Showing posts with label aslinusantara. Show all posts
Showing posts with label aslinusantara. Show all posts

Saturday, July 27, 2019

Apakah Kue Jipang Berasal dari Negeri K-Pop?

Gak bisa bacanya. jangan jangan itu tulisannya "Jipang Asli Ti Garut"

Sejujurnya pertanyaan itu mendadak muncul ketika menerima oleh oleh camilan dari Korea yang dibungkus mirip permen. Sekilas tampak mirip kue Jipang atau kue Bipang, jajanan pasar yang populer di berbagai daerah di Indonesia. Dan tak dinyana begitu di coba ternyata itu memang kue Jipang. Saia gagal menemukan bedanya dengan rasa kue jipang yang ada di sini. Yang beda hanya kemasannya yang terlihat keren dan nginternasional.

Jangan jangan orang Korea ngejiplak Kue Jipang disini dan dibuat disana dengan teknologi modern lalu dikemas dengan kemasan menarik, dijual dengan jaringan perdagangan yang rapi dan ujungnya nyampe juga kemari? Eeeh. Atau malah terbalik, jangan jangan justru orang kita yang jual kue Jipang kesana dengan kemasan gaya Korea, trus justru adikku yang tertarik untuk beli dan dibawa pulang. Halah, Mending kita telusuri saja yuk, si Kue Jipang itu darimana asal muasalnya.

Jipang Manis.

Agak rumit juga menjejak asal usul kue Jipang itu, karena ternyata ada banyak daerah di Indonesia yang sudah menganggap kue Jipang sebagai panganan khas daerah mereka. Kue Jipang sudah diproduksi skala rumahan sejak masa penjajahan Jepang di Pasuruan (Jawa Timur).

Panganan tradisional sejenis itu juga merupakan jajanan khas Garut (Jawa Barat) dikenal dengan nama Berondong ketan karena memang terbuat dari beras ketan, kadang juga disebut berondong manis ataupun berondong garing. Bentuknya bundar tidak seperti Jipang pasuruan yang dipotong kotak kotak.

Jipang beras rasa asli gurih renyah.

Jipang juga merupakan panganan khas Banten dikenal dengan nama Gipang, bahannya juga menggunakan beras ketan dan gula pasir. Bentuk kuenya juga dicetak kotak kotak. Demikian halnya dengan di tanah Betawi (DKI Jakarta & Sekitarnya) yang juga mengakui Jipang sebagai panganan khas Betawi bersama sama dengan Berondong yang serupa dengan Jipang namun dibuat dari jagung.

Kue Jipang juga sudah turun temurun menjadi panganan khas masyarakat Jeneponto & Toraja (Sulawesi Selatan), masyarakat Jeneponto menyebutnya kue Ranggina, terbuat dari Beras ketan dan gula merah. Sedangkan Jipang Toraja dengan ciri khasnya menggunakan bahan beras ketan hitam dan gula merah.

Jipang warna wani.

Kemudian di Kebumen (Jawa Tengag) pun, Jipang diakui sebagai panganan tradisional setempat yang berasal dari desa Sidamulya, Kecamatan Karanganyar. Hanya saja Jipang khas Kebumen ini terbuat dari kacang tanah dan gula merah bukan dari beras.

Jadi, sebenarnya Jipang itu asal nya dari mana sih?

Bipangjangkar.com, produsen jipang yang sudah eksis sejak jaman Jepang di Pasuruan itu memberikan sedikit jawaban. Menurutnya Jipang adalah makanan ringan yang berasal dari negeri China. Nama Jipang berasal dari kata Bipang, yang dalam bahasa Mandarin Bi berarti Beras, dan Pang berarti Wangi. Diceritakan juga tentang asal muasal Jipang di Pasuruan yang pada mulanya dibuat oleh Pak Kwee Pwee Bok sejak masa penjajahan Jepang.

Merek legenda jipang Pasuruan.

Putra pertama beliau yang bernama Kwee Ik Sam kemudian menggunakan merek dagang “bipang jangkar’ untuk kue Jipang produksi mereka, terinspirasi dari letak geografis Pasuruan saat itu yang merupakan kota pelabuhan dan pembeli Jipang adalah para pelaut. Hebatnya merek dagang tersebut masih eksis di Pasuruan sampai saat ini.

Menurut saia nih ya, bisa jadi nama asli Bipang berubah menjadi Jipang, karena kue kering ini mulai populer di Pasuruan sejak jaman penjajahan Jepang, bukankah dalam khasanah sejarah Jawa nama Jepang juga seringkali disebut dengan Jipang. Barangkali atau mungkin begitulah. Lalu apa hubungannya dengan Korea? Kita ke Korea aja yuk, cari tahu langsung disana J.

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Tuesday, December 12, 2017

Pesan disebilah Keris

Keris, warisan budaya Nusantara. 

Konon seorang Sultan yang berkuasa wilayah sebelah timur sungai Citarum, mengirimkan sebilah keris untuk putranya yang tinggal di pesisir utara Tatar Pasundan. Sederet pesan panjang terbaca oleh putranya dari sebilah keris itu. Di kemudian hari sejarah mencatat bahwa, dia, penerima keris itu menjadi Sultan pertama di kerajaan yang jejak sejarahnya bahkan ditemukan di dasar sungai Thames yang mengalir di Kota London, ribuan kilometer jauhnya dari tanah jawa.

Apa gerangan pesan yang “tertulis” di keris itu ? entahlah, pastinya sang putra mahkota faham betul pesan yang dikirimkan oleh ayahandanya tercinta, meski tak ada satu aksara-pun terpahat di keris itu. Karena membaca memang tak selalu tentang aksara. Manakala kata terlalu sulit dirangkai menjadi kalimat, pesan pun terkirim dengan aksara tanpa rupa.

Seumpama komputer yang membaca data di dalam flashdisk, sesederhana itu bagi penerima pesan yang dituju. sekali tersambung ke piranti komputer seluruh data dalam flash disk akan terbaca. Tidak semua orang masa dimasa kini familiar dengan dunia digital, demikian halnya tak semua orang di masa lalu memahami transmisi data melalui sebilah keris.

Meskipun demikian patut di ingat bahwa tak semua flash disk berisi data. Dan tak semua data mampu di baca oleh komputer, beberapa diantaranya membutuhkan piranti tambahan baik piranti keras maupun piranti lunak. Lumrahnya sebuah penyimpan data, makin banyak dipakai, makin banyak data “yang menghuni” nya.

Dan tentu saja makin banyak orang yang menggunakan flash disk yang sama, makin banyak pula “rupa” data yang ditempatkan di dalamnya dan makin banyak pula rekam jejak yang tertinggal. Namun perumpamaan tinggallah perumpamaan, keris sama sekali tak sama dengan flash disk, ini hanyalah secuil obrolan tentang “sesuatu” yang tersimpan di dalamnya.

Lebih sederhananya lagi, bersilaturrahim lah dengan seseorang yang memiliki keris warisan dari leluhurnya, anda tak perlu menjadi komputer yang mampu membaca flashdisk untuk mengetahui data yang tersimpan di dalamnya, cukup bertanya kepada pemiliknya tentang keris tersebut, dan insya Allah anda akan mendengar sederet kisah panjang yang tersimpan di dalamnya.

Akan tetapi, teramat sulit untuk mencerna bagaimana orang yang hidup berabad abad yang lalu membuat sebilah keris sebagai tanda cinta untuk salah seorang keturunannya yang (akan) hidup sekian abad kemudian lengkap dengan “identitas jelas” orang yang dituju.

Barangkali “era digital” di jaman old sudah mampu menciptakan program “kirologi” yang luar biasa akurat, sampai sampai mampu menerka identitas keturunannya yang (akan) hidup sekian abad kemudian alias hidup di jamam now. Wallahuwa’lam Bishawab.***

Saturday, April 29, 2017

MAWAR

Mawar itu indah, tapi jangan pernah memanggil si Indah dengan panggilan Mawar, dijamin ngambek. 

Di dunia thoriqoh, mawar (merah) identik dengan Syech Abdul Qodir Jailani, Mawarnya para wali. Disebutkan beliau ditolak masuk ke Bagdad, seumpama Bagdad adalah gelas, dan para wali adalah airnya, maka gelas telah penuh dengan air tak ada lagi tempat untuk di isi air lagi. Lalu Syech Abdul Qodir Jailani, memasukkan setangkai mawar ke dalam gelas penuh air itu. Dan penolakanpun berahir.
.
Di dunia asmara, mawar menjadi pavorit bagi mereka yang sedang kasmaran, mungkin karena kekenyangan dengan nasihat gaya orang Eropa yang berbunyi "katakanlah dengan bunga", sehingga urusan menyatakan cinta, meminang dan sebagainya nyaris identik dengan mawar. Kenapa harus mawar ? sederhananya bila dengan bunga kamboja ataupun kantil, boro boro pinangan diterima, paling paling malah kena labrak. 
.
Bunga mawar juga menjadi salah satu media aroma therapi, wanginya yang khas membuat bunga ini menjadi salah satu pilihan pavorit. Dan menariknya bunga mawar terutama mawar putih, merupakan bunga pavoritnya Raja Salman, Raja Saudi Arabia yang baru baru ini berkunjung ke Indonesia. 
.
Aroma mawar yang mewangi itu kemudian dijadikan salah satu pewangi ruangan, pewangi pakaian, pewangi air untuk mandi, pewangi kamar tidur hingga kamar pengantin. Tradisi itu sudah mendarah daging sejak dari nenek moyang kita pada jaman dahulu. Hanya saja kita seringkali lupa esensinya, Lupa yang kadang kadang membuat terpeleset makna, sama lupanya tentang esensi aroma menyan. (instagram).