Thursday, May 2, 2013

Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Salah satu pintu masuk ke ruang utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon Lebih rendah dari tinggi orang dewasa, memaksa siapapun untuk menunduk agar bisa masuk ke dalam masjid ini

Dan tak semua pintu kehidupan itu tinggi dan Lapang, maka belajarlah merendahkan hati dan menghormati. Meski urusan hormat menghormati memang kadang kadang tak semudah membalik sebelah tangan. Terkadang kita terjebak pada penampilan fisik untuk sekedar memberikan penghormatan sepantasnya. Padahal tak semua yang berharga itu berpenampilan menarik. Tak semua yang bernilai itu keluar dari mulut atau tempat yang terhormat.

Seperti halnya nasihat yang baik tak selalu keluar dari mulut mahluk terhormat. Terlontar dari manusia yang dianggap bermartabat karena berbagai predikat fisik yang disandangnya. Kita akan menjadi manusia angkuh yang memilah milah nilai dan harga sesuatu hanya disandarkan pada casing.

Bila hanya hendak mendengar nasihat dari mereka yang berpenampilan menarik, penuh wibawa berjabatan tinggi dari lingkungan terhormat, maka kita tak kan pernah mampu mendapatkan manfaat nasihat dari gelandangan kotor kummel of dekil yang terkadang nasihatnya jauh lebih berharga dari diri kita sendiri.

Bila kita hanya mau menganggap berharga sesuatu yang keluar dari mulut karena menganggap kotor semua yang keluar dari pantat maka kita semestinya tak akan pernah mau makan telur. Karena faktanya tak semua yang keluar dari pantat itu tai. Karena telor pun keluar dari pantat.

Hidup memang tak selalu senantiasa harus selalu melihat ke atas, sepertihal nya berjalan tak selalu harus mendongak dan membusungkan dada. Ada kalanya kita harus melihat kebawah dan menundukkan kepala untuk menemukan dan memahami pekerti hidup. Karena pintu kehidupan tak semuanya tinggi dan lapang.***