Thursday, November 27, 2014

Sakura Bersemi di Pulau Batam

Sakura di sisi ruas jalan utama Muka Kuning - Batam. di latar belakang adalah menara Masjid Nurul Islam, Kawasan Industri Batamindo - Muka Kuning.
Sakura memang tekenal sebagai Ikon nya Jepang, meski bunga ini juga telah menyebar ke berbagai penjuru dunia dan keindahan mekarnya sakura juga sudah bisa dinikmati di luar Jepang seperti di Washington DC dan beberapa kota dunia lainnya. Sebagian kecil bunga jenis ini sekian tahun lalu ditanam oleh pengelola Kawasan Industri Batamindo – Muka Kuning Batam di dalam kawasan industri tersebut.

Jejeran pohon pohon ‘sakura’ tersebut sebagian besar ditanam di sekitar pintu dua kawasan Muka Kuning hingga ke pekarangan sekeliling Masjid Nurul Islam – Muka Kuning, Batam. Dan kini pohon pohon itu mulai berbunga, sangat indah menghadirkan suasana baru di antara panasnya cuaca Batam. Masjid Nurul Islam ini memang masjid utama dan pertama di Kawasan industri Batamindo. Meriah dan makmur jemaah sejak pertama kali berdiri dan kini semakin semarak dengan kehadiran bunga bunga yang bermekaran itu.

Sakura di halaman Masjid Nurul Islam - Muka Kuning, Batam
Saya punya kenangan khusus dengan masjid ini. Sekitar awal tahun 1996 hari itu Hari Jum’at seperti hari ini. Cuaca cerah saat saya dan seorang teman berangkat ke masjid ini. tiba disana, bagian dalam masjid sudah penuh sesak begitupun halamannya, mau tak mau kami berdua kebagian tempat di luar masjid tepatnya di halaman rumput sebelah selatan masjid. Cuaca masih cerah saat khutbah dimulai dan perlahan mendung menjelang khutbah berahir.

Dan benar saja, mendung makin pekat saat sholat akan dimulai. Takbir pertama, guntur menggelegar hujan turun mendadak begitu deras dan lebih deras lagi air yang mengguyur kepalaku yang berdiri tepat dibawah cucuran atap masjid. Sekujur tubuh basah kuyup sejak rokaat pertama dan setiap kali sujud harus menahan nafas karena hamparan sajadah yang tergenang air hujan. Usai sholat, sesama jemaah yang kebagian sholat diluar sepertiku tidak hanya saling besalaman tapi juga saling ledek karena sama sama basah kuyup. Itu salah satu momen tak terlupakan di Masjid Nurul Islam yang satu ini. 

Sakura di sisi ruas jalan utama Muka Kuning - Batam. di latar belakang adalah menara Masjid Nurul Islam, Kawasan Industri Batamindo - Muka Kuning.
bermekaran di depan masjid Nurul Islam
santai dulu ah. . . .



Monday, November 24, 2014

Mencerna Legenda Curug Cigentis dan Sanggabuana

CURUG CIGENTIS - KARAWANG
Tempat Mandi Putri KeratonItu adalah kesimpulan yang menurutku paling sreg yang dapat kutulis dari legenda curug Cigentis yang dipampang di pos Perhutani di Curug Cigentis. Curug dalam bahasa Sunda berati Air Terjun. Sedangkan nama Cigentis (juga menurut legenda) adalah nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nu Geulis Nyi Geuntis. Konon dia adalah anggota pasukan khusus kerajaan Padjadjaran yang di utus oleh raja untuk mengawal atau lebih tepatnya ‘menguntit dan mengawasi’ aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para wali di wilayah Padjadjaran, tapi kemudian malah menjadi yang pertama berikrar memeluk Islam diantara anggota kesatuannya.

Curug Cigentis merupakan salah satu wana wisata yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, KPH Purwakarta Seluas 5,00 ha terletak di petak 47 c RPH Cigunungsari, BKPH Pangkalan, Secara administratif pemerintahan terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, berada pada 6°35 LS dan 107°12” BT, ketinggian tempat 600-1200m dpl dengan konfigurasi lapangan berupa pegunungan, bergelombang kelerengan agak curam s/d curam. Jarak kota kabupaten Karawang ±40Km dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sedangkan dari daerah Bogor dapat melalui Cariu.

Legenda Curug Cigentis (klik untuk memperbesar)
Kendaraan apapun yang anda pakai ke wanawisata satu ini, pada ahirnya haruslah tetap berjalan kaki dari pos perhutani menuju ke air terjun ini sekitar 200 meter. Jalanan menuju ke lokasi sebagian besar sudah di cor beton. Tersisa sekitar 1.5 km yang masih berupa jalan berbatu keras dan menanjak cukup ekstrim. Bila malas berjalan kaki, beberapa penduduk setempat menyediakan jasa ojek hingga ke lokasi parkir motor terahir beberapa meter dari pos perhutani. Namun naik ojekpun harus punya nyali mengingat tanjakan yang dilalui memang cukup ekstrim.

Mari kita cerna

Di pos perhutani tempat membeli tiket masuk seharga Rp. 10 ribu per orang, sudah dipampang spanduk besar yang menceritakan legenda tentang curug Cigentis. Lumayan untuk sekedar menambah pengetahuan. Meskipun legenda yang ada memang terlalu banyak celah untuk dikomentari. Silahkan bersabar untuk melanjutkan membaca ulasannya berikut ini sampai tuntas, untuk menemukan celah celah yang saya maksud. Mari kita cermati, Legendanya begini :

“Beberapa ratus tahun yang silam pasinggahan (Sekarang Curug Cigentis) adalah hutan belantara yang kering/kekurangan air, merupakan salah satu daerah kekuasaan Prabu SIliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa.

Bila dibaca dengan baik rasanya terlalu janggal bila hutan belantara dalam kondisi kering/kekurangan air. Bagaimana mungkin tanaman akan tumbuh apalagi sampai menjadi hutan belantara bila kekurangan air. Legenda itu memberikan berita bahwa hutan di gunung Sanggabuana sudah ada sejak beberapa ratus tahun silam. Walaupun mungkin belum ada aliran sungai yang kini membentuk curug cigentis.

Lalu Siapakah itu “Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa”?. Ahli sejarah memang terbagi dua pendapat tentang Prabu Siliwangi. Pendapat pertama mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya satu yakni Sri Baduga Maharaja. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada banyak karena itu adalah gelar bukan nama seseorang dan bukan hanya Sri Baduga Maharaja yang bergelar Siliwangi. Hanya saja, saya tidak menemukan Nama Prabu Sukma Rasa diantara jejeran nama Raja Padjadjaran. Mungkin yang dimaksud adalah Raden Pamanah Rasa (karena ada kata “Rasa”) yang merupakan nama lain dari Sri Baduga Maharaja.

Pada masa penyebaran Islam di Pulau Jawa Oleh Wali Songo, Curug Cigentis merupakan salah satu tempat yang disinggahi, daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu. Walaupun sebelumnya telah meminta ijin tetapi Prabu Siliwangi mempunyai kecurigaan kepada para wali (6 orang wali) tersebut, dikhawatirkan akan merebut kekuasaan, untuk mengawasi gerak gerik wali tersebut, Prabu SIliwangi tetap mengijinkan tetapi menyertakan pengawal yang sebenarnya telah di bai’at (doktrin) setia dengan alasan sebagai pengawal para wali.”

Dengan mudah anda akan bertanya, WaliSongo itu ada sembilan atau 6 orang sih?. Baiklah kita anggap saja bahwa dari sembilan wali yang ada hanya enam orang yang terlibat dalam legenda tersebut. Hanya saja, agama masyarakat Sunda adalah Agama Sunda Wiwitan bukan agama Hindu. Tapi baiklah bisa jadi di daerah Cigentis dimasa itu penduduknya beragama Hindu, jadi wajar bila kemudian para pengawal wali itu tak terlalu keberatan para wali berdakwah disana karena toh agama yang dianut bukan agama mayoritas. Bila itu benar maka semestinya di sekitar Cigentis terdapat peninggalan era Hindu berupa candi atau lainnya. Yang ada saat ini disekitar Cigentis justru situs batu Tumpang tak jauh dari Curug Peteui yang lebih mirip sebagai peninggalan masa animis ataupun megalitikum.

“Curug Cigentis pada saat itu merupakan daerah yang kering tidak ada air sama sekali, guna keperluan hidup dan beribadah para wali berdo’a bermunajat memohon dengan penuh kepasrahan, khusu’ serta penuh kesabaran, atas kekuasaan Tuhan YME dari sebuah batu yang besar keluarlah air, membentuk sebuah air terjun (Curug). Orang orang yang berada pada lokasi tersebut serentak merasa kaget, sekaligus kagum dan suka cita, tidak terkecuali para prajurit Prabu Siliwangi yang ditugaskan mengawal para wali tersebut. Salah satu pengawal yang bernama “Nu Geulis Nyi Geuntis” secara spontan “berikrar” masuk agama Islam. Karena beberapa hari tidak mandi dan kekurangan air, Nyi Geuntis sari sambil sambil mengucapkan kalimat mengagungkan Tuhan (Allohu Akbar 3X) langsung terjun dan mandi pada Curug tersebut. Melihat hal tersebut, maka para wali menamakan curug tersebut dengan “Curug Cigentis”

Sebenarnya para wali, para pengawalnya dan orang orang yang mengikuti mereka itu, berkumpul dibagian mana sih?.  Di tempat yang kini jadi air terjunnya, atau di dekat batu besar yang mengeluarkan air?. Bila mereka berkumpul di dekat batu besar yang mengeluarkan air berarti lokasinya berada di bagian atas dari Curug Cigentis saat ini, berarti “Nu Geulis Nyi Geuntis” itu adalah pengawal sakti yang mampu terjun dari bagian atas curug setinggi lebih dari 20 meter untuk mandi pada curug tersebut.

Bila memang air yang mengalir di Curug Cigentis berasal dari sebuah batu besar semestinya hingga hari ini pun batu besar yang mengeluarkan air tersebut masih dapat kita temui disana, faktanya curug cigentis berasal dari air aliran sungai kecil yang terbentuk dari begitu banyak mata air di Gunung Sangga Buana, yang melewati tebing curam hingga membentuk air terjun. Atau jangan jangan batu besar yang dimaksud adalah gunung sanggabuana itu sendiri.

“Melihat apa yang dilakukan Nyi Geuntis Sari pengawal yang lain pun ikut masuk Islam yang dipimpin salah satu wali yang bernama Kyai Bagus Sudrajat antara lain Putri Komalasari, Putri Melati, Putri Cempaka, Putri Sri Dayang Sari, Putri Sri Kunti, Putri Kaling Buana, Ibu HArum Sari, Ibu Harum Melati, Putri Malaka Mekah, Putri Malaka Hujan, Putri Rangga Huni, Resi Taji Malaka, Ganda Malaka, Guntur Roma, Rd. Jaka Tunda dan Masyarakat lainnya.”

Diantara para pembaca adakah yang bisa membantu saya untuk menjelaskan siapakah anggota walisongo yang bernama Kyai Bagus Sudrajat itu. Karena dibagian awal tadi disebutkan bahwa ‘para wali’ yang dimaksud adalah walisongo?.

Bila mengamati nama nama para pengawal wali itu. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai ‘Para Penggoda Wali” bukan “pengawal wali”.  Bagaimana tidak, dari 15 nama yang disebut itu 12 diantaranya adalah perempuan dan 9 diantaranya bergelar Putri. Yang namanya putri pastinya cantik, mustahil ganteng dong.

Hei, itu aku
“Disekitar lokasi tersebut terdapat sebuah bukit yang sering dipakai pertemuan oleh para wali sehingga lokasi tersebut sampai saat ini dikenal dengan puncak sanggabuana. Sangga = sembilan menandakan wali sembilan dan ‘Buana” = tempat dimana lokasi tersebut sering dipakai berkumpul dalam penyebaran agama ke daerah Cirebon, Demak, Kudus, Banten, Garut, Pemijahan Tasikmalaya, dan lain lain. Konon yang membagi bagikan tugas tersebut adalah Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani.

Salah satu petuah pawa wali yang menjadikan daerah tersebut berkeramat adalah ‘ikuti jejak kami’ kalau kita mempunyai maksud dan tujuan tetap meminta kepada Allah SWT (dari berbagai sumber)”.

Pada alenia ini terkesan terlalu dipaksakan untuk menghubungkan puncak Sanggabuana dengan Walisongo. Sangga dan Sanga memiliki makna yang jelas berbeda. Sangga bermakna penopang, sedangkan Buana atau Buwana bermakna Dunia atau semesta. Fakta menunjukkan bahwa Gunung Sanggabuana di Karawang merupakan titik tertinggi di wilayah Karawang. Bisa jadi disebut dengan nama Sanggabuana (penopang dunia) karena faktor tersebut.

Lebih menarik lagi dalam legenda itu disebutkan nama Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani yang membagi bagikan tugas kepada para wali(songo). Mungkin yang dimaksud adalah Abdul Qodir Jailani (1077–1166 M). Hanya saja beliau tak sejaman dengan walisongo.

Dan dari paparan legenda itu saya hanya mampu mempuat kesimpulan yang menurutku paling sreg bahwa Curug Cigentis itu legendanya adalah tempat mandinya putri keraton. Yang sedangkan bagian lain dari legendanya justru lebih menarik untuk di diskusikan ulang. Atau mungkin ada yang berminat untuk mulai menggali lebih jauh legenda itu, termasuk kemungkinan untuk menemukan sebuah candi Hindu di sekitar Cigentis dan Sanggabuana. Siapa tahu. 

Wednesday, November 19, 2014

Stasiun Gelumbang Jilid 2

Stasiun Gelumbang sekitar tahun 1926, siapakah gerangan mereka?
Halo bro, kita balik lagi ke stasiun Gelumbang, melanjutkan posting sebelumnya yang berjudul Stasiun Gelumbang Juni 1926. Kali ini ada selembar foto ke dua tentang stasiun Gelumbang dari COLLECTIE_TROPENMUSEUM, di ambil dari wikipedia. Foto itu berjudul Loket en perron van een spoorwegstation.

Foto satu ini sepertinya berumur sedikit lebih muda dari foto sebelumnya meski kemungkinan masih di tahun yang sama (tahun 1926). Perhatikan pada bagian papan pengumumannya. Pada foto pertama hanya terdapat empat lembaran yang dipajang disana. Lalu di foto kedua ada lembaran berikutnya yang dipasang diatas ke-empat lembaran sebelumnya.

Memperhatikan sudut pemotretannya, foto kedua ini sepertinya diambil oleh seseorang dari atas kereta. Bisa jadi pemotret adalah penumpang dari kereta yang sedang berhenti atau melaju sangat lambat disana. Mengingat bahwa foto yang dihasilkan bersih dari objek yang terdistorsi karena laju kendaraan si pemotret.

Foto ini juga tidak diambil oleh seseorang yang sedang berada di bagian lokomotif. Karena pada saat kereta berhenti di satu stasiun, lokomotif nya akan berada jauh dari area tunggu penumpang atau area loket penjualan tiket.

Menariknya lagi, kalaulah foto ini dibuat oleh seorang penumpang kereta dari sebuah kereta penumpang (bukan kereta barang), maka dipastikan kereta tersebut bukanlah kereta yang dinanti oleh tiga pria yang sedang duduk berjongkok di stasiun itu. Gestur-nya tak menunjukkan orang yang akan menaiki kereta tersebut.

Mungkin kereta yang berhenti itu adalah kereta yang bukan kelasnya kaum pribumi, mungkin di jaman itu (masih) ada pengelempokan Londo dan Inlander, ataupun mungkin 3 pria pribumi itu memang tidak mampu membeli tiket kereta tersebut karena terlalu mahal ataupun mungkin-juga mereka ber-3 tak sudi naik kereta bergabung dengan para Londo. Entahlah. Atau malah mereka ber-3 sekedar nongkrong di stasiun sambil ngobrol menikmati rokok tembako kawung yang dalam lidah orang Gelumbang disebut “Rokok Deun”.

Satu hal yang pasti, bahwa saya belum tahu, siapa gerangankah tida pria yang lagi santai itu. Belum tahu juga apakah gerangan objek seperti kurungan singa di belakang mereka itu, memangnya di Gelumbang pernah ada singa?. Apakah itu properti stasiun kereta, atau barang bawaan tiga pria itu, entahlah.

Foto itu setidaknya sudah berumur 88 tahun, rasanya kecil kemungkinan bila 3 pria itu saat ini masih hidup. Bahkan anak anak yang ada di belakang mereka itu pun bila masih hidup saat ini pastinya sudah sepuh. Atau bisa jadi dari salah satu yang membaca tulisan ini dapat mengenali orang orang dalam foto itu sebagai karuhun mereka, hingga kisah selembar foto itu akan semakin panjang. Siapa tahu.


Monday, November 17, 2014

Stasiun Gelumbang Juni 1926

Stasiun Gelumbang, Juni 1926
Sulit sekali untuk menemukan foto foto sejarah Gelumbang. Untuk yang belum tahu, Gelumbang itu adalah nama kelurahan di kecamatan Gelumbang, (masih) berada di dalam kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Itu Kampung halaman-ku.

Dengan memasukkan beragam varian nama Gelumbang, Glumbang, Geloembang, Gloembang ke kolom pencarian mbah google hasilnya nyaris nihil. Hasilnya hanya menemukan dua lembar foto. Salah satunya adalah foto diatas itupun tanpa penjelasan yang memuaskan.

Usut punya usut tentang siapakah para menir yang ada di dalam foto itu dijelaskan di situs keluarganya stevels yang menjelaskan tentang silsilah keluarga mereka satu persatu. Dan disebutkan bahwa yang ada di dalam foto diatas adalah sebagai berikut :

Juni 1926 Koleksi milik KITLV.
Stasiun Kereta Api Milik Negara Geloembang di Palembang, Sumatra Selatan
Dari kiri: A.J.G. Stevels (Kepala Administratur Tebenan), H. G. Supplies, Kuiper, Schrieke and N.A.F. Grundlehner (perwakilan dari Advoland Consultancy for Agricultural Affairs)

A.J.G. Stevels menikah dengan Jannetje Margaretha Hendrika Louise Pitters yang lahir di Fort de Kock pada tanggal 22 February 1895, dan wafat di tahun 1930, dia sempat berada di Kamp Kramat sebagaimana dijelaskan dalam registrasi Kamp Kedoengbadak, kemudian tinggal di den Dolder dan tidak memiliki keturunan. [i]

Situs itu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Termasuk jadi diri empat Belanda lainnya itu, dalam rangka apa dia ke sana, atau sekedar singgah dan sebagainya. Apakah mereka sedang dalam perjalanan dinas mengingat beliau (Pak Stevel) dalam foto itu juga bersama dengan konsultan urusan pertanian.

A.J.G Stevels disebutkan sebagai Administratur Tebenan. Tebenan adalah salah satu Unit Usaha Perkebunan milik Belanda di Banyu Asin (Sumatera Selatan) yang bergerak di bidang Perkebunan Karet yang (kini) berlokasi di Desa Suka Mulya Kecamatan Betung Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Unit usaha tersebut dikemudian hari setelah Indonesia Merdeka di-Nasionalisasi kedalam perusahaan milik negara PT. Perkebunan Nusantara 7 (PTPN 7) yang berkantor pusat di Bandar Lampung. [ii]

Anda punya cerita lain tentang Gelumbang tempo doeloe ?. bagi bagi donk.

Thursday, October 30, 2014

PESAN ‘SEJUK’ DARI PANIIS SINGKUP

Objek Wisata Paniis Singkup

Dalam bahasa Sunda Paniis berarti pendingin dan singkup berarti alat atau peralatan. Lalu seperti apa paniis singkup itu. Paniis Singkup adalah kawasan wisata yang secara administratif berada di dalam wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meskipun begitu bila kita dari arah Jakarta melalui jalur pantura, lokasi wisata ini lebih mudah dicapai dari pusat kota Cirebon.

Sesuai dengan namanya kawasan wisata ini memang lumayan sejuk. Wisata andalannya adalah wisata sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai. Sebagaimana sungai yang bersumber dari gunung, air sungai di Paniis singkup inipun jernih, bening dan tentu saja terasa sejuk dan menyejukkan.

Dikawasan in juga tersedia kamping ground, kolam renang yang bersumber dari sungai yang sama dan tentu saja kawasan sungai terbuka tempat para pengunjung berbasah basah ria di alam terbuka. Perusahaan daerah air minum setempat juga membangun penampung air baku di tempat ini dan tentunya tak perlu repot repot untuk melakukan penjernihan.

Kabar angin menyebutkan bahwa air sungai di Paniis Singkup ini dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mandi disana. Benarkah begitu ? satu hal yang pasti bahwa mandi adalah salah satu prosesi penyucian raga, bagian dari proses menjaga kebersihan diri, sesuatu yang sangat ditekankan syariat agama.

Ramai pengunjung di hari libur, baik oleh rombongan berseragam sekolah, muda mudi, hingga keluarga yang sengaja datang berlibur ke tempat ini. Tempat parkir nya cukup memadai, warung makan berjejer di sekitar lokasi dengan harga yang cukup wajar.

MENYEJUKKAN HATI DI PANIIS SINGKUP

Paniis Singkup dapat dicapai dari Matangaji (baca posting sebelumnya) dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Perjalanan dimulai dari Matangaji karena (dimasa lalu) kedua tempat ini memang memiliki keterkaitan satu dengan lainnnya. Menjejakinya dari Matangaji seolah merunut rangkaian perjalanan sejarah Cirebon dan dakwah di Jawa Barat.

Di Paniis Singkup memang tak ada bangunan bersejarah dari masa lalu yang dapat di identifikasi sebagai peninggalan sejarah. Butuh ‘radar’ bersinyal kuat untuk sekedar menemukan serpihan masa lalu yang terserak di bentara alam di lokasi wisata ini. dan tentu saja butuh sumber sejarah untuk merangkainya menjadi sesuatu.

Fatahillah atau Fadhilah Khan atau Tubagus Pasai atau Kyai Bagus Pase atau Falatehan,  Laksanama Kesultanan Demak, di utus oleh sultan Demak untuk membawa pasukan perang-nya bergabung dengan pasukan Cirebon dalam misi penaklukan Portugis di Sunda Kelapa.

Di Cirebon beliau ditunjuk oleh Syarif Hidatullah (Sunan Gunung Jati) untuk memimpin pasukan gabungan tersebut membebaskan Sunda Kelapa dari Jajahan Portugis, Maulana Hasanudin (Putra Syarif Hidayullah) dari Banten turut membantu penyerbuan itu, Fatahillah berjaya menaklukkan Sunda Kelapa dan mengubah nama bandar itu menjadi Jayakarta (Kota Kejayaan).

Paska kemenangan itu Fatahillah menjadi Penguasa pertama di Jayakarta, Banten melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran lalu membentuk kesultanan, dan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi Sultan pertama. Dikemudian hari kota yang ditaklukkan oleh Fatahillah itu berubah menjadi Jakarta, Ibukota Republik Indonesia dan hari penaklukkan itu diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Fatahillah kemudian memilih kembali ke Cirebon dan menyerahkan kendali pemerintahan Jayakarta kepada Tubagus Angke. Di Cirebon beliau malah diserahi tugas sebagai pemangku jabatan Sultan Cirebon oleh Syarif Hidayullah yang ingin melanjutkan dakwah Islam tanpa terbebani oleh Jabatan Politik sebagai Sultan Cirebon. Kala itu putra mahkota masih teramat belia untuk diangkat menjadi Sultan.

Catatan sejarah tak menyebutkan dengan jelas perjalanan Syarif Hidayatullah dalam misi dakwah tersebut. Meski demikian dari rangkaian peristiwa awal mula dakwah beliau di Cirebon hingga berdirinya kesultanan, terbaca dengan jelas bahwa beliau tidak hanya menaklukan hati rakyat disana tapi juga menaklukkan mahluk lain yang tak sudi Islam berkembang di Cirebon.

Sejarah masjid Sang Cipta Rasa yang merupakan masjid kesultanan menyebutkan dengan jelas bahwa masjid tersebut pernah mengalami kebakaran hebat akibat serangan dari Menjangan Wulung yang bertengger di mastaka masjid dan menghajar siapapun yang akan masuk kesana.

Sampai kemudian Syarif Hidayatullah memerintahkan tujuh orang muridnya untuk mengumandangkan azan tujuh kali secara bersamaan untuk mengalahkan si Menjangan Wulung. Tradisi itu di teruskan di Masjid Sang Cipta Rasa hingga kini sebagai Azan Pitu. Siapa menjangan wulung itu?. Pastinya dia bukan dari golongan yang sejalan dengan dakwah yang dibawa oleh Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah dikaruniai umur yang panjang oleh Allah S.W.T dalam kondisi kesehatan yang prima (semoga kitapun demikian, amin) jejak beliau tersebar dimana mana baik yang masih dapat dilihat dengan jelas maupun yang hanya tersisa cerita tutur. Perjalanannya di Matangaji sudah disinggung di tulisan terdahulu.

Di Paniis Singkup, sebuah tempat peristirahatan didirikan. Tujuh orang murid senantiasa menyertai. Mengikuti semua tauziah dari beliau. Menikmati kucuran ilmu di heningnya alam, khusuk mendengarkan kajian, bersila di atas batu yang membentang dalam udara yang sejuk diantara gemericik air.

Ada sebilah keris yang selalu terselip di balik jubahnya. Sang Hyang Nogo. Bukan untuk bertarung, bukan untuk perlindungan diri. Keris adalah pengingat bagi pemiliknya untuk senantiasa tawadhu, senantiasa merendahkan diri dihadapan yang maha kuasa, tidak menyombongkan diri apalagi membanga banggakan diri, tidak memamer mamerkan kepandaian, kekayaan, kekuasaan dan kelebihan, sesungguhnya keris mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa berserah diri kepada Allah S.W.T.

Pasedan, tombak panjang yang turut menemani. Bukan tombak untuk menyerbu, bukan tombak untuk menyerang. Tombak hanyalah batangan yang lurus. Tegak seperti Alif. Aksara pertama yang diajarkan kepada kanjeng Rosul, aksara pembuka semua ilmu, aksara pertama untuk menuliskan nama Tuhan yang serba maha. Tegas berdiri sebagai pembeda dan pemisah antara baik dan buruk, halal dan haram, hak dan bathil, iman dan ingkar. 

Tauhid adalah Keris dan tombak yang sesungguhnya. Di Matangaji dan di Paniis Singkup yang menyejukkan jiwa, beliau berpesan satu kalimat “LAA ILA HA ILLALLAH”.

-------------------


Wednesday, October 29, 2014

MERUNUT HIKAYAT DI MATANGAJI

Masjid Jami' Al-Barkah Matangaji
Matangaji adalah gelar yang melekat kepada Sultan Sepuh Shafiudin, Sultan Cirebon yang berkuasa di keraton Kasepuhan tahun 1773-1786. Beliau merupakan sultan ke-5 yang berkuasa di Kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon dipecah menjadi tiga di tahun 1667 yakni Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman dan yang ketiga adalah Panebahan Cirebon yang tidak memiliki keraton ataupun daerah kekuasaan.

Matangaji juga merupakan nama sebuah desa di kecamatan Sumber di Kabupaten Cirebon. Sultan Shafiudin Matangaji dan Desa Matangaji memang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat. Cerita tutur menyebutkan bahwa desa Matangaji memang merupakan basis dakwah Sultan Shafiudin. 

Kesultanan Cirebon dan VOC (Belanda) menandatangai perjanjian kerjasama perdagangan pada tanggal 7 Januari 1681 dan sejak itu VOC senantiasa melakukan tekanan politik kepada Cirebon untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Dapat difahami bila kemudian Sultan Shafiudin bersama beberapa tokoh lainnya secara diam-diam meninggalkan Keraton pergi ke daerah pedalaman yang sulit diketahui VOC.

Nama nama daerah di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon secara tidak langsung memberikan rangkaian cerita perjalanan Sultan Shafiudin. Dimulai dari Kampung atau blok Capar yang artinya Capai (capek) dan Lapar yang merupakan tempat persinggahan rombongan beliau untuk melepas haus dan dahaga. Nama Kampung Blok pesantren terkait dengan pesantren yang pernah beliau bangun di daerah itu.

Menyusul kemudian nama Sidawangi terkait dengan pesantren yang beliau bangun terkenal kemana mana hingga mengharumkan daerah tersebut. Sida artinya menjadi dan wangi artinya harum. Sultan Syaefudin meninggalkan Desa Sidawangi menyusuri hutan ke sebelah barat lalu membuat pesanggrahan kecil tempat beristirahat bersama para pengikutnya. Tempat itu sekarang disebut Blok Pedaleman, artinya tempat istirahat para dalem atau orang keraton termasuk Sultan Shafiudin.

Disana beliau kembali mendirikan pesantren dan santrinya berdatangan dari berbagai pelosok. Kepada santrinya beliau menganjurkan apabila belajar mengaji jangan tanggung-tanggung, harus sampai matang, dan menggunakan mata hati. Itulah sebabnya hingga sekarang daerah ini dinamakan Desa Matangaji.

Menilik banyaknya daerah yang namanya terkait dengan perjalanan beliau dapat di duga bahwa perjalanan itu memakan waktu cukup lama. Catatan sejarah menyebutkan bahwa masa berkuasanya Sultan Shafiudin hanya 13 tahun saja, sehingga bisa jadi perjalanan tersebut sudah dimulai sejak beliau belum naik tahta sebagai sultan di keraton Kasepuhan.

Terlebih lagi bila kita menelusuri legenda ditengah masayarakat tentang beliau, yang disebut sebut, datang ke (desa) Matangaji tidak sekedar untuk mengajar mengaji tapi juga meneruskan kekuasaan leluhurnya sebagai penakluk ‘mahluk halus’ wiayah barat pulau jawa yang berpusat di Matangaji.

Bagi masyarakat luas di Nusantara, secara umum difahami bahwa seorang sultan tidak hanya merupakan penguasa ‘wilayah lahir’ tapi juga merupakan penguasa di ‘wilayah bathin’. Pusat kekuasaan ‘mahluk halus’ di matangaji pertama kali ditaklukkan oleh Raden Kian Santang, kemudian diteruskan oleh Keponakannya yang tak lain adalah Syarif Hidayatullah sampai kemudian diteruskan oleh Sultan Shafiudin.

Di titik penaklukan itu ditandai dengan sebuah cawan, tempat menampung air kehidupan, banyu panguripan, tirta mala. Meski kau tak kan menemukan setetespun air disana maupun disekitar tempat itu.

Dimanakah tiga tokoh yang disebut namanya itu dimakamkan?. Saya tidak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan tersebut. Hanya saja dalam buku tentang komplek pemakaman astana Gunung Jati di Gunung Sembung, disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah alias Kanjeng Sunan Gunung Jati dimakamkan di area inti astana gunung jati. Begitupun dengan Sultan Cirebon para penerus-nya. Hanya saja, ada satu kebijakan dari kesultanan bahwa hanya keluarga kesultanan saja yang diperkenankan masuk ke dalam Astana Gunung Jati.

Namun menariknya lagi, di matangaji ada satu makam yang cukup unik. Tak terlihat lawas karena sepertinya senantiasa dirawat, meski dengan nisan yang khas, senada dengan semua nisan makam lainnya yang ada di komplek pemakaman itu. Hanya saja makam satu ini tidak sejajar dengan makam lainnya. Bila makam lainnya (menghadap kiblat) kira kira membujur utara – selatan, makam yang satu ini malah membujur barat ke timur.

Konon, saat dimakamkan posisi makam ini sama seperti makam lainnya. Namun setelah prosesi pemakaman usai, makam tersebut berubah sendiri ke posisinya sekarang ini. Konon kata “pewaris katanya”, kuburan satu itu sudah beberapa kali diperbaiki disesuaikan dengan kuburan lainnya namun lagi lagi kembali ke posisi itu dengan sendirinya. Siapa sebenarnya yang dimakamkan disana ?. yang pasti dia memang berbeda. 

Wallohua’lam bishawab.


Thursday, September 25, 2014

Pulau Penyengat ; Mas Kawin Untuk Seorang Permaisuri

Pulau Penyengat dari arah Pantai Tanjung Pinang

Nama pulau kecil ini adalah pulau Penyengat, letaknya di lepas pantai kota Tanjung Pinang, ibukota propinsi Kepulauan Riau. pulau wisata religi dan sejarah kesultanan Melayu Riau dan Johor.

Konon nama penyengat yang disandang pulau ini diambil dari kisah pasukan portugis yang mendarat ke pulau tersebut bubar kembali ke kapal karena diserang oleh sekawanan penyengat alias tawon liar.

Di Pulau ini berdiri sebuah masjid bewarna kuning yang menjadi ikon pulau tersebut, Masjid Sultan Riau pulau Penyengat. di pulau ini masih dapat dijumpai sisa sisa istana kesultanan, gudang mesiu hingga benteng pertahanan.

Dan tentu saja kita kan menjumpai jejeran makam makam tua yang merupakan makam dari para pembesar kesultanan Riau di masa lalu. salah satu nya adalah Makam Engku Putri atau Raja Hamidah anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV.

Engku Putri kemudian dipinang oleh Sultan Mahmud menjadi istrinya tahun 1803. Dan tahukah anda mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud untuk Engku Putri ? ya pulau penyengat itu berikut istana beserta isinya.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga