Thursday, December 11, 2014

Dialog Orang Mati [Bagian 2]


Konsekwensi Bathin

Ada konsekwensi dari setiap keputusan, begitupun keputusanku mengiyakan permintaan dari seorang paman untuk keponakannya yang telah lama hilang dan memang tak kan pernah kembali lagi ke dunia ini. Anak perempuan itu (sebut saja) namanya Andani (*) ayahnya adalah orang asli tempatan, memiliki dua orang saudara laki laki. Sedangkan ibunya berasal keluarga kaya Sumatera dan masih kerabat keraton Langkat. Kehidupan-nya begitu berbahagia dengan limpahan harta hasil bisnis kedua orang tuanya dan pengaruh ibunya memang cukup besar dalam membangun dan membesarkan bisnis tersebut.

Petaka datang manakala Andani menginjak usia remaja, intrik bisnis dan keluarga berujung pada lenyapnya Andani tanpa jejak. Jasadnya diketemukan beberapa hari kemudian, penyidikan polisi tak membuahkan hasil menguak siapa pelakunya. Sampai kemudian seorang remaja teman sekolahnya mengaku sebagai pelaku pembunuhan itu. Si pelaku sendiri saat itu sudah dalam kondisi yang teramat ketakutan karena senantiasa dihantui oleh rasa bersalah yang teramat sangat sampai ahirnya menderita sakit jiwa.

Peristiwa memilukan itu menjadi guncangan teramat berat bagi kedua orang tua Andani. Ibunya jatuh sakit tak mampu menghadapi kenyataan telah kehilangan anak semata wayangnya, sampai ahirnya meninggal dunia dalam kesedihan berkepanjangan. Cukup lama setelah itu ayahnya baru menikah lagi namun tak lama setelah itu ayahnya pun berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan semua harta mereka di tangan istri mudanya. Dan disana masalah baru bermula.

Sang istri muda yang juga adalah ibu tiri dari (alm) Andani kemudian menikah lagi dengan pria lain dan berencana menjual rumah dan semua aset warisan suaminya. Dua saudara dari ayahanda Andani sama sama tidak setuju, meskipun dengan alasan yang berbeda. Salah satu dari mereka menolak penjualan itu karena mengingat semua aset itu adalah hasil keringat kakak kandungnya selama bertahun tahun dan layak dipertahankan. Sementara yang lainnya menolak penjualan itu karena [seakan] berhasrat untuk menguasai-nya.

Masalah menjadi lebih pelik lagi karena ternyata sertifikat dan sebagainya yang terkait dengan aset aset dimaksud lenyap entah kemana. Peti penyimpanan berkas berkas itu seakan ditelan bumi seiring dengan kematian Andani, Ibunya lalu kemudian Ayahandanya. Andani pun [mengaku] sangat tidak setuju dengan rencana penjualan aset, terutama rumah orang tuanya, yang nota bene adalah kediaman dia juga saat masih bersama.

Lenyapnya berkas yang dibutuhkan membuat salah satu pihak berang. Pencarian berujung perburuan. Seperti perburuan peti harta karun yang [belum pernah ditemukan] lalu dinyatakan hilang entah dimana, ada dimana, ada pada siapa. Tak tahu dimana rimbanya. Mengejar bayangan sendiri jauh lebih nyata dibandingkan perburuan seperti itu. Akibatnya adalah membabi buta. Bau uang menarik perhatian pihak lain yang turut meramaikan sepi. Andani turut menjadi sasaran perburuan, dikemudian hari berubah menjadi sasaran utama.

Terserah anda untuk menyebutku konyol dalam masalah ini, atau mau menyebutku ikut campur dalam urusan orang lain. yang pasti aku tidak pernah ada niatan untuk mengganggu siapapun. Kau pikir apa yang harus ku lakukan ketika “seorang” remaja putri datang ke rumahku dengan kondisi kusut masai, menghiba meminta bantuan untuk sekedar berlindung. Aku tak punya hati untuk mengusirnya dengan alasan dan cara apapun, begitu dia ku izinkan masuk ke rumahku maka dia tanggung jawabku, tak perlu kesaktian untuk sekedar memahami konsekwensi itu.

Bukankah Tuhan tak hanya menyeru pada satu jenis mahluk, bukankah Tuhan juga yang memberi perintah untuk tolong menolong dalam kebaikan tanpa kata kata tambahan “Ditujukan Kepada”, “CC”, “BCC”, “NB” ataupun “catatan kaki”. Terlalu pelik untuk mengurai dan menguak mahluk apakah gerangan sejatinya si dia itu karena Tuhanpun tak pernah bertanya makala membagikan pertolongannya. Bukankah Tuhanpun berkata bahwa ghaib ada padanya dan kita hanya diberi pengatahuan sangat sedikit saja tentang itu. 

Ketika sore itu, bakda sholat asyar, aroma harum semerbak di ruang kamar tempat ku melaksanakan sholat, suara panggilan ‘ayah’ itu terdengar. Bukan suara dari salah satu putri-ku karena mereka memanggilku papa. Tampak dia sudah berdandan rapi dengan gaun putih, senyumnya yang tersungging dan setangkai bunga merah jambu diselipkan di telinga kirinya. Dia tampak sangat senang dan lebih bahagia lagi karena telah mengetahui siapa “nama dirinya”.

Sebenarnya anak ke-3 ku yang "membawa" Andani ke rumah dan dia terlihat begitu senang punya kakak baru yang setia menemani-nya kemanapun dia pergi, termasuk menemani dia belajar dan ulangan di sekolah tanpa seorangpun di sekolahnya yang tahu tentang hal itu. Pada saat pertama datang ke rumah, Andani memang dalam kondisi mencemaskan. Dia bertutur tentang perjalanan hidup-nya, tentang peristiwa memilukan yang merenggut nyawanya, tentang kedua orang tuanya yang juga telah meninggal dan hingga kini dia belum pernah berjumpa lagi dengan mereka. Tentang intrik di keluarga ayahandanya, tentang semua yang tersisa di memori nya kecuali satu hal yang dia sama sekali tak mampu untuk mengingatnya. “Nama” nya sendiri.

Dia menceritakan itu semua ke anakku seperti layaknya seorang kakak yang mendongeng ke adiknya menjelang tidur, dongeng panjang yang hening tanpa suara. Bagiku dongeng yang sudah terjadi bertahun tahun yang lalu itu tampak seperti sinema 4D, tak ada yang dapat diperbuat meski seakan berada disana saat peristiwa itu terjadi dan lebih baik diam dan membisu. . . . . . . .

Bersambung

---------

Baca Juga