Showing posts with label keramat. Show all posts
Showing posts with label keramat. Show all posts

Saturday, November 11, 2017

Hening di Kawah Tengkurep

Kawah Tengkurep adalah komplek makam para raja kesultanan Palembang. Makam Kawah Tekurep dibangun pada tahun 1728. Makam Kawah Tekurep memiliki luas mencapai 1 hektar, yang terdiri dari 6 bangunan makam yang diperuntukkan bagi sultan dan orang-orang tedekatnya. Sedangkan makam yang berukuran kecil yang ada di bagian depan bangunan utama makam kawah tekureb merupakan makam yang diperuntukan bagi anak-anak keturunan, abdi dalem, dan para panglima.

Gerbang menuju komplek makam para raja di dalam tembok
Let's go inside
Makam para kerabat sultan
para penjaga
Pintu bangunan makam
Sultan Muhammad Bahauddin
Sultan Rahmad Najamudin I
Silsilah 
Gerbang Senja
tampak tua
dibawah panji pusaka
hening
dan terima kasih
. . .
. .
.
lihat photo posting sebelumnya Suara keheningan Kawah Tengkurep
. . .
. .

Saturday, December 17, 2016

Komplek Pemakaman Kyai Panembahan Singaperbangsa

Bangunan Makam Para Bupati Karawang

Komplek pemakaman Bupati Karawang Kyai Panembahan Singaperbangsa merupakan komplek pemakaman para mendiang Bupati Karawang yang berada di Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang. Pada awalnya di lokasi ini hanya ada satu makam yakni Makam Kyai Panembahan Singaperbangsa, Bupati pertama Kabupaten Karawang yang berkuasa pada tahun 1633-1677 dikenal dengan nama Dalem Adipati Singaperbangsa, dan bergelar Adipati Kertabumi IV.

Konon menurut cerita, makam Kyai Panembahan Singaperbangsa ditemukan berdasarkan pemberitahuan dari seorang Guru Besar Agama Islam di Purwakarta yang menyatakan kepada muridnya yang tinggal di Manggung. Makam tersebut kemudian dibangun dan pada tahun 1993 dilakukan pemindahan makam para bupati Karawang ke lokasi ini dan ditetapkan sebagai komplek Pemakaman Para Bupati Karawang


Awalnya direncanakan lima jenazah para bupati karawang yang menjabat setelah adipati Singaperbangsa yang akan dipindahkan ke lokasi ini, namun yang ahirnya hanya empat yang dipindahkan, sedangkan satu makam lainnya dipertahankan oleh pihak keluarga di lokasi aslinya.

Bangunan makam para Bupati Karawang ini terdiri dari tujuh bangunan makam yang dibangun mengelilingi sebuah balairung terbuka. Masing masing bangunan makam dihubungkan dengan koridor ke balairung yang berada ditengah tengah. Orientasi bangunan menghadap ke arah selatan yang merupakan akses keluar masuk ke area balairung dari halaman depan dan gerbang komplek makam. Denah dasar bangunannya simetris membentuk delapan penjuru angin, tanpa bangunan di sisi selatannya.

Denah bangunan makam di komplek pemakaman Singaperbangsa (tanpa skala)

Secara keseluruhan ada enam tokoh yang dimakamkan disini terdiri dari lima mantan Bupati Karawang dan satu makam sesepuh masyarakat Karawang, sedangkan satu bangunan makam lagi masih kosong. Ke enam makam tersebut secara berurutan dari sisi utara adalah sebagai berikut:
  1. Singaperbangsa atau Kyai Panembahan singaperbangsa atau Dalem Kalidaon atau Eyang Manggung, bergelar Adipati Kertabumi IV, beliau adalah putra  dari Wiraperbangsa  dari  Galuh.
  2. Bupati Karawang kedua, berkuasa tahun 1677-1721, Raden Anom Wirasuta, bergelar R.A. Patatayuda I. Beliau adalah putra dari Adipati  Singaperbangsa dilantik  menjadi  Bupati  Karawang di  Citaman  (kecamatan Pangkalan). Setelah  wafat, jenazah beliau dimakamkam  di  Bojongmanggu, dan juga dikenal dengan sebutan Panembahan Manggu. Pada  tanggal  28  November  1994 makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman ini.
  3. Bupati Karawang ketiga, berkuasa tahun  1721-1731, Raden Jayanegara, bergelar R.A Panatayuda II. Beliau adalah putra dari Raden Anom  Wirasuta, Setelah  wafat  beliau  dimakamkan  di  daerah Waru  Tengah.  Karena  itu  beliau  dikenal  juga  sebagai  Panembahan  Waru  Tengah, makam beliau kemudian dipindahkan ke komplek ini Pada  tanggal  28  November  1994.
  4. Bupati Karawang ke-empat, berkuasa tahun 1731-1752, R. Martanegara / R. Singanagara, bergelar R. A Panatayuda III. Beliau adalah putra Jayanegara, dikenal  juga  dengan  nama  Raden  Martanegara.  Setelah  wafat  dimakamkan  di  Waru  Hilir,  karena itu beliau dikenal dengan Panembahan Waru Hilir. Pada  tanggal  28  November  1994, makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman ini.
  5. Bupati Karawang ke-Lima, berkuasa tahun 1752-1786, R. Mohamad Soleh, bergelar R. A Panatayuda IV. Beliau adalah putra dari Raden  Singanagara, dikenal  pula  dengan  nama  Raden  Muhammad  Zaenal  Abidin  atau  Dalem  Balon.  Setelah  wafat  beliau  dimakamkan  di  Serambi  Mesjid  Agung  Karawang.  Karena  itu  Raden  Muhammad  Saleh dikenal juga dengan sebutan Dalem Serambi. Pada  tanggal  5  Januari  1994  makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman ini.
  6. Ibu Siti Ansiah (Keramat Manggung), Kampung Kali Daon Cigobang, Desa Ciparage. Beliau adalah seorang Nyi Ratu Pamade (adik dari ibu Singaperbangsa) yang merawat Singaperbangsa dari bayi hingga dewasa.


Pendopo di Komplek Pemakaman Singaperbangsa Karawang

Keseluruhan komplek pemakaman ini seluas 2 hektar dipayungi oleh pohon pohon tinggi besar termasuk pohoh pohon kelapa. Beberapa fasilitas pendukung sudah dibangun di komplek ini termasuk satu bangunan pendopo terbuka berukuran besar di sisi timur laut bangunan makam, bangunan pendopo ini terhubung dengan satu ruas jalan paving blok ke gerbang tengah yang hanya dibuka pada acara acara tertentu. 

Di depan pendopo ini merupakan area terbuka. Di samping pendopo di sebelah utara bangunan makam berdiri satu bangunan mushola, dan kamar mandi. Tak jauh dari lokasi ini juga sudah dibangun tempat peristirahatan bagi pejabat daerah setempat yang sedang berkunjung kesana. Keseluruhan areal komplek pemakaman ini dikelola sepenuhnya oleh pemerintah kabupaten Karawang dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bangunan makam dari sisi tenggara

Komplek ini akan sangat ramai peziarah setiap tanggal 10 bulan maulud penanggalan Hijriah bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang secara rutin juga dihadiri para pejabat tinggi pemerintah Karawang dan masyarakat umum yang menyesaki tempat tersebut. Komplek pemakaman ini juga akan ramai peziarah termasuk kunjungan Bupati Karawang dan rombongan pada setiap peringatan hati jadi kabupaten Karawang.

Sebagai objek cagar budaya milik pemerintah, komplek pemakaman ini dijaga oleh beberapa petugas resmi. Kunjungan ataupun ziarah di malam hari tidak diperkenankan, dan semua bangunan makam ini dikunci pada waktu waktu bukan masa kunjungan. Para pengunjung ataupun para peziarah tentu saja harus meminta izin dari petugas disana,***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga



Sunday, July 26, 2015

“Betemu” Patih Gajah Mada di Gunung Ibul – Prabumulih

Komplek Makam Kramat Gunung Ibul, Kota Prabumulih
Apa Itu Gunung Ibul

Gunung Ibul adalah nama salah satu kecamatan di Kota Prabumulih, propinsi Sumatera Selatan. Kota Prabumulih dapat dicapai sekitar satu setengah hingga dua jam perjalanan darat dari Kota Palembang ke arah selatan, atau sekitar setengah jam dari kediaman orang tua kami di Kelurahan Gelumbang.
Di Gunung Ibul terdapat komplek makam tua yang dikeramatkan dan dikenal dengan nama Kramat Puyang Gunung Ibul. Tidak ada gunung di kota Prabumulih, sebutan gunung bagi gunung Ibul itu kemungkinan karena komplek makam kramat itu memang berada di lokasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Lokasi makam kramat ini yang tak jauh dari Sungai Kelekar yang mengalir membelah kota Prabumulih, membuat lokasinya terlihat begitu tinggi dibandingkan permukaan sungai Kelekar.

Apa Itu Puyang

Puyang merupakan sebutan bagi para leluhur. meski si penyebutnya sendiri tidak faham betul apakah dia adalah keturunan dari Puyang yang dia sebut, dan kadangkala meski merasa keturunannya pun tidak tahu secara pasti sebagai keturunan yang keberapa. Secara umum, Puyang Gunung Ibul dikenal masyarakat sebagai pendiri Prabumulih. dan berdasarkan papan pengumuman yang ada di lokasi, Pemkot Prabumulih juga sudah menetapkan kawasan ini sebagai kawasan cagar budaya.
Saya pribadi pernah kesana sebelumnya, meski sama sekali sudah tidak ingat lagi kapan dan untuk keperluan apa. dan kali ini kembali kesana masih di suasana Idul Fitri untuk sekedar berkunjung menapak tilasi tempat yang duuluu sekali pernah ku kunjungi.


Gratis

Akses jalan ke lokasi  sudah dibeton dan beraspal mulus dan jalanan berahir di pintu komplek kramat yang tak terlalu luas. Tidak ada petugas retribusi juga tidak ada petugas parkir. Ada beberapa pria dewasa sedang duduk duduk di pendopo besar yang di sebelah timur asik ngobrol berbahasa Belida, seorang pria tua sendirian duduk ngaso di bangunan sebelah barat di teras bangunan Makam bertuliskan RATU PASEH sepertinya beliau adalah juru kuncinya.

Rasanya terlalu jauh perbedaannya dengan suasana yang kutemui entah berapa tahun yang lalu dengan suasananya saat ini, beberapa menit aku hanya berkeliling di dalam area ini tanpa kata kata sementara putra kecilnya dengan penuh girang berlarian di area terbuka di tengah tengah area komplek ini. Seluruh areal kini sudah dipagar tembok keliling. sudah tak serindang dan seteduh dulu. Dan yang pasti sudah tidak se angker dulu.

bangunan pendopo di sisi kiri gerbang tempat beberapa laki laki berkumpul dan ngobrol disana.
Beberapa laki laki paruh baya yang asik ngobrol di bawah bangunan pendopo menyambutku dengan ramah ketika kuhampiri dan mereka agak kaget ketika aku menyapa mereka berbahasa Belida dikiranya aku orang luar daerah mengingat kendaraan yang kupakai berplat nopol B bukan plat BG sebagaimana kendaraan yang digunakan di Sumsel.

Mereka membenarkan apa yang kurasakan. suasanya sekarang memang sudah tak serindang dulu sejak beberapa pohon besar yang ada disana dipangkas, beberapa bahkan sudah ditebang ataupun roboh, termasuk Kayu Ara (beringin) kembar tempat orang orang dulu suka merentangkan tangan dan mengukur ukur panjang tongkat kayu dan tak pernah sama tiap kali di ulangi.

Kramat Tuan Gajah Mada

DI Komplek makam kramat ini terdapat tiga bangunan Makam yakni, Makam RATU PASEH yang sudah disinggung di awal tadi, lalu Makam RADEN KUNING yang berada di belakang makam RATU PASEH dan sedikit terpisah dari dua makam itu ada satu bangunan dengan tulisan KRAMAT TUAN PATIH GAJAH MADA.

Patih Gajah Mada di Prabumulih
Ada lagi satu bangunan besar dan megah terkunci berada di belakang KRAMAT TUAN PATIH GAJAH MADA, bangunan itu dilengkapi dengan gerbang berbentuk candi bentar mirip dengan rancangan gapura gapura di Cirebon. Di dinding depan bangunan ini dipasang tulisan “DIbangun hari Jum’at 17 Agustus 2007 oleh RM, Nurudin Fadilah Faletehan Cakra Ningrat, Cirebon”. 

Dari obrolah singkat di lokasi, disebutkan bahwa bangunan besar itu sengaja dikunci sejak ada seorang orang gila yang seringkali masuk ke bangunan itu, menurut mereka orang gila itu adalah mantan anggota polisi yang mengalami depresi berat alias stress. mungkin karena alasan itu juga maka bangunan yang lain pun ahirnya juga di kunci kecuali bangunan yang dijaga oleh kuncen.

Kramat Tuan Patih Gajah Mada
Bangunan baru lainnya adalah bangunan pendopo besar si sisi Timur lokasi lalu pendopo kecil di depan nya, kemudian ada juga bangunan Mushola kecil disebelah bangunan makam RADEN KUNING. sayangnya Mushola ini juga terkunci. Hanya bangunan  makam RATU PASEH yang tidak dikunci dan dijaga oleh juru kunci. Di dinding luar bangunan makam RATU PASEH ini terpasang tulisan “bangunan ini sumbangan Singabola”. Singabola adalah salah satu toko yang cukup terkenal di kota Prabumulih.

Siapa Yang Bermakam Di Gunung Ibul ?

1. RATU PASEH ?. Siapakah Ratu Paseh? sebagian orang berpikir dia adalah seorang perempuan karena ada kata Ratu pada namanya. Benarkah dia perempuan. PASEH dalam Bahasa Belida maupun Bahasa Prabumulih berarti FASIH. Ada beragam versi hikayat bertebaran di internet terkait dengan Ratu Paseh, salah satunya menyebut bahwa Ratu Paseh adalah Ratu Sahibul dan salah satu anaknya bernama IBUL. serta banyak versi lainnya.

Bangunan Makam Ratu Paseh
Hanya saja menurut saya pribadi, RATU PASEH tak lain dan tak bukan adalah FATAHILLAH alias FELATEHAN alias FADILAH KHAN alias RATU BAGUS PASAI. Paseh pada nama RATU PASEH lebih karena kesalahan ucap dari kata PASAI atau PASEI. dan yang ada di Gunung ibul bukanlah Makam dalam artian Kuburan melainkan sebuah Petilasan atau tempat yang pernah digunakan oleh yang bersangkutan semasa hidupnya.

Beliau berasal dari SAMUDERA PASAI berlayar ke Demak, menjadi panglima perang pasukan gabungan Demak-Cirebon-Banten dalam penyerbuan menaklukan Sunda Kelapa dari Portugis, kemudian mendirikan kesultanan Jayakarta dan menjadi sultan pertama disana, lalu kembali ke Cirebon, menikah dengan Putri Sunan Gunung Jati juga menikahi Putri Raden Fatah. kini Makamnya ada di samping makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Jati, Cirebon.

Samudera Pasai dan Palembang sama sama kesultanan meski di era yang berbeda, ketika Fatahillah kembali ke tanah Sumatera dari Perantauan-nya dan menemukan tanah kelahirannya sudah di bumi hanguskan oleh portugis, beliau meneruskan perjalanan laut ke tanah Jawa dan cukup masuk akal beliau singgah ke Palembang yang merupakan kota tertua di Indonesa, menetap beberapa waktu sambil berkelana menyebarkan Islam dan mengajar mengaji kepada ummat hingga paseh (fasih) sampai ke Gunung Ibul di Prabumulih.

dari Kiri ke Kanan : Bangunan Mushola, Bangunan Makam Raden Kuning dan Bangunan Makam Ratu Paseh
Kemungkinan kata IBUL memang bersal dari kata Sahibul atau Sohibul dari Bahasa Arab yang bermakma ‘pemilik’, biasa digunakan untuk menyebut pemilik tempat atau pemilik rumah dengan sebutan “sahibul bait”, atau pemilik hajat alias “sahibul hajat”. Seringkali kita temui kebiasaan orang Nusantara yang terbiasa menyebut atau memanggil seseorang dengan gelaran yang mudah disebut lidah, seperti sejarah Syech Hasanudin penyebar Islam pertama di wilayah Jawa Barat yang datang ke Karawang mendirikan pondok pesantren lalu lebih dikenal dengan nama Syech Quro, dari kata Qori karena beliau memang terkenal sebagai pembaca Qur’an yang sangat luar biasa. sampai sampai sedikit saja yang mengenal nama asli beliau.

2. Raden Kuning. Tokoh satu ini sama halnya dengan Ratu Paseh yang legenda dan hikayatnya bertebaran dengan berbagai versi. hanya saja dari beragam versi tersebut rata rata dapat ditarik garis merah yang sama, bahwa beliau adalah penyebar Islam yang berasal dari tanah Jawa, dan makam di gunung Ibul bukanlah kubur beliau, karena beliau dimakamkan di Pemakaman Bagus Kuning di Palembang.

Bangunan Makam Raden Kuning
Raden Kuning adalah Bagus Kuning alias Ratu Bagus Kuning. sama seperti Ratu Paseh Ratu Bagus Kuning pun disebut sebut sebagai seorang perempuan. hanya saja menilik kosa kasa yang dipakai kemungkinan beliau berasal dari kalangan ningrat kesultanan Banten. Ratu Bagus adalah salah satu gelar ningrat di Kesultanan Banten.

Kesultanan Palembang dan Banten memang memiliki kedekatan tersendiri. Anak keturunan Fatahilah dari salah satu istrinya yang berasal dari Banten pun menetap di Palembang. dan Banten pernah menyerbu Palembang meskipun gagal setelah tewasnya Sultan Muhammad di Sungai Musi. dengan kedekatan sejarah yang sedemikian, bukanlah hal yang aneh bila banyak tokoh dari Banten yang tinggal di wilayah Palembang ataupun sebaliknya. hanya saja butuh sedikit kerja keras untuk untuk menguak jati diri beliau, karena sepertinya nama “Kuning” yang melekat pada namanya bukanlah nama asli.

3. Patih Gajah Mada. Menarik untuk bertanya, Kapan dan dalam rangka apakah Patih Gajah Mada datang ke daerah Prabumulih ?. Prabumulih memang belum eksis di masa Gajah Mada. nama Prabumulih baru muncul pada era penjajahan Jepang. dan lebih menarik lagi adalah bahwa Fatahillah, Kesultanan Banten dan Palembang serta Gajah Mada berasal dari Masa yang berbeda.

Bangunan Keramat Tuan Patih Gajah Mada dengan latar belakang bangunan megah Islamic Center Kota Prabumulih.
Kita tak bisa menampik bahwa seluruh Sumatera memang pernah menjadi wilayah Majapahit, Maha Patih Gajahmada sendiri memang pernah memimpin pasukan besar menyerbu Sumatera salah satunya adalah dalam rangka menaklukkan Samudera Pasai. dan menjadi lebih menarik lagi karena di lokasi yang sama juga ada makam atau petilasan tokoh yang berasal dari Samudera Pasai. 

Apakah memang mereka bertiga pernah berada disana diwaktu yang sama ?. atau mereka datang kesana di waktu yang berbeda hanya saja karena tempat tersebut memiliki posisi strategis sehingga mereka masing masing memiliki ketertarikan untuk datang ke tempat tersebut ?. wallohuwa’lam. Satu Hal yang pasti bahwa, Lokasi Makam Kramat Puyang Gunung Ibul ini, kini tepat berada dibagian Belakang Komplek Islamic Center Kota Prabumulih yang rampung dibangun tahun 2014 yang lalu. dan kawasan tersebut akan terus berlanjut menjadi Petilasan (tempat singgah) lebih banyak orang. ***

Cagar Budaya, Berdsasarkan UU No. 22 Tahun 2001
Menurut Bapak Bapak yang nongkrong di pendopo itu tadi, bangunan ini dibangun oleh walikota Prabumulih, walikota yang mana ?. aku lupa namnya. meski pada dinding bangunan itu ada tulisan tentang bangunan itu tapi nama yang ditulis disana tidak cocok dengan nama walikota Prabumulih.

gerbangnya berbentuk candi bentar, mirip dengan gerbang gerbang yang dipakai di semua bangunan pemerintah di Cirebon
dan benar saja, bangunan itu memang terkait dengan Cirebon.
------------------------------------------

Baca Juga


Monday, November 24, 2014

Mencerna Legenda Curug Cigentis dan Sanggabuana

CURUG CIGENTIS - KARAWANG
Tempat Mandi Putri KeratonItu adalah kesimpulan yang menurutku paling sreg yang dapat kutulis dari legenda curug Cigentis yang dipampang di pos Perhutani di Curug Cigentis. Curug dalam bahasa Sunda berati Air Terjun. Sedangkan nama Cigentis (juga menurut legenda) adalah nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nu Geulis Nyi Geuntis. Konon dia adalah anggota pasukan khusus kerajaan Padjadjaran yang di utus oleh raja untuk mengawal atau lebih tepatnya ‘menguntit dan mengawasi’ aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para wali di wilayah Padjadjaran, tapi kemudian malah menjadi yang pertama berikrar memeluk Islam diantara anggota kesatuannya.

Curug Cigentis merupakan salah satu wana wisata yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, KPH Purwakarta Seluas 5,00 ha terletak di petak 47 c RPH Cigunungsari, BKPH Pangkalan, Secara administratif pemerintahan terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, berada pada 6°35 LS dan 107°12” BT, ketinggian tempat 600-1200m dpl dengan konfigurasi lapangan berupa pegunungan, bergelombang kelerengan agak curam s/d curam. Jarak kota kabupaten Karawang ±40Km dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sedangkan dari daerah Bogor dapat melalui Cariu.

Legenda Curug Cigentis (klik untuk memperbesar)
Kendaraan apapun yang anda pakai ke wanawisata satu ini, pada ahirnya haruslah tetap berjalan kaki dari pos perhutani menuju ke air terjun ini sekitar 200 meter. Jalanan menuju ke lokasi sebagian besar sudah di cor beton. Tersisa sekitar 1.5 km yang masih berupa jalan berbatu keras dan menanjak cukup ekstrim. Bila malas berjalan kaki, beberapa penduduk setempat menyediakan jasa ojek hingga ke lokasi parkir motor terahir beberapa meter dari pos perhutani. Namun naik ojekpun harus punya nyali mengingat tanjakan yang dilalui memang cukup ekstrim.

Mari kita cerna

Di pos perhutani tempat membeli tiket masuk seharga Rp. 10 ribu per orang, sudah dipampang spanduk besar yang menceritakan legenda tentang curug Cigentis. Lumayan untuk sekedar menambah pengetahuan. Meskipun legenda yang ada memang terlalu banyak celah untuk dikomentari. Silahkan bersabar untuk melanjutkan membaca ulasannya berikut ini sampai tuntas, untuk menemukan celah celah yang saya maksud. Mari kita cermati, Legendanya begini :

“Beberapa ratus tahun yang silam pasinggahan (Sekarang Curug Cigentis) adalah hutan belantara yang kering/kekurangan air, merupakan salah satu daerah kekuasaan Prabu SIliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa.

Bila dibaca dengan baik rasanya terlalu janggal bila hutan belantara dalam kondisi kering/kekurangan air. Bagaimana mungkin tanaman akan tumbuh apalagi sampai menjadi hutan belantara bila kekurangan air. Legenda itu memberikan berita bahwa hutan di gunung Sanggabuana sudah ada sejak beberapa ratus tahun silam. Walaupun mungkin belum ada aliran sungai yang kini membentuk curug cigentis.

Lalu Siapakah itu “Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa”?. Ahli sejarah memang terbagi dua pendapat tentang Prabu Siliwangi. Pendapat pertama mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya satu yakni Sri Baduga Maharaja. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada banyak karena itu adalah gelar bukan nama seseorang dan bukan hanya Sri Baduga Maharaja yang bergelar Siliwangi. Hanya saja, saya tidak menemukan Nama Prabu Sukma Rasa diantara jejeran nama Raja Padjadjaran. Mungkin yang dimaksud adalah Raden Pamanah Rasa (karena ada kata “Rasa”) yang merupakan nama lain dari Sri Baduga Maharaja.

Pada masa penyebaran Islam di Pulau Jawa Oleh Wali Songo, Curug Cigentis merupakan salah satu tempat yang disinggahi, daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu. Walaupun sebelumnya telah meminta ijin tetapi Prabu Siliwangi mempunyai kecurigaan kepada para wali (6 orang wali) tersebut, dikhawatirkan akan merebut kekuasaan, untuk mengawasi gerak gerik wali tersebut, Prabu SIliwangi tetap mengijinkan tetapi menyertakan pengawal yang sebenarnya telah di bai’at (doktrin) setia dengan alasan sebagai pengawal para wali.”

Dengan mudah anda akan bertanya, WaliSongo itu ada sembilan atau 6 orang sih?. Baiklah kita anggap saja bahwa dari sembilan wali yang ada hanya enam orang yang terlibat dalam legenda tersebut. Hanya saja, agama masyarakat Sunda adalah Agama Sunda Wiwitan bukan agama Hindu. Tapi baiklah bisa jadi di daerah Cigentis dimasa itu penduduknya beragama Hindu, jadi wajar bila kemudian para pengawal wali itu tak terlalu keberatan para wali berdakwah disana karena toh agama yang dianut bukan agama mayoritas. Bila itu benar maka semestinya di sekitar Cigentis terdapat peninggalan era Hindu berupa candi atau lainnya. Yang ada saat ini disekitar Cigentis justru situs batu Tumpang tak jauh dari Curug Peteui yang lebih mirip sebagai peninggalan masa animis ataupun megalitikum.

“Curug Cigentis pada saat itu merupakan daerah yang kering tidak ada air sama sekali, guna keperluan hidup dan beribadah para wali berdo’a bermunajat memohon dengan penuh kepasrahan, khusu’ serta penuh kesabaran, atas kekuasaan Tuhan YME dari sebuah batu yang besar keluarlah air, membentuk sebuah air terjun (Curug). Orang orang yang berada pada lokasi tersebut serentak merasa kaget, sekaligus kagum dan suka cita, tidak terkecuali para prajurit Prabu Siliwangi yang ditugaskan mengawal para wali tersebut. Salah satu pengawal yang bernama “Nu Geulis Nyi Geuntis” secara spontan “berikrar” masuk agama Islam. Karena beberapa hari tidak mandi dan kekurangan air, Nyi Geuntis sari sambil sambil mengucapkan kalimat mengagungkan Tuhan (Allohu Akbar 3X) langsung terjun dan mandi pada Curug tersebut. Melihat hal tersebut, maka para wali menamakan curug tersebut dengan “Curug Cigentis”

Sebenarnya para wali, para pengawalnya dan orang orang yang mengikuti mereka itu, berkumpul dibagian mana sih?.  Di tempat yang kini jadi air terjunnya, atau di dekat batu besar yang mengeluarkan air?. Bila mereka berkumpul di dekat batu besar yang mengeluarkan air berarti lokasinya berada di bagian atas dari Curug Cigentis saat ini, berarti “Nu Geulis Nyi Geuntis” itu adalah pengawal sakti yang mampu terjun dari bagian atas curug setinggi lebih dari 20 meter untuk mandi pada curug tersebut.

Bila memang air yang mengalir di Curug Cigentis berasal dari sebuah batu besar semestinya hingga hari ini pun batu besar yang mengeluarkan air tersebut masih dapat kita temui disana, faktanya curug cigentis berasal dari air aliran sungai kecil yang terbentuk dari begitu banyak mata air di Gunung Sangga Buana, yang melewati tebing curam hingga membentuk air terjun. Atau jangan jangan batu besar yang dimaksud adalah gunung sanggabuana itu sendiri.

“Melihat apa yang dilakukan Nyi Geuntis Sari pengawal yang lain pun ikut masuk Islam yang dipimpin salah satu wali yang bernama Kyai Bagus Sudrajat antara lain Putri Komalasari, Putri Melati, Putri Cempaka, Putri Sri Dayang Sari, Putri Sri Kunti, Putri Kaling Buana, Ibu HArum Sari, Ibu Harum Melati, Putri Malaka Mekah, Putri Malaka Hujan, Putri Rangga Huni, Resi Taji Malaka, Ganda Malaka, Guntur Roma, Rd. Jaka Tunda dan Masyarakat lainnya.”

Diantara para pembaca adakah yang bisa membantu saya untuk menjelaskan siapakah anggota walisongo yang bernama Kyai Bagus Sudrajat itu. Karena dibagian awal tadi disebutkan bahwa ‘para wali’ yang dimaksud adalah walisongo?.

Bila mengamati nama nama para pengawal wali itu. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai ‘Para Penggoda Wali” bukan “pengawal wali”.  Bagaimana tidak, dari 15 nama yang disebut itu 12 diantaranya adalah perempuan dan 9 diantaranya bergelar Putri. Yang namanya putri pastinya cantik, mustahil ganteng dong.

Hei, itu aku
“Disekitar lokasi tersebut terdapat sebuah bukit yang sering dipakai pertemuan oleh para wali sehingga lokasi tersebut sampai saat ini dikenal dengan puncak sanggabuana. Sangga = sembilan menandakan wali sembilan dan ‘Buana” = tempat dimana lokasi tersebut sering dipakai berkumpul dalam penyebaran agama ke daerah Cirebon, Demak, Kudus, Banten, Garut, Pemijahan Tasikmalaya, dan lain lain. Konon yang membagi bagikan tugas tersebut adalah Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani.

Salah satu petuah pawa wali yang menjadikan daerah tersebut berkeramat adalah ‘ikuti jejak kami’ kalau kita mempunyai maksud dan tujuan tetap meminta kepada Allah SWT (dari berbagai sumber)”.

Pada alenia ini terkesan terlalu dipaksakan untuk menghubungkan puncak Sanggabuana dengan Walisongo. Sangga dan Sanga memiliki makna yang jelas berbeda. Sangga bermakna penopang, sedangkan Buana atau Buwana bermakna Dunia atau semesta. Fakta menunjukkan bahwa Gunung Sanggabuana di Karawang merupakan titik tertinggi di wilayah Karawang. Bisa jadi disebut dengan nama Sanggabuana (penopang dunia) karena faktor tersebut.

Lebih menarik lagi dalam legenda itu disebutkan nama Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani yang membagi bagikan tugas kepada para wali(songo). Mungkin yang dimaksud adalah Abdul Qodir Jailani (1077–1166 M). Hanya saja beliau tak sejaman dengan walisongo.

Dan dari paparan legenda itu saya hanya mampu mempuat kesimpulan yang menurutku paling sreg bahwa Curug Cigentis itu legendanya adalah tempat mandinya putri keraton. Yang sedangkan bagian lain dari legendanya justru lebih menarik untuk di diskusikan ulang. Atau mungkin ada yang berminat untuk mulai menggali lebih jauh legenda itu, termasuk kemungkinan untuk menemukan sebuah candi Hindu di sekitar Cigentis dan Sanggabuana. Siapa tahu.