Thursday, August 22, 2013

Habis Terang Terbitlah Gelap, Terang, Gelap . . . . .

G#&@R...
Lima belas hari berada di kampung halaman di kelurahan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, sudah seperti berada di kampung orang lain bersama dengan begitu banyak teman satu etnis dan bahasa, maklum kampung ku yang kukenal dulu sudah berubah, lebih dari setengah penduduknya (sudah) tak mengenalku dan tak kukenal karena memang merupakan para pendatang dari berbagai daerah yang berangsur mengubah landskap kampung ku yang sunyi ketika kutinggalkan di awal 90-an.

Waktu telah mengubah begitu banyak hal, bangunan pertokoan mulai menyesaki tiap tepian ruas jalan. Lahan perkebunan karet yang dari dulu hingga kini masih menjadi primadona mata pencaharian sebagian penduduknya, perlahan tapi pasti semakin jauh bergeser dari pemukiman. Lahan kosong perlahan tapi pasti mulai (segera) menjadi barang langka.

Tapi satu hal yang tak berubah sejak kutinggalkan dulu, apa an tuh ? itu loh urusan penerangan alias pasokan listrik yang tetap saja habis gelap terbitlah terang, lalu gelap lagi, terang lagi, gelap lagi alias byar pet, mati idup mati, nyala padam tak kenal waktu, sesukanya atau dalam bahasa setempat disebutnya “mati lampu tak keroan rutu”.

Ternyata kalimat putus asa atas sebuah perubahan ke arah lebih baik yang seringkali terucapkan dalam nada galaw  “nyatanya banyak hal yang memang seakan enggan berubah” itu berlaku untuk layanan publik yang satu ini di kampung halamanku.

Masyarakat disana pun terkesan apatis, entah karena memang sudah membuka ruang permakluman yang teramat luas tanpa batas bagi layanan sangat tak memuaskan itu atau karena memang sudah terlalu capek komplain sana sini tanpa perbaikan berarti atau “jangan jangan” karena terlalu takut bersuara hingga nrima saja, entahlah.

Beberapa rumah tangga dan pelaku usaha lebih memilih mencari solusi sendiri dengan memasang generator listrik sebagai sumber pasokan listrik alternatif, yang lainnya pasrah dengan nyala lilin dan penerangan tradisional lainnya.  Beberapa lainnya berkomentar seadanya ketika diajak bicara perkara tersebut. Seakan terlalu rumit untuk sekedar menyampaikan uneg uneg kekecewaan atas layanan tak becus itu.

Lima belas hari di kampung halaman tak pernah sehari pun luput dari padam listrik, tanpa kenal waktu, dan tak seharipun yang luput dari padam lalu nyala lagi berkali kali. Bisa anda bayangkan bila satu dari tiga jagoan dan keponakan kecil ku yang kuantar berbarengan ke tukang cukur beberapa hari jelang lebaran terpaksa mengeluh panjang pendek karena dipaksa “menikmati sementara” kepala berambut separo” akibat pasokan listrik yang mendadak terhenti saat proses pangkas rambut berlangsung.

Itu kisah keponakanku, dan ahirnya akupun mengalami hal yang sama harus menyelesaikan pangkas rambut dengan bantuan penerangan cahaya senter di malam hari karena generatornya yang tak siap menyala sementara rambutku sudah terpangkas separoh saat listrik padam mendadak. Jiahahahahh, sebuah pengalaman yang benar benar unik mengingat listriknya baru menyala lagi berjam jam setelah aku selesai mandi.

Dan yang paling menyesakkan banyak orang, tatkala listrik pun tak kunjung menyala dari sore hingga lewat tengah malam di malam hari hari raya idul fitri, tak pelak lagi, masjid jamik Babussalam dan langgar (mushola) yang pasokan listriknya hanya mengandalkan PLN itu sunyi senyap dan bisu dari gempita gema takbir dan tentu saja gelap gulita.

Listrik memang memiliki kisah panjang di kampung halamanku itu. Listrik masuk kesana seakan tanpa angan angan. Di awal tahun 80-an listrik telah mengalir kesana tapi bukan dari PLN tapi dari pembangkit listrik sederhana milik pribadi yang kemudian ditawarkan kepada beberapa penduduk kampung hanya untuk penerangan di malam hari. Sampai kemudian waktu kampanye pemiliu tiba, iming iming pasokan tenaga “listrik seperti di kota” pun berhembus dari caleg partai penguasa saat itu.

Dan benar saja ketika pemilu usai proyek pemasangan tiang listrik benar benar digelar  tapi “hanya di 2 dari 3 kampung” yang ada disana. Tiang listrik dipancangkan mulai dari kantor PLN tak jauh dari kantor camat Gelumbang (kini menjadi kantor lurah Gelumbang) yang masuk wilayah kampung satu alias kampung laut bagian hulu hingga ke depan pejEratan (komplek pemakaman) di hilir, lalu membentang juga di sepanjang ruas jalan Kampung Dua alias di Kampung Derat, hingga ke tepian rel kereta api di kampung Tiga alias Kampung Kalangan tapi tidak masuk ke Kampung Kalangannya lho.

Loh kok tidak masuk hingga ke kampung Kalangan sih ?. itu pertanyaanku kala itu yang masih anak anak menjelang remaja. Konon itu terjadi karena masyarakat Kampung Kalangan “tidak pro” Partai Pemerintah dalam pemilu yang baru lalu. Karena memang janji pasokan listrik di berikan bila “partai pemerintah” menang dan paska pemilu usai ternyata Partai Pemerintah hanya menang di Kampung Laut dan Kampung Derat, sedangkan di Kampung Kalangan partai itu mengalami kekalahan telak. Seingatku memang kala itu kampung Kalangan merupakan wilayah hijau royo royo, wajarlah bila masyarakat disanapun memilih warna yang sama dari tiga warna yang ada saat nyoblos.

Lagi lagi seingatku, tiang yang dipancang tidak langsung digandoli dua helai kabel telanjang, cukup lama menganggur setelah dipancangkan dan pasokan listrik benar benar mengalir ke rumah rumah penduduk paska kemenangan pemilu berikutnya saat saya sudah duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama Negeri Nomor Satu Gelumbang dan dengan penuh semangat membantu Bapak-ku menambah instalasi listrik di dalam rumah karena pihak PLN hanya memasang tiga titik lampu listrik untuk setiap rumah tangga.

Memang riang gembira dengan adanya listrik, malam hari terasa lebih berdenyut karena tak lagi terlalu seram meski di belakang rumah dan sebagian besar wilayah sekitar kampung masih berupa kebun kosong yang menghutan hingga hutan lebat tak bermanusia.  Judul buku nya R.A Kartini “Habis gelap terbitlah terang” benar benar terasa harpiah di kampungku kala itu.  Akupun sudah tak ingat lagi apakah Bapak-ku waktu itu membayar atau tidak untuk proses penyambungan kabel listriknya ke rumah dari tiang nya yang dipancangkan bukan di sisi jalan raya tak bertrotoar itu, tapi “se-enaknya” ditancapkan di dalam pagar halaman.

Yang pasti, pasokan listrik hanya di alirkan pada malam hari sejak jelang magrib hingga bakda subuh jelang terbit matahari. Lumayanlah. Warga di dua kampung juga merelakan pohon pohon buah milik mereka dipangkas hingga di tebang demi “membentang” kabel listrik, mereka juga “rela” pekarangan mereka di sisi jalan raya ditancapi tiang listrik tanpa harus dibayar.

Masyarakatnya juga sudah sangat senang dengan pasokan listrik dari generator PLN dan kadangkala juga padam karena rusak atau sedang berganti pembangkit dari generator yang satu ke generator berikutnya. Sangat jarang terdengar keluhan ketika listrik padam dengan kode dua atau tiga kali kedipan meski mereka sedang asik nontong bareng tivi tetangga yang sengaja diletakkan di jendela yang terbuka untuk ditonton bersama. Paling paling terdengar komentar “ai PLN dang nak ngisik minyak”.

Ketika jaringan yang dipasang semakin meluas hingga ke kampung tetangga, intensitas padamnya pasokan secara mendadak mulai semakin intens karena jaringan kabel yang ditimpa dahan pohon yang tumbang atau patah akibat hembusan angin dan hujan, karena gensetnya rusak, sampai kemudian mulailah muncul istilah PLTU alias Perusahaan Listrik Takut Ujan, karena tiap kali hujan deras tiba dipastikan aliran listrik akan bermasalah. Awal tahun 90-an kutinggalkan kampung halamanku dan tak rutin kembali kesana. Nyatanya hingga tahun 2013 ini tradisi mati lampu itu masih mentradisi. Wueleh weleh.

Bila dulu listrik masuk ke kampungku “dibawa” oleh para caleg partai penguasa yang semuanya adalah para tetua dan tokoh kampung yang seumur atau lebih tua dari bapak ku. Kini para Caleg dan Aleg nya adalah mereka yang segenerasi denganku, termasuk teman sekelas hingga “isi rumah” sendiri. Tapi sepertinya issue “mati lampu” terlalu receh untuk menjadi topik obrolan apalagi untuk ditawarkan, mungkin karena masalah itu memang ngeri ngeri sedap atau memang tak ada sedapnya sama sekali. Uentahlah. 

Yang pasti nih ye, ketika listrik padam, bukan orang kere dan rakyat jelata yang mungkin terlalu takut bersuara saja yang kena dampaknya tapi mereka yang terpilih menjadi pelindung, pengayom, wakil, hingga  tokoh dan pemimpin masyarakat pun terkena dampaknya, jadi jangan bilang isu itu tak tertangani atau belum sempat ditangai atau belum sempat ditindaklanjuti karena mereka yang selayak tahu belum mengetahui hal itu selama belasan tahun adalah sesuatu yang teramat mustahil. Atau mungkin sudah sama sama tahu jadi memutuskan mari sama sama nrimo dan nikmati saja. Wallohua’lam.