Showing posts with label cibarusah. Show all posts
Showing posts with label cibarusah. Show all posts

Tuesday, December 11, 2018

Kereta Terahir Ke Cibarusah

Stasiun Lemahabang kabupaten Bekasi (taken from IG @hendrajailani)

Para tetua berkisah di jaman Menir Belanda masih berkuasa, membentang seruas jalur kereta dari stasiun Lemahabang ke Cibarusah. Kereta lori bertenaga manusia para budak pribumi yang terpaksa bekerja untuk para tuan tanah pemilik perkebunan, mengangkut hasil bumi menuju stasiun Lemahabang untuk di angkut ke berbagai daerah di pulau Jawa.
.
Zaman berganti, kini ruas rel nya pun sudah tak terjejak berada disebelah mana, nama Lemah Abang yang bersejarah pun semakin sayup, tersisa menjadi nama stasiun, pasar dan Komando Rayon Militer Lemahabang, Bapelkes Lemahabang pun kini telah berganti nama menjadi Bapelkes Cikarang. Dan barangkali anda yang membaca tulisan pendek ini pun kini bertanya dimanakah itu Lemah Abang dan Cibarusah.
.
Mungkin sepenggal pusi Khairil Anwar tentang “kami yang kini terbaring diantara Karawang dan Bekasi, tidak bisa teriak MERDEKA . . . . ” akan sedikit memberi anda petunjuk dimanakah Lemahabang berada.
.
Dan Bagi anda yang saban hari terjebak macet di ruas jalan antara Lemahabang ke Cibarusah, mungkin kisah para tetua itu dapat menginspirasi anda untuk merekonstruksi sejalur kereta modern antara Lemahabang hingga ke Cibarusah, siapa tahu. Karena bermimpi tak butuh permisi.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Sunday, June 11, 2017

Pewaris Jayakarta Yang Tersingkir

Makam Pangeran Senapati di Cibarusah, Kabupaten Bekasi

Pangeran Senapati, atau dikenal luas di Cibarusah sebagai Uyut Sena ataupun Mbah Sena, sejatinya adalah pewaris tahta kesultanan Jayakarta, putra dari Pangeran Jayakarta. Seiring dengan jatuhnya Kesultanan Jayakarta kebawah hegemoni Belanda tahun 1619.

Pangeran Senapati bersama keluarga menyingkir melalui jalur laut ke arah timur, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke selatan. Di sebuah hutan jati beliau kemudin babat alas membangun hunian baru yang kini dikenal sebagai Cibarusah, di kabupaten Bekasi. Menilik sejarah ini, Tjibarusah sudah eksis setidaknya sejak abad ke 17.

Paska kekalahan Kesultanan Jayakarta dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus untuk membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman. Maka dimulailah perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati.

Di kawasan hutan jati itulah kemudian Pangeran Senopati berhenti bersama pasukan dan keluarga yang masih menyertainya. Beliau menganggap kawasan hutan lebat itu sebagai lokasi persembunyian yang aman dari kejaran pasukan Belanda. Termasuk untuk tinggal mengembangkan keluarga dan keturunan. Babat alas dimulai untuk membangun pemukiman baru yang dikemudian hari dikenal dengan nama Cibarusah. Kata Cibarusah sendiri konon berasal dari kalimat berbahasa sunda “Cai baru sah”.

Dikisahkan bahwa ketika masjid masjid telah didirikan, jemaah kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang memenuhi sarat sah untuk bersuci sebelum menunaikan sholat. Ketika pencarian sumber air berhasil menemukan sumber air bersih salah satu ulama yang menyertai Pangeran Senopati berujar dalam bahasa Sunda “nah ieu’ CAI’ BARU SAH” yang berarti “Nah ini airnya baru sah” maksudnya sah secara syar’i untuk keperluan bersuci. Kalimat “CAI’ BARU SAH” itulah yang kemudian menjadi CI BARU SAH. Sedangkan nama kampung ‘Babakan’ berasal dari kata ‘Bukbak’ dalam bahasa sunda yang berarti membersihkan.

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Pangeran Senopati tersebut berbahan utama kayu jati yang ketika itu melimpah disana. Tak jauh dari masjid dibangun sebuah kolam penampung air bersih berukuran kira kira 20x30m untuk menampung air bersih yang dialirkan dari sumbernya menggunakan pipa pipa bambu dan saluran yang dibangun secara bergotong royong. Riwayat tutur menyangkut sejarah masjid ini terputus sampai disitu. Hingga kini keturuan Pangeran Sena masih ada di KBC, keluarga beliau dapat dikenali dengan gelar ‘Raden’ yang disematkan kepada nama mereka masing masing. Pangeran Senapati wafat dan dimakamkan di Kampung Babakan Cibarusah (KBC) dan dikenal dengan sebutan Makam Embah Uyut Sena. https://goo.gl/wTekAs

Baca juga