Thursday, October 30, 2014

PESAN ‘SEJUK’ DARI PANIIS SINGKUP

Objek Wisata Paniis Singkup

Dalam bahasa Sunda Paniis berarti pendingin dan singkup berarti alat atau peralatan. Lalu seperti apa paniis singkup itu. Paniis Singkup adalah kawasan wisata yang secara administratif berada di dalam wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meskipun begitu bila kita dari arah Jakarta melalui jalur pantura, lokasi wisata ini lebih mudah dicapai dari pusat kota Cirebon.

Sesuai dengan namanya kawasan wisata ini memang lumayan sejuk. Wisata andalannya adalah wisata sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai. Sebagaimana sungai yang bersumber dari gunung, air sungai di Paniis singkup inipun jernih, bening dan tentu saja terasa sejuk dan menyejukkan.

Dikawasan in juga tersedia kamping ground, kolam renang yang bersumber dari sungai yang sama dan tentu saja kawasan sungai terbuka tempat para pengunjung berbasah basah ria di alam terbuka. Perusahaan daerah air minum setempat juga membangun penampung air baku di tempat ini dan tentunya tak perlu repot repot untuk melakukan penjernihan.

Kabar angin menyebutkan bahwa air sungai di Paniis Singkup ini dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mandi disana. Benarkah begitu ? satu hal yang pasti bahwa mandi adalah salah satu prosesi penyucian raga, bagian dari proses menjaga kebersihan diri, sesuatu yang sangat ditekankan syariat agama.

Ramai pengunjung di hari libur, baik oleh rombongan berseragam sekolah, muda mudi, hingga keluarga yang sengaja datang berlibur ke tempat ini. Tempat parkir nya cukup memadai, warung makan berjejer di sekitar lokasi dengan harga yang cukup wajar.

MENYEJUKKAN HATI DI PANIIS SINGKUP

Paniis Singkup dapat dicapai dari Matangaji (baca posting sebelumnya) dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Perjalanan dimulai dari Matangaji karena (dimasa lalu) kedua tempat ini memang memiliki keterkaitan satu dengan lainnnya. Menjejakinya dari Matangaji seolah merunut rangkaian perjalanan sejarah Cirebon dan dakwah di Jawa Barat.

Di Paniis Singkup memang tak ada bangunan bersejarah dari masa lalu yang dapat di identifikasi sebagai peninggalan sejarah. Butuh ‘radar’ bersinyal kuat untuk sekedar menemukan serpihan masa lalu yang terserak di bentara alam di lokasi wisata ini. dan tentu saja butuh sumber sejarah untuk merangkainya menjadi sesuatu.

Fatahillah atau Fadhilah Khan atau Tubagus Pasai atau Kyai Bagus Pase atau Falatehan,  Laksanama Kesultanan Demak, di utus oleh sultan Demak untuk membawa pasukan perang-nya bergabung dengan pasukan Cirebon dalam misi penaklukan Portugis di Sunda Kelapa.

Di Cirebon beliau ditunjuk oleh Syarif Hidatullah (Sunan Gunung Jati) untuk memimpin pasukan gabungan tersebut membebaskan Sunda Kelapa dari Jajahan Portugis, Maulana Hasanudin (Putra Syarif Hidayullah) dari Banten turut membantu penyerbuan itu, Fatahillah berjaya menaklukkan Sunda Kelapa dan mengubah nama bandar itu menjadi Jayakarta (Kota Kejayaan).

Paska kemenangan itu Fatahillah menjadi Penguasa pertama di Jayakarta, Banten melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran lalu membentuk kesultanan, dan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi Sultan pertama. Dikemudian hari kota yang ditaklukkan oleh Fatahillah itu berubah menjadi Jakarta, Ibukota Republik Indonesia dan hari penaklukkan itu diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Fatahillah kemudian memilih kembali ke Cirebon dan menyerahkan kendali pemerintahan Jayakarta kepada Tubagus Angke. Di Cirebon beliau malah diserahi tugas sebagai pemangku jabatan Sultan Cirebon oleh Syarif Hidayullah yang ingin melanjutkan dakwah Islam tanpa terbebani oleh Jabatan Politik sebagai Sultan Cirebon. Kala itu putra mahkota masih teramat belia untuk diangkat menjadi Sultan.

Catatan sejarah tak menyebutkan dengan jelas perjalanan Syarif Hidayatullah dalam misi dakwah tersebut. Meski demikian dari rangkaian peristiwa awal mula dakwah beliau di Cirebon hingga berdirinya kesultanan, terbaca dengan jelas bahwa beliau tidak hanya menaklukan hati rakyat disana tapi juga menaklukkan mahluk lain yang tak sudi Islam berkembang di Cirebon.

Sejarah masjid Sang Cipta Rasa yang merupakan masjid kesultanan menyebutkan dengan jelas bahwa masjid tersebut pernah mengalami kebakaran hebat akibat serangan dari Menjangan Wulung yang bertengger di mastaka masjid dan menghajar siapapun yang akan masuk kesana.

Sampai kemudian Syarif Hidayatullah memerintahkan tujuh orang muridnya untuk mengumandangkan azan tujuh kali secara bersamaan untuk mengalahkan si Menjangan Wulung. Tradisi itu di teruskan di Masjid Sang Cipta Rasa hingga kini sebagai Azan Pitu. Siapa menjangan wulung itu?. Pastinya dia bukan dari golongan yang sejalan dengan dakwah yang dibawa oleh Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah dikaruniai umur yang panjang oleh Allah S.W.T dalam kondisi kesehatan yang prima (semoga kitapun demikian, amin) jejak beliau tersebar dimana mana baik yang masih dapat dilihat dengan jelas maupun yang hanya tersisa cerita tutur. Perjalanannya di Matangaji sudah disinggung di tulisan terdahulu.

Di Paniis Singkup, sebuah tempat peristirahatan didirikan. Tujuh orang murid senantiasa menyertai. Mengikuti semua tauziah dari beliau. Menikmati kucuran ilmu di heningnya alam, khusuk mendengarkan kajian, bersila di atas batu yang membentang dalam udara yang sejuk diantara gemericik air.

Ada sebilah keris yang selalu terselip di balik jubahnya. Sang Hyang Nogo. Bukan untuk bertarung, bukan untuk perlindungan diri. Keris adalah pengingat bagi pemiliknya untuk senantiasa tawadhu, senantiasa merendahkan diri dihadapan yang maha kuasa, tidak menyombongkan diri apalagi membanga banggakan diri, tidak memamer mamerkan kepandaian, kekayaan, kekuasaan dan kelebihan, sesungguhnya keris mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa berserah diri kepada Allah S.W.T.

Pasedan, tombak panjang yang turut menemani. Bukan tombak untuk menyerbu, bukan tombak untuk menyerang. Tombak hanyalah batangan yang lurus. Tegak seperti Alif. Aksara pertama yang diajarkan kepada kanjeng Rosul, aksara pembuka semua ilmu, aksara pertama untuk menuliskan nama Tuhan yang serba maha. Tegas berdiri sebagai pembeda dan pemisah antara baik dan buruk, halal dan haram, hak dan bathil, iman dan ingkar. 

Tauhid adalah Keris dan tombak yang sesungguhnya. Di Matangaji dan di Paniis Singkup yang menyejukkan jiwa, beliau berpesan satu kalimat “LAA ILA HA ILLALLAH”.

-------------------


Wednesday, October 29, 2014

MERUNUT HIKAYAT DI MATANGAJI

Masjid Jami' Al-Barkah Matangaji
Matangaji adalah gelar yang melekat kepada Sultan Sepuh Shafiudin, Sultan Cirebon yang berkuasa di keraton Kasepuhan tahun 1773-1786. Beliau merupakan sultan ke-5 yang berkuasa di Kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon dipecah menjadi tiga di tahun 1667 yakni Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman dan yang ketiga adalah Panebahan Cirebon yang tidak memiliki keraton ataupun daerah kekuasaan.

Matangaji juga merupakan nama sebuah desa di kecamatan Sumber di Kabupaten Cirebon. Sultan Shafiudin Matangaji dan Desa Matangaji memang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat. Cerita tutur menyebutkan bahwa desa Matangaji memang merupakan basis dakwah Sultan Shafiudin. 

Kesultanan Cirebon dan VOC (Belanda) menandatangai perjanjian kerjasama perdagangan pada tanggal 7 Januari 1681 dan sejak itu VOC senantiasa melakukan tekanan politik kepada Cirebon untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Dapat difahami bila kemudian Sultan Shafiudin bersama beberapa tokoh lainnya secara diam-diam meninggalkan Keraton pergi ke daerah pedalaman yang sulit diketahui VOC.

Nama nama daerah di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon secara tidak langsung memberikan rangkaian cerita perjalanan Sultan Shafiudin. Dimulai dari Kampung atau blok Capar yang artinya Capai (capek) dan Lapar yang merupakan tempat persinggahan rombongan beliau untuk melepas haus dan dahaga. Nama Kampung Blok pesantren terkait dengan pesantren yang pernah beliau bangun di daerah itu.

Menyusul kemudian nama Sidawangi terkait dengan pesantren yang beliau bangun terkenal kemana mana hingga mengharumkan daerah tersebut. Sida artinya menjadi dan wangi artinya harum. Sultan Syaefudin meninggalkan Desa Sidawangi menyusuri hutan ke sebelah barat lalu membuat pesanggrahan kecil tempat beristirahat bersama para pengikutnya. Tempat itu sekarang disebut Blok Pedaleman, artinya tempat istirahat para dalem atau orang keraton termasuk Sultan Shafiudin.

Disana beliau kembali mendirikan pesantren dan santrinya berdatangan dari berbagai pelosok. Kepada santrinya beliau menganjurkan apabila belajar mengaji jangan tanggung-tanggung, harus sampai matang, dan menggunakan mata hati. Itulah sebabnya hingga sekarang daerah ini dinamakan Desa Matangaji.

Menilik banyaknya daerah yang namanya terkait dengan perjalanan beliau dapat di duga bahwa perjalanan itu memakan waktu cukup lama. Catatan sejarah menyebutkan bahwa masa berkuasanya Sultan Shafiudin hanya 13 tahun saja, sehingga bisa jadi perjalanan tersebut sudah dimulai sejak beliau belum naik tahta sebagai sultan di keraton Kasepuhan.

Terlebih lagi bila kita menelusuri legenda ditengah masayarakat tentang beliau, yang disebut sebut, datang ke (desa) Matangaji tidak sekedar untuk mengajar mengaji tapi juga meneruskan kekuasaan leluhurnya sebagai penakluk ‘mahluk halus’ wiayah barat pulau jawa yang berpusat di Matangaji.

Bagi masyarakat luas di Nusantara, secara umum difahami bahwa seorang sultan tidak hanya merupakan penguasa ‘wilayah lahir’ tapi juga merupakan penguasa di ‘wilayah bathin’. Pusat kekuasaan ‘mahluk halus’ di matangaji pertama kali ditaklukkan oleh Raden Kian Santang, kemudian diteruskan oleh Keponakannya yang tak lain adalah Syarif Hidayatullah sampai kemudian diteruskan oleh Sultan Shafiudin.

Di titik penaklukan itu ditandai dengan sebuah cawan, tempat menampung air kehidupan, banyu panguripan, tirta mala. Meski kau tak kan menemukan setetespun air disana maupun disekitar tempat itu.

Dimanakah tiga tokoh yang disebut namanya itu dimakamkan?. Saya tidak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan tersebut. Hanya saja dalam buku tentang komplek pemakaman astana Gunung Jati di Gunung Sembung, disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah alias Kanjeng Sunan Gunung Jati dimakamkan di area inti astana gunung jati. Begitupun dengan Sultan Cirebon para penerus-nya. Hanya saja, ada satu kebijakan dari kesultanan bahwa hanya keluarga kesultanan saja yang diperkenankan masuk ke dalam Astana Gunung Jati.

Namun menariknya lagi, di matangaji ada satu makam yang cukup unik. Tak terlihat lawas karena sepertinya senantiasa dirawat, meski dengan nisan yang khas, senada dengan semua nisan makam lainnya yang ada di komplek pemakaman itu. Hanya saja makam satu ini tidak sejajar dengan makam lainnya. Bila makam lainnya (menghadap kiblat) kira kira membujur utara – selatan, makam yang satu ini malah membujur barat ke timur.

Konon, saat dimakamkan posisi makam ini sama seperti makam lainnya. Namun setelah prosesi pemakaman usai, makam tersebut berubah sendiri ke posisinya sekarang ini. Konon kata “pewaris katanya”, kuburan satu itu sudah beberapa kali diperbaiki disesuaikan dengan kuburan lainnya namun lagi lagi kembali ke posisi itu dengan sendirinya. Siapa sebenarnya yang dimakamkan disana ?. yang pasti dia memang berbeda. 

Wallohua’lam bishawab.


Thursday, September 25, 2014

Pulau Penyengat ; Mas Kawin Untuk Seorang Permaisuri

Pulau Penyengat dari arah Pantai Tanjung Pinang

Nama pulau kecil ini adalah pulau Penyengat, letaknya di lepas pantai kota Tanjung Pinang, ibukota propinsi Kepulauan Riau. pulau wisata religi dan sejarah kesultanan Melayu Riau dan Johor.

Konon nama penyengat yang disandang pulau ini diambil dari kisah pasukan portugis yang mendarat ke pulau tersebut bubar kembali ke kapal karena diserang oleh sekawanan penyengat alias tawon liar.

Di Pulau ini berdiri sebuah masjid bewarna kuning yang menjadi ikon pulau tersebut, Masjid Sultan Riau pulau Penyengat. di pulau ini masih dapat dijumpai sisa sisa istana kesultanan, gudang mesiu hingga benteng pertahanan.

Dan tentu saja kita kan menjumpai jejeran makam makam tua yang merupakan makam dari para pembesar kesultanan Riau di masa lalu. salah satu nya adalah Makam Engku Putri atau Raja Hamidah anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV.

Engku Putri kemudian dipinang oleh Sultan Mahmud menjadi istrinya tahun 1803. Dan tahukah anda mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud untuk Engku Putri ? ya pulau penyengat itu berikut istana beserta isinya.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Sunday, September 21, 2014

Zamzam Air Terbaik di Bumi

Proyek penyediaan air Zamzam di laksanakan oleh “Penjaga dua Masjid Suci” Raja Abdullah, untuk dapat menyediakan 5000 meter kubik air Zamzam dan 200 ribu jerigen 10 liter per hari.
Air Zamzam merupakan air minum terbaik yang dapat dijumpai di muka Bumi. Jemaah dari seantero dunia dipastikan akan menyempatkan diri untuk minum air ini langsung di Masjidil Haram sebanyak mungkin selagi masih berada disana bahkan rela membelinya dalam jerigen untuk dibawa pulang ke Negara masing masing untuk dapat berbagi bersama keluarga dan handai taulan.

Air Zamzam merupakan satu anugerah dari Allah S.W.T yang persediaannya tak pernah habis meski disedot dengan pompa canggih setiap saat. Kita tahu bahwa sejarah air Zamzam merupakan anugerah Allah kepada Nabi Ismail a.s. saat beliau menangis karena kehausan yang kemudian membuat ibunda beliau, Siti Hajar belarian antara bukit Safa dan Marwa yang kini diabadikan sebagai salah satu ritual haji.

Bunda Hajar baru berhenti berlari antara dua bukit tersebut sampai kemudian beliau mendapati air jernih yang menyembur dari pasir yang didorong dorong oleh kaki mungil nabi Ismail yang masih bayi. Seketika itu beliau bergerak meninggikan pasir disekitar memancarnya air untuk menampung air tersebut sambil berucap Zamzam, Zamzam, Zamzam. Ucapan itu yang kemudian abadi menjadi nama air yang memancar ditempat itu, dan sejak itu juga pancaran air tersebut tak pernah berhenti mengalir hingga kini.

Para penguasa yang silih berganti di kota Mekah senantia merawat dan menjaga sumur air Zamzam demi kemaslahatan ummat. Sampai kemudian Negara Saudi terbentuk, raja raja Saudi pun melanjutkan tradisi itu sebagaimana dilakukan oleh Raja Abdullah selaku penjaga dua Masjid Suci. Proyek yang beliau jalankan bagi penyediaan air Zamzam bagi seluruh jemaah, mampu menyediakan 5000 meter kubik ditambah dengan 200 ribu jerigen air Zamzam yang masing masing berisi 10 liter, setiap harinya.

Proyek tersebut dijalankan pada bulan Ramadhan tahun 2010 lalu dengan menyediakan 42 titik distribusi sejak dari sumbernya. Sebagai hasilnya air Zamzam dalam Jerigen kini tersedia 24 jam setiap harinya. Proyek tersebut mencakup sistem produksi yang menghasilkan 5 juta liter air melalui penyaringan linier. Air ditampung dalam tangki utama berkapasitas 10 juta liter dengan sokongan 4 pompa ke Masjidil Haram menggunakan pipa stenlis berdiameter 200 mm.

Keseluruhan proses pemrosesan Air Zamzam ini menempati fasilitas di atas lahan seluas 13,405 meter persegi dan terdiri dari beberapa bangunan dengan kompresor udara, gudang dan jalur produksi. Dilengkapi juga dengan pembangkit listrik berkapasitas 10 MW dengan sistem pengendali komputer yang memungkinkan pengawasan dan pengendalian setiap tahapan proses nya termasuk pengendalian dan pengawasan terhadap pompa yang menyedot air langsung dari sumur Zamzam hingga ke proses pengemasannya.

Fasilitas tersebut juga memiliki gudang sentral lengkap dengan sistem tata udara dan sistem peringatan kebakaran yang menelan dana hingga 75 juta Real Saudi. Gudang di fasilitas ini dibangun 15 tingkat untuk dapat menangani pendistribusian 1.5 juta jerigen berisi 10 liter air Zamzam. Dan keseluruhan fasilitas terebut dihubungkan dengan jalur dan jembatan untuk memudahkan proses produksi dan distribusi masing masing gedung di dalam fasilitas tersebut.***


Friday, September 12, 2014

Suara Rakyat [bukan] Suara Tuhan


SUARA RAKYAT SUARA TUHAN, Kalimat ini marak digunakan lagi. Dan kebanyakan dipakai oleh para politisi penolak Rancangan Undang Undang Pemilihan Kepala Daerah yang mewacanakan pemilihan kepala daerah oleh DPRD, alias tidak lagi dengan metoda pemilihan langsung oleh rakyat seperti yang telah beberapa kali berjalan.

Saya tidak akan membahas tentang RUU Pilkada itu, hanya saja benar benar merasa terusik oleh kalimat itu. Sejujurnya saya tak telalu heran dengan laku lampah mereka yang bertarung di kancah politik bertajuk demokrasi. Namun lagi lagi, hanya saja, benar benar luar biasa hingga sampai ke batasan itu.

Saya juga rakyat lho, dan “demi dzat yang menguasai langit dan bumi serta se-isinya” saya katakan bahwa SAYA BUKAN TUHAN. Sehingga suara saya pun bukan suara Tuhan. Suara mahluk se-isi dunia ini pun bila digabung jadi satu tetap saja adalah suara mahluk dan tidak akan pernah berubah menjadi suara tuhan.

Tuhan tak pernah salah pilih. Dan tak akan tertipu oleh aktor penebar pesona dan pelaku pencitraan paling ulung se-dunia dan ahirat sekalipun. Lalu tuhan macam apa yang tertipu dengan pilihannya sendiri, tuhan macam apa pula yang suka berdemo karena suaranya telah di khianati.

Anggota DPR dan DPRD yang saat ini sedang menjabat itu pun dipilih oleh rakyat secara langsung. BILA (memang) suara rakyat adalah suara tuhan MAKA berarti mereka semua sudah dipilih oleh suara Tuhan. Bila memang sudah mutlak yakin bahwa suara rakyat adalah suara tuhan, lalu kenapa ribut ribut menyatakan ketidaksetujuan dengan tingkah polah mereka yang sudah dipilih oleh suara tuhan?.

Bukankah kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang menyatakannya benar. Karena bila kebenaran ditentukan oleh suara terbanyak maka kita tidak perlu sang juru salamat, yang menyelamatkan manusia dari zaman kegelapan. Bila suara mayoritas adalah kebenaran hingga dianggap sebagai suara tuhan, maka tuhan pun (pastinya) tidak akan pernah mengutus para utusannya ke muka bumi.

Akan tetapi bila memang sudah sangat yakin bahwa ‘suara rakyat adalah suara tuhan’ maka jangan salahkan bila terjadi keterjepitan suara minotitas atas suara mayoritas. Itu adalah buah dari sikap yang 'menuhankan rakyat’hingga suaranyapun dianggap sebagai suara tuhan.

BILA suara rakyat adalah memang suara tuhan, MAKA sama saja dengan mengakui bahwa rakyat adalah tuhan. Bila “nama tuhan”nya adalah “rakyat”, lalu kira kira apa nama agamanya ya?. Kenapa tidak sekalian saja ganti KTP untuk ganti status agama yang sekarang dengan agama baru dari ‘tuhan’ yang bernama ‘rakyat’. aji mumpung kolom agama di KTP belom kadung dihapus.


Wednesday, September 10, 2014

Dijual Muahal, Rumah Menggantung di Jurang. Wew

Dijual, rumah di bibir jurang, idih serem amat.
Pengen tinggal di rumah yang menggantung di-jurang, menghadap ke laut dengan pemandangan spektakuler ?. mungkin memang ide yang terlalu gila dan tidak cocok untuk yang tak terbiasa atau memiliki penyakit takut ketinggian. Tapi mungkin akan menjadi properti bernilai tinggi bagi mereka yang suka dengan rumah tak biasa dan sangat ekstrim satu ini.

Rumah di atas memang baru sebatas konsep dan ide yang dibuat dan ditawarkan oleh modscape, sebuah perusahaan properti Australia yang menawarkan konsep rumah / villa ekstrim yang dibangun di tempat tempat tak biasa seperti di dinding jurang sebagaimana dalam foto diatas.

Rumah yang ditawarkan adalah rumah lima lantai, pintu utamanya bukan dilantai bawah tapi justru dibagian atap alias lantai paling atas, berfasilitas lengkap dan mewah, dilengkapi dengan garasi, tiga kamar tidur, hingga area untuk barbeque di lantai paling bawah, dan di tata dengan dekorasi bercita rasa tinggi.

Hanya saja, untuk dapat membeli property edan satu ini tak cukup hanya dengan punya uang segudang tapi juga harus memiliki nyali yang cukup. Lumayan kan setidaknya bisa dipastikan yang datang bertamu pun adalah mereka yang memiliki nyali yang sudah teruji. Berminat?.

Sumbernya disini

Monday, September 8, 2014

Hujan Dalam Syariat Islam

do'a saat turun hujan

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhaini radhiallahu anhu dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kami shalat subuh di Hudaibiah di atas bekas-bekas hujan yang turun pada malam harinya. Setelah selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda, “Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?” mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “(Allah berfirman), “Subuh hari ini ada hamba-hambaKu yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang berkata, “Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya,” maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, “(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu,” maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR. Al-Bukhari no. 1038)

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beliau berdoa, “ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat).” (HR. Al-Bukhari no. 1032)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui seorangpun kecuali Allah: Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim, tidak ada satu jiwapun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok, tidak ada satu jiwapun yang tahu di bumi mana dia akan mati, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.” (HR. Al-Bukhari no. 1039)

Penjelasan ringkas:

Hujan adalah nikmat dan anugerah dari Allah yang dengannya Dia memberikan keutamaan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Dan juga pada firman-Nya:

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syuraa: 28)

Di antara manfaat turunnya hujan adalah:

1.    Sebab adanya rezki.
       Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surah Al-Baqarah di atas.

2.    Hidupnya bumi.
       Allah Ta’ala berfirman:

 “Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya.” (QS. Al-Baqarah: 164)

3.    Sebagai penyuci dalam thaharah.
       Allah Ta’ala berfirman:

 “Dan Dia menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu.” (QS. Al-Anfal: 11)

4.    Untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup di bumi.
       Allah Ta’ala berfirman:

“Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian mengembalakan ternak kalian.” (QS. An-Nahl: 10)

Karenanya, menyandarkan sebab turunnya hujan kepada selain Allah – baik itu kepada bintang tertentu atau kepada masuknya bulan tertentu atau kepada selain-Nya – merupakan perbuatan mengkafiri nikmat dan merupakan perbuatan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Karenanya, sudah sepantasnya manusia menyandarkan turunnya hujan itu hanya kepada Allah, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan kecuali Allah semata. Adapun bintang-bintang atau masuknya bulan tertentu maka itu hanyalah sekedar waktu dimana Allah Ta’ala menurunkan nikmat-nikmatNya kepada para hamba pada waktu tersebut, mereka bukanlah sebagai sebab apalagi jika dikatakan mereka yang menurunkan hujan.

Imam Asy-Syafi’i berkata dalam Al-Umm mengomentari hadits Zaid bin Khalid di atas, “Barangsiapa yang mengatakan ‘hujan diturunkan kepada kita karena bintang ini dan itu’ -sebagaimana kebiasaan pelaku syirik- dimana mereka memaksudkan menyandarkan sebab turunnya hujan kepada bintang tertentu, maka itu adalah kekafiran sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sabdakan. Karena munculnya bintang adalah waktu, sementara waktu adalah makhluk yang tidak memiliki apa-apa untuk dirinya dan selainnya. Dan siapa yang mengatakan ‘hujan diturunkan kepada kita karena bintang ini’ dalam artian ‘hujan diturunkan kepada kita ketika munculnya bintang ini’, maka ucapan ini bukanlah kekafiran, akan tetapi ucapan selainnya lebih saya senangi.”

Tatkala turunnya hujan terkadang bisa membawa manfaat dan terkadang bisa mendatangkan mudharat, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajari umatnya agar meminta kepada Allah hujan yang mendatangkan manfaat setiap kali hujan turun. Di antara keterangan yang menunjukkan bahwa hujan terkadang membawa bencana dan siksaan adalah firman Allah Ta’ala:

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-Ankabut: 40)

Juga pada firman-Nya:

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.” (QS. Saba`: 16)

Waktu turunnya hujan termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah semata. Karenanya, barangsiapa yang mengklaim mengetahui waktu turunnya hujan atau mengklaim bisa menurunkan hujan atau mengklaim bisa menahan turunnya hujan (pawang hujan) maka dia telah terjatuh ke dalam kekafiran dan kesyirikan berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak yang menjelaskan kafirnya makhluk yang mengklaim mengetahui perkara ghaib.

Sebab-sebab umum turunnya hujan:

1.    Ketakwaan kepada Allah.
       Allah Ta’ala berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

2.    Istighfar dan taubat dari dosa-dosa.
       Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh bahwa beliau berkata:

“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.” (QS. Nuh: 10-11)

3.    Istiqamah di atas syariat Allah.
       Allah Ta’ala mengabarkan:

“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar.” (QS. Al-Jin: 16)

4.    Istisqa`, baik sekedar berdoa maupun diiringi dengan shalat.

-------------------


Dikutip dari al-atsariyyah.com