Wednesday, August 13, 2014

PUDARNYA KILAP PALANGKA SRIMAN SRIWACANA

Watu Gilang atau Palangka Sriman Sriwacana
Palangka Sriman Sriwacana adalah batu berukuran 200x160x20cm, terbuat dari batuan andesit yang dibentuk persegi panjang lalu permukaannya digosok hingga mengkilap, merupakan piranti penobatan Raja Pajajaran. digunakan sebagai tempat duduk bagi calon raja yang akan di nobatkan sebagai raja Pajajaran.  Nama asli batu ini adalah Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja). Nama Palangka Sriman Sriwacana disebut dalam naskah carita parahyangan sebagai berikut :

“Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka sriman sriwacana sri baduga maharajadiraja ratu haji di pakwan pajajaran nu mikadatwan sri bima punta narayana madura suradipati, inyana pakwan sanghiyang sri ratu dewata”.

(Sang susuktunggal ialah yang membuat tahta sriman sriwacana untuk sri baduga maharaja, ratu penguasa di pakuan pajajaran yang bersemayam di keraton sri bima punta narayana Madura suradipati yaitu istana sanghiyang sri ratu dewata)

Sang Susuktunggal adalah raja dari kerajaan Galuh, saudara kandung Prabu Dewa Niskala raja Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan / Pajajaran. Sri Baduga Maharaja adalah putra mahkota kerajaan Pajajaran, Putra dari Prabu Dewa Niskala, Cucu dari Prabu Niskala Wastu Kencana, cicit dari Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur tahun 1357 di Perang Bubat melawan Majapahit.

Sri Baduga Maharaja kemudian lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi, karena dianggap meneruskan kejayaan kakek buyutnya, Prabu Maharaja Lingga Buana yang namanya harum mewangi sebagai pahlawan di perang Bubat. Rakyat parahyangan kemudian dengan penuh hormat menyebut Prabu Lingga Buana dengan nama Prabu Wangi. Sri Baduga digelari Siliwangi, Sili bermakna ‘penerus’ sehingga siliwangi dapat diartikan sebagai Penerus Prabu Wangi yang gugur di perang Bubat.

Benda cagar budaya berdasarkan UU No.5 Tahun 1992
Merujuk kepada penggalan carita parahyangan diatas, Sri Baduga merupakan Raja Pajajaran pertama yang dinobatkan diatas Palangka Sriman Sriwacana. Begitupun beberapa penerusnya mulai dari Prabu Surawisésa (1521-1535, putra Sri Baduga dari Kentring Manik Mayang Sunda), Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Nilakéndra (1551-1567) hingga ke Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Dengan fungsinya yang demikian, dapat dibayangkan betapa tingginya pamor dari batu yang bernama Palangka Sriman Sriwacana tersebut pada masa itu.

Dimasa pemerintahan Prabu Nilakendra, tahun 1566 Pajajaran diserbu oleh pasukan kesultanan Banten dibawah pimpinan Maulana Yusuf atas perintah Ayahnya Maulana Hasanudin yang berkuasa di Banten dan atas restu kakeknya, Sunan Gunung Jati di Cirebon. Serbuan itu menyebabkan Prabu Nilakéndra dan kerabat keraton menyelamatkan diri meninggalkan keraton di Pakuan, dan menjalankan pemerintahan di pengasingan. Praktis kerajaan Pajajaran runtuh setelah penyerangan tersebut. Sejak saat itu ibukota Pakuan ditinggalkan oleh raja dan dibiarkan nasibnya berada pada penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan

Sepeniggal Prabu Nilakendra, kepemimpinan diteruskan oleh Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana yang menjalankan pemerintahan di pengasingan, di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia dikenal pula sebagai Pucuk Umun (Panembahan) Pulasari (mungkin raja ini berkedudukan di Kaduhejo, Kecamatan Menes pada lereng Gunung Palasari).

Penghianatan

Pakuan Pajajaran luluh lantak, akibat serangan kedua dari pasukan kesultanan Banten dibawah pimpinan Maulana Yusuf. Serbuan tersebut terjadi pada tahun 1579 atau dua belas tahun sejak serangan pertama. Benteng kota Pakuan yang dibangun pada masa Prabu Siliwangi memang sangat kokoh meski sudah 12 tahun ditinggalkan oleh para penguasanya. Pasukan Banten masih terpaksa menggunakan cara halus untuk menembusnya.

Naskah Banten memberitakan bahwa benteng kota (pakuan) Pajajaran baru dapat dibobol setelah terjadinya penghianatan. Komandan kawal benteng Pakuan Pajajaran merasa sakit hati karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Ia adalah saudara Ki Jongjo, seorang kepercayaan Maulana Yusuf. Tengah malam, Ki Jongjo bersama pasukan khusus menyelinap ke dalam kota setelah pintu benteng terlebih dahulu dibukakan saudaranya itu.

Kerajaan Sunda benar benar berahir ditandai dengan dikuasainya kota Pakuan oleh pasukan Banten, dan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana sebagai piranti penobatan raja, dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf, dan secara tradisi politik di Pakuan Pajajaran tidak dimungkinkan lagi penobatan raja baru.

Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.

Sang Pewaris

Dari garis keturunan, Maulana Yusuf sendiri merupakan penerus kekuasaan Sunda yang sah karena beliau juga keturunan Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Sunda. Maulana Yusuf adalah anak dari Maulana Hasanudin, anak dari Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayat. Sunan Gunung Jati adalah anak tertua dari Nyi Rara Santang yang tak lain adalah anak kedua dari Prabu Siliwangi dari istrinya Subang Larang.

Pustaka Nusantara III/1 dan Kertabhumi I/2 meriwatkan keruntuhan Pajajaran tersebut dengan kalimat : “Pajajaran sirna ing ekadaśa śuklapaksa Wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang Śakakala” (Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka). Tanggal tersebut kira-kira bertepatan dengan 8 Mei 1579 M. sedangkan naskah Banten memberitakan keberangkatan pasukan Banten ketika akan melakukan penyerangan ke Pakuan dalam pupuh Kinanti yang artinya, "Waktu keberangkatan itu terjadi bulan Muharam tepat pada awal bulan hari Ahad tahun Alif inilah tahun Sakanya satu lima kosong satu".

Sendiri dalam sunyi
Pamor Yang Pudar

Di keraton Surosowan, Palangka Sriman Sriwacana masih difungsikan sebagai piranti penobatan raja namun tentu saja dengan prosesi yang berbeda. Sampai ahirnya kesultanan Banten runtuh oleh imperialis Belanda, keraton Surosowan pun hancur, menandai berahirnya kesultanan Banten.

Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di kawasan Banten Lama. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman. Lokasi tempatnya berada saat ini sangat kontradiktif dengan kemegahan masa lalu nya. Orang awam yang melihatnya pun tak kan tahu bila sebidang batu tua yang tak lagi mengkilap tergerus zaman di ruang terbuka berpagar seadanya itu, pada masa nya adalah piranti teramat penting bagi penobatan seorang Raja.