Showing posts with label objek wisata. Show all posts
Showing posts with label objek wisata. Show all posts

Saturday, July 25, 2020

Satu Malam Di Puncak Gunung Sanggabuana, Dari Kisah Haru Biru Hingga Buto Ijo Jatuh dari Atap?

Saat senja perlahan jatuh dibalik pepohonan hutan gunung Sanggabuana.

Senja itu berlalu dengan sholat magrib berjamaah di bale bale lega warung Kang Aep, air wudhunya dari sebotol aqua, maklum hujan tak turun berapa hari ini kata Kang Aep jadi tak ada persediaan air, dilanjutkan dengan santap indomie rebus pedas, dan secangkir kopi panas yang sebentar saja sudah jadi kopi dingin karena suhu udara yang mulai bergerak semakin turun.

Secara umum Gunung Sanggabuana lebih dikenal sebagai gunung tempat ziarah dengan berbagai niatan, karena keberadaan makam makam tua di puncaknya. Berbagai kisah mistis, mitos dan legenda memang lekat dengan gunung ini termasuk hubungannya dengan hal hal ghaib.

Bakda sholat isya berjamaah, seorang pendaki mendadak jadi trending topic, malam itu hingga esok paginya. Dia yang dari sore tadi tadi tampak seperti orang bingung sendirian ternyata sedang melarikan diri dari masalah ke puncak gunung ini.

Warung Kang Aep lengkap dengan tiga bale bale besar berukuran besar untuk para pendaki menginap gratis. Jangan lupa belanjanya ke warung nya dong ya.

Kang Aep (pemilik warung) kemudian memanggilnya untuk mengadu ke Pak Ustadz dari Rengasdengklok yang kebetulan sudah sembilan hari ngadem disana. Dan kami menyimak sambil sesekali menimpali obrolan santuy penuh canda tapi serius ituh, pun yang lain nya.

Kisah dimulai dari urusan hutangnya ke teman sendiri yang tak mampu dibayar karena dia sendiri keburu dipecat dari tempat kerjanya dan berujung pada ancam mengamcam sampai ke ancaman pembunuhan.

Tak punya orang tua lagi dan tak punya saudara yang bisa diminta bantuan, ahirnya dia nekad sendirian naik ke puncak Gunung Sanggabuana, katanya untuk ngumpet sampai temannya lupa untuk nagih utang. Alasan yang gak masuk akal, timpal si pak Ustadz.

Sebelah kanan foto adalah warung Kang Aep, kamu bisa baca tulisan di dindingnya. Sedangkan disebelah kiri adalah jejeran bangunan bangunan makam di puncak gunung Sanggabuana.

Dia cukup beruntung malam itu; lagi dalam masalah, gak punya duit,nekad kabur ke puncak gunung, dan bertemu dengan orang yang siap membantu mengatasi masalahnya. Singkat cerita, Pak Ustadz siap membantunya membayar hutangnya dengan satu sarat; temen nya yang nagih utang ajak bertemu dengan beliau.

Tak hanya itu, pak Ustadz itu juga menawarkan pekerjaan untuknya bahkan juga ditawari jodoh bila memang sudah siap untuk nikah. Wah wah wah ternyata pelariannya ke gunung malam itu menuai berkah.

Malam itu terasa berbeda dengan suasana tujuh tahun lalu, tampak lebih gelap karena kurangnya penerangan. Listrik di warung kang Aep berasal dari unit genset yang ditempatkan disebelah mushola, dua warung lainnya sepertinya juga dari sumber yang sama. Penerangan yang minim memberi peluang untuk menikmati cahaya langit yang gemerlap dengan bertaburnya cahaya bintang.

MUSHOLLA. Bangunan pendopo beratap kerucut di sisi timur puncak Sanggabuana itu adalah bangunan Musholla.

Berkeliling sejenak digelap malam di kompleks makam di puncak Gunung Sanggabuana, tampaknya banyak perubahan pada bentuk bentuk bangunannya dan rindangnya pepohonan disana juga tampak berkurang. Di sisi sebelah timur, di area camping ground ada beberapa kelompok pendaki yang menggelar tenda disana.

Sementara aku dan anakku menutup malam itu dengan obrolan tauhid tentang hal ghaib termasuk dunia Jin sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadist di bangunan mushola berbentuk pendopo terbuka beratap joglo di ujung timur jejeran bangunan yang ada disana, ditengah gelapnya malam yang perlahan semakin dingin.

Dinihari, Buto Ijo Jatuh Dari Atap?

Rasanya baru terlelap saat aku mendadak terbangun karena kaget oleh suara teramat keras di keheningan malam itu dari arah pintu timur bangunan warung Kang Aep tempat kami menginap. Sontak aku bangun dari tidur dan melihat ke arah pintu yang terpalnya masih tertutup rapi dan tampak nya tidak ada apa apa.

Cuaca cerah di pagi hari di depan pintu timur warung Kang Aep. Ada satu pohon cemara berdiri sejajar dengan pintunya. Warung ini berupa pondokan besar lengkap dengan bale bale yang juga berukuran besar untuk para pendaki menginap. Ada dua pintu akses, di sisi timur dan sisi selatan. Kedua akses pintu itu di malam hari akan di tutup dengan kain terpal yang buat seperti tirai dengan tali pengikat untuk mengurangi terpaan dinginnya angin malam masuk ke dalam pondokan. Kamu bisa liat ada beberapa tong plastik penampung air hujan diletakkan dibawah cucuran atapnya. 

Ruang dalam pondokan memang sudah makin gelap, satu satunya lampu emergency yang menyala sudah redup kehabisan listrik. Aku masih duduk diam mengamati, saat sejurus kemudian terpal penutup pintu itu tersingkap dari luar, seorang pria berperawakan kecil berpakaian serba hitam masuk tergopoh gopoh lalu tersandung di tali terpal bagian bawah dan jatuh, namun buru buru bangun lagi dan dengan wajah dan ekspresi ketakutan dia mendatangi-ku.

Pak tolong pak ada Buto ijo pak!” katanya dengan suara lirih dan agak gemetar.
Saya nggak ngerti yang begitu kang, itu bangunin pak Ustadz aja” sahut ku.
Hanya saja memang hanya aku yang sudah bangun, duduk di bale serta memperhatikan situasi, yang lain tampak asik meringkuk di bawah selimut.

“Bapak aja pak, tolong pak, itu Buto Ijo nya nungguin di depan pintu”. Lanjut nya.
Alih alih langsung bangkit aku malah lanjut bertanya; “tadi bunyi kenceng banget bunyi apa an?”. Dan jawaban dia benar benar menarik . . . “itu pak, buto Ijo nya jatoh dari atap”. 

BUTO IJO ?. Sama sekali tak tampak menakutkan bukan?, itu hanya pohon cemara toh. Entah apa yang merasuki fikiran salah satu pendaki yang sama sama menginap di tempat ini dan dia tidur di bale sebelah kanan foto, sehingga begitu ketakutan dan mengira pohon itu adalah sosok Buto Ijo yang menakutkan.

Aku langsung bangkit dari duduk, menyelempangkan sarung yang kupakai untuk selimut, turun dari bale, pakai sandal, bergegas ke arah pintu, dia mengikuti di belakang. Kusibak terpal penutup pintu dengan tangan kiri dan melihat keluar, tak ada apa apa diluar sana, dibawah penerangan cahaya langit malam yang tampak hanya pohon cemara setinggi bahu orang dewasa yang ditanam di depan warung Kang Aep sejajar dengan pintu.

Mana ?” Tanya-ku. . . . dan masih dengan wajah ketakutan dia melongok keluar . . .
Itu Pak“ .. .katanya sambil menunjuk ke arah pohon cemara itu, tangannya tampak gemetar. .
“Itu kan pohon” sahut ku… sepertinya dia memang benar benar sedang ketakutan, tapi mulai berani.

Meski dengan langkah yang tampak lucu dia melangkah keluar ke arah pohon yang kumaksud lalu menyentuh dengan ujung jarinya, mungkin dia sedang memastikan itu beneran pohon. Sejurus kemudian dia malah lari ngumpet ke balik bangunan di depan warung sambil berucap “aku mau pipis”. Dan aku cuman terpelongo melihat kelakuan-nya.

Burung piaraan Kang Aep.

Aku pun ahirnya ikutan keluar, melihat dan memperhatikan ke atap bangunan tempat kami menginap, tampak jelas sekali tidak ada apa apa disana, tidak ada juga bekas bekas sesuatu berukuran besar jatuh dari atap sehingga menimbulkan suara teramat keras. Pun demikian di area samping dan sekitar bangunan, tidak ada apa apa. Lalu tadi bunyi sebegitu keras bunyi apa an dong?

Rupanya bukan cuman aku yang terbangun, saat aku masuk dan naik kembali ke bale bale, anak ku dan temen nya ternyata juga memperhatikan. “Ada apa an pah” Tanya anak ku. “nggak ada apa apa” sahut-ku. “Itu katanya ada Buto Ijo, Buto artinya besar, Ijo artinya pohon, jadi Buto ijo itu artinya pohon besar” sahut ku melanjutkan. Tak lama berselang, dia yang tadi ketakutan sudah masuk kembali ke pondokan dan melanjutkan tidur.

Saat itu jam di hape anakku menunjukkan pukul 00.27 dinihari. Selang beberapa menit setelah itu hujan pun turun meski sebentar, lumayan lah ada cukup air di dalam tong tong penampung air di bawah cucuran atap pondok, lebih dari cukup untuk berwudhu. Ah sudahlah mungkin semua itu memang sengaja membangunkan ku untuk sholat malam.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Sunday, July 19, 2020

Senja di Sanggabuana

Jejeran pegunungan Sanggabuana dari depan pondok pesantren Daarul Qur'an di Desa Cinta Asih kecamatan Pangkalan, Karawang.

Cukup lama tak kembali ke tempat ini, dan cukup lama menunggu waktu PSBB yang tak kunjung berahir, namun New Normal ahirnya datang juga dan pihak pengelola disana mengizinkan para pendaki untuk naik ke Gunung Sanggabuana dengan beberapa syarat tambahan dan protokol yang harus dipatuhi.

Cukup banyak yang berubah setelah tujuh tahun berlalu. Jalanan ke desa Mekarbuana kini sudah dicor cukup baik, bahkan beberapa bagian ruas jalan setapak di jalur pendakian sudah di lapis semen hingga melewati tanjakan pertama sampai ke tengah area pesawahan.

Jalan setapak di jalur pendakian yang sudah di cor dengan semen tipis hingga ke tengah pesawahan.

Tujuh tahun lalu, tidak ada pos penarikan retribusi untuk para pendaki ke puncak Sanggabuana, kini sudah ada pos petugas yang mendata dan menarik retribusi bagi para pendaki dengan tariff Rp. 10.000/orang tariff yang sama dengan biaya parkir motor/hari di penitipan motor di rumah warga setempat.

Kamu harus menandatangani surat pernyataan yang intinya menyetuji syarat dan ketentuan yang berlaku dan bahwa kawasan tersebut sebenarnya belum dibuka namun dizinkan masuk dengan tanggungjawan pribadi masing masing dan tidak akan menuntut pihak pengelola bila terjadi sesuatu.

Tebing timur Sanggabuanadari arah jalur pendakian sisi sebelah timur.
Ada beberapa warung baru yang berdiri di sisi jalur pendakian, dan pohon pohon menyan yang dulu merana karena dikuliti untuk diambil getahnya beberapa tampaknya sudah tumbang, beberapa lagi masih berjuang bertahan hidup memperbaiki kambiumnya yang rusak parah.

Ada juga Mushola Al-Ikhlas yang tampak masih gress beberapa meter setelah melewati pertigaan Kebon Jambe, disi kanan jalan, diantara gemericik air sungai kecil yang melintas di depannya. Bersebelahan dengan kebon pisang milik warga.


Menurut penuturan pemilik salah satu warung tempat kami mampir ngopi, sebenarnya pemerintah setempat bahkan sudah berencana untuk membuka jalan raya dari pertigaan di tengah desa melintasi pesawahan hingga ke objek wisata Kebon Jambe, namun rencana itu tertunda akibat dampak dari Covid-19.

Yang paling menarik perhatian adalah adanya beberapa warga setempat yang menggunakan sepeda motor naik cukup jauh hingga ke kawasan perkemahan di pancuran kejayaan, cukup menarik karena medan yang dilalui cukup sulit dan berbahaya, namun sepertinya mereka sudah cukup terbiasa dengan itu.

Matahari senja perlahan jatuh.

Pak Andi, yang mukim di sekitar Makam Emak Paraji Sakti bercerita bahwa para pengendara motor itu adalah warga setempat yang memiliki ladang atau kebon di lereng Gunung Sanggabuana. Di sepanjang jalan menuju puncak hingga sedikit melewati makam Emak Paraji Sakti memang ditemukan pesawahan dan kebun kopi milik warga.

Sedangkan pemilik warung di camping ground pancuran kejayaan berkisah bahwa sepeda sepeda motor yang digunakan warga itu sudah dimodifikasi pada bagian roda giginya hingga memiliki daya tarik yang kuat namun tidak memiliki kecepatan yang baik.

Dan dipastikan sepeda motor itu adalah sepeda motor dengan rantai, porseneling dan kopling bukan sepeda motor matic. Beliau melanjutkan kisahnya yang pernah bermasalah saat menggunakan motor matic melalui rute itu akibat belt nya putus tidak kuat untuk dipaksa terus naik ditanjakan.


Perjalanan mendaki kami kali ini teramat santai, berhenti disetiap tempat yang menarik untuk diamati, dinikmati, di foto, di rekam, termasuk juga berhenti hampir di setiap warung dan rumah penduduk yang kami lewati walau sekedar untuk bertegur sapa. Benar benar santuy pokona mah. Maklum, aslinya memang dah gg sanggup untuk ngebut. Kamu bisa nikmati suasana hutan sanggabuana direkaman yang sudah kami simpan di youtube.

Jelang matahari terbenam kami baru sampai di makam Jagaraksa, perhentian terahir sebelum tiba di puncak dua. Dan tiba di puncak bertepatan dengan waktu magrib. Di sepanjang perjalanan hingga sampai ke puncak tak kunjung jua mendapatkan titik yang pas untuk memotret merekahnya matahari terbenam. Tak apalah setidaknya ada peluang untuk menikmati matahari terbit besok pagi.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Wednesday, February 26, 2020

Makam Sheikh Quro – Karawang

Seperti hampir semua makam yang dikeramatkan lainnya, di Makam Sheikh Quro di Karawang inipun berjejer para peminta minta yang mengharap berkah dari para peziarah.

Sudah sunahnya bagi para pejuang, meski jasadnya sudah berkalang tanah berpuluh bahkan beratus tahun lalu namun harum namanya tetap semerbak mewangi. Makamnya senantiasa di ziarahi, jasanya selalu dikenang dari generasi ke generasi. Sunah yang berlalu bagi para pejuang manapun dimanapun.

Pesan Waliyullah. di sebelah gerbang sisi barat terdapat dua plakat yang salah satunya tertulis Pesan Waliyullah : "ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa". Bagi anda yang pernah berkunjung ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon anda akan menemukan pesan yang sama disana
Di kampung Pulo Bata, kabupaten Karawang bermakam seorang ulama terkemuka yang begitu dihormati karena jasa jasa beliau membawa dan menyebarkan Islam di tanah Pasundan. Beliau adalah Sheikh Quro yang disebut sebut sebagai ulama pertama yang membawa Islam ke tanah Sunda melalui Karawang, di masa Sri Baduga (Prabu SIliwangi) masih bergelar putera mahkota Pajajaran.

Pe Er Pengelola. Jejeran warung para pedagang di komplek makam sheikh Quro ini baik diluar pagar maupun di dalam komplek makam, memang dibutuhkan oleh para peziarah yang datang dari berbagai penjuru, hanya saja perlu di tata lebih baik. 

Lokasi Makam Sheikh Quro

Kampung Pulo Bata, Desa Pulo Kelapa
Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Karawang
Koordinat Geografi : 6°15'4.73"S 107°28'54.34"E



Sheikh Quro bernama asli Sheikh Hasanuddin putra dari Syech Yusuf Siddik ulama besar Perguruan Islam negeri Campa dan masih ada garis keturunan dengan Syech Jamaluddin serta Syech Jalaluddin ulama besar Mekah. Nama Sheikh Quro atau Sheikh Qurotal Ain merupakan gelar Beliau karena beliau merupakan seorang hafiz (penghafal Al-Qur’an) dan juga seorang Qori dengan suara yang begitu merdu melantunkan ayat ayat suci Al-Qur’an.

Mirip Masjid. bangunan cungkup makam Sheikh Quro ini dibangun berupa bangunan segi empat dengan atap limas bersusun mirip sekali dengan bentuk sebuah bangunan masjid. foto di atas di abadikan dari teras Masjid Jamie Sheikh Quro yang juga berada di dalam komplek makam ini. bangunan sebelah kanan adalah bangunan pendopo utama dalam komplek makam ini.
Beliau diperkirakan tiba di Karawang yang kala itu masih berupa rawa rawa, pada tahun 1418M dalam perjalanan keduanya ke tanah Jawa melalui negeri Campa (Kini Vietnam). Beliau datang bersama rombongan menggunakan dua kapal. Di daerah yang masih berupa rawa rawa atau Karawa’an itulah beliau kemudian mendirikan pesantren. Daerah Karawa’an yang dikemudian hari dikenal dengan nama Karawang.

Dari arah Utara. Komplek makam Sheikh Quro ini terdiri dari dua bangunan utama yakni bangunan cungkup makam disebelah kiri foto dan bangunan masjid, beberapa pendopo, beberapa sumur yang kesemuanya berada dibawah naungan rindangnya pepohonan nan hijau royo royo.
Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa beliau tiba ke tanah Jawa melalui pelabuhan Muara Jati di Caruban (Cirebon) pada tahun 1416 dengan menumpang salah satu kapal armada Panglima Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Cina di seberang lautan.

Pagar komplek makam. Rancangan pagar komplek makam Sheikh Quro ini memang unik  dan tiada duanya. hanya saja susah untuk dinikmati karena tertutup oleh warung warung yang berjejer di area parkir.
Sheikh Quro mulai mendirikan pesantren di Pura Dalem dengan nama Pondok Quro (tempat untuk belajar Al-Qur’an). Turut bersama beliau adalah anak angkatnya yang bernama Syech Bentong alias Tan Go. Dari istrinya yang bernama Siu Te Yo  mempunyai seorang putri diberi nama Sie Ban Ci. Syech Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari dan lahir Syech Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang.

Kubah kecil ornamen pagar. Di ujung setiap lengkungan terbalik dari pagar depan komplek makam ini dihias dengan kubah kubah kecil, dan di ujung masing masing kubah tersebut dilengkapi dengan asma Allah dalam aksara Arab.
Setelah melakukan islamisasi di Karawang Syech Quro kemudian menjalani hidup menyendiri di Kampung Pulobata, Pulokalapa. Di kampung ini beliau melakukan ujlah untuk mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh kesempurnaan hidup. Demikian ini beliau lakukan hingga akhir hayat.

Bangunan cungkup makam Sheikh Quro ini dilengkapi dengan empat pintu, namun hanya pintu selatan yang menghadap ke lapangan parkir yang senantiasa terbuka setiap waktu. pintu pintu yang lain hanya dibuka pada acara acara tertentu.
Makam Syech Quro ditemukan oleh Raden Sumareja (Ayah Jiin) dan Syech Tolha pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859. Karena ditemukan di hari Sabtu maka hingga sekarang pada setiap hari Sabtu banyak orang yang berziarah. Komplek makam Sheikh Quro menempati lahan seluas 2.566 m2 di antara pemukiman warga dan areal pesawahan.

Makam Sheikh Quro berada di dalam bangunan segi empat seperti tampak dalam foto di atas. para peziarah tidak diperkenankan masuk ke dalam bangunan tersebut.
Komplek makam ini berada dibawah pengelolaan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Dilindungi oleh Undang Undang No. 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya dan undang undang tahun 2010 tentang Cagar Budaya. sebagai lokasi cagar budaya, kita harus membayar retribusi ke petugas jaga di gerbang masuk kawasan ini.

Dupa, Kotak Amal dan Celah pintu. guci kuningan besar itu digunakan oleh beberapa peziarah untuk membakar dupa untuk menebar aroma wangi, kotak kayu disebelahnya adalah kotak amal. Lalu di Pintu makam anda dapat melihat celah segi empat yang sengaja disediakan bagi peziarah untuk melemparkan amal sodaqoh.
Di dalam komplek makam ini tersedia lapangan parkir yang cukup luas meski masih berpermukaan tanah yang dikeraskan. Ada dua gerbang masuk ke dalam komplek makam dari area parkir. Gerbang barat menuju ke Masjid Jamie Sheikh Quro dan Gerbang Timur langsung menuju ke Makam beliau. Selain itu tersedia juga penginapan sederhana disebelah bangunan masjid bagi jemaah yang hendak menginap disana.

Tempat mengaji. Konon di tumpukan bata itu dulunya adalah sebuah pohon besar tempat Almarhum seringkali meluangkan waktu mengaji dibawah rindangnya. kini setelah pohon tersebut tumbang, pengurus makam menandainya dengan tumpukan bata dan empat tempat khusus meletakkan Al-Qur'an, bagi peziarah yang hendak mengaji.
Ada pendopo besar di dalam komplek ini letaknya diantara masjid dan bangunan makam. Bentuk bangunan makam dan bangunan masjid-nya dibangun serupa dengan atap limas bersusun, hanya saja bangunan makamnya sendiri lebih besar dari bangunan masjid yang berdiri disebelahnya.

Surga Burung Blekok. Pepohonan di komplek makam ini menjadi habitat bagi jenis burung blekok, sejenis burung belibis yang dapat dengan bebas hidup di pepohonan dalam komplek makam ini. beberapa dari burung ini bahkan bersarang di pohon asem yang berdiri kokoh disebelah kanan gerbang barat tak jauh dari Masjid Sheikh Quro.
Hal yang menarik dari penjelasan dari Pak Ghofar salah satu juru kunci makam, menurut beliau makam Sheikh Quro tersebut bukanlah Makam atau Kubur tapi Maqom alias petilasan. Sedangkah kubur atau Makam asli beliau tidak ada yang tahu pasti keberadaannya. Meskipun begitu merujuk kepada papan nama dari pengelolaan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat di samping gerbang sebelah barat dengan tegas menyebut bahwa komplek ini adalah Makam Sheh Quro. Wallohua’lam bisshawab.*** (diambil dari bujanglanang).

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Monday, July 9, 2018

Fenomena air laut menyala di Pantai Tanjung Pakis Karawang

Bio-Luminescence di pantai Maladewa

Ahad 9 Juli 2018 saat berkunjung ke pantai wisata pakis Karawang hingga malam hari, sangat menyenangkan dan begitu menarik menemukan pemandangan baru gelombang laut yang menuju ke pantai bersinar terang kebiru biruan, hijau menyala hingga merah muda menyala, diiringi dentuman suara ombak yang kemudian memecah buih yang bersinar terang itu.

Bukan semata mata hanya dapat dilihat, nyatanya sinar sinar berkilauan itu juga dapat disentuh dengan tangan dan setiap gerakan tubuh di dalam air menimbulkan pancaran cahaya yang berkilau digelapnya malam, memberikan pengalaman bermain main dengan cahaya seakan tokoh dalam film the Avatar. . . . memang butuh tambahan keberanian untuk nyebur ke laut di tengah gelapnya malam untuk menikmati sensasi unik itu.

Malam itu atmosfir di Pantai Wisata Pakis Jaya Karawang memang sedang sangat mendukung, langit bertabur bintang tanpa bulan, beberapa butir bintang tampak lebih besar dan bersinar lebih terang dibandingkan dengan lain nya termasuk sebutir bintang merah yang mencorong menyala terang menggantung diangkasa diantara bintang bintang lainnya.


Sayangnya kamera semi DSLR yang kami bawa tidak mendukung untuk melakukan pemotretan dengan bukaan lebar untuk mengabadikan momen langka itu. foto ilustrasi di atas merupakan fenomena yang sama di pantai republic Maladewa (Maldives) sebauh negara kecil di tengah samudera Hindia.

Fenomena air laut menyala ini dijelaskan mbah gugel secara gamblang sebagai “Fenomena Laut Bioluminescence”. Kata bioluminescence terdiri dari dua bahasa, bio yang artinya hidup dalam bahasa Yunani dan lumen yang artinya cahaya dalam bahasa Latin. Fenomena bioluminescence merupakan salah satu peristiwa yang terjadi ketika makhluk hidup mengalami sebuah reaksi kimia tertentu yang mampu menghasilkan emisi cahaya. Selanjutnya reaksi kimia yang dihasilkan berupa energi cahaya.

Peristiwa ini membuat sebagian laut bersinar dalam gelapnya laut malam. Seolah-olah terdapat ratusan bohlam menyala dari dalamnya. Bioluminescence ditemukan di seluruh biosfer, tetapi hanya pada vertebrata laut, invertebrata dan beberapa jenis tumbuhan. Bioluminescence ditemukan pada makhluk hidup seperti chepalopoda, copepoda, ostracoda, amphipoda, euphausida, beberapa jenis ikan, annelida, plankton, dan ubur-ubur. Di darat bioluminescence ditemukan pada beberapa jenis serangga, kunang-kunang, ulat (glow-worm), kumbang, dan beberapa jenis diptera.

Senja di Pantai Tanjung Pakis Karawang

Penjelasan terjadinya fenomena itu cukup rumit untuk saya fahami, namun demikian nyatanya fenomena itu bahkan sudah dimanfaatkan di dunia medis untuk membantu proses diagnosa, dan kesimpulan saya pribadi fenomena ini tidak membahayakan kesehatan untuk dinikmati langsung, buktinya setelah menceburkan diri ke laut untuk menikmatinya saya masih berkesempatan menuliskannya untuk anda.

Hanya saja teramat sangat menarik bahwa Gugel sama sekali tak menyebut Pantai Pakis Karawang sebagai salah satu tempat yang ditinggali organisme penghasil cahaya laut itu, namun yang disebut adalah Pantai Gili Trawangan (NTB) dan tempat tempat di luar negeri termasuk Teluk Mosquito (Pulau Vieques, Kepulauan Karibia), Teluk Halong (Vietnam), Pulau Vaadhoo (Raa Atoll, Maladewa), Teluk Toyama (pesisir utara Pulau Honshu, Jepang), Marlin Marina (Cairns, timur laut Queensland, Australia), dan Teluk Mission (kawasan San Diego, California).

Penasaran atau malah menganggap saya membual, ya silahkan datang sendiri ke pantai Wisata Pakis Jaya Karawang di malam hari pada saat bulan gelap dan bintang bertaburan. dan lebih indah pada saat pantai sudah sunyi senyap dari pengunjung dan pedagang yang sudah menutup warung dan sebagian lampu penerangan telah dipadamkan***.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Sunday, July 2, 2017

Hari itu di Mekarsari

ini anak ku mas brow, bukan cucu Pak Harto

Mekarsari itu kebon buah yang diresmikan oleh pak Harto penguasa Nusantara terlama sepanjang sejarah hingga hari ini. Ia juga taman rekreasi berupa kebun buah terbesar dan mungkin juga satu satunya di Indonesia. Konon pembangunannya digagas oleh Ibu negara, Ibu Tin Suharto.

Dullu itu waktu siaran langsung peresmiannya di satu satu nya stasiun tivi yg ada, salah satu cucu beliau yg seumuran putraku di foto itu ikutang tampil menyanyi bersama teman temannya dipanggung hiburan, lagu belon kelar, dia udah berlari menghampiri dan memeluk kakek presiden nya di tenda kehormatan. Hmmm indahnya jadi cucunya raja ya.***

from my instagram

Saturday, June 17, 2017

Situ Abidin Miniatur Danau Toba di Bojongmangu

Situ Abidin saat musim hujan, untuk menyeberang ke pulau kecil di tengah danau mau tidak mau anda harus menggunakan perahu atau rakit bambu atau berenang jika mampu. (https://goo.gl/XP8zG3)

Di Bojongmangu kabupaten Bekasi, ada sebuah danau kecil atau dalam Bahasa sunda biasa disebut dengan Situ dan ditengah tengahnya ada sebuah pulau kecil, seperti layaknya danau toba dengan pulau Samosir ditengahnya, hanya saja danau satu ini ukurannya mini, tidak segigantik ukuran Danau Toba, namun keindahan alaminya sih lumayan untuk menghibur mata dan hati.

Cocok Untuk yang Pengen Segera Sakti

Situ atau danau kecil ini cocok bagi siapa saja yang ingin segera sakti mampu menyeberangi danau tanpa bantuan perahu atau rakit, tanpa berenang dan tanpa basah, Caranya ?, datanglah kesana pada puncak musim kemarau. Anda otomatis menjadi orang sakti yg mampu menyeberangi danaunya dengan hanya Melenggang. ☺😄😃
.
Situ Abidin namanya, lokasinya berada di Bojongmangu, titik tertinggi di kabupaten Bekasi meski ketinggiannya hanya berkisar 400 meter dari permukaan laut. Dinamai dengan Situ Abidin sesuai dengan nama ulama penyebar Islam yang makamnya berada di pulau kecil ditengah tengah danau itu.


Masih Aseli

Situ Abidin ini berada di Kampung Bedeng, Desa Karang Mulya, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Bisa ditempuh dari Jalan Raya Cileungsi, dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer lewat Cibucil – Cibarusah. Atau bisa juga lewat Jalan Raya Cariu, dengan jarak tempuh sekitar 8 kilometer.

Sebagai sebuah danau alami, situ abini masih tampil alamiah belum ada sentuhan dari pemerintah kabupaten Bekasi untuk mempersoleknya sebagai sebuah objek wisata yang kebetulan lokasinya tidak seberapa jauh dari pusat pemerintahan kabupaten Bekasi di area Pentagon Deltamas.

Luas situ abidin sekitar 17 hektar, sebenarnya sangat leluasa untuk pengembangan wahana objek wisata air. Jika serius dikelola, bukan hal yang mustahil objek wisata alam ini bisa menjadi sumber PAD (pendapatan asli daerah) yang bisa diandalkan. Apalagi, insfrastrukturnya sudah lumayan bagus. Bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Jarak tempuh dari Pemkab Bekasi pun hanya sekitar 25 kilometer. Sekitar 30 menit perjalanan.

Makam Keramat

Di pulau ditengah situ abidin ini ada makam keramat, yaitu makan Mbah Uyut Bidin dan Mbah Uyut Lidam ada juga yang menyebutnya Kiai Abidin dan Kiai Sengkek Bean, yang pasti ditengah pulau kecil itu memang ada dua makam di lokasi terbuka tanpa nama dan satu makam di dalam bangunan tertutup. Makam keramat ini sering diziarahi orang.
Situ Abidin saat musim kemarau, tak perlu perahu atau rakit untuk menyeberang ke pulau ditengah tengah danau. (https://goo.gl/XP8zG3)

Berdasarkan kisah tutur disebutkan bahwa kedua tokoh ini semasa hidupnya merupakan ulama penyebar agama Islam di daerah Bojongmangu dan sering menunjukkan karomah layaknya wali, karena itu dikenal dengan Mbah Wali, informasi yang lain menyebutkan bahwa beliau semasa hidupnya adalah seorang mursyid juga dikenal dengan nama Kyai Syamsudin.

Angker

Konon tempat ini dikenal sangat angker karena merupakan tempatnya komunitas para siluman. Diantaranya, siluman Lembu, siluman Kuda, Siluman Ular dan Siluman Buaya Putih. lagi lagi konon ada yang ajaib dari danau Abidin, yaitu Pohon Kiray yang bisa bergerak sendiri dan berenang melawan arus dan ini sering disaksikan secara mata fisik oleh penduduk sekitar maupun para peziarah.

Benarkah demikian adanya, entahlah, namanya juga konon. yang pasti tempat ini memang masih sepi dan jauh dari keramaian. Kecuali bila anda memang berminat untuk uji nyali. Sejauh pantauwan kami saat hadir disana saat dinihari hingga ujung malam, suasana aman aman saja, memang ada sosok yang muncul sih, kucing meong meong dan dua warga setempat yang sedang ronda malam.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------
Baca Juga

Monday, November 24, 2014

Mencerna Legenda Curug Cigentis dan Sanggabuana

CURUG CIGENTIS - KARAWANG
Tempat Mandi Putri KeratonItu adalah kesimpulan yang menurutku paling sreg yang dapat kutulis dari legenda curug Cigentis yang dipampang di pos Perhutani di Curug Cigentis. Curug dalam bahasa Sunda berati Air Terjun. Sedangkan nama Cigentis (juga menurut legenda) adalah nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nu Geulis Nyi Geuntis. Konon dia adalah anggota pasukan khusus kerajaan Padjadjaran yang di utus oleh raja untuk mengawal atau lebih tepatnya ‘menguntit dan mengawasi’ aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para wali di wilayah Padjadjaran, tapi kemudian malah menjadi yang pertama berikrar memeluk Islam diantara anggota kesatuannya.

Curug Cigentis merupakan salah satu wana wisata yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, KPH Purwakarta Seluas 5,00 ha terletak di petak 47 c RPH Cigunungsari, BKPH Pangkalan, Secara administratif pemerintahan terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, berada pada 6°35 LS dan 107°12” BT, ketinggian tempat 600-1200m dpl dengan konfigurasi lapangan berupa pegunungan, bergelombang kelerengan agak curam s/d curam. Jarak kota kabupaten Karawang ±40Km dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sedangkan dari daerah Bogor dapat melalui Cariu.

Legenda Curug Cigentis (klik untuk memperbesar)
Kendaraan apapun yang anda pakai ke wanawisata satu ini, pada ahirnya haruslah tetap berjalan kaki dari pos perhutani menuju ke air terjun ini sekitar 200 meter. Jalanan menuju ke lokasi sebagian besar sudah di cor beton. Tersisa sekitar 1.5 km yang masih berupa jalan berbatu keras dan menanjak cukup ekstrim. Bila malas berjalan kaki, beberapa penduduk setempat menyediakan jasa ojek hingga ke lokasi parkir motor terahir beberapa meter dari pos perhutani. Namun naik ojekpun harus punya nyali mengingat tanjakan yang dilalui memang cukup ekstrim.

Mari kita cerna

Di pos perhutani tempat membeli tiket masuk seharga Rp. 10 ribu per orang, sudah dipampang spanduk besar yang menceritakan legenda tentang curug Cigentis. Lumayan untuk sekedar menambah pengetahuan. Meskipun legenda yang ada memang terlalu banyak celah untuk dikomentari. Silahkan bersabar untuk melanjutkan membaca ulasannya berikut ini sampai tuntas, untuk menemukan celah celah yang saya maksud. Mari kita cermati, Legendanya begini :

“Beberapa ratus tahun yang silam pasinggahan (Sekarang Curug Cigentis) adalah hutan belantara yang kering/kekurangan air, merupakan salah satu daerah kekuasaan Prabu SIliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa.

Bila dibaca dengan baik rasanya terlalu janggal bila hutan belantara dalam kondisi kering/kekurangan air. Bagaimana mungkin tanaman akan tumbuh apalagi sampai menjadi hutan belantara bila kekurangan air. Legenda itu memberikan berita bahwa hutan di gunung Sanggabuana sudah ada sejak beberapa ratus tahun silam. Walaupun mungkin belum ada aliran sungai yang kini membentuk curug cigentis.

Lalu Siapakah itu “Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa”?. Ahli sejarah memang terbagi dua pendapat tentang Prabu Siliwangi. Pendapat pertama mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya satu yakni Sri Baduga Maharaja. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada banyak karena itu adalah gelar bukan nama seseorang dan bukan hanya Sri Baduga Maharaja yang bergelar Siliwangi. Hanya saja, saya tidak menemukan Nama Prabu Sukma Rasa diantara jejeran nama Raja Padjadjaran. Mungkin yang dimaksud adalah Raden Pamanah Rasa (karena ada kata “Rasa”) yang merupakan nama lain dari Sri Baduga Maharaja.

Pada masa penyebaran Islam di Pulau Jawa Oleh Wali Songo, Curug Cigentis merupakan salah satu tempat yang disinggahi, daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu. Walaupun sebelumnya telah meminta ijin tetapi Prabu Siliwangi mempunyai kecurigaan kepada para wali (6 orang wali) tersebut, dikhawatirkan akan merebut kekuasaan, untuk mengawasi gerak gerik wali tersebut, Prabu SIliwangi tetap mengijinkan tetapi menyertakan pengawal yang sebenarnya telah di bai’at (doktrin) setia dengan alasan sebagai pengawal para wali.”

Dengan mudah anda akan bertanya, WaliSongo itu ada sembilan atau 6 orang sih?. Baiklah kita anggap saja bahwa dari sembilan wali yang ada hanya enam orang yang terlibat dalam legenda tersebut. Hanya saja, agama masyarakat Sunda adalah Agama Sunda Wiwitan bukan agama Hindu. Tapi baiklah bisa jadi di daerah Cigentis dimasa itu penduduknya beragama Hindu, jadi wajar bila kemudian para pengawal wali itu tak terlalu keberatan para wali berdakwah disana karena toh agama yang dianut bukan agama mayoritas. Bila itu benar maka semestinya di sekitar Cigentis terdapat peninggalan era Hindu berupa candi atau lainnya. Yang ada saat ini disekitar Cigentis justru situs batu Tumpang tak jauh dari Curug Peteui yang lebih mirip sebagai peninggalan masa animis ataupun megalitikum.

“Curug Cigentis pada saat itu merupakan daerah yang kering tidak ada air sama sekali, guna keperluan hidup dan beribadah para wali berdo’a bermunajat memohon dengan penuh kepasrahan, khusu’ serta penuh kesabaran, atas kekuasaan Tuhan YME dari sebuah batu yang besar keluarlah air, membentuk sebuah air terjun (Curug). Orang orang yang berada pada lokasi tersebut serentak merasa kaget, sekaligus kagum dan suka cita, tidak terkecuali para prajurit Prabu Siliwangi yang ditugaskan mengawal para wali tersebut. Salah satu pengawal yang bernama “Nu Geulis Nyi Geuntis” secara spontan “berikrar” masuk agama Islam. Karena beberapa hari tidak mandi dan kekurangan air, Nyi Geuntis sari sambil sambil mengucapkan kalimat mengagungkan Tuhan (Allohu Akbar 3X) langsung terjun dan mandi pada Curug tersebut. Melihat hal tersebut, maka para wali menamakan curug tersebut dengan “Curug Cigentis”

Sebenarnya para wali, para pengawalnya dan orang orang yang mengikuti mereka itu, berkumpul dibagian mana sih?.  Di tempat yang kini jadi air terjunnya, atau di dekat batu besar yang mengeluarkan air?. Bila mereka berkumpul di dekat batu besar yang mengeluarkan air berarti lokasinya berada di bagian atas dari Curug Cigentis saat ini, berarti “Nu Geulis Nyi Geuntis” itu adalah pengawal sakti yang mampu terjun dari bagian atas curug setinggi lebih dari 20 meter untuk mandi pada curug tersebut.

Bila memang air yang mengalir di Curug Cigentis berasal dari sebuah batu besar semestinya hingga hari ini pun batu besar yang mengeluarkan air tersebut masih dapat kita temui disana, faktanya curug cigentis berasal dari air aliran sungai kecil yang terbentuk dari begitu banyak mata air di Gunung Sangga Buana, yang melewati tebing curam hingga membentuk air terjun. Atau jangan jangan batu besar yang dimaksud adalah gunung sanggabuana itu sendiri.

“Melihat apa yang dilakukan Nyi Geuntis Sari pengawal yang lain pun ikut masuk Islam yang dipimpin salah satu wali yang bernama Kyai Bagus Sudrajat antara lain Putri Komalasari, Putri Melati, Putri Cempaka, Putri Sri Dayang Sari, Putri Sri Kunti, Putri Kaling Buana, Ibu HArum Sari, Ibu Harum Melati, Putri Malaka Mekah, Putri Malaka Hujan, Putri Rangga Huni, Resi Taji Malaka, Ganda Malaka, Guntur Roma, Rd. Jaka Tunda dan Masyarakat lainnya.”

Diantara para pembaca adakah yang bisa membantu saya untuk menjelaskan siapakah anggota walisongo yang bernama Kyai Bagus Sudrajat itu. Karena dibagian awal tadi disebutkan bahwa ‘para wali’ yang dimaksud adalah walisongo?.

Bila mengamati nama nama para pengawal wali itu. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai ‘Para Penggoda Wali” bukan “pengawal wali”.  Bagaimana tidak, dari 15 nama yang disebut itu 12 diantaranya adalah perempuan dan 9 diantaranya bergelar Putri. Yang namanya putri pastinya cantik, mustahil ganteng dong.

Hei, itu aku
“Disekitar lokasi tersebut terdapat sebuah bukit yang sering dipakai pertemuan oleh para wali sehingga lokasi tersebut sampai saat ini dikenal dengan puncak sanggabuana. Sangga = sembilan menandakan wali sembilan dan ‘Buana” = tempat dimana lokasi tersebut sering dipakai berkumpul dalam penyebaran agama ke daerah Cirebon, Demak, Kudus, Banten, Garut, Pemijahan Tasikmalaya, dan lain lain. Konon yang membagi bagikan tugas tersebut adalah Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani.

Salah satu petuah pawa wali yang menjadikan daerah tersebut berkeramat adalah ‘ikuti jejak kami’ kalau kita mempunyai maksud dan tujuan tetap meminta kepada Allah SWT (dari berbagai sumber)”.

Pada alenia ini terkesan terlalu dipaksakan untuk menghubungkan puncak Sanggabuana dengan Walisongo. Sangga dan Sanga memiliki makna yang jelas berbeda. Sangga bermakna penopang, sedangkan Buana atau Buwana bermakna Dunia atau semesta. Fakta menunjukkan bahwa Gunung Sanggabuana di Karawang merupakan titik tertinggi di wilayah Karawang. Bisa jadi disebut dengan nama Sanggabuana (penopang dunia) karena faktor tersebut.

Lebih menarik lagi dalam legenda itu disebutkan nama Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani yang membagi bagikan tugas kepada para wali(songo). Mungkin yang dimaksud adalah Abdul Qodir Jailani (1077–1166 M). Hanya saja beliau tak sejaman dengan walisongo.

Dan dari paparan legenda itu saya hanya mampu mempuat kesimpulan yang menurutku paling sreg bahwa Curug Cigentis itu legendanya adalah tempat mandinya putri keraton. Yang sedangkan bagian lain dari legendanya justru lebih menarik untuk di diskusikan ulang. Atau mungkin ada yang berminat untuk mulai menggali lebih jauh legenda itu, termasuk kemungkinan untuk menemukan sebuah candi Hindu di sekitar Cigentis dan Sanggabuana. Siapa tahu.