Wednesday, July 23, 2014

Tanda Tanya di Istana Ratu Boko

Gerbang Istana Ratu Boko
Awalnya komplek istana ini bernama Abhyagiri Wihara kemudian berubah menjadi Keraton Walaing, dan kemudian berubah menjadi komplek istana Ratu Boko terkait dengan Legenda Loro Jonggrang tentang berdiri ‘secara ajaib’-nya Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah "gadis langsing".

Situs Ratu Boko adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Situs Ratu Boko terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut, dengan luas  keseluruhan sekitar 25 ha. Sejarah Istana Ratu Boko memang belum diketahui dengan pasti, sejauh ini sejarah yang ada didasarkan temuan arkeologis dari lokasi dan cerita tutur yang berkembang di masyarakat.


View Ratu Boko in a larger map

Menurut Prasasti Abhayagiri Wihara diperkirakan dari tahun 792 M yang ditemukan dilokasi menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran setelah dia mengundurkan diri dari kepemimpinannya untuk berkonsentrasi para bidang religi, serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara "wihara di bukit yang bebas dari bahaya".

Rakai Panangkaran adalah tokoh yang disebut sebut membangun Candi Borobudur, Candi Sewu serta candi Kalasan semasa ia masih berkuasa. Di dalam sejarah kerajaan Sunda (Pajajaran) disebutkan bahwa Rakai Panangkaran adalah anak dari Sanjaya (Raja Sunda ke 2, sekaligus sebagai raja Kalingga), dia juga merupakan cicit dari Tarusbawa (Raja Pajajaran pertama), dan adik se-ayah dari Tamperan Barmawijaya / Rakeyan Panaraban (Raja Pajajaran ke 3).

Sepeninggal Rakai Panangkaran, komplek yang dibangunnya kemudian berubah menjadi komplek keraton yang dilengkapi dengan benteng pertahanan dimasa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbayoni dan dikenal sebagai Keraton Walaing. Sedangkan nama ratu Boko sendiri berasal dari legenda Loro Jonggrang yang berkembang di masyarakat setempat secara turun temurun.  Ratu Boko (Raja Bangau) adalah ayah dari Loro Jonggrang.


Di situs istana Ratu Boko ditemukan peninggalan peninggalan yang berhubungan dengan Budha maupun Hindu. Termasuk didalamnya ; Dyani Budha, Stupika, Terakota, plakat perak dan emas yang berisi inkripsi Budha. Namun di lokasi ini juga berdiri candi Hindu dalam ukuran kecil termasuk Yoni dan patung Durga, Ganehsa dan plakat inskipsi tentang Rudra, nama lain dari Dewa Siwa.

Di komplek situs ini juga terdapat jejeran gerbang utama yang masih utuh, dua gua kecil atau ceruk pertapaan, fondasi bangunan istana, ruang paseban, pendopo, pringgitan, keputren, serta kolam kolam penandian. Salah satu kolam yang paling terkenal dan merupakan kolam air suci bagi ummat Hindu yakni Kolam Amerta Mantana.

Cerita lain tentang sejarah Istana Ratu Boko ini muncul dari laporan yayasan turangga seta yang melakukan penelitian berbasis menyan, dan berkesimpulan bahwa sesungguhnya yang dimaksud Ratu Boko tak lain adalah Ratu Balqis, istri dari kanjeng nabi Sulaiman a.s. Dan Candi Borobudur sebenarnya adalah singgasana Ratu Balqis atau Ratu Boko yang dipindahkan dalam waktu kurang dari sekejap mata oleh Asip Bin Barqia dari lokasi aslinya yang kini dikenal sebagai situs Istana Ratu Boko yang tinggal fondasinya saja. Wallohua’lam.