Showing posts with label catatan unik. Show all posts
Showing posts with label catatan unik. Show all posts

Tuesday, December 11, 2018

Kereta Terahir Ke Cibarusah

Stasiun Lemahabang kabupaten Bekasi (taken from IG @hendrajailani)

Para tetua berkisah di jaman Menir Belanda masih berkuasa, membentang seruas jalur kereta dari stasiun Lemahabang ke Cibarusah. Kereta lori bertenaga manusia para budak pribumi yang terpaksa bekerja untuk para tuan tanah pemilik perkebunan, mengangkut hasil bumi menuju stasiun Lemahabang untuk di angkut ke berbagai daerah di pulau Jawa.
.
Zaman berganti, kini ruas rel nya pun sudah tak terjejak berada disebelah mana, nama Lemah Abang yang bersejarah pun semakin sayup, tersisa menjadi nama stasiun, pasar dan Komando Rayon Militer Lemahabang, Bapelkes Lemahabang pun kini telah berganti nama menjadi Bapelkes Cikarang. Dan barangkali anda yang membaca tulisan pendek ini pun kini bertanya dimanakah itu Lemah Abang dan Cibarusah.
.
Mungkin sepenggal pusi Khairil Anwar tentang “kami yang kini terbaring diantara Karawang dan Bekasi, tidak bisa teriak MERDEKA . . . . ” akan sedikit memberi anda petunjuk dimanakah Lemahabang berada.
.
Dan Bagi anda yang saban hari terjebak macet di ruas jalan antara Lemahabang ke Cibarusah, mungkin kisah para tetua itu dapat menginspirasi anda untuk merekonstruksi sejalur kereta modern antara Lemahabang hingga ke Cibarusah, siapa tahu. Karena bermimpi tak butuh permisi.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Tuesday, October 27, 2015

Siti Waterpump, Pompa Air Nomor Wahid


Bacalah tulisan ini sampai ahir dan anda akan tahu bahwa ini bukan iklan pompa air.

Di tanah air kita, Indonesia, Kelapa memiliki arti simbolik sangat dalam. Buahnya yang sedang bertunas dijadikan lambang organisasi kepanduan nasional, menyimbolkan pemuda/pemudi yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik di lingkungan apapun, dan bila telah dewasa nanti mampu memberikan manfaat sebesar besarnya seperti pohon kelapa dewasa yang semua bagian pohonnya memiliki nilai komersil alias dapat dimanfaatkan.

Bagi para sufi, thoriqoh hingga pelaku kebathinan, buah kelapa disebut sebut sebagai buah ma’rifat, simbolisasi sederhana yang sempurna dari upaya mengenal Tuhan dari ciptaan nya. Konsep ini salah satunya untuk menjabarkan dengan metoda sederhana dan mudah difahami oleh orang Nusantara tentang ayat ke 35 dari surah An-Nur yang menjelaskan tentang cahaya yang bersumber dari pohon zaitun. Tidaklah mudah untuk menjelaskan perumpamaan yang dijabarkan di dalam ayat tersebut kepada masyarakat yang sama sekali tidak mengenal pohon zaitun seperti masyarakat Nusantara, dan buah kelapa lah yang kemudian dijadikan simbolik sederhana untuk menjelaskan makna ayat tersebut.

Teknologi Pohon Kelapa ?

Pohon kelapa itu unik dan rumit. Ada air di dalam buah-nya tapi tidak ada pompanya. Tidak ada jaringan pipa atau selangnya. Ditebang pohonnya juga tidak ada air yang muncrat. Di potong tandannya juga tidak ada air yang mengucur. Di lukai pohonnya pun tidak ada juga air yang mengalir atau menetes keluar.

Tidak ada pabrik atau warung klontong yang jualan gula disana tapi airnya manis. Dan tidak pernah ada kasus air kelapa luber dari buahnya karena kepenuhan. Tidak ada juga pembangkit listrik dan tagihan listrik di pohon kelapa. Pohon kelapa itu seperti pompa air super canggih ya.

Jadi, bila sajalah anda memiliki teknologi pompa air terbaik dan berencana membangun pabrik pompa air, kasih saja merek “Pompa Air Pohon Kelapa” atau dalam bahasa keren nya “Coconut Tree Water Pump” atau bila disingkat Menjadi “CT Water Pump” dan bila dibaca dengan benar akan berbunyi “SITI Waterpump”.

Baca Juga

Monday, October 26, 2015

Sirih Simbol Kerukunan Dan Perdamaian



Sekapur Sirih

Diberbagai tempat di Nusantara daun sirih menjadi simbol kehangatan tuan rumah menyambut tamunya. Dalam Bahasa Indonesia-nya disebut dengan prosesi “sekapur sirih”. di Palembang dan sekitarnya, prosesi sekapur sirih di helat untuk menyambut tamu kehormatan dengan menampilkan beberapa penari gadis belia berpakaian tradisional Palembang menarikan tarian penyambutan kemudian menyerahkan “sekapur sirih” kepada tamunya. apa sih sekapur sirih itu?. Itu loh, daun sirih yang sudah dilipat siap untuk dikunyah dan sudah dilengkapi dengan ramuan penyertanya terdiri dari gambir, pinang, tembakau dan kapur.

Tidak hanya di Palembang tradisi sekapur sirih ini menjadi tradisi yang sangat di junjung tinggi masyarakat Kepualauan Riau. Sirih juga menjadi flora Khas Kepulauan Riau. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa tanaman sirih memang berasal dari Kepulauan Riau. hingga tidak aneh bila kebiasaan makan sirih atau nyirih atau nginang begitu mentradisi di tanah Melayu.

kebiasaan “nyirih” juga menjadi tradisi di berbagai tempat di pulau Sumatera. Anda yang pernah nontoh sinema Naga Bonar pastinya ingat betul bagaimana penampilan ibundanya sang Jenderal itu yang selalu saja mengunyah sirih di kesehariannya. sosok seperti ibu nya Si Naga itu begitulah adanya meski kini kebiasaan nyirih di sumatera memang lebih di dominasi oleh kaum tua. Tradisi Nyirih ini dipercaya dapat merawat kekuatan gigi, meski memang sensasi mengunyah sirih itu sendiri pastinya taka da duanya.

Tradisi mengunyah dauh sirih tersebar luas hingga ke Papua, saudara saudara kita disana terbiasa mengunyah sirih di kesehariannya, sampai sampai di berbagai tempat umum di pasang rambu larangan meludah sembarangan. Daun sirih dan rempah-nya yang terlarut dalam air liur menghasilkan cairan merah yang pekat dan bila menempel ke tembok atau lainnya akan sangat sulit untuk dibersihkan.

Legenda Sirih Hitam

Pernah dengan tentang sirih hitam ?. bila belum, maka saya bagikan sedikit cerita tentang legenda daun sirih langka ini. Daun sirih pada umumnya bewarna hijau, namun ada jenis daun sirih yang warna nya hitam. Seperti juga mawar yang ternyata juga ada yang bewarna hitam. Sirih hitam dipercaya memiliki khasiat luar biasa dan nilainya juga luar biasa.

Sesungguhnya memang ada satu jenis sirih yang daunnya bewarna hitam. Dan ada beberapa pedagang tanaman hias yang menyediakan tanaman tersebut meski dengan harga yang jauh lebih mahal dari sirih hijau, bisa jadi karena keunikan-nya, dan memang tidak tersedia di semua pedagang tanaman hias.

Sirih hitam itu konon pada awalnya hanyalah sirih hijau biasa yang tumbuh di habitat tak biasa. habitat tak biasa yang dimaksud adalah tempat yang tak lazim, tempat yang tanaman apapun tak kan mampu bertahan hidup disana. Namun dengan segenap kemampuannya tanaman sirih ini mampu bertahan hidup meski warnanya berubah menghitam. Dari sanalah sirih hitam berawal.

Asli Indonesia

Sirih itu tanaman asli Indonesia, Indonesia banget pokoknya. Daun sirih itu berbentuk hati, jadi tak usah aneh aneh untuk melambangkan cinta, cukup dengan daun sirih yang jelas jelas berbentuk hati dan memiliki begitu banyak manfaat. Hati mana lagi yang lebih dihargai mahluk dan pencipta selain hati yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain, hati mana lagi yang lebih unggul dari hati yang lain selain hati yang senantiasa bertaqwa.

Sirih itu simbol perdamaian dan kerukunan, perhatikan saja bagaimana sirih tumbuh. Tumbuhan yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari ini merupakan tanaman obat yang telah diketahui secara luas manfaatnya bagi kesehatan. Pohon sirih yang meski hidup dengan menumpang pada tanaman lain, tidaklah mengambil nutrisi dari tanaman yang ditumpanginya. Daunnya yang indah berbentuk hati itu malah akan memperindah tanaman yang ditumpanginya. Itu sebabnya adat istiadat di berbagai tempat di Nusantara dari Sumatera hingga Papua kerap membawa dan atau menyuguhkan daun sirih sebagai artian pernyataan hidup harmonis dan tidak saling merugikan, sebagai pesan perdamaian dan kerukunan.***

Wednesday, October 21, 2015

Katakan Cinta Dengan Bunga Kenanga

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kalimat "katakan dengan bunga". bisa jadi anda membayangkan seperti adegan filem atau sinetron yang berkaitan dengan adegan romantis, rangkaian bunga atau bahkan hanya setangkai mawar. Kenapa harus mawar ?. Bagaimana bila diganti saja dengan setangkai kembang kenanga. Katakan cintamu dengan kenanga. Bisa jadi kisah romantisnya bubar.

Tiap bunga memiliki ke -khas-an nya sendiri sendiri temasuk Kenanga. pernah tau kenapa bunga harum satu ini namanya kenanga?. Saya juga tidak tau pasti. Di Indonesia bunga kenanga banyak dipakai dalam berbagai prosesi adat terutama yang berhubungan dengan pernikahan. lalu kenapa jadi aneh pada saat "katakan dengan bunga" tadi itu menggunakan kenanga sebagai bunganya ya?. Mungkin karena kenanga juga dipakai sebagai bunga tabur pada saat ziarah kubur, hingga aroma bunga ini kadang bikin merinding sebagian orang.

Kenanga merupakan salah satu flora asli Indonesia. Bunga ini menjadi bunga identitas propinsi Sumatera Utara. Nama Latinnya Cananga Odorata terdiri dari tiga jenis yakni kenanga yakni Kenanga Biasa (Cananga Odorata Macrophylla) yang merupakan asli Indonesia, lalu ada Kenanga Genuin atau kenangan filipina atau kenanga ylang-ylang (Cananga Odorata genuina) dan Kenanga Perdu (Cananga Odorata Fruticosa).

Pohon Kenanga biasa bisa tumbuh hingga setinggi 12 meter, kayunya keras dan cocok untuk bahan peredam suara. Kenanga filipina juga merupakan pohon namun tidak setinggi pohon kenanga biasa sedangkan kenanga perdu adalah kenanga yang sering ditanam di pekarangan rumah, paling tinggi bisa mencapai ketinggian tiga meter.

Selain di Indonesia dan Filipina sebagai daerah asal-nya. Kenanga juga banyak ditanam di Polinesia, Melanesia dan Mikronesia. tiga negara kepulauan yang berada di Samudera Pasifik selatan. Bunga kenanga termasuk jenis bunga yang menggantung dengan aromanya yang harum dan segar.

Dalam kebudayaan Jawa, kehadiran bunga Kenanga di dalam taman dapat menjadi penangkal ilmu hitam, guna-guna dan sejenisnya untuk melindungi rumah beserta isinya. Ada juga yang mempercayai bahwa dengan menanam pohon ini di taman, akan enteng jodoh bagi anggota keluarga yang belum berkeluarga.

Untuk perawatan tubuh, bunga ini digunakan sebagai pewangi pada rambut dan seluruh tubuh dengan sari minyak yang di ekstrak dari bunganya. Bunga kengana dapat berfungsi sebagai obat penyembuh penyakit malaria, asma/sesak nafas, bronchitis dan minuman menyehatkan (jamu) saat setelah melahirkan, dengan menyeduh bunga yang sudah dikeringkan atau direbus beserta beberapa jenis bahan lainnya, lalu kemudian diminum dalam jangka waktu tertentu.

Makna Kenanga

Meski tak tau persis asal muasal nama bunga ini, namun Kenanga itu memang sangat dekat dengan kata Kenang atau Kenangan. Wajar bila bunga ini selalu dipakai dalam berbagai prosesi penting termasuk pernikahan, selamatan / syukuran kehamilan, syukuran kelahiran, khitanan, pernikahan hingga kematian. Dia dihadirkan dalam berbagai momen penting yang layak untuk dikenang. Seorang pria dewasa yang sudah menikah lumrahnya senantiasa akan teringat dan mengingat ingat saat kelahirannya, saat di khitan, saat pernikahannya dan senantiasa ingat bahwa tiba saatnya kematian akan menjemput.

Leluhur kita sepertinya sangat faham dengan kalimat “katakan dengan bunga” yang popular di kebudayaan Eropa itu, atau jangan jangan justru Eropa lah yang menjiplak kebudayaan luhur warisan nenek moyang kita. Kenanga itu seakan menyimpan dan menyampaikan pesan dari leluhur kita untuk senantiasa mengenang momen momen penting dalam hidup kita. Untuk jangan sekali kali melupakan sejarah. sebagai pelajaran untuk kehidupan mendatang.

kenanga seakan selalu mengingatkan kita untuk tidak lupa diri bahwa hidup Apapun yang kita lakukan saat ini sedekit kemudian sudah menjadi kenangan. Sehingga kita harus senantiasa ingat dan waspada ketika sehat sebelum sakit, ketika muda sebelum tua, ketika kaya sebelum miskin, ketika lapang sebelum sempit dan bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi.

------------------------------------------

Baca Juga



Tuesday, October 20, 2015

Kearifan Gula Batu


Zi Gong atau Cu Khong adalah salah satu murid utama Shen Ren Kong Zi. Hubungan guru dan murid ini juga begitu dekat. Saking dekatnya, ketika Kong Zi wafat, Zi Gong tinggal disamping makam gurunya selama enam tahun. Sementara murid-murid yang lain maksimal hanya tinggal di area makam selama tiga tahun. Kalau kita berziarah ke makam Kong Zi di Qufu, Jazirah Shandong, Tiongkok, gubug tempat Zi Gong menginap masih bisa kita jumpai. Bahkan sebatang pohon yang ditanam Zi Gong pada tahun 479 SM, masih tersisa sampai sekarang, meski sudah dalam keadaan tidak utuh.

Suatu ketika dalam hidupnya, Zi Gong pernah bertanya kepada Kong Zi tentang bagaimana seseorang harus bersikap di dalam hidup. Kong Zi tidak menjawab dengan kata-kata belaka. Beliau mengajak Zi Gong masuk ke dapur. Ketika Zi Gong bingung dan menunggu, gurunya sudah asyik menyiapkan perapian dan mulai memasak air. Kala air mulai mendidih, Kong Zi keluar rumah dan kemudian masuk kembali sambil membawa sebongkah batu. Kemudian batu itu dimasukkannya kedalam air yang mulai mendidih. Kong Zi merebus batu!.

Dalam hati Zi Gong bertanya-tanya tentang keanehan Sang Guru. Namun ia belum berani bicara dan diam menunggu. Selang beberapa waktu Kong Zi mengeluarkan sang batu dan menaruhnya diatas meja. Tiba-tiba Kong Zi berkata, "Kamu jangan seperti Batu". Mulut Zi Gong menganga, "Batu ini begitu keras, direbus didalam air panas mendidih pun tidak berkurang kerasnya. Orang seperti batu, sangat kaku, merasa paling benar, paling jagoan dan tidak bisa berubah. Padahal kehidupan selalu berubah. Diatas pohon tinggi masih ada awan. Diatas awan masih ada langit. Diatas langit masih ada Tian. Bagaimana mungkin kita, manusia biasa, boleh merasa diri paling sempurna?".

Zi Gong tersadar. Sang Guru sedang memberinya pelajaran lewat contoh sederhana. Inilah yang acap kali membuat Zi Gong dan saudara-saudara seperguruannya begitu mengagumi cara Gurunya mengajar. Pelajaran yang begitu rumit dan dalam sekali, pun bisa diuraikannya secara amat sederhana. Sungguh Sang Guru manusia agung. Setelah merenung sejenak Zi Gong lalu bertanya, "Guru, saya harus bersikap bagaimana?".

Seperti tadi, kali ini Kong Zi pun tidak menjawab. Ditambahkannya, kayu ke dalam perapian dan sekali lagi beliau beranjak ke luar rumah. Tak lama kemudian ia membawa sebongkah salju yang mengeras. Tanpa berkata-kata bongkahan salju itu dimasukkannya kedalam air yang bergolak panas. Dalam hitungan detik, salju pun mencair. Hilang dari pandangan, luluh bagai air. Lalu Kong Zi berkata, "Kamu jangan seperti bongkahan salju. Kelihatan keras, berkarakter, punya prinsip dan teguh pendirian, namun baru diuji sebentar saja semuanya lenyap tak berbekas. Suka mengecam orang lain yang tidak jujur, berlaku sok suci, namun ketika dihadapkan pada kehidupan nyata, semua idealismenya hancur tak berbekas dan akhirnya ikutan korup".

Zi Gong tersadar. Dia kini sudah dihadapkan dua ekstrim: keras kepala versus tidak berpendirian. Punya prinsip kaku versus prinsip fleksibel banget. Dia kini ingat nasihat Sang Guru sebelumnya. Terlalu kiri tidak baik. Terlalu ke kanan juga tidak baik.Terlalu cepat tidak tepat. Terlalu lambat juga tidak tepat. Terlalu maju perlu direm. Terlalu lambat perlu didorong. Yang terbaik adalah Zhong Yong, Tengah Sempurna.

Ketika Sang Guru memandangnya sambil tersenyum. Zi Gong tersentak dari lamunannya. Sambil menghormat, Zi Gong kembali bertanya, "Saya memahami penjelasan Guru. Namun saya belum menemukan jawaban tentang bagaimana saya seharusnya menyikapi kehidupan. Mohon Guru berkenan memberikan petunjuk lebih lanjut".

Seperti sebelumnya, Kong Zi juga tidak menjawab. Kini ia pun bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak. Tidak ke halaman depan rumah, melainkan ke belakang. Tak lama kemudian Sang Guru membawa dua butir telur ayam ditangannya. Telur yang satu kemudian dipecahkannya di depan Zi Gong. Segera Zi Gong bisa melihat cairan telur yang telah meleleh membasahi meja. Cair namun kental. Telur kedua kemudian dimasukan kedalam air yang mendidih.

Setelah berdiam cukup lama, tiba-tiba Kong Zi mengeluarkan telur yang sudah matang dan megelupasnya. Segera tercium harum aroma telur rebus dan terlihat putih ranumnya telur matang. Telur yang semula cair dan kental dikala mentah, kini berubah menjadi lebih keras sesudah matang. Lalu Kong Zi pun berkata, "Kamu pun jangan menjadi telur rebus. Baru belajar sedikit, sudah merasa mampu menguasai semua. Baru paham secuil ayat suci, merasa sah memonopoli kebenaran, sombong, ekstrem, takabur".

Cukup lama Zi Gong merenung. Satu-satu terlintas wajah sahabatnya. Bertapa sulit mencari pembelajar sejati, yang tekun belajar tanpa kenal lelah, mampu menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan tetap rendah hati. Tidak sombong. Terbayang salah satu wajah saudara seperguruannya yang terpandai, Yan Yuan. Kiranya hanya dialah yang pantas disebut sebagai pembelajar sejati. Tak salah bila Sang Guru begitu menyanyangi Yan Yuan. Figur Yan Yuan jelas bukan seperti telur rebus yang diceritakan Sang Guru. Kalau mau jujur, dirinya pun masi ada unsur telur rebusnya. Terkadang di bawah sadarnya, ia masih suka menyombongkan diri sesekali. Ia harus berubah. Sang Guru telah dengan jitu menyentilnya secara tidak langsung.

Setelah sadar, wajah Zi Gong langsung bersemu merah kala gurunya tersenyum-senyum memandangnya dari tadi. Seakan telah terbuka semua rahasia hatinya. Tapi mengapa harus malu? Bukankah Sang Guru memang sudah memahami segenap kekuatan dan kelemahannya? Tanpa menunggu pertanyaan Zi Gong, Kong Zi kembali bergegas kebelakang. Diambilnya sebuah wortel dari kebun. Seperti sebelumnya, wortel itu pun dimasukkannya ke dalam air mendidih. Selang beberapa waktu, wortel itu diangkatnya dari air rebusan. bersamaan dengan itu Kong Zi pun berkata, "Zi Gong, kamu pun tidak boleh menjadi wortel rebus".

Sejenak Zi Gong tercenung. Dipegangnya wortel rebus itu sambil dipencet-pencet. Wortel yang semula keras kini menjadi lunak. Namun ia tetap bisa dikenali sebagai wortel. Mengapa gurunya mengatakan seperti itu? Bukankah wortel melambangkan fleksibilitas, keluwesan, namun sekaligus kekukuhan untuk mempertahankan prinsip, sehingga tetap tidak kehilangan jati diri? Mulut Zi Gong ingin meluapkan banyak kata-kata, berjuta argumen; namun entah mengapa seakan terkunci.Sang Guru tetap tersenyum. "Zi Gong, wortel memang luwes, fleksibel, mampu beradaptasi, mampu beradaptasi menyesuaikan diri. Hebatnya lagi ia tidak kehilangan jati dirinya. Lambang seseorang yang teguh mempunyai prinsip, namun tidak kaku. Bagus. Tapi, cobalah kamu lihat air ini. air ini tetap tidak berubah. Tidak ada nilai tambah. Apa artinya? Pengorbanan wortel itu menjadi sia-sia. Tidak mengubah apa-apa."Mata Zi Gong membelalak lebar, wajahnya memancarkan roma kegembiraan. Sekali lagi ia mendapat pencerahan dari gurunya yang amat bijaksana. Ia sungguh-sungguh beruntung mempunyai guru yang begitu arif dan bijaksana.

Sampai di sini Zi Gong sudah tidak merasa penasaran lagi. Ia seakan sudah cukup terpuaskan dengan empat contoh yang diberikan gurunya. Dia tidak sadar bahwa Sang Guru sudah mengganti airnya, menambahkan kayu bakar dan mulai merebus air kembali. Dia baru sadar kembali kala gurunya menaruh bongkahan gula batu kedalam air mendidih.

Tak lama kemudian Sang Guru berkata, "Jadilah kamu gula batu, muridku. Tubuhnya memang hancur seperti bongkahan salju, tapi bukan karena ia tidak punya prinsip. Kelihatannya kalah, tapi sebenarnya dialah yang menang, yang menguasai yang membuat air berubah manis. Biarkan orang menyangka diri merekalah yang menang, namun sesungguhnya telah dikalahkan secara cerdik dan halus. Bila kamu bisa meresapi dan menghayati makna filosofi gula batu ini, kamu akan bisa menerapkanya di bidang apa pun di sepanjang hidupmu. Itulah jawaban atas pertanyaanmu semula, bagaimana sikap terbaik dalam kehidupan".

Mata Zi Gong mendadak bersinar ribuan watt. Dia sungguh-sungguh tercerahkan. Dengan menangis haru Zi Gong bersujud di hadapan Sang Guru. Dipeluknya erat-erat kaki Kong Zi. Lama, sangat lama. Hari ini dia telah mendapatkan mutiara kehidupan yang tak ternilai harganya. Dia berjanji dalam hati. bertekad memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Sheng Ren Kong Zi pun tersenyum haru. Dia menaruh harapan besar pada murid-muridnya, terutama Zi Gong dan Yan Yuan. Di tangan merekalah masa depan ajarannya diharapkan bisa semakin berkembang. Ia selalu menaruh harapan besar kepada generasi muda.

Harapan Kong Zi tentang muridnya sebagian besar terwujud. Khusus tentang Zi Gong, dia tumbuh menjadi orang yang sukses, baik di masyarakat, dalam pemerintahan dan juga sebagai pengusaha. Semua itu tidak lepas dari sifatnya yang luwes, lentur, namun tetap memegang prinsip. Kemampuan diplomasinya bahkan beberapa kali menyelamatkan dan mendinginkan situasi panas yang terjadi dalam hubungan antar kerajaan pada masa itu. Tak jarang ketika Kong Zi diangkat menjadi Menteri Kerajaan Lu, Zi Gong sering diutus Sang Guru untuk menangani hal-hal penting, persoalan-persoalan yang berat. Ia memang murid yang bisa diandalkan.

dikutip dari yotta-steel

------------------------------------------

Baca Juga





Monday, October 19, 2015

Wismilak dan Bismillah

Wismilak itu salah satu merek dari sekian banyak merek rokok yang diproduksi dan beredar di tanah air. Pemilik perusahaan rokok tersebut pastinya punya cerita sendiri kenapa dulu beliau atau mereka memilih merek Wismilak untuk rokok yang mereka produksi. Perusahaan itu awalnya memproduksi rokok kretek alias rokok yang tidak dilengkapi dengan filter, dan masih di produksi dan beredar di pasar hingga hari ini.

Dari sudut pandang Bahasa Wismilak itu terkesan meng-indonesia-kan kalimat berbahasa Inggris Wish Me Luck dengan menuliskannya sesuai dengan ejaan dan lafal orang Indonesia. Wish Me Luck bermakna harfiah ‘do’a kan aku beruntung’ atau ‘ do’akan supaya aku beruntung’, makna yang baik bukan. Meskipun para penyokong kampanye anti rokok (mungkin) akan berkomentar lain.

Menurut kabar yang beredar di belantara dunia maya, dulunya sekali, pendiri pabrik rokok tersebut mendapatkan petunjuk dari sesepuh pesantren di Jawa yang juga Kakek dari (alm) Gus Dur untuk mendawamkan kalimat ‘Bismillah’, lalu mendapatkan petunjuk untuk berbisnis rokok, dan ujungnya jadilah rokok kretek Wismilak itu.

Ada juga yang mengatakan bahwa Wismilak itu memang dari kata Bismillah yang di lafalkan oleh lidah orang Tionghoa karena dialek mereka, toh pendiri pabrik wismilak memang dari etnis Tionghoa. Kejadiannya kira kira sama dengan kata Bismillah yang berubah menjadi Semilah di lidah orang orang tua etnis Jawa.

Namanya juga kabar angin, saya pun tidak tahu persis kebenarannya. Karena toh saya bukan sang pendiri pabrik rokok itu dan bukan juga salah satu pemiliknya, kecuali bila mereka dan Allah S.w.t menghendaki. Mungkin saya bisa beberkan kebenarannya pada anda.

Saya jadi ingat pada kalimat “Ada pesan dari setiap peristiwa, tergantung pada kemampuan untuk membaca atau mencerna-nya, Tak semua pesan tertulis dengan aksara atau terdengar telinga”. Seperti Bahasa siloka, sandi, perumpamaan, iluminati atau apalah istilahnya. Pesan yang disampaikan hanya dapat difahami oleh mereka yang sudah dibekali dengan pengetahuan tentang itu untuk mengurai dan menterjemahkan dan memahami-nya.

Bila anda perokok, tiba tiba di suguhi rokok Wismilak yang belum pernah anda hisap, barangkali anda sedang diberi nasihat untuk mengingat Allah, mengingat Tuhan yang maha Agung, barangkali saja di mata dan telinga “Nya” anda masuk dalam golongan yang jarang (untuk sekedar) menyebut nama Tuhan. Atau bisa jadi anda sedang di-ingatkan tentang sebuah do’a, untuk sering men-do’a-kan dan meminta di do’a-kan supaya senantiasa beruntung.

Boleh jadi anda tidak suka dengan rokok-nya, seperti para diplomat Eropa di Konfrensi Meja Bundar yang mengejek Kyai Haji Agus Salim yang sedang menghisap cerutunya dengan teriakan “mbeeek” dan kata kata tak sedap karena asap dari rokok yang dihisap KH Agus Salim. Tapi toh dengan tenangnya kemudian KH Agus Salim mengatakan. “tidak ingatkah tuan tuan, aroma tembakau ini lah yang membuat bangsa tuan menjajah bangsa kami dan enggan untuk pergi….”.

Atau mungkin anda pernah mendengar tentang pesan dari khalifah Umar Bin Khatab kepada Amru Bin Ash yang menjabat sebagai Gubernur Mesir. Pesan-nya hanya berupa goresan lurus dengan ujung pedang di sepotong tulang, tapi mampu membuat Sang Gubernur gemetar ketakutan menyadari kesalahan yang dilakukannya manakala menerima sepotong tulang tersebut. Nama Amru Bin Ash kemudian dijadikan nama masjid yang dibangunnya dan masih berdiri hingga hari ini. Dan kisah itu pun menjadi inspirasi begitu banyak orang yang mengetahuinya.

Atau mungkin anda pernah mendengar tentang bagaimana Sultan Syarif Hidayatullah berkirim surat dari Cirebon kepada putranya Maulana Hasanudin di Banten, bukan lembaran surat yang dikirimkan oleh beliau, tapi sebilah keris, dan Maulana Hasanudin pun mafhum akan titah ayahandanya.

Pesan memang tak selalu datang dengan cara yang kita sukai. Bukankah Tuhan pun kadangkala mengirimkan pesan kepada hamba hambanya dengan cara yang tidak selalu disukai. Kadangkala di kirimkan pesan melalui penyakit agar mampu menghargai sehat, dikirim melalui kesempitan untuk mengingatkan agar menghargai kelapangan dan lain lain.

Pengirim pesan kadangkala merancang sedemikian rupa agar pesannya tersamar, menjadi rahasia, kadangkala rahasianya disembunyikan dibalik rahasia, Dan hanya mampu difahami oleh mereka yang mau berfikir. Mungkin untuk diberikan bonus berganda. wallohua'lam.

------------------------------------------

Baca Juga



Sunday, October 18, 2015

Mawar Merah dari Langit


Dalam sebuah kisah perjalanan Shech Abdul Qodir Jailani memasuki kota Bagdad beliau di hadang oleh utusan para wali di batas kota, mencegah beliau memasuki kota Bagdad dengan alasan bahwa kota Bagdad telah penuh oleh para wali.

Seumpama kota Bagdad adalah sebuah gelas dan air adalah para wali, maka gelas telah penuh oleh air dan tidak dapat lagi di tambah. begitulah gambaran penuhnya kota Bagdad oleh para wali dan tidak ada tempat lagi untuk Shech Abdul Qodir Jailani.

Shech Abdul Qodir Jailani tidak mendebat para utusan tersebut, beliau kemudian memasukkan setangkai mawar merah ke dalam gelas yang dijadikan perumpaan oleh utusan para wali tersebut, dan berkata, bila memang gelasnya (kota bagdad) telah penuh oleh air (para wali), maka aku adalah mawarnya, seketika itu juga para utusan itu memberi salam takzim kepada beliau dan mempersilahkan beliau memasuki kota Bagdad.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Shech Abdul Qodir Jailani memetik mawar itu dengan hanya mengacungkan tangannya ke langit, karena mawar adalah tanaman langit dan saat itu juga tangannya sudah menggenggam setangkai mawar. wallohua'lam.

"Dan apabila langit telah terbelah dan menjadi mawar merah yang berkilauan" (QS. Ar-Rahman : 37).

------------------------------------------

Baca Juga

Sunday, December 21, 2014

KETIKA BULE AUSIE BERBAHASA JAWA

Bahasa dan sastra Jawa merupakan satu dari 14 bahasa Asia yang diajarkan di Australian National University (ANU).  Sejumlah mahasiswa ANU memproduksi sekaligus menjadi pemain utama dalam film pendek yang berlatar belakang Jawa dan berbahasa Jawa, Sementara bahasa Inggris, hanya menjadi subtitle.

Film berjudul "Sri Ngilang" itu, menceritakan tentang seorang mahasiswi bernama Sri yang menghilang. Padahal, kedua temannya yang bernama Parto dan Landhung, memerlukan bantuan Sri. Film pendek tersebut sudah di unggah di Youtube. Selamat menikmati. 



Monday, November 24, 2014

Mencerna Legenda Curug Cigentis dan Sanggabuana

CURUG CIGENTIS - KARAWANG
Tempat Mandi Putri KeratonItu adalah kesimpulan yang menurutku paling sreg yang dapat kutulis dari legenda curug Cigentis yang dipampang di pos Perhutani di Curug Cigentis. Curug dalam bahasa Sunda berati Air Terjun. Sedangkan nama Cigentis (juga menurut legenda) adalah nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nu Geulis Nyi Geuntis. Konon dia adalah anggota pasukan khusus kerajaan Padjadjaran yang di utus oleh raja untuk mengawal atau lebih tepatnya ‘menguntit dan mengawasi’ aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para wali di wilayah Padjadjaran, tapi kemudian malah menjadi yang pertama berikrar memeluk Islam diantara anggota kesatuannya.

Curug Cigentis merupakan salah satu wana wisata yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, KPH Purwakarta Seluas 5,00 ha terletak di petak 47 c RPH Cigunungsari, BKPH Pangkalan, Secara administratif pemerintahan terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, berada pada 6°35 LS dan 107°12” BT, ketinggian tempat 600-1200m dpl dengan konfigurasi lapangan berupa pegunungan, bergelombang kelerengan agak curam s/d curam. Jarak kota kabupaten Karawang ±40Km dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sedangkan dari daerah Bogor dapat melalui Cariu.

Legenda Curug Cigentis (klik untuk memperbesar)
Kendaraan apapun yang anda pakai ke wanawisata satu ini, pada ahirnya haruslah tetap berjalan kaki dari pos perhutani menuju ke air terjun ini sekitar 200 meter. Jalanan menuju ke lokasi sebagian besar sudah di cor beton. Tersisa sekitar 1.5 km yang masih berupa jalan berbatu keras dan menanjak cukup ekstrim. Bila malas berjalan kaki, beberapa penduduk setempat menyediakan jasa ojek hingga ke lokasi parkir motor terahir beberapa meter dari pos perhutani. Namun naik ojekpun harus punya nyali mengingat tanjakan yang dilalui memang cukup ekstrim.

Mari kita cerna

Di pos perhutani tempat membeli tiket masuk seharga Rp. 10 ribu per orang, sudah dipampang spanduk besar yang menceritakan legenda tentang curug Cigentis. Lumayan untuk sekedar menambah pengetahuan. Meskipun legenda yang ada memang terlalu banyak celah untuk dikomentari. Silahkan bersabar untuk melanjutkan membaca ulasannya berikut ini sampai tuntas, untuk menemukan celah celah yang saya maksud. Mari kita cermati, Legendanya begini :

“Beberapa ratus tahun yang silam pasinggahan (Sekarang Curug Cigentis) adalah hutan belantara yang kering/kekurangan air, merupakan salah satu daerah kekuasaan Prabu SIliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa.

Bila dibaca dengan baik rasanya terlalu janggal bila hutan belantara dalam kondisi kering/kekurangan air. Bagaimana mungkin tanaman akan tumbuh apalagi sampai menjadi hutan belantara bila kekurangan air. Legenda itu memberikan berita bahwa hutan di gunung Sanggabuana sudah ada sejak beberapa ratus tahun silam. Walaupun mungkin belum ada aliran sungai yang kini membentuk curug cigentis.

Lalu Siapakah itu “Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa”?. Ahli sejarah memang terbagi dua pendapat tentang Prabu Siliwangi. Pendapat pertama mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya satu yakni Sri Baduga Maharaja. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada banyak karena itu adalah gelar bukan nama seseorang dan bukan hanya Sri Baduga Maharaja yang bergelar Siliwangi. Hanya saja, saya tidak menemukan Nama Prabu Sukma Rasa diantara jejeran nama Raja Padjadjaran. Mungkin yang dimaksud adalah Raden Pamanah Rasa (karena ada kata “Rasa”) yang merupakan nama lain dari Sri Baduga Maharaja.

Pada masa penyebaran Islam di Pulau Jawa Oleh Wali Songo, Curug Cigentis merupakan salah satu tempat yang disinggahi, daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu. Walaupun sebelumnya telah meminta ijin tetapi Prabu Siliwangi mempunyai kecurigaan kepada para wali (6 orang wali) tersebut, dikhawatirkan akan merebut kekuasaan, untuk mengawasi gerak gerik wali tersebut, Prabu SIliwangi tetap mengijinkan tetapi menyertakan pengawal yang sebenarnya telah di bai’at (doktrin) setia dengan alasan sebagai pengawal para wali.”

Dengan mudah anda akan bertanya, WaliSongo itu ada sembilan atau 6 orang sih?. Baiklah kita anggap saja bahwa dari sembilan wali yang ada hanya enam orang yang terlibat dalam legenda tersebut. Hanya saja, agama masyarakat Sunda adalah Agama Sunda Wiwitan bukan agama Hindu. Tapi baiklah bisa jadi di daerah Cigentis dimasa itu penduduknya beragama Hindu, jadi wajar bila kemudian para pengawal wali itu tak terlalu keberatan para wali berdakwah disana karena toh agama yang dianut bukan agama mayoritas. Bila itu benar maka semestinya di sekitar Cigentis terdapat peninggalan era Hindu berupa candi atau lainnya. Yang ada saat ini disekitar Cigentis justru situs batu Tumpang tak jauh dari Curug Peteui yang lebih mirip sebagai peninggalan masa animis ataupun megalitikum.

“Curug Cigentis pada saat itu merupakan daerah yang kering tidak ada air sama sekali, guna keperluan hidup dan beribadah para wali berdo’a bermunajat memohon dengan penuh kepasrahan, khusu’ serta penuh kesabaran, atas kekuasaan Tuhan YME dari sebuah batu yang besar keluarlah air, membentuk sebuah air terjun (Curug). Orang orang yang berada pada lokasi tersebut serentak merasa kaget, sekaligus kagum dan suka cita, tidak terkecuali para prajurit Prabu Siliwangi yang ditugaskan mengawal para wali tersebut. Salah satu pengawal yang bernama “Nu Geulis Nyi Geuntis” secara spontan “berikrar” masuk agama Islam. Karena beberapa hari tidak mandi dan kekurangan air, Nyi Geuntis sari sambil sambil mengucapkan kalimat mengagungkan Tuhan (Allohu Akbar 3X) langsung terjun dan mandi pada Curug tersebut. Melihat hal tersebut, maka para wali menamakan curug tersebut dengan “Curug Cigentis”

Sebenarnya para wali, para pengawalnya dan orang orang yang mengikuti mereka itu, berkumpul dibagian mana sih?.  Di tempat yang kini jadi air terjunnya, atau di dekat batu besar yang mengeluarkan air?. Bila mereka berkumpul di dekat batu besar yang mengeluarkan air berarti lokasinya berada di bagian atas dari Curug Cigentis saat ini, berarti “Nu Geulis Nyi Geuntis” itu adalah pengawal sakti yang mampu terjun dari bagian atas curug setinggi lebih dari 20 meter untuk mandi pada curug tersebut.

Bila memang air yang mengalir di Curug Cigentis berasal dari sebuah batu besar semestinya hingga hari ini pun batu besar yang mengeluarkan air tersebut masih dapat kita temui disana, faktanya curug cigentis berasal dari air aliran sungai kecil yang terbentuk dari begitu banyak mata air di Gunung Sangga Buana, yang melewati tebing curam hingga membentuk air terjun. Atau jangan jangan batu besar yang dimaksud adalah gunung sanggabuana itu sendiri.

“Melihat apa yang dilakukan Nyi Geuntis Sari pengawal yang lain pun ikut masuk Islam yang dipimpin salah satu wali yang bernama Kyai Bagus Sudrajat antara lain Putri Komalasari, Putri Melati, Putri Cempaka, Putri Sri Dayang Sari, Putri Sri Kunti, Putri Kaling Buana, Ibu HArum Sari, Ibu Harum Melati, Putri Malaka Mekah, Putri Malaka Hujan, Putri Rangga Huni, Resi Taji Malaka, Ganda Malaka, Guntur Roma, Rd. Jaka Tunda dan Masyarakat lainnya.”

Diantara para pembaca adakah yang bisa membantu saya untuk menjelaskan siapakah anggota walisongo yang bernama Kyai Bagus Sudrajat itu. Karena dibagian awal tadi disebutkan bahwa ‘para wali’ yang dimaksud adalah walisongo?.

Bila mengamati nama nama para pengawal wali itu. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai ‘Para Penggoda Wali” bukan “pengawal wali”.  Bagaimana tidak, dari 15 nama yang disebut itu 12 diantaranya adalah perempuan dan 9 diantaranya bergelar Putri. Yang namanya putri pastinya cantik, mustahil ganteng dong.

Hei, itu aku
“Disekitar lokasi tersebut terdapat sebuah bukit yang sering dipakai pertemuan oleh para wali sehingga lokasi tersebut sampai saat ini dikenal dengan puncak sanggabuana. Sangga = sembilan menandakan wali sembilan dan ‘Buana” = tempat dimana lokasi tersebut sering dipakai berkumpul dalam penyebaran agama ke daerah Cirebon, Demak, Kudus, Banten, Garut, Pemijahan Tasikmalaya, dan lain lain. Konon yang membagi bagikan tugas tersebut adalah Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani.

Salah satu petuah pawa wali yang menjadikan daerah tersebut berkeramat adalah ‘ikuti jejak kami’ kalau kita mempunyai maksud dan tujuan tetap meminta kepada Allah SWT (dari berbagai sumber)”.

Pada alenia ini terkesan terlalu dipaksakan untuk menghubungkan puncak Sanggabuana dengan Walisongo. Sangga dan Sanga memiliki makna yang jelas berbeda. Sangga bermakna penopang, sedangkan Buana atau Buwana bermakna Dunia atau semesta. Fakta menunjukkan bahwa Gunung Sanggabuana di Karawang merupakan titik tertinggi di wilayah Karawang. Bisa jadi disebut dengan nama Sanggabuana (penopang dunia) karena faktor tersebut.

Lebih menarik lagi dalam legenda itu disebutkan nama Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani yang membagi bagikan tugas kepada para wali(songo). Mungkin yang dimaksud adalah Abdul Qodir Jailani (1077–1166 M). Hanya saja beliau tak sejaman dengan walisongo.

Dan dari paparan legenda itu saya hanya mampu mempuat kesimpulan yang menurutku paling sreg bahwa Curug Cigentis itu legendanya adalah tempat mandinya putri keraton. Yang sedangkan bagian lain dari legendanya justru lebih menarik untuk di diskusikan ulang. Atau mungkin ada yang berminat untuk mulai menggali lebih jauh legenda itu, termasuk kemungkinan untuk menemukan sebuah candi Hindu di sekitar Cigentis dan Sanggabuana. Siapa tahu.