Friday, October 23, 2015

Munajad Segelas Kopi

“Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Dee)
Kata kopi konon kabarnya berasal dari bahasa Arab qahwah Kemudian berubah menjadi kahveh di lidah orang Turki, berubah lagi menjadi koffie dalam bahasa Belanda dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Kopi.
Qahwah (kopi) terdiri dari empat hurup yakni Qaf, Ha, Waw dan Ha yang memiliki makna masing masing. Qaf adalah Quut yang berarti makanan, Ha adalah Hudaa berarti petunjuk, waw adalah Wud yang berarti cinta serta ha adalah hiyam yang bermakna pengusir Kantuk.
itu sebabnya di kalangan sufi dikenal dengan kalimat sanjungan untuk kopi yang berbunyi ““wahai orang orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya Kopi membuatku mengusir kantuk dengan pertolongan Allah kopi menggiatkanku taat beribadah kepada Nya di kala orang orang sedang terlelap” lalu dilanjutkan dengan kalimat ”Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia.”
Situs Wikipedia dan berbagai situs lainnya telah membeberkan panjang lebar perjalanan kopi sejak pertama kali dikenal di Ethiopia sampai kemudian menyebar dan dibudidayakan di lebih 50 negara dunia. Republika menyebutkan bahwa Lebih dari 1,6 miliar cangkir kopi diminum setiap hari di seluruh dunia. Jumlah itu cukup untuk memenuhi sekitar 3.000 kolam renang ukuran Olimpiade hari.
Kopi tidak sekedar sebagai minuman tapi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Kedai kopi tempat tongkrongan-pun kini turut mewakili status sosial dan strata ekonomi untuk sesuatu yang disebut gengsi.
hmmm. Segelas kopi itu memang memiliki cerita yang teramat panjang dengan ke-unikannya sendiri sendiri. Menghantarkan rasa yang berbeda beda kepada lidah pengecapnya. segelas kopi mewakili kenikmatan, suasana santai, rileks, istirahat, brehat.
Kopi mewakili watak lembut tanpa kekerasan namun mampu merubah total swasana. kau lihat ketika serbuk kopi dimasukkan ke dalam air panas, tidak ada perlawanan sama sekali, serbuknya langsung menghilang, lenyap. Benarkah ia lenyap. tentu saja tidak. Justru beningnya air lah yang lenyap karena seluruhnya sudah berubah pekat. warna pekat yang menghadirkan kenikmatan, yang disukai oleh lintas usia dan lintas bangsa. Disajikan dari warung pinggir jalan hingga tempat termewah yang pernah ada di muka bumi.
Kopi mewakili ketabahan hidup. cobalah sekali saja kau renungkan perjalanan biji kopi dari tempat asal nya. Direnggut dari pohon induknya, di tumpuk dalam keranjang melintasi lereng lereng bukit, di jemur panasnya matahari, dikuliti, di sangrai, digiling sampai lumat, masuk bungkus hingga ahirnya menempati tempat terhormat di dalam gelas yang tersaji bagi penikmat kopi. Tak jauh berbeda dengan perjalanan sukses manusia seperti anda dan lainnya. Reguklah segelas kopi dan dengarkan pesannya.
------------------------------------------

Baca Juga