Showing posts with label sejarah nasional. Show all posts
Showing posts with label sejarah nasional. Show all posts

Tuesday, July 17, 2018

Gelumbang (Pernah) Punya Lapangan Terbang ?

Lapangan terbang Gloembang atau Belanda Menyebutnya lapangan terbang P2 (Palembang Dua) di identifikasi sebagai Lapangan yang kini berada di dalam areal Batalyon Kavaleri 5 Kodam Sriwijaya di desa Karang Endah, kecamatan Gelumbang. Anda bisa lihat dengan jelad dalam foto udara dari Google map di atas sebuah lapangan mirip landasan pacu pesawat terbang pada sisi kanan foto.

Gelumbang adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah yang dulunya merupakan satu kecamatan yang sangat luas dan kini sudah di mekarkan menjadi 6 kecamatan terdiri dari Kecamatan Gelumbang sebagai kecamatan induk, Kecamatan Lembak, Kecamatan Sungai Rotan, Kecamatan Muara Belida, Kecamatan Belida Darat dan Kecamatan Kelekar. Ke enam kecamatan ini sedang dalam persiapan untuk membentuk Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Gelumbang.

Sejarah mencatat, wilayah bekas kecamatan Gelumbang yang kini mekar menjadi 6 kecamatan dan biasa disebut dengan istilah Dapil-3, pernah memiliki dua Lapangan Terbang. Satu lapangan terbang dibangun oleh penjajah Belanda di wilayah Desa Karang Endah, dan satu lagi di bangun oleh PT. Patratani, anak perusahaan PT. Pertamina Persero, di tengah perkebunan kelapa hibrida yang dikelolanya dan kini masuk ke dalam wilayah kecamatan Muara Belida.

Majalah Departemen Pertahanan Australia (ADF) Edisi November – Desember 2006 merilis sebuah laporan penyelidikan tentang sejarah keberadaan lapangan terbang di wilayah Gelumbang, tepatnya di pangkalan militer Karang Endah. Lapter tersebut di identifikasi dengan kode P2 Airstrip atau Palembang 2 Airstrip.
.
Laporan tersebut terkait sejarah Militer Australia yang pernah menggunakan lapangan terbang P2 Karang Endah sebagai perhentian, pada saat seluruh pasukan Australia diperintahkan mundur dan keluar dari wilayah Malaysia dan Singapura.
.
Foto udara dari pihak Belanda, suasana Lapangan Terbang P2 Karang Endah atau Lapangan Terbang Gloembang.

Lapter P2 Karang Endah awalnya dibangun oleh Belanda di pangkalan militer Belanda di Karang Endah berupa lapangan rumput luas dengan runaway berpermukaan tanah yang dipadatkan. Pembangunannya terkait dengan persiapan militer Belanda menghadapi serbuan pasukan Jepang di tahun 1941 sebagai lapangan terbang kedua (cadangan) setelah lapangan terbang P1 atau Palembang Satu di Talang Betutu.
.
Pembangunan lapangan terbang tersebut memang tidak pernah selesai, namun demikian sudah digunakan oleh pihak tentara Belanda dalam hal ini adalah pasukan Militaire Luchtvaart – Koninklijk Nederlands Indisch Leger (ML-KNIL) pada bulan Desember 1941 dan diperlengkapi dengan pengebom Glen Martin. Pasukan tersebut kemudian ditarik mundur dan direlokasi ke Semplak (Bogor) pada tanggal 26 Januari 1942 (lokasi yang kini kemungkinan menjadi Pangkalan TNI AU Atang Sanjaya, Bogor).
.
Digunakan oleh pasukan sekutu
.
Seiring dengan pecahnya perang tanggal 8 Desember 1941, Hindia Belanda (Netherlands East Indies), Amerika Serikat, Inggris dan Australia bersekutu dan membentuk Kerjasama pertahanan udara pada tanggal 15 Januari 1942. Namun kemudian penarikan pasukan negara negara ini terbilang lambat dari dari wilayah Malaya sampai dengan menyerah nya Jepang di 8 Maret 1942.
.
Dalam rangka penarikan pasukan tersebut, AU Inggris (RAF) dan pasukan AU Australia menggunakan Pangkalan Udara P1 (Talang Betutu) dan Lapter P2 (Karang Endah). Lapter P2 Karang Endah sempat di pimpin oleh Kapten McCauley dari AU Inggris (RAF) pada tanggal 31 Januari 1942.
.
Pasukan TNI Hijrah. Paska penandatangan perjanjian Renville pasukan TNI harus hijrah dari wilayah Belanda ke wilayah Republik Indonesia. Tampak dalam foto di atas pasukan TNI sedang berkumpul di Lapangan Terbang Karang Endah yang kala itu masih dikuasai Belanda untuk bersiap hijah masuk ke wilayah Republik Indonesia.

Pesawat pesawat militer yang pernah bertugas di Lapter P2 Karang Endah termasuk pesawat Lockheed Hudsons dari Skuadron 1 AU Australia (RAAF) dan skuadron 62 AU Inggris (RAF), Bristol Blenheims dari skuadron 27 AU Inggris (RAF) dan Skuadron 84 AU Inggris (RAF), yang semuanya dibawah kendali kelompok pembom 225 AU Inggris (RAF). tidak ada data pasti tentang jumlah pesawat yang di Lapter P2 Karang Endah ini saat itu namun diperkirakan terdapat lebih dari 100 pesawat yang tersebar dibawah pepohonan.
.
Dikuasai pasukan Jepang (Februari 1942-Agustus 1945)
.
Pada tanggal 14 Februari 1942, pasukan militer Jepang berhasil merebut Lapangan terbang P1 (Talang Betutu) dan berikutnya berhasil menguasi wilayah kota Palembang dan dua kilang minyak di seberang selaran Sungai Musi. Situasi itu menyebabkan lapter P2 Karang Endah sangat sulit untuk dipertahankan oleh pasukan Belanda dan sekutunya, dan berujung kepada penarikan pasukan Belanda dan Australia ke pulau Jawa pada tanggal 16 Februari 1942, Induk pasukan terahir yang ditarik dari Karang Endah adalah Batalyon Infantri X.
.
Gelumbang dan sekitarnya jatuh ke tangan pasukan Jepang pada 21 Februari 1942 termasuk Lapter P2 Karang Endah, dan pada tanggal 24 Februari 1942 pesawat Jepang pertama kali mendarat di Lapter P2 Karang Endah, terdiri dari 29 pesawat pembom Mitsubishi G3M bombers dan pesawat angkut tunggal Genzan Kokutai dari Detasemen AL ke 22 Jepang (Koku Sentai). Di hari berikutnya Lapter P2 ini digunakan oleh detasemen Genzan Kokutai sebagai basis untuk menyerang Tanjung Periok.

Lapangan Terbang Gloembang

Selanjutnya Lapter P2 Karang Endah digunakan oleh Angkatan Udara Jepang dan mengganti nama P2 menjadi Lapangan Terbang Gloembang dan melengkapinya dengan 54 unit pesawat tempur Nakajima Ki-44 fighters dari skuadron Sentai ke 87 pada pertengahan bulan Oktober 1944. Fungsi utama Lapter Gloembang adalah sebagai pangkalan pesawat tempur untuk melindungi kilang minyak di Plaju dan Sungai Gerong yang sudah di kuasi Jepang.
.
Pertempuran udara Skuadron 87 Sentai dari Lapter Gloembang ini terjadi pada tanggal 24 dan 29 Januari 1945 ketika pesawat pesawat tempur Inggris menyerang Sungai Gerong dan Plaju. Dalam pertempuran udara itu Skuadron 87 Sentai kehilangan 12 pesawat mereka. Hal itu diperkuat oleh laporan pihak mliter Jepang tanggal 14 Maret 1945 yang menyebutkan bahwa Skuadron 87 Sentai merupakan satu satunya penguasa di Gloembang dengan kekuatan 17 pesawat tempur jenis Nakajima Ki-44s. Sedangkan unit tempur yang lain termasuk Skuadron Sentai ke 21 dan 33 menggunakan Lapter Gloembang sebagai lapter singgah dari pangkalan utama mereka di Talang Betutu.
.
Gerbang Komplek Batalion Kavaleri 5 (YONKAV-5) Karang Endah, ditepian ruas jalan dari Gelumbang ke arah kota Prabumulih.

Sebuah laporan intelejen pada bulan Oktober 1945 le,imglomam berasal dari sumber sumber Inggris, menyebutkan bahwa diperkirakan terdapat tujuh pesawat tempur jepang jenis Kawasaki Ki-45, 12 pesawat Mitsubishi Ki-46, satu Mitsubishi Ki-30 dan satu Mansyu Ki-79 milik mirliter Jepang, terbengkalai tak terurus di Lapangan Terbang Gloembang. Laporan ini menjadi menarik karena jenis pesawat yang disebutkan berbeda dengan jenis Nakajima Ki-43 dan Ki-44 yang dilaporkan beroperasi dari Lapter Gloembang.

Lapter Gloembang di masa awal Kemerdekaan (Agustus 1945 – Juli 1947)

Seiring dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu dan Proklamasi kemerdekaan Indonesia, di pulau sumatera terdapat lebih dari 60 lapangan terbang termasuk Lapter Gloembang atau P2 Karang Endah dibawah kendali pemerintah Indonesia. Namun demikian pemerintah Indonesia tidak langsung mengelola lapangan lapangan terbang P1 Talang Betutu dan Lapter Gloembang atau P2 Karang Endah dan masih di bawah pengelolaan AU Belanda.
.
Hal tersebut kemungkinan karena kebanyakan pesawat yang ada dalam kondisi rusak atau tak terawatt ataupun karena ketiadaan pilot untuk mengoperasikan pesawat pesawat di Lapter tersebut karena para pilot TNI saat itu masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan Sumatera Utara.
.
Meski pernah disebutkan dalam sebuah diskusi di Palembang pada tanggal 26 September 1946 tentang pembentukan fasilitas pelatihan bagai para pilot di wilayah Sumatera Selatan dan kemudian pihak Belanda menyebutkan fasiltas dimaksud dibentuk di Lapter Gloembang atau Lapter P2 Karang Endah namun demikian laporan ini tidak ditemukan dalam catatan catatan sejarah ataupun publikasi pemerintah Indonesia.
.
Tampaknya saat itu pemerintah Indonesia konsentrasi kepada perbaikan lapangan terbang di Sumatera termasuk Lapter P2 Karang Endah, hal tersebut untuk menunjang upaya percepatan pengadaan penerbangan rutin antara Lapter Maguwo (Yogyakarta) ke Changi (Singapura) dengan perhentian untuk pengisian bahan bakar di Lapter P2 Karang Endah dan Bukit Tinggi.
.
Penerbangan rutin oleh beberapa maskapai telah dimulai pada tanggal 9 April 1947 namun tidak diketahui apakah penerbangan penerbangan tersebut melakukan pendaratan singgah di Lapter Gloembang atau tidak.

Diketahui bahwa pada pada tanggal 20 September 1946 Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma bersama pilot Opsir II Imam Suwongso Wirjosaputro berangkat dari Yogya menuju Pangkalan Udara Karang Endah, untuk meresmikan pembukaan pangkalan tersebut.

Agresi Militer Belanda I (July 1947 – April 1950)

Di masa Agresi Militer Belanda pertama, Lapter P2 Karang Endah kembali di kuasi oleh tentara Belanda pada tanggal 25 Juli 1947 oleh Resimen ke 7 Regiment Stoottroepen (RS). Agresi tersebut merupakan bagian dari upaya Belanda untuk merebut ladang minyak di wilayah Sumatera Selatan.
.
Lapter P2 Karang Endah kemudian dikelola oleh Detasement Piper Cubs yang merupakan bagian dari 17 Verkenning en Artillerie Waarneming Afdeling (VARWA). Dan Karang Endah menjadi salah satu dari 40 Lapter yang dikuasai oleh 17 VARWA di pulau Sumatra.
.
TNI AD (April 1950 – sampai Sekarang)
.
Lapangan terbang P2 Karang Endah atau Lapangan Terbang Gloembang diserah terimakan dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia pada bulan April 1950 sebagai bagian dari penyerahan seluruh fasilitas KNIL kepada pemerintah Indonesia.
.
Kini Lapangan Terbang P2 Karang Endah atau oleh pihak Jepang disebut sebagai Lapangan Terbang Gloembang dan seluruh fasilitas militernya menjadi fasilitas militer TNI Angkatan Darat, dalam hal ini menjadi Markas Batalyon Kavaleri 5 (Yonkav V) Kodam Sriwijaya, di desa Karang Endah, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
.
Sejauh ini tidak ada laporan resmi tentang penggunaan bekas lapangan terbang P2 tersebut. Sebagai fasilitas militer negara, kawasan tersebut tentu saja tertutup untuk umum kecuali dengan izin resmi dari pihak berwenang.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------


Referensi

Tuesday, January 16, 2018

Menilik Pulau Penyengat

Penyengat yang Carnipora, Peta Lokasi Pulau Penyengat dan Masjid Sultan Riau atau Masjid Putih Telur yang begitu terkenal dan bersejarah, dan disebut sebut pembangunannya menggunakan putih telur. Masjid kuning ini terlihat jelas dari pantai kota Tanjung Pinang.

Penyengat adalah sebutan orang melayu bagi sejenis tawon liar seperti di foto itu. Penyengat juga nama sebuah pulau kecil yang ukurannya tak lebih dari 1,5 km persegi di lepas pantai Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau. Saat ini statusnya merupakan sebuah kelurahan di dalam kota Tanjung Pinang dan menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan kota Tanjung Pinang. Pulau Penyengat sempat menjadi ibukota kerajaan melayu Johor-Riau di abad ke 19.
.
Di pulau kecil ini anda dapat menemukan peninggalan kejayaan kesultanan melayu Johor-Riau termasuk beberapa bangunan Istana, benteng pertahanan, gedund gedung bersejarah dan makam para raja kesultanan melayu Johor-Riau, termasuk Masjid Sultan Riau Penyengat yang sangat populer itu.
.
.
Konon, nama penyengat bagi pulau ini memang berasal dari nama Tawon Penyengat itu. Jaman dulu para pelaut Portugis yang mendarat di pulau kecil ini untuk mendapatkan air bersih, kocar kacir kembali ke kapalnya karena diserang serombongan Penyengat ganas tersebut. Di sekitar balai adat Melayu di pulau Penyengat kini memang masih ada sumur tua yang airnya jernih dan tawar meskipun letaknya di bibir pantai pulau penyengat.
.
Dan Menariknya lagi mas/mbak Brow, Pulau penyengat ini beserta Istana dan seluruh isinya ini, di tahun 1803 merupakan Mas Kawin dari Sultan Mahmud, Raja Kesultanan Johor-Riau untuk Permaisurinya, Engku Putri atau Raja Hamidah anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV. Makam beliau kini dapat ditemukan di pulau Penyengat.
.
Di dalam komplek Makam beliau juga terdapat makam dari Raja Ali Haji, sang pujangga kesultanan Riau yang begitu termasyur dan juga Pahlawan Nasional Indonesia. Selamat berkunjung ke Penyengat.
.
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Mas Kawin untuk Seorang Permaisuri
Hikayat Keris Taming Sari
Dimanakah Makam Prabu Siliwangi
Siapakah Prabu Siliwangi Sebenarnya ?
Pudarnya Kilap Palangka Sriman Sriwacana
Bertemu Patih Gajahmada di Gunung Ibul, Prabumulih
Iskandar “Agung” Zulqarnain dimakamkan di Palembang ?
Timbuktu, Kisah Tentang Wanita Terpercaya di Ujung Dunia
Merunut Hikayat di Matangaji

Sunday, June 11, 2017

Pewaris Jayakarta Yang Tersingkir

Makam Pangeran Senapati di Cibarusah, Kabupaten Bekasi

Pangeran Senapati, atau dikenal luas di Cibarusah sebagai Uyut Sena ataupun Mbah Sena, sejatinya adalah pewaris tahta kesultanan Jayakarta, putra dari Pangeran Jayakarta. Seiring dengan jatuhnya Kesultanan Jayakarta kebawah hegemoni Belanda tahun 1619.

Pangeran Senapati bersama keluarga menyingkir melalui jalur laut ke arah timur, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke selatan. Di sebuah hutan jati beliau kemudin babat alas membangun hunian baru yang kini dikenal sebagai Cibarusah, di kabupaten Bekasi. Menilik sejarah ini, Tjibarusah sudah eksis setidaknya sejak abad ke 17.

Paska kekalahan Kesultanan Jayakarta dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus untuk membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman. Maka dimulailah perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati.

Di kawasan hutan jati itulah kemudian Pangeran Senopati berhenti bersama pasukan dan keluarga yang masih menyertainya. Beliau menganggap kawasan hutan lebat itu sebagai lokasi persembunyian yang aman dari kejaran pasukan Belanda. Termasuk untuk tinggal mengembangkan keluarga dan keturunan. Babat alas dimulai untuk membangun pemukiman baru yang dikemudian hari dikenal dengan nama Cibarusah. Kata Cibarusah sendiri konon berasal dari kalimat berbahasa sunda “Cai baru sah”.

Dikisahkan bahwa ketika masjid masjid telah didirikan, jemaah kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang memenuhi sarat sah untuk bersuci sebelum menunaikan sholat. Ketika pencarian sumber air berhasil menemukan sumber air bersih salah satu ulama yang menyertai Pangeran Senopati berujar dalam bahasa Sunda “nah ieu’ CAI’ BARU SAH” yang berarti “Nah ini airnya baru sah” maksudnya sah secara syar’i untuk keperluan bersuci. Kalimat “CAI’ BARU SAH” itulah yang kemudian menjadi CI BARU SAH. Sedangkan nama kampung ‘Babakan’ berasal dari kata ‘Bukbak’ dalam bahasa sunda yang berarti membersihkan.

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Pangeran Senopati tersebut berbahan utama kayu jati yang ketika itu melimpah disana. Tak jauh dari masjid dibangun sebuah kolam penampung air bersih berukuran kira kira 20x30m untuk menampung air bersih yang dialirkan dari sumbernya menggunakan pipa pipa bambu dan saluran yang dibangun secara bergotong royong. Riwayat tutur menyangkut sejarah masjid ini terputus sampai disitu. Hingga kini keturuan Pangeran Sena masih ada di KBC, keluarga beliau dapat dikenali dengan gelar ‘Raden’ yang disematkan kepada nama mereka masing masing. Pangeran Senapati wafat dan dimakamkan di Kampung Babakan Cibarusah (KBC) dan dikenal dengan sebutan Makam Embah Uyut Sena. https://goo.gl/wTekAs

Baca juga


Saturday, July 20, 2013

Mengenang Jenderal Soeharto di Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia

Masjid Istiklal Indonesia atau Masjid Indonesia atau Masjid Suharto di Sarajevo, Bosnia & Herzegovina (foto dari Sarajevo-x.com)

13 Maret 1995 menjadi hari yang bersejarah bagi hubungan dua Bangsa, Indonesia dan Bosnia & Herzegovina. Hari itu Presiden Republik Indonesia kedua (alm) Jenderal (purn) Soeharto “memaksa” mendarat di Bandara Sarajevo untuk mengunjungi secara langsung kondisi rakyat Bosnia & Herzegovina yang menjadi korban keganasan agresi pasukan militer Serbia.

Perjalanan Pak Harto ke Sarajevo, saat itu memang penuh risiko. Apalagi dua hari sebelumnya tanggal 11 Maret 1995 sebuah pesawat PBB ditembak jatuh di atas udara Bosnia. Panglima pasukan PBB di Bosnia kala itu bahkan lepas tangan dan tidak berani bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi kepada Presiden Soeharto dan rombongan apabila tetap memaksakan diri untuk berkunjung ke Bosnia.

Masjdi Istiklal Indonesia di Bosnia (foto dari flickr)
Perjalanan Pak Harto ke Sarajevo itu setelah menghadiri KTT untuk Pembangunan Sosial di Kopenhagen, Denmark, dan kunjungan balasan ke Kroasia. Serta dalam kapasitas beliau sebagai ketua gerakan Non Blok untuk bertemu dengan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Keseluruhan rombongan sebanyak 15 orang termasuk Presiden Soeharto diminta untuk menandatangani kontrak mati sebelum penerbangan ke Sarajevo oleh pasukan PBB.

Kunjungan yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai sebuah kunjungan yang begitu berani ke kancah perang yang sedang berkecamuk dan begitu brutal di kawasan Balkan dan hanya pernah dilakukan oleh presiden Republik Indonesia. Pertemuan 2 jam dengan presiden Bosnia berjalan lancar dan Pak Harto beserta rombongan kembali dengan selamat ke tanah air setelah kunjungan menegangkan yang bersejah itu.

Kunjungan bersejarah itu dikemudian hari senantiasa dikenang di Masjid Istiklal Indonesia di Sarajevo. Masjid yang memang dibangun dengan dana dari Rakyat dan Pemerintah Indonesia sebagai bingkisan bagi kemerdekaan Bosnia & Herzegovina, Dibangun sejak masa pemerintahan Pak Harto dan diresmikan dimasa pemerintahan Ibu Megawati Soekarno Putri. Nama masjid ini dinamai dengan nama yang sama dengan Masjid Nasional Indonesia di Jakarta. Hingga kini sebagian orang Bosnia menyebut masjid ini dengan nama Masjid Soeharto atau Masjid Indonesia.***

Tuesday, June 11, 2013

KH. WAHAB HASBULLAH, (Bukan) Pahlawan Nasional, Tokoh Pendiri Nahdlatul Oelama

KH. WAHAB HASBULLAH

Namanya KH. WAHAB HASBULLAH, Lahir di Jombang 31 Maret 1888 dan wafat pada saat usiaku baru 9 bulan. Nama yang tak kan anda temukan di daftar pahlawan Nasional, meskipun semestinya anda akan mengingatnya setiap kali anda berziarah ke Makam Rosulullah di Madinah, dan ketika mendengar Nama “Nahdlatul Oelama”.

Di Eropa, Emperium Usmaniah di Istanbul-pun runtuh pada 3 Maret 1924. Di Semenanjung Arabia, negara baru Hejaz & Najd (kini bernama Saudi Arabia) berdiri dengan sokongan kuat gerakan Wahabi yang kemudian melakukan penghancuran pemakaman para syuhada di Baqi termasuk di dalamnya makam khalifah Usman dan cucu baginda Rosulullah.

Rencana penghancuran berikutnya adalah kubah hijau masjid Nabawi bersama tiga makam dibawahnya yakni Makam Baginda Rosullah, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Pemerintahan baru itu juga melarang ajaran empat mazhab yang sudah ada.

Di tanah Jawa yang masih menjadi bagian Hindia Belanda, KH Wahab Hasbullah berinisiatif membentuk komite Hejaz untuk menemui raja baru tanah Arab itu guna menghentikan penghancuran makam nabi, pelarangan mazhab dan isu isu sentral lainnya. Sebuah gagasan yang kemudian melahirkan “Nahdlatul Oelama” organisasi Islam terbesar di Hindia Belanda yang dan tetap bertahan sebagai organisasi Islam terbesar ketika dikemudian hari Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia.

Tahun 1926, KH Wahab Hasbullah berangkat ke Arabia sebagai utusan NU, organisasi yang dibidani-nya tanpa sengaja, dan berhasil dengan gemilang dalam misi yang diembannya, beliau kembali ke tanah air dua tahun kemudian setelah menyempatkan diri menimba ilmu dari oelama2 terkemuka disana, beliau membawa surat resmi raja Ibnu Saud. Salah satu hasilnya adalah : “kita masih bisa mengunjungi makam Rosulullah hingga hari ini”

Namun seperti saya bilang di awal tadi, jangan pernah mencari nama Sang Kyai dalam daftar pahlawan Nasional Republik Indonesia, karena anda takkan pernah menemukannya, meskipun beliau juga mengabdikan hidupnya sebagai Panglima Pasukan Laskar Mujahidin dalam perang Kemerdekaan . . . . .