Tuesday, July 23, 2013

Falsafah Duren


























Duren adalah buah yang sangat fenomenal, sebagian orang menyebutnya sebagai buah yang sangat lezat rasanya dan gurih, lembut, wangi lagi harum. Cukup tinggi nilai ekonomisnya, tinggi kadar kalorinya, bersih karena terlindung dalam kulit yang kokoh dan garang serta tentunya tidak selalu mudah untuk didapatkan.

Pecinta duren akan rela keliling pasar untuk mencari dan membelinya meskipun harus membayar mahal. Petani atau tepatnya pemilik kebun duren di Sumatera Selatan rela begadang sepanjang malam menunggu buah duren yang matang runtuh dari pohonnya karena memang pohonnya yang sebagian besar puluhan meter tingginya dari permukaan tanah. Mereka bahkan harus adu cepat dengan macan si raja hutan memperebutkan duren runtuh tersebut.

Pedagang duren tidak pernah takut dagangannya tidak laku karena duren tidak pernah lapuk, bila dalam sehari duren tak habis terjual mereka akan membuka kulitnya, mengambil dagingnya dan memasukkan-nya kedalam toples atau guci steril, memberinya sedikit garam dan, duren-pun berubah jadi lauk untuk makan siang yang disebut Tempoyak, orang Bangka menyebutnya Lempok. Tempoyak atau lempok harganya bahkan lebih mahal dari duren-nya sendiri.

Biji duren rasanya terasa nikmat setelah direbus dan dimakan sebagai teman main gapleh di pos ronda atau dibuat kolak bersama daging durennya, rasanya wah nikmat sekali. Kulit duren jangan dibuang begitu saja, bagi orang yang dirumahnya banyak di-diami kutu busuk kulit duren paling ampuh untuk mengusir kutu busuk atau tumbila dan sejenisnya yang suka bersarang di celah rajutan kasur. Cukup meletakkan kulit duren yang masih segar dibawah ranjang Insya Alloh binatang penghisap darah yang bikin benthol dan gathel itu akan pergi dengan sendirinya.

Pohon duren[1] yang sudah tua, tinggi dan besar-besar bila sudah tidak produktiv jangan dibiarkan merana dan mati sia-sia, panggil tukang gergaji lalu ditebang dan dijadikan bahan bangunan. Kayunya tergolong kayu merah dengan tingkat kepadatan sedikit lebih baik diatas kayu mahoni, kandungan airnya tidak terlalu tinggi karena pori-pori-nya yang kecil-kecil bahkan hanya seukuran 0.05 hingga 0.07 mm saja bahkan bisa lebih kecil lagi bila dibagian hati kayunya. Harga satu kubik kayu pohon duren cukup untuk mengganti satu hektar lahan kebun duren dengan tanaman tumpang sari sementara menunggu musim berbuah berikutnya.

Kecilnya pori-pori pohon duren menyebabkan ia cukup tahan terhadap serangan rayap dan hama kayu yang biasanya menyelinap kedalam pori-pori kayu saat masih hidup ataupun sudah kering. Ukuran rayap belia atau masih bayi sekitar 0.07 hingga 0.1 mm saja, akan sangat sulit untuk masuk kedalam pori-porinya.[2] Kini kita tahu betapa ekonomisnya pohon duren dan properti-nya itu.

Tapi marilah kita lihat duren dari kacamata orang lain yang sudah terlanjur tidak suka pada buah hutan sumatera yang satu ini, dengan lancar dia menuturkan betap buruknya buah duren bagi dirinya !. D U R E N !!!, buah yang baunya menyengat hidung, menghilangkan selera makan, membuat perut mual mau muntah, jangankan menyantapnya, membawanya pun sudah sangat merepotkan apalagi membukanya salah-salah tangan akan tertusuk durinya. Dengan tanpa berdosa dia akan menuturkan betapa buruk nya buah duren, buah pembawa luka, bikin semua perabot dalam rumah tercemar oleh baunya, betapa sulit menghilangan aromanya dari pakaian. Belum lagi sangat repot membuang sampah kulitnya ditambah lagi harganya yang selangit, HUH benar-benar buah sial.

Bayangkan betapa sialnya kita bila tiba-tiba sampai tertimpa buahnya yang runtuh, sementara untuk memanjat pohonnya sangat tidak mungkin karena terlalu tinggi, ditambah lagi buahnya sebegitu jauh di ranting pohon, celakanya lagi dahan pohon duren sangat rapuh, beban impact-nya sangat rendah, gampang sekali patah dan roboh tertiup angin. Sangat berbahaya bila kita ada disana saat kejadian itu. Lalu apa sih bagusnya Duren ?. Bahkan bijinya lebih besar dari lapisan buahnya. Kayaknya kita hanya repot membeli setumpuk kulit bergigi tajam dan sekeranjang biji yang sama sekali tidak nikmat untuk disantap. Untuk apa sih repot repot membeli sampah semahal itu.

So, Duren ? No way !!!.

Untuk mereka yang tidak suka duren tawaran apapun yang diajukan menyangkut duren dia akan tetap bilang No Way, hanya bila duren berubah jadi duku atau semangka-lah yang akan membuatnya meninjau kembali sikapnya (Itupun bila dia suka duku atau semangka) tapi sebaliknya sejuta berita dan rumor tentang duren takkan membuat pecinta duren berhenti untuk menyantapnya dan menyebut duren sebagai buah ter-nikmat yang ada di bumi.

Memang sudah suratan, dibumi ini banyak sekali mahluk yang bernasib seperti duren, kadang kita dan orang-orang menyebutnya sebagai objektivitas menilai (duren) dan subjektivitas menikmati ketidaksetujuan padanya. Kita pun kadangkala terjebak dalam objectivitas yang subjectiv dalam memutuskan penilaian terhadap sesuatu. Pada ahirnya kita memang akan pernah mengalami nasib sebagai duren atau penilai duren. Walu memang tak pasti nyata dan tidak-nya.

“Adalah lebih baik bila kita tetap dapat menilai segala sesuatu dengan lebih bijaksana”