Friday, August 23, 2013

Dongeng PejEratan

Makam Pendiri Gelumbang, di dalam bangunan beratap, makam di bagian depan foto bertuliskan "cucu Fatahillah". 
Anda tahu apa itu pejEratan ?. tidak tahu kah, itu sangat wajar, karena memang perkiraan saya sih 90% lebih penduduk Negara ini tak faham arti kata itu. pejEratan merupakan kata dalam bahasa Belida atau Blide yang berarti pekuburan alias pemakaman. Jangan salah menyebutnya apalagi sampai terpeleset menjadi pejelatan, karena pejelatan artinya adalah mainan. Dan masalah pejEratan bukanlah masalah pejelatan, iya kan. Belida sendiri merupakan salah satu suku yang mendiami kawasan sepanjang tepian sungai Belida, salah satu anak sungai Musi di provinsi Sumatera Selatan.

Di kampung kami di kelurahan Gelumbang yang masuk dalam wilayah Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan, (dulunya) PejEratan berada di ujung kampung di bagian hilir, dan sama seperti halnya pemakaman di bagian lain negeri ini yang selalu di identikkan dengan angker, seram, hantu, pocong, kuntilanak, genderuwo, arwah penasaran, klenik, mitos, mistik dan lain sebagainya.

Di bagian depan pejEratan itu dulunya ada beberapa pohon besar dan tinggi salah satunya adalah pohon cempedak yang berdiri kokoh hanya beberapa depa dari ruas jalan lintas (tengah) Sumatera yang menghubungkan kota Prabumulih di selatan ke kota Palembang di utara. Di bawah pohon besar itu dulu semasa kanak kanak kami seringkali nongkrong menjajakan burung betet kepada para pengguna jalan yang lalu lalang bersama teman teman.

Tak ada rasa takut atau seram kala itu itu, karena memang tidak sendiri. Apalagi diantara kami ada beberapa orang adalah teman teman senior yang jauh lebih tua yang salah satunya kini telah menjadi “pengusaha muda Gelumbang” alias orang terkaya di Gelumbang, karena kesuksesan bisnis yang digelutinya, pastinya bukan karena jualan burung Betet, ya.

pejEratan yang dulu berada di ujung kampung yang sunyi senyap kini sudah berada di tengah keramaian. Dan tentu saja bukan karena pejEratannya yang bergeser tapi karena memang kampungnya yang telah berkembang pesat. Pohon pohon besar di tepian jalan di depan nya kini sudah lenyap beganti dengan beberapa rumah dan ruko yang konon pemiliknya membeli lahan tersebut dari seseorang secara sah, meski terasa agak aneh mengingat pejEratan itu (konon juga) merupakan lahan bersama dan sejak dulu sudah penuh sesak dengan makam makam tua hingga ke tepian jalan raya, tapi begitulah.

Memang sih sebagian lahan yang oleh masyarakat dianggap sebagai “lahan pemakaman umum” itu memang merupakan lahan pribadi yang tidak pernah ada pernyataan resmi dari pemilik nya untuk dijadikan areal pemakaman umum, meski pihak keluarga kemudian memakamkan jenazah kerabat mereka disana dan dikemudian hari di ikuti oleh kerabat yang lain. Lalu di hari yang lain jenazah orang lain pun turut dimakamkan disana tanpa sepengetahuan pemilik lahan dan walahasil semakin hari semakin bertambahlah hingga terkesan seolah olah seperti lahan pemakaman umum.

Makam Pendiri Gelumbang

Di pejEratan Gelumbang terdapat satu makam yang terlihat sangat menyolok berbeda dengan yang lain, karena merupakan satu satunya makam yang diberi atap di area tersebut. Bangunan makam yang dalam bahasa Belida disebut Gobah. Makam tersebut merupakan makam pendiri Gelumbang. Merujuk kepada nama yang di tulis di dinding bangunan makamnya serta di batu nisannya, beliau bernama Raden Mardin Bin Raden Wiharjo (1452M) beserta istrinya bernama Huminah Binti Dinharjo (1452M).

Raden Mardin Wiharja. diyakini sebagai nama dari pendiri Gelumbang yang kini menjadi Kelurahan di dalam lingkup wilayah Kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. 
Masih di dalam gobah juga terdapat dua makam lainnya yang nisannya sama sekali baru yakni makam dari Abdullah Bin Hasbullan (1505-1772) dan R. Afillah atau mungkin Rafillah Bin Mardin (1792H), hanya saja yang terahir ini satu satunya yang bertarikh Hijriah, sedangkan yang lainnya bertarkh masehi.

Saya pribadi cukup surprise dengan nama nama yang tertulis disana mengingat selama ini masyarakat setempat mengenal makam tersebut tak lebih dari sebutan “Makam Junjungan Dusun” tanpa nama. Dan tak ada seorang pun yang pernah menyebut siapa nama beliau sebenarnya. Lebih surprise lagi karena semua tulisan nama nama dan tahun yang ada adalah “barang baru” karena memang ditulis diatas sebuah batu nisan yang terlihat masih baru, tulisan di dinding makamnya juga masih baru yang sepertinya dibuat bersamaan dengan perbaikan bangunan tersebut.

Makam aslinya dulunya hanya berupa gundukan tanah seperti sarang semut yang menggunung tinggi diatas sepasang makam dengan nisan tanpa nama dan memang sudah diberi atap. Disebut sebagai sepasang makam dikenali dari bentuk nisannya, kebiasaan masyarakat setempat bahwa nisan bentuk bundar untuk makam laki laki dan nisan bentuk pipih untuk makam perempuan, dan sudah lumrah bila makam suami istri biasanya berdampingan. Nisan baru dengan nama dan tarikh nya itu diletakkan bersebelahan dengan nisan aslinya.

Lebih surpise lagi ketika mendapati begitu banyak nisan nisan baru yang juga bertarikh abad ke 15 di sisi kiri dan kanan bangunan tersebut, ditambah lagi beberapa makam yang berada agak ke selatan, tiga diantaranya ditulis dengan nama “Cucu Fatahillah”. Cukup penasaran dengan fakta yang ditemui hari itu.

Nisan nisan baru yang ada di sisi kanan (utara) bangunan makam (gobah) terdiri dari : Wahyu Utama Prabu Jatiraga (1792), Dharma Hastina (482m) Wali Allah (1604M), Hasni Barowawi (1792M), Syahidan Bin Arya Sahdan Muria Binti Sumiyah (1560), Amatullah Raden Sahdan (1792M), Anggap Wali (Tanpa tarikh), Raden Kusuma (1555M), Tasaka bin indrawati (tanpa tarikh), Tassxxx (Tak terbaca dengan jelas) (1452m), K.Hardi Purwa Dihardja (tanpa tarikh), Alang Wigiarta Kencana - Ki Mata Elang (1560m), R.J Sri Gana (tak bertarikh), Sultan Wigiarta - Ki Wage (tanpa tarikh),

Di sisi selatan (sebelah kiri Gobah) : Raden Rahaxxxx (tak bertarikh), Putri Kembang Rangga Tasaka (tanpa tarikh), Raden Wiharja (1224m), Cut Arda Ratu Seribu (1481m), Prabu Satria Sancaka (1792m), Ki Harja Purwa Dihardja (1542m), Raden Arda Tasaka (1560m), Raden Batu Lambang (1420m). ditambah dengan lima makam yang berada kira kira di di bagian depan Gobah terdapat empat makam cucu Fatahillah (tak bertarikh), Hambiyatullah Fatah (1600m).

Cukup penasaran untuk sekedar tahu siapa gerangan yang membuat dan memperbaiki gobah makam junjungan dusun itu, tokoh masyarakat kah ? atau ketua adat kah? Atau pihak lain. Pembuat dan pemasang nisan baru dengan tarikh yang sudah teramat tua di areal tersebut sepertinya melupakan kaidah local tentang bentuk nisan yang lazim dipakai, tapi usaha nya patut di appresiasi. Menjadi semakin penasaran mengingat begitu akuratnya tarikh tahun yang ditulis di masing masing makam, pastinya si pemasang memiliki sumber sejarah yang mumpuni.

Empat nisan bertarikh yang sama tahun 1792 (abad ke 18), dua nisan bertarikh abad kw 17, lima nisan dari abad ke 16, tiga nisan dari abad ke 15, satu nisan dari abad ke 13 dan yang paling menarik adalah adanya satu nisan yang bertarikh tahun 482 atau abad ke 5 masehi.  Bila itu benar boleh jadi makam itu sebagai (salah satu) makam paling tua di tanah Sumatera.

Dari Ahli Waris

Sejauh ini saya tidak (atau belum) menemukan sumber di kampung halaman yang mampu membeberkan secara akurat tentang hal hal yang sudah disebutkan tadi, sampai dua hari setelah berziarah kesana seorang teman lama berkunjung ke rumah dan ahirnya mengakui bahwa dialah yang memasang nisan nisan baru lengkap dengan nama dan tahun tersebut sekitar dua tahunan yang lalu. Dan dia mengaku bahwa semua sumber data dia dapatkan langsung dari ahli waris atau keturunan dari yang bermakam di Gobah tersebut. Karena si ahli waris kini masih menetap di Surabaya beliau menitipkan hal tersebut ke teman lama yang satu ini.

Bahasan menjadi manarik karena topik satu ini terbilang sangat jarang dibicarakan atau setidaknya belum pernah kudengar sebelumnya. Sekian tahun lalu di kelurahan Gelumbang masih sempat mengikuti satu kali perayaan yang disebut “sedekah pedusunan” sebuah acara yang sebenarnya untuk memperingati berdirinya kampung tersebut dengan salah satu seremoninya adalah ziarah beramai ramai ke makam leluhur, saat itu ziarah ke gobah makam di Talang Manyan. Dalam kata sambutan yang disampaikan oleh tokoh setempat saat acara pun tidak membeberkan apalagi mengulas tentang sejarah kampung dengan jelas. Acara sedekah pedusunan itupun kini menghilang.

Lebih menarik lagi ketika kawan lama ku itu menjelaskan bahwa dari informasi yang didapatkannya, Raden Mardin Wiharjo yang bermakam di Gobah junjungan dusun merupakan pendatang dari kerajaan di tanah Jawa dari trah Hamengkubuwana I Raja Mataram. Sampai dititik tersebut setidaknya memberikan penjelasan bahwa memang sejak awal berdiri-nya kampung tersebut, penduduk Gelumbang sudah memeluk agama Islam. mengingat Mataram sendiri memang merupakan kerajaan Jawa meneruskan tahta Kesultanan Pajang dan Demak. Diskusi malam itu memang terlalu singkat untuk membahas detil termasuk tarikh tahun yang ditulis di masing masing makam.

Rupa bumi yang mulai berubah

Para pendiri kampung tersebut dulunya datang melalui jalur sungai hingga ahirnya tiba di tanah yang kini menjadi kelurahan Gelumbang. Hanya saja sungai yang dulu mereka gunakan sebagai jalur transportasi utama itupun sudah lenyap sejak berpuluh tahun yang lalu, yang tersisa hanya rawa rawa yang biasa disebut rawang. Yang semakin hari semakin menciut karena erosi, pendangkalan hingga pengurukan dan mulai diperjualbelikan oleh beberapa individu kepada individu lainnya hingga mulai marak pendirian bangunan dilahan yang semestinya dikonservasi sebagai badan air.

Makam sesepuh Gelumbang di Talang Manyan. konon bernama Raden Kuning.
Di seberang gobah (Makam) junjungan dusun itu yang (dulunya) terpisah oleh sungai (dan kini sudah menjadi rawa rawa) terdapat satu gobah lagi di tempat bernama Talang anyan yang berisi satu makam yang konon merupakan makam dari Raden Kuning. Beliau juga merupakan salah satu sesepuh pendiri kampung. Beberapa meter dari makam itu juga terdapat makam tanpa nisan tanpa gobah selain berupa gundukan tanah yang diyakini sebagai makam Bujang Juera. Juera dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai Juara, tapi dalam bahasa Belida, Juera (juga) bermakna sebagai Bandit, Pencuri, Jawara, biang kerok. Hanya saja konon beliau dipanggil Bujang Juera karena memang pencapaiannya yang Juara dalam segala hal. Wallohua’lam Bissahawab.

Menyibak sejarah masa lalu yang sudah berlalu berabad abad memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bila sumber yang ada hanyalah berasal dari sumber lisan yang disampaika turun temurun layaknya sebuah tutur tinular. Kebanyakan dari hal seperti itu hanya dianggap sebagai sebuah dongeng, legenda hingga mitos belaka. Sementara pembuktian secara ilmiah sudah barang tentu membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.***