Friday, September 16, 2016

Tanya Tanpa Tanda ?

QS 56 ; 27-29

Adakalanya atau bahkan seringkali "kecuali" terkonotasi sebagai "Oknum" meskipun untuk sebuah keniscayaan permanen. Dua hal yang sama sekali tak sama.

Seperti halnya "orang baik" yang hanya tersisa dan terselip satu dari sejuta, apakah akan disebut sebagai "oknum orang baik"

Seperti hal nya helai daun yang bila tiba masanya akan tua, menguning, lunglai, lepas dari tangkainya dan jatuh ke bumi. Namun demikian / akan tetapi nyatanya daun pisang menolak untuk jatuh, meski telah kering kerontang. akankah kau kan menyebutnya "oknum" daun. . .

Ah. . . mungkin "si takdir" tak memberikan pencerahan tentang dirinya ... . . atau ego yang bahkan terlalu dominan diantara nalar.... . .

. . . Bagaimanapun, tetaplah jadi orang baik, meskipun kau bingung dengan tulisan ini. . .


Friday, June 10, 2016

Legenda MUHAMMAD ALI dari SDN 1 Gelumbang

Amerika itu jaraknya ribuan kilometer dari gedung sekolah di kampung kami ini, tapi rasanya waktu itu si Muhammad Ali jagoan tinju itu adalah orang Mari, hanya karena namanya MUHAMMAD ALI.

Dulu waktu masih sekolah di SD dikampung halaman, beberapa kali kegiatan belajar mengajar dihentikan. Kepala sekolah membawa semua murid berjalan kaki dengan tertib menuju ke halaman kantor kecamatan. Untuk Upacara ? ternyata bukan. Tapi untuk nonton siaran langsung pertandingan tinju Muhammad Ali dari pesawat televisi satu satunya di ada di seluruh wilayah Marga Gelumbang yang kala itu masih dipimpin oleh seorang Pasirah.

Saya sendiri masih terlalu kecil waktu itu untuk mengingat siapa yang menjadi lawan tanding sang legenda kala itu, yang pasti saat itu bahkan sama sekali tak terpikir bahwa Muhammad Ali itu adalah orang Amerika. Namanya saja Muhammad Ali, dia pastinya orang Indonesia suku melayu yang jago tinju dan juara dunia, begitu pikiran bocah ku kala itu.

Tak sampai disitu lho Bro dan Sis. Ketika menjelang lulus SD, murid murid sekolah disuruh oleh pak dan bu Guru untuk belajar ber-tanda tangan, karena nanti setelah lulus akan dapat ijazah dan ijazahnya harus ditandatangani oleh masing masing murid yang lulus. Akupun ikutan sibuk belajar bikin tanda tangan.

Sekian belas tahun kemudian aku baru menyadari sesuatu. Tanda tanganku yang lebih mirip coret coretan tak jelas itu, ketika dicermati dengan baik ternyata dapat dibaca dengan jelas membentuk sebuah nama dan nama itu bukanlah namaku, tapi nama MUHAMMAD ALI.

Ah, Sang legenda itu hari ini telah pergi, akan tetapi sepertinya aku akan mengingatnya dan mengingat dua nama yang ada di dua patah kata itu setiap kali bertanda tangan resmi.


Selamat jalan Muhammad Ali. 

Thursday, April 21, 2016

Bukan Sajadah Sakti


Pagi itu halaman Masjid Jami’ Babussalam sudah penuh sesak. ruang kosong yang tersisa hanya di aspal perempatan ruas jalan lintas tengah sumatera yang membentang melintasi kampungku di depan masjid. Suara takbir membahana di hari kemenangan 1 syawal 1436H. Sambil takbiran mau tak mau aku juga sibuk menjaga jagoan kecil ku yang baru dua tahun dan beberapa keponakan kecil yang ‘ngintil’ denganku gg mau ikut dengan bapaknya.  sementara di emperan pertokoan yang tutup pagi itu banyak anak anak muda dan orang dewasa yang malah nongkrong disana meski sudah berbaju koko dan bawa sajadah.

ketika waktunya shola ied tiba, tidak ada reaksi dari mereka yang sejak tadi hanya nongkrong di emperan toko untuk bersiap siap untuk sholat. Keponakan keponakan kecilku malah kisruh rebutan sajadah, walahasil dua sajadah yang kubawa juga mereka pakai. apa boleh buat aku sholat di atas aspal tanpa sajadah sementara si kecil disebelah ku tetap saja sibuk dengan mobil mainannya. Entah di takbir yang keberapa, seseorang datang dan membentangkan sajadah di depanku dan di depan putra kecilku.

Ketika salam, shola ied usai. anak ku sudah tidak ada lagi disebelahku. sudah pindah bersama mainannya, cuek santai njelepok di tengah jalan beraspal main mobilan, ditemani (lebih tepatnya dijagain) oleh dua anak muda berbaju koko, sejurus kemudian anakku lari lari ke menghampiriku. Sementara beberapa anak muda yang lainnya (yg tadinya nongkrong di emperan toko) mulai sibuk mengatur lalu lintas di ruas jalan yang tadi ternyata di tutup sementara selama sholat ied berlangsung karena jamaah yang berjubel hingga memenuhi jalan raya termasuk aku, keponakan2 ku dan putra kecilku.

Khutbah Iedul Fitri usai, kini aku yang clingak clinguk untuk mengembalikan sajadah, siapa gerangan orangnya yang tadi membentangkannya di depanku saat sholat tadi ? masa iya sajadahnya tiba tiba nongol dan nge-gelar sendiri di depanku. Salah satu dari anak anak muda itu yang kemudian menghampiriku. “Punyo aku kak” begitu katanya. Wajah yang sama sekali tak kukenal, mungkin dia kenal aku ? Entahlah, yang pasti setelah itu setengah jam lebih aku sengaja berdiri di prapatan jalan (sambil menggendong anakku) di depan masjid diantara sebegitu banyak Jemaah yang lalu lalang. Hanya segelintir saja dari mereka yang kukenal dan mengenaliku.

Tampaknya kampungku yang dulunya sunyi sepi dan se isi kampung ku kenal satu persatu dan merekapun mengenalku kini sudah jadi milik orang lain . Hanya saja. Tak perlu kenal untuk membantu dan kadang kadangkala bantuan atau pertolongan itu memang datangnya di detik detik terahir. *** 


Tuesday, April 19, 2016

Siapakah Kian Santang (Bagian ahir)

Indahnya bentang alam Garut dipandang dari Karangpawitan, daerah yang diyakini sebagai makam nya Syech Rohmat Suci alias Kian Santang.

Apakah Kian Santang adalah Dongengan Pangeran Cakrabuana?

Teori atau pendapat lain bahkan menyebutkan bahwa sesungguhnya sosok Kian Santang itu tidak pernah ada. Kisah Kian Santang sendiri adalah sebuah kisah karangan yang dituturkan oleh Pangeran Cakrabuana dalam dakwahnya dengan metoda berdakwah melalui cerita atau mendongeng. Bahwa kisah Kian Santang yang dituturkan itu diambil dari salah satu buku yang tersimpan di perpustakaan kerajaan Pajajaran. Pangeran Cakrabuana memetik kisah itu menjadi bahan dakwahnya karena memiliki alur cerita yang mirip dengan perjalanan hidupnya sendiri.

Konon, buku tersebut mengisahkan tentang Pangeran Gagak Lumayung putra mahkota kerajaan Tarumanegara, anak dari Prabu Purnawarman, di sekitar tahun 450 masehi. Nama Ki An San Tang (Sang Penakluk Bangsa Tan) merupakan gelar kehormatan bagi Gagak Lumayung yang berhasil mengalahkan pasukan bangsa Tan yang kala itu menyerbu ke Taruma Negara. Dan menurut pendapat ini, sosok Kian Santang yang selama ini kisahnya dituturkan adalah sosok pangeran Gagak Lumayung tersebut. Pendapat ini agak sulit untuk diterima karena Pangeran Gagak Lumayung yang dimaksud justru hidup di masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Sehingga dengan sendirinya pendapat yang menyatakan bahwa Kian Santang Adalah cerita dongeng yang dituturkan oleh Pengeran Cakrabuana dari Kisah perjalanan Ki An San Tan alias Gagak Lumayung dari era Tarumanegara, gugur dengan sendirinya.

Kian Santang Bertarung dengan Ayahnya Sendiri?

“Adu kesaktian” dengan berbagai alur cerita antara Kian Santang melawan ayahnya sendiri (Prabu Siliwangi) sangat melekat dengan sosok Kian Santang, dan ahir dari ‘pertarungan’ itu adalah sebuah gua di Leuweung (Hutan) Sancang (di Pameungpeuk, Kabupaten Garut).  Ada banyak versi tentang ahir dari bagian ini, namun memiliki garis merah yang sama yakni; Prabu Siliwangi “Moksa” di Leuweung Sancang.

Bila saja kisah tersebut, benar adanya. Itu bermakna Prabu Siliwangi moksa dua kali. Karena kemudian ada kisah tutur yang menyebutkan bahwa moksanya Prabu Siliwangi karena ke-engganannya mengikuti ajakan Syarif Hidayatullah untuk (Kembali) ber-Islam. Antara usia Kian Santang dan Syarif Hidayat (antara paman dan keponakan) terpaut dua puluhan tahunan, atau dalam bahasa sederhananya pada saat Syarif Hidayat baru lahir di tanah arab, Kian Santang sudah sakti di tanah Jawa.

Bila Prabu Siliwangi sudah di “moksa’ kan oleh Kian Santang di Leweung Sancang dan sudah tidak lagi hidup di alam dunia ini dan juga sudah tidak lagi menjadi Raja Pajajaran, bukankah mustahil sosok yang sama kemudian berhadapan dengan Syarif Hidayatullah lalu “moksa” demi menghindari pertarungan dengan cucunya sendiri.

Dalam artikel sebelumnya tentang Prabu Siliwangi, telah dijabarkan bahwa Prabu Siliwangi wafat secara wajar dan kemudian tahta Pajajaran diteruskan oleh Putra Mahkota, Prabu Surawisesa. Beliau yang kemudian menulis sebuah prasasti di tahun ke 12 sejak kematian ayahandanya. Prasati yang dikemudian hari dikenal sebagai Prasasti Batu Tulis. Pembuatan prasasti tersebut dilakukan di masa damai setelah ditandatanganinya perjanjian tapal batas dengan Kesultanan Cirebon, saat itu Pajajaran juga sudah kehilangan wilayah Banten dan Sunda Kelapa yang dikuasai Kesultanan Cirebon.

Maknanya bahwa, Baik Kian Santang maupun keponakannya (Syarif Hidayatullah), tidak pernah bertarung atau adu kesaktian dengan Prabu Siliwangi dalam upaya meng-islam-kan ataupun dalam upaya mengajak Prabu Siliwangi untuk kembali ke jalan Islam, dan berujung kepada moksa nya Sang Prabu dari alam dunia.

Manakala cinta berahir duka

Menilik tiga pernikahan Prabu Siliwangi, kita akan mendapati kenyataan bahwa dua dari pernikahan beliau memiliki nuansa politik yang kental. Pernikahannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda memberikan beliau legalitas sebagai pewaris kerajaan Sunda dari Prabu Susuktunggal. Kemudian pernikahannya dengan Ambet Kasih yang tak lain adalah putri dari Ki Gde Sindangkasih penguasa Sindangkasih (Majalengka), daerah yang “tak jauh dari” atau malah merupakan “ibukota” kerajaan Galuh yang membuka ruang baginya untuk memuluskan kekuasaan dari ayahandanya, Prabu Dewa Niskala.

Sedangkan perjumpaan beliau dengan Subang Larang, merupakan perjumpaan tanpa sengaja di ‘pesantren’ Syech Quro, yang justru terjadi dalam tugas beliau untuk membumihanguskan pondok Quro, tapi malah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Subang Larang. Kekuatan apa yang mampu membuat pewaris tahta dua kerajaan sekaligus, mampu mengubah haluan hidupnya, selain kekuatan cinta.

Cinta nya kepada Subang Larang yang kemudian membawa beliau kepada Islam, demi memenuhi syarat yang diajukan oleh Subang Larang untuk menerima pinangan Prabu Siliwangi. Berislamnya Sang Prabu tidak diikuti dengan berislamnya Pajajaran secara keseluruhan kala itu, mengingat bahwa pernikahan terjadi pada saat Sang Prabu masih berstatus sebagai “putra mahkota”, dan kemungkinan akan menyulitkkan posisinya untuk menyatukan kembali dua kerajaan yang terpisah apabila terang terangan menyatakan keyakinannya yang sudah berbeda dengan khalayak ramai kala itu termasuk berbeda dengan anggota keluarga keraton Pajajaran lainnya.

Dari fakta sejarah tidak pernah ada serbuan dari pusat kerajaan Pajajaran ke daerah Cirebon meskipun saat itu Islam sudah berkembang pesat di masa Pangeran Cakrabuana berkuasa disana sebagai bawahan Pajajaran, bukahkah Prabu Siliwangi sendiri yang datang ke Cirebon dan mengesahkan Pangeran Cakrabuana, putra tertuanya dari Subang Larang sebagai penguasa Cirebon sebagai kerajaan bawahan Pajajaran. Sangat nyata bahwa beliau melakukan pembiaran bagi berkembangnya Islam di kerajaannya sendiri.

Suasana berubah drastis ketika Subang Larang wafat, Sang Prabu tenggelam dalam duka mendalam dan berkepanjangan, membuat beliau kehilangan sosok yang senantiasa mengingatkan beliau pada nilai nilai Islam, sedangkan dua anaknya (Cakrabuana dan Rara Santang) sudah tidak tinggal di Kraton Pajajaran. Hanya putra ke tiganya dari Subang Larang yakni Kian Santang yang masih tinggal di kraton Pajajaran. Maka wajar bila kemudian berkembang kisah tutur tentang pertarungan antara Kian Santang dengan ayahnya dalam upaya mengislamkan (kembali) sang Ayah. Yang paling mungkin terjadi adalah, Kian Santang memang berusaha ‘menasihati’ ayahandanya untuk tidak berlarut larut dalam kesedihan dan kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya. Namun tentu saja tanpa sebuah pertarungan adu kesaktian dua pendekar pilih tanding sebagaimana yang sering disampaikan secara tutur tinular.

Apakah Kian Santang Pergi Meninggalkan Tahta ?

Prasasti Banten mengindikasikan bahwa Prabu Siliwangi wafat dan dimakamkan di Rancamaya, bukan moksa di suatu tempat. Bila beliau moksa tentunya tidak akan ada prosesi pemakaman dan dua belas tahun kemudian makamnya di bongkar oleh Prabu Surawisesa untuk diperabukan bersamaan dengan pembuatan prasasti yang kini dikenal dengan prasasti Batu Tulis.

Kehilangan Ibunda sekaligus kehilangan ayahanda tercinta dan bukan pula sebagai pewaris utama tahta kerajaan tentunya cukup alasan bagi Kian Santang untuk hijrah kemanapun yang beliau inginkan. Sedangkan untuk berdakwah dilingkungan keraton yang masih kental dengan ajaran sebelumnya, termasuk juga masih dianut oleh Penerus Raja yang tak lain adalah Kakaknya sendiri meski berbeda ibu, hanya akan menimbulkan pertentangan dan pertikaian yang tidak semestinya terjadi.

Dapat difahami bila kemudian Kian Santang memilih untuk berdakwah di pedalaman Pajajaran, tidak pula di wilayah Cirebon yang sudah ditangani oleh kakaknya dan dikemudian hari dilanjutkan oleh Syarif Hidayatullah yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Dan sebagai putra raja wajar pula bila beliau melakukan perjalanan ditemani oleh pengawal dan orang orang kepercayaan dengan bekal yang cukup pula untuk memulai sebuah kehidupan baru. Seberapapun perbedaan pandangan hidup antara Kian Santang dengan Surawisesa namun bagaimanapun mereka adalah saudara seayah. Surawisesa selaku penerus tahta tidak mungkin membiarkan adiknya pergi begitu saja meninggalkan istana tanpa bekal apapun.

Dikemudian hari beliau dikenal dengan nama Sunan Rohmat dan diyakini wafat dan dikebumikan di tempat terahir beliau berdakwah, di suatu tempat di Garut yang kini dikenal dengan nama Makam Godog di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. tidak hanya beliau yang bermakam disana tapi juga beberapa pengikut atau pengiring atau pengawal beliau. Komplek pemakaman yang ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru tanah air.

Penutup

Kisah tutur yang berkembang di masyarakat mengalir secara turun temurun, meski sulit untuk dibuktikan validitasnya namun pastinya ada pelajaran pelajaran berharga yang dapat dipetik. Terlepas dari segala perbedaan pendapat tentang tokoh tokoh masa lalu, namun satu hal yang pasti bahwa mereka telah memperkenalkan ataupun menghadirkan Islam ke Nusantara. Kita yang hidup di masa kini selayaknya meneruskan apa yang telah mereka rintis, untuk melanjutkan ataupun menyempurnakan dakwah yang sudah mereka mulai, dengan kemampuan dan kapasitas masing masing. Mohon maaf bila dirasa ada yang kurang berkenan.****

------------------------------

Baca Juga



Sunday, April 17, 2016

Apakah Kian Santang adalah Pangeran Cakrabuana ?


Rekaan Kian Santang dalam Sinetron
Sejarah Cirebon nyaris tak menyinggung dan mengisahkan Kian Santang. Meski dua tokoh utama dalam sejarah berdirinya kesultanan Cirebon adalah Anak anak Prabu Siliwangi dari Subang Larang. Mereka adalah Pangeran Cakrabuana dan Putri Rara Santang. Bisa jadi hal ini yang kemudian memunculkan dugaan atau teori yang menganggap bahwa Kian Santang sesungguhnya adalah Pangeran Cakrabuana sendiri.

Ayah dan Bunda biasanya hanya akan mengizinkan anak anaknya meninggalkan rumah untuk melanjutkan pembelajaran setelah mencapai usia dewasa. Perjalanan Pangeran Cakrabuana sampai ahirnya tinggal bersama kakeknya di Cirebon pun pada awalnya dijalani sendirian sampai kemudian adik perempuannya, Rara Santang menyusulnya. Cukup masuk akal bila saat itu Kian Santang yang masih belum mencapai usia dewasa tidak pergi bersama dua kakaknya, tapi masih tinggal di keraton Pajajaran bersama orang tuanya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Raden Kian Santang adalah Pangeran Cakrabuana. Bilalah demikian adanya maka yang memulai berdirinya kesultanan Cirebon adalah Kian Santang, termasuk yang mendirikan kraton Pakungwati, lalu menikahkan putrinya dengan Syarif Hidatullah. Dan tentu saja berarti Kian Santang adalah juga mertua Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati ?.

Pernyataan itu sama sekali bertolak belakang dengan sejarah kesultanan cirebon. Cikal bakal kesultanan Cirebon dimulai oleh Pangeran Cakrabuana yang ditunjuk oleh ayahnya sendiri (Prabu Siliwangi) untuk menjadi penguasa disana sebagai bagian dari Pajajaran.  Bermodalkan harta dari Kakeknya dari pihak Ibu beliau membangun kraton Pakungwati yang namanya diambil dari nama putrinya.

Pangeran Cakrabuana ke tanah arab bersama adik perempuannya (Rara Santang) tinggal di kediaman kerabat dari kakek-nya. Melaksanakan ibadah haji dan menetap cukup lama disana untuk belajar Islam, baru kemudian pulang ke tanah Jawa tanpa ditemani oleh Rara Santang yang sudah menikah di tanah Arab.

Intinya adalah bahwa Pangeran Cakrabuana berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, menyempurnakan rukun Islam yang lima, maknanya beliau sudah muslim sebelum berangkat ke Arab. Beliau sudah “nyantri” di Cirebon memahami ajaran Islam cukup lama sebelum kemudian berangkat ke tanah suci. Tentang sejarah Islam di Cirebon Anda bisa menelusur lebih jauh tentang Syech Datuk Kahfi atau varian nama lainnya.

Bandingkan dengan sejarah Kian Santang yang mainstream menyebutkan bahwa beliau berangkat ke tanah Arab untuk menemukan lawan tanding yang mampu mengalahkannya, yakni orang yang bernama “Sayidina Ali”. Sampai kemudian memeluk agama Islam, Maknanya bahwa, berdasarkan kisah tutur tersebut, Kian Santang berangkat ke tanah Arab sebelum menjadi muslim. disebutkan bahwa beliau justru mulai memeluk Islam di tanah Arab setelah kalah telak kesaktiannya dengan orang yang dikenal dengan nama “Sayidina Ali”.

Kian Santang kembali ke tanah air berusaha meng-Islamkan ayahandanya namun gagal dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar dalam kurun waktu yang cukup lama. Setelah cukup menimba ilmu di tanah suci beliau kembali ke Pajajaran, melanjutkan upaya meng-islamkan ayahandanya.

Sedangkan Pangeran Cakrabuana kembali ke tanah Jawa dari tanah arab, melanjutkan pengembangan dakwah, membuka wilayah baru, membangun kraton, menjalankan roda pemerintahan di wilayah yang kini disebut Cirebon, sebagai bagian dari kerajaan Pajajaran. Cirebon merupakan salah satu gerbang laut utama bagi Kerajaan Pajajaran selain Banten dan Sunda Kelapa. Dari alur cerita tutur yang beredar pun sangat jelas bahwa Kian Santang dan Pangeran Cakrabuana adalah dua sosok yang berbeda.***

---------------------

Baca Juga


Tuesday, April 12, 2016

Siapakah Raden Kian Santang ?

MAKAM GODOG. Pintu gerbang menuju ke bangunan makam Sunan Rohmat Suci alias Kian Santang di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Raden Kian Santang, salah satu nama yang begitu melegenda dan lekat di ingatan urang Sunda. kisahnya dituturukan dari generasi ke generasi berikutnya, bahkan pernah menjadi tayangan sinetron pavorit di salah satu televisi swasta nasional. Tak sulit bagi anda untuk menemukan sejarah perjalanan beliau di dunia maya. sudah ada begitu banyak artikel yang membahas topik tersebut dengan berbagai versi dan kajian masing masing. semakin jauh anda menelusur, akan semakin menemukan perbedaan pandangan antara satu sumber dengan sumber lainnya, termasuk tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan tokoh “Kian Santang” tersebut. Dari sekian banyak tulisan dan sumber mengenai tokoh ini, berikut saya rangkumkan untuk anda.

Siapakah Sebenarnya Raden Kian Santang

Semua penulis, penelusur dan penutur sejarah sependapat bahwa Kian Santang adalah seorang Pangeran atau Raden atau Bangsawan, putra dari Prabu Siliwangi, dari Kerajaan Pajajaran. Lebih dari hal itu ada banyak perbedaan pendapat. Sama seperti halnya dengan ayahandanya sendiri Prabu Siliwangi yang kisah hidupnya menjadi perbincangan banyak orang dengan berbagai versi dan pendapat masing masing.

Putra Bungsu Prabu Siliwangi dan Subang Larang

Telah disinggung dalam tulisan sebelumnya tentang Siapakah Sebenarnya Prabu Siliwangi, bahwasanya, Prabu Siliwangi atau Pangeran Jayadewata atau Sri Baduga Mahara memilki tiga Istri. Istri pertamanya adalah Ambet Kasih (putri dari Ki Gde Sindang Kasih), Lalu Subang Larang (putri dari Ki Gde Ing Tapang, penguasa Singapura (Cirebon saat ini) dan Kentring Manik Mayang Sunda. Dari Subang Larang lahir Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang, Putri Lara Santang dan Kian Santang.

Kentring Manik Mayang Sunda adalah putri dari Prabu Susuktunggal yang tak lain adalah putri pamannya sendiri yang juga Raja Kerajaan Sunda (Pakuan), Pernikahan tersebut sekaligus menjadikan Prabu Siliwangi sebagai pewaris Kerajaan Sunda dari pamannya, dan membuka jalan bagi penyatuan kembali kedua kerajaan (Galuh dan Kerajaan Sunda) menjadi kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan, sekaligus menjadikan Prabu Siliwangi sebagai Maharaja. Lalu siapa yang menjadi Permaisurinya ?.

MENDAKI ANAK TANGGA Jejeran anak tangga menuju ke Makam Sunan Rohmat Suci atau Kian Santang di kabupaten Garut - Jawa Barat

Apakah Kian Santang (pernah menjadi) Raja Pajajaran ?

Catatan sejarah menyebutkan bahwa penerus tahta Pajajaran sepeninggal Prabu Siliwangi adalah Surawisesa putra Prabu Siliwangi (dari istrinya yang bernama Kentring Manik Mayang Sunda). Sehingga dapat dipastikan bahwa dalam hirarki kerajaan Pajajaran yang berhak untuk menjadi putra Mahkota adalah seorang putra yang lahir dari Kentring Manik Mayang Sunda selaku Pewaris kerajaan Sunda (Pakuan), dan dengan sendirinya kita dapat fahami bahwa yang menjadi permaisuri prabu siliwangi adalah Kentring Manik Mayang Sunda.

Permaisuri yang dimaksud disini adalah Permaisuri utama atau (salah satu) istri raja yang memiliki hak khusus sehingga anak laki laki yang dilahirkannya berhak mutlak sebagai pewaris tahta kerajaan alias menjadi putra mahkota. Seperti yang kita ketahui, bahwa para raja (biasanya) memiliki lebih dari satu orang istri, sehingga diperlukan ketetapan menunjuk atau memilih atau menentukan salah satunya sebagai permaisuri dengan berbagai pertimbangan, untuk menghindari terjadinya ketidakpastian tentang pewaris tahta kerajaan yang berujung kepada perebutan tahta diantara keturunannya.

Dengan beberapa keterangan tersebut di atas dapat dipastikan bahwa Kian Santang memang putra Prabu Siliwangi akan tetapi bukan pewaris tahta kerajaan Pajajaran atau lebih tepatnya, bukan pewaris utama / pertama / perdana dari tahta kerajaan Pajajaran. Jadi ?, Kian Santang tidak masuk dalam jajaran tokoh yang pernah menjadi raja Pajajaran.

Pe-nokohan atau anggapan atau asumsi bahwa Kian Santang pernah menjadi Raja Pajajaran lalu mandeg pandito ratu atau sengaja meninggalkan tahta untuk tujuan lain termasuk untuk uzlah atau dakwah dan sebagainya bisa jadi sebagai akibat bias sejarah lisan antara tokoh Kian Santang dan Borosngora.

Tahta kerajaan Pajajaran memang pernah sementara waktu dipegang oleh Pangeran Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora atau Prabu Kuda Lalean atau Batara Guru di Jampang, sepeninggal Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di perang Bubad. Beliau memegang tampuk pimpinan kerajaan dikarenakan Pangeran Niskala Wastu Kencana selaku putra mahkota, ketika itu masih kanak kanak. Tahta Kerajaan diserahkan secara sukarela oleh Prabu Borosngora kepada Pangeran Niskala Wastu Kencana ketika sang pangeran telah mencapai usia dewasa.

RINDANG. Suasana di komplek makam godog tampak rindang, hijau royo royo dengan pepohonan tua da besar. Ditambah lagi dengan udara pegunungan yang sejuk di ketinggian sekitar 1100 meter dari permukaan laut.

Apakah Kian Santang adalah Penyebar Islam ?

Pendapat ini memanglah menjadi arus utama para penutur sejarah Pajajaran. Bahwasanya Kian Santang adalah seorang penyebar Islam. Hanya saja memang sejarah perjalanan Beliau menemukan Islam, yang terdapat kesimpangsiuran atau perbedaan alur cerita antara cerita tutur yang satu dengan lainnya. Arus utama hikayat hidup beliau menyebutkan bahwa, Kian Santang memiliki kesaktian luar biasa sehingga tidak ada yang mampu menandinginya, sampai sampai beliau sangat ingin melihat darahnya sendiri (tertumpah karena berhasil dilukai oleh lawan tarungnya). Kemudian seseorang datang memberikan informasi bahwa yang mampu mengalahkan beliau adalah orang Arab yang bernama Sayidina Ali.

Singkat cerita beliau ahirnya berangkat ke tanah arab, dipelabuhan di tanah arab beliau bertemu dengan orang tua bertongkat yang siap mempertemukannya dengan Sayidina Ali. Kemudian sang pangeran di minta mencabut tongkat si orang tua yang ditancapkan di pasir pantai. Kian Santang gagal mencabut tongkat itu meski sudah mengerahkan seluruh kemampuannya. sejurus kemudian Kian Santang menyerah, si orang tua dengan mudah nya mencabut tongkat tersebut hanya dengan mengucapkan kalimat Basmalah. dan Itulah yang menjadi awal ber-Islam nya Kian Santang. Detil ceritanya memiliki beragam versi hanya saja inti-nya adalah seperti demikian.

Kisah pertemuan dengan Sayidina Ali tersebut, memiliki kesamaan alur cerita dengan perjalanan Prabu Borosngora, meskipun antara Kian Santang dan Prabu Borosngora Terpisah 4 generasi (Perhatikan silsilah raja Pajajaran). Bila saja yang dimaksud sebagai Sayidina Ali tersebut adalah Khalifah Ali Bin Abi Thalib yang juga saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad s.a.w, maka menjadi lebih rumit lagi, karena baik Kian Santang maupun Prabu Borosngora yang hidup empat generasi lebih dulu dari Kian Santang, sama sama tidak hidup di zaman yang sama dengan Sayidina Ali.

DARI BUBAT HINGGA KIAN SANTANG. ada kemiripan kisah perjalanan antara prabu BOROSNGORA yang naik tahta sebagai raja sementara setelah Prabu Lingga Buana Wafat di Bubat, dengan KIAN SANTANG yang merupakan Adik beda ibu dengan prabu SURAWISESA. Dua tokoh yang terpisah empat generasi dengan alur cerita yang nyaris sama. 

Khalifah Ali Bin Abi Thalib telah wafat sekitar tahun 661 Masehi (tepatnya tanggal 17 atau 19 Romadhon tahun ke 40 hijriah). Sedangkan Prabu Borosngora sendiri baru memegang (sementara) tahta Pajajaran menggantikan Kakaknya yang gugur di medan perang Bubat pada tahun 1357 masehi. lalu apa yang salah dengan kisah sejarah tutur tersebut ?. Kisah tutur dari Ciamis menyebutkan bahwa Prabu Borosngora bahkan menerima oleh oleh berupa sebilah pedang dari Sayidina Ali dan pedang tersebut masih ada hingga kini. Demikian juga dengan Kian Santang.

Bila didasarkan pada urutan waktu kejadian, Pastinya Sayidina Ali yang dimaksudkan bukanlah Sayudina Ali Bin Abi Thalib Khalifah ke-4 dari Khulafaurrasyidin. Baik dari Masa Borosngora sampai masanya Kian Santang, Pusat ke khalifahan Islam bahkan sudah berpindah ke Khalifah Usmaniyah (Otoman) di Turki bukan lagi di Jazirah Arab. Namun demikian hal yang demikian itu bukanlah hal yang tidak mungkin menurut para praktisi kebathinan. 

Menelusur lebih jauh ke belakang, telah disinggung sebelumnya bahwa Kian Santang adalah putra bungsu Prabu Siliwangi dari istrinya yang bernama Subang Larang anak dari Ki Gde Ing Tapang, Syah Bandar Singapura (kini Cirebon). Dalam sejarah berdirinya Masjid Agung Karawang, disebutkan bahwa Subang Larang adalah salah satu murid (santriwati) dari Syech Hasanuddin alias Syech Quro di pondok Quro Karawang. Pernikahan antara Prabu Siliwangi dengan Subang Larang terjadi setelah Sang Prabu memenuhi persyaratan yang diminta oleh Subang Larang, salah satunya adalah beliau (Prabu Siliwangi) harus ber-Islam.

Ditilik dari sejarah tersebut dapat kita fahami bagaimana sulitnya Subang Larang membesarkan anak anak nya secara Islami ditengah kehidupan kraton dan kerajaan yang masih menganut Sunda Wiwitan. Wajar bila kemudian beliau mengirim anak anak nya ke rumah orang tuanya di Cirebon untuk mendapatkan pendidikan Islam di suasana yang lebih Islami. Islam sudah berkembang dengan baik di Cirebon ketika itu. Artinya bahwa, ketiga anak Prabu Siliwangi dari Subang Larang memang sudah berislam sejak masih dalam kandungan karena memang dilahirkan dari Rahim seorang ibu muslimah dari pernikahan yang juga dilaksanakan secara Islam. Tidak terlalu aneh bila setelah dewasa anak anak Subang Larang menjadi tokoh penyebar Islam di wilayah yang mereka pun memiliki hak atas nya.***

Bersambung  

------------------------------

Baca Juga


Tuesday, February 16, 2016

PUAN, NYONYA atau SUSU

Bila di Malaysia dan di tanah melayu lainnya, kata PUAN bermakna Nyonya akan tetapi di Palembang dan sekitarnya kata PUAN justru bermakna SUSU. Entahlah bagaimana ceritanya sehingga begitu jadinya. Anda tahu kan, bahwa Malaka itu didirikan oleh Prameswara yang asli orang Palembang, bila sajalah kata PUAN sudah bermakna SUSU sejak dahulu kala sebelum Malaka berdiri sepertinya Prameswara akan cengar cengir sendirian mendengar hulubalangnya berpidato “Tuan Tuan dan Puan Puan …..” yang ditelinga orang Palembang menjadi “Tuan Tuan dan Susu Susu…”

Di Palembang terkenal panganan tradisional yang bernama Gulo PUAN alias gula susu, panganan yang rasa muanisnya poll karena memang terdiri dari campuran gula dan susu. Tapi jangan sekali kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu ya, karena anda toh akan cengar cengir sendiri menikmati panganan yang mendadak menjadi Gula Nyonya.

Hadeuh, Atawa mungkin di jaman dulu sebenarnya di Palembang pun tidak kenal kata PUAN, tapi justru panganan Gulo Puan tadi itu biang masalahnya. Mungkin jaman dulu yang pertama kali jualan panganan itu Nyonya Melayu yang dipanggil PUAN oleh para tetangga nya yang sesama perantau dari semenanjung, sehingga para pembelinya ikutan menyebut dagangannya itu dengan sebutan Gulo PUAN ?. Bisa jadi sih. ya bisa dong, anda juga pastinya tahu bahwa nama’ Pelembang’ itu juga bermakna ‘Kota Tua’.

Penjelajah Cina menyebut Palembang di catatan mereka dengan nama Palimpong alias Kota Tua, mewakili karakter kota yang mereka kunjungi itu yang peradabannya sudah begitu maju, tempat berbaurnya berbagai suku dan bangsa dunia hidup bersama di satu kota dagang yang begitu ramai dan dipastikan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membentuk peradaban seperti itu. Jadi ?. Ya masuk akal dong bila waktu itu ada perantau dari semenanjung (malaya) yang berdagang susu di Palembang. Lagipula produk susu itu dari dulu sampai sekarang pun masih saja import dari luar negara, karena toh orang kita tak terbiasa ngangon sapi untuk susunya tapi untuk daging dan tenaganya.

Atauuuuw, jangan jangan justru PUAN memang bermakna Nyonya. Terpelesetnya susu menjadi PUAN justru karena merek dagang ?. atau tepatnya sih karena Logo Merek dagang ?. Bisa jadi begitu sih, sampai sekarang pun masih beredar dipasaran susu kaleng berlabel Cap Nona yang gambarnya mirip nyonya nyonya. Lah itu kan Tjap Nona bukan Tjap Nyonya. Santai ajalah, toh cuman beda di hurup Y nya doang, lagian kan sama sama perempuan, sama sama ada kata PUAN nya.  Heheh ***