Showing posts with label cirebon. Show all posts
Showing posts with label cirebon. Show all posts

Monday, October 19, 2015

Wismilak dan Bismillah

Wismilak itu salah satu merek dari sekian banyak merek rokok yang diproduksi dan beredar di tanah air. Pemilik perusahaan rokok tersebut pastinya punya cerita sendiri kenapa dulu beliau atau mereka memilih merek Wismilak untuk rokok yang mereka produksi. Perusahaan itu awalnya memproduksi rokok kretek alias rokok yang tidak dilengkapi dengan filter, dan masih di produksi dan beredar di pasar hingga hari ini.

Dari sudut pandang Bahasa Wismilak itu terkesan meng-indonesia-kan kalimat berbahasa Inggris Wish Me Luck dengan menuliskannya sesuai dengan ejaan dan lafal orang Indonesia. Wish Me Luck bermakna harfiah ‘do’a kan aku beruntung’ atau ‘ do’akan supaya aku beruntung’, makna yang baik bukan. Meskipun para penyokong kampanye anti rokok (mungkin) akan berkomentar lain.

Menurut kabar yang beredar di belantara dunia maya, dulunya sekali, pendiri pabrik rokok tersebut mendapatkan petunjuk dari sesepuh pesantren di Jawa yang juga Kakek dari (alm) Gus Dur untuk mendawamkan kalimat ‘Bismillah’, lalu mendapatkan petunjuk untuk berbisnis rokok, dan ujungnya jadilah rokok kretek Wismilak itu.

Ada juga yang mengatakan bahwa Wismilak itu memang dari kata Bismillah yang di lafalkan oleh lidah orang Tionghoa karena dialek mereka, toh pendiri pabrik wismilak memang dari etnis Tionghoa. Kejadiannya kira kira sama dengan kata Bismillah yang berubah menjadi Semilah di lidah orang orang tua etnis Jawa.

Namanya juga kabar angin, saya pun tidak tahu persis kebenarannya. Karena toh saya bukan sang pendiri pabrik rokok itu dan bukan juga salah satu pemiliknya, kecuali bila mereka dan Allah S.w.t menghendaki. Mungkin saya bisa beberkan kebenarannya pada anda.

Saya jadi ingat pada kalimat “Ada pesan dari setiap peristiwa, tergantung pada kemampuan untuk membaca atau mencerna-nya, Tak semua pesan tertulis dengan aksara atau terdengar telinga”. Seperti Bahasa siloka, sandi, perumpamaan, iluminati atau apalah istilahnya. Pesan yang disampaikan hanya dapat difahami oleh mereka yang sudah dibekali dengan pengetahuan tentang itu untuk mengurai dan menterjemahkan dan memahami-nya.

Bila anda perokok, tiba tiba di suguhi rokok Wismilak yang belum pernah anda hisap, barangkali anda sedang diberi nasihat untuk mengingat Allah, mengingat Tuhan yang maha Agung, barangkali saja di mata dan telinga “Nya” anda masuk dalam golongan yang jarang (untuk sekedar) menyebut nama Tuhan. Atau bisa jadi anda sedang di-ingatkan tentang sebuah do’a, untuk sering men-do’a-kan dan meminta di do’a-kan supaya senantiasa beruntung.

Boleh jadi anda tidak suka dengan rokok-nya, seperti para diplomat Eropa di Konfrensi Meja Bundar yang mengejek Kyai Haji Agus Salim yang sedang menghisap cerutunya dengan teriakan “mbeeek” dan kata kata tak sedap karena asap dari rokok yang dihisap KH Agus Salim. Tapi toh dengan tenangnya kemudian KH Agus Salim mengatakan. “tidak ingatkah tuan tuan, aroma tembakau ini lah yang membuat bangsa tuan menjajah bangsa kami dan enggan untuk pergi….”.

Atau mungkin anda pernah mendengar tentang pesan dari khalifah Umar Bin Khatab kepada Amru Bin Ash yang menjabat sebagai Gubernur Mesir. Pesan-nya hanya berupa goresan lurus dengan ujung pedang di sepotong tulang, tapi mampu membuat Sang Gubernur gemetar ketakutan menyadari kesalahan yang dilakukannya manakala menerima sepotong tulang tersebut. Nama Amru Bin Ash kemudian dijadikan nama masjid yang dibangunnya dan masih berdiri hingga hari ini. Dan kisah itu pun menjadi inspirasi begitu banyak orang yang mengetahuinya.

Atau mungkin anda pernah mendengar tentang bagaimana Sultan Syarif Hidayatullah berkirim surat dari Cirebon kepada putranya Maulana Hasanudin di Banten, bukan lembaran surat yang dikirimkan oleh beliau, tapi sebilah keris, dan Maulana Hasanudin pun mafhum akan titah ayahandanya.

Pesan memang tak selalu datang dengan cara yang kita sukai. Bukankah Tuhan pun kadangkala mengirimkan pesan kepada hamba hambanya dengan cara yang tidak selalu disukai. Kadangkala di kirimkan pesan melalui penyakit agar mampu menghargai sehat, dikirim melalui kesempitan untuk mengingatkan agar menghargai kelapangan dan lain lain.

Pengirim pesan kadangkala merancang sedemikian rupa agar pesannya tersamar, menjadi rahasia, kadangkala rahasianya disembunyikan dibalik rahasia, Dan hanya mampu difahami oleh mereka yang mau berfikir. Mungkin untuk diberikan bonus berganda. wallohua'lam.

------------------------------------------

Baca Juga



Thursday, October 30, 2014

PESAN ‘SEJUK’ DARI PANIIS SINGKUP

Objek Wisata Paniis Singkup

Dalam bahasa Sunda Paniis berarti pendingin dan singkup berarti alat atau peralatan. Lalu seperti apa paniis singkup itu. Paniis Singkup adalah kawasan wisata yang secara administratif berada di dalam wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meskipun begitu bila kita dari arah Jakarta melalui jalur pantura, lokasi wisata ini lebih mudah dicapai dari pusat kota Cirebon.

Sesuai dengan namanya kawasan wisata ini memang lumayan sejuk. Wisata andalannya adalah wisata sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai. Sebagaimana sungai yang bersumber dari gunung, air sungai di Paniis singkup inipun jernih, bening dan tentu saja terasa sejuk dan menyejukkan.

Dikawasan in juga tersedia kamping ground, kolam renang yang bersumber dari sungai yang sama dan tentu saja kawasan sungai terbuka tempat para pengunjung berbasah basah ria di alam terbuka. Perusahaan daerah air minum setempat juga membangun penampung air baku di tempat ini dan tentunya tak perlu repot repot untuk melakukan penjernihan.

Kabar angin menyebutkan bahwa air sungai di Paniis Singkup ini dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mandi disana. Benarkah begitu ? satu hal yang pasti bahwa mandi adalah salah satu prosesi penyucian raga, bagian dari proses menjaga kebersihan diri, sesuatu yang sangat ditekankan syariat agama.

Ramai pengunjung di hari libur, baik oleh rombongan berseragam sekolah, muda mudi, hingga keluarga yang sengaja datang berlibur ke tempat ini. Tempat parkir nya cukup memadai, warung makan berjejer di sekitar lokasi dengan harga yang cukup wajar.

MENYEJUKKAN HATI DI PANIIS SINGKUP

Paniis Singkup dapat dicapai dari Matangaji (baca posting sebelumnya) dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Perjalanan dimulai dari Matangaji karena (dimasa lalu) kedua tempat ini memang memiliki keterkaitan satu dengan lainnnya. Menjejakinya dari Matangaji seolah merunut rangkaian perjalanan sejarah Cirebon dan dakwah di Jawa Barat.

Di Paniis Singkup memang tak ada bangunan bersejarah dari masa lalu yang dapat di identifikasi sebagai peninggalan sejarah. Butuh ‘radar’ bersinyal kuat untuk sekedar menemukan serpihan masa lalu yang terserak di bentara alam di lokasi wisata ini. dan tentu saja butuh sumber sejarah untuk merangkainya menjadi sesuatu.

Fatahillah atau Fadhilah Khan atau Tubagus Pasai atau Kyai Bagus Pase atau Falatehan,  Laksanama Kesultanan Demak, di utus oleh sultan Demak untuk membawa pasukan perang-nya bergabung dengan pasukan Cirebon dalam misi penaklukan Portugis di Sunda Kelapa.

Di Cirebon beliau ditunjuk oleh Syarif Hidatullah (Sunan Gunung Jati) untuk memimpin pasukan gabungan tersebut membebaskan Sunda Kelapa dari Jajahan Portugis, Maulana Hasanudin (Putra Syarif Hidayullah) dari Banten turut membantu penyerbuan itu, Fatahillah berjaya menaklukkan Sunda Kelapa dan mengubah nama bandar itu menjadi Jayakarta (Kota Kejayaan).

Paska kemenangan itu Fatahillah menjadi Penguasa pertama di Jayakarta, Banten melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran lalu membentuk kesultanan, dan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi Sultan pertama. Dikemudian hari kota yang ditaklukkan oleh Fatahillah itu berubah menjadi Jakarta, Ibukota Republik Indonesia dan hari penaklukkan itu diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Fatahillah kemudian memilih kembali ke Cirebon dan menyerahkan kendali pemerintahan Jayakarta kepada Tubagus Angke. Di Cirebon beliau malah diserahi tugas sebagai pemangku jabatan Sultan Cirebon oleh Syarif Hidayullah yang ingin melanjutkan dakwah Islam tanpa terbebani oleh Jabatan Politik sebagai Sultan Cirebon. Kala itu putra mahkota masih teramat belia untuk diangkat menjadi Sultan.

Catatan sejarah tak menyebutkan dengan jelas perjalanan Syarif Hidayatullah dalam misi dakwah tersebut. Meski demikian dari rangkaian peristiwa awal mula dakwah beliau di Cirebon hingga berdirinya kesultanan, terbaca dengan jelas bahwa beliau tidak hanya menaklukan hati rakyat disana tapi juga menaklukkan mahluk lain yang tak sudi Islam berkembang di Cirebon.

Sejarah masjid Sang Cipta Rasa yang merupakan masjid kesultanan menyebutkan dengan jelas bahwa masjid tersebut pernah mengalami kebakaran hebat akibat serangan dari Menjangan Wulung yang bertengger di mastaka masjid dan menghajar siapapun yang akan masuk kesana.

Sampai kemudian Syarif Hidayatullah memerintahkan tujuh orang muridnya untuk mengumandangkan azan tujuh kali secara bersamaan untuk mengalahkan si Menjangan Wulung. Tradisi itu di teruskan di Masjid Sang Cipta Rasa hingga kini sebagai Azan Pitu. Siapa menjangan wulung itu?. Pastinya dia bukan dari golongan yang sejalan dengan dakwah yang dibawa oleh Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah dikaruniai umur yang panjang oleh Allah S.W.T dalam kondisi kesehatan yang prima (semoga kitapun demikian, amin) jejak beliau tersebar dimana mana baik yang masih dapat dilihat dengan jelas maupun yang hanya tersisa cerita tutur. Perjalanannya di Matangaji sudah disinggung di tulisan terdahulu.

Di Paniis Singkup, sebuah tempat peristirahatan didirikan. Tujuh orang murid senantiasa menyertai. Mengikuti semua tauziah dari beliau. Menikmati kucuran ilmu di heningnya alam, khusuk mendengarkan kajian, bersila di atas batu yang membentang dalam udara yang sejuk diantara gemericik air.

Ada sebilah keris yang selalu terselip di balik jubahnya. Sang Hyang Nogo. Bukan untuk bertarung, bukan untuk perlindungan diri. Keris adalah pengingat bagi pemiliknya untuk senantiasa tawadhu, senantiasa merendahkan diri dihadapan yang maha kuasa, tidak menyombongkan diri apalagi membanga banggakan diri, tidak memamer mamerkan kepandaian, kekayaan, kekuasaan dan kelebihan, sesungguhnya keris mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa berserah diri kepada Allah S.W.T.

Pasedan, tombak panjang yang turut menemani. Bukan tombak untuk menyerbu, bukan tombak untuk menyerang. Tombak hanyalah batangan yang lurus. Tegak seperti Alif. Aksara pertama yang diajarkan kepada kanjeng Rosul, aksara pembuka semua ilmu, aksara pertama untuk menuliskan nama Tuhan yang serba maha. Tegas berdiri sebagai pembeda dan pemisah antara baik dan buruk, halal dan haram, hak dan bathil, iman dan ingkar. 

Tauhid adalah Keris dan tombak yang sesungguhnya. Di Matangaji dan di Paniis Singkup yang menyejukkan jiwa, beliau berpesan satu kalimat “LAA ILA HA ILLALLAH”.

-------------------


Wednesday, October 29, 2014

MERUNUT HIKAYAT DI MATANGAJI

Masjid Jami' Al-Barkah Matangaji
Matangaji adalah gelar yang melekat kepada Sultan Sepuh Shafiudin, Sultan Cirebon yang berkuasa di keraton Kasepuhan tahun 1773-1786. Beliau merupakan sultan ke-5 yang berkuasa di Kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon dipecah menjadi tiga di tahun 1667 yakni Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman dan yang ketiga adalah Panebahan Cirebon yang tidak memiliki keraton ataupun daerah kekuasaan.

Matangaji juga merupakan nama sebuah desa di kecamatan Sumber di Kabupaten Cirebon. Sultan Shafiudin Matangaji dan Desa Matangaji memang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat. Cerita tutur menyebutkan bahwa desa Matangaji memang merupakan basis dakwah Sultan Shafiudin. 

Kesultanan Cirebon dan VOC (Belanda) menandatangai perjanjian kerjasama perdagangan pada tanggal 7 Januari 1681 dan sejak itu VOC senantiasa melakukan tekanan politik kepada Cirebon untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Dapat difahami bila kemudian Sultan Shafiudin bersama beberapa tokoh lainnya secara diam-diam meninggalkan Keraton pergi ke daerah pedalaman yang sulit diketahui VOC.

Nama nama daerah di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon secara tidak langsung memberikan rangkaian cerita perjalanan Sultan Shafiudin. Dimulai dari Kampung atau blok Capar yang artinya Capai (capek) dan Lapar yang merupakan tempat persinggahan rombongan beliau untuk melepas haus dan dahaga. Nama Kampung Blok pesantren terkait dengan pesantren yang pernah beliau bangun di daerah itu.

Menyusul kemudian nama Sidawangi terkait dengan pesantren yang beliau bangun terkenal kemana mana hingga mengharumkan daerah tersebut. Sida artinya menjadi dan wangi artinya harum. Sultan Syaefudin meninggalkan Desa Sidawangi menyusuri hutan ke sebelah barat lalu membuat pesanggrahan kecil tempat beristirahat bersama para pengikutnya. Tempat itu sekarang disebut Blok Pedaleman, artinya tempat istirahat para dalem atau orang keraton termasuk Sultan Shafiudin.

Disana beliau kembali mendirikan pesantren dan santrinya berdatangan dari berbagai pelosok. Kepada santrinya beliau menganjurkan apabila belajar mengaji jangan tanggung-tanggung, harus sampai matang, dan menggunakan mata hati. Itulah sebabnya hingga sekarang daerah ini dinamakan Desa Matangaji.

Menilik banyaknya daerah yang namanya terkait dengan perjalanan beliau dapat di duga bahwa perjalanan itu memakan waktu cukup lama. Catatan sejarah menyebutkan bahwa masa berkuasanya Sultan Shafiudin hanya 13 tahun saja, sehingga bisa jadi perjalanan tersebut sudah dimulai sejak beliau belum naik tahta sebagai sultan di keraton Kasepuhan.

Terlebih lagi bila kita menelusuri legenda ditengah masayarakat tentang beliau, yang disebut sebut, datang ke (desa) Matangaji tidak sekedar untuk mengajar mengaji tapi juga meneruskan kekuasaan leluhurnya sebagai penakluk ‘mahluk halus’ wiayah barat pulau jawa yang berpusat di Matangaji.

Bagi masyarakat luas di Nusantara, secara umum difahami bahwa seorang sultan tidak hanya merupakan penguasa ‘wilayah lahir’ tapi juga merupakan penguasa di ‘wilayah bathin’. Pusat kekuasaan ‘mahluk halus’ di matangaji pertama kali ditaklukkan oleh Raden Kian Santang, kemudian diteruskan oleh Keponakannya yang tak lain adalah Syarif Hidayatullah sampai kemudian diteruskan oleh Sultan Shafiudin.

Di titik penaklukan itu ditandai dengan sebuah cawan, tempat menampung air kehidupan, banyu panguripan, tirta mala. Meski kau tak kan menemukan setetespun air disana maupun disekitar tempat itu.

Dimanakah tiga tokoh yang disebut namanya itu dimakamkan?. Saya tidak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan tersebut. Hanya saja dalam buku tentang komplek pemakaman astana Gunung Jati di Gunung Sembung, disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah alias Kanjeng Sunan Gunung Jati dimakamkan di area inti astana gunung jati. Begitupun dengan Sultan Cirebon para penerus-nya. Hanya saja, ada satu kebijakan dari kesultanan bahwa hanya keluarga kesultanan saja yang diperkenankan masuk ke dalam Astana Gunung Jati.

Namun menariknya lagi, di matangaji ada satu makam yang cukup unik. Tak terlihat lawas karena sepertinya senantiasa dirawat, meski dengan nisan yang khas, senada dengan semua nisan makam lainnya yang ada di komplek pemakaman itu. Hanya saja makam satu ini tidak sejajar dengan makam lainnya. Bila makam lainnya (menghadap kiblat) kira kira membujur utara – selatan, makam yang satu ini malah membujur barat ke timur.

Konon, saat dimakamkan posisi makam ini sama seperti makam lainnya. Namun setelah prosesi pemakaman usai, makam tersebut berubah sendiri ke posisinya sekarang ini. Konon kata “pewaris katanya”, kuburan satu itu sudah beberapa kali diperbaiki disesuaikan dengan kuburan lainnya namun lagi lagi kembali ke posisi itu dengan sendirinya. Siapa sebenarnya yang dimakamkan disana ?. yang pasti dia memang berbeda. 

Wallohua’lam bishawab.


Tuesday, May 7, 2013

Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

Ilustrasi Wajah Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati bernama asli Syarif Hidayatullah merupakan salah satu dari Sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo. Gunung Jati yang menjadi gelar nya itu diambil dari nama gunung (sebenarnya hanya sebuah bukit) bernama Gunung Jati di kota Cirebon. Di puncak bukit tersebut beliau dimakamkan. Selain sebagai wali songo, Sunan Gunung Jati juga merupakan sultan pertama dari Kesultanan Cirebon yang didirikannya atas dukungan penuh dari Kesultanan Demak di tahun 1478.

Sejarah Cirebon dengan jelas mencatat jatidiri dan silsilah Sunan Gunung Jati yang nasabnya dapat dirunut hingga ke Rosulullah S.A.W. Dari garis Ayah Sunan Gunung Jati merupakan putra dari Syarif Abdullah bin Nur Alam (atau Nurul Alim) dari Bani Hasyim. Sedangkan dari garis ibu, beliau merupakan putra dari Nyi Rara Santang (Syarifah Muda’im) Binti Prabu Jaya Dewata atau Raden Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi II.

Meski terdapat perbedaan nama, dari berbagai literature termasuk sejarah nasional di buku buku pelajaran sekolah di tanah air, Sunan Gunung Jati tercatat sebagai salah satu anggota dewan mubaligh Wali Songo yang berasal dari tanah Arab dan dapat di runut nasabnya hingga ke Rosulullah S.A.W.

Namun unik dan menariknya ada satu sumber sejarah yang menampilkan nasab Sunan Gunung Jati yang sama sekali berbeda. Sebuah silsilah yang menempel di tembok Kelenteng Talang di kota Cirebon menjelaskan silsilah Tan Sam Cay, pendiri kelenteng tersebut hingga ke Hayam Wuruk raja terbesar Majapahit.

Dalam silsilah tersebut disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati merupakan putra Sultan Trenggono (Sultan Demak ke tiga) dari Istrinya yang berasal dari Cina anak perempuan Swan Liong. Dengan sendirinya bila kita mengikuti silsilah ini dapat disebut bahwa Sunan Gunung Jati merupakan sunan berdarah Jawa-China.

Sunan Gunung Jati bukan satu satunya tokoh Islam tanah Jawa yang disebutkan dalam silsilah tersebut. disebutkan juga bahwa Raden Patah, Sultan Demak pertama disebut-sebut sebagai Pangeran Jin Bun, dan dikatakan sebagai anak Kertabumi (Raja yang memerintah Majapahit pada 1474 – 1478) dari seorang isteri Cina, anak babah Ban Hong.

Sebuah catatan yang cukup mencengangkan karena sama sekali bertentangan dengan arus utama catatan sejarah yang sekian lama dibukukan di tanah air. Sejarah Cirebon sendiri dengan tegas meyebutkan “Peran dakwah Syarif Hidayatullah didengar sampai di Kerajaan Demak yang baru berdiri 1478M. Dia kemudian diundang ke Demak dan ditetapkan sebagai “Penetap Panata Gama Rasul” di tanah Pasundan dengan gelar Sunan Gunung Jati, sekaligus berdirilah Kesultanan Pakungwati dengan gelar Sultan”.

Dari catatan tersebut jelas bahwa Sunan Gunung Jati hidup semasa dengan sultan Demak pertama yakni Raden Fatah. Mereka naik sebagai Sultan-pun di masa yang hampir bersamaan di dua kesultanan yang berbeda. Sultan Trenggono sendiri adalah putra ketiga Raden Fatah yang naik tahta setelah kakaknya Pangeran Sebrang Lor atau Pati Unus gugur dalam penyerbuan melawan Portugis.di Malaka. Dimasa pemerintahan Sultan Trenggono, Sunan Gunung Jati bahkan memainkan perang penting dalam penyerbuan ke Sunda Kelapa oleh pasukan gabungan Cirebon dan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah.***

Thursday, May 2, 2013

Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Kanan : ukiran bunga matahari di mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Kiri : Surya Majapahit.

Islam melarang penggunaan ukiran dan gambar manusia dan binatang dan bentuk mahluk hidup lainnya kecuali tumbuhan. Terutama di dalam masjid dan mushola. Karenanya, meski mimbar masjid Agung Sang Ciptarasa di Cirebon ini dipenuhi dengan ukiran ukiran nan indah yang dipatrikan ke batu pualam putih, tak satupun bentuk mahluk hidup disana.

Ukiran ukiran indah itu bermuara ke sebuah ukiran seperti bunga matahari di bagian puncak mihrab. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang disengaja, bentuk bunga matahari itu sebelumnya pernah digunakan oleh kerajaan Majapahit sebagai lambang negara dengan nama Surya Majapahit.

Sedikit nukilan sejarah menyebutkan bahwa pembangunan masjid Agung Cirebon ini diprakarsai oleh Putri Pakungwati yang tak lain adalah Permaisuri dari Sunan Gunung Jati, melibatkan beberapa tokoh Wali Songo. Menariknya lagi proses pembangunan tersebut (konon) juga melibatkan Raden Sepat dan sisa sisa pasukannya.

Raden Sepat adalah panglima pasukan majapahit terahir yang menyerbu ke Demak pada saat kesultanan Demak baru berdiri. Penyerbuan yang justru berujung kepada ber-Islam-nya Raden Sepat beserta sisa pasukannya. Selain kemampuan perang, Raden Sepat memiliki kemampuan seni bangunan yang mumpuni, beliau yang kemudian merancang Masjid Agung Demak.

Dikemudian hari ketika Cirebon akan membangun sebuah Masjid Agung, Sultan Demak mengutus beliau ke Cirebon untuk membantu pembangunan masjid dimaksud. Bisa jadi, sisa anggota pasukan beliau yang kemudian mengukir mimbar ini, mengabadikan lambang Majapahit tersebut dalam bentuk bunga matahari. Wallohua’lam.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

Arsitektur Pra-Islam sangat kental di bangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon, Jawa Barat. Mulai dari Gerbang, bangunan utama masjid hingga ke ukiran pada mihrab dan mimbarnya.

Bung Karno, tokoh sentral kemerdekaan negara ini meninggalkan begitu banyak pesan bagi para penerusnya termasuk kepada saya dan anda semua yang mengaku sebagai orang Indonesia. Beberapa pesannya bahkan masih segar di ingatan meski diantara kita bahkan tak sempat melihat beliau saat masih hidup. “Jangan sekali sekali melupakan sejarah”, merupakan pesan yang senantiasa dikutip oleh para pemimpin negara ini tapi selalu saja dilupakan sejurus kemudian.

Sesungguhnya pesan tersebut tak semata mata pesan dari Bung Karno, tapi merupakan pesan dari masa lalu, pesan dari para leluhur untuk anak cucu dan keturunannya. Itu juga pesan dari para wali meskipun tak pernah disampaikan secara eksplisit. Bilamana kita berkunjung ke masjid masjid warisan atau masjid yang dinisbatkan bagi para wali, pesan tersebut akan sangat terasa. Begitupun dengan makam makam mereka.

Islam datang ke tanah air ini tidak secara serta merta. Tidak juga ditawarkan layaknya barang dagangan apalagi dengan hunusan pedang atau letupan mesiu. Pendekatan budaya merupakan salah satu cara yang pernah dilakukan oleh para wali dalam memperkenalkan Islam melalui proses akulturasi yang tidak sebentar.

Islam Bukan Arab

candi bentar di lambang -
kabupaten Cirebon
Berkunjung ke (Kota dan Kabupaten) Cirebon sangat terasa kental nuansa Islam yang Indonesia. Di kota ini Islam hadir dalam pekerti setempat, pekerti local, pekerti tanah air.Bangunan bangunan masjid tua, makam makam tua hingga bangunan bangunan tua masa masa kejayaan Cirebon sebagai sebuah kesultanan sama sekali tak menggusur dan membumihangus budaya setempat yang sudah mendarah daging.

Tak aneh bila hingga kini kita masih menemui bentuk bentuk gerbang candi bentar yang dulunya merupakan gerbang dari sebuah bangunan candi. Bentuk bentuk punden berundak undak bahkan digunakan dalam arsitektur masjid masjid tua di kota udang ini. dalam arsitektural Masjid, punden berundak tidak saja digunakan pada bentuk bentuk ornament pada bangunan pagar masjid tapi juga pada atap bangunan utama masjidnya sendiri.

Bangunan utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun dalam bentuk atap bersusun tiga. Makna mendalam terselip dalam susunan atap yang bersusun tiga ini. kepercayaan lama ditanah air memaknainya sebagai tiga tahapan kehidupan manusia mulai dari kehidupan di dalam Kandungan, di alam dunia dan di alam setelah kematian. Sedangkan dalam makna Islami diterjemahkan sebagai Iman, Islam dan Ikhsan.

Menilik jauh ke belakang, kamus besar bahasa Indonesia memaknai punden berundak ini sebagai “bangunan pemujaan tradisi megalitikum yg bentuknya persegi empat dan tersusun bertingkat-tingkat”. Dan nyatanya makna tersebut tak bergeser hingga kini meski dalam kontek yang berbeda.

Bentuk tradisional asli tanah air tersebut tidak saja membentuk bangunan masjid Agung Sang Ciptarasa, tapi juga menjadi nafas dari berbagai bangunan di komplek keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman hingga keraton Kacirbonan meski bangunan terahir ini lebih banyak sentuhan Eropa-nya.

Selain gerbang candi bentar, masjid agung Cirebon juga menyerap bentuk gerbang Paduraksa pada gerbang utamanya. Gerbang peninggalan era sebelum Islam ini dugunakan sebagai gerbang utama bangunan masjid Sang Ciptarasa dengan berbagai modifikasi dan sentuhan Islami. Namun oranmen punden berundak tak hilang dari gerbang ini.

Menjadi lebih menarik manakala kita masuk ke dalam bangunan masjid ini. nyaris tak ada ornamen Islami seperti yang biasa kita temukan di dalam sebuah bangunan masjid bergaya Arabia. Mihrab dan mimbar di masjid ini sepi dari ukiran ayat ayat suci Al-Qur’an. Mihrab nya sendiri dibangun dari batu batu pualam berukuran floral, yang berpusat pada bentuk yang menyerupai bunga matahari pada bagian puncak mihrab.

Bentuk bunga matahari juga merupakan bentuk dari Surya Majapahit yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit. Tak mengerankan, karena konon memang proses pembangunan masjid ini turut melibatkan Raden Sepat yang tak lain adalah panglima pasukan Majapahit yang kalah perang dalam serangannya ke Demak dan kemudian memeluk Islam di masa kekuasaan Raden Fatah.

Orang yang sama juga terlibat dalam proses pembangunan Masjid Agung Demak yang disebut sebut sebagai bangunan masjid tertua peninggalan kerajaan Islam di tanah Jawa. Beliau juga disebut sebut turut terlibat dalam pembangunan masjid Agung Banten.

Memang tak salah bila anda berkomentar bahwa masjid Agung Sang Ciptarasa ini memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Demak ataupun Masjid Agung Banten, karena memang dibangun oleh orang orang yang sama dengan nafas yang sama. Nafas pembauran demi kemajuan tanpa harus memberangus.

Dan pada ahirnya, kita pun faham apa yang di wasiatkan oleh sang proklamator negara ini tidak sekedar siloka yang terpatri di nurani kala mengingatnya. Tapi lebih dari itu semua dalah pesan untuk senantiasa melanjutkan hal hal yang telah baik untuk menjadi lebih baik. Era baru, peradaban baru, pemerintahan baru, penguasa baru tak harus membumihangus hal hal baik yang telah diwariskan oleh para pendahulu tapi justru melanjutkannya.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Salah satu pintu masuk ke ruang utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon Lebih rendah dari tinggi orang dewasa, memaksa siapapun untuk menunduk agar bisa masuk ke dalam masjid ini

Dan tak semua pintu kehidupan itu tinggi dan Lapang, maka belajarlah merendahkan hati dan menghormati. Meski urusan hormat menghormati memang kadang kadang tak semudah membalik sebelah tangan. Terkadang kita terjebak pada penampilan fisik untuk sekedar memberikan penghormatan sepantasnya. Padahal tak semua yang berharga itu berpenampilan menarik. Tak semua yang bernilai itu keluar dari mulut atau tempat yang terhormat.

Seperti halnya nasihat yang baik tak selalu keluar dari mulut mahluk terhormat. Terlontar dari manusia yang dianggap bermartabat karena berbagai predikat fisik yang disandangnya. Kita akan menjadi manusia angkuh yang memilah milah nilai dan harga sesuatu hanya disandarkan pada casing.

Bila hanya hendak mendengar nasihat dari mereka yang berpenampilan menarik, penuh wibawa berjabatan tinggi dari lingkungan terhormat, maka kita tak kan pernah mampu mendapatkan manfaat nasihat dari gelandangan kotor kummel of dekil yang terkadang nasihatnya jauh lebih berharga dari diri kita sendiri.

Bila kita hanya mau menganggap berharga sesuatu yang keluar dari mulut karena menganggap kotor semua yang keluar dari pantat maka kita semestinya tak akan pernah mau makan telur. Karena faktanya tak semua yang keluar dari pantat itu tai. Karena telor pun keluar dari pantat.

Hidup memang tak selalu senantiasa harus selalu melihat ke atas, sepertihal nya berjalan tak selalu harus mendongak dan membusungkan dada. Ada kalanya kita harus melihat kebawah dan menundukkan kepala untuk menemukan dan memahami pekerti hidup. Karena pintu kehidupan tak semuanya tinggi dan lapang.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga