Showing posts with label sejarah gelumbang. Show all posts
Showing posts with label sejarah gelumbang. Show all posts

Tuesday, July 17, 2018

Gelumbang (Pernah) Punya Lapangan Terbang ?

Lapangan terbang Gloembang atau Belanda Menyebutnya lapangan terbang P2 (Palembang Dua) di identifikasi sebagai Lapangan yang kini berada di dalam areal Batalyon Kavaleri 5 Kodam Sriwijaya di desa Karang Endah, kecamatan Gelumbang. Anda bisa lihat dengan jelad dalam foto udara dari Google map di atas sebuah lapangan mirip landasan pacu pesawat terbang pada sisi kanan foto.

Gelumbang adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah yang dulunya merupakan satu kecamatan yang sangat luas dan kini sudah di mekarkan menjadi 6 kecamatan terdiri dari Kecamatan Gelumbang sebagai kecamatan induk, Kecamatan Lembak, Kecamatan Sungai Rotan, Kecamatan Muara Belida, Kecamatan Belida Darat dan Kecamatan Kelekar. Ke enam kecamatan ini sedang dalam persiapan untuk membentuk Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Gelumbang.

Sejarah mencatat, wilayah bekas kecamatan Gelumbang yang kini mekar menjadi 6 kecamatan dan biasa disebut dengan istilah Dapil-3, pernah memiliki dua Lapangan Terbang. Satu lapangan terbang dibangun oleh penjajah Belanda di wilayah Desa Karang Endah, dan satu lagi di bangun oleh PT. Patratani, anak perusahaan PT. Pertamina Persero, di tengah perkebunan kelapa hibrida yang dikelolanya dan kini masuk ke dalam wilayah kecamatan Muara Belida.

Majalah Departemen Pertahanan Australia (ADF) Edisi November – Desember 2006 merilis sebuah laporan penyelidikan tentang sejarah keberadaan lapangan terbang di wilayah Gelumbang, tepatnya di pangkalan militer Karang Endah. Lapter tersebut di identifikasi dengan kode P2 Airstrip atau Palembang 2 Airstrip.
.
Laporan tersebut terkait sejarah Militer Australia yang pernah menggunakan lapangan terbang P2 Karang Endah sebagai perhentian, pada saat seluruh pasukan Australia diperintahkan mundur dan keluar dari wilayah Malaysia dan Singapura.
.
Foto udara dari pihak Belanda, suasana Lapangan Terbang P2 Karang Endah atau Lapangan Terbang Gloembang.

Lapter P2 Karang Endah awalnya dibangun oleh Belanda di pangkalan militer Belanda di Karang Endah berupa lapangan rumput luas dengan runaway berpermukaan tanah yang dipadatkan. Pembangunannya terkait dengan persiapan militer Belanda menghadapi serbuan pasukan Jepang di tahun 1941 sebagai lapangan terbang kedua (cadangan) setelah lapangan terbang P1 atau Palembang Satu di Talang Betutu.
.
Pembangunan lapangan terbang tersebut memang tidak pernah selesai, namun demikian sudah digunakan oleh pihak tentara Belanda dalam hal ini adalah pasukan Militaire Luchtvaart – Koninklijk Nederlands Indisch Leger (ML-KNIL) pada bulan Desember 1941 dan diperlengkapi dengan pengebom Glen Martin. Pasukan tersebut kemudian ditarik mundur dan direlokasi ke Semplak (Bogor) pada tanggal 26 Januari 1942 (lokasi yang kini kemungkinan menjadi Pangkalan TNI AU Atang Sanjaya, Bogor).
.
Digunakan oleh pasukan sekutu
.
Seiring dengan pecahnya perang tanggal 8 Desember 1941, Hindia Belanda (Netherlands East Indies), Amerika Serikat, Inggris dan Australia bersekutu dan membentuk Kerjasama pertahanan udara pada tanggal 15 Januari 1942. Namun kemudian penarikan pasukan negara negara ini terbilang lambat dari dari wilayah Malaya sampai dengan menyerah nya Jepang di 8 Maret 1942.
.
Dalam rangka penarikan pasukan tersebut, AU Inggris (RAF) dan pasukan AU Australia menggunakan Pangkalan Udara P1 (Talang Betutu) dan Lapter P2 (Karang Endah). Lapter P2 Karang Endah sempat di pimpin oleh Kapten McCauley dari AU Inggris (RAF) pada tanggal 31 Januari 1942.
.
Pasukan TNI Hijrah. Paska penandatangan perjanjian Renville pasukan TNI harus hijrah dari wilayah Belanda ke wilayah Republik Indonesia. Tampak dalam foto di atas pasukan TNI sedang berkumpul di Lapangan Terbang Karang Endah yang kala itu masih dikuasai Belanda untuk bersiap hijah masuk ke wilayah Republik Indonesia.

Pesawat pesawat militer yang pernah bertugas di Lapter P2 Karang Endah termasuk pesawat Lockheed Hudsons dari Skuadron 1 AU Australia (RAAF) dan skuadron 62 AU Inggris (RAF), Bristol Blenheims dari skuadron 27 AU Inggris (RAF) dan Skuadron 84 AU Inggris (RAF), yang semuanya dibawah kendali kelompok pembom 225 AU Inggris (RAF). tidak ada data pasti tentang jumlah pesawat yang di Lapter P2 Karang Endah ini saat itu namun diperkirakan terdapat lebih dari 100 pesawat yang tersebar dibawah pepohonan.
.
Dikuasai pasukan Jepang (Februari 1942-Agustus 1945)
.
Pada tanggal 14 Februari 1942, pasukan militer Jepang berhasil merebut Lapangan terbang P1 (Talang Betutu) dan berikutnya berhasil menguasi wilayah kota Palembang dan dua kilang minyak di seberang selaran Sungai Musi. Situasi itu menyebabkan lapter P2 Karang Endah sangat sulit untuk dipertahankan oleh pasukan Belanda dan sekutunya, dan berujung kepada penarikan pasukan Belanda dan Australia ke pulau Jawa pada tanggal 16 Februari 1942, Induk pasukan terahir yang ditarik dari Karang Endah adalah Batalyon Infantri X.
.
Gelumbang dan sekitarnya jatuh ke tangan pasukan Jepang pada 21 Februari 1942 termasuk Lapter P2 Karang Endah, dan pada tanggal 24 Februari 1942 pesawat Jepang pertama kali mendarat di Lapter P2 Karang Endah, terdiri dari 29 pesawat pembom Mitsubishi G3M bombers dan pesawat angkut tunggal Genzan Kokutai dari Detasemen AL ke 22 Jepang (Koku Sentai). Di hari berikutnya Lapter P2 ini digunakan oleh detasemen Genzan Kokutai sebagai basis untuk menyerang Tanjung Periok.

Lapangan Terbang Gloembang

Selanjutnya Lapter P2 Karang Endah digunakan oleh Angkatan Udara Jepang dan mengganti nama P2 menjadi Lapangan Terbang Gloembang dan melengkapinya dengan 54 unit pesawat tempur Nakajima Ki-44 fighters dari skuadron Sentai ke 87 pada pertengahan bulan Oktober 1944. Fungsi utama Lapter Gloembang adalah sebagai pangkalan pesawat tempur untuk melindungi kilang minyak di Plaju dan Sungai Gerong yang sudah di kuasi Jepang.
.
Pertempuran udara Skuadron 87 Sentai dari Lapter Gloembang ini terjadi pada tanggal 24 dan 29 Januari 1945 ketika pesawat pesawat tempur Inggris menyerang Sungai Gerong dan Plaju. Dalam pertempuran udara itu Skuadron 87 Sentai kehilangan 12 pesawat mereka. Hal itu diperkuat oleh laporan pihak mliter Jepang tanggal 14 Maret 1945 yang menyebutkan bahwa Skuadron 87 Sentai merupakan satu satunya penguasa di Gloembang dengan kekuatan 17 pesawat tempur jenis Nakajima Ki-44s. Sedangkan unit tempur yang lain termasuk Skuadron Sentai ke 21 dan 33 menggunakan Lapter Gloembang sebagai lapter singgah dari pangkalan utama mereka di Talang Betutu.
.
Gerbang Komplek Batalion Kavaleri 5 (YONKAV-5) Karang Endah, ditepian ruas jalan dari Gelumbang ke arah kota Prabumulih.

Sebuah laporan intelejen pada bulan Oktober 1945 le,imglomam berasal dari sumber sumber Inggris, menyebutkan bahwa diperkirakan terdapat tujuh pesawat tempur jepang jenis Kawasaki Ki-45, 12 pesawat Mitsubishi Ki-46, satu Mitsubishi Ki-30 dan satu Mansyu Ki-79 milik mirliter Jepang, terbengkalai tak terurus di Lapangan Terbang Gloembang. Laporan ini menjadi menarik karena jenis pesawat yang disebutkan berbeda dengan jenis Nakajima Ki-43 dan Ki-44 yang dilaporkan beroperasi dari Lapter Gloembang.

Lapter Gloembang di masa awal Kemerdekaan (Agustus 1945 – Juli 1947)

Seiring dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu dan Proklamasi kemerdekaan Indonesia, di pulau sumatera terdapat lebih dari 60 lapangan terbang termasuk Lapter Gloembang atau P2 Karang Endah dibawah kendali pemerintah Indonesia. Namun demikian pemerintah Indonesia tidak langsung mengelola lapangan lapangan terbang P1 Talang Betutu dan Lapter Gloembang atau P2 Karang Endah dan masih di bawah pengelolaan AU Belanda.
.
Hal tersebut kemungkinan karena kebanyakan pesawat yang ada dalam kondisi rusak atau tak terawatt ataupun karena ketiadaan pilot untuk mengoperasikan pesawat pesawat di Lapter tersebut karena para pilot TNI saat itu masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan Sumatera Utara.
.
Meski pernah disebutkan dalam sebuah diskusi di Palembang pada tanggal 26 September 1946 tentang pembentukan fasilitas pelatihan bagai para pilot di wilayah Sumatera Selatan dan kemudian pihak Belanda menyebutkan fasiltas dimaksud dibentuk di Lapter Gloembang atau Lapter P2 Karang Endah namun demikian laporan ini tidak ditemukan dalam catatan catatan sejarah ataupun publikasi pemerintah Indonesia.
.
Tampaknya saat itu pemerintah Indonesia konsentrasi kepada perbaikan lapangan terbang di Sumatera termasuk Lapter P2 Karang Endah, hal tersebut untuk menunjang upaya percepatan pengadaan penerbangan rutin antara Lapter Maguwo (Yogyakarta) ke Changi (Singapura) dengan perhentian untuk pengisian bahan bakar di Lapter P2 Karang Endah dan Bukit Tinggi.
.
Penerbangan rutin oleh beberapa maskapai telah dimulai pada tanggal 9 April 1947 namun tidak diketahui apakah penerbangan penerbangan tersebut melakukan pendaratan singgah di Lapter Gloembang atau tidak.

Diketahui bahwa pada pada tanggal 20 September 1946 Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma bersama pilot Opsir II Imam Suwongso Wirjosaputro berangkat dari Yogya menuju Pangkalan Udara Karang Endah, untuk meresmikan pembukaan pangkalan tersebut.

Agresi Militer Belanda I (July 1947 – April 1950)

Di masa Agresi Militer Belanda pertama, Lapter P2 Karang Endah kembali di kuasi oleh tentara Belanda pada tanggal 25 Juli 1947 oleh Resimen ke 7 Regiment Stoottroepen (RS). Agresi tersebut merupakan bagian dari upaya Belanda untuk merebut ladang minyak di wilayah Sumatera Selatan.
.
Lapter P2 Karang Endah kemudian dikelola oleh Detasement Piper Cubs yang merupakan bagian dari 17 Verkenning en Artillerie Waarneming Afdeling (VARWA). Dan Karang Endah menjadi salah satu dari 40 Lapter yang dikuasai oleh 17 VARWA di pulau Sumatra.
.
TNI AD (April 1950 – sampai Sekarang)
.
Lapangan terbang P2 Karang Endah atau Lapangan Terbang Gloembang diserah terimakan dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia pada bulan April 1950 sebagai bagian dari penyerahan seluruh fasilitas KNIL kepada pemerintah Indonesia.
.
Kini Lapangan Terbang P2 Karang Endah atau oleh pihak Jepang disebut sebagai Lapangan Terbang Gloembang dan seluruh fasilitas militernya menjadi fasilitas militer TNI Angkatan Darat, dalam hal ini menjadi Markas Batalyon Kavaleri 5 (Yonkav V) Kodam Sriwijaya, di desa Karang Endah, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
.
Sejauh ini tidak ada laporan resmi tentang penggunaan bekas lapangan terbang P2 tersebut. Sebagai fasilitas militer negara, kawasan tersebut tentu saja tertutup untuk umum kecuali dengan izin resmi dari pihak berwenang.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------


Referensi

Friday, August 23, 2013

Dongeng PejEratan

Makam Pendiri Gelumbang, di dalam bangunan beratap, makam di bagian depan foto bertuliskan "cucu Fatahillah". 
Anda tahu apa itu pejEratan ?. tidak tahu kah, itu sangat wajar, karena memang perkiraan saya sih 90% lebih penduduk Negara ini tak faham arti kata itu. pejEratan merupakan kata dalam bahasa Belida atau Blide yang berarti pekuburan alias pemakaman. Jangan salah menyebutnya apalagi sampai terpeleset menjadi pejelatan, karena pejelatan artinya adalah mainan. Dan masalah pejEratan bukanlah masalah pejelatan, iya kan. Belida sendiri merupakan salah satu suku yang mendiami kawasan sepanjang tepian sungai Belida, salah satu anak sungai Musi di provinsi Sumatera Selatan.

Di kampung kami di kelurahan Gelumbang yang masuk dalam wilayah Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan, (dulunya) PejEratan berada di ujung kampung di bagian hilir, dan sama seperti halnya pemakaman di bagian lain negeri ini yang selalu di identikkan dengan angker, seram, hantu, pocong, kuntilanak, genderuwo, arwah penasaran, klenik, mitos, mistik dan lain sebagainya.

Di bagian depan pejEratan itu dulunya ada beberapa pohon besar dan tinggi salah satunya adalah pohon cempedak yang berdiri kokoh hanya beberapa depa dari ruas jalan lintas (tengah) Sumatera yang menghubungkan kota Prabumulih di selatan ke kota Palembang di utara. Di bawah pohon besar itu dulu semasa kanak kanak kami seringkali nongkrong menjajakan burung betet kepada para pengguna jalan yang lalu lalang bersama teman teman.

Tak ada rasa takut atau seram kala itu itu, karena memang tidak sendiri. Apalagi diantara kami ada beberapa orang adalah teman teman senior yang jauh lebih tua yang salah satunya kini telah menjadi “pengusaha muda Gelumbang” alias orang terkaya di Gelumbang, karena kesuksesan bisnis yang digelutinya, pastinya bukan karena jualan burung Betet, ya.

pejEratan yang dulu berada di ujung kampung yang sunyi senyap kini sudah berada di tengah keramaian. Dan tentu saja bukan karena pejEratannya yang bergeser tapi karena memang kampungnya yang telah berkembang pesat. Pohon pohon besar di tepian jalan di depan nya kini sudah lenyap beganti dengan beberapa rumah dan ruko yang konon pemiliknya membeli lahan tersebut dari seseorang secara sah, meski terasa agak aneh mengingat pejEratan itu (konon juga) merupakan lahan bersama dan sejak dulu sudah penuh sesak dengan makam makam tua hingga ke tepian jalan raya, tapi begitulah.

Memang sih sebagian lahan yang oleh masyarakat dianggap sebagai “lahan pemakaman umum” itu memang merupakan lahan pribadi yang tidak pernah ada pernyataan resmi dari pemilik nya untuk dijadikan areal pemakaman umum, meski pihak keluarga kemudian memakamkan jenazah kerabat mereka disana dan dikemudian hari di ikuti oleh kerabat yang lain. Lalu di hari yang lain jenazah orang lain pun turut dimakamkan disana tanpa sepengetahuan pemilik lahan dan walahasil semakin hari semakin bertambahlah hingga terkesan seolah olah seperti lahan pemakaman umum.

Makam Pendiri Gelumbang

Di pejEratan Gelumbang terdapat satu makam yang terlihat sangat menyolok berbeda dengan yang lain, karena merupakan satu satunya makam yang diberi atap di area tersebut. Bangunan makam yang dalam bahasa Belida disebut Gobah. Makam tersebut merupakan makam pendiri Gelumbang. Merujuk kepada nama yang di tulis di dinding bangunan makamnya serta di batu nisannya, beliau bernama Raden Mardin Bin Raden Wiharjo (1452M) beserta istrinya bernama Huminah Binti Dinharjo (1452M).

Raden Mardin Wiharja. diyakini sebagai nama dari pendiri Gelumbang yang kini menjadi Kelurahan di dalam lingkup wilayah Kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. 
Masih di dalam gobah juga terdapat dua makam lainnya yang nisannya sama sekali baru yakni makam dari Abdullah Bin Hasbullan (1505-1772) dan R. Afillah atau mungkin Rafillah Bin Mardin (1792H), hanya saja yang terahir ini satu satunya yang bertarikh Hijriah, sedangkan yang lainnya bertarkh masehi.

Saya pribadi cukup surprise dengan nama nama yang tertulis disana mengingat selama ini masyarakat setempat mengenal makam tersebut tak lebih dari sebutan “Makam Junjungan Dusun” tanpa nama. Dan tak ada seorang pun yang pernah menyebut siapa nama beliau sebenarnya. Lebih surprise lagi karena semua tulisan nama nama dan tahun yang ada adalah “barang baru” karena memang ditulis diatas sebuah batu nisan yang terlihat masih baru, tulisan di dinding makamnya juga masih baru yang sepertinya dibuat bersamaan dengan perbaikan bangunan tersebut.

Makam aslinya dulunya hanya berupa gundukan tanah seperti sarang semut yang menggunung tinggi diatas sepasang makam dengan nisan tanpa nama dan memang sudah diberi atap. Disebut sebagai sepasang makam dikenali dari bentuk nisannya, kebiasaan masyarakat setempat bahwa nisan bentuk bundar untuk makam laki laki dan nisan bentuk pipih untuk makam perempuan, dan sudah lumrah bila makam suami istri biasanya berdampingan. Nisan baru dengan nama dan tarikh nya itu diletakkan bersebelahan dengan nisan aslinya.

Lebih surpise lagi ketika mendapati begitu banyak nisan nisan baru yang juga bertarikh abad ke 15 di sisi kiri dan kanan bangunan tersebut, ditambah lagi beberapa makam yang berada agak ke selatan, tiga diantaranya ditulis dengan nama “Cucu Fatahillah”. Cukup penasaran dengan fakta yang ditemui hari itu.

Nisan nisan baru yang ada di sisi kanan (utara) bangunan makam (gobah) terdiri dari : Wahyu Utama Prabu Jatiraga (1792), Dharma Hastina (482m) Wali Allah (1604M), Hasni Barowawi (1792M), Syahidan Bin Arya Sahdan Muria Binti Sumiyah (1560), Amatullah Raden Sahdan (1792M), Anggap Wali (Tanpa tarikh), Raden Kusuma (1555M), Tasaka bin indrawati (tanpa tarikh), Tassxxx (Tak terbaca dengan jelas) (1452m), K.Hardi Purwa Dihardja (tanpa tarikh), Alang Wigiarta Kencana - Ki Mata Elang (1560m), R.J Sri Gana (tak bertarikh), Sultan Wigiarta - Ki Wage (tanpa tarikh),

Di sisi selatan (sebelah kiri Gobah) : Raden Rahaxxxx (tak bertarikh), Putri Kembang Rangga Tasaka (tanpa tarikh), Raden Wiharja (1224m), Cut Arda Ratu Seribu (1481m), Prabu Satria Sancaka (1792m), Ki Harja Purwa Dihardja (1542m), Raden Arda Tasaka (1560m), Raden Batu Lambang (1420m). ditambah dengan lima makam yang berada kira kira di di bagian depan Gobah terdapat empat makam cucu Fatahillah (tak bertarikh), Hambiyatullah Fatah (1600m).

Cukup penasaran untuk sekedar tahu siapa gerangan yang membuat dan memperbaiki gobah makam junjungan dusun itu, tokoh masyarakat kah ? atau ketua adat kah? Atau pihak lain. Pembuat dan pemasang nisan baru dengan tarikh yang sudah teramat tua di areal tersebut sepertinya melupakan kaidah local tentang bentuk nisan yang lazim dipakai, tapi usaha nya patut di appresiasi. Menjadi semakin penasaran mengingat begitu akuratnya tarikh tahun yang ditulis di masing masing makam, pastinya si pemasang memiliki sumber sejarah yang mumpuni.

Empat nisan bertarikh yang sama tahun 1792 (abad ke 18), dua nisan bertarikh abad kw 17, lima nisan dari abad ke 16, tiga nisan dari abad ke 15, satu nisan dari abad ke 13 dan yang paling menarik adalah adanya satu nisan yang bertarikh tahun 482 atau abad ke 5 masehi.  Bila itu benar boleh jadi makam itu sebagai (salah satu) makam paling tua di tanah Sumatera.

Dari Ahli Waris

Sejauh ini saya tidak (atau belum) menemukan sumber di kampung halaman yang mampu membeberkan secara akurat tentang hal hal yang sudah disebutkan tadi, sampai dua hari setelah berziarah kesana seorang teman lama berkunjung ke rumah dan ahirnya mengakui bahwa dialah yang memasang nisan nisan baru lengkap dengan nama dan tahun tersebut sekitar dua tahunan yang lalu. Dan dia mengaku bahwa semua sumber data dia dapatkan langsung dari ahli waris atau keturunan dari yang bermakam di Gobah tersebut. Karena si ahli waris kini masih menetap di Surabaya beliau menitipkan hal tersebut ke teman lama yang satu ini.

Bahasan menjadi manarik karena topik satu ini terbilang sangat jarang dibicarakan atau setidaknya belum pernah kudengar sebelumnya. Sekian tahun lalu di kelurahan Gelumbang masih sempat mengikuti satu kali perayaan yang disebut “sedekah pedusunan” sebuah acara yang sebenarnya untuk memperingati berdirinya kampung tersebut dengan salah satu seremoninya adalah ziarah beramai ramai ke makam leluhur, saat itu ziarah ke gobah makam di Talang Manyan. Dalam kata sambutan yang disampaikan oleh tokoh setempat saat acara pun tidak membeberkan apalagi mengulas tentang sejarah kampung dengan jelas. Acara sedekah pedusunan itupun kini menghilang.

Lebih menarik lagi ketika kawan lama ku itu menjelaskan bahwa dari informasi yang didapatkannya, Raden Mardin Wiharjo yang bermakam di Gobah junjungan dusun merupakan pendatang dari kerajaan di tanah Jawa dari trah Hamengkubuwana I Raja Mataram. Sampai dititik tersebut setidaknya memberikan penjelasan bahwa memang sejak awal berdiri-nya kampung tersebut, penduduk Gelumbang sudah memeluk agama Islam. mengingat Mataram sendiri memang merupakan kerajaan Jawa meneruskan tahta Kesultanan Pajang dan Demak. Diskusi malam itu memang terlalu singkat untuk membahas detil termasuk tarikh tahun yang ditulis di masing masing makam.

Rupa bumi yang mulai berubah

Para pendiri kampung tersebut dulunya datang melalui jalur sungai hingga ahirnya tiba di tanah yang kini menjadi kelurahan Gelumbang. Hanya saja sungai yang dulu mereka gunakan sebagai jalur transportasi utama itupun sudah lenyap sejak berpuluh tahun yang lalu, yang tersisa hanya rawa rawa yang biasa disebut rawang. Yang semakin hari semakin menciut karena erosi, pendangkalan hingga pengurukan dan mulai diperjualbelikan oleh beberapa individu kepada individu lainnya hingga mulai marak pendirian bangunan dilahan yang semestinya dikonservasi sebagai badan air.

Makam sesepuh Gelumbang di Talang Manyan. konon bernama Raden Kuning.
Di seberang gobah (Makam) junjungan dusun itu yang (dulunya) terpisah oleh sungai (dan kini sudah menjadi rawa rawa) terdapat satu gobah lagi di tempat bernama Talang anyan yang berisi satu makam yang konon merupakan makam dari Raden Kuning. Beliau juga merupakan salah satu sesepuh pendiri kampung. Beberapa meter dari makam itu juga terdapat makam tanpa nisan tanpa gobah selain berupa gundukan tanah yang diyakini sebagai makam Bujang Juera. Juera dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai Juara, tapi dalam bahasa Belida, Juera (juga) bermakna sebagai Bandit, Pencuri, Jawara, biang kerok. Hanya saja konon beliau dipanggil Bujang Juera karena memang pencapaiannya yang Juara dalam segala hal. Wallohua’lam Bissahawab.

Menyibak sejarah masa lalu yang sudah berlalu berabad abad memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bila sumber yang ada hanyalah berasal dari sumber lisan yang disampaika turun temurun layaknya sebuah tutur tinular. Kebanyakan dari hal seperti itu hanya dianggap sebagai sebuah dongeng, legenda hingga mitos belaka. Sementara pembuktian secara ilmiah sudah barang tentu membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.***