Showing posts with label tokoh nasional. Show all posts
Showing posts with label tokoh nasional. Show all posts

Tuesday, April 19, 2016

Siapakah Kian Santang (Bagian ahir)

Indahnya bentang alam Garut dipandang dari Karangpawitan, daerah yang diyakini sebagai makam nya Syech Rohmat Suci alias Kian Santang.

Apakah Kian Santang adalah Dongengan Pangeran Cakrabuana?

Teori atau pendapat lain bahkan menyebutkan bahwa sesungguhnya sosok Kian Santang itu tidak pernah ada. Kisah Kian Santang sendiri adalah sebuah kisah karangan yang dituturkan oleh Pangeran Cakrabuana dalam dakwahnya dengan metoda berdakwah melalui cerita atau mendongeng. Bahwa kisah Kian Santang yang dituturkan itu diambil dari salah satu buku yang tersimpan di perpustakaan kerajaan Pajajaran. Pangeran Cakrabuana memetik kisah itu menjadi bahan dakwahnya karena memiliki alur cerita yang mirip dengan perjalanan hidupnya sendiri.

Konon, buku tersebut mengisahkan tentang Pangeran Gagak Lumayung putra mahkota kerajaan Tarumanegara, anak dari Prabu Purnawarman, di sekitar tahun 450 masehi. Nama Ki An San Tang (Sang Penakluk Bangsa Tan) merupakan gelar kehormatan bagi Gagak Lumayung yang berhasil mengalahkan pasukan bangsa Tan yang kala itu menyerbu ke Taruma Negara. Dan menurut pendapat ini, sosok Kian Santang yang selama ini kisahnya dituturkan adalah sosok pangeran Gagak Lumayung tersebut. Pendapat ini agak sulit untuk diterima karena Pangeran Gagak Lumayung yang dimaksud justru hidup di masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Sehingga dengan sendirinya pendapat yang menyatakan bahwa Kian Santang Adalah cerita dongeng yang dituturkan oleh Pengeran Cakrabuana dari Kisah perjalanan Ki An San Tan alias Gagak Lumayung dari era Tarumanegara, gugur dengan sendirinya.

Kian Santang Bertarung dengan Ayahnya Sendiri?

“Adu kesaktian” dengan berbagai alur cerita antara Kian Santang melawan ayahnya sendiri (Prabu Siliwangi) sangat melekat dengan sosok Kian Santang, dan ahir dari ‘pertarungan’ itu adalah sebuah gua di Leuweung (Hutan) Sancang (di Pameungpeuk, Kabupaten Garut).  Ada banyak versi tentang ahir dari bagian ini, namun memiliki garis merah yang sama yakni; Prabu Siliwangi “Moksa” di Leuweung Sancang.

Bila saja kisah tersebut, benar adanya. Itu bermakna Prabu Siliwangi moksa dua kali. Karena kemudian ada kisah tutur yang menyebutkan bahwa moksanya Prabu Siliwangi karena ke-engganannya mengikuti ajakan Syarif Hidayatullah untuk (Kembali) ber-Islam. Antara usia Kian Santang dan Syarif Hidayat (antara paman dan keponakan) terpaut dua puluhan tahunan, atau dalam bahasa sederhananya pada saat Syarif Hidayat baru lahir di tanah arab, Kian Santang sudah sakti di tanah Jawa.

Bila Prabu Siliwangi sudah di “moksa’ kan oleh Kian Santang di Leweung Sancang dan sudah tidak lagi hidup di alam dunia ini dan juga sudah tidak lagi menjadi Raja Pajajaran, bukankah mustahil sosok yang sama kemudian berhadapan dengan Syarif Hidayatullah lalu “moksa” demi menghindari pertarungan dengan cucunya sendiri.

Dalam artikel sebelumnya tentang Prabu Siliwangi, telah dijabarkan bahwa Prabu Siliwangi wafat secara wajar dan kemudian tahta Pajajaran diteruskan oleh Putra Mahkota, Prabu Surawisesa. Beliau yang kemudian menulis sebuah prasasti di tahun ke 12 sejak kematian ayahandanya. Prasati yang dikemudian hari dikenal sebagai Prasasti Batu Tulis. Pembuatan prasasti tersebut dilakukan di masa damai setelah ditandatanganinya perjanjian tapal batas dengan Kesultanan Cirebon, saat itu Pajajaran juga sudah kehilangan wilayah Banten dan Sunda Kelapa yang dikuasai Kesultanan Cirebon.

Maknanya bahwa, Baik Kian Santang maupun keponakannya (Syarif Hidayatullah), tidak pernah bertarung atau adu kesaktian dengan Prabu Siliwangi dalam upaya meng-islam-kan ataupun dalam upaya mengajak Prabu Siliwangi untuk kembali ke jalan Islam, dan berujung kepada moksa nya Sang Prabu dari alam dunia.

Manakala cinta berahir duka

Menilik tiga pernikahan Prabu Siliwangi, kita akan mendapati kenyataan bahwa dua dari pernikahan beliau memiliki nuansa politik yang kental. Pernikahannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda memberikan beliau legalitas sebagai pewaris kerajaan Sunda dari Prabu Susuktunggal. Kemudian pernikahannya dengan Ambet Kasih yang tak lain adalah putri dari Ki Gde Sindangkasih penguasa Sindangkasih (Majalengka), daerah yang “tak jauh dari” atau malah merupakan “ibukota” kerajaan Galuh yang membuka ruang baginya untuk memuluskan kekuasaan dari ayahandanya, Prabu Dewa Niskala.

Sedangkan perjumpaan beliau dengan Subang Larang, merupakan perjumpaan tanpa sengaja di ‘pesantren’ Syech Quro, yang justru terjadi dalam tugas beliau untuk membumihanguskan pondok Quro, tapi malah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Subang Larang. Kekuatan apa yang mampu membuat pewaris tahta dua kerajaan sekaligus, mampu mengubah haluan hidupnya, selain kekuatan cinta.

Cinta nya kepada Subang Larang yang kemudian membawa beliau kepada Islam, demi memenuhi syarat yang diajukan oleh Subang Larang untuk menerima pinangan Prabu Siliwangi. Berislamnya Sang Prabu tidak diikuti dengan berislamnya Pajajaran secara keseluruhan kala itu, mengingat bahwa pernikahan terjadi pada saat Sang Prabu masih berstatus sebagai “putra mahkota”, dan kemungkinan akan menyulitkkan posisinya untuk menyatukan kembali dua kerajaan yang terpisah apabila terang terangan menyatakan keyakinannya yang sudah berbeda dengan khalayak ramai kala itu termasuk berbeda dengan anggota keluarga keraton Pajajaran lainnya.

Dari fakta sejarah tidak pernah ada serbuan dari pusat kerajaan Pajajaran ke daerah Cirebon meskipun saat itu Islam sudah berkembang pesat di masa Pangeran Cakrabuana berkuasa disana sebagai bawahan Pajajaran, bukahkah Prabu Siliwangi sendiri yang datang ke Cirebon dan mengesahkan Pangeran Cakrabuana, putra tertuanya dari Subang Larang sebagai penguasa Cirebon sebagai kerajaan bawahan Pajajaran. Sangat nyata bahwa beliau melakukan pembiaran bagi berkembangnya Islam di kerajaannya sendiri.

Suasana berubah drastis ketika Subang Larang wafat, Sang Prabu tenggelam dalam duka mendalam dan berkepanjangan, membuat beliau kehilangan sosok yang senantiasa mengingatkan beliau pada nilai nilai Islam, sedangkan dua anaknya (Cakrabuana dan Rara Santang) sudah tidak tinggal di Kraton Pajajaran. Hanya putra ke tiganya dari Subang Larang yakni Kian Santang yang masih tinggal di kraton Pajajaran. Maka wajar bila kemudian berkembang kisah tutur tentang pertarungan antara Kian Santang dengan ayahnya dalam upaya mengislamkan (kembali) sang Ayah. Yang paling mungkin terjadi adalah, Kian Santang memang berusaha ‘menasihati’ ayahandanya untuk tidak berlarut larut dalam kesedihan dan kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya. Namun tentu saja tanpa sebuah pertarungan adu kesaktian dua pendekar pilih tanding sebagaimana yang sering disampaikan secara tutur tinular.

Apakah Kian Santang Pergi Meninggalkan Tahta ?

Prasasti Banten mengindikasikan bahwa Prabu Siliwangi wafat dan dimakamkan di Rancamaya, bukan moksa di suatu tempat. Bila beliau moksa tentunya tidak akan ada prosesi pemakaman dan dua belas tahun kemudian makamnya di bongkar oleh Prabu Surawisesa untuk diperabukan bersamaan dengan pembuatan prasasti yang kini dikenal dengan prasasti Batu Tulis.

Kehilangan Ibunda sekaligus kehilangan ayahanda tercinta dan bukan pula sebagai pewaris utama tahta kerajaan tentunya cukup alasan bagi Kian Santang untuk hijrah kemanapun yang beliau inginkan. Sedangkan untuk berdakwah dilingkungan keraton yang masih kental dengan ajaran sebelumnya, termasuk juga masih dianut oleh Penerus Raja yang tak lain adalah Kakaknya sendiri meski berbeda ibu, hanya akan menimbulkan pertentangan dan pertikaian yang tidak semestinya terjadi.

Dapat difahami bila kemudian Kian Santang memilih untuk berdakwah di pedalaman Pajajaran, tidak pula di wilayah Cirebon yang sudah ditangani oleh kakaknya dan dikemudian hari dilanjutkan oleh Syarif Hidayatullah yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Dan sebagai putra raja wajar pula bila beliau melakukan perjalanan ditemani oleh pengawal dan orang orang kepercayaan dengan bekal yang cukup pula untuk memulai sebuah kehidupan baru. Seberapapun perbedaan pandangan hidup antara Kian Santang dengan Surawisesa namun bagaimanapun mereka adalah saudara seayah. Surawisesa selaku penerus tahta tidak mungkin membiarkan adiknya pergi begitu saja meninggalkan istana tanpa bekal apapun.

Dikemudian hari beliau dikenal dengan nama Sunan Rohmat dan diyakini wafat dan dikebumikan di tempat terahir beliau berdakwah, di suatu tempat di Garut yang kini dikenal dengan nama Makam Godog di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. tidak hanya beliau yang bermakam disana tapi juga beberapa pengikut atau pengiring atau pengawal beliau. Komplek pemakaman yang ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru tanah air.

Penutup

Kisah tutur yang berkembang di masyarakat mengalir secara turun temurun, meski sulit untuk dibuktikan validitasnya namun pastinya ada pelajaran pelajaran berharga yang dapat dipetik. Terlepas dari segala perbedaan pendapat tentang tokoh tokoh masa lalu, namun satu hal yang pasti bahwa mereka telah memperkenalkan ataupun menghadirkan Islam ke Nusantara. Kita yang hidup di masa kini selayaknya meneruskan apa yang telah mereka rintis, untuk melanjutkan ataupun menyempurnakan dakwah yang sudah mereka mulai, dengan kemampuan dan kapasitas masing masing. Mohon maaf bila dirasa ada yang kurang berkenan.****

------------------------------

Baca Juga



Thursday, October 30, 2014

PESAN ‘SEJUK’ DARI PANIIS SINGKUP

Objek Wisata Paniis Singkup

Dalam bahasa Sunda Paniis berarti pendingin dan singkup berarti alat atau peralatan. Lalu seperti apa paniis singkup itu. Paniis Singkup adalah kawasan wisata yang secara administratif berada di dalam wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meskipun begitu bila kita dari arah Jakarta melalui jalur pantura, lokasi wisata ini lebih mudah dicapai dari pusat kota Cirebon.

Sesuai dengan namanya kawasan wisata ini memang lumayan sejuk. Wisata andalannya adalah wisata sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai. Sebagaimana sungai yang bersumber dari gunung, air sungai di Paniis singkup inipun jernih, bening dan tentu saja terasa sejuk dan menyejukkan.

Dikawasan in juga tersedia kamping ground, kolam renang yang bersumber dari sungai yang sama dan tentu saja kawasan sungai terbuka tempat para pengunjung berbasah basah ria di alam terbuka. Perusahaan daerah air minum setempat juga membangun penampung air baku di tempat ini dan tentunya tak perlu repot repot untuk melakukan penjernihan.

Kabar angin menyebutkan bahwa air sungai di Paniis Singkup ini dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mandi disana. Benarkah begitu ? satu hal yang pasti bahwa mandi adalah salah satu prosesi penyucian raga, bagian dari proses menjaga kebersihan diri, sesuatu yang sangat ditekankan syariat agama.

Ramai pengunjung di hari libur, baik oleh rombongan berseragam sekolah, muda mudi, hingga keluarga yang sengaja datang berlibur ke tempat ini. Tempat parkir nya cukup memadai, warung makan berjejer di sekitar lokasi dengan harga yang cukup wajar.

MENYEJUKKAN HATI DI PANIIS SINGKUP

Paniis Singkup dapat dicapai dari Matangaji (baca posting sebelumnya) dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Perjalanan dimulai dari Matangaji karena (dimasa lalu) kedua tempat ini memang memiliki keterkaitan satu dengan lainnnya. Menjejakinya dari Matangaji seolah merunut rangkaian perjalanan sejarah Cirebon dan dakwah di Jawa Barat.

Di Paniis Singkup memang tak ada bangunan bersejarah dari masa lalu yang dapat di identifikasi sebagai peninggalan sejarah. Butuh ‘radar’ bersinyal kuat untuk sekedar menemukan serpihan masa lalu yang terserak di bentara alam di lokasi wisata ini. dan tentu saja butuh sumber sejarah untuk merangkainya menjadi sesuatu.

Fatahillah atau Fadhilah Khan atau Tubagus Pasai atau Kyai Bagus Pase atau Falatehan,  Laksanama Kesultanan Demak, di utus oleh sultan Demak untuk membawa pasukan perang-nya bergabung dengan pasukan Cirebon dalam misi penaklukan Portugis di Sunda Kelapa.

Di Cirebon beliau ditunjuk oleh Syarif Hidatullah (Sunan Gunung Jati) untuk memimpin pasukan gabungan tersebut membebaskan Sunda Kelapa dari Jajahan Portugis, Maulana Hasanudin (Putra Syarif Hidayullah) dari Banten turut membantu penyerbuan itu, Fatahillah berjaya menaklukkan Sunda Kelapa dan mengubah nama bandar itu menjadi Jayakarta (Kota Kejayaan).

Paska kemenangan itu Fatahillah menjadi Penguasa pertama di Jayakarta, Banten melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran lalu membentuk kesultanan, dan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi Sultan pertama. Dikemudian hari kota yang ditaklukkan oleh Fatahillah itu berubah menjadi Jakarta, Ibukota Republik Indonesia dan hari penaklukkan itu diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Fatahillah kemudian memilih kembali ke Cirebon dan menyerahkan kendali pemerintahan Jayakarta kepada Tubagus Angke. Di Cirebon beliau malah diserahi tugas sebagai pemangku jabatan Sultan Cirebon oleh Syarif Hidayullah yang ingin melanjutkan dakwah Islam tanpa terbebani oleh Jabatan Politik sebagai Sultan Cirebon. Kala itu putra mahkota masih teramat belia untuk diangkat menjadi Sultan.

Catatan sejarah tak menyebutkan dengan jelas perjalanan Syarif Hidayatullah dalam misi dakwah tersebut. Meski demikian dari rangkaian peristiwa awal mula dakwah beliau di Cirebon hingga berdirinya kesultanan, terbaca dengan jelas bahwa beliau tidak hanya menaklukan hati rakyat disana tapi juga menaklukkan mahluk lain yang tak sudi Islam berkembang di Cirebon.

Sejarah masjid Sang Cipta Rasa yang merupakan masjid kesultanan menyebutkan dengan jelas bahwa masjid tersebut pernah mengalami kebakaran hebat akibat serangan dari Menjangan Wulung yang bertengger di mastaka masjid dan menghajar siapapun yang akan masuk kesana.

Sampai kemudian Syarif Hidayatullah memerintahkan tujuh orang muridnya untuk mengumandangkan azan tujuh kali secara bersamaan untuk mengalahkan si Menjangan Wulung. Tradisi itu di teruskan di Masjid Sang Cipta Rasa hingga kini sebagai Azan Pitu. Siapa menjangan wulung itu?. Pastinya dia bukan dari golongan yang sejalan dengan dakwah yang dibawa oleh Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah dikaruniai umur yang panjang oleh Allah S.W.T dalam kondisi kesehatan yang prima (semoga kitapun demikian, amin) jejak beliau tersebar dimana mana baik yang masih dapat dilihat dengan jelas maupun yang hanya tersisa cerita tutur. Perjalanannya di Matangaji sudah disinggung di tulisan terdahulu.

Di Paniis Singkup, sebuah tempat peristirahatan didirikan. Tujuh orang murid senantiasa menyertai. Mengikuti semua tauziah dari beliau. Menikmati kucuran ilmu di heningnya alam, khusuk mendengarkan kajian, bersila di atas batu yang membentang dalam udara yang sejuk diantara gemericik air.

Ada sebilah keris yang selalu terselip di balik jubahnya. Sang Hyang Nogo. Bukan untuk bertarung, bukan untuk perlindungan diri. Keris adalah pengingat bagi pemiliknya untuk senantiasa tawadhu, senantiasa merendahkan diri dihadapan yang maha kuasa, tidak menyombongkan diri apalagi membanga banggakan diri, tidak memamer mamerkan kepandaian, kekayaan, kekuasaan dan kelebihan, sesungguhnya keris mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa berserah diri kepada Allah S.W.T.

Pasedan, tombak panjang yang turut menemani. Bukan tombak untuk menyerbu, bukan tombak untuk menyerang. Tombak hanyalah batangan yang lurus. Tegak seperti Alif. Aksara pertama yang diajarkan kepada kanjeng Rosul, aksara pembuka semua ilmu, aksara pertama untuk menuliskan nama Tuhan yang serba maha. Tegas berdiri sebagai pembeda dan pemisah antara baik dan buruk, halal dan haram, hak dan bathil, iman dan ingkar. 

Tauhid adalah Keris dan tombak yang sesungguhnya. Di Matangaji dan di Paniis Singkup yang menyejukkan jiwa, beliau berpesan satu kalimat “LAA ILA HA ILLALLAH”.

-------------------


Wednesday, October 29, 2014

MERUNUT HIKAYAT DI MATANGAJI

Masjid Jami' Al-Barkah Matangaji
Matangaji adalah gelar yang melekat kepada Sultan Sepuh Shafiudin, Sultan Cirebon yang berkuasa di keraton Kasepuhan tahun 1773-1786. Beliau merupakan sultan ke-5 yang berkuasa di Kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon dipecah menjadi tiga di tahun 1667 yakni Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman dan yang ketiga adalah Panebahan Cirebon yang tidak memiliki keraton ataupun daerah kekuasaan.

Matangaji juga merupakan nama sebuah desa di kecamatan Sumber di Kabupaten Cirebon. Sultan Shafiudin Matangaji dan Desa Matangaji memang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat. Cerita tutur menyebutkan bahwa desa Matangaji memang merupakan basis dakwah Sultan Shafiudin. 

Kesultanan Cirebon dan VOC (Belanda) menandatangai perjanjian kerjasama perdagangan pada tanggal 7 Januari 1681 dan sejak itu VOC senantiasa melakukan tekanan politik kepada Cirebon untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Dapat difahami bila kemudian Sultan Shafiudin bersama beberapa tokoh lainnya secara diam-diam meninggalkan Keraton pergi ke daerah pedalaman yang sulit diketahui VOC.

Nama nama daerah di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon secara tidak langsung memberikan rangkaian cerita perjalanan Sultan Shafiudin. Dimulai dari Kampung atau blok Capar yang artinya Capai (capek) dan Lapar yang merupakan tempat persinggahan rombongan beliau untuk melepas haus dan dahaga. Nama Kampung Blok pesantren terkait dengan pesantren yang pernah beliau bangun di daerah itu.

Menyusul kemudian nama Sidawangi terkait dengan pesantren yang beliau bangun terkenal kemana mana hingga mengharumkan daerah tersebut. Sida artinya menjadi dan wangi artinya harum. Sultan Syaefudin meninggalkan Desa Sidawangi menyusuri hutan ke sebelah barat lalu membuat pesanggrahan kecil tempat beristirahat bersama para pengikutnya. Tempat itu sekarang disebut Blok Pedaleman, artinya tempat istirahat para dalem atau orang keraton termasuk Sultan Shafiudin.

Disana beliau kembali mendirikan pesantren dan santrinya berdatangan dari berbagai pelosok. Kepada santrinya beliau menganjurkan apabila belajar mengaji jangan tanggung-tanggung, harus sampai matang, dan menggunakan mata hati. Itulah sebabnya hingga sekarang daerah ini dinamakan Desa Matangaji.

Menilik banyaknya daerah yang namanya terkait dengan perjalanan beliau dapat di duga bahwa perjalanan itu memakan waktu cukup lama. Catatan sejarah menyebutkan bahwa masa berkuasanya Sultan Shafiudin hanya 13 tahun saja, sehingga bisa jadi perjalanan tersebut sudah dimulai sejak beliau belum naik tahta sebagai sultan di keraton Kasepuhan.

Terlebih lagi bila kita menelusuri legenda ditengah masayarakat tentang beliau, yang disebut sebut, datang ke (desa) Matangaji tidak sekedar untuk mengajar mengaji tapi juga meneruskan kekuasaan leluhurnya sebagai penakluk ‘mahluk halus’ wiayah barat pulau jawa yang berpusat di Matangaji.

Bagi masyarakat luas di Nusantara, secara umum difahami bahwa seorang sultan tidak hanya merupakan penguasa ‘wilayah lahir’ tapi juga merupakan penguasa di ‘wilayah bathin’. Pusat kekuasaan ‘mahluk halus’ di matangaji pertama kali ditaklukkan oleh Raden Kian Santang, kemudian diteruskan oleh Keponakannya yang tak lain adalah Syarif Hidayatullah sampai kemudian diteruskan oleh Sultan Shafiudin.

Di titik penaklukan itu ditandai dengan sebuah cawan, tempat menampung air kehidupan, banyu panguripan, tirta mala. Meski kau tak kan menemukan setetespun air disana maupun disekitar tempat itu.

Dimanakah tiga tokoh yang disebut namanya itu dimakamkan?. Saya tidak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan tersebut. Hanya saja dalam buku tentang komplek pemakaman astana Gunung Jati di Gunung Sembung, disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah alias Kanjeng Sunan Gunung Jati dimakamkan di area inti astana gunung jati. Begitupun dengan Sultan Cirebon para penerus-nya. Hanya saja, ada satu kebijakan dari kesultanan bahwa hanya keluarga kesultanan saja yang diperkenankan masuk ke dalam Astana Gunung Jati.

Namun menariknya lagi, di matangaji ada satu makam yang cukup unik. Tak terlihat lawas karena sepertinya senantiasa dirawat, meski dengan nisan yang khas, senada dengan semua nisan makam lainnya yang ada di komplek pemakaman itu. Hanya saja makam satu ini tidak sejajar dengan makam lainnya. Bila makam lainnya (menghadap kiblat) kira kira membujur utara – selatan, makam yang satu ini malah membujur barat ke timur.

Konon, saat dimakamkan posisi makam ini sama seperti makam lainnya. Namun setelah prosesi pemakaman usai, makam tersebut berubah sendiri ke posisinya sekarang ini. Konon kata “pewaris katanya”, kuburan satu itu sudah beberapa kali diperbaiki disesuaikan dengan kuburan lainnya namun lagi lagi kembali ke posisi itu dengan sendirinya. Siapa sebenarnya yang dimakamkan disana ?. yang pasti dia memang berbeda. 

Wallohua’lam bishawab.


Saturday, July 20, 2013

Mengenang Jenderal Soeharto di Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia

Masjid Istiklal Indonesia atau Masjid Indonesia atau Masjid Suharto di Sarajevo, Bosnia & Herzegovina (foto dari Sarajevo-x.com)

13 Maret 1995 menjadi hari yang bersejarah bagi hubungan dua Bangsa, Indonesia dan Bosnia & Herzegovina. Hari itu Presiden Republik Indonesia kedua (alm) Jenderal (purn) Soeharto “memaksa” mendarat di Bandara Sarajevo untuk mengunjungi secara langsung kondisi rakyat Bosnia & Herzegovina yang menjadi korban keganasan agresi pasukan militer Serbia.

Perjalanan Pak Harto ke Sarajevo, saat itu memang penuh risiko. Apalagi dua hari sebelumnya tanggal 11 Maret 1995 sebuah pesawat PBB ditembak jatuh di atas udara Bosnia. Panglima pasukan PBB di Bosnia kala itu bahkan lepas tangan dan tidak berani bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi kepada Presiden Soeharto dan rombongan apabila tetap memaksakan diri untuk berkunjung ke Bosnia.

Masjdi Istiklal Indonesia di Bosnia (foto dari flickr)
Perjalanan Pak Harto ke Sarajevo itu setelah menghadiri KTT untuk Pembangunan Sosial di Kopenhagen, Denmark, dan kunjungan balasan ke Kroasia. Serta dalam kapasitas beliau sebagai ketua gerakan Non Blok untuk bertemu dengan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Keseluruhan rombongan sebanyak 15 orang termasuk Presiden Soeharto diminta untuk menandatangani kontrak mati sebelum penerbangan ke Sarajevo oleh pasukan PBB.

Kunjungan yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai sebuah kunjungan yang begitu berani ke kancah perang yang sedang berkecamuk dan begitu brutal di kawasan Balkan dan hanya pernah dilakukan oleh presiden Republik Indonesia. Pertemuan 2 jam dengan presiden Bosnia berjalan lancar dan Pak Harto beserta rombongan kembali dengan selamat ke tanah air setelah kunjungan menegangkan yang bersejah itu.

Kunjungan bersejarah itu dikemudian hari senantiasa dikenang di Masjid Istiklal Indonesia di Sarajevo. Masjid yang memang dibangun dengan dana dari Rakyat dan Pemerintah Indonesia sebagai bingkisan bagi kemerdekaan Bosnia & Herzegovina, Dibangun sejak masa pemerintahan Pak Harto dan diresmikan dimasa pemerintahan Ibu Megawati Soekarno Putri. Nama masjid ini dinamai dengan nama yang sama dengan Masjid Nasional Indonesia di Jakarta. Hingga kini sebagian orang Bosnia menyebut masjid ini dengan nama Masjid Soeharto atau Masjid Indonesia.***

Tuesday, June 11, 2013

KH. WAHAB HASBULLAH, (Bukan) Pahlawan Nasional, Tokoh Pendiri Nahdlatul Oelama

KH. WAHAB HASBULLAH

Namanya KH. WAHAB HASBULLAH, Lahir di Jombang 31 Maret 1888 dan wafat pada saat usiaku baru 9 bulan. Nama yang tak kan anda temukan di daftar pahlawan Nasional, meskipun semestinya anda akan mengingatnya setiap kali anda berziarah ke Makam Rosulullah di Madinah, dan ketika mendengar Nama “Nahdlatul Oelama”.

Di Eropa, Emperium Usmaniah di Istanbul-pun runtuh pada 3 Maret 1924. Di Semenanjung Arabia, negara baru Hejaz & Najd (kini bernama Saudi Arabia) berdiri dengan sokongan kuat gerakan Wahabi yang kemudian melakukan penghancuran pemakaman para syuhada di Baqi termasuk di dalamnya makam khalifah Usman dan cucu baginda Rosulullah.

Rencana penghancuran berikutnya adalah kubah hijau masjid Nabawi bersama tiga makam dibawahnya yakni Makam Baginda Rosullah, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Pemerintahan baru itu juga melarang ajaran empat mazhab yang sudah ada.

Di tanah Jawa yang masih menjadi bagian Hindia Belanda, KH Wahab Hasbullah berinisiatif membentuk komite Hejaz untuk menemui raja baru tanah Arab itu guna menghentikan penghancuran makam nabi, pelarangan mazhab dan isu isu sentral lainnya. Sebuah gagasan yang kemudian melahirkan “Nahdlatul Oelama” organisasi Islam terbesar di Hindia Belanda yang dan tetap bertahan sebagai organisasi Islam terbesar ketika dikemudian hari Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia.

Tahun 1926, KH Wahab Hasbullah berangkat ke Arabia sebagai utusan NU, organisasi yang dibidani-nya tanpa sengaja, dan berhasil dengan gemilang dalam misi yang diembannya, beliau kembali ke tanah air dua tahun kemudian setelah menyempatkan diri menimba ilmu dari oelama2 terkemuka disana, beliau membawa surat resmi raja Ibnu Saud. Salah satu hasilnya adalah : “kita masih bisa mengunjungi makam Rosulullah hingga hari ini”

Namun seperti saya bilang di awal tadi, jangan pernah mencari nama Sang Kyai dalam daftar pahlawan Nasional Republik Indonesia, karena anda takkan pernah menemukannya, meskipun beliau juga mengabdikan hidupnya sebagai Panglima Pasukan Laskar Mujahidin dalam perang Kemerdekaan . . . . .