Thursday, April 21, 2016

Bukan Sajadah Sakti


Pagi itu halaman Masjid Jami’ Babussalam sudah penuh sesak. ruang kosong yang tersisa hanya di aspal perempatan ruas jalan lintas tengah sumatera yang membentang melintasi kampungku di depan masjid. Suara takbir membahana di hari kemenangan 1 syawal 1436H. Sambil takbiran mau tak mau aku juga sibuk menjaga jagoan kecil ku yang baru dua tahun dan beberapa keponakan kecil yang ‘ngintil’ denganku gg mau ikut dengan bapaknya.  sementara di emperan pertokoan yang tutup pagi itu banyak anak anak muda dan orang dewasa yang malah nongkrong disana meski sudah berbaju koko dan bawa sajadah.

ketika waktunya shola ied tiba, tidak ada reaksi dari mereka yang sejak tadi hanya nongkrong di emperan toko untuk bersiap siap untuk sholat. Keponakan keponakan kecilku malah kisruh rebutan sajadah, walahasil dua sajadah yang kubawa juga mereka pakai. apa boleh buat aku sholat di atas aspal tanpa sajadah sementara si kecil disebelah ku tetap saja sibuk dengan mobil mainannya. Entah di takbir yang keberapa, seseorang datang dan membentangkan sajadah di depanku dan di depan putra kecilku.

Ketika salam, shola ied usai. anak ku sudah tidak ada lagi disebelahku. sudah pindah bersama mainannya, cuek santai njelepok di tengah jalan beraspal main mobilan, ditemani (lebih tepatnya dijagain) oleh dua anak muda berbaju koko, sejurus kemudian anakku lari lari ke menghampiriku. Sementara beberapa anak muda yang lainnya (yg tadinya nongkrong di emperan toko) mulai sibuk mengatur lalu lintas di ruas jalan yang tadi ternyata di tutup sementara selama sholat ied berlangsung karena jamaah yang berjubel hingga memenuhi jalan raya termasuk aku, keponakan2 ku dan putra kecilku.

Khutbah Iedul Fitri usai, kini aku yang clingak clinguk untuk mengembalikan sajadah, siapa gerangan orangnya yang tadi membentangkannya di depanku saat sholat tadi ? masa iya sajadahnya tiba tiba nongol dan nge-gelar sendiri di depanku. Salah satu dari anak anak muda itu yang kemudian menghampiriku. “Punyo aku kak” begitu katanya. Wajah yang sama sekali tak kukenal, mungkin dia kenal aku ? Entahlah, yang pasti setelah itu setengah jam lebih aku sengaja berdiri di prapatan jalan (sambil menggendong anakku) di depan masjid diantara sebegitu banyak Jemaah yang lalu lalang. Hanya segelintir saja dari mereka yang kukenal dan mengenaliku.

Tampaknya kampungku yang dulunya sunyi sepi dan se isi kampung ku kenal satu persatu dan merekapun mengenalku kini sudah jadi milik orang lain . Hanya saja. Tak perlu kenal untuk membantu dan kadang kadangkala bantuan atau pertolongan itu memang datangnya di detik detik terahir. ***