Tuesday, December 23, 2014

Cina Bangun Museum Alquran

Penduduk Muslim, Dongxian, China

Pemerintah Kabupaten Ototnomi Dongxiang, Provinsi Gansu, China, akan menghabiskan dana 4 juta yuan (636.000 US. Dolar) untuk membangun sebuah museum guna melestarikan salinan Alquran yang diperkirakan berusia seribu tahun lebih.

Seperti diberitakan laman Xinhua, Jumat (17/2/2012), Seorang Pejabat dari Dongxiang mengatakan uang tersebut akan digunakan untuk membangun sebuah museum 800 meter persegi dengan ruang pameran, sistem tampilan digital dan sistem pengawasan.

Museum ini akan menggunakan metode canggih untuk melestarikan dokumen kuno dan memperlambat kerusakannya. Pembangunan museum ini dijadwalkan untuk mulai pada bulan April dan akan selesai pada akhir tahun.

Salinan Quran kuno, yang ditulis dalam bahasa Arab dan terdiri dari 536 halaman, ditemukan di Dongxiang tahun 2009. Para ahli dari China, Inggris dan Jepang menganalisis dokumen tersebut, mengatakan tidak tertutup kemungkinan dibuat antara abad ke 9 dan 11.

Manuskrip Al-Quran, di masjid Dong Si, Abad 8-13 Lampau

"Salinan telah diklasifikasikan sebagai 'kelas A' benda budaya dibawah perlindungan nasional dan kemungkinan menjadi salah satu salinan paling awal dari Al Qur'an yang ada," kata Imam Ma Qingfang, pemimpin agama setempat.

Ma mengatakan ia telah menolak tawaran luar untuk dokumen itu, ia percaya itu sangat berharga dan menyebutnya sebagai "kitab jiwa" rakyat Dongxiang.

Menurut Ma, daerahnya memiliki 46 salinan Al-Quran, serta beberapa buku yang menjelaskan dokumen, beberapa diantaranya sudah berumur ratusan tahun.

"Dokumen ini sangat penting bagi studi sejarah kelompok etnis Dongxiang, sejarah Islam di Cina dan peradaban Cina," kata Chen Hailong, wakil kepala daerah Dongxiang.

Chen mengatakan, sebagian uang digunakan untuk membangun museum akan dibiayai oleh pemerintah daerah, sedangkan pemerintah Provinsi Gansu dan pemerintah pusat juga akan memberikan kontribusi.