Wednesday, July 17, 2013

Edelweiss Apa Indahnya ?

Bunga Edelweis di Pondok Salada, Gunung Papandayan - Jawa Barat.
Dulu ketika pertama kali sampai di gunung papandayan dan pertama kali menemukan bunga yang disebut Edelweiss itu, expressi ku luar biasa takjub, bukan karena indahnya tapi justru karena tiada yang istimewa dari tampilanya. Hanya seonggok bunga kecil berwarna putih tanpa bau semerbak harum, tanpa kelopak yang luar biasa menarik dan tak memiliki secuil rupapun yang bisa menjadikannya sebagai setangkai bunga yang layak diperjuangkan.

Hanya aroma kesegaran yang terendus dengan nyata di hidung dan seliweran kumbang kumbang kecil yang singgah dari satu kumpulan bunga bunga mungil ini ke kumpulan bunga berikutnya. Aku sendiri bahkan sedikit kecewa dengan tampilannya ketika itu. Exiting yang menggebu pada awalnya untuk sekedar tahu seperti apa gerangan bunga yang menjadi perbincangan para “pujangga cinta picicisan” hingga “roman cinta beneran” itu, berahir biasa biasa saja. Pohonnya pun bukanlah pepohonan besar nan perkasa, tak lebih dari sekedar perdu di pegunungan. Lagipula mana ada pepohonan kekar nan menjulang di ketinggian sana. 

Namun seketika itu juga disadarkan oleh sebuah kesadaran bahwa tak perlu menjelma sebagai sesuatu yang luar biasa untuk menjadi luar biasa. Kebelakaan dan apa adanya dalam ketulusan dan kejujuran kadangkala justru menjadi sesuatu yang luar biasa.  Seperti halnya jujur yang seakan sudah menjadi bunga yang tak tumbuh di setiap kebun, pribadi yang berani jujur di jaman yang serba tak jujur ini mendadak menjadi pribadi yang biasa. Seperti pribadi yang berani tampil apa adanya tanpa rekayasa untuk polesan ke ja’iman untuk menjaga citra kesempurnaan diri pun akan menjelma menjadi sesuatu yang luar biasa di tengah dunia yang penuh dengan sandiwara dan rekayasa ini.

Letih jiwa kadang terobati ketika kita memberanikan diri untuk bersikap apa adanya dalam ketulusan dan kejujuran. Beramal shaleh pun terasa ringan ketika kita mengabaikan segala bentuk pencitraan untuk sekedar mendapatkan pujian dari sesama. Selembar seribu rupiah terkadang terasa berharga untuk disedekahkan ketika hati dipenuhi dengan sakwasangka, tapi seratus ribupun terasa ringan untuk disumbangkan ketika kita merendahkan hati dalam ketulusan tanpa pamrih untuk memberi dan meringankan penderitaan orang lain.

Wajarlah bila hingga detik inipun tak seorangpun mampu mendeskripsikan dengan gamblang dan masuk akal tentang sebuah kenyataan “mengapa dulu anda jatuh cinta pada pasangan hidup anda saat ini?”. atau mengapa anda jatuh cinta pada profesi anda ?. mengapa anda memilih berpayah payah datang ke kota suci Mekah Al-Mukarromah untuk berhaji hanya karena kecintaan anda kepada Alloh dan Rosulnya ?.  padahal hingga kini pun tak seorang jua yang mampu menjelaskan cinta dalam kalimat sederhana yang dapat dicerna oleh akal sehat manapun.

Cinta yang membuat anda naik pitam ketika agama anda dihina, cinta pula yang membuat anda rela menghabiskan waktu berhari hari untuk bergotong royong membangung masjid padahal anda sendiri seumur hidup belum pernah faham cara menggunakan centong semen, cinta juga yang membuat seorang ayah rela berpeluh berjuang menahan hati yang sakit dalam makian sang majikan demi menafkahi keluarganya, cinta juga yang membuat seorang istri dengan tulus hari rela pergi keluar negeri untuk mencari rejeki. Ketika kita bicara cinta, nurani yang tuluslah yang berbicara. Kepolosan dan kejujuranlah yang mengemuka.

Seperti edelweiss yang tampil apa adanya, menghadirkan dirinya dalam kebelakaan tanpa tindakan pencitraan. Hati yang tulus jua yang pada ahirnya menemukan kebesaran makna dirinya. Diri yang rela istiqomah dalam hidup. Sekali berarti sudah itu mati. Tak ada kata redup dan kuncup kembali. Sekali layar terkembang pantang surut ke pantai. Seperti edelweiss juga yang sekali mekar tak kan pernah kuncup kembali. Waktu lah yang pada ahirnya membuat setiap kuntumnya mongering, usang, gugur lalu sirna tertiup angin.

Seperti kecintaan ayah dan bunda kepada putra putrinya yang tak kan lekang termakan jaman. Hanya waktu yang ahirnya memisahkan.  seperti cinta rosul pada ummatnya yang tak kenal sakwasangka selain kerelaan dan ketulusan tak berbatas. Seperti Tuhan yang “mengasihi” setiap hambanya tanpa peduli seberapa patuh dan ingkarnya masing masing hambanya.

Edelweiss yang bersahaja itu memberikan makna akan sebuah ketulusan tanpa pamrih. Kebelakaan dalam ketulusanlah yang membuatnya melegenda dalam bentuknya yang tak seindah mawar dan tak seharum melati.

Tersisa sebuah pertanyaan kecil kini. Mampukah kita mencintai sang pencipta dengan kerelaan mencintai DIA yang senantiasa memberi meski senantiasa kita ingkari ?. Mampukah kita mencintai DIA meski kita senantiasa berpaling muka dari NYA. Mencintai DIA dengan segala kerelaan, kebelakaan dan ketulusan dalam keihklasan, agar kita menjadi pribadi pribadi yang layak DIA cintai ?. Seperti edelweiss yang tampil apa adanya tapi begitu dicintai oleh para pecinta ?.

Ah ternyata seindah apapun cinta mu dan cinta kita padanya masih jauh lebih indah cinta NYA kepadamu. Kita bahkan tak lebih indah dari serangkai bunga edelweiss yang tak indah itu. Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah lagi yang hendak kau dustakan.***

-----------

Dulunya artikel ini kutulis untuk membantu putri pertamaku yg masih duduk di kelas 7 SMP negeri dan mengerjakan PE ER nya, lalu ku posting di multiply.com tapi kemudian layanan blog di situs itu di tutup.