Wednesday, May 15, 2013

Gunung Sanggabuana

Sangga Buana, ada sederet pemakaman tua di puncaknya
Gunung Sanggabuna (1291 Meter Dari Permukaan Laut – MDPL) adalah gunung tertinggi dan satu satunya gunung yang ada di dalam wilayah Karawang. Satu gunung dengan dua identitas yang sangat kental. Bagi paramiliter gunung ini dikenal sebagai kawah candradimuka pelatihan perang gunung. Sedangkan bagi paranormal dikenal sebagai salah satu tempat semadi melanglangbuana di dunia bathin.

Namun, bagi para pendaki gunung pro bisa jadi gunung ini hanyalah tempat plesiran atau sekedar persinggahan. Karena memang tak masuk dalam daftar gunung paforit untuk di daki oleh para pendaki. Tak perlu repot repot untuk bawa tenda naik ke puncak gunung ini kecuali bila memang dengan sengaja untuk tidak melalui jalur pendakian normal.


View puncak gunung sanggabuana in a larger map

Jalur pendakian ke gunung ini biasanya melalui dua jalur yang sudah umum dikenal. Yakni melalui jalur Cariu Kabupaten Bogor dan Melalui Rute Cigentis di Kabupaten Karawang. Jalur pendakian dari Cariu memang lebih singkat dibandingkan dengan jalur dari Karawang namun dengan tingkat kecuraman yang relative sama.

Mendaki ke gunung Sanggabuana bagi para pemula atau bagi mereka yang baru memulai lagi mendaki gunung setelah sekian belas tahun gantung sepatu sepertiku memang bukanlah hal yang mudah. Medan yang curam yang harus dilalui mencapai 80% dari keseluruhan jalur pendakian dari arah Karawang. 

medan yang dilalui memang cukup berat. seluruh tenaga terkuras saat mendaki dengan seluruh badan lemes lunglai. turunnya bikin dengkul dan baha nyeri karena menahan berat badan menuruni turunan terjal terus menerus.
Beberapa titik bahkan tidak lagi dapat disebut mendaki tapi memanjat karena medannya yang tegak lurus hingga harus berpegangan ke akar akar pohon yang malang melintang. Sebagian besar rute yang dilalui adalah laluan air hujan, jadi harus sangat hati hati saat melakukan pendakian dikala hujan atau setelah hujan, karena rute yang sangat licin.

Mendaki dari arah Karawang, kita akan melewati beberapa sungai sungai kecil alami dengan airnya yang jernih dan sejuk, sangat menggoda untuk sekedar berhenti sejenak, cuci muka atau bahkan untuk minum airnya yang jernih itu. Ada beberapa warung di sepanjang rute pendakian yang buka 24 jam meski tidak semuanya beroperasi setiap hari.

pendakian ke Sanggabuna tidak hanya dilakukan oleh anak anak muda, Pak tua satu ini bergabung dengan kami saat turun dari sana. lumayan katanya, biar punya temen yang jalannya sama sama alon alon asal klakon.
Dari tiga warung persinggahan yang kami lewati semuanya berada tak jauh dari sumber air berupa aliran sungai lengkap dengan pancurannya. Sekitar setengah perjalanan dari arah karawang kita akan berjumpa dengan satu komplek makam tua yang disebut sebut sebagai makam Langlangbuana. Makam Langlangbuana berada di bawah rimbun beberapa pohon yang tinggi besar menjulang. Ada beberapa pondokan disini bisa dijadikan tempat singgah istirahat sebentar. Hanya beberapa meter dari pondokan ada pancuran yang terkenal dengan nama pancuran air mata ibu.

Di warung terahir sebelum mencapai puncak gunung Sanggabuana, butuh sedikit perjuangan untuk mencapai sumber airnya yang disebut pancuran emas, dengan menuruni jurang dibelakang warung tersebut. Leluasa untuk mandi disini meski harus ekstra hati hati karena aliran airnya yang sangat deras dari ketinggian, ditambah lagi di sebelah hilirnya hanya berapa meter aliran airnya membentuk jeram yang menimbulkan suara gemuruh cukup keras.

gunung langseng begitu urang sunda menyebut gunung lancip sebelah kanan itu karena bentuknya yang memang mirip dengan alat pengukus nasi tersebut. 
Setengah dua belas malam lewat beberapa menit kami baru tiba di puncak gunung ini. sangat lambat untuk ukuran mereka yang sudah biasa mendaki, bahkan jauh lebih lambat dibandingkan dengan dua pendaki yang salah satunya sudah sangat sepuh (alias sudah aki aki ) yang menyalib kami saat separuh perjalanan.

Tak percuma perjuangan hanya bermodal semangat pantang menyerah ahirnya sampai juga. Si Kakek dengan hangat menyambutku ketika aku tiba di puncak, beliau sudah dengan santai menyantap kambing bakar bersama sekelompok pendaki lainnya di salah satu pondokan disana. Wuah.

hutan hujan tropis yang masih terawat di gunung sanggabuana
Hutan gunung Sanggabuana masih cukup terawat. Di hutan gunung ini kita masih dapat menikmati pepohonan yang tumbuh liar hingga mencapai ketinggian puluhan meter berjejer disana. Bahkan pepohonan sebesar truk yang bila kita berdiri di pangkal pohonnya akan terlihat sangat kecil dibandingkan pohonnya, masih bisa ditemui disini.

Sayangnya kawasan hutan ini belum masuk katagori sebagai kawasan hutan yang dilindungi. Di bulan September 2012 yang lalu camat Tegal Waru Meminta Sanggabuana dijadikan Hutan Lindung kepada Perhutani. Agar status kawasan hutan gunung Sanggabuana yang selama ini masuk dalam katagori hutan produksi di ubah menjadi hutan lindung untuk mencegah meluasnya kerusakan hutan di Karawang Selatan.

Mendaki gunung memang sangat melelahkan. Namun terbayar dengan pengalaman yang diperoleh selama dan sesudahnya. Pemandangan indah sepanjang perjalanan hanya salah satu hal yang dapat langsung dinikmati sebagai pengobatnya, namun lebih dari itu kita diberikan kesadaran bahwa “semakin tinggi kita berada semakin lebar sudut pandang yang kita peroleh”, atau bila di balik “bila menginginkan sudut pandang yang lebih luas, naiklah lebih tinggi” begitu juga dengan kehidupan kita.***