Showing posts with label situssejarah. Show all posts
Showing posts with label situssejarah. Show all posts

Tuesday, January 16, 2018

Menilik Pulau Penyengat

Penyengat yang Carnipora, Peta Lokasi Pulau Penyengat dan Masjid Sultan Riau atau Masjid Putih Telur yang begitu terkenal dan bersejarah, dan disebut sebut pembangunannya menggunakan putih telur. Masjid kuning ini terlihat jelas dari pantai kota Tanjung Pinang.

Penyengat adalah sebutan orang melayu bagi sejenis tawon liar seperti di foto itu. Penyengat juga nama sebuah pulau kecil yang ukurannya tak lebih dari 1,5 km persegi di lepas pantai Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau. Saat ini statusnya merupakan sebuah kelurahan di dalam kota Tanjung Pinang dan menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan kota Tanjung Pinang. Pulau Penyengat sempat menjadi ibukota kerajaan melayu Johor-Riau di abad ke 19.
.
Di pulau kecil ini anda dapat menemukan peninggalan kejayaan kesultanan melayu Johor-Riau termasuk beberapa bangunan Istana, benteng pertahanan, gedund gedung bersejarah dan makam para raja kesultanan melayu Johor-Riau, termasuk Masjid Sultan Riau Penyengat yang sangat populer itu.
.
.
Konon, nama penyengat bagi pulau ini memang berasal dari nama Tawon Penyengat itu. Jaman dulu para pelaut Portugis yang mendarat di pulau kecil ini untuk mendapatkan air bersih, kocar kacir kembali ke kapalnya karena diserang serombongan Penyengat ganas tersebut. Di sekitar balai adat Melayu di pulau Penyengat kini memang masih ada sumur tua yang airnya jernih dan tawar meskipun letaknya di bibir pantai pulau penyengat.
.
Dan Menariknya lagi mas/mbak Brow, Pulau penyengat ini beserta Istana dan seluruh isinya ini, di tahun 1803 merupakan Mas Kawin dari Sultan Mahmud, Raja Kesultanan Johor-Riau untuk Permaisurinya, Engku Putri atau Raja Hamidah anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV. Makam beliau kini dapat ditemukan di pulau Penyengat.
.
Di dalam komplek Makam beliau juga terdapat makam dari Raja Ali Haji, sang pujangga kesultanan Riau yang begitu termasyur dan juga Pahlawan Nasional Indonesia. Selamat berkunjung ke Penyengat.
.
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Mas Kawin untuk Seorang Permaisuri
Hikayat Keris Taming Sari
Dimanakah Makam Prabu Siliwangi
Siapakah Prabu Siliwangi Sebenarnya ?
Pudarnya Kilap Palangka Sriman Sriwacana
Bertemu Patih Gajahmada di Gunung Ibul, Prabumulih
Iskandar “Agung” Zulqarnain dimakamkan di Palembang ?
Timbuktu, Kisah Tentang Wanita Terpercaya di Ujung Dunia
Merunut Hikayat di Matangaji

Saturday, June 17, 2017

Situ Abidin Miniatur Danau Toba di Bojongmangu

Situ Abidin saat musim hujan, untuk menyeberang ke pulau kecil di tengah danau mau tidak mau anda harus menggunakan perahu atau rakit bambu atau berenang jika mampu. (https://goo.gl/XP8zG3)

Di Bojongmangu kabupaten Bekasi, ada sebuah danau kecil atau dalam Bahasa sunda biasa disebut dengan Situ dan ditengah tengahnya ada sebuah pulau kecil, seperti layaknya danau toba dengan pulau Samosir ditengahnya, hanya saja danau satu ini ukurannya mini, tidak segigantik ukuran Danau Toba, namun keindahan alaminya sih lumayan untuk menghibur mata dan hati.

Cocok Untuk yang Pengen Segera Sakti

Situ atau danau kecil ini cocok bagi siapa saja yang ingin segera sakti mampu menyeberangi danau tanpa bantuan perahu atau rakit, tanpa berenang dan tanpa basah, Caranya ?, datanglah kesana pada puncak musim kemarau. Anda otomatis menjadi orang sakti yg mampu menyeberangi danaunya dengan hanya Melenggang. ☺😄😃
.
Situ Abidin namanya, lokasinya berada di Bojongmangu, titik tertinggi di kabupaten Bekasi meski ketinggiannya hanya berkisar 400 meter dari permukaan laut. Dinamai dengan Situ Abidin sesuai dengan nama ulama penyebar Islam yang makamnya berada di pulau kecil ditengah tengah danau itu.


Masih Aseli

Situ Abidin ini berada di Kampung Bedeng, Desa Karang Mulya, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Bisa ditempuh dari Jalan Raya Cileungsi, dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer lewat Cibucil – Cibarusah. Atau bisa juga lewat Jalan Raya Cariu, dengan jarak tempuh sekitar 8 kilometer.

Sebagai sebuah danau alami, situ abini masih tampil alamiah belum ada sentuhan dari pemerintah kabupaten Bekasi untuk mempersoleknya sebagai sebuah objek wisata yang kebetulan lokasinya tidak seberapa jauh dari pusat pemerintahan kabupaten Bekasi di area Pentagon Deltamas.

Luas situ abidin sekitar 17 hektar, sebenarnya sangat leluasa untuk pengembangan wahana objek wisata air. Jika serius dikelola, bukan hal yang mustahil objek wisata alam ini bisa menjadi sumber PAD (pendapatan asli daerah) yang bisa diandalkan. Apalagi, insfrastrukturnya sudah lumayan bagus. Bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Jarak tempuh dari Pemkab Bekasi pun hanya sekitar 25 kilometer. Sekitar 30 menit perjalanan.

Makam Keramat

Di pulau ditengah situ abidin ini ada makam keramat, yaitu makan Mbah Uyut Bidin dan Mbah Uyut Lidam ada juga yang menyebutnya Kiai Abidin dan Kiai Sengkek Bean, yang pasti ditengah pulau kecil itu memang ada dua makam di lokasi terbuka tanpa nama dan satu makam di dalam bangunan tertutup. Makam keramat ini sering diziarahi orang.
Situ Abidin saat musim kemarau, tak perlu perahu atau rakit untuk menyeberang ke pulau ditengah tengah danau. (https://goo.gl/XP8zG3)

Berdasarkan kisah tutur disebutkan bahwa kedua tokoh ini semasa hidupnya merupakan ulama penyebar agama Islam di daerah Bojongmangu dan sering menunjukkan karomah layaknya wali, karena itu dikenal dengan Mbah Wali, informasi yang lain menyebutkan bahwa beliau semasa hidupnya adalah seorang mursyid juga dikenal dengan nama Kyai Syamsudin.

Angker

Konon tempat ini dikenal sangat angker karena merupakan tempatnya komunitas para siluman. Diantaranya, siluman Lembu, siluman Kuda, Siluman Ular dan Siluman Buaya Putih. lagi lagi konon ada yang ajaib dari danau Abidin, yaitu Pohon Kiray yang bisa bergerak sendiri dan berenang melawan arus dan ini sering disaksikan secara mata fisik oleh penduduk sekitar maupun para peziarah.

Benarkah demikian adanya, entahlah, namanya juga konon. yang pasti tempat ini memang masih sepi dan jauh dari keramaian. Kecuali bila anda memang berminat untuk uji nyali. Sejauh pantauwan kami saat hadir disana saat dinihari hingga ujung malam, suasana aman aman saja, memang ada sosok yang muncul sih, kucing meong meong dan dua warga setempat yang sedang ronda malam.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------
Baca Juga

Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------


Baca Juga


Saturday, May 20, 2017

Situs Telagajaya VIII Karawang

STJ VIII atau Candi Sumur Kono di desa Telukbuyung, kecamatan Pakisjaya, kabupaten Karawang.

Situs Telagajaya VIII adalah salah satu situs arkeologi yang ada di komplek Pecandian Batujaya, Karawang. Tak banyak yang bisa ditemukan di situs peninggalan sejarah yang satu ini, sesuai dengan namanya, Situs Telagajaya VIII ini berupa sebuah telaga di tengah pematang sawah dengan airnya yang jernih.

Belum tahu pasti nama asli dari situs ini, para arkeolog yang memberinya nama situs Telagajaya VIII berdasarkan nomor urut situs yang ditemukan, dan sebelumnya juga situs ini secara administratif merupakan bagian dari desa Telagajaya sebelum kemudian dimekarkan dan kini masuk ke dalam wilayah desa Telukbuyung. Dan belum diketahui secara pasti juga dari peradaban mana candi ini berasal, meski disebut sebut bahwa candi ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara sama seperti situs Batujaya lainnya.

Situs Telagajaya VIII (TLJ VIII)
Kampung Gunteng Desa Telukbuyung
Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang.
Jawa Barat, Indonesia


Sementara masyarakat setempat menyebutnya Candi Sumur Kuno, merujuk kepada telaga yang ada disana. Ditemukan pada saat sedang penelitian di situs TLJ V pada tahun 1989. Evakuasi di lakukan Tim UNTAR dan Jurusan Arkeolog FSUI yang menanpakan sisa bagian bawah sebuah bangunan  candi berdenah segi empat, berukuran 6x4m pada kedalaman sekiar 10 cm dari permukaan tanah sawah.

Candi ini mempunyai sebuah tangga naik yang terletak di bagian depan yaitu di sisi timur laut. Tangga ini sudah sangat hancur dan pada bagian tengah terdapat sebuah sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 1,50x1,50m. Sumur ini di temukan dalam keadaan sudah di gali secara liar, dan sudah terisi tanah bercampuran pecahan bata.

Ini Candi Sumur Kuno yang dimaksud.

Bagian bawah merupakan sisa bagian fondasi yang masih setinggi  1,30m yang terdiri dari 20 lapis bata. Dengan profil rata tidak berpelipit, Di situs ini di tempukan pula pecahan-pecahan gerabah, berupa gerabah hias gores di sekitar struktur fondasi. Situs TLJ VIII kini sudah masuk ke dalam daftar cagar budaya dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang.


Di sebelah utara situs ini terdapat beberapa peninggalan dari masa lalu yang berserakan, beberapa sudah diberi identifikasi untuk dilakukan penelitian di kemudian hari, belum lagi yang masih tertimbun dan belum di gali. Situs Pecandian Batujaya ini ditengarai sangat luas melebihi luas komplek Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan jauh lebih tua dari candi terbesar tersebut.***

Airnya jernih dan dimusim kemarau pun tetap mengeluarkan air
STJ VIII (kanan) diantara pesawahan di desa Telukbuyung

Sunday, May 14, 2017

Bukit Siguntang, Tapak Kraton Kerajaan Sriwijaya

Di puncak Bukit Siguntang

Setelah bertarung sengit dengan berderet negara jiran yang mengklaim diri mereka sebagai pusat dari Kerajaan Sriwijaya, Bukit Siguntang di kota Palembang pada ahirnya bersaksi sebagai pusat kerajaan maritim terbesar yang sezaman dengan masa Rosulullah tersebut.

Di bukit ini para arkeolog menemukan sisa sisa tratak yang diyakini merupakan tratak "pusat pemerintahan" kerajaan Sriwijaya. Meski terlalu sulit bagi siapapun yang datang kesana untuk sekedar membayangkan seperti apa "pusat kota" dari kerajaan yang ditengarai tak lain adalah "kerajaan Samudera" yang disebut sebut dalam sejarah awal perkembangan Islam.

Arca Buddha bergaya Amarawati yang kini ditempatkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dekat Benteng Kuto Besak, Palembang, merupakan arca yang ditemukan dimasa penjajahan Belanda sekitar tahun 1920-an, lokasi penemuannya di lereng selatan Bukit Siguntang ini.


Arca berukuran cukup besar ini ditemukan dalam beberapa pecahan. Bagian yang pertama kali ditemukan adalah bagian kepalanya yang langsung dibawa ke Museum Nasional di Batavia. Beberapa bulan kemudian bagian tubuhnya ditemukan, kemudian bagian kepala dan tubuhnya disatukan. Akan tetapi hanya bagian kakinya yang kini masih belum ditemukan.

Arca setinggi 277 cm ini dibuat dari batu granit yang banyak ditemukan di pulau Bangka, maka disimpulkan bahwa arca ini adalah buatan setempat, bukan didatangkan dari India. Diperkirakan arca ini dibuat sekitar abad VII sampai VIII masehi.

Di daerah Bukit Seguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa, reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Selain itu di daerah Bukit Seguntang ditemukan pula fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Suasana asri di Bukit Siguntang

Prasasti yang terdiri dari 21 baris ini menceritakan tentang hebatnya sebuah peperangan yang mengakibatkan banyaknya darah tertumpah, disamping itu juga menyebutkan kutukan bagi mereka yang berbuat salah.

Bukit Siguntang bukan satu satunya, situs peninggalan kerajaan Sriwijaya di kota Palembang. Sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara dekat tepi sungai Musi terdapat situs Karanganyar, yang menunjukkan bekas pemukiman. Dua prasasti dari abad ke-7 ditemukan di dekatnya pada tahun 1920, berangka tahun 682 (Prasasti Kedukan Bukit) dan 684 (Prasasti Talang Tuwo). Pada tahun 1978, 1980, dan 1982 berbagai peninggalan keramik dari masa dinasti T'ang dan Sung awal diangkat dari area di lereng dan sekitar Bukit Seguntang.

Objek Wisata Rohani

Kawasan Objek Wisata “Situs Purbakala Bukit Siguntang” ini sudah sejak lama, jauh sebelum kawasan ini dijadikan situs sejarah oleh pemerintah, sudah menjadi salah satu tujuan ziarah dan dianggap keramat oleh warga kota Palembang dan sekitarnya. Di puncak bukit ini terdapat tujuh makam keramat yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh raja, bangsawan dan pahlawan Melayu-Sriwijaya. Terdapat tujuh makam tersebut adalah :

Daftar Makam yang ada di puncak Bukit Siguntang

  • Raja Sigentar Alam
  • Pangeran Raja Batu Api
  • Putri Kembang Dadar
  • Putri Rambut Selako
  • Panglima Tuan Junjungan
  • Panglima Bagus Kuning
  • Panglima Bagus Karang


Menurut kitab Sulalatus Salatin, Bukit Seguntang merupakan tempat datangnya Sang Sapurba, keturunan Iskandar Zulkarnain, yang dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya. Dan raja raja Malaka disebutkan sebagai keturunan dari Sang Sapurba ini.

Bukit Seguntang diibaratkan sebagai potongan Gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, dan dianggap suci karena merupakan cikal bakal orang-orang Melayu. namun yang paling menarik adalah disebutkan juga bahwa Raja Sigentar Alam yang bermakam di Bukit Siguntang ini tak lain adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great).***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Saturday, May 6, 2017

Ummu Harram Srikandi Perang Laut Pertama

Masjid Halla Sultan Tekke di Larnaca, Cyprus, tempat Makam Ummu Harram berada.

Emansipasi wanita bukan hal baru dalam Islam, sejak awal sejarah Islam, wanita mendapatkan posisi terhormat, dan apa yang kini digaunggaungkan tentang emansipasi sudah diterapkan tanpa basa basi sejak awal sejarah Islam bergulir dan tanpa pernah menyebut nyebut tentang emansipasi wanita. Tak tanggung tanggung, wanita Islam bahkan ikut terjun langsung di medan perang.
.
Salah satunya adalah Ummu Harram r.a, salah satu Sohibah Rosulullah s.a.w, saudari dari Ummu Sulaim, istri dari ‘Ubaadah ibnu Saamit yang juga salah satu sahabat Rosulullah S.A.W. Ummu Harram bersama suaminya bergabung dalam perang laut menaklukkan pulau Cyprus.
.
Peristiwa itu terjadi di tahun 28 H/ 649 M, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra. Ketika itu Muawiyyah bin Abi Sufyan atas persetujuan khalifah menyiapkan kapal dan pasukan untuk menaklukkan Pulau Cyprus yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Byzantium.
.
Ubadah bin Syamit dan istrinya, Ummu Haram, yang usianya ketika itu sudah cukup tua ikut menyertai pasukan tersebut. Ini merupakan angkatan pertama pasukan Muslim yang melakukan perjalanan jihad melalui laut. Pasukan ini mendarat di kota Larnaca, di bagian selatan pulau Cyprus.
.
Ummu Harram menjemput syahid yang dicita citakannya di tengah kancah perang penaklukan Cyprus, dan dimakamkan di lokasi tersebut, yang dikemudian hari (sekitar tahun 1816) dibangun sebuah masjid dan kini dikenal dengan nama Masjid Halla Sulta Tekke.
.
Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (2002: 368-9), walaupun pasukan Muslim mendapatkan banyak pampasan dan tawanan perang, pertempuran berakhir dengan perjanjian damai oleh kedua belah pihak. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Cyprus akan membayar upeti tahunan sebanyak 7000 dinar kepada kaum Muslimin.
.
Heroisme Ummu Harram tersebut sesungguhnya sudah di-Isyaratkan oleh Rosulullah jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi sebagaimana dijelaskan dalam hadist Riwayat Ahmad No.25790 dan 26110.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga



Sunday, April 30, 2017

Saung Ranggon, Tempat Persembunyian Anak Raja

Saung Ranggon, di desa Cikedokan, kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi

Saung Ranggon atau Rumah Tinggi adalah cagar budaya berupa bangunan tertua di kabupaten Bekasi. Rumah panggung dari kayu yang sudah berumur hampir 400 tahun di desa Cikedokan, Cikarang Barat. Di sekitar tahun 1619 rumah tinggi ini merupkan rumah persembunyian Pangeran Rangga (putra Pangeran Jayakarta) dari kejaran pasukan VOC Belanda, paska jatuhnya Kota Jayakarta (kini Jakarta) ke tangan pasukan VOC Belanda.
.
Raden Abas yang melindungi dan membantu beliau di wilayah Cikedokan termasuk membantu membangun rumah tinggi ini. dulunya tempat ini merupakan hutan belantara jauh dari jangkauan manusia, angker dan seram belum lagi masih banyak binatang buasnya. Kini hutan belantaranya sudah lenyap berubah menjadi belantara beton kawasan industry MM2100. (Instagram).



Tak disebutkan, kemana perginya Raden Rangga setelah bersembunyi disana, tak ada juga makam ataupun kuburan kuno disekitar lokasi. Pada saat bersembunyi disana Beliau juga membekali diri dengan persenjataan tempur termasuk keris dan tombak yang disimpan di bawah rumah tinggi ini. Di lokasi ini juga ada sumur tua.

Pemerintah kabupaten Bekasi telah menetapkan bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya,  sekaligus sebagai objek wisata. Sisebut sebut sebagai bangunan tertua di kabupaten Bekasi. Beberapa acara pernah di helat di sekitar rumah tua ini yang turut dihadiri oleh para petinggi kabupaten.***
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Thursday, September 25, 2014

Pulau Penyengat ; Mas Kawin Untuk Seorang Permaisuri

Pulau Penyengat dari arah Pantai Tanjung Pinang

Nama pulau kecil ini adalah pulau Penyengat, letaknya di lepas pantai kota Tanjung Pinang, ibukota propinsi Kepulauan Riau. pulau wisata religi dan sejarah kesultanan Melayu Riau dan Johor.

Konon nama penyengat yang disandang pulau ini diambil dari kisah pasukan portugis yang mendarat ke pulau tersebut bubar kembali ke kapal karena diserang oleh sekawanan penyengat alias tawon liar.

Di Pulau ini berdiri sebuah masjid bewarna kuning yang menjadi ikon pulau tersebut, Masjid Sultan Riau pulau Penyengat. di pulau ini masih dapat dijumpai sisa sisa istana kesultanan, gudang mesiu hingga benteng pertahanan.

Dan tentu saja kita kan menjumpai jejeran makam makam tua yang merupakan makam dari para pembesar kesultanan Riau di masa lalu. salah satu nya adalah Makam Engku Putri atau Raja Hamidah anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV.

Engku Putri kemudian dipinang oleh Sultan Mahmud menjadi istrinya tahun 1803. Dan tahukah anda mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud untuk Engku Putri ? ya pulau penyengat itu berikut istana beserta isinya.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Monday, August 11, 2014

Ketika Gerhana Jatuh di Mendut

Posisi Candi Borobudur, candi Pawon dan Candi Mendut.

Indonesia memang negeri yang kaya raya dengan peninggalan peradaban masa lalu. Sampai sampai salah satu penulis amerika mengatakan bahwa “jika sorga itu ada dibumi, pastilah ia ada di Indonesia, karena Indonesia adalah sumber peradaban masa lalu. 

Candi Borobudur, Pawon dan Mendut merupakan tiga dari peninggalan peradaban lalu yang terus dikaji oleh para peneliti dan pemerhati sejak pertama ditemukan dan tak pernah usai hingga kini. Tiga candi yang saya sebut itu lokasinya berjejer lurus satu sama lainnya dengan jarak dari Borobudur hingga ke mendut sekitar 3KM dan Candi Pawon ada di tengah tengahnya.

candi Borobudur
Menentukan bagaimana dan siapa sebenarnya pembangun Borobudur dan candi candi lainnya itu saja masih menjadi kontroversi. Ketika menyadari bahwa ketiga candi tersebut dibangun berjejer lurus pun kemudian muncul pertanyaan baru, bila memang sengaja dibangun sejajar, lalu bagaimana para pembangunnya itu menentukan titik koordinat tiga candi tersebut untuk memastikannya benar benar berdiri dalam garis lurus ?.

Candi Pawon
Kemungkingan termudah untuk menarik garis lurus antara beberapa titik adalah dengan melihatnya dari ketinggian. Lalu siapa yang mampu menempatkan dirinya di ketinggian yang cukup di masa itu ? atau alat apa yang mereka gunakan untuk itu ?. Lalu untuk apa dibangun berjejer dalam garis lurus.

Candi Mendut
Ada teori yang menyatakan bahwa pembangunan tiga candi ini berjejer layaknya jejeran Matahari, bulan dan Bumi. Dari segi ukuran bisa jadi Borobudur adalah mataharinya, Pawon sebagai bulan dan Mendut sebagai Bumi, dan kesejajaran itu hanya terjadi di peristiwa gerhana matahari. 

Apa hubungannya tiga candi itu dengan gerhana matahari ?. Hmm bumi akan gelap pada saat peristiwa gerhana matahari total, apa hubungan gelap dengan Candi Mendut. Lalu pertanyaan lanjutannya adalah ; ada apa di Candi Mendut pada saat peristiwa gerhana matahari benar benar terjadi ?.

Wednesday, July 23, 2014

Tanda Tanya di Istana Ratu Boko

Gerbang Istana Ratu Boko
Awalnya komplek istana ini bernama Abhyagiri Wihara kemudian berubah menjadi Keraton Walaing, dan kemudian berubah menjadi komplek istana Ratu Boko terkait dengan Legenda Loro Jonggrang tentang berdiri ‘secara ajaib’-nya Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah "gadis langsing".

Situs Ratu Boko adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Situs Ratu Boko terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut, dengan luas  keseluruhan sekitar 25 ha. Sejarah Istana Ratu Boko memang belum diketahui dengan pasti, sejauh ini sejarah yang ada didasarkan temuan arkeologis dari lokasi dan cerita tutur yang berkembang di masyarakat.


View Ratu Boko in a larger map

Menurut Prasasti Abhayagiri Wihara diperkirakan dari tahun 792 M yang ditemukan dilokasi menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran setelah dia mengundurkan diri dari kepemimpinannya untuk berkonsentrasi para bidang religi, serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara "wihara di bukit yang bebas dari bahaya".

Rakai Panangkaran adalah tokoh yang disebut sebut membangun Candi Borobudur, Candi Sewu serta candi Kalasan semasa ia masih berkuasa. Di dalam sejarah kerajaan Sunda (Pajajaran) disebutkan bahwa Rakai Panangkaran adalah anak dari Sanjaya (Raja Sunda ke 2, sekaligus sebagai raja Kalingga), dia juga merupakan cicit dari Tarusbawa (Raja Pajajaran pertama), dan adik se-ayah dari Tamperan Barmawijaya / Rakeyan Panaraban (Raja Pajajaran ke 3).

Sepeninggal Rakai Panangkaran, komplek yang dibangunnya kemudian berubah menjadi komplek keraton yang dilengkapi dengan benteng pertahanan dimasa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbayoni dan dikenal sebagai Keraton Walaing. Sedangkan nama ratu Boko sendiri berasal dari legenda Loro Jonggrang yang berkembang di masyarakat setempat secara turun temurun.  Ratu Boko (Raja Bangau) adalah ayah dari Loro Jonggrang.


Di situs istana Ratu Boko ditemukan peninggalan peninggalan yang berhubungan dengan Budha maupun Hindu. Termasuk didalamnya ; Dyani Budha, Stupika, Terakota, plakat perak dan emas yang berisi inkripsi Budha. Namun di lokasi ini juga berdiri candi Hindu dalam ukuran kecil termasuk Yoni dan patung Durga, Ganehsa dan plakat inskipsi tentang Rudra, nama lain dari Dewa Siwa.

Di komplek situs ini juga terdapat jejeran gerbang utama yang masih utuh, dua gua kecil atau ceruk pertapaan, fondasi bangunan istana, ruang paseban, pendopo, pringgitan, keputren, serta kolam kolam penandian. Salah satu kolam yang paling terkenal dan merupakan kolam air suci bagi ummat Hindu yakni Kolam Amerta Mantana.

Cerita lain tentang sejarah Istana Ratu Boko ini muncul dari laporan yayasan turangga seta yang melakukan penelitian berbasis menyan, dan berkesimpulan bahwa sesungguhnya yang dimaksud Ratu Boko tak lain adalah Ratu Balqis, istri dari kanjeng nabi Sulaiman a.s. Dan Candi Borobudur sebenarnya adalah singgasana Ratu Balqis atau Ratu Boko yang dipindahkan dalam waktu kurang dari sekejap mata oleh Asip Bin Barqia dari lokasi aslinya yang kini dikenal sebagai situs Istana Ratu Boko yang tinggal fondasinya saja. Wallohua’lam.
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Thursday, May 30, 2013

Ada Telapak Kaki Nabi Adam di Puncak Gunung di Sri Lanka, Betul Kah ?

::: Di Puncak gunung ini ada satu jejak telapak kaki ukuran besar, konon itu adalah jejak telapak kaki Nabi Adam pada saat Beliau pertama kali tiba di bumi :::
Di gunung Adam Peak di Sri Lanka, terdapat sebuah jejak telapak kaki berukuran sangat besar (180 cm).  Kini dicetak di atas batu safir berukuran besar, dikeramatkan oleh pemeluk Hindu, Budha, Kristen dan Islam sekaligus oleh suku asli Sri Lanka. Tapi ? Jangan tanya padaku sebenarnya itu jejak kaki siapa ? karena akupun tak tahu.

Iseng iseng ku ukur telapak kakiku, panjangnya 24cm, tinggiku 165cm. Jejak kaki di puncak gunung itu 7.5 kali lebih panjang dari tapak kakiku. Jadi siapapun pemilik jejak kaki itu semestinya memiliki tinggi paling tidak 12.4 meter. Wow, nggak butuh tangga lagi untuk betulin antene tivi di atas genteng yang mlintir ketiup angin.


Menjulang tinggi 2243 meter dari permukaan laut, Adam’s Peak begitu orang menyebut nama tempat ini. Disebut Adam’s Peak karena konon katanya Jejak Telapak kaki di puncak gunung inia dalah bekas telapak kaki Nabi Adam. Konon juga ketika Nabi Adam di usir dari surga ke dunia beliau di tempatkan di puncak gunung ini karena letaknya yang paling dekat dan paling mirip dengan sorga (iya kah ?). 

Tuhan juga menghukum nabi Adam harus bediri dengan satu kaki di puncak gunung itu sebagai bentuk penebusan dosa. Karenanya kemudian bekas telapak kakinya membekas disana, dan hanya sebelah bukan sepasang.

::: berselimut kabut di ketinggian, puncak gunung ini menyimpan misteri ribuan tahun::

Suku Veddas menyebutnya sebagai Samanal Kanda, saman merupakan salah satu dari empat dewa penjaga pulau. Dan secara tradisi turun temurun gunung ini merupakan gunung suci yang dipuja oleh suku Veddass. Suku Veddas meski merupakan suku asli pedalaman Sri Lanka tapi jumlah mereka sangat sedikit. 

Suku Shinhala menyebutnya Sri Pada (tapak kaki suci). Tradisi kuno orang Shinhala (suku terbesar Sri Lanka) menyebut gunung ini sebagai gunung yang agung “jarak dari sana ke surga hanya empat puluh mil, dan suara percikan air pancuran surga terdengar di tempat ini”. 

::: Di puncak yang sempit ini, ummat dari berbagai agama harus sabar mengantri untuk sekedar melihat jejak kaki ukuran raksasa tersebut, pada musim kunjungan wisata yang ramai pengunjung 

::: Di puncak yang sempit ini, ummat dari berbagai agama harus sabar mengantri untuk sekedar melihat jejak kaki ukuran raksasa tersebut, pada musim kunjungan wisata yang ramai pengunjung 

Ummat Hindu menyebutnya Sivan Adi Padham, karena menurut tradisi Hindu tempat itu merupakan tempat Dewa Siwa menarikan sebuah tarian kreatif dan meninggalkan jejak telapak kaki berukuran raksasa tersebut.

Menurut ummat Budha, jejak kaki itu sudah eksis sejak tahun 300 sebelum masehi, sebenarnya jejak telapak kaki yang asli berada dibawah jejak telapak kaki yang ada sekarang. Jejak kaki itu Merupakan peninggalan Budha Gautama dalam kunjungannya yang ke tiga dan terahir kalinya ke Sri Lanka.

::: Seorang pendeta Budha di Adam's Peak :::

Ketika Portugis yang beragama Kristen menduduki Sri Lanka di abad ke 16 mereka mengklaim jejak kaki itu adalah jejak kaki Saint Thomas yang menurut legenda merupakan orang pertama yang membawa ajaran Kristen ke Sri Lanka. 

Jadi ? sebenarnya itu bekas jejak kaki siapa ?.