Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E