Tuesday, February 16, 2016

PUAN, NYONYA atau SUSU

Bila di Malaysia dan di tanah melayu lainnya, kata PUAN bermakna Nyonya akan tetapi di Palembang dan sekitarnya kata PUAN justru bermakna SUSU. Entahlah bagaimana ceritanya sehingga begitu jadinya. Anda tahu kan, bahwa Malaka itu didirikan oleh Prameswara yang asli orang Palembang, bila sajalah kata PUAN sudah bermakna SUSU sejak dahulu kala sebelum Malaka berdiri sepertinya Prameswara akan cengar cengir sendirian mendengar hulubalangnya berpidato “Tuan Tuan dan Puan Puan …..” yang ditelinga orang Palembang menjadi “Tuan Tuan dan Susu Susu…”

Di Palembang terkenal panganan tradisional yang bernama Gulo PUAN alias gula susu, panganan yang rasa muanisnya poll karena memang terdiri dari campuran gula dan susu. Tapi jangan sekali kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu ya, karena anda toh akan cengar cengir sendiri menikmati panganan yang mendadak menjadi Gula Nyonya.

Hadeuh, Atawa mungkin di jaman dulu sebenarnya di Palembang pun tidak kenal kata PUAN, tapi justru panganan Gulo Puan tadi itu biang masalahnya. Mungkin jaman dulu yang pertama kali jualan panganan itu Nyonya Melayu yang dipanggil PUAN oleh para tetangga nya yang sesama perantau dari semenanjung, sehingga para pembelinya ikutan menyebut dagangannya itu dengan sebutan Gulo PUAN ?. Bisa jadi sih. ya bisa dong, anda juga pastinya tahu bahwa nama’ Pelembang’ itu juga bermakna ‘Kota Tua’.

Penjelajah Cina menyebut Palembang di catatan mereka dengan nama Palimpong alias Kota Tua, mewakili karakter kota yang mereka kunjungi itu yang peradabannya sudah begitu maju, tempat berbaurnya berbagai suku dan bangsa dunia hidup bersama di satu kota dagang yang begitu ramai dan dipastikan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membentuk peradaban seperti itu. Jadi ?. Ya masuk akal dong bila waktu itu ada perantau dari semenanjung (malaya) yang berdagang susu di Palembang. Lagipula produk susu itu dari dulu sampai sekarang pun masih saja import dari luar negara, karena toh orang kita tak terbiasa ngangon sapi untuk susunya tapi untuk daging dan tenaganya.

Atauuuuw, jangan jangan justru PUAN memang bermakna Nyonya. Terpelesetnya susu menjadi PUAN justru karena merek dagang ?. atau tepatnya sih karena Logo Merek dagang ?. Bisa jadi begitu sih, sampai sekarang pun masih beredar dipasaran susu kaleng berlabel Cap Nona yang gambarnya mirip nyonya nyonya. Lah itu kan Tjap Nona bukan Tjap Nyonya. Santai ajalah, toh cuman beda di hurup Y nya doang, lagian kan sama sama perempuan, sama sama ada kata PUAN nya.  Heheh ***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga



Tuesday, February 2, 2016

Mengenal Sepatu Yang Tak Pernah Di Injak

Semua sepatu dibuat sebagai alas kaki dan tentu saja untuk di injak, kecuali sepatu yang satu ini. apa itu ?. . . . KEMBANG SEPATU. . . . Lalu apa menariknya kembang Sepatu ?. Apa nasehat kembang sepatu tentang tata cara berdo'a kepada Allah ?

Aneka Warna Kembang Sepatu

Kembang memang selalu menarik untuk dibahas, apalagi kembang desa atawa janda kembang cantik molek kaya raya mau pulak, wuahahah. Tapi ini beneran kembang loh. Kembang Sepatu atau Bunga sepatu dikenal dengan berbagai nama : Hibiscus rosa sinensis (latin), Kembang sepatu (betawi), kembang wera (sunda), wora-wari (Jawa), bungong raya (Aceh), bunga-bunga (Batak), soma-soma (Nias), bakeyu (Mentawai), bunga raya (Melayu), Waribang (Bali), Embuhanga (Sangir), Ubu-ubu (Ternate), Bala bunga (Tidore), Ulange (Gorontalo), Kulango (Buol), Bunga sepatu (Makasar), Bunga bisu (Bugis).  Kembang sepatu merupakan tanaman perdu yang banyak digunakan sebagai tanaman hias karena keindahan bunganya yang memiliki bermacam macam warna dan juga ditanam sebagai pagar hidup. Di Malaysia kembang sepatu memiliki kedudukan khusus karena merupakan bunga Nasional negara tersebut dan disebut sebagai Bunga Raya.  Untuk perkembangbiakannya, biasa dilakukan dengan cara stek batang atau cangkok.

Selain sebagai tanaman hias, juga dapat digunakan sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah akar, bunga dan daunnya. Bagian bunganya mengandung hibisetin, sedangkan akar dan daunnya mengandung Calcium-oksalat, peroxidase, lemak dan protein. Untuk penggunaannya bisa secara langsung membuat ramuan dari bunga segar maupun dijadikan sebagai teh. Teh kembang sepatu saat ini sedang populer karena khasiatya bagi kesehatan. Diantaranya mengatasi demam, membuat suasana hati lebih rileks, menurunkan berat badan hingga mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Bagi dunia kecantikan, ekstrak teh bunga sepatu ini dipercaya mampu menjaga kesehatan kulit. Berikut beberapa manfaat kembang sepatu untuk kesehatan yang sudah diketahui, dirangkum dari berbagai sumber :


Bisa menemukan sesuatu yang mirip sepatu ?

  1. OBAT SAKIT PANAS |Biasanya, anak-anak sering terkena sakit panas gara-gara kehujanan, makan es atau jajan sembarangan. Ambil saja akar dari tanaman kembang sepatu, cuci bersih kemudian tumbuk hingga halus. Rebus dalam air mendidih selama 30 menit, kemudian saring. Minum airnya sekaligus.
  2. MEREDAKAN DEMAM DAN PILEK | Tidak ada salahnya untuk mencoba teh bunga sepatu. Di dalamnya ada terdapat kandungan vitamin C yang membantu melawan virus penyebab pilek.
  3. OBAT BATUK DAN SARIAWAN| Ambil daun kembang sepatu secukupnya, cuci bersih kemudian rebus dalam air mendidih selama 15 menit. Saring airnya kemudian diminum.
  4. MENGOBATI BRONKHITIS | rebus bunga sepatu secukupnya selama 15 menit. Saring airnya, lalu diminum.
  5. MENGOBATI GONORRHEA | Gonorrhea atau penyakit kencing nanah. Ini merupakan penyakit berbahaya yang harus cepat diatasi. Cuci bersih bunga kembang sepatu secukupnya, lalu direbus selama seperempat jam. Saring airnya dan biarkan semalaman / diembunkan. Esok paginya minum ramuan tersebut.
  6. OBAT SAKIT KEPALA |Rebus daun kembang sepatu selama setengah jam, kemudian airnya digunakan sebagai kompres. Bisa juga digunakan dengan cara diminum.
  7. OBAT GONDOKAN |Gunakan akar kembang sepatu yang direbus dalam air mendidih selama setengah jam. Gunakan sebagai obat kompres.
  8. MENGELUARKAN RACUN | Teh yang terbuat dari kelopak bunga sepatu mengandung antioksidan yang tinggi yang dapat membantu mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Selain itu, juga dapat melawan kanker dan mengurangi kadar kolesterol dalam darah.
  9. MENJAGA KESEHATAN KULIT | kandungan minyak yang terdapat dalam bunga sepatu dapat membantu Anda membersihkan kulit wajah, mengangkat sel-sel kulit mati dan membuat kulit lebih halus. Selain itu, bagian bunganya juga mempunyai sifat anti inflamasi sehingga dapat membantu mengatasi jerawat dan mencegah penuaan dini. Caranya, ambil kelopak bunga sepatu kemudian remas-remas dan gosokkan di sekitar wajah dan leher secara lembut.
  10. MENGATASI PMS (Premenstrual Syndrom) | Wanita saat menjelang menstruasi terjadi perubahan hormonal yang menyebabkan suasana hati menjadi tidak menentu. Untuk mengatasi hal tersebut, Anda bisa mengkonsumsi teh bunga sepatu agar perasaan menjadi lebih rileks.
  11. MENURUNKAN BERAT BADAN | Untuk mengatasinya anda bisa mencoba mengkonsumsi teh bunga sepatu secara rutin.
  12. MENAMBAH ENERGI | Mengkonsumsi teh bunga sepatu ternyata juga dapat mengembalikan energi yang hilang setelah beraktifitas seharian. Revitalisasi energi sangatlah penting untuk menghindari stres dan ketegangan.
  13. OBAT MALARIA | 50 gram daun kembang sepatu direbus dengan ½ liter air bersama dengan ½ lembar daun pepaya dengan ditambahkan 10 gram garam inggris. Tunggu sampai mendidih lalu saring dan minum lah airnya selagi masih hangat.
  14. SUSAH BUANG AIR BESAR | Ambil daun kembang sepatu seperlunya dicampur dengan air yang sudah matang lalu diperas untuk diambil airnya. Minum air hasil perasan tersebut sampai abis.
  15. MEMBUAT RAMBUT HITAM BERKILAU | Sebelumnya siapkan botol yang telah terisi air kemudian ambil daun kembang sepatu secukupnya ditumbuk sampai halus. Masukan hasil tumbukan tersebut kedalam botol yang telah disiapkan sebelumnya. Kocok sampai tercampur, lalu pisahkan airnya dengan ampasnya untuk ditambahkan perasan jeruk nipis. Pakailah ramuan tersebut secara rutin 2 kali dalam seminggu dengan cara mengoleskannya ke rambut secara merata.

KEMBANG SEPATU PENGHASIL LISTRIK

di tahun 2012 yang lalu sempat beredar berita hasil penelitian di Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak tentang ekstrak kembang sepatu yang dapatdigunakan sebagai penghasil energy listrik. Struktur pewarna pada hasil ekstraksi bunga ini berperan sebagai penyerap cahaya dan pemicu aliran elektron. Bentuk ini dikenal dengan nama Dye-Sensitized Solar Cell yang diharapkan dapat menjadi generasi baru sel surya pengganti silicon.

Sepatu atau Sifatu ?

KEMBANG SIFATU

Kenali sesuatu dari sifatnya. Seumpama mengirimkan undangan kirimkanlah sesuai kapasitas yang diinginkan dari terundang, apakah di undang dalam kapasitas-nya sebagai pribadi atau sebagai Pejabat yang dijabatnya, pangkatnya, posisinya dan sebagainya. Bagaimana kita mensifati sesuatu turut berpengaruh pada hasil yang diharapkan, Bukankah Allah pun sesuai dengan prasangka hambanya. Ini juga sekaligus mendidik diri kita sendiri untuk mampu menempatkan diri dalam situasi yang tepat, mampu menghargai segala sesuatu secara proporsional.

Dan ingatlah bahwa Allah pun memiliki banyak nama yang masing masing nama tersebut memiliki atau mewakili sifat sifat Allah yang serba maha. Fahami sifat sifat tersebut saat akan berzikir atau wiridan, sesuaikan dengan hajatan ataupun maksud yang hendak disampaikan. Rasanya tidaklah sesuai apabila kita menginginkan kekuatan dengan senantiasa menyebut tempat bermohon sebagai yang maka lembut. ***Sekian, salam dan maafkan bila ada yang tidak berkenan ataupun dirasa kurang sesuai. ***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Apakah Nganjuk Adalah Negeri Ngatas Angin ?

Candi Ngetos, Nganjuk
Pernah dengar “Negeri Atas Angin” atau “Negeri Ngatas Angin” ?. Apakah negeri itu adalah kota yang sekarang dikenal sebagai kota Nganjuk ?.  

Di desa Ngetos Kecamatan Ngetos kabupaten Nganjuk terdapat sebuah bangunan candi dari era Majapahit yang sudah tidak utuh dan dikenal sebagai Candi Ngetos. Mungkin karena berada di desa Ngetos lalu disebut candi Ngetos. Candi satu ini diperkirakan dibangun sekitar abad XV dimasa kekuasaan Majapahit, dan diperkirakan merupakan pusara dari Prabu Hayam Wuruk, Raja terbesar Majapahit yang bergelar Rajasa Negara.

Pada masa jayanya Desa Ngetos merupakan bagian dari wilayah Negeri Ngatas Angin yang merupakan Negara Bawahan Majapahit. Ngatas Angin dipimpin oleh Raden Condromowo yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwoto dengan patihnya bernama Raden Bagus Condrogeni. Raja Ngabei Siloparwoto adalah paman dari Prabu Hayam Wuruk yang suatu ketika berkunjung ke wilayah kekuasaan pamannya yang berada di lereng Gunung Wilis itu.  

Prabu Hayam Wuruk berwasiat kepada pamannya agar dibangunkan sebuah candi sebagai tempat pendharmaan abu jenazahnya apabila nanti dia telah wafat. Raja Ngabei Siloparwoto kemudian menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos. Karena kesaktiannya maka dalam waktu yang tidak terlalu lama tugas tersebut dapat diselesaikan sesuai petunjuk.


Dipilihnya desa Ngetos sebagai tempat pendarmaan dirinya oleh Sang Prabu diperkirakan karena Gunung Wilis merupakan salah satu gunung suci di tanah Jawa, agar bangunan candi berada lebih dekat dengan kediaman para dewa. Karena menurut kepercayaan pada masa silam, puncak gunung merupakan kediaman para dewa.

Raja Ngatas Angin R. Ngabei Selupurwoto mempunyai saudara di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo (Blitar) bernama Prabu Klono Djatikusumo, yang kelak digantikan oleh Klono Joyoko. Dua tempat dengan tempat yang nama nya sama sama menggunakan kata “Angin” dan dipimpin oleh dua orang bersaudara, pastinya bukanlah suatu kebetulan.

Kisah Negeri Ngatas Angin belum berahir sampai disitu. Legenda tanah Jawa juga menceritakan tentang sebuah Negeri Atas Angin yang kekuasaannya berpusat di Keraton Ngatas Angin dibawah pimpinan seorang Ratu. Bila Negeri Ngatas Angin-nya R. Ngabei Selupurwoto berada di Nganjuk yang kini pun terkenal sebagai Kota Angin, lalu Negeri Ngatas Angin-nya Keraton Ngatas Angin itu kira kira ada dimana ya?. Atau ada dimana mana, karena toh angin pun ada dimana mana, atau bisa jadi yang dimaksud hanyalah sebuah perumapamaan yang nyata. ***

Friday, November 20, 2015

Ayat Nyamuk Betina

nyamuk betina yang menggigit 
Sapi Betina atau Al-Baqoroh adalah salah satu dari 114 surat yang ada di dalam Al-Qur’an, tapi bagaimana dengan Nyamuk Betina ?. Tentu saja tidak ada surat Al-Qur’an dengan nama itu. Namun demikian dalam salah satu ayat di dalam surah Sapi Betina itu, Allah berfirman,

[2:26] Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik

Perumpamaan apakah gerangan dari seekor nyamuk ? binatang yang bagi kebanyakan orang adalah pengganggu menyebalkan di siang hari apalagi di malam hari. Tapi bagi sebagian orang lagi nyamuk justru mendatangkan berkah. Tak terbilang jumlahnya pabrik yang memproduksi anti nyamuk, racun nyamuk, raket nyamuk, kelambu anti nyamuk, lotion anti nyamuk, obat nyamuk bakar (hadeuh, nyamuk pun di obati) hingga para peneliti yang mengabiskan waktu bertahun tahun untuk meneliti nyamuk.

Di ayat itu dengan tegas Allah menyatakan tentang perumpaan. Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan sindiran keras terhadap manusia yang merupakan mahluk “yang lebih atas” dari nyamuk, yang seringkali berlaku sombong, angkuh dan sebagainya terhadap penemuan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimiliki. Namun faktanya teknologi paling canggih manusia bahkan tidak mampu menciptakan seekorpun mahluk bernyawa walaupun hanya sekelas nyamuk ataupun yang lebih rendah dari itu.

Nyamuk diciptakan Tuhan begitu sempurna lengkap dengan semua indera pendukungnya. Anda dapat membayangkan ukuran nyamuk bukan ? ukurannya sebegitu kecil, artinya bahwa indera pendengarannya, indera penglihatannya dan indera lainnya pun pastinya sangat kecil ukurannya. Namun nyatanya teknologi manusia hingga detik ini bahkan belum mampu untuk menciptakan super mikrofon yang berukuran sangat kecil dan sangat sensitif seperti yang dimiliki nyamuk.

Nyamuk Mirip Manusia ?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendengaran nyamuk mirip dengan manusia. Nyamuk mendengar melalui antena mereka yang terdiri dari 15000 sel sensorik, sama dengan yang dimiliki telinga manusia. Juga seperti manusia, nyamuk memiliki kemampuan pendengaran yang aktif, dimana mereka dapat membuat getaran sendiri untuk mengatur suara yang datang dan meningkatkan sensitivitas pendengaran mereka.

Hal tersebut terungkap dari penelitian panjang yang dilakukan tim peneliti dibawah pimpinan Professor Daniel Robert dari Universitas Bristol, Inggris. Dari penelitian mempelajari indera pendengaran nyamuk, diharapkan (dikemudian hari) dapat dibuat mikrofon yang lebih baik yang mampu menangkap suara yang sangat pelan (nanoscale sound) sekalipun[i]. Bila anda mungkin begitu terganggu dengan keberadaan nyamuk, mungkin profesor Robert itu malah gembira ria bila ada banyak nyamuk, makin banyak nyamuk, makin banyak bahan penelitian dan percobaan.

Nyamuk Betina

Di era modern ini baru diketahui bahwa nyamuk yang suka menggigit anda itu adalah nyamuk betina. Mungkin pernah dengar atau membaca tentang hal itu ?. Nyamuk jantan tidak mengigit manusia untuk menghisap darah, mereka menghisap nektar dan sari bunga.

Dalam surat Sapi Betina ayat 26 yang disebut di awal tulisan tadi, dalam bahasa aslinya nyamuk disebut dengan "ba'udhatan" yang merupakan kata benda bentuk yang bersifat feminin, sehingga mengindikasikan bahwa nyamuk rumah yang sering dijumpai manusia di lingkungannya, terutama yang diketahui sebagai "nyamuk" pada saat ayat ini diturunkan 15 abad yang lalu, adalah nyamuk betina.

Pelajaran dari Nyamuk

Bila hasil penelitian teknologi terkini ternyata sudah dijelaksan dalam AL-Qur’an sejak hampir 15 abad yang lalu. Bukan mustahil Al-Qur’an juga sudah menjelaskan tentang sesuatu untuk 15 abad akan yang datang, se-abad mendatang, sewindu mendatang, setahun mendatang, sebulan mendatang, seminggu mendatang bahkan dengan detil telah menjabarkan apa yang akan terjadi besok. kita saja yang tidak faham.

Sunday, November 15, 2015

Kita Yang Ditelanjangi


Apakah kau berfikir kau akan masuk surga 
karena segudang amal sodaqohmu
dan kau akan masuk neraka karena kurangnya 
bila semua telah pasti lalu apa rencana pastimu hari ini
kapan rencanamu akan mati
di bumi mana kau akan di makamkan, dan
harusnya kau mampu menambah deretan angka di rekeningku
atau direkeningmu sendiri sesuka hatimu


kalaupun mahkota dunia bertengger di kepala
pedang emas sang wenang tergenggam di tangan kiri
sekali kali tak kan mampu membuat mahluk bersemena
bukankah kau pun tahu tak selembar daunpun yang jatuh
tanpa sepengetahuan dan seizin-Nya
lalu ke bagian bumi yang mana lagi hendak bersembunyi

atau kau fikir Dia lah yang bersembunyi
atau kau fikir Dia yang menjauh
atau sebaliknya kau fikir kau yang menjauh
dan mendekat
apalah artinya jarak bagi Nya
apakah kau akan lari dari urat lehermu sendiri
sekali kali tidak. kadang kita yang telalu lama bersembunyi
dibalik dinding bening benderang kesombongan 
padahal nyatanya kita telah ditelanjangi.

Gunung Padang Megalithic Site, 20 September 2015

------------------------------------------

Baca Juga



Thursday, November 5, 2015

Dimanakah Makam Prabu Siliwangi ?

Prasasti Batutulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan BatutulisKecamatan Bogor SelatanKota Bogor. Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Prasasti Batutulis dianggap terletak di situs ibu kota Pajajaran dan masih “on site”, yakni masih terletak di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs ini. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi)

Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘makam’ sama dengan ‘kubur’. Maka kalimat tanya pada judul diatas yang berbunyi “dimanakah makam Prabu Siliwangi” bermakna “dimanakah gerangan jenazah Prabu Siliwangi dimakamkan setelah beliau wafat”. Dan Prabu Siliwangi yang dimaksud adalah Sri Baduga Maharaja alias Raden Pamanah Rasa Alias Pangeran Jayadewata yang memerintah di kerajaan Pajajaran antara tahun 1482 hingga tahun 1521.

Pertanyaan yang sama maupun uraian tentang itu, berseliweran di dunia maya maupun dunia nyata. Tempat tempat yang di klaim sebagai makam asli sang prabu juga tidak sedikit. Meski hingga kini memang dengan legowo harus di akui bahwa belum ada satu kata sepakat dari para sejarawan maupun dari para tokoh masyarakat tentang “yang manakah makam sang prabu yang sebenarnya”. Upaya penelusuran sejarah termasuk menelusur keberadaan makam sebenarnya dari sang prabu juga pernah dilakukan oleh tim 11 yang dibentuk dimasa pemerintahan Gubernur Jawa Barat Mashudi.

Makam Prabu Siliwangi Tidak Pernah Ada

Sebagian masyarakat (kata sebagian disini tidak mewakili besaran jumlah) meyakini bahwa “makam Prabu Siliwangi” memang tidak akan pernah ditemukan karena beliau memang belum wafat alias masih hidup di dimensi dunia yang berbeda. Ada banyak versi alur cerita tentang hal tersebut, namun intinya adalah ketika sampai pada kondisi yang sudah sangat terdesak, beliau beserta pengikut setianya masuk ke alam ghaib dan meneruskan kehidupan mereka disana, termasuk mendirikan kerajaan ghaib di Gunung Salak, gunung yang bernama asli Gunung Sapto Argo.

Masuk ke alam ghaib yang dimaksud adalah masuk secara keseluruhan, ruh dan jasadnya. Sehingga dengan demikian mustahil untuk dapat menemukan Makam beliau di ‘dunia ini’. Ada begitu banyak tulisan yang sudah di unggah di dunia maya terkait hal tersebut, anda dapat menelusur-nya dengan kata kunci “prabu siliwangi moksa”, “aji sikir”, dan sebagainya. Peristiwa tersebut pula yang diyakini sebagai awal dari “keangkeran gunung salak”.

Hanya Orang Terpilih Yang Tahu

Ada juga sekelompok masyarakat yang meyakini bahwa sang prabu wafat secara wajar dan dimakamkan di satu tempat yang hanya diketahui oleh orang orang terdekat dan terpercaya saja. Cukup masuk akal bila di hubungkan dengan cerita tutur yang menyebutkan bahwa beliau “menyingkir” dari kraton karena ‘terdesak’. Keterdesakan ini pun memiliki banyak alur cerita yang berbeda beda. Dari catatan sejarah yang sudah dimaklumi bersama, posisi pajajaran memang terdesak oleh eksistensi Cirebon dan Demak menyusul berdirinya Jayakarta menggantikan Sunda Kelapa bersamaan dengan lepas nya pengaruh Kerajaan atas Banten.

Seperti disebutkan di awal tadi bahwa saat ini ada banyak situs yang diyakini sebagai makam sang prabu. Beberapa diantaranya yang sudah lazim dikenal adalah di Leuweung Sancang (Leuweung = Hutan) wilayah Pameungpeuk kabupaten Garut, lalu di daerah Kawali kabupaten Ciamis, kemudian juga ada di Gunung Tampomas kabupaten Sumedang.

Belakangan juga muncul pengakuan dari H Netty Medina S yang menyatakan telah memindahkan makam Prabu Siliwangi pada tanggal 27 Oktober 1987 ke atas sebuah bukit di Kampung Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, Ciwidey. Kabupaten Bandung. Makam tersebut dipindahkan dari ‘lokasi aslinya” di Lereng Gunung Pangrango, Kampung Sela Gombong, Desa Cikancana, Kec. Pacet, Cianjur, yang ditemukan tahun 1975. Pemindahan dilakukan Sebab lokasinya yang jauh dan sulit ditempuh.

Sub Judul ini yang berbunyi ‘Hanya orang terpilih yang tahu’ sudah tidak berlaku lagi bagi anda yang sudah membaca bagian ini, karena anda toh sudah tahu. hanya saja masih ada lagi yang menyatakan bahwa semua tempat yang sudah dikenal masyarakat saat ini sebagai ‘makam asli’ Prabu Siliwangi adalah ‘bukan asli’ nya, hanya merupakan petilasan atau tempat yang pernah disinggahi sang prabu semasa hidup-nya. Sedangkan makam yang benar benar asli hanya diketahui oleh segelintir orang saja yang tidak akan menunukkannya ke siapapun ‘kecuali’ kepada orang orang yang sangat dipercaya.

Memang Banyak Makam

Prasasti Tembaga Kebantenan menyebutkan tentang wafatnya Prabu Siliwangi dan dimakamkan di Rancamaya. Prasasti tersebut menyebut Prabu Siliwangi sebagai Susuhunan di Pakuan Pajajaran dan disebut secara anumerta sebagai Sang Lumahing Rancamaya. Lalu dimanakah tempat yang dimaksud Rancamaya tersebut ?. 

Pakuan yang menjadi ibukota Pajajaran berada di Bogor, dan di Bogor memang ada satu kelurahan yang bernama Rancamaya yang sejak tahun 1995 secara administratif masuk ke dalam wilayah kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Sebelumnya berstatus sebagai Desa di di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Berbagai sumber menyebutkan bahwa di daerah tersebut memang pernah ada satu tempat yang dikeramatkan terkait dengan Prabu Siliwangi namun kemudian keseluruhan tempat itu kini telah berubah menjadi padang golf.

Masih di kota Bogor, terdapat prasasti Batu Tulis yang sangat terkenal itu. Prasasti ini dibangun oleh Prabu Surawisesa, putra dari Prabu Siliwangi, dua belas tahun setelah kematian Ayahanda-nya, untuk menghormati sang Ayah sekaligus mengenang dan mengabadikan kebesaran Prabu Siliwangi. Angka dua belas tersebut dianggap berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pada saat itu.

Di tahun ke dua belas setelah kematian, jenazah akan disempurnakan dengan diper-abu-kan. begitulah yang terjadi di dua belas tahun setelah wafatnya sang Prabu. Abu jenazahnya disimpan dengan sangat hormat ke dalam dua belas guci (angka ini juga kemungkinan akan berbeda beda) dan di makamkan kembali dengan penuh kehoramatan di dua belas wilayah kerajaan yang berbeda beda. Dengan demikian akan sangat wajar bila hari ini ada banyak tempat yang di-klaim sebagai ‘makam asli’ sang prabu.

Secara teoritis dan nalar sederhana merujuk kepada tradisi Nusantara, makam seorang raja besar dan dimakamkan di masa kerajaan dipimpin oleh anak kandungnya sendiri, (pastinya ataupun semestinya) juga memiliki “tanda kebesaran” yang sesuai dengan masa itu dan tanda kebesaran tidak selalu berwujud ‘bangunan makam’ seperti yang biasa kita kenal saat ini.

Benarkah Beliau Moksa ?

Secara umum ‘tutur tinular’ yang disampaikan secara ‘saur sepuh’ bahwa Prabu Siliwangi moksa atau secara harfiah adalah pindah dari alam dunia ini masuk ke alam ghaib bersama seluruh pengikut setianya, kemudian membentuk kerajaan baru di alam ghaib. Bila diterjemahkan secara harfiah pula maka hal itu bertentangan dengan penjelasan dalam prasasti tembaga kebantenan yang menyebut bahwa beliau telah wafat dan dimakamkan di Rancamaya.

Untuk menjawab pertanyaan 'benarkah beliau moksa atau pindah jasmani dan rohaninya ke alam ghaib ?’ jawaban paling logis untuk menjawab itu adalah ‘masuk saja ke alam ghaib yang dimaksud” dan temukan jawabannya disana. Namun bilamana Moksa atau pindah ke alam ghaib yang dimaksud adalah ruh nya saja tidak bersama jasad / raganya, itu berarti terjadi perpisahan antara ruh dengan jasad, itulah yang disebut kematian.

Hukum Tuhan menyebutkan bahwa "Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS.3: 185).  Bahwa kematian itu adalah suatu yang pasti, bahwa keabadian (di dunia ini) itu adalah mustahil bagi mahluk. Yang belum diketahui adalah kapankah waktunya. Umur mahluk adalah mutlak hak Tuhan, tidak ada satupun mahluk yang tahu pasti. Kitab suci memang membeberkan bahwa ada mahluk yang diberi tangguh hingga hari kiamat, maknanya ia diberikan umur yang sangat panjang dan baru akan mati ketika kiamat tiba. Ingat, bukan abadi. Yang abadi hanya Allah Subhanahuwata’ala.

Lalu apakah mati itu?. Mati adalah terpisahnya ruh dengan jasad. Selagi keduanya belum terpisah berarti masih hidup, belum mati. Kitabullah menjelaskan bahwa Allah menghidupkan kita dua kali dan mematikan kita dua kali  (QS. Al Baqoroh : 28 & QS. Al Mu’min : 11). 

Ruh tidak pernah mati, yang mati hanya jasad. Jasad kita yang akan mengalami dua kali kehidupan dan dua kali kematian. Kosa kata bahasa Indonesia sudah mendeskripsikan kata ‘mati’ dengan baik dengan menyebutnya “meninggal dunia”, bahwa orang yang mati pada hakekatnya hanyalah meninggalkan dunia ini memasuki kehidupan berikutnya. Wallohua’lam.

Apakah Prabu Siliwangi Masih Hidup?

Secara hakikat, iya, beliau masih hidup. Perhatikan lagi penjelasan di dua alenia di atas. Apakah kamu berfikir orang yang mati itu benar benar mati ?. Sekali kali tidak. Fakta lainnya adalah bahwa Saya masih mengulas salah satu bagian kisah hidup-nya, anda masih membaca kisah yang saya tuliskan tentang hidup-nya, itu hanya bukti paling sederhana bahwa beliau “masih hidup”.

Penutup

Anda yang masih membaca tulisan ini hingga ke titik ini, mungkin masih bertanya dalam hati ‘Lalu Sebenarnya makam Prabu Siliwangi ada dimana ?’. Anda penasaran ? atau sekedar ingin tahu ?. Atau jangan jangan anda sudah benar benar tahu jawaban dari pertanyaan itu. Silakan simpan jawabannya untuk anda sendiri, karena orang lain juga tidak akan pernah (benar benar) percaya. Sebagaimana tidak percayanya anda pada tulisan saya. Sebaiknya memang begitu, karena bila anda percaya dengan tulisan saya nanti bisa bisa anda disebut syirik.***

-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------

Baca Juga


Tuesday, November 3, 2015

Siapakah Prabu Siliwangi ?

Apakah Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja ataukah Gelar bagi seluruh Raja Pajajaran ?

Lukisan Prabu Siliwangi di Kraton Kasepuhan Cirebon, Karya lukis dari pria bernama Tatang asal Garut yang melukisnya di tahun 2008 dan menyumbangkan untuk Keraton Kasepuhan. Tatang mengaku melukis Prabu Siliwangi setelah didatangi langsung oleh Prabu Siliwangi dalam mimipinya dan kemudian setelah itu langsung melukisnya. Perhatikan tulisan nama di bagian bawah lukisan “Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi”, menegaskan bahwa Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja.

Sejarah tak pernah berpihak pada yang kalah. Sejarah yang anda baca tergantung pada siapa yang menulisnya. Penggalan dua kalimat itu seringkali kita baca dan kita dengar. Terkadang terasa ada benarnya. Bagaimanapun tak ada kebenaran yang hakiki ditangan manusia ahir zaman seperti kita. Prabu siliwangi, nama yang begitu harum seperti namanya, terutama di tatar pasundan sejarahnya ditulis dan dikenang dengan berbagai versi dan maksud masing masing. Perjalanan hidup beliau begitu melegenda dan meninggalkan begitu banyak hikmah dan pelajaran berharga sekaligus meninggalkan begitu banyak tanya.

Nama besarnya dikenang dalam berbagai kesempatan. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengabadikan namanya sebagai nama Komando Daerah Militer di wilayah propinsi Jawa Barat dan Banten dengan nama Kodam III Siliwangi, TNI Angkatan Laut juga pernah mengabadikan namanya sebagai nama kapal perang perusak kelas Skoryy buatan Uni Soviet dan dibeli dari Polandia tahun 1964 dengan nama RI Siliwangi. Nama beliau juga dipakai oleh berbagai organisasi pemuda dan kemasyarakatan, lembaga pendidikan, bangunan pendidikan hingga nama jalan protokol.

Siapakah Prabu Siliwangi

Ada dua pendapat tentang siapakah sebenarnya yang disebut Prabu Siliwangi ?.namun dapat ditarik satu garis merah bahwa kedua pendapat tersebut sepakat bahwa Siliwangi dari sudut pandang Bahasa Sunda, terdiri dari dua kata yaitu; SILI yang secara umum berarti penerus, dan WANGI secara umum bermakna harum mewangi. Namun WANGI yang dimaksud disini ditujukan kepada harumnya nama Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur bersama seluruh pasukannya, membela kedaulatan Kerajaan Pajajaran dalam perang Bubat melawan pasukan Majapahit.

Dalam perang Bubat, pasukan Pajajaran kalah jumlah dengan pasukan Majapahit, dan Prabu Maharaja Lingga Buana memutuskan melakukan perang habis habisan atau perang puputan melawan pasukan Majapahit demi membela negaranya. Perang Bubat dicatat dalam sejarah Nasional sebagai salah satu perang besar yang pernah terjadi di tanah Jawa dan merupakan salah satu penyebab dari melemahnya kerajaan Majapahit. Karena keberanian dan kebesaran Jiwa nya dalam membela negara itulah Nama beliau begitu mewangi di Pajajaran hingga digelari sebagai Prabu Wangi. Dan dari sana pulalah Nama Siliwangi bermula.

Lukisan kapal perang RI Siliwangi 201 (foto dari Wikipedia), kapal perang perusak yang pernah memperkuat armada TNI Angkatan Laut, dibeli dari Polandia tahun 1964. Saat ini sudah tidak beroperasi.

I. Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja

Pendapat pertama yang paling populer mengatakan bahwa Prabu Siliwangi adalah Nama Sebutan atau nama panggilan kehormatan kepada Pangeran Jayadewata alias Raden Pamanah Rasa yang ketika dinobatkan sebagai Maharaja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Disebut Maharaja karena memang beliau bertahta tidak hanya untuk satu kerajaan tapi menjadi raja bagi dua kerajaan sekaligus. Kerajaan Pajajaran atau ada juga yang menyebutnya sebagai Kerajaan Sunda yang dipimpinnya merupakan gabungan kerajaan Pakuan yang berpusat di Bogor dan Kerajaan Galuh.

Beliau disebut sebagai Siliwangi atau Penerus Prabu Wangi karena telah mengembalikan kebesaran Kerajaan Sunda seperti pada masa kakek buyutnya, Prabu Wangi. Disamping itu beliau juga telah kembali menyatukan kerajaan yang terpecah (Galuh dan Sunda/Pakuan), dua kerajaan yang disandingkan dengan kesetaraan dan kesejaraan hingga menjadi Pajajaran dan pada masa kekuasaan beliau Kerajaan mencapai kegemilangan yang luar biasa.

Sri Baduga Maharaja adalah anak laki laki dari Raja Sunda/Galuh yang bernama Prabu Dewa Niskala anak dari Prabu Niskala Wastu Kencana atau Prabu Raja Wastu, anak dari Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di perang Bubat. Pada saat Prabu Maharaja Lingga Buana gugur di Perang Bubat (1357), saat itu Pangeran Niskala Wastu Kencana masih kanak kanak, bila di hitung dari tahun gugurnya Prabu Lingga Buana di Bubat tahun 1357 sampai dengan tahun 1371 pada saat beliau dinobatkan sebagai Raja pada usia 23 tahun, itu berarti pada saat ayahnya gugur beliau baru berumur sekitar 9 tahun.

Itu sebabnya kemudian tahta kerajaan sementara waktu dipegang oleh Pangeran Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora atau Prabu Kuda Lalean atau Dalam BABAD PANJALU (Kerajaan Panjalu Ciamis) disebut PRABU BOROSNGORA. Selain itu ia pun dijuluki BATARA GURU di Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung), beliau adalah adik dari Prabu Maharaja Lingga Buana, memegang kendali kerajaan sampai Pangeran Niskala Wastu Kencana mencapai usia dewasa.

Pangeran Niskala Wastu Kencana dinobatkan sebagai raja pada tahun 1371 bergelar Prabu Raja Wastu dan berkuasa hingga tahun 1475. Beliau memiliki dua permaisuri, permaisuri pertama bernama Lara Sarkati berasal dari Lampung, darinya lahir seorang putra bernama Sang Haliwungan. Permaisuri kedua adalah adik sepupunya sendiri, anak dari pamannya Prabu Bunisora, yang bernama Mayangsari, darinya lahir seorang putra bernama Ningrat Kencana. Di penghujung masa kekuasaannya beliau membagi dua kerajaannya untuk menghindari perebutan tahta kerajaan oleh dua putra-nya. Sang Haliwungan dinobatkan sebagai Raja Sunda/Pakuan bergelar Prabu Susuktunggal. Ningrat Kencana dinobatkan sebagai Raja Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Gedung Detasemen Markas KODAM III Siliwangi – Bandung. 
Ditahun 1482 kerajaan Galuh dan Pakuan kembali bersatu di bawah pemerintahan Pangeran Jaya Dewata yang setelah dinobatkan sebagai Maharaja bergelar Sri Baduga Maharaja. Hal ini dimungkinkan setelah Pangeran Jayadewata putra dari Prabu Dewa Niskala menikah dengan Ketring Manik Mayang Sunda, putri dari Prabu Susuktunggal. Di tahun itu Terjadi perpindahan pusat kekuasaan ke Pakuan (Bogor) dengan iring iringan yang teramat panjang dan meriah. di Pakuan Jawadewata dinobatkan diatas Palangka Sriman Sriwacana yakni tempat duduk terbuat dari batu mengkilap yang digunakan dalam prosesi penobatan raja raja Sunda. 

Dibawah Pemerintahan Sri Baduga Maharaja ini nama Pajarajaran sebagai nama resmi Kerajaan. sebagai penghormatan dengan mensejajarkan dua kerajaan yang diwarisi dari Ayahandanya sendiri dan dari paman sekaligus mertuanya. Kegemilangan Pajajaran di bawah pemerintahan Jaya Dewata dan bersatunya kembali dua kerajaan itu mengingatkan rakyat kepada kebesaran nama Prabu Maharaja Lingga Buana atau prabu Wangi yang gugur di perang Bubat, dan menjulukinya sebagai Siliwangi, dan nama julukan itu hanya dinisbatkan kepada dirinya.

II. Siliwangi Ada Banyak

Pendapat kedua menyatakan bahwa, yang disebut Prabu Siliwangi itu bukan hanya Pangeran Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja saja tapi juga sebutan bagi seluruh raja Pajajaran yang semuanya adalah Penerus atau Sili dari Prabu Wangi atau Prabu Maharaja Lingga Buana. Pendapat kedua ini sepertinya lebih kepada menekankan kepada makna atau arti dari Siliwangi. Bukan kepada sebuah gelar yang diperuntukkan khusus secara unik kepada seseorang. Pendapat kedua ini memang tidak populer meski memang secara Bahasa dapat diterima oleh semua pihak. 

Pajajaran Paska Sri Baduga Maharaja

Berdirinya Cirebon Sebagai Kesultanan

Di penghujung kekuasan Sri Baduga Maharaja, beliau dihadapkan kepada suatu dilema yang cukup pelik, antara cinta seorang kakek kepada cucunya dengan upaya mempertahankan keutuhan kerajaan. Pangeran Cakrabuana yang berkuasa di Cirebon sebagai raja bawahan Pajajaran menyerahkan kepemimpinan Cirebon kepada menantu sekaligus keponakannya, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, menjadi awal berdirinya Kesultanan Cirebon yang melepaskan diri dari Kekuasaan Pajajaran.

Pangeran Jayadewata atau Sri Baduga Mahara memilki tiga Istri. Istri pertamanya adalah Ambet Kasih (putri dari Ki Gde Sindang Kasih), Lalu Subang Larang (putri dari Ki Gde Ing Tapang, penguasa Singapura (Cirebon saat ini) dan Kentring Manik Mayang Sunda (Putri Pamannya, Prabu Susuktunggal). Dari Subang Larang lahir Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang, Putri Lara Santang dan Kian Santang.
Logo KDAM II Siliwangi

Pangeran Cakrabuana kemudian ditunjuk oleh Sri Baduga sebagai penguasa Cirebon sebagai raja bawahan Pajajaran. Dikemudian hari Pangeran Cakrabuana menikahkan putri tunggalnya yang bernama Pakungwati dengan Keponakannya (putra kedua dari Lara Santang) yang bernama Syarif Hidayatullah, sekaligus menyerahkan tahta Cirebon kepada menantunya. Tahun 1479 Setahun setelah berdirinya Kesultanan Demak, Cirebon pun memproklamirkan diri sebagai kesultanan melepaskan diri dari pengaruh Pajajaran. Syarif Hidayat dinobatkan sebagai Sultan-nya dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Lepasnya Banten dan Sunda Kelapa dari Pajajaran

Pajajaran sempat mengirimkan pasukan untuk menyerbu Cirebon namun gagal. Bisa jadi itu adalah sebuah serbuan setengah hati dari seorang kakek kepada cucunya. atau memang karena kondisi Pajajaran sendiri yang memang tidak memungkinkan untuk menaklukkan Cirebon. Di era yang sama Pangeran Surawisesa (putra Sri Baduga dari Kentring Manik Mayang Sunda) mulai bekerja sama dengan Portugis untuk memperkuat militer Pajajaran terutama untuk mempertahankan Sunda Kelapa, hal itu yang malah memicu serbuan besar besaran dari pasukan Gabungan Demak, Cirebon dan Banten ke Sunda Kelapa dengan tujuan utama mengusir Portugis dan menguasai Sunda Kelapa kembali, dan peristiwa itu kemudian setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Perdamaian dengan Cirebon

Sepeninggal Sri Baduga Maharaja, Pangeran Surawisesa menjadi raja Pajajaran, selama kekuasannya terlah terjadi 15 kali pertempuran termasuk pertempuran melawan Cirebon. Peperangan demi peperangan semakin memperkokoh kekuatan Cirebon hingga ke sisi timur Sungai Citarum, di pantai utara Cirebon juga sudah menguasai Banten dan di pimpin oleh Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayat, dan Sunda Kelapa yang berganti nama menjadi Jayakarta dibawah pimpinan Fatahillah. kondisi yang sedemikian itu ahirnya membuat kedua belah pihak menandatangani perjanjian damai. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayatullah. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran Pasarean (Putera Mahkota Cirebon), Fatahillah (penguasa Jayakarta) dan Hasanudin (Penguasa Banten).

Penyesalan Prabu Surawisesa di Batu Tulis

Di tahun 1533, dua belas tahun setelah wafatnya Sri Baduga Maharaja, Prabu Surawisesa membuat Sasakala (tanda / prasasti peringatan) untuk mengenang kebesaran ayahandanya, barangkali juga sebagai bentuk penyesalan dan rasa bersalah kepada ayahandanya karena tidak mampu mempertahankan keutuhan dan kebesaran Pajajaran yang diwariskan ayahandanya. Prasasti yang kini dikenal sebagai batu tulis. Tatanan prasasati sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, Batutulis itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri Lingga Batu.

Prabu Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi padatala ukiran jejak kaki. Pemasangan batutulis itu juga bertepatan dengan upacara srada yaitu "penyempurnaan sukma" yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Dari makna prasasti batu tulis tersebut, jelas sekali bahwa Prabu Surawisesa mengakui dirinya tidaklah sebanding dengan ayahandanya. bahkan menolak menorehkan namanya di prasasti yang dia buat sendiri. Pajajaran tidak pernah kembali ke kejayaan Sri Baduga Maharaja, bahkan Nilakendra, raja Pajajaran ke lima harus melarikan diri dari Kraton di Pakuan menghindari serbuan dari Kesultanan Banten dan Raja Ke enamnya memerintah dari pengasingan sampai ahirnya Pajajaran dinyatakan berahir dengan diboyongnya Palangka Sriman Wacana ke Banten setelah Pakuan tidak berdaya menahan serbuan terahir Banten ke kraton Pajajaran di Pakuan. 

Kesimpulan

Dari uraian di atas, saya pribadi berkesimpulan bahwa Prabu Siliwangi adalah gelar yang diberikan oleh rakyat Pajajaran kepada Sri Baduga Maharaja sebagai bentuk penghormatan atas kebesaran kekuasaan beliau. Keagungan pribadi-nya membuat beliau juga digelari sebagai Pangeran Pamanah Rasa karena kehalusan dan keluhuran budi pekertinya dan kemampuannya dalam memerintah telah menjadikan Pajajaran sebagai kerajaan besar pada masa nya dan dikenang hingga kini. Wallahua'lam.***

Cikarang, 2 Nopember 2015