Monday, June 24, 2013

Dan Dengan Bangga Dia Bopong Sendiri Jenazah Putranya Ke Pemakaman

Mendiang Hasan Al-Bana

Sejarah Nasional mencatat bahwa Mesir dan Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Kedua negara ini bahkan mendukung kemerdekaan Indonesia jauh sebelum di proklamirkan pada 17 Agustus 1945. Tapi tahukah anda bahwa tokoh penting dibalik pengakuan itu  ?. Dia adalah  Hasan Al-Bana. Tokoh yang semestinya anda kenang setiap kali anda membaca Al-Ma’surat.

Hasan Al-Bana, Lahir di Mahmudiya kota kecil sebelah barat-daya Kairo tanggal 14 Oktober 1906. Sejak kecil di didik oleh ayahnya  Shaykh Ahmad Abdul Rahman al-Banna al-Sa'ati sebagai seorang pendakwah ulung dan mujahid tulen. Menyampaikan dakwah islam dengan cara yang arif dan santun dari warung kopi hingga ke emperan masjid. Beliau mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin yang dikemudian hari berkembang menjadi sebuah organisasi yang paling berpengaruh dan ditakuti oleh pemerintahan "boneka Mesir" dan Pemerintah penjajahan Inggris disana.

Ikhwanul Muslimin memainkan peran sentral dalam perang Arab-Israel tahun 1936-1939 perjuangan yang teramat berat dalam membebaskan bumi Palestina dari cengkraman Yahudi Israel. Sepulang dari Palestina, anggota Ikhwanul Muslimin mendapatkan hadiah "luar biasa" dari pemerintah Mesir berupa Penjara dan hukuman mati atas berbagai tuduhan yang direkayasa oleh antek para penguasa saat itu yang ketar ketir akan kehilangan kekuasaan dengan semakin berkibarnya gerakan Ikhwanul Muslimin.

12 Februari 1949 di Kairo, Hasan Al-Bana bersama Iparnya Abdul Karim Mansur diundang untuk melakukan perundingan oleh pemerintah yang diwakili oleh Menteri Zaki Ali Basha, namun sang menteri tak pernah kunjung datang, yang datang kemudian adalah dua orang pria bersenjata lengkap memberondong beliau dengan peluru saat menunggu taksi untuk meninggalkan tempat perundingan yang dijanjikan.

Abdul Karim Mansur bersusah payah membawa Hasan Al-Bana ke Rumah sakit di Kairo namun tak seorang pun para medis yang siap menolong karena takut ancaman peluru tentara. Hasan Al-Bana tak tertolong. Pemerintah bahkan melarang pelayat untuk melayat dan mengantar jenazahnya ke pemakaman layaknya seorang pejuang. Shaykh Ahmad Abdul Rahman al-Banna al-Sa'ati, ayahanda Beliau yang kemudian membopong sendiri jenazah putranya dengan bangga ke pemakaman tanpa setetespun air mata duka, dibawah pengawalan ketat Aparat militer bersenjata.

Hasan Al-Bana memang telah lama pergi namun gaung perjuangannya membahana keseluruh pelosok penjuru dunia. Pemerintah di berbagai negara bergidik ngeri mendengar nama Organisasi yang didirikannya itu. Perjuangan Hasan Al-Bana untuk muslim Mesir tak sia sia, meski dia bahkan tak mendapatkan penghormatan yang layak saat pemakamannya namun di suatu hari di tahun 2012 organisasi yang didirikan-nya memenangkan pemilu paling demokratis pertama di Mesir dan kini para penerusnya menduduki tampuk Pemerintahan Negara yang dulu “meng-eksekusi” diri-Nya.***