Tuesday, June 11, 2013

KH. WAHAB HASBULLAH, (Bukan) Pahlawan Nasional, Tokoh Pendiri Nahdlatul Oelama

KH. WAHAB HASBULLAH

Namanya KH. WAHAB HASBULLAH, Lahir di Jombang 31 Maret 1888 dan wafat pada saat usiaku baru 9 bulan. Nama yang tak kan anda temukan di daftar pahlawan Nasional, meskipun semestinya anda akan mengingatnya setiap kali anda berziarah ke Makam Rosulullah di Madinah, dan ketika mendengar Nama “Nahdlatul Oelama”.

Di Eropa, Emperium Usmaniah di Istanbul-pun runtuh pada 3 Maret 1924. Di Semenanjung Arabia, negara baru Hejaz & Najd (kini bernama Saudi Arabia) berdiri dengan sokongan kuat gerakan Wahabi yang kemudian melakukan penghancuran pemakaman para syuhada di Baqi termasuk di dalamnya makam khalifah Usman dan cucu baginda Rosulullah.

Rencana penghancuran berikutnya adalah kubah hijau masjid Nabawi bersama tiga makam dibawahnya yakni Makam Baginda Rosullah, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Pemerintahan baru itu juga melarang ajaran empat mazhab yang sudah ada.

Di tanah Jawa yang masih menjadi bagian Hindia Belanda, KH Wahab Hasbullah berinisiatif membentuk komite Hejaz untuk menemui raja baru tanah Arab itu guna menghentikan penghancuran makam nabi, pelarangan mazhab dan isu isu sentral lainnya. Sebuah gagasan yang kemudian melahirkan “Nahdlatul Oelama” organisasi Islam terbesar di Hindia Belanda yang dan tetap bertahan sebagai organisasi Islam terbesar ketika dikemudian hari Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia.

Tahun 1926, KH Wahab Hasbullah berangkat ke Arabia sebagai utusan NU, organisasi yang dibidani-nya tanpa sengaja, dan berhasil dengan gemilang dalam misi yang diembannya, beliau kembali ke tanah air dua tahun kemudian setelah menyempatkan diri menimba ilmu dari oelama2 terkemuka disana, beliau membawa surat resmi raja Ibnu Saud. Salah satu hasilnya adalah : “kita masih bisa mengunjungi makam Rosulullah hingga hari ini”

Namun seperti saya bilang di awal tadi, jangan pernah mencari nama Sang Kyai dalam daftar pahlawan Nasional Republik Indonesia, karena anda takkan pernah menemukannya, meskipun beliau juga mengabdikan hidupnya sebagai Panglima Pasukan Laskar Mujahidin dalam perang Kemerdekaan . . . . .

Salam Hormat untukmu Pak Kyai.