Sunday, July 7, 2013

Saint Martin, Wisata di Pantat Jet

Tak cukup dengan sekedar kekuatan nyali untuk berlibur di pantai di ujung landasan pacu bandara Ratu Yuliana di pulau Saint Martin ini tapi juga butuh kekuatan gendang telinga . . .
Saint Martin adalah pulau kecil di Karibia tapi terbelah dua oleh dua kekuasaan Negara. Di utara merupakan wilayah Prancis dan sebelah selatannya merupakan wilayah seberang lautan Belanda. Pulau kecil ini berada sekitar 240 kilometer sebelah timur Puerto Rico. Saking kecilnya, pulau ini berbagi bandara Internasional. Baik Saint Martin Prancis dan Saint Martin Belanda sama sama menggunakan Bandara Ratu Yuliana di Saint Martin Belanda sebagai Bandara Internasional.

Disamping butuh kekuatan nyali, kekuatan gendang telinga dan yang paling penting adalah kekuatan finansial alias isi dompet untuk bisa berlibur di pulau Karibia satu ini. Maklumlah dari Jakarta Juawuh banget bro.
Lagi lagi karena saking kecilnya pulau Saint Martin membangun bandaranya di bagian pulau yang memanjang ditambah dengan sedikit reklamasi. Di ujung bandaranya terhampar pantai pasir putih yang padat wisatawan sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang tahun, maklum lah pariwisata merupakan andalan devisa bagi pulau dengan dua penguasa ini.


Dan pulau ini menjadi pulau yang dengan sengaja melanggar aturan penerbangan internasional tentang keselamatan penerbangan terutama di kawasan bandaranya yang semestinya steril dari aktivitas yang tak berhubungan, tapi lagi lagi karena saking kecilnya, pantai di ujung landasan bandara ini tetap dibuka sebagai kawasan wisata dengan pagar pembatas dan papan peringatan yang teramat seram “Awas berbahaya, hati hati semburan panas dari jet pesawat”.


Pemandangan begini tak dapat di temui di semua negara, unik, aneh dan tentu saja sangat beresiko. 
Turis yang berwisata di bagian pantai ini memang menikmati pengalaman yang tak ditemukan ditempat lain dibelahan bumi. Turis manca Negara ini dapat menikmati suasana berada tepat dibawah pesawat dengan jarak hanya beberapa meter, ketika pesawat mendarat dan tinggal landas begitu dekat. Pesawat pesawat jumbo jet itu melesat dengan raungan yang begitu keras itu hanya beberapa meter di atas kepala mereka. Lebih mirip berwisata di pantat mesin jet. Wew.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga

Wednesday, June 26, 2013

Imperium Amerika di Ujung Tanduk?

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Imperium dari bahasa Latin menjadi empire dalam bahasa Inggris, yang berarti sekelompok negara atau negeri dengan wilayah kekuasaan yang luas di bawah otoritas tunggal. Dapat pula diartikan sebagai organisasi komersial raksasa yang dimiliki atau dipimpin oleh seseorang.

Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19, dengan merebut Filipina dari tangan Spanyol pada 1898, sedang bergerak dalam proses awal mengukuhkan dirinya sebagai sebuah imperium yang puncaknya terjadi pada era pascaPerang Dingin. Tetapi, untuk berapa lama lagi? Pertanyaan inilah yang telah dijawab oleh beberapa penulis terkenal, seperti Francis Fukuyama, Emmanuel Todd (Prancis), Fareed Zakaria (warga Amerika kelahiran India), dan Johan Galtung (Norwegia). Untuk mendukung nafsu imperiumnya, Amerika telah menguras uang pajak rakyatnya sendiri dalam angka triliunan dan mengorbankan rakyat bangsa lain serta rakyatnya sendiri di medan pertempuran. Semuanya ini dilakukan dengan berbagai helat dan pembenaran, apakah untuk mengekspor demokrasi atau hak-hak asasi manusia. Dalam perspektif ini, Amerika memang adalah sebuah negara imperialis yang datang terlambat dibandingkan dengan negara-negara Eropa pada abad-abad yang silam.

Todd menulis karya After the Empire: The Breakdown of the American Order/terj dari bahasa Prancis oleh C Jon Delogu(London: Constable, 2004). Judulnya sendiri sudah menunjukkan, imperium Amerika sedang berada di ujung tanduk. Fareed Zakaria di bawah judul yang lebih lunak The Post American World (London: Penguin Books, 2008), juga sudah melihat bahwa imperium Amerika akan segera berakhir. Di antara penulis itu, adalah Galtung yang telah mematok tahunnya, yaitu pada 2120, menjadi tahun kejatuhan imperium Amerika dengan buku terbarunya, The Fall of the US Empire-and then What? Successors, Regionalization or Globalization? US Fascism or US Blossoming? (Oslo: Transcend University Press, 2009).

Francis Fukuyama, yang karyanya akan disinggung sebentar lagi, membaca posisi Amerika sedang berada di persimpangan jalan, sebuah koreksi terhadap karya sebelumnya yang sarat dengan optimisme tentang sistem kapitalisme dan demokrasi liberal. Mohon Tuan dan Puan jangan salah raba.

Yang akan tumbang bukan Republik Amerika, melainkan Amerika Serikat sebagai imperium dengan politik luar negerinya yang imperialistik yang ternyata telah menebarkan kekacauan dan permusuhan di seluruh jagat raya, khususnya sejak pascaPerang Dunia (PD) ke-2.Juga, Tuan dan Puan jangan salah sangka. Semua penulis di atas adalah pencinta Amerika sebagai republik, sebagai bangsa, tetapi pembenci imperium Amerika, terutama terbaca dengan sangat jelas dalam karya Todd dan Galtung. Amerika sebagai bangsa dan negara, menurut para penulis itu, akan tetap utuh, bahkan mungkin semakin jaya karena petualangan politik luar negerinya yang menguras pajak rakyat Amerika itu akan terpaksa dihentikan.

Kita lihat optimisme Fukuyama. Setelah memenangi Perang Dingin dengan keruntuhan Uni Soviet pada 1989/1990, Amerika muncul sebagai satu-satunya adikuasa tanpa lawan yang berarti. Sistem komunisme Uni Soviet berantakan karena pembusukan dari dalam, sedangkan lawannya kubu kapitalisme seolah-olah telah jadi pemenang. Francis Fukuyama, filsuf sosial warga Amerika berdarah Jepang, mengukuhkan kemenangan ini dengan menulis buku The End of History and the Last Man (New York: Avon Books, 1992) yang ramai dibicarakan secara global. Seakan-akan kapitalisme dan demokrasi liberal merupakan puncak peradaban, tidak ada lagi yang unggul dari itu. Itulah capaian tertinggi dari sejarah. Kemudian, mengapa Fukuyama berubah pandangan?Dalam bacaan saya, jawabannya terkait dengan politik luar negeri Amerika yang jingoistik (cinta tanah air yang berlebihan) dan ekspansif. Akibatnya, pada era Presiden Bush terutama, selalu merasa terancam oleh kekuatan luar yang membahayakan negaranya, sesuatu yang sama sekali palsu. George Bush adalah seorang paranoid (hidup dalam ketakutan).

Suasana batin yang labil ini dimanfaatkan secara maksimal oleh gerakan Zionisme, demi eksistensi Israel yang sebenarnya tidak lain ialah sebuah negara teror. Berbeda dengan Todd dan Galtung yang anti-Zionisme, Fukuyama sendiri tampaknya tidak punya nyali yang cukup untuk berbicara terus terang tentang ideologis fasis ini.

Todd sekalipun menghindari menyebut Zionisme, tetapi melihat dengan jelas peran strategisnya dalam mencoraki politik Amerika, dalam dan luar negeri. Todd juga punya perasaan simpati atas nasib rakyat Palestina dalam cengkeraman kolonisasi Yahudi. Kita baca, “Ketidakadilan terhadap rakyat Palestina dari hari ke hari oleh kolonisasi Yahudi atas sisa-sisa tanah mereka dengan sendirinya adalah sebuah penyangkalan terhadap prinsip persamaan, yang menjadi fondasi demokrasi. Bangsa-bangsa demokrasi lain, terutama di Eropa, tidak punya simpati tanpa syarat terhadap Israel seperti yang dirasakan Amerika.” (Todd, hlm 114).

Adalah sebuah keheranan besar, penduduk Yahudi Amerika hanyalah sekitar 2.2 persen (Todd, hlm 115) dari total rakyat Amerika, mengapa perannya demikian menentukan? Dengan runtuhnya imperium Amerika, jawaban terhadap pertanyaan ini akan lebih mudah diperkirakan. Artinya, peta politik global akan berubah secara drastis, dan nasib Israel akan jadi taruhan, karena pelindung utamanya telah menarik diri sebagai sebuah imperium.

Dan, tidak tertutup kemungkinan Palestina akan muncul sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat. Jika ini terjadi, terorisme akan surut secara dramatis dan tiba-tiba, karena raison d'trĂȘ (pembenaran eksistensi) utamanya sudah tidak ada lagi. Perasaan aman secara global akan mengikutinya sebab biang kerok kekacauan ini tidak lain dari politik luar negeri Amerika yang paranoid di bawah pengaruh kuat Zionisme, yang memang “bukan bagian dari kemanusiaan”, tulis Gilad Atzmon (lihat Resonansi, 13 Januari 2009 dan 10 Juni 2010). Bagi Galtung, untuk mengakhiri terorisme, akhiri lebih dulu terorisme negara, maksudnya Amerika dan Israel. (Telusuri artikel Galtung dan Dietrich Fischer via Google, 20 September 2002, di bawah judul “To End Terrorism, End State Terrorism”).

Fukuyama yang semula adalah bagian kekuatan neo-konservatif berubah 180 derajat setelah Presiden George Bush menyerang Iraq dan menggantung Saddam Hussein. Maka beberapa tahun kemudian, muncullah buku keduanya di bawah judul "America at the Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy" (New Haven-London: Yale University Press, 2006) sebagai ralat terhadap optimismenya yang berlebihan tentang hari depan kapitalisme dan demokrasi liberal.
Jika buku ini ditulis setelah krisis keuangan Amerika tahun 2008, tentu analisis Fukuyama akan lebih tajam lagi. Ternyata kapitalisme dengan doktrin pasar bebasnya punya penyakit kronisnya tersendiri, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya oleh seorang Milton Friedman (31 Juli 1912-16 Nop. 2006), ekonom pro-pasar, pemenang Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1976, yang pernah dipuja dunia itu, termasuk oleh pengikutnya di Indonesia.

Karya Fukuyama ini masih perlu kita bicarakan lagi, terutama yang menyangkut isu jihad yang kemudian semakin menyebabkan Presiden George Bush jadi gelap mata untuk menyerang negara-negara yang dikatakan sebagai pusat terorisme dan senjata kimia pemusnah massal, semula Afghanistan kemudian Iraq. Akibat serangan imperialistik itu, dua bangsa Muslim ini berantakan dengan korban jiwa ratusan ribu. Tetapi, akibatnya bagi Amerika tidak kurang fatalnya: mempercepat proses kerontokan imperiumnya yang baru saja mencapai titik puncaknya pada 1991 (Zakaria, hlm 4).Jika ramalan Galtung menjadi kenyataan nanti, daya tahan imperium Amerika hanyalah akan berumur setahun jagung, tidak bisa menandingi imperium Romawi kuno yang berlangsung selama lima abad. Apalagi, jika disandingkan dengan imperium Turki Usmani atau imperium Sriwijaya yang bertahan selama tujuh abad.Menurut Fukuyama, apa yang dikategori kan sebagai jihadisme modern dalam bentuk terorisme tidak ditemukan dalam tradisi asli Islam pada masa awal. Gagasan ini justru ber asal dari Barat untuk menciptakan sebuah doktrin baru yang bersifat universal sebagai sumber identitas dalam konteks dunia multikultural, membuana, modern. Ini merupakan upaya demi mengideologikan agama untuk tujuan politik. Dengan demikian, jihadisme lebih merupakan produk modernisasi, seperti halnya komunisme atau fasisme. Sekali lagi, banyak gagasan yang Islamis bukan datang dari Islam, melainkan justru berasal dari Barat yang dikalungi jubah serba Islam (lih, hlm 72-73).

Joseph E Stiglitz (9 Februari 1943), ekonom Amerika yang juga pemenang Nobel 2001, mengatakan, krisis finansial Amerika itu disebabkan oleh kemunafikan dan ketidak jujuran dalam pengelolaan keuangan. Stiglitz juga mengkritik keras peran IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia dalam memperburuk situasi ekonomi global. Korbannya cukup banyak, khususnya negara-negara berkembang, salah satu nya adalah Indonesia yang diberi resep salah oleh badan-badan keuangan dunia yang tidak lain merupakan perpanjangan tangan kapitalisme.

Apa yang kita kenal dengan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) terhadap bank-bank bermasalah yang sedang kelimpungan akibat krisis 1998 yang kemudian harus ditalangi dengan menguras uang rakyat Indonesia sekitar Rp 650 triliun itu adalah bagian dari resep badan keuangan dunia itu. Masalah dahsyat yang memiskinkan rakyat ini belum menemukan titik terang penyelesaian sampai hari ini. Kembali kepada Fukuyama. Serangan terhadap Irak tersebut, menurut Fukuyama dan beberapa pengamat lainnya, merupakan sebuah kesalahan karena didalangi oleh orang-orang pro-Zionis, misalnya, Paul Wolfowitz, Douglas Feith, dan Richard Perle untuk mengamankan pososi Israel di lingkungan dunia Arab yang memusuhinya. Sebagaimana kita ketahui, Wolfowitz pernah bertugas di Jakarta sebagai dubes Amerika dan banyak memiliki teman di sini.

Argumen yang terpisah atas serangan terha dap Irak dialamatkan kepada Leo Strauss, tokoh neokonservatif yang dijuluki sebagai “a champion of the ‘noble lie’/pelopor dusta yang terhormat”. Baginya, menjadi sebuah kewajiban untuk berdusta terhadap massa karena hanya segelintir elite sajalah yang secara intelektual pantas untuk mengetahui kebenaran. (Fukuyama, America, hlm 12-13). Selintas, mengingat kan kita kepada Adolf Hitler dalam karyanya Mein Kamps (Perjuanganku) yang mengatakan, dusta yang diulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran.

Fareed Zakaria yang menghindari terminologi rontoknya imperium Amerika dengan judul bukunya The Post American World (Dunia Pasca- Amerika). Substansinya tidak banyak berbeda. Hanya, Zakaria menambahkan, semuanya itu terjadi karena “the Rise of the Rest” (bangkitnya negara-negara lain, terutama di dunia dagang), seperti Brasil, Meksiko, Korea Selatan, Taiwan, India, Cina, Argentina, Cile, Malaysia, dan Afrika Selatan. Sebagai migran India, Zakaria adalah orang yang menikmati sistem demokrasi Amerika, sesuatu yang sulit ditemukannya di dunia Arab. Dengan menyebarnya kekuatan ekonomi pada berbagai negara, Amerika sudah tidak punya kapasitas lagi untuk mendikte dunia se mau gue, sesuatu yang sangat terasa pada era selama beberapa tahun pas ca-Perang Di ngin.

Sebelum muncul sebagai sebuah imperium, Amerika dulunya, dikutip dari Todd, adalah protektor/pelindung kemudian malah berubah menjadi predator/pemangsa. “Sekarang, hanya ada satu ancaman terhadap stabilitas dunia yang tak lain adalah Ame rika sendiri ….” (Todd, hlm 191). Pengamat politik global telah memperkirakan, setidaknya, mereka bertahan sampai bangunan imperiumnya roboh dalam tempo yang tak lama lagi.

Keresahan Johan Galtung dan Emmanuel Todd terhadap kelakuan imperium Amerika yang ditunggangi oleh Zionis global itu sebenarnya merupakan keresahan seluruh dunia beradab. Dengan porsi yang hanya 2,2 persen orang Ya hudi di Amerika (tidak semuanya pendukung Zionisme), dalam catatan Galtung, enam perusahaan Yahudi menguasai 96 persen media dan 70 persen profesor pada 20 universitas terpenting Amerika merupakan Yahudi. (Lih, Haarets, 30 April 2012 dan artikel Karin Abraham dalam The Times of Israel, 25 April 2012, berjudul “Jews control media, ‘peace’ professor Galtung claims”).

Akhirnya, saya sungguh berharap, perkiraan Galtung, Todd, dan yang lainnya akan menjadi kenyataan dalam tempo yang tak terlalu lama lagi demi membebaskan bumi dari petualangan politik ekspansif, keonaran, dan ketidaknyaman an oleh ulah imperium yang dikendalikan oleh kelompok minoritas Zionis yang menyatu dengan Israel. Sebagian bangsa Muslim sering menari sesuai dengan irama bunyi genderang yang di tabuh pihak lain.


-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga



Monday, June 24, 2013

Dan Dengan Bangga Dia Bopong Sendiri Jenazah Putranya Ke Pemakaman

Mendiang Hasan Al-Bana

Sejarah Nasional mencatat bahwa Mesir dan Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Kedua negara ini bahkan mendukung kemerdekaan Indonesia jauh sebelum di proklamirkan pada 17 Agustus 1945. Tapi tahukah anda bahwa tokoh penting dibalik pengakuan itu  ?. Dia adalah  Hasan Al-Bana. Tokoh yang semestinya anda kenang setiap kali anda membaca Al-Ma’surat.

Hasan Al-Bana, Lahir di Mahmudiya kota kecil sebelah barat-daya Kairo tanggal 14 Oktober 1906. Sejak kecil di didik oleh ayahnya  Shaykh Ahmad Abdul Rahman al-Banna al-Sa'ati sebagai seorang pendakwah ulung dan mujahid tulen. Menyampaikan dakwah islam dengan cara yang arif dan santun dari warung kopi hingga ke emperan masjid. Beliau mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin yang dikemudian hari berkembang menjadi sebuah organisasi yang paling berpengaruh dan ditakuti oleh pemerintahan "boneka Mesir" dan Pemerintah penjajahan Inggris disana.

Ikhwanul Muslimin memainkan peran sentral dalam perang Arab-Israel tahun 1936-1939 perjuangan yang teramat berat dalam membebaskan bumi Palestina dari cengkraman Yahudi Israel. Sepulang dari Palestina, anggota Ikhwanul Muslimin mendapatkan hadiah "luar biasa" dari pemerintah Mesir berupa Penjara dan hukuman mati atas berbagai tuduhan yang direkayasa oleh antek para penguasa saat itu yang ketar ketir akan kehilangan kekuasaan dengan semakin berkibarnya gerakan Ikhwanul Muslimin.

12 Februari 1949 di Kairo, Hasan Al-Bana bersama Iparnya Abdul Karim Mansur diundang untuk melakukan perundingan oleh pemerintah yang diwakili oleh Menteri Zaki Ali Basha, namun sang menteri tak pernah kunjung datang, yang datang kemudian adalah dua orang pria bersenjata lengkap memberondong beliau dengan peluru saat menunggu taksi untuk meninggalkan tempat perundingan yang dijanjikan.

Abdul Karim Mansur bersusah payah membawa Hasan Al-Bana ke Rumah sakit di Kairo namun tak seorang pun para medis yang siap menolong karena takut ancaman peluru tentara. Hasan Al-Bana tak tertolong. Pemerintah bahkan melarang pelayat untuk melayat dan mengantar jenazahnya ke pemakaman layaknya seorang pejuang. Shaykh Ahmad Abdul Rahman al-Banna al-Sa'ati, ayahanda Beliau yang kemudian membopong sendiri jenazah putranya dengan bangga ke pemakaman tanpa setetespun air mata duka, dibawah pengawalan ketat Aparat militer bersenjata.

Hasan Al-Bana memang telah lama pergi namun gaung perjuangannya membahana keseluruh pelosok penjuru dunia. Pemerintah di berbagai negara bergidik ngeri mendengar nama Organisasi yang didirikannya itu. Perjuangan Hasan Al-Bana untuk muslim Mesir tak sia sia, meski dia bahkan tak mendapatkan penghormatan yang layak saat pemakamannya namun di suatu hari di tahun 2012 organisasi yang didirikan-nya memenangkan pemilu paling demokratis pertama di Mesir dan kini para penerusnya menduduki tampuk Pemerintahan Negara yang dulu “meng-eksekusi” diri-Nya.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Saturday, June 15, 2013

Catatan Kecil Tentang Muammar Khadafi

Muammar Khadafi di masa Jaya-nya
Ketika demonstrasi (kemudian berujung kepada pemberontakan bersenjata) di Libya mencuat, secara iseng saya menuliskan artikel Masjid Muammar Qaddafy yang ada di perumahan Bukit Az-zikra dibawah pengelolaan majelis zikirnya Ustadz Arifin Ilhan. Luar biasanya sejak tulisan itu di posting di bujangmasjid.blogspot.com hanya selang beberapa hari langsung ngacir ke puncak artikel paling banyak dibaca dan bertengger disana selama berbulan bulan. Bahkan hingga kini masih saja “digjaya”.

Sosok Muammar Khadafi memang fenomenal. Naik ke tampuk pimpinan Negara Libya melalui kudeta berdarah terhadap Raja Idris, pada saat beliau masih berpangkat Kolonel di tahun 1969. Mengapus monarki, membentuk republik Islam dan dirinya pun berubah menjadi “raja tak bermahkota” bagi suku suku bangsa di Afrika dengan mendrikan dan menjadi ketua organisasi Uni Afrika. Selama hidupnya beliau dihujat oleh bangsanya sendiri (bangsa Arab) dan dunia barat sebagai dictator Afrika, hingga dikucilkan dalam pergaulan dunia Arab.

Libya memang tak berada di semenanjung Arabia tapi berada di Afrika utara bersama Maroko, Tunisia, Aljazair, Mesir, dan Sudan, namun dari sisi etnis Negara Negara tersebut merupakan bagian dari bangsa Arab, berbahasa Arab dan bertradisi arab.

Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang selalu bergaya nyentrik, sikapnya juga tak biasa, saking tak biasanya dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Prancis, Dia malah mengundang pesta makan malam para top model Eropa untuk hadir dalam pesta itu, di sela sela pesta beliau berceramah tentang Islam dan semua top model model cantik dan seksi yang hadir dihadiahi kitab suci Al-Qur’an sebagai Cinderamata. Beberapa dari tamu tamu cantik itu pada ahirnya memang mendapatkan hidayah setelah malam yang aneh itu.

Muammar Khaddafi juga pernah membuat “diktator Filipina” Ferdinand Marcos dan istri “kalang kabut” ketika Dia berencana berkunjung ke Negara di utara pulau Sulawesi itu. Imelda Marcos langsung berinisiatif membangun sebuah masjid agung di pusat kota Manila untuk menyambut kedatangan “Raja Afrika” itu. Kunjungan itu tak pernah terjadi, tapi berita baik bagi (minoritas) muslim Kota Manila karena Masjid Al-Dahab sebagai masjid terbesar di Manila ahirnya terwujud atas prakarsa dan pembangunannya dibawah pengawasan langsung ibu Negara.

Masjid Muammar Qaddafy di Sentul – Bogor, memang dibangun dengan dana dari Libya dan nama masjid itupun memang dinisbatkan kepada pemimpin Negara tersebut. Muammar Khaddafi ahirnya juga menemui takdirnya “Di Kudeta” oleh rakyatnya meski tak mudah menggulingkan sang dictator sampai ahirnya dia tewas setelah “dikeroyok” pasukan pemberontak di dukung serangan udara pasukan Amerika dan sekutu Eropa-nya.

Begitu banyak yang berduka ketika beliau wafat dan begitu banyak pula yang bergembira ria. Jemaah majelis zikir Az-Zikra dan begitu banyak jemaah masjid di berbagai Negara yang dibangunnya, jemaah LSM dan Organisasi dakwah yang sekian lama di “bekingi” oleh NYA juga turut berduka. Di ujung cerita, Masjid Muammar Qaddafy di Sentul – Bogor yang kutulis artikelnya itupun, ahirnya berganti nama menjadi Masjid Az-Zikra, tapi aku tetap saja enggan untuk mengganti judul Artikel-ku. Bagaimanapun, Muammar Khadafi memang Wow.***
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Catatan Kecil Dari Karanghaur & Pebayuran

KECAMATAN PEBAYURAN
Karanghaur merupakan nama kampung sekaligus nama desa di kecamatan Pebayuran. Kecamatan Pebayuran sendiri merupakan salah satu kecamatan di dalam lingkup kabupaten Bekasi propinsi Jawa Barat. Jalur termudah untuk menuju karanghaur adalah dari ruas jalan bojong – pebayuran yang bermula dari pertigaan Bojong, beberapa meter sebelum mencapai jembatan Citarum sebelum masuk wilayah kabupaten Karawang di ruas jalan pantura.

Jalanan menuju kesana dari Bojong cukup baik berupa jalan beton cor, meski beberapa bagian jalan sedikit rusak dan beberapa bagian sedang dalam proses pengecoran yang sedikit mengganggu perjalanan. Jalur yang lain adalah dari jalur Pilar – Sukatani – Karanghaur (Pebayuran), tapi bila anda menggunakan mobil dengan ground clearance rendah (sedan dan sejenisnya) atau pengguna motor ceper, sebaiknya tidak melewati jalur itu. Pengguna motor matic ataupun motor sport dengan firing rendah pun harus sangat hati hati.

TIKUS. bangkai tikus yang gepeng dan mengering di ruas jalan.
Penduduk Karanghaur dan Pebayuran umumnya merupakan petani sawah, sistim pengairan irigasi warisan Belanda masih berfungsi sangat baik hingga kini. Hamparan sawah yang menghijau seakan tak berujung di kiri kanan jalan beton yang kita lewati. Salah satu musuh petani adalah hama tikus yang sering membuat petani kewalahan bahkan terancam gagal panen. Penanganan hama tikus disini bukan hal sederhana meski setiap musim, petani disana tetap dengan cara cara sederhana memberantas hama satu ini.

Para petani dengan bergotong royong melakukan sweeping terhadap liang liang tikus secara visual, lalu lubang lubang itu diisi air, tikus tikus sawah yang kehabisan udara terpaksa keluar dan….. kdebuk…. Kena gebuk sampai mati, atau di kejar rame rame dan disikat sampai tewas. Cerita horornya tak selesai sampai disitu, hama tikus yang sudah tak berkutik itu begitu banyak yang dilemparkan atau dibiarkan tergolek di jalan raya yang melintasi pesawahan dan terlindas kendaraan kendaraan yang lewat.

MASJID JAMI' DARUSSALAM - KARANGHAUR
Dan anda pasti sudah bisa menebak, permukaan jalan cor di lokasi perburuan tikus itu berubah corak dengan bercak darah tikus yang terlindas, bangkai bangkai tikus itu dibiarkan disana sampai gepeng, mongering dan lengket ke permukaan jalan cor. Cukup kaget juga ketika pertama kali melintas disana dengan corak jalannya yang aneh itu, dan menyadari corak hitam itu terbentuk dari bangkai bangkai tikus yang tergilas kendaraan yang lalu lalang disana.

Bagi anda anda yang punya inovasi atau ide brilian untuk mengatasi hama tikus dengan biaya murah tapi efektif dan efisien sebaiknya segera bantu saudara saudara kita petani sawah untuk mengatasi serangan hama satu ini.

Masjid Jami Darussalam Karanghaur 

Di Karanghaur berdiri Masjid Jami Darussalam, megah dan merupakan masjid terbesar di seluruh kecamatan Pebayuran, masjid Jami’ satu ini berarsitektur aseli Indonesia dengan atap limas berususun tiga sebagai cirri utama dan tanpa menara. Dan cukup membanggakan, karena masjid besar ini dibangun dengan dana swadaya masyarakat setempat.***

Friday, June 14, 2013

Mengapa Tekad Harus Bulat ?

BULAT
Karena segitiga sudah dipakai oleh cinta ! bukan, karena kalau segi empat gak bisa menggelinding. . . ha ha ha, gak gitu juga lah. Jadi begini brow, bulat atau lingkaran itu bagi orang inggris disebut circle dan tentu saja bersaudara dengan cycle, di Indonesiakan menjadi siklus. Bila menyebut TEKAD KU SUDAH BULAT kira kira sama dengan menyatakan bahwa aku siap menjalani sebuah siklus.

Sebuah siklus terdiri dari serangkaian proses, setiap proses butuh waktu, dan waktu tak pernah mau menunggu, dan menunggu itu selalu membosankan, dan bosan itu yang ahirnya merusak bahkan menghancurkan tekad hingga tak lagi bulat, bila sudah tidak bulat maka bukan lagi tekad namanya. Dan hidup harus punya tekad, karena hidup sendiri merupakan sebuah siklus, bumi tempat kita berpijakpun hidup dalam siklus, dan siang dan malam pun bergantian dalam siklus.

Sebagai sebuah siklus, begitu bertekad maka (semestinya) tak kenal kata gagal, tidak kenal kata tak berhasil yang ada hanya “siklusnya belum usai” dan sebuah siklus memang tak pernah usai, karena bukan siklus namanya bila ada ujungnya. Karena siklus itu seperti lagunya Titi DJ, TAK KAN ADA UJUNGNYA. Karena keberhasilan bukanlah sebuah ahir, tapi justru sebuah permulaan dari sebuah perjalanan siklus berikutnya. 

Sekali Lagi !, tekad itu tak kenal menyerah, tak kan menyerah pada HIDUP, tak kan menyerah kepada MATI, karena menyerah hanyalah kepada yang maha memiliki keduanya.*** 


Timbuktu, Kisah Tentang Wanita Terpercaya di Ujung Dunia

Masjid dan Madrasah Sankore di Timbuktu. Konon merupakan madrasah tertua di dunia.
Bila di jazirah Arab, semasa hidupnya Rosulullah terkenal dengan gelar Al-Amin, karena saking terpercaya-nya. Maka di satu daerah terpencil di benua Afrika, ada seorang ummat Rosulullah, seorang muslimah tua yang bernama BUKTU yang juga sangat dipercaya. Saking dipercayanya, para pedagang lintas bangsa yang melintas wilayah itu menggunakan onta dan karavan seringkali menitipkan sebagian barang dagangan mereka di rumah wanita tua ini, guna meringankan bawaan mereka dan akan diambil kembali saat mereka melintas lagi disana dalam perjalanan pulang.

Dan bertanyalah satu pedagang ke pedagang yang lain “dimana kamu menitipkan sebagian barang bawaan-mu ?” dan di jawab TIM (dalam bahasa Mali = saya titipkan “DI”) “ibu tua” BUKTU. Maka sejak itu terkenallah daerah terpencil itu dengan nama TIMBUKTU alias tempat mentipkan barang ke wanita tua terpercaya bernama BUKTU.


Ketika dikemudian hari penjelajah dan penjajah Prancis dengan sangat susah payah ahirnya tiba di Timbuktu, dengan enteng mereka menterjemahkan kata TIMBUKTU yang ditulis menjadi TOMBOCTOU itu sebagai UJUNG DUNIA. Itu karena saking jauhnya tempat ini dari negara mereka di Prancis sana. Padahal masih banyak tempat lain yang luebihh juawuh dari Prancis.

Dikemudian hari TIMBUKTU terkenal dengan berbagai warisan budaya dunia-nya yang berderet begitu panjang di daftar warisan dunia UNESCO termasuk bangunan Masjid, Madrasah hingga Universitas tertua di bumi, bahkan lebih tua dari Al-Azhar di Mesir. Dan lebih menariknya lagi semua bangunan itu dibuat dari lumpur, menjadikannya begitu eksotis meski sempat menjadi sasaran pengrusakan oleh para pemberontak beberapa waktu lalu.

Hingga kini orang orang Prancis dalam becandanya masih saja menyebut “Minggat Sana ke Timbuktu” sebagai kata ganti dari “Minggat sana ke Ujung Dunia”.
-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga