Tuesday, May 7, 2013

Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

Ilustrasi Wajah Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati bernama asli Syarif Hidayatullah merupakan salah satu dari Sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo. Gunung Jati yang menjadi gelar nya itu diambil dari nama gunung (sebenarnya hanya sebuah bukit) bernama Gunung Jati di kota Cirebon. Di puncak bukit tersebut beliau dimakamkan. Selain sebagai wali songo, Sunan Gunung Jati juga merupakan sultan pertama dari Kesultanan Cirebon yang didirikannya atas dukungan penuh dari Kesultanan Demak di tahun 1478.

Sejarah Cirebon dengan jelas mencatat jatidiri dan silsilah Sunan Gunung Jati yang nasabnya dapat dirunut hingga ke Rosulullah S.A.W. Dari garis Ayah Sunan Gunung Jati merupakan putra dari Syarif Abdullah bin Nur Alam (atau Nurul Alim) dari Bani Hasyim. Sedangkan dari garis ibu, beliau merupakan putra dari Nyi Rara Santang (Syarifah Muda’im) Binti Prabu Jaya Dewata atau Raden Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi II.

Meski terdapat perbedaan nama, dari berbagai literature termasuk sejarah nasional di buku buku pelajaran sekolah di tanah air, Sunan Gunung Jati tercatat sebagai salah satu anggota dewan mubaligh Wali Songo yang berasal dari tanah Arab dan dapat di runut nasabnya hingga ke Rosulullah S.A.W.

Namun unik dan menariknya ada satu sumber sejarah yang menampilkan nasab Sunan Gunung Jati yang sama sekali berbeda. Sebuah silsilah yang menempel di tembok Kelenteng Talang di kota Cirebon menjelaskan silsilah Tan Sam Cay, pendiri kelenteng tersebut hingga ke Hayam Wuruk raja terbesar Majapahit.

Dalam silsilah tersebut disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati merupakan putra Sultan Trenggono (Sultan Demak ke tiga) dari Istrinya yang berasal dari Cina anak perempuan Swan Liong. Dengan sendirinya bila kita mengikuti silsilah ini dapat disebut bahwa Sunan Gunung Jati merupakan sunan berdarah Jawa-China.

Sunan Gunung Jati bukan satu satunya tokoh Islam tanah Jawa yang disebutkan dalam silsilah tersebut. disebutkan juga bahwa Raden Patah, Sultan Demak pertama disebut-sebut sebagai Pangeran Jin Bun, dan dikatakan sebagai anak Kertabumi (Raja yang memerintah Majapahit pada 1474 – 1478) dari seorang isteri Cina, anak babah Ban Hong.

Sebuah catatan yang cukup mencengangkan karena sama sekali bertentangan dengan arus utama catatan sejarah yang sekian lama dibukukan di tanah air. Sejarah Cirebon sendiri dengan tegas meyebutkan “Peran dakwah Syarif Hidayatullah didengar sampai di Kerajaan Demak yang baru berdiri 1478M. Dia kemudian diundang ke Demak dan ditetapkan sebagai “Penetap Panata Gama Rasul” di tanah Pasundan dengan gelar Sunan Gunung Jati, sekaligus berdirilah Kesultanan Pakungwati dengan gelar Sultan”.

Dari catatan tersebut jelas bahwa Sunan Gunung Jati hidup semasa dengan sultan Demak pertama yakni Raden Fatah. Mereka naik sebagai Sultan-pun di masa yang hampir bersamaan di dua kesultanan yang berbeda. Sultan Trenggono sendiri adalah putra ketiga Raden Fatah yang naik tahta setelah kakaknya Pangeran Sebrang Lor atau Pati Unus gugur dalam penyerbuan melawan Portugis.di Malaka. Dimasa pemerintahan Sultan Trenggono, Sunan Gunung Jati bahkan memainkan perang penting dalam penyerbuan ke Sunda Kelapa oleh pasukan gabungan Cirebon dan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah.***