Showing posts with label candi. Show all posts
Showing posts with label candi. Show all posts

Monday, March 25, 2019

Ibukota yang ditinggalkan

Purnama di atas Candi Jiwa, Pecandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Apa jadinya bila sang raja meninggalkan istana tempat dimana ia semestinya bertahta? Entahlah!. Dari masa ke masa perpindahan ibukota kerajaan lumrah terjadi di Nusantara, pun perpindahan istana tempat raja berkuasa.
.
Hanya saja raja yg meninggalkan istana tempatnya berkuasa kebanyakan karena telah kalah perang.
.
Konon dulu nya kawasan Batujaya dan sekitarnya adalah ibukota kerajaan Tarumanegara, lalu pindah lebih ke selatan silih berganti penguasa hingga ke Padjajaran.
.
Raja terahir Padjajaran meninggalkan istana karena tak sanggup menahan serbuan Banten. Dikemudian hari Sultan Banten menyerahkan mahkota dan kekuasaannya dengan sukarela kepada raja baru yang berkuasa di Istana Gambir, demi terwujudnya NKRI.
.
Lalu siapa Penguasa di Istana itu selanjutnya ? 

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------ 

Baca Juga 



Suara Rakyat [bukan] Suara Tuhan 


Sunday, May 21, 2017

Candi Jiwa Batujaya Karawang

CANDI DARI BATA. Candi Jiwa di Batujaya, Kabupaten Karawang. Salah satu dari sekian banyak candi yang sudah dipugar di komplek pecandian Batujaya ini.

Candi Jiwa adalah salah satu candi dari susunan batu bata di dalam komplek situs pecandian Batujaya di kecamatan Batujaya kabupaten Karawang provinsi Jawa Barat. Dari sekian banyak catatan dan laporan disebutkan bahwa para arkeolog dan peneliti menduga candi ini dan komplek pecandian Batujaya ini berasal dari peradaban kerajaan Tarumanegara.

Disebut komplek pecandian karena memang di kawasan ini terdapat begitu banyak ditemukan reruntuhan candi dari beragam ukuran dan diperkirakan kawasan ini mencakup luasan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan candi Borobudur sekaligus jauh lebih tua dari candi Borobudur, meski dari ukuran masing masing candi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Borobudur.

  
Warisan Tarumanegara ?

Cukup lama Kerajaan Tarumanegara bertahan dengan status sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa sampai kemudian muncul berita tentang keberadaan kerajaan Salakanagara yang berpusat disekitar Pandeglang provinsi Banten yang “konon” eksis di abad ke 2 masehi, meskipun tak bertahan lama setelah pusat kekuasaan bergeser ke timur di muara sungai Citarum di daerah yang kini ditemukan situs pecandian Batujaya, dan kemudian berubah nama menjadi Tarumanegara.

Sesuai dengan namanya “Tarumanegara” yang mengandung kata “Tarum” diperkirakan wilayah kerajaan ini memang berpusat disekitar kali Citarum yang kini menjadi batas alami antara kabupaten Karawang di timur dan kabupaten Bekasi di sisi barat-nya. Hanya saja belum ada yang berani dengan pasti mengatakan bahwa nama “TARUManegara” itu mengambil nama dari kali ciTARUM atau justru sebaliknya.

Ketika dulu pertama kali dilakukan proses penggalian total untuk di pugar, di sekitar lokasi ini ditemukan serakan tulang belulang manusia dan menjadi tambahan pertanyaan tentang penyebab kematian mereka, belum lagi setumpuk pertanyaan tentang candinya belum terjawab, sebagian kecil pertanyaan yang sudah terjawab pun masih belum tuntas dan pasti.

DITENGAH PESAWAHAN. Sampai saat ini, situs candi Jiwa di kabupaten Karawang ini masih di lingkungan asinya sejak pertama dipugar. Di lingkungan pesawahan yang menghijau, karena toh kabupaten Karawang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Tempat Sembah Hyang ?

Obrolan ringan sesama pengunjung yang datang kesorean ke lokasi ini, salah satunya pengunjung dari Taiwan ditemani guide-nya (atau bahkan mungkin pacarnya) muncul dugaan bahwa di puncak candi ini dulunya terdapat “sesuatu” yang sakral. Candi Jiwa ini dibangun dari susunan batu bata, berdenah segi empat, ber-orientasi Barat Daya – Timur Laut dan Barat Laut – Tenggara.

Bagian atas candi memang sekilas pandang tampak terpotong, ada pola kelopak kelopak bunga pada denah bagian atas nya itu, “entah apa” yang dulu berada di tengah tengah pola tersebut. Dari bentuknya, candi Jiwa memang seperti sebuah tatakan bagi sesuatu. Hanya saja menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah perginya bagian atas candi itu ?. Di sekitar lokasi sejauh ini tak ditemukan puing atau sesuatu yang sekiranya bagian yang terpenggal itu.

Akankah “benda” di puncak candi itu adalah sesuatu yang merupakan simbol ketuhanan (Sang Hyang) peradaban saat itu, dan terbuat dari bahan berharga sehingga “raib” dari lokasi menjadi “korban jarahan” hingga lenyap dari lokasi ?.

Tatakan yang kehilangan yang ditataki

Berawal Dari Unur Jiwa

Obrolan sambil ngopi tengah malam dengan pemilik warung kopi yang juga salah satu warga asli sekitar candi ini menelurkan kisah beliau yang “dulu waktu itu sekitar tahun 1970-an, dibayar untuk melakukan pekerjaan aneh, menggali lokasi keramat di Unur Jiwa itu”. Disebutnya aneh karena harus menggali dengan ukuran petak petak tertentu.

Setelah menggali tak terlalu dalam, mereka disusuruh istirahat sambil menunggu orang orang ber-kuas masuk ke dalam petak galian, mengorek ngorek tanah dengan sapuan kuas, motret sana sini, nulis nulis dan menggambar di kertas kosong. pekerjaan berlangsung beberapa hari.

Di ujung cerita mereka justru di suruh nutup lagi lubang bekas galian dengan tanah bekas galian. Lokasi itu kemudian dipagar bambu, dipasang plang peringatan yang intinya ‘dilarang mengganggu, mengusik, memindah apapun yang ada disana’. Kala itu mereka dibayar sekitar Rp. 150 sampai Rp. 200 perorang perhari, harga yang cukup tinggi dengan nilai rupiah saat itu. Pekerjaan lumayan mahal yang cukup aneh toh.

Muka tanah tempat candi jiwa ini berdiri sedikit lebih rendah dibandingkan dengan paras tanah disekitarnya, sehingga biasa bila di musim hujan, pelatarannya tergenang air. 

Masih menurut tuturan beliau itu, sebelum ada gawean gali menggali itu, memang ada beberapa orang yang wara wiri ke lokasi itu. Salah satu yang masih beliau ingat adalah seorang perempuan paruh baya yang kabarnya adalah “orang pintar” dari Jawa yang datang kesana berdasarkan wangsit. Dan tak lama setelah itu datang serombongan orang orang dari Jakarta yang ngasih mereka gawean gali menggali itu.

Sebelum dilakukan penggalian total dan pemugaran, situs Candi Jiwa ini hanya berupa gundukan tanah tinggi dipenuhi pepohonan perdu dan banyak ularnya di tengah tengah pematang sawah yang menghampar luas. Tanah tinggi seperti itu dalam Bahasa setempat disebut Unur. karena banyak unur, maka masing masing unur itu diberi nama, dan unur yang satu ini disebut Unur Jiwa, saat itupun memang banyak ditemukan batu bata berukuran tak normal disekitar lokasi,

Nah, kenapa di kasih nama Unur Jiwa ?, ane lupa bagian yang ntu, entah waktu itu lupa nanya ke beliau atau memang ane yang ude lupa bahwa waktu itu lupa nanya. Hadeuh. Tar dah Insya Allah kapan kapan kalau balik lagi ke lokasi dan ketemu lagi sama orangnya, saya tanyain lagi. Kalau gak ketemu orangnya mungkin nanti sekalian tak tanyain ke tumpukan bata candi-nya, kali aja di jawab.*** https://goo.gl/p0l11E

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------


Baca Juga


Saturday, May 20, 2017

Situs Telagajaya VIII Karawang

STJ VIII atau Candi Sumur Kono di desa Telukbuyung, kecamatan Pakisjaya, kabupaten Karawang.

Situs Telagajaya VIII adalah salah satu situs arkeologi yang ada di komplek Pecandian Batujaya, Karawang. Tak banyak yang bisa ditemukan di situs peninggalan sejarah yang satu ini, sesuai dengan namanya, Situs Telagajaya VIII ini berupa sebuah telaga di tengah pematang sawah dengan airnya yang jernih.

Belum tahu pasti nama asli dari situs ini, para arkeolog yang memberinya nama situs Telagajaya VIII berdasarkan nomor urut situs yang ditemukan, dan sebelumnya juga situs ini secara administratif merupakan bagian dari desa Telagajaya sebelum kemudian dimekarkan dan kini masuk ke dalam wilayah desa Telukbuyung. Dan belum diketahui secara pasti juga dari peradaban mana candi ini berasal, meski disebut sebut bahwa candi ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara sama seperti situs Batujaya lainnya.

Situs Telagajaya VIII (TLJ VIII)
Kampung Gunteng Desa Telukbuyung
Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang.
Jawa Barat, Indonesia


Sementara masyarakat setempat menyebutnya Candi Sumur Kuno, merujuk kepada telaga yang ada disana. Ditemukan pada saat sedang penelitian di situs TLJ V pada tahun 1989. Evakuasi di lakukan Tim UNTAR dan Jurusan Arkeolog FSUI yang menanpakan sisa bagian bawah sebuah bangunan  candi berdenah segi empat, berukuran 6x4m pada kedalaman sekiar 10 cm dari permukaan tanah sawah.

Candi ini mempunyai sebuah tangga naik yang terletak di bagian depan yaitu di sisi timur laut. Tangga ini sudah sangat hancur dan pada bagian tengah terdapat sebuah sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 1,50x1,50m. Sumur ini di temukan dalam keadaan sudah di gali secara liar, dan sudah terisi tanah bercampuran pecahan bata.

Ini Candi Sumur Kuno yang dimaksud.

Bagian bawah merupakan sisa bagian fondasi yang masih setinggi  1,30m yang terdiri dari 20 lapis bata. Dengan profil rata tidak berpelipit, Di situs ini di tempukan pula pecahan-pecahan gerabah, berupa gerabah hias gores di sekitar struktur fondasi. Situs TLJ VIII kini sudah masuk ke dalam daftar cagar budaya dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang.


Di sebelah utara situs ini terdapat beberapa peninggalan dari masa lalu yang berserakan, beberapa sudah diberi identifikasi untuk dilakukan penelitian di kemudian hari, belum lagi yang masih tertimbun dan belum di gali. Situs Pecandian Batujaya ini ditengarai sangat luas melebihi luas komplek Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan jauh lebih tua dari candi terbesar tersebut.***

Airnya jernih dan dimusim kemarau pun tetap mengeluarkan air
STJ VIII (kanan) diantara pesawahan di desa Telukbuyung

Monday, August 11, 2014

Ketika Gerhana Jatuh di Mendut

Posisi Candi Borobudur, candi Pawon dan Candi Mendut.

Indonesia memang negeri yang kaya raya dengan peninggalan peradaban masa lalu. Sampai sampai salah satu penulis amerika mengatakan bahwa “jika sorga itu ada dibumi, pastilah ia ada di Indonesia, karena Indonesia adalah sumber peradaban masa lalu. 

Candi Borobudur, Pawon dan Mendut merupakan tiga dari peninggalan peradaban lalu yang terus dikaji oleh para peneliti dan pemerhati sejak pertama ditemukan dan tak pernah usai hingga kini. Tiga candi yang saya sebut itu lokasinya berjejer lurus satu sama lainnya dengan jarak dari Borobudur hingga ke mendut sekitar 3KM dan Candi Pawon ada di tengah tengahnya.

candi Borobudur
Menentukan bagaimana dan siapa sebenarnya pembangun Borobudur dan candi candi lainnya itu saja masih menjadi kontroversi. Ketika menyadari bahwa ketiga candi tersebut dibangun berjejer lurus pun kemudian muncul pertanyaan baru, bila memang sengaja dibangun sejajar, lalu bagaimana para pembangunnya itu menentukan titik koordinat tiga candi tersebut untuk memastikannya benar benar berdiri dalam garis lurus ?.

Candi Pawon
Kemungkingan termudah untuk menarik garis lurus antara beberapa titik adalah dengan melihatnya dari ketinggian. Lalu siapa yang mampu menempatkan dirinya di ketinggian yang cukup di masa itu ? atau alat apa yang mereka gunakan untuk itu ?. Lalu untuk apa dibangun berjejer dalam garis lurus.

Candi Mendut
Ada teori yang menyatakan bahwa pembangunan tiga candi ini berjejer layaknya jejeran Matahari, bulan dan Bumi. Dari segi ukuran bisa jadi Borobudur adalah mataharinya, Pawon sebagai bulan dan Mendut sebagai Bumi, dan kesejajaran itu hanya terjadi di peristiwa gerhana matahari. 

Apa hubungannya tiga candi itu dengan gerhana matahari ?. Hmm bumi akan gelap pada saat peristiwa gerhana matahari total, apa hubungan gelap dengan Candi Mendut. Lalu pertanyaan lanjutannya adalah ; ada apa di Candi Mendut pada saat peristiwa gerhana matahari benar benar terjadi ?.

Wednesday, July 23, 2014

Tanda Tanya di Istana Ratu Boko

Gerbang Istana Ratu Boko
Awalnya komplek istana ini bernama Abhyagiri Wihara kemudian berubah menjadi Keraton Walaing, dan kemudian berubah menjadi komplek istana Ratu Boko terkait dengan Legenda Loro Jonggrang tentang berdiri ‘secara ajaib’-nya Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah "gadis langsing".

Situs Ratu Boko adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Situs Ratu Boko terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut, dengan luas  keseluruhan sekitar 25 ha. Sejarah Istana Ratu Boko memang belum diketahui dengan pasti, sejauh ini sejarah yang ada didasarkan temuan arkeologis dari lokasi dan cerita tutur yang berkembang di masyarakat.


View Ratu Boko in a larger map

Menurut Prasasti Abhayagiri Wihara diperkirakan dari tahun 792 M yang ditemukan dilokasi menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran setelah dia mengundurkan diri dari kepemimpinannya untuk berkonsentrasi para bidang religi, serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara "wihara di bukit yang bebas dari bahaya".

Rakai Panangkaran adalah tokoh yang disebut sebut membangun Candi Borobudur, Candi Sewu serta candi Kalasan semasa ia masih berkuasa. Di dalam sejarah kerajaan Sunda (Pajajaran) disebutkan bahwa Rakai Panangkaran adalah anak dari Sanjaya (Raja Sunda ke 2, sekaligus sebagai raja Kalingga), dia juga merupakan cicit dari Tarusbawa (Raja Pajajaran pertama), dan adik se-ayah dari Tamperan Barmawijaya / Rakeyan Panaraban (Raja Pajajaran ke 3).

Sepeninggal Rakai Panangkaran, komplek yang dibangunnya kemudian berubah menjadi komplek keraton yang dilengkapi dengan benteng pertahanan dimasa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbayoni dan dikenal sebagai Keraton Walaing. Sedangkan nama ratu Boko sendiri berasal dari legenda Loro Jonggrang yang berkembang di masyarakat setempat secara turun temurun.  Ratu Boko (Raja Bangau) adalah ayah dari Loro Jonggrang.


Di situs istana Ratu Boko ditemukan peninggalan peninggalan yang berhubungan dengan Budha maupun Hindu. Termasuk didalamnya ; Dyani Budha, Stupika, Terakota, plakat perak dan emas yang berisi inkripsi Budha. Namun di lokasi ini juga berdiri candi Hindu dalam ukuran kecil termasuk Yoni dan patung Durga, Ganehsa dan plakat inskipsi tentang Rudra, nama lain dari Dewa Siwa.

Di komplek situs ini juga terdapat jejeran gerbang utama yang masih utuh, dua gua kecil atau ceruk pertapaan, fondasi bangunan istana, ruang paseban, pendopo, pringgitan, keputren, serta kolam kolam penandian. Salah satu kolam yang paling terkenal dan merupakan kolam air suci bagi ummat Hindu yakni Kolam Amerta Mantana.

Cerita lain tentang sejarah Istana Ratu Boko ini muncul dari laporan yayasan turangga seta yang melakukan penelitian berbasis menyan, dan berkesimpulan bahwa sesungguhnya yang dimaksud Ratu Boko tak lain adalah Ratu Balqis, istri dari kanjeng nabi Sulaiman a.s. Dan Candi Borobudur sebenarnya adalah singgasana Ratu Balqis atau Ratu Boko yang dipindahkan dalam waktu kurang dari sekejap mata oleh Asip Bin Barqia dari lokasi aslinya yang kini dikenal sebagai situs Istana Ratu Boko yang tinggal fondasinya saja. Wallohua’lam.
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga