Sunday, July 28, 2013

Salam, Apa Pentingnya Sih ?









Assalamualaikum wr wb.

Ada yang tahu pasti kepada siapa kita tujukan salam kita ke kanan dan ke kiri di penghujung setiap sholat kita ?, Tidak tahu ya !. tidak apa apa bila memang tidak tahu, karena saya hanya ingin mengingatkan bahwa “betapa kita pun memberi salam kepada yang kita tidak tahu” semestinya kita akan menebarkan salam kepada yang kita sudah tahu bahwa dia adalah tetangga kita, orang tua kita, guru kita, atasan kita, kolega kita, bawahan kita dan lain sebagainya.

Mengucapkan salam di penghujung setiap sholat kita itu merupakan rukun terahir sholat alias salah satu syarat mutlak syahnya sholat, begitu pentingnya salam sampai sampai sholatpun tidak syah tanpanya. Alangkah indahnya dunia ini bila sesama kita senantiasa saling mengucapkan salam. Dan salam itu merupakan doa, dengan menebar salam kita telah saling mendo’akan.

Salam ke kiri dan ke kanan itu kita lakukan setidaknya 5X sehari semalam, artinya 5X sehari semalam kita di ingatkan untuk senantiasa lihat kiri dan kanan, lihat sekitar kita. Bukankah baginda rosul pernah bersabda “bukan dari golonganku mereka yang tidur lelap di malam hari dengan perut penuh makanan sementara tetangganya kelaparan”, itu hanya bisa terjadi bila kita lupa untuk lihat ke kiri dan ke kanan, lupa untuk melihat sekitar kita.

Lebih jauh lagi, juga mengingatkan kita akan kepekaan sosial, mencegah tumbuh kembangnya sikap individualistis, hanya mementingkan kepentingan pribadi atau golongannya sendiri dan melupakan kewajiban untuk senantiasa melihat ke kiri dan ke kanan. Lupa untuk menimbang diri, jangan jangan orang lain terzolimi akibat ketidakpedulian kita, akibat ketidakpekaan kita.

Lima kali sehari kita di ingatkan bahwa kita adalah bagian dari mahluk sosial, mahluk yang tidak bisa hidup sendiri, bahwa kita adalah bagian dari sebuah komunitas masyarakat. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari masyarakat kita di hadapkan satu sunnatullah bahwa manusia itu beragam, tidak sama satu sama lainnya.

“Sesungguhnya telah Kuciptakan kalian sebagai lelaki dan perempuan dan Ku-jadikan kalian berbangsa- bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal (inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja‘alnakum syu‘uban wa qabaila li ta’arafu). Mahluk sosial tidak akan mengingkari adanya perbedaan, mengingkari perbedaan yang ada sama saja dengan menentang sunnatullah

“Berpeganglah pada tali Allah secara keseluruhan dan jangan terpecah belah (wa'tashimu bihablillah jami'an wa la tafarraqu).”

Lima kali sehari juga kita di ingatkan akan kesetaraan satu dengan yang lainnya. Saat kita salam ke kanan dan ke kiri kita dipaksa untuk melihat siapa yang ada disekitar kita. Dan semestinya kita sadar bahwa kita semua setara. Jangan lupa bahwa, siapapun anda, berapapun jumlah bintang di pundak anda tak ada bedanya dengan rakyat jelata, sama saja harga kening dan muka anda yang begitu terhormat itu dengan kening dan muka rakyat jelata, sama sama lebih rendah dari pantat saat bersujud padanya.

Lalu hal mana lagi yang ingin disombongkan ?. Salam ke kanan dan ke kiri di ahir setiap sholat kita mengingatkan kita untuk membuang jauh jauh sifat sombong, angkuh, gila kuasa, gila hormat, iri denki dan berbagai penyakit hati lainnya. Itupun bila mata kepala dan mata hati dipakai sebagaimana mestinya. Karena seperti selalu saja Allah mengingatkan dengan kalimat “bagi mereka yang mau berfikir”.

wassalamualaikum