Tuesday, December 2, 2014

Dialog Orang Mati

ilustrasi
Terlalu rumit untuk bicara tentang takdir, qodho & qodar, apalagi perencanaan yang rumit tentang sebuah kejayaan hidup. Suka atau tidak suka inilah salah satu penggalan kisah hidup yang harus di hadapi, dijalani dan dilewati, sepelik apapun itu.

Sore itu, bakda sholat magrib, aku duduk di kursi di teras depan kediaman kami yang mungil di hadapan serakan kertas putih di atas meja bundar. Kediaman kami memang mungil, seluruh bagian terasnya sudah diatapi dengan asbes, ditembok kiri dan kanan dan dipagar bagian depannya menyisakan satu pintu akses kecil. Sekitar sepertiga dari nya ada kolam ikan hias yang sudah kubuat sejak pertama kami menempati rumah tersebut, dan kupertahankan hingga kini.

Seorang lelaki berpakaian safari & berkopiah putih berkain sarung datang mengucapkan salam. Lalu kujawab “wa’alaikum salam”. Beliau menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk menyampaikan terima kasih padaku. “terima kasih untuk apa pak ?” tanyaku. Beliau bertutur bahwa, dia sudah menghabiskan waktu begitu lama untuk menjejak keberadaan keponakan-nya yang entah ada dimana, sampai kemudian dia mendapat kabar bahwa keponakannya tinggal bersama kami.

Kedatangan beliau sekaligus untuk menitipkan keponakannya padaku, selain itu beliau juga menyampaikan undangan untuk ku, bila ada kesempatan untuk mampir dan beramah tamah di pesantren yang dikelolanya. Tanpa menyebutkan nama diri dan pesantrennya dengan jelas, dan kemudian pamit. Sebuah dialog yang terlalu membingunkan.

Aku tidak sedang melamun, mengantuk apalagi tertidur dan sangat sadar bahwa aku tidak sedang bermimpi, berhayal atau berhalusinasi. Hayalan pengangguran pastinya tentang sumber mata pencaharian bukan tentang tamu aneh yang berbicara soal hal yang aneh. Terlalu aneh karena beliau datang dan pergi sekoyong koyong entah darimana dan kemana. Tak ada tanda pintu pagar telah membuka dan menutup. Dialog tanpa suara dan tanpa bekas.
Aku sempat menuliskan beberapa nama di selembar kertas yang terserak di meja di depanku. Tahukah anda tentang sesuatu ?. bahwa pada saat anda membuka dialog dengan siapapun, itu seperti menyambungkan kabel data dari sebuah network ke komputer anda. Anda akan mampu membaca data yang ada di network yang terhubung dengan anda, begitupun sebaliknya.

Tamuku malam itu seakan membiarkan database memorinya terbuka untuk dibaca, tentang siapa dia [selain namanya], tentang lokasi pesantrennya, kediamannya, keluarganya, intrik yang terjadi di dalamnya dan seterusnya, namun beliau mengunci habis tentang siapa “namanya”.

Mbah google sempat membawaku ke satu blog yang menampilkan sejarah singkat pesantren yang dikelolanya sampai kemudian bagian itu [seakan dengan sengaja dan terburu buru] dihapus oleh admin nya, meskipun tak terlalu sulit untuk menemukan wajahnya dari sekian banyak foto aktivitas pesantren yang sengaja di simpan disana.

Akal waras akan berasumsi gila bagi penulis yang bercerita panjang lebar tentang sebuah dialog yang tanpa suara, tentang seseorang yang datang berterima kasih telah menerima seseorang sebagai anggota keluarga kami padahal tak ada orang lain yang tinggal bersama kami selain aku, istri dan anak anak kami.

Terlalu kentir untuk dijelaskan kenapa kemudian aku membuat sketsa seorang remaja putri cantik bergaun putih dengan rambut sebahu, usianya kira kira sepantaran dengan putri sulung-ku. Lalu tanpa sadar aku menyahuti panggilan suara anak perempuan yang memanggilku “ayah” . . . . Selasa, 2 Desember 2014……..

[Bersambung].

---------

Baca Juga