Showing posts with label karawang. Show all posts
Showing posts with label karawang. Show all posts

Sunday, July 19, 2020

Senja di Sanggabuana

Jejeran pegunungan Sanggabuana dari depan pondok pesantren Daarul Qur'an di Desa Cinta Asih kecamatan Pangkalan, Karawang.

Cukup lama tak kembali ke tempat ini, dan cukup lama menunggu waktu PSBB yang tak kunjung berahir, namun New Normal ahirnya datang juga dan pihak pengelola disana mengizinkan para pendaki untuk naik ke Gunung Sanggabuana dengan beberapa syarat tambahan dan protokol yang harus dipatuhi.

Cukup banyak yang berubah setelah tujuh tahun berlalu. Jalanan ke desa Mekarbuana kini sudah dicor cukup baik, bahkan beberapa bagian ruas jalan setapak di jalur pendakian sudah di lapis semen hingga melewati tanjakan pertama sampai ke tengah area pesawahan.

Jalan setapak di jalur pendakian yang sudah di cor dengan semen tipis hingga ke tengah pesawahan.

Tujuh tahun lalu, tidak ada pos penarikan retribusi untuk para pendaki ke puncak Sanggabuana, kini sudah ada pos petugas yang mendata dan menarik retribusi bagi para pendaki dengan tariff Rp. 10.000/orang tariff yang sama dengan biaya parkir motor/hari di penitipan motor di rumah warga setempat.

Kamu harus menandatangani surat pernyataan yang intinya menyetuji syarat dan ketentuan yang berlaku dan bahwa kawasan tersebut sebenarnya belum dibuka namun dizinkan masuk dengan tanggungjawan pribadi masing masing dan tidak akan menuntut pihak pengelola bila terjadi sesuatu.

Tebing timur Sanggabuanadari arah jalur pendakian sisi sebelah timur.
Ada beberapa warung baru yang berdiri di sisi jalur pendakian, dan pohon pohon menyan yang dulu merana karena dikuliti untuk diambil getahnya beberapa tampaknya sudah tumbang, beberapa lagi masih berjuang bertahan hidup memperbaiki kambiumnya yang rusak parah.

Ada juga Mushola Al-Ikhlas yang tampak masih gress beberapa meter setelah melewati pertigaan Kebon Jambe, disi kanan jalan, diantara gemericik air sungai kecil yang melintas di depannya. Bersebelahan dengan kebon pisang milik warga.


Menurut penuturan pemilik salah satu warung tempat kami mampir ngopi, sebenarnya pemerintah setempat bahkan sudah berencana untuk membuka jalan raya dari pertigaan di tengah desa melintasi pesawahan hingga ke objek wisata Kebon Jambe, namun rencana itu tertunda akibat dampak dari Covid-19.

Yang paling menarik perhatian adalah adanya beberapa warga setempat yang menggunakan sepeda motor naik cukup jauh hingga ke kawasan perkemahan di pancuran kejayaan, cukup menarik karena medan yang dilalui cukup sulit dan berbahaya, namun sepertinya mereka sudah cukup terbiasa dengan itu.

Matahari senja perlahan jatuh.

Pak Andi, yang mukim di sekitar Makam Emak Paraji Sakti bercerita bahwa para pengendara motor itu adalah warga setempat yang memiliki ladang atau kebon di lereng Gunung Sanggabuana. Di sepanjang jalan menuju puncak hingga sedikit melewati makam Emak Paraji Sakti memang ditemukan pesawahan dan kebun kopi milik warga.

Sedangkan pemilik warung di camping ground pancuran kejayaan berkisah bahwa sepeda sepeda motor yang digunakan warga itu sudah dimodifikasi pada bagian roda giginya hingga memiliki daya tarik yang kuat namun tidak memiliki kecepatan yang baik.

Dan dipastikan sepeda motor itu adalah sepeda motor dengan rantai, porseneling dan kopling bukan sepeda motor matic. Beliau melanjutkan kisahnya yang pernah bermasalah saat menggunakan motor matic melalui rute itu akibat belt nya putus tidak kuat untuk dipaksa terus naik ditanjakan.


Perjalanan mendaki kami kali ini teramat santai, berhenti disetiap tempat yang menarik untuk diamati, dinikmati, di foto, di rekam, termasuk juga berhenti hampir di setiap warung dan rumah penduduk yang kami lewati walau sekedar untuk bertegur sapa. Benar benar santuy pokona mah. Maklum, aslinya memang dah gg sanggup untuk ngebut. Kamu bisa nikmati suasana hutan sanggabuana direkaman yang sudah kami simpan di youtube.

Jelang matahari terbenam kami baru sampai di makam Jagaraksa, perhentian terahir sebelum tiba di puncak dua. Dan tiba di puncak bertepatan dengan waktu magrib. Di sepanjang perjalanan hingga sampai ke puncak tak kunjung jua mendapatkan titik yang pas untuk memotret merekahnya matahari terbenam. Tak apalah setidaknya ada peluang untuk menikmati matahari terbit besok pagi.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Wednesday, February 26, 2020

Makam Sheikh Quro – Karawang

Seperti hampir semua makam yang dikeramatkan lainnya, di Makam Sheikh Quro di Karawang inipun berjejer para peminta minta yang mengharap berkah dari para peziarah.

Sudah sunahnya bagi para pejuang, meski jasadnya sudah berkalang tanah berpuluh bahkan beratus tahun lalu namun harum namanya tetap semerbak mewangi. Makamnya senantiasa di ziarahi, jasanya selalu dikenang dari generasi ke generasi. Sunah yang berlalu bagi para pejuang manapun dimanapun.

Pesan Waliyullah. di sebelah gerbang sisi barat terdapat dua plakat yang salah satunya tertulis Pesan Waliyullah : "ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa". Bagi anda yang pernah berkunjung ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon anda akan menemukan pesan yang sama disana
Di kampung Pulo Bata, kabupaten Karawang bermakam seorang ulama terkemuka yang begitu dihormati karena jasa jasa beliau membawa dan menyebarkan Islam di tanah Pasundan. Beliau adalah Sheikh Quro yang disebut sebut sebagai ulama pertama yang membawa Islam ke tanah Sunda melalui Karawang, di masa Sri Baduga (Prabu SIliwangi) masih bergelar putera mahkota Pajajaran.

Pe Er Pengelola. Jejeran warung para pedagang di komplek makam sheikh Quro ini baik diluar pagar maupun di dalam komplek makam, memang dibutuhkan oleh para peziarah yang datang dari berbagai penjuru, hanya saja perlu di tata lebih baik. 

Lokasi Makam Sheikh Quro

Kampung Pulo Bata, Desa Pulo Kelapa
Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Karawang
Koordinat Geografi : 6°15'4.73"S 107°28'54.34"E



Sheikh Quro bernama asli Sheikh Hasanuddin putra dari Syech Yusuf Siddik ulama besar Perguruan Islam negeri Campa dan masih ada garis keturunan dengan Syech Jamaluddin serta Syech Jalaluddin ulama besar Mekah. Nama Sheikh Quro atau Sheikh Qurotal Ain merupakan gelar Beliau karena beliau merupakan seorang hafiz (penghafal Al-Qur’an) dan juga seorang Qori dengan suara yang begitu merdu melantunkan ayat ayat suci Al-Qur’an.

Mirip Masjid. bangunan cungkup makam Sheikh Quro ini dibangun berupa bangunan segi empat dengan atap limas bersusun mirip sekali dengan bentuk sebuah bangunan masjid. foto di atas di abadikan dari teras Masjid Jamie Sheikh Quro yang juga berada di dalam komplek makam ini. bangunan sebelah kanan adalah bangunan pendopo utama dalam komplek makam ini.
Beliau diperkirakan tiba di Karawang yang kala itu masih berupa rawa rawa, pada tahun 1418M dalam perjalanan keduanya ke tanah Jawa melalui negeri Campa (Kini Vietnam). Beliau datang bersama rombongan menggunakan dua kapal. Di daerah yang masih berupa rawa rawa atau Karawa’an itulah beliau kemudian mendirikan pesantren. Daerah Karawa’an yang dikemudian hari dikenal dengan nama Karawang.

Dari arah Utara. Komplek makam Sheikh Quro ini terdiri dari dua bangunan utama yakni bangunan cungkup makam disebelah kiri foto dan bangunan masjid, beberapa pendopo, beberapa sumur yang kesemuanya berada dibawah naungan rindangnya pepohonan nan hijau royo royo.
Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa beliau tiba ke tanah Jawa melalui pelabuhan Muara Jati di Caruban (Cirebon) pada tahun 1416 dengan menumpang salah satu kapal armada Panglima Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Cina di seberang lautan.

Pagar komplek makam. Rancangan pagar komplek makam Sheikh Quro ini memang unik  dan tiada duanya. hanya saja susah untuk dinikmati karena tertutup oleh warung warung yang berjejer di area parkir.
Sheikh Quro mulai mendirikan pesantren di Pura Dalem dengan nama Pondok Quro (tempat untuk belajar Al-Qur’an). Turut bersama beliau adalah anak angkatnya yang bernama Syech Bentong alias Tan Go. Dari istrinya yang bernama Siu Te Yo  mempunyai seorang putri diberi nama Sie Ban Ci. Syech Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari dan lahir Syech Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang.

Kubah kecil ornamen pagar. Di ujung setiap lengkungan terbalik dari pagar depan komplek makam ini dihias dengan kubah kubah kecil, dan di ujung masing masing kubah tersebut dilengkapi dengan asma Allah dalam aksara Arab.
Setelah melakukan islamisasi di Karawang Syech Quro kemudian menjalani hidup menyendiri di Kampung Pulobata, Pulokalapa. Di kampung ini beliau melakukan ujlah untuk mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh kesempurnaan hidup. Demikian ini beliau lakukan hingga akhir hayat.

Bangunan cungkup makam Sheikh Quro ini dilengkapi dengan empat pintu, namun hanya pintu selatan yang menghadap ke lapangan parkir yang senantiasa terbuka setiap waktu. pintu pintu yang lain hanya dibuka pada acara acara tertentu.
Makam Syech Quro ditemukan oleh Raden Sumareja (Ayah Jiin) dan Syech Tolha pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859. Karena ditemukan di hari Sabtu maka hingga sekarang pada setiap hari Sabtu banyak orang yang berziarah. Komplek makam Sheikh Quro menempati lahan seluas 2.566 m2 di antara pemukiman warga dan areal pesawahan.

Makam Sheikh Quro berada di dalam bangunan segi empat seperti tampak dalam foto di atas. para peziarah tidak diperkenankan masuk ke dalam bangunan tersebut.
Komplek makam ini berada dibawah pengelolaan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Dilindungi oleh Undang Undang No. 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya dan undang undang tahun 2010 tentang Cagar Budaya. sebagai lokasi cagar budaya, kita harus membayar retribusi ke petugas jaga di gerbang masuk kawasan ini.

Dupa, Kotak Amal dan Celah pintu. guci kuningan besar itu digunakan oleh beberapa peziarah untuk membakar dupa untuk menebar aroma wangi, kotak kayu disebelahnya adalah kotak amal. Lalu di Pintu makam anda dapat melihat celah segi empat yang sengaja disediakan bagi peziarah untuk melemparkan amal sodaqoh.
Di dalam komplek makam ini tersedia lapangan parkir yang cukup luas meski masih berpermukaan tanah yang dikeraskan. Ada dua gerbang masuk ke dalam komplek makam dari area parkir. Gerbang barat menuju ke Masjid Jamie Sheikh Quro dan Gerbang Timur langsung menuju ke Makam beliau. Selain itu tersedia juga penginapan sederhana disebelah bangunan masjid bagi jemaah yang hendak menginap disana.

Tempat mengaji. Konon di tumpukan bata itu dulunya adalah sebuah pohon besar tempat Almarhum seringkali meluangkan waktu mengaji dibawah rindangnya. kini setelah pohon tersebut tumbang, pengurus makam menandainya dengan tumpukan bata dan empat tempat khusus meletakkan Al-Qur'an, bagi peziarah yang hendak mengaji.
Ada pendopo besar di dalam komplek ini letaknya diantara masjid dan bangunan makam. Bentuk bangunan makam dan bangunan masjid-nya dibangun serupa dengan atap limas bersusun, hanya saja bangunan makamnya sendiri lebih besar dari bangunan masjid yang berdiri disebelahnya.

Surga Burung Blekok. Pepohonan di komplek makam ini menjadi habitat bagi jenis burung blekok, sejenis burung belibis yang dapat dengan bebas hidup di pepohonan dalam komplek makam ini. beberapa dari burung ini bahkan bersarang di pohon asem yang berdiri kokoh disebelah kanan gerbang barat tak jauh dari Masjid Sheikh Quro.
Hal yang menarik dari penjelasan dari Pak Ghofar salah satu juru kunci makam, menurut beliau makam Sheikh Quro tersebut bukanlah Makam atau Kubur tapi Maqom alias petilasan. Sedangkah kubur atau Makam asli beliau tidak ada yang tahu pasti keberadaannya. Meskipun begitu merujuk kepada papan nama dari pengelolaan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat di samping gerbang sebelah barat dengan tegas menyebut bahwa komplek ini adalah Makam Sheh Quro. Wallohua’lam bisshawab.*** (diambil dari bujanglanang).

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Monday, March 25, 2019

Ibukota yang ditinggalkan

Purnama di atas Candi Jiwa, Pecandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Apa jadinya bila sang raja meninggalkan istana tempat dimana ia semestinya bertahta? Entahlah!. Dari masa ke masa perpindahan ibukota kerajaan lumrah terjadi di Nusantara, pun perpindahan istana tempat raja berkuasa.
.
Hanya saja raja yg meninggalkan istana tempatnya berkuasa kebanyakan karena telah kalah perang.
.
Konon dulu nya kawasan Batujaya dan sekitarnya adalah ibukota kerajaan Tarumanegara, lalu pindah lebih ke selatan silih berganti penguasa hingga ke Padjajaran.
.
Raja terahir Padjajaran meninggalkan istana karena tak sanggup menahan serbuan Banten. Dikemudian hari Sultan Banten menyerahkan mahkota dan kekuasaannya dengan sukarela kepada raja baru yang berkuasa di Istana Gambir, demi terwujudnya NKRI.
.
Lalu siapa Penguasa di Istana itu selanjutnya ? 

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------ 

Baca Juga 



Suara Rakyat [bukan] Suara Tuhan 


Monday, July 9, 2018

Fenomena air laut menyala di Pantai Tanjung Pakis Karawang

Bio-Luminescence di pantai Maladewa

Ahad 9 Juli 2018 saat berkunjung ke pantai wisata pakis Karawang hingga malam hari, sangat menyenangkan dan begitu menarik menemukan pemandangan baru gelombang laut yang menuju ke pantai bersinar terang kebiru biruan, hijau menyala hingga merah muda menyala, diiringi dentuman suara ombak yang kemudian memecah buih yang bersinar terang itu.

Bukan semata mata hanya dapat dilihat, nyatanya sinar sinar berkilauan itu juga dapat disentuh dengan tangan dan setiap gerakan tubuh di dalam air menimbulkan pancaran cahaya yang berkilau digelapnya malam, memberikan pengalaman bermain main dengan cahaya seakan tokoh dalam film the Avatar. . . . memang butuh tambahan keberanian untuk nyebur ke laut di tengah gelapnya malam untuk menikmati sensasi unik itu.

Malam itu atmosfir di Pantai Wisata Pakis Jaya Karawang memang sedang sangat mendukung, langit bertabur bintang tanpa bulan, beberapa butir bintang tampak lebih besar dan bersinar lebih terang dibandingkan dengan lain nya termasuk sebutir bintang merah yang mencorong menyala terang menggantung diangkasa diantara bintang bintang lainnya.


Sayangnya kamera semi DSLR yang kami bawa tidak mendukung untuk melakukan pemotretan dengan bukaan lebar untuk mengabadikan momen langka itu. foto ilustrasi di atas merupakan fenomena yang sama di pantai republic Maladewa (Maldives) sebauh negara kecil di tengah samudera Hindia.

Fenomena air laut menyala ini dijelaskan mbah gugel secara gamblang sebagai “Fenomena Laut Bioluminescence”. Kata bioluminescence terdiri dari dua bahasa, bio yang artinya hidup dalam bahasa Yunani dan lumen yang artinya cahaya dalam bahasa Latin. Fenomena bioluminescence merupakan salah satu peristiwa yang terjadi ketika makhluk hidup mengalami sebuah reaksi kimia tertentu yang mampu menghasilkan emisi cahaya. Selanjutnya reaksi kimia yang dihasilkan berupa energi cahaya.

Peristiwa ini membuat sebagian laut bersinar dalam gelapnya laut malam. Seolah-olah terdapat ratusan bohlam menyala dari dalamnya. Bioluminescence ditemukan di seluruh biosfer, tetapi hanya pada vertebrata laut, invertebrata dan beberapa jenis tumbuhan. Bioluminescence ditemukan pada makhluk hidup seperti chepalopoda, copepoda, ostracoda, amphipoda, euphausida, beberapa jenis ikan, annelida, plankton, dan ubur-ubur. Di darat bioluminescence ditemukan pada beberapa jenis serangga, kunang-kunang, ulat (glow-worm), kumbang, dan beberapa jenis diptera.

Senja di Pantai Tanjung Pakis Karawang

Penjelasan terjadinya fenomena itu cukup rumit untuk saya fahami, namun demikian nyatanya fenomena itu bahkan sudah dimanfaatkan di dunia medis untuk membantu proses diagnosa, dan kesimpulan saya pribadi fenomena ini tidak membahayakan kesehatan untuk dinikmati langsung, buktinya setelah menceburkan diri ke laut untuk menikmatinya saya masih berkesempatan menuliskannya untuk anda.

Hanya saja teramat sangat menarik bahwa Gugel sama sekali tak menyebut Pantai Pakis Karawang sebagai salah satu tempat yang ditinggali organisme penghasil cahaya laut itu, namun yang disebut adalah Pantai Gili Trawangan (NTB) dan tempat tempat di luar negeri termasuk Teluk Mosquito (Pulau Vieques, Kepulauan Karibia), Teluk Halong (Vietnam), Pulau Vaadhoo (Raa Atoll, Maladewa), Teluk Toyama (pesisir utara Pulau Honshu, Jepang), Marlin Marina (Cairns, timur laut Queensland, Australia), dan Teluk Mission (kawasan San Diego, California).

Penasaran atau malah menganggap saya membual, ya silahkan datang sendiri ke pantai Wisata Pakis Jaya Karawang di malam hari pada saat bulan gelap dan bintang bertaburan. dan lebih indah pada saat pantai sudah sunyi senyap dari pengunjung dan pedagang yang sudah menutup warung dan sebagian lampu penerangan telah dipadamkan***.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Saturday, July 1, 2017

Masjid Syahdu Di Curug Cigentis

Masjid di Curug Cigentis (from my instagram)

Yang merindukan Masjid bernuansa syahdu, adem-nya pol tanpa AC, hening dan sunyi, dikaki gunung, tepi kali, masjid ini kayaknya cocok buat kamu deh. Masjid kecil sederhana di kawasan wisata Curug Cigentis, di kaki gunung Sanggabuwana, Karawang.

Cigentis salah satu tujuan wisata di kabupaten karawang dan memang cocok untuk bertdabur alam disini, menggelar pengajian di alam terbuaka ataupun ber I’tikaf di masjid mungilnya itu. Untuk logistik sih tak perlu khawatir karena pas disebelah masjid itu bahkan ada warung yang buka 24 jam selama masih ada pembelinya.

Artikel terkait bisa dibaca disini lokasi masjidnya ada di peta dibawah ini

Curug Cigentis
Desa Mekarbuana, Kec. Tegalwaru
Kab. Karawang, Jawa Barat



Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------


Baca Juga