagaimanapun, Muammar Khadafi memang Wow.***