Showing posts with label majapahit. Show all posts
Showing posts with label majapahit. Show all posts

Tuesday, February 2, 2016

Apakah Nganjuk Adalah Negeri Ngatas Angin ?

Candi Ngetos, Nganjuk
Pernah dengar “Negeri Atas Angin” atau “Negeri Ngatas Angin” ?. Apakah negeri itu adalah kota yang sekarang dikenal sebagai kota Nganjuk ?.  

Di desa Ngetos Kecamatan Ngetos kabupaten Nganjuk terdapat sebuah bangunan candi dari era Majapahit yang sudah tidak utuh dan dikenal sebagai Candi Ngetos. Mungkin karena berada di desa Ngetos lalu disebut candi Ngetos. Candi satu ini diperkirakan dibangun sekitar abad XV dimasa kekuasaan Majapahit, dan diperkirakan merupakan pusara dari Prabu Hayam Wuruk, Raja terbesar Majapahit yang bergelar Rajasa Negara.

Pada masa jayanya Desa Ngetos merupakan bagian dari wilayah Negeri Ngatas Angin yang merupakan Negara Bawahan Majapahit. Ngatas Angin dipimpin oleh Raden Condromowo yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwoto dengan patihnya bernama Raden Bagus Condrogeni. Raja Ngabei Siloparwoto adalah paman dari Prabu Hayam Wuruk yang suatu ketika berkunjung ke wilayah kekuasaan pamannya yang berada di lereng Gunung Wilis itu.  

Prabu Hayam Wuruk berwasiat kepada pamannya agar dibangunkan sebuah candi sebagai tempat pendharmaan abu jenazahnya apabila nanti dia telah wafat. Raja Ngabei Siloparwoto kemudian menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos. Karena kesaktiannya maka dalam waktu yang tidak terlalu lama tugas tersebut dapat diselesaikan sesuai petunjuk.


Dipilihnya desa Ngetos sebagai tempat pendarmaan dirinya oleh Sang Prabu diperkirakan karena Gunung Wilis merupakan salah satu gunung suci di tanah Jawa, agar bangunan candi berada lebih dekat dengan kediaman para dewa. Karena menurut kepercayaan pada masa silam, puncak gunung merupakan kediaman para dewa.

Raja Ngatas Angin R. Ngabei Selupurwoto mempunyai saudara di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo (Blitar) bernama Prabu Klono Djatikusumo, yang kelak digantikan oleh Klono Joyoko. Dua tempat dengan tempat yang nama nya sama sama menggunakan kata “Angin” dan dipimpin oleh dua orang bersaudara, pastinya bukanlah suatu kebetulan.

Kisah Negeri Ngatas Angin belum berahir sampai disitu. Legenda tanah Jawa juga menceritakan tentang sebuah Negeri Atas Angin yang kekuasaannya berpusat di Keraton Ngatas Angin dibawah pimpinan seorang Ratu. Bila Negeri Ngatas Angin-nya R. Ngabei Selupurwoto berada di Nganjuk yang kini pun terkenal sebagai Kota Angin, lalu Negeri Ngatas Angin-nya Keraton Ngatas Angin itu kira kira ada dimana ya?. Atau ada dimana mana, karena toh angin pun ada dimana mana, atau bisa jadi yang dimaksud hanyalah sebuah perumapamaan yang nyata. ***

Wednesday, August 20, 2014

Hikayat Keris Taming Sari

Keris Taming Sari
Inilah hikayat tanah melayu. Di negeri Malaka hiduplah seorang Laksamana, bernama Laksamana Hang Tuah. Seorang pelaut ulung, pendekar pilih tanding, petarung tak berbanding,  Laksamana raja di laut, Hulubalang Kesultanan Malaka.

Suatu ketika sultan Malaka bersama handai taulan dan karib kerabat istana datang ke Majapahit hendak meminang putri sang Prabu. Diantara khalayak ramai hadirlah seorang petualang Majapahit dan petarung ulung sakti bernama Taming Sari memohon izin sang Prabu, untuk bertarung melawan hulubalang Malaka.

Hang Tuah turun ke gelanggang bertarung melawan Taming Sari, dua petarung ulung unjuk kesaktian, tak terkira sengitnya pertarungan, tak terkirakan siapa yang kan Berjaya, keduanya sama sama ada kesaktian dan ketangguhan. Namun pertarungan haruslah usai, Taming Sari gugur di tangan Hang Tuah. Sang Prabu menghadiahkan Keris milik Taming Sari Kepada Hang Tuah, hulu balang Kesultanan Malaka.

Keris Taming sari pun berpindah tangan, namanya bersanding dengan nama Hang Tuah. Keris sakti ditangan Laksamana sakti, sepadu sepadan, mengawal Malaka kepada kejayaan dan kemasyuran.

Manakala ada Intrik politik di istana, Keris Taming Sari jatuh ke tangan Hang Jebat, Hang Tuah tersingkir dari Istana, dijatuhi hukuman mati namun tak pernah di eksekusi. Lain hari, Dia kembali ke istana sebagai pahlawan, bertarung melawan Hang Jebat, sahabat karib nya sendiri, sebahagian orang berkata bahwa Hang Jebat adalah saudara kepada Hang Tuah. Dalam pertarungan itu Hang Tuah berhasil merampas kembali Keris Taming Sari dari Hang Jebat dan telah menikam dan membunuh-nya.

Keris Taming Sari saat dipamerkan di musium Kesultanan Perak

Seperti kata pepatah, setiap masa ada orang nya dan setiap orang ada masanya. Selepas itu, Hang Tuah dan Keris Taming Sari menjadi legenda. Tak seorangpun tahu pasti dimanakah sebenarnya Hang Tuah menghabiskan umurnya setelah undur diri dari Istana, kerana pusara beliau pun ada di tiga negeri. Tak tahu pasti yang mana satu yang sebenarnya asli, di negeri Malaka kah ? atau di Riau atapun di Palembang?

Begitu pula dengan keberadaan Keris Taming Sari sejati. Sebahagian orang percaya bahwasanya setelah gagal mempersunting putri Gunung Ledang untuk baginda Sultan, Hang Tuah pun undur diri dari Istana kerana merasa malu. Ia nya disebut-sebut mengirim dan mempersembahkan Keris Taming Sari kepada baginda sultan. Tak lama berselang Kesultanan Malaka runtuh oleh serbuah Portugis.

Sultan dan sebahagian besar kerabat istana hijrah ke Kampar (Riau) di Sumatera, Keris Taming Sari dibawa serta. Di Sumatera, baginda Sultan menganugerahkan Keris Taming Sari kepada putra-nya, Raja Mudzaffar, yang kemudian berangkat ke Perak, menjadi Sultan pertama di Kesultanan Perak. Keris Taming Sari menjadi pusaka kebesaran Istana Kesultanan Perak sejak tahun 1528.

Keindahan gagang keris Taming Sari

Namun demikian, sebahagian orang lagi berkata bahwa, kerana merasa malu telah gagal meminang putri Gunung Ledang, Hang Tuah tak pernah kembali lagi ke Istana dan membuang Keris Taming Sari hingga menancap di dasar Sungai Duyung di Malaka. Adapaun Keris yang kini ada di istana Iskandariah, Kuala Kangsar, Kesultanan Perak, hanyalah replika belaka. Dan tentu saja pihak istana pun membantahnya.

Keris Taming Sari merupakan keris pusaka Istana, keris kerajaan dan digunakan pada adat kebesaran diraja Perak. Wujudnya kini berubah menjadi begitu mewah dengan lapisan emas pada seluruh sarung dan bilahnya, serta taburan permata pada gagangnya. Tak sembarang orang dan sembarang waktu untuk dapat melihatnya. Dan legenda tetaplah menjadi legenda begitu pun hikayat kan tetap menjadi hikayat. *** 

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga