Friday, October 9, 2015

Ayat Ayat Do'a Di dalam Al-Qur'an


Berdo’a merupakan salah satu perintah dari Allah Subhanahuwata’ala yang dinyatakan dengan tegas di dalam kitab suci Al-Qur’an. salah satunya yang paling popular adalah pernyataan Allah yang berbunyi “berdo’alah kepaku niscaya akan aku kabulkan”. berikut ini nukilan terjemah ayat al-qur’an yang tentang do’a do’a berikut dengan asbabun nuzulnya. semoga bermanfaat.

Kata “Shalat” = Berdoa

(Yaitu) mereka yang beriman [13] kepada yang ghaib [14], yang mendirikan shalat [15], dan menafkahkan sebahagian rezki [16] yang Kami anugerahkan kepada mereka. (Al-Baqarah [2] ayat 3)

[13] Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
[14] Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghjaib yaitu, meng-i'tikadkan adanya sesuatu "yang maujud" yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, Malaikat-Malaikat, Hari akhirat dan sebagainya.
[15] Shalat menurut bahasa 'Arab: doa. Menurut istilah syara' ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu', memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.
[16] Rezki: segala yang dapat diambil manfa'atnya. Menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari'atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.

Orang Yahudi sebelum Islam bertawasul kepada Nabi Muhammad S.A.W

Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka [70], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Al-Baqarah [2] Ayat 89)

[70] Maksudnya kedatangan Nabi Muhammad SAW yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diketengahkan oleh Hakim dalam Mustadrak dan Baihaqi dalam Dalalail dengan sanad yang lemah dari Ibnu Abbas, katanya, Orang-orang Yahudi Khaibar memerangi suku Gathafan, tetapi setiap bertempur, Yahudi menderita kekalahan. Maka mereka pun berlindung dengan memanjatkan permohonan ini, "Ya Allah! Kami mohon kepada-Mu, demi kebenaran Muhammad, nabi yang ummi yang Engkau janjikan kepada kami, agar Engkau membangkitkannya bagi kami tolonglah kami agar menang atas mereka." Setiap kali bertempur mereka berdoa seperti ini sehingga akhirnya berhasil mengalahkan orang-orang Gathafan. Maka tatkala Nabi saw. dibangkitkan Allah, mereka kafir dan Allah pun menurunkan ayat, "Padahal sebelumnya mereka biasa memohon kemenangan terhadap orang-orang kafir dengan kedatanganmu hai Muhammad!" (Q.S. Al-Baqarah 89) Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Yahudi Madinah biasa memohon kemenangan terhadap orang-orang Aus dan Khazraj atas nama kedatangan Rasulullah saw. sebelum kebangkitannya. Maka setelah Allah membangkitkannya dari golongan Arab, mereka kafir kepadanya dan membantah apa yang pernah mereka katakan mengenainya. Maka kata Muaz bin Jabal, Bisyr bin Barra dan Daud bin Salamah kepada mereka, "Hai golongan Yahudi! Takutlah kamu kepada Allah dan masuk lslamlah! Bukankah selama ini kamu meminta kedatangan Muhammad untuk membantu kamu terhadap kami, yakni sewaktu kami berada dalam kesyirikan, kamu katakan bahwa ia akan dibangkitkan bahkan kamu lukiskan sifat-sifatnya!" Jawab Salam bin Misykum, "Ia tidak membawa ciri-ciri yang kami kenal dan dia bukanlah seperti yang kami sebutkan kepadamu dulu." Maka Allah pun menurunkan, "Dan tatkala datang kepada mereka Kitab dari sisi Allah sampai dengan akhir ayat." (Q.S. Al-Baqarah 89)

Boleh berdo’a di Makam Ibrahim a.s

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim [89] tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (Al-Baqarah [2] ayat 125)

[89] Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka'bah.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diriwayatkan oleh Bukhari dan lain-lainnya dari Umar, katanya, "Jalan pikiranku sesuai dengan kehendak Tuhanku dalam tiga perkara. Aku katakan kepada Rasulullah saw., 'Bagaimana jika Anda ambil sebagian makam Ibrahim sebagai tempat salat?' Maka turunlah ayat, 'Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim sebagai tempat salat.' (Q.S. Al-Baqarah 125). Kata aku pula, 'Wahai Rasulullah! Yang masuk ke tempat para istri Anda itu ialah orang baik-baik dan orang jahat. Bagaimana kalau mereka Anda suruh memakai hijab?' Maka turunlah ayat mengenai hijab. Kemudian istri-istri Nabi berdiri dalam satu barisan menentang beliau disebabkan rasa cemburu. Maka aku katakan kepada mereka, 'Siapa tahu kalau-kalau beliau menceraikan kalian, maka Tuhannya akan mengganti kalian dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian!' Maka turunlah pula ayat seperti ini." Riwayat ini mempunyai jalur yang banyak, di antaranya ialah yang dikeluarkan oleh Ibnu Hatim dan Ibnu Murdawaih, dari Jabir, katanya, "Tatkala Nabi saw. melakukan tawaf, berkatalah Umar kepadanya, 'Bukankah ini makam bapak kita, Ibrahim?' Jawabnya, 'Memang benar.' Kata Umar pula, 'Kenapa tidak kita jadikan tempat ini sebagai tempat salat.' Maka Allah pun menurunkan, 'Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim sebagai tempat salat!'" (Q.S. Al-Baqarah 125). Diketengahkan pula oleh Ibnu Murdawaih, dari jalur Amar bin Maimun, dari Umar bin Khattab, bahwa ia lewat id makam Ibrahim, maka tanyanya, "Wahai Rasulullah! Tidakkah kita akan berdiri di makam Ibrahim berdoa kepada Tuhan kita dan Tuhan Nabi Ibrahim?" Jawabnya, "Benar." Kata Umar, "Bagaimana kalau kita jadikan tempat ini sebagai tempat salat." Tidak lama kemudian turunlah, "Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim sebagai tempat salat!" (Q.S. Al-Baqarah 125). Keterangan ini dan yang sebelumnya pada lahirnya menunjukkan bahwa ayat ini turun di waktu haji Wada.

Do’a Nabi Ibrahim a.s

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (Surah: Al-Baqarah [2] Ayat 126)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (Al-Baqarah [2] Ayat 127)

Doa yang sebaik baiknya bagi seorang muslim

Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" [127]. (Al-Baqarah [2] ayat 201)

[127] Inilah do'a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diketengahkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas, katanya, "Suatu golongan dari kalangan Arab biasa datang ke tempat berwukuf lalu berdoa, 'Ya Allah! Jadikanlah tahunku ini tahun hujan dan tahun kesuburan, serta tahun kasih sayang dan kebaikan,' tanpa menyebut-nyebut soal akhirat walau sedikit pun." Allah pun menurunkan tentang mereka, "Di antara manusia ada yang mengatakan, 'Ya Tuhan kami berilah kami (kebaikan) di dunia, tetapi tiadalah bagian di akhirat.' (Q.S. Al-Baqarah 200) Setelah itu datanglah golongan lain yakni orang-orang beriman yang memohon, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang beroleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.'"

Allah Mengabulkan do’a orang yang beriman

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al-Baqoroh [2] ayat 186).

Mengabulkan do’a dan memberi pengampunan adalah hak mutlak Allah

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah [2] Ayat 284)

SEBAB TURUNNYA AYAT: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S Al-Baqarah 284) Diriwayatkan bahwa ketika turun ayat “Wa in tubduu maa fii anfusikum au tukhfuuhu yuhaasibkum bihillaahâ” (“Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu”), para sahabat merasa sangat keberatan, sehingga datang kepada Rasulullah saw sambil berlutut memohon keringanan, dengan berkata: “Kami tidak mampu untuk mengikuti ayat ini”. Rasulullah saw bersabda: “Apakah kalian akan berkata: `Sami’na wa ashainaâ (kami dengar akan tetapi tidak akan menurut) seperti apa yang telah diucapkan oleh dua ahli kitab (Yahudi & Nasrani) sebelum kamu? Ucapkanlah `Sami’na wa atha’na ghufraanaka rabbana wa ilaikal mashiir” (kami mendengar & taat, dan ampunilah kami wahai Tuhan kami, krn kepada-Mu lah tempat kembali) “Setelah dibacakannya kepada para sahabat, dan terbiasakan lidahnya, turunlah kemudian ayat 285 dari surat Al-Baqarah: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): `Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yg lain) dari Rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan: `Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdo’a):`Ampunilah kami wahai Tuhan kami, krn kepada-Mu lah tempat kembali" Kemudian mereka laksanakan ayat 285 tersebut. Dan kemudian turunlah ayat selanjutnya, yaitu surat Al-Baqarah ayat 186, yang menghibur hati mereka, serta mengajarkan salah satu do’a yang masyhur. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya. (Mereka berdo’a): `Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami terlupa atau tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lainnya yg bersumber dari Abu Hurairah)

Mengabulkan do’a dan memberi pengampunan adalah hak mutlak Allah

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu [227] atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (Ali Imran [3] Ayat 128)

[227] Menurut riwayat Bukhari mengenai turunnya ayat ini, karena Nabi Muhammad SAW berdo'a kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Anas, "Salah satu gigi Nabi saw. rontok di waktu perang Uhud dan terdapat luka di wajah beliau sehingga darah pun mengalir ke bawah. Maka tanyanya, 'Bagaimana suatu kaum akan berbahagia jika mereka berani melukai Nabi mereka, padahal ia menyeru mereka kepada Tuhan mereka?' Maka Allah swt. pun menurunkan ayat, 'Tak ada urusanmu mengenai hal ini sedikit pun juga...'" (Q.S. Ali Imran 128) Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dari Ibnu Umar, katanya, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Ya Allah! Kutuklah si Anu! Kutuklah Harits bin Hisyam! Ya Allah, kutuklah Suhail bin Amr! Ya Allah kutuklah Shafwan bin Umayyah!' Maka turunlah ayat, 'Tak ada urusanmu mengenai hal itu...' (Q.S. Ali Imran 128) Sehingga semua mereka itu pun diterima tobatnya oleh Allah." Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah yang serupa dengan itu. Kata Hafizh Ibnu Hajar, "Cara menghimpun di antara kedua hadis bahwa Nabi saw. memohon kepada Allah mengenai kedua hal tersebut di dalam salatnya setelah terjadi peristiwa di waktu perang Uhud. Maka turunlah ayat ini mengenai kedua hal tersebut sekaligus, yakni tentang peristiwa yang dialaminya dan tentang doa yang diucapkannya terhadap mereka." Kata Hafizh pula, "Tetapi menghimpun ini sulit dilakukan terhadap peristiwa yang tersebut dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa di waktu salat subuh, 'Ya Allah! Kutuklah suku-suku Ra'al, Dzakwan dan Ushaiyah,' sampai Allah menurunkan, 'Tak ada urusanmu mengenai hal itu sedikit pun juga!'" (Q.S. Ali Imran 128) Dikatakan sulit karena ayat ini turun mengenai peristiwa Uhud, sedangkan kisah Ra'al dan Dzakwan terjadi sesudahnya. Tetapi kemudian tampak oleh saya alasan terjadinya berita demikian itu dan bahwa di sana terdapat jarak. Perkataannya "sampai Allah menurunkan," terputus dari riwayat Zuheri pada orang yang menyampaikannya dalam riwayat Muslim. Penyampaian tidak sah pada riwayat yang saya katakan itu. Katanya lagi, "Mungkin dapat dikatakan bahwa kisah mereka terjadi di belakang itu, lalu turunnya ayat terkebelakang sedikit dari sebab nuzul, kemudian barulah ia turun mengenai semua itu." Hanya mengenai sebab nuzul ini ada lagi riwayat yang dikeluarkan oleh Bukhari dalam Tarikhnya dan oleh Ibnu Ishak dari Salim bin Abdullah bin Umar katanya, "Seorang laki-laki Quraisy datang kepada Nabi saw. lalu katanya, 'Bukanlah kamu melarang orang memaki?' Lalu ia berpaling dan memutar pundaknya kepada Nabi saw. serta membukakan badan bagian bawahnya, maka Rasulullah mengutuk dan mendoakan kecelakaan baginya sehingga Allah pun menurunkan, 'Tak ada urusanmu mengenai hal itu sedikit pun...' (Q.S. Ali Imran 128) Kemudian orang itu masuk Islam dan keislamannya ternyata baik, tetapi hadis ini mursal lagi garib atau aneh."

Allah yang maha tahu mana yang lebih baik bagi hambanya

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mu'jizat-mu'jizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mu'jizat datang mereka tidak akan beriman [497]. (Al-An'am [6] Ayat 109)

[497] Maksudnya: orang-orang musyrikin bersumpah bahwa kalau datang mu'jizat, mereka akan beriman, karena itu orang-orang muslimin berharap kepada Nabi agar Allah menurunkan mu'jizat yang dimaksud. Allah menolak pengharapan kaum mu'minin dengan ayat ini.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Jarir mengetengahkan melalui Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi yang telah mengatakan, "Rasulullah saw. pernah berbicara kepada orang-orang Quraisy, kemudian orang-orang Quraisy menjawab, 'Hai Muhammad! Engkau telah bercerita kepada kami, bahwa Musa itu memiliki tongkat yang dapat menghancurkan batu (jika dipukulkan), dan Isa itu dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati, dan kaum Tsamud (Nabi Saleh) itu mempunyai unta, maka datangkanlah kepada kami ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) sehingga kami dapat mempercayaimu?" Rasulullah saw. menjawab, "Mukjizat apakah yang kamu sukai agar aku mendatangkannya kepada kamu?" Mereka menjawab, "Engkau harus menjadikan gunung Safa menjadi emas demi kami semua." Rasulullah saw., berkata, "Jika aku dapat membuktikannya apakah kamu mau percaya kepadaku." Mereka menjawab, "Ya, demi Allah." Kemudian Rasulullah saw. berdiri dan berdoa, lalu datanglah malaikat Jibril yang langsung berkata, "Apabila engkau menghendakinya pastilah gunung Safa itu menjadi emas. Akan tetapi apabila sesudah itu mereka masih juga tidak mau beriman, niscaya aku mengazab mereka. Dan jika engkau menghendaki (kebaikan) maka biarkanlah mereka sehingga bertobat orang-orang yang mau bertobat dari kalangan mereka." Setelah itu lalu Allah menurunkan firman-Nya, "Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan..." sampai dengan firman-Nya, "...tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Q.S. Al-An'am 109-111).

Berdoa dengan rendah diri dan dengan suara yang lembut

Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur"". (Al-An'am [6] Ayat 63)

"Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah la baik; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan loba (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (Iman kepada Allah dan berbuat kebajikan)." (Al-A'râf [7] ayat 55-56)

Allah menerima Do’a permintaan ampunan

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun [608] (Al-Anfaal [8] Ayat 33)

[608] Di antara mufassirin mengartikan "yastagfiruuna" dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis melalui Anas bin Malik r.a. yang telah menceritakan, bahwa ketika Abu Jahal bin Hisyam mengatakan, "Ya Allah, jika benar Alquran ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." Maka turunlah firman-Nya, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka...." (Q.S. Al-Anfaal 33). Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan, bahwa orang-orang musyrik selalu mengerjakan tawaf di Baitullah, seraya mengucapkan, "Ampunan-Mu, ampunan-Mu." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka..." (Q.S. Al-Anfaal 33). Ibnu Jarir telah mengetengahkan pula sebuah hadis yang ia terima melalui Yazid bin Rauman dan Muhammad bin Qais, yang telah menceritakan, bahwa sebagian orang-orang musyrik Quraisy telah berkata kepada sebagian yang lainnya, "Muhammad sungguh adalah seseorang di antara kita yang dimuliakan oleh Allah. Ya Allah, jika benar (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." Akan tetapi setelah sore harinya mereka merasa menyesal atas apa-apa yang telah mereka katakan itu, untuk itu maka mereka mengatakan seraya berdoa, "Ya Allah, ampunan-Mu." Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun." (Q.S. Al-Anfaal 33) sampai dengan firman-Nya, "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Q.S. Al-Anfaal 34). Ibnu Jarir telah mengetengahkan pula hadis yang lain melalui Ibnu Abza yang telah menceritakan, bahwa ketika Rasulullah saw. berada di Mekah maka Allah menurunkan firman-Nya, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka." (Q.S. Al-Anfaal 33). Lalu Rasulullah saw. keluar berhijrah ke Madinah, maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun." (Q.S. Al-Anfaal 33). Dan tersebutlah bahwa sisa-sisa kaum Muslimin yang masih menetap di kota Mekah selalu meminta ampun kepada-Nya; ketika mereka semuanya keluar mengikuti jejak nabinya, maka Allah menurunkan firman-Nya, "Kenapa Allah tidak mengazab mereka...." (Q.S. Al-Anfaal 34). Kemudian Allah mengizinkan nabi-Nya untuk menaklukkan kota Mekah, yang hal ini merupakan azab yang telah diancamkan oleh Allah terhadap orang-orang musyrik Quraisy.

Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Anfaal [8] Ayat 34)

SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Jarir telah mengetengahkan pula sebuah hadis yang ia terima melalui Yazid bin Rauman dan Muhammad bin Qais, yang telah menceritakan, bahwa sebagian orang-orang musyrik Quraisy telah berkata kepada sebagian yang lainnya, "Muhammad sungguh adalah seseorang di antara kita yang dimuliakan oleh Allah. Ya Allah, jika benar (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." Akan tetapi setelah sore harinya mereka merasa menyesal atas apa-apa yang telah mereka katakan itu, untuk itu maka mereka mengatakan seraya berdoa, "Ya Allah, ampunan-Mu." Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun." (Q.S. Al-Anfaal 33) sampai dengan firman-Nya, "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Q.S. Al-Anfaal 34). Ibnu Jarir telah mengetengahkan pula hadis yang lain melalui Ibnu Abza yang telah menceritakan, bahwa ketika Rasulullah saw. berada di Mekah maka Allah menurunkan firman-Nya, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka." (Q.S. Al-Anfaal 33). Lalu Rasulullah saw. keluar berhijrah ke Madinah, maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun." (Q.S. Al-Anfaal 33). Dan tersebutlah bahwa sisa-sisa kaum Muslimin yang masih menetap di kota Mekah selalu meminta ampun kepada-Nya; ketika mereka semuanya keluar mengikuti jejak nabinya, maka Allah menurunkan firman-Nya, "Kenapa Allah tidak mengazab mereka...." (Q.S. Al-Anfaal 34). Kemudian Allah mengizinkan nabi-Nya untuk menaklukkan kota Mekah, yang hal ini merupakan azab yang telah diancamkan oleh Allah terhadap orang-orang musyrik Quraisy.

Allah mengabulkan do’a orang yang Taubatan Nasuha

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At-Taubah [9] Ayat 66)

SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula sebuah hadis yang lainnya melalui Kaab bin Malik yang menceritakan, bahwa Mukhsyi bin Humair mengatakan, "Sesungguhnya aku sangat senang sekali seandainya setiap orang di antara kalian masing-masing kena hukuman seratus kali dera, daripada turun mengenai kami Alquran." Maka berita tersebut sampai kepada Nabi saw. lalu mereka minta maaf kepada Nabi saw. atas apa yang telah mereka katakan itu. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Tidak usah kalian minta maaf..." (Q.S. At-Taubah 66). Tersebutlah bahwa di antara orang-orang munafik yang mendapatkan ampunan dari Allah ialah Mukhsyi bin Humair sendiri; setelah peristiwa itu namanya diganti menjadi Abdurrahman. Dan Mukhsyi meminta kepada Allah swt. semoga ia mati sebagai syahid dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tempat ia terbunuh. Doanya dikabulkan, akhirnya ia gugur sewaktu perang Yamamah, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tempat ia gugur kecuali si pembunuhnya sendiri. Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Qatadah yang menceritakan, bahwa ada segolongan orang-orang munafik yang mengatakan sewaktu kaum Muslimin hendak berangkat ke medan Tabuk, "Lelaki ini (Nabi Muhammad) bermaksud untuk menaklukkan kerajaan negeri Syam berikut benteng-bentengnya, tetapi hal itu tidak mungkin dapat ia capai." Kemudian Allah swt. memperlihatkan hal tersebut kepada Nabi-Nya. Lalu Nabi saw. mendatangi mereka dan langsung berkata kepada mereka, "Kalian telah mengatakan demikian dan demikian bukan?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main." Lalu turunlah firman-Nya yang di atas tadi.

Kisah Do’a Rosulullah Untuk Tsa’labah

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. (At-Taubah [9] Ayat 75)

SEBAB TURUNNYA AYAT: Imam Thabrani, Ibnu Murdawaih dan Ibnu Abu Hatim serta Imam Baihaqi di dalam kitab Dalail mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang dha'if (lemah) melalui Abu Umamah, bahwasanya Tsa'labah bin Hathib meminta kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah! Mintakanlah kepada Allah semoga saya diberi rezeki harta kekayaan." Rasulullah saw. menjawab, "Celakalah engkau ini, hai Tsa'labah, sesungguhnya sedikit kekayaan yang engkau syukuri adalah lebih baik daripada banyak harta yang engkau tidak mampu untuk mensyukurinya." Selanjutnya Tsa'labah mengatakan, "Demi Allah, seandainya Allah memberiku harta yang banyak, niscaya aku akan memberikan hak-haknya kepada setiap orang yang berhak menerimanya." Maka Rasulullah mendoakannya, dan Tsa'labah diberinya seekor kambing. Kemudian kambing yang satu itu menjadi berkembang dan bertambah banyak dalam waktu yang singkat, sehingga kambing milik Tsa'labah memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Maka terpaksa Tsa'labah menjauh dari kota Madinah, dan kebiasaan Tsa'labah ialah ia selalu menghadiri salat berjemaah, untuk itu ia keluar dari rumahnya demi salatnya. Kemudian kambingnya yang banyak itu makin bertambah berkembang lagi sehingga tempat-tempat penggembalaan di Madinah tidak dapat menampungnya lagi, maka terpaksa Tsa'labah pun makin menjauh dari kota Madinah. Tsa'labah sebelumnya selalu menghadiri salat Jumat di Mesjid, untuk itu ia selalu keluar meninggalkan tempat penggembalaannya demi salat Jumat. Akan tetapi lama-kelamaan setelah kambingnya makin bertambah banyak lagi dan ia makin menjauh dari kota Madinah, akhirnya ia meninggalkan salat Jumat dan salat jemaah yang biasa ia lakukan sebelumnya itu. Ketika Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (Q.S. At-Taubah 103). Kemudian Rasulullah saw. mengangkat dua orang menjadi amil untuk memungut zakat, selanjutnya beliau menuliskan surah perintah untuk dibawa oleh keduanya. Kedua amil itu mendatangi Tsa'labah lalu membacakan kepadanya surah perintah dari Rasulullah saw. Akan tetapi Tsa'labah menjawab, "Pergilah kalian berdua kepada orang-orang lain dahulu, maka bilamana kalian telah selesai dari mereka mampirlah kepadaku." Lalu kedua amil itu melakukan apa yang ia maui, dan ketika keduanya kembali kepadanya, Tsa'labah berkata, "Apa-apaan ini, sesungguhnya zakat itu tiada lain hanyalah saudara daripada jizyah (upeti)," maka keduanya pun berlalu dari Tsa'labah. Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya.'.." (Q.S. At-Taubah 75) sampai dengan firman-Nya, "...karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya, dan (juga) karena mereka selalu berdusta..." (Q.S. At-Taubah 77). Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih keduanya mengetengahkan pula hadis yang sama, hanya melalui jalur periwayatan Aufiy dari Ibnu Abbas r.a.

Doa orang orang kafir hanyalah sia sia

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (Ar’Rad [13] ayat 14).

Jangan mengeraskan dan jangan terlalu merendahkan suara di dalam berdoa.

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (Al-Israa' [17] Ayat 93)

SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Murdawaih dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. berada di tengah kota Mekah, maka beliau berdoa seraya mengucapkan di dalam doanya itu, "Ya Allah, ya Rahman." Maka kala itu juga orang-orang musyrik berkata, "Lihatlah oleh kalian pemeluk agama baru ini; dia mencegah kita untuk menyeru (menyembah) kepada dua tuhan, sedangkan dia sendiri menyeru kepada dua tuhan juga." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Katakanlah! 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (asmaul husna)'..." (Q.S. Al-Isra 110). Imam Bukhari dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan firman-Nya, "Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya." (Q.S. Al-Isra 110). Imam Bukhari mengatakan, bahwa ayat di atas diturunkan sewaktu Rasulullah saw. sedang bersembunyi di Mekah. Dan adalah Rasulullah saw. jika salat bersama dengan sahabat-sahabatnya, beliau selalu mengeraskan suara bacaan Alqurannya. Dan tersebutlah bahwa jika kaum musyrikin mendengar Alquran dibacakan, lalu mereka mencaci Alquran, Dzat yang menurunkannya dan orang yang menerimanya. Maka turunlah ayat tersebut. Imam Bukhari mengetengahkan pula hadis yang lain melalui Siti Aisyah r.a. bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah berdoa. Ibnu Jarir mengetengahkan hadis yang sama melalui Ibnu Abbas r.a. Kemudian Ibnu Jarir mentarjihkan (menguatkan) riwayat yang pertama tadi, karena ia lebih sahih sanadnya, dan demikian pula Imam Nawawi dan lain-lainnya mentarjihkan riwayat yang pertama. Al-Hafizh Ibnu Hajar telah mengatakan, tetapi kedua riwayat tersebut dapat pula digabungkan pengertiannya, yaitu bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan berdoa dalam salat.

Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui hadisnya Abu Hurairah r.a. yang menceritakan, bahwa tersebutlah apabila Rasulullah saw. melakukan salat di dalam Baitullah, maka beliau mengeraskan bacaannya lalu turunlah ayat ini. Ibnu Jarir dan Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis melalui Siti Aisyah r.a. yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan bacaan tasyahhud (tahiyyat dalam salat). Hadis yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah ini menjelaskan makna yang dimaksud di dalam riwayat yang terdahulu tadi. Ibnu Mani' di dalam kitab musnadnya mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa kaum Muslimin selalu mengeraskan suara di dalam berdoa, yaitu, "Allahummarhamni" (Ya Allah, kasihanilah aku). Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan mereka supaya jangan mengeraskan dan jangan terlalu merendahkan suara mereka di dalam berdoa.

Orang yang tidak berdoa dihukumi sombong oleh Allah

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [1327] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Al-Mu'min [23] ayat 60).

[1327] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdo'a kepada-Ku.

Allah mengabulkan doa orang-orang beriman dan beramal saleh

“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras” (Asy-Syuura [26] ayat 26).

Berdoalah, Allah akan menghilangkan kesulitan dan Kesusahaanmu!

Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi [1105]? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). ” (An-Naml [27] ayat 62).

[1105]. Yang dimaksud dengan "menjadikan manusia sebagai khalifah" ialah menjadikan manusia berkuasa di bumi.

Allah memperkenankan doa orang orang beriman

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr [59] Ayat 10)

------------------------------------------

Baca Juga